disclaimer | Masashi Kishimoto
The Purple Apple
.
Hey you,
come over and let me embrace you
I know that I'm causing you pain too
But remember if you need to cry
I'm here to wiper your eyes
Tonight before you fall asleep
I run my thumb across your cheek
Cry 'cause I'm here to wipe your eyes
I know I made you feel this way
You gotta breathe, we'll be okay
Cry 'cause I'm here to wipe your eyes
(Maroon 5 - Wipe Your Eyes)
.
"Apa yang kita lakukan sekarang?" Tanya Sasuke. Mereka saling berpandangan sampai akhirnya pria itu mendekati Hinata, tapi gadis itu mundur dan kemudian meninggalkan pria itu di pintu depan.
Sasuke mengikuti Hinata, menuju kamar tidur tamu, tapi gadis itu segera menutupnya sebelum pria itu sempat masuk.
"Hinata." Panggil Sasuke seraya menahan pintu. Gadis itu lalu membuka pintu kamarnya sedikit dan menatap Sasuke.
"Sebenarnya kau tidak harus datang kemari. Aku bisa ikut Temari ke rumah sakit."
"Apa kau ingin aku pergi, sekarang?"
Hinata terdiam sejenak.
"Tidak." Jawab Hinata. Gadis itu menunduk. Ia memang merindukan Sasuke bahkan walaupun mereka hanya berpisah kurang dari sehari saja. Namun, setelah pria itu muncul di hadapannya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Mau tidur bersama?" Tanya Sasuke lagi yang kemudian segera disanggah oleh Hinata.
"Memangnya tidak cukup tiga hari lalu?"
Sasuke tertawa kecil. Ia tidak bermaksud membuat Hinata berpikiran terlalu jauh.
"Aku hanya ingin tidur memelukmu." Balas Sasuke. Hinata kembali menunduk. Pikirannya tiba-tiba melayang pada perkataan Kakashi beberapa jam yang lalu. Tentang peringatan Kakashi mengenai Sasuke.
Hati kecil Hinata menyuarakan keraguannya pada kekasihnya. Namun hatinya yang lain meyakinkan hati kecilnya. Keraguannya bisa saja salah. Ia hanya tidak yakin karena takut Sasuke mengecewakannya. Ia harus berani, tak peduli apakah di masa depan ia akan terluka lagi. Karena hidup tidak selamanya berjalan mulus.
Hinata memundurkan langkahnya, melebarkan pintunya dan membiarkan Sasuke masuk ke dalam kamarnya. Pintu tertutup, mereka saling berpandangan dalam diam. Langkah Sasuke bergerak mendekatinya, sementara ia berjalan mundur seirama dengan langkah pria itu.
Jantung Hinata berdebar kencang. Melihat tatapan intens Sasuke, juga ketika pria itu mendekatinya, membuat ia gugup dengan langkah pria itu selanjutnya. Mereka sudah berkali-kali melakukan seks, tapi ia masih gugup ketika ditatapi Sasuke secara intens begini.
Kaki Hinata menabrak tepian ranjang dan membuat ia duduk di tepian itu. Sasuke berada di depannya, mencondongkan tubuhnya ke tubuh Hinata, dan memerangkap tubuh mungil itu dengan kedua tangannya. Tatapan mereka kembali beradu tapi Hinata gugup untuk menatap onik itu lebih dalam.
"Bu... bukannya kau bilang ingin tidur memelukku saja?"
"Jadi, kau setuju?" Balas Sasuke bertanya, masih dengan tatapannya terkunci pada Hinata. Ia mengejar mata perak gadis itu, tapi Hinata selalu mengalihkan pandangannya. Pipinya memerah malu.
"Hanya tidur saja. Ti... tidak ada seks." Wajah Hinata memerah padam. Ia gugup sekaligus takut jika Sasuke benar-benar akan mengajaknya 'bermain' lagi. Hanya mengingat aktivitas seks mereka selama tiga hari berturut-turut membuatnya merasa sangat letih seketika.
"Baiklah." Ujar Sasuke seraya menegakkan kembali tubuhnya lalu naik ke ranjang. Pria itu lalu merebahkan diri dan mengisyaratkan Hinata untuk mengikutinya.
Hinata tertegun sesaat, lalu ketika melihat seringai pria itu, barulah ia sadar. Sasuke hanya menggodanya. Merasa kesal, ia mendekati pria itu dan mencubit perut pria itu.
"Dasar pria mesum jahat!" Rutuknya sembari terus mencubit perut dan pinggang Sasuke. Pria itu tertawa dan menggeliat menghindari jari-jari Hinata.
"Maaf... maaf. Hahaha..." Sasuke minta maaf, tapi tetap saja tertawa. Itu yang membuat Hinata semakin kesal. Gadis itu menatap pria itu tajam, merajuk. Setelah itu ia mengambil guling, meletakkannya di sebelah Sasuke, dan kemudian merebahkan diri di samping guling itu. Guling itu menjadi pembatas di antara mereka.
"Kalau kau melewati batas ini, aku tidak akan memaafkanmu."
Sasuke sadar, Hinata sedang marah. Namun ia tetap merasa Hinata yang sedang marah sangat menggemaskan. Pria itu membuang guling pembatas itu, dan mendekati Hinata. Ia memeluk gadis itu dari belakang dan membuat Hinata tersentak. Pria itu mengunci Hinata dalam pelukannya yang kokoh dan kuat.
"Masih baik aku membiarkanmu tidur di kamar ini." Balas Hinata, berusaha melepaskan diri, tapi lengan Sasuke terlalu kuat untuk ia singkirkan.
"Maaf. Kau sangat lucu saat sedang marah. Aku tidak bisa menahan diriku."
"Menahan apa? Seks?"
Sasuke tertegun, sejenak.
"Kenapa kau selalu menghubungkannya dengan seks?"
Hinata memilih untuk berhenti berusaha melepaskan diri. Ia membiarkan dirinya terus dikurung dalam pelukan pria itu dan menunjukkan rasa kesalnya. Membuat Sasuke semakin gemas sekaligus heran.
"Kau lupa? Kita sudah melakukannya selama tiga hari. Kalau kau menggodaku hanya untuk mendapatkan jatah lagi, aku bisa habis."
Pria itu tersenyum simpul. Ia akhirnya mengerti. Hinata hanya sedang lelah dengan aktivitas seks mereka yang berlebihan. Sebenarnya ia ingin membicarakan hal itu dengan gadis itu.
"Maka dari itu, aku ingin membicarakannya denganmu."
Tertegun sejenak, Hinata mengangkat kepalanya, menatap Sasuke.
"Membicarakan apa?"
"Aktivitas seksual kita." Kata Sasuke memulai kalimatnya. "Aku tidak ingin kau terlalu lelah. Aku merasa tidak nyaman jika kau tidak bersamaku, tapi aku juga tidak ingin kau lelah karena harus melayaniku. Aku ingin kau merasa bahagia jika bersamaku."
Hinata mengerjapkan matanya. Hatinya membuncah bahagia, tapi ia hanya bisa mengeluarkan senyum kecilnya. Sasuke memikirkannya setelah semua yang mereka lakukan selama tinggal bersama, dan Hinata menghargai hal itu. Melihat Sasuke memikirkannya, sudah cukup bagi Hinata untuk memaafkan pria itu.
"Sasuke, aku selalu bahagia jika bersamamu." Balas Hinata. Ia mengubah posisinya dari memunggungi Sasuke, menjadi telentang. Tangannya menyentuh lengan kokoh pria itu. "Tapi memang, aktivitas seksual kita harus dikontrol."
Sasuke memang bisa menahan dirinya agar tidak menyerang Hinata dengan kasar dan ganas, tapi intensitas seks mereka jadi lebih sering. Itulah yang membuat Hinata kewalahan.
"Bagaimana menurutmu? Aku akan mengikuti keinginanmu."
Hinata menatap Sasuke, berpikir sejenak.
"Entahlah. Kau punya usul?"
"Aku ingin setiap malam dan pagi."
Gadis itu menautkan kedua alisnya. Permintaan Sasuke tetap dirasa berlebihan olehnya. Seks setiap hari tidak baik karena akan mengurangi gairah pasangan. Mungkin Sasuke harus menurunkan gairahnya yang terlalu banyak itu. Namun bagaimana dengan Hinata? Gadis itu tidak ingin menolak ajakan Sasuke, tapi juga ingin mengontrol aktivitas seks mereka.
"Bukankah itu yang kita lakukan selama tiga hari?" Tanya Hinata dengan nada sedikit protes. "Bagaimana kalau tiga hari seminggu, saat aku sedang tidak bekerja. Bagaimana? Di luar hari itu, cuddling tidak masalah."
Sasuke menimbang saran dari Hinata. Meskipun intensitas seksnya akan berkurang, tapi tidak masalah baginya. Ia bisa mengurangi hasrat haus seksnya. Namun ia tidak yakin apakah cuddling akan membantunya mengontrol diri. Sebenarnya hanya dengan memeluk Hinata di posisi seperti ini, tangan Sasuke gatal ingin meraba bagian bawah gadis itu.
Sasuke memutuskan untuk menyetujuinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan mengikuti apapun keinginan Hinata.
"Tapi, saat hakku diberikan, aku ingin kau mengikuti keinginanku."
"Tidak akan melukaiku?" Hinata kembali memberi syarat.
"Tidak akan." Jawab Sasuke mantap. Hinata tersenyum, mendengarnya.
"Baiklah." Gadis itu lalu merubah posisinya dan membalas pelukan Sasuke. Kepalanya ia lesakkan dalam dada pria itu. Pria itu ikut tersenyum, melihat hasil kesepakatan mereka yang berhasil dilakukan.
Sasuke merapatkan tubuhnya dan berharap 'adiknya' tidak akan berbuat nakal malam ini. Meskipun ia harus menahan hasratnya untuk tidak melecehkan Hinata saat gadis itu tidur malam ini, Sasuke pikir ini adalah kesempatannya untuk membuktikan pada Hinata, bahwa ia ingin gadis itu ada untuknya, terlepas dari aktivitas seksual mereka.
Tiba-tiba Sasuke teringat sesuatu.
"Hinata..."
"Hm?" Jawab Hinata dengan mata terpejam, memulai perjalanannya menuju pulau kapuk.
"Apa kau bekerja, besok?"
"Tidak, Kakashi membuatkan izin cuti sampai Gaara ditangkap." Hinata menjawabnya masih dengan mata terpejam.
Sasuke terdiam, sementara gadis di depannya masih tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Pria itu lalu berbicara lagi.
"Bukankah itu artinya kau libur?"
"Iya. Lalu?"
Masih memejamkan matanya sesaat, mata perak Hinata tiba-tiba membulat ketika ia sadar. Begitu ia menatap Sasuke, pria itu sudah menyeringai, membalas tatapannya. Dalam hitungan detik, pria itu sudah berada di atasnya dan menggerayanginya. Ia mencumbui sekujur tubuh Hinata dan mengacak kaus panjang yang dikenakan gadis itu.
"Aaah..."
Hinata mendesah ketika tangan kekar Sasuke meremas payudaranya. Tangannya berusaha mendorong tubuh pria itu, tapi pergerakannya terlalu cepat. Tiba-tiba saja kausnya sudah tersingkap dan branya sudah lenyap entah kemana.
Sasuke menaikkan tubuhnya, memenjara Hinata dengan kedua tangannya. Pria itu menatap mata perak gadisnya yang memasang ekspresi merajuk tak terkira.
"Kita sedang di rumah Temari." Jawab Hinata, beralasan.
"Lalu kenapa? Bukankah sama saja? Atau kau ingin kita melakukannya di mobilku?"
Tidak. Itu jauh lebih berbahaya. Sebenarnya gadis itu tidak masalah jika harus melakukan seks dengan Sasuke. Toh ia percaya pria itu akan menjaga dan melindunginya. Karena selama persetubuhan mereka, pria itu tidak pernah melukainya. Jika membuat selangkangannya linu dan lebam, itu hal yang wajar dalam setiap persetubuhan.
Hinata menghela napas. Lagi-lagi ia tidak bisa menolaknya.
Ia jadi teringat ketika perawat di rumah sakit mengejar-ngejar Temari, melakukan semua yang disuruh wanita itu. Padahal Temari hanya mengerjainya. Saat itu Kakashi yang melihatnya berkomentar, cinta telah membutakan mata Si Perawat. Sepertinya sekarang, kalimat itu tertuju pada Hinata. Cintanya pada Sasuke telah membutakan matanya.
"Baiklah. Namun hanya kali ini saja, okay. Peraturan kita berlaku setelah semua masalah ini berakhir."
Melihat persetujuan Hinata, juga wajah lelah gadis itu, Sasuke tertegun sejenak. Meski mereka sudah membuat keputusan, pada akhirnya ia selalu memaksa dan Hinata selalu mengabulkannya.
Mengelus surai indigo wanitanya, Sasuke tersenyum lembut.
"Seharusnya kau tegas menolakku, Hinata. Kalau kau tidak ingin melakukannya, aku tidak akan memaksamu." Balasan Sasuke membuat gadis itu terharu dan perasaannya pada pria itu semakin menguat. "Apa yang kau inginkan malam ini?" Tanya Sasuke lagi. "Apapun itu, aku akan mengikuti keinginanmu."
Diluar gairah dan libido Sasuke yang besar, pria itu memperhatikan Hinata dan masih memikirkan keinginannya. Itu yang membuat Hinata semakin jatuh cinta. Kontrol diri Sasuke sebelum permainan mereka dilakukan, sangat baik.
"Boleh aku memelukmu sepanjang malam, tanpa seks? Tanya Hinata.
"Tentu."
Sasuke merebahkan tubuhnya di samping Hinata lalu menerima pelukan gadis itu. Ia membalas pelukan gadis itu dan sekali-kali mengelus surainya.
Malam itu mereka tidur berpelukan, tanpa terpisah hingga mentari menyambut.
.
Sasuke dan Hinata bangun bersama pagi itu. Hinata bangun lebih dulu ketika mendengar suara berisik dari luar kamar. Ketika gadis itu beranjak dan duduk di tepian ranjang, barulah pria itu terbangun. Hinata masih mengumpulkan setengah nyawanya, sementara Sasuke berjalan menuju pintu.
Ketika Sasuke membuka pintu, seluruh suara berisik itu berhenti. Dua pasang mata menatapnya. Seluruh pandangan beralih pada sosok yang berdiri di belakang Sasuke, dengan mata terpejamnya.
Sasuke tersadar sepenuhnya. Temari, dan Shikamaru menatapnya. Sasuke tidak mempedulikan hal itu. Hinata bangun sepenuhnya ketika ia menabrak punggung Sasuke. Saat itulah ia sadar Temari dan suaminya, tengah menatapnya, juga Sasuke.
"Kenapa tidak kembali dan melanjutkan kegiatan kalian? Kalian keluar dari kamar di malam hari pun tidak akan ada yang tahu." Sindir Temari.
Wajah Hinata memerah. Namun Sasuke santai saja menanggapinya. Pria itu mengambil kursi di depan Temari.
"Aku lapar." Jawab Sasuke santai. Pria itu lalu mengisyaratkan Hinata untuk ikut sarapan bersamanya.
Temari ingin menyindir lagi, tapi melihat wajah merah Hinata, ia tidak tega. Dibanding menyindir Hinata, ia lebih ingin menyindir Sasuke Uchiha. Pria yang sudah merubah sahabatnya 180'. Jarang sekali ia melihat wajah Hinata memerah karena seorang pria. Bahkan pada Kakashi atau Gaara, sepupu yang bejat itu pun tidak.
Hinata duduk di sebelah Sasuke dan Temari segera menyerahkan mangkuk nasi dan sumpit untuk gadis itu.
"Hinata, apa kau berencana pindah rumah lagi? Dulu saat insiden, kau pindah. Apa kali ini kau pindah juga?" Tanya Temari sembari meletakkan lauk sayur di mangkuk suaminya, Shikamaru. Sementara pria berkuncir itu melahap nasinya tanpa peduli percakapan istrinya.
"Iya. Tapi aku masih belum menentukan dimana dan kapan aku akan pindah." Jawab Hinata, sembari mengambil beberapa lauk dari piring saji.
"Kenapa kau harus pindah? Menikah saja denganku dan kita bisa tinggal bersama."
Kata-kata Sasuke membuat semuanya hening. Termasuk Hinata yang sekarang tercengang menatapnya. Sementara Temari memiringkan kepalanya, menatap pria itu tercengang hingga sumpitnya jatuh ke lantai. Bahkan Shikamaru yang biasanya tidak peduli, menatap Sasuke sembari sesekali mengerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat.
"Ap... Apa kau melamarku?" Tanya Hinata hati-hati. Jantungnya berdebar kencang hingga tangannya ikut bergetar.
Sasuke terdiam sejenak.
"Kau boleh menganggap itu lamaran. Kalau kau setuju, aku bisa mengurusnya hari ini."
Ucapan Sasuke lagi-lagi membawa keheningan beberapa saat. Antara masih mencerna ucapan Sasuke, juga menunggu jawaban Hinata. Hingga suara lirih terdengar dari bibir gadis itu.
"I... Iya."
Wajah Hinata memerah hebat. Lebih merah dari tomat kesukaan Sasuke. Seketika jawaban itu menghilangkan tekanan di antara mereka. Shikamaru melanjutkan sarapannya, sementara Temari masih menatap kedua sejoli dengan tatapan heran, tak percaya.
"As... taga." Temari pun tertawa kecil menunjukkan rasa frustasinya. Shikamaru terkekeh, melihat hiburan di pagi hari. Untuk pertama kalinya, pria berkucir itu menanggapi mereka.
"Jika lamaran boleh dilakukan seperti itu, seharusnya aku tidak membuang-buang uang untuk menyewa bioskop dan makan di restoran mahal." Ujarnya dan diiringi dengan tendangan kaki oleh istrinya.
Menanggapi insiden kecil di rumahnya, Temari menghela napas lelah. Ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah memeriksakan putranya, dan sekarang disuguhi insiden yang mengejutkan sekaligus memberikan hiburan. Temari yang merasa sebagai orang paling dewasa di rumah itu, memutuskan untuk memberi wejangan pada kedua sejoli itu.
"Aku tahu, kalian sangat bergairah sebagai pasangan baru. Namun, bisakah kalian sedikit menguranginya? Kalau kalian ingin menikah, silahkan saja tapi tunggu hingga semua keadaan membaik." Kata Temari mengingatkan. "Gaara masih belum ditemukan. Aku takut, jika ia tahu bahwa kalian akan menikah, itu akan membahayakanmu, Hinata."
Sasuke lalu menatap kekasihnya.
"Mau mengantarku ke ayahmu?" Tanya pria raven itu. Pertanyaan yang seakan mengabaikan nasehat dari Temari.
"Untuk apa? Bukankah jika kita menikah, hanya perlu mendaftar di catatan sipil saja?"
Hinata sudah lama tinggal jauh dengan ayahnya. Keluarganya juga tidak terlalu ketat dalam mengatur hubungan anak-anak mereka.
Adiknya, Hanabi, tahun lalu pulang dengan membawa dua anak laki-laki, setelah lima tahun keluar dari rumah. Ia telah menikah dengan seorang guru yang lebih tua empat tahun darinya. Saat hari pernikahannya pun, ia hanya mengabari ayahnya lewat telepon dan berkata mereka mendaftarkan diri ke catatan sipil, tanpa upacara pernikahan.
Namun pemikiran Hinata dan keluarganya, berbeda dengan pemikiran Sasuke. Meskipun pria itu sangat liar di ranjang, bukan berarti ia tidak memiliki tata krama dan sopan santun. Kedua hal itulah yang justru mengontrol hasrat seksnya di luar rumah, sampai akhirnya ia bertemu dengan Hinata yang membuka kunci kendalinya.
"Jika aku ingin mengambil putri milik seorang ayah, aku harus meminta ijin pada ayah tersebut." Kata Sasuke membuat Hinata kembali terperangah dengan ucapan pria itu. "Aku juga akan mengabari orang tuaku dan mengenalkanmu pada mereka."
Hinata tidak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi ucapan Sasuke. Ia membalasnya dengan senyuman. Yang jelas Hinata merasa sangat senang. Ia memang tidak pernah berkencan yang merujuk pada hal serius seperti dengan Sasuke. Maka dari itu, ia merasa ia dan keluarganya dihargai.
"Ehem."
Deheman Temari menyadarkan kedua sejoli itu, bahwa bukan hanya mereka berdua saja yang berada di ruang makan. Hinata segera melahap sarapannya dengan kikuk, sementara Sasuke tampak santai melanjutkan sarapannya.
Menatap kedua sejoli itu, akhirnya Temari paham, apa perbedaan Kakashi dan Sasuke dan kenapa Sasuke yang baru mengenal Hinata, justru mendapatkan hati gadis itu lebih cepat.
Kakashi memang lebih memikirkan kondisi Hinata. Melihat kondisi Hinata yang pernah mengalami trauma bahkan ketakutan padanya, membuat pria itu memberikan waktu bagi Hinata untuk memulihkan diri. Namun setelah luka gadis itu telah tertutup, Kakashi tidak mengobatinya dengan sempurna. Langkah pria itu ragu-ragu. Pikirannya untuk mendekati Hinata, dikalahkan oleh fakta bahwa gadis itu belum pulih sepenuhnya. Sehingga Kakashi terus mengulur waktunya.
Sementara Sasuke. Meskipun ia sempat menarik diri, tapi ketika pria itu yakin dengan yang ia inginkan, pria itu akan mengejarnya hingga dapat. Sasuke yakin bahwa Hinata juga tertarik padanya, maka dari itu pria itu menunggunya sekaligus mengobati luka lamanya. Hingga akhirnya Hinata luluh dan tertarik pada Sasuke.
Memang sedikit curang, karena Sasuke seperti menjadikan Kakashi sebagai batu loncatan. Namun ini juga salah Kakashi sendiri yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik.
Menatap kedua sejoli yang saling memberikan tatapan cinta mereka, Temari berharap keduanya saling mengisi satu sama lain, saling mendukung dan saling menyembuhkan luka masing-masing. Karena mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lainnya.
.
Hari ini adalah tugas Temari berjaga di rumah. Shikamaru harus pergi mengawasi kinerja pegawai di mini market miliknya. Sasuke telah pulang setelah berdebat dengan Temari selama setengah jam. Itupun ia bersedia pulang setelah diberikan kecupan singkat oleh Hinata, tepat di bibirnya.
Di rumah dengan dua orang wanita, dengan seluruh pekerjaan rumah yang selesai dikerjakan, hanya beristirahatlah yang bisa kedua wanita itu lakukan. Temari menyalakan TV, hendak menonton American Horror Stories bersama Hinata. Gadis itu mau-mau saja. Toh ini di siang hari. Menonton film horror di siang hari tidak akan membuatnya takut.
Episode kali ini adalah menceritakan tentang seorang gadis yang diawasi oleh pengagum rahasianya selama lebih dari lima tahun. Pengagum rahasianya menjadi penjaga bagi gadis itu sekaligus orang yang membahayakan jiwanya. Karena pria pengagum rahasia itu, membunuh setiap orang yang melukai gadis itu, bahkan tak segan-segan membuat kontrak dengan iblis dan mengirim kutukan. Sampai akhirnya, karena lelah diabaikan terus menerus, pria itu mengirim kutukan pada gadis itu dan membunuhnya setelah memperkosanya.
Menonton episod AHS selama satu jam lebih, membuat Hinata menarik kesimpulan, ia tidak suka film horor ini. Ia tidak suka film horor-thriller yang dipadukan dengan kisah cinta. Karena gadis itu jadi tidak tahu apakah harus merasa takut, atau merasa sedih dengan kisah cinta yang tragis.
Namun lain halnya dengan Temari. Ia jadi teringat sesuatu. Pria pengagum rahasia itu, terasa seperti Kakashi. Apalagi karakter pria itu yang selalu menjaga Hinata dan menjauhkan gadis itu dari hal-hal berbahaya. Namun sifat ingin mendominasi dan obsesif milliknya, membuat wanita itu teringat dengan Gaara. Terutama ketika pria pengagum rahasia itu, berpikir lebih baik si gadis mati daripada hidup tanpa mencintainya.
"Kau tidak merasa bahwa cerita ini mirip denganmu?" Tanya Temari ketika Hinata memencet tombol remote, mencari film yang lain.
"Tidak." Jawab Hinata singkat.
Temari tahu, bukan haknya membicarakan hal ini. Namun Hinata sudah sampai pada keputusan untuk menikah dengan Sasuke. Ia merasa gadis itu perlu tahu tentang Kakashi, walaupun ia sendiri takut hubungan Hinata dan Kakashi akan berubah setelahnya.
"Hinata." Panggil Temari. Wanita itu menyentuh pundak Hinata, meminta gadis itu untuk memberi perhatian pada dirinya. Hinata membalas tatapan Temari dan wanita itu memulai ucapannya. "Kau harus berjanji padaku, hubunganmu dengan Kakashi tidak akan berubah."
Hinata merasa ada yang aneh dengan perkataan Temari.
"Ada apa dengan Kakashi?"
"Kau harus berjanji padaku, kau tetap menganggapnya seperti teman dan kakak, setelah mendengar ceritaku."
Terdiam sejenak, menimbang, Hinata mengangguk setuju.
"Kakashi menyukaimu sejak dulu. Apa kau tahu?"
Memandang Temari serius, Hinata bertanya. "Dari mana kau tahu itu?"
"Kakashi tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku tahu hal itu."
Hinata terdiam sejenak. Membuat Temari sedikit cemas.
"Aku tahu." Jawab Hinata singkat.
Temari terkejut. "Lalu kenapa kau tidak bersama dengannya, dan malah menerima Sasuke?"
"Karena Kakashi berjanji pada Neji. Aku tidak mau dia menyukaiku karena tanggung jawabnya untuk menjagaku." Kata Hinata memulai penjelasannya. "Lagipula, dia mendapat donor jantung dari Neji. Melihatnya, seperti aku melihat Neji hidup lagi, tapi dalam bentuk pria tinggi dengan rambut perak menjulang. Karakternya yang tegas dan protektif itu memang tidak seperti dirinya sebelum mendapat donor jantung. Terasa out of his character, tapi itu membuatku merasa Neji ada disekitarku dan menjagaku."
Temari menghela napas. Ia akhirnya paham kenapa Kakashi tidak pernah ada di hati Hinata. Karena pria itu membuat Hinata teringat dengan kakaknya. Pantas Gaara cemburu buta dengan kedekatan Hinata dan Kakashi, hingga akhirnya pria itu mencelakakan Hinata.
Mengingat Gaara, kadang membuat Temari merasa sangat bersalah pada Hinata. Pria merah itu memang sepupu Temari tapi mereka tidaklah dekat. Bahkan Temari tidak menganggap Gaara sedarah dengannya, karena track record kelam dari pria itu membuatnya malu. Tak ada yang tahu bahwa Gaara adalah sepupu Temari, bahkan Hinata. Maka dari itu, wanita itu selalu merasa bersalah jika Hinata terluka karena sepupunya.
Percakapan mereka terhenti ketika suara dering telepon berbunyi. Hinata kebetulan yang paling dekat dengan telepon itu, dan mengangkatnya.
"Ada paket dititipkan di tetanggamu. Aku ambilkan, ya."
"Siapa?"
"Nenek Chiyo."
"Tidak perlu, aku saja." Kata Temari. Namun ketika wanita itu beranjak, putranya Shikadai menangis.
"Shikadai..." Hinata mengingatkan Temari, tapi wanita itu sudah berjalan cepat menuju pintu depan dan menghilang.
Di perjalanannya menuju rumah Nenek Chiyo, Temari berpikir sejenak dengan paket yang dikirimkan untuknya. Seingatnya ia tidak memesan apapun. Ia tidak tahu apakah suaminya Shikamaru, memesan barang secara online. Namun jika ini adalah barang-barang untuk dijual di mini market, seharusnya dikirimkan ke gudang persediaan mereka, di daerah lain.
Ketika Temari sampai di rumah Nenek Chiyo, dilihatnya sosok gempal wanita tua, telah jatuh tersungkur dengan bercak darah di pakaiannya. Temari tersentak. Menghubungi ambulans, ia menghampiri wanita tua itu yang ternyata masih hidup.
"Di... dia." Ujarnya menahan rasa sakit.
"Siapa, Nek?" Tanya Temari saat berusaha melakukan pertolongan pertama pada Nenek Chiyo.
"Ada pria... dia mencari rumahmu." Ujar Nenek Chiyo, sebelum akhirnya wanita tua itu pingsan karena kehilangan darah.
Pikiran Temari langsung tertuju pada Hinata.
Berlari cepat menuju rumahnya, sembari melaporkan korban yang ditemukannya, Temari berharap tak ada hal buruk terjadi pada Hinata juga Nenek Chiyo.
Ketika wanita itu sampai di rumahnya, dilihatnya pintu depan rumah telah terbuka. Wanita itu memasuki rumahnya dengan perasaan cemas. Dicarinya ke seluruh ruangan, tak ditemukannya Hinata. Rumahnya kosong, tak ada siapapun. Yang ada hanyalah putranya, Shikadai yang menangis keras. Hinata menghilang, bahkan ketika berada dalam penjagaannya.
Nyawa Temari seakan melayang dari tubuhnya. Tubuh wanita itu bergetar dan kakinya lemas. Wanita itu syok tak terkira.
"Hi... Hinata."
