JackBam : Bad Sign (feat. Mark)

.

.

.

.

.

.

Sore hari dikediaman keluarga Kim, tampak begitu tenang tanpa adanya teriakan argumentasi dari si kembar didalam sana. Keduanya sedang tidak berada dirumah saat ini, entah kemana mereka pergi sejak siang tadi. Namun diluar itu, tampak sosok pria bertubuh tegap baru saja muncul dari pintu utama rumah mereka dengan sebuah bola basket ditangannya. Terus berjalan hingga mencapai halaman yang biasa dipakai untuk parkir yang terdapat ring basket didalamnya untuk bermain sendirian. Yah, dirinya merasa cukup bosan karena adik kembarnya yang tidak kunjung datang begitu pula dengan Jimin yang entah berada dimana sekarang. Kedua orangtuanya juga sedang pergi ke ilsan untuk mengunjungi rumah teman lama ayahnya yang baru saja tertimpa musibah, sekalian mengunjungi nenek dan kakeknya tentu saja. Jadi hanya tersisa dirinya dan Mark sajalah yang ada dirumah. Dan seperti biasa, Mark sibuk bermain bersama coco didalam.

Dia memulai permainannya denga memantulkan bola basket yang ada ditangannya ke tanah beberapa kali sebelum melakukan beberapa trik yang dia pelajari sejak SMA dulu. Yah, dia memang bukan pemain yang buruk mengingat dirinya masuk ke tim utama dulu.

Namun ditengah permainannya, munculah sebuah tangan yang terulur untuk mengambil alih bola yang sejak tadi dia mainkan dan langsung menembakkannya kedalam ring yang berada tidak jauh didepan. Menyeringai puas saat melihat kakaknya mulai tertarik untuk bermain one on one bersamanya.

"Kupikir kau tidak ingin bermain basket, hyung?"

"Well, I changed my mind. Its been a while since we played together, huh?"

"Right. So, one on one?"

"Sure, baby brother. Lets set a bet."

Jackson semakin melebarkan seringaiannya kala sang kakak mulai mengambil taruhan seperti yang biasa mereka lakukan saat bermain basket. Anak-anak dari keluarga Kim ini memang handal dalam bermain basket sebenarnya. Mengingat sang ayah yang dulunya juga seorang basketball player saat berada dibangku sekolah dulu. Bisa dibilang itu adalah bakat turun menurun dikeluarga mereka.

"I'm not a baby, whoever reached the set point first, will be a winner. Sementara siapapun yang kalah nanti akan menjadi maid bagi pemenang, deal?"

"Easy. No problem. You better be prepared, Jackson."

Namun sebelum merespon perkataan sang kakak, Jackson sudah merebut bola dari tangan Mark dan langsung melemparnya kedalam ring dan melempar tatapan mengejek pada sang empunya.

"You know what talk less, do more means, Mark-ssi?"

"Oh, you sneaky little bastard."

Dan dengan itu, mereka memulai permainan sengit mereka disore hari itu. Tidak ada satupun diantara mereka yang menyerah karena tentu saja mereka tidak mau disuruh-suruh oleh siapapun pemenangnya. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya begitu juga dengan rambut mereka yang sudah basah oleh keringat yang entah bagaimana membuat penampilan mereka terlihat jauh lebih seksi dibawah pancaran sinar matahari senja. Terlebih keduanya yang sama-sama memakai kaos tanpa lengan menampilkan otot bisep masing-masing.

Sampai saat sebuah suara yang cukup membuat mereka mengalihkan perhatian mereka untuk sementara. Disana, tepat disamping kediaman mereka, tampak seorang pemuda kurus dengan kakinya yang jenjang sedang tertawa keras dengan membawa sesuatu ditangannya disusul oleh pemuda lainnya denga tubuh yang lebih berisi dengan wajahnya yang terlihat kesal.

"Bambam, kembalikan headphone milikku. Berhentilah mencuri barang-barang yang ada dikamarku!"

"Why? kau punya banyak benda ini dikamarmu, Youngjae hyung."

"Aku hanya punya dua dan itu tidak banyak. Cepat kembalikan!"

Seperti sudah puas melihat ekspresi kesal milik kakaknya, pria yang dipanggil Bambam itu akhirnya mengembalikan barang yang sedari tadi dipegangnya yang tentu saja langsung direbut oleh Youngjae sebelum pemuda manis itu berbalik dengan kaki yang dihentakkan sebal. Bambam sendiri hanya tertawa keras karena sudah berhasil mengganggu kakaknya yang satu itu. Yah, dikeluarga mereka hanya Youngjae satu-satunya hyung yang mudah dia kerjai. Sementara sisanya, oh, dia bahkan tidak mau memikirkannya.

Namun seperti merasa sedang diperhatikan, dirinya menoleh kesamping dan mendapati dua pria dengan peluh membasahi pakaian mereka sedang memperhatikannya. Tapi sepertinya dia belum pernah melihat mereka berdua sejak dia pindah.

"Oh, hai tetangga! Sedang bermain basket rupanya."

Seperti tersadar dari lamunannya, Jackson segera merebut bola basket yang berada dikungkungan sang kakak yang menembaknya kedalam ring dengan melakukan dunk yang agresif. Sementara Mark yang baru tersadar sepersekian detik lebih lama hanya berdecak kesal karena memang Jackson sebelumnya sudah mencapai set point dan sepertinya dia harus rela menjadi pembantu sang adik untuk seminggu kedepan.

"Now, you'll be my maid, hyung. Prepare yourself."

"Shut up, man. I knew that already."

Jackson beralih menatap pemuda kurus yang saat ini sudah berada diperbatasan antara rumah mereka dan melemparkan senyuman atau lebih bisa disebut seringai tampan padanya.

"Well, kau punya peran dalam kemenanganku hari ini. Thanks, kid."

"Yah, sepertinya kau pemain yang baik, eh?"

"I'am. I won anyway."

Menyikut sang kakak yang sedari tadi hanya menatap malas pada adiknya yang dihadiahi tatapan tajam dari sang empunya sebelum menatap Bambam dengan alis terangkat.

"Omong-omong, aku belum pernah melihatmu. Kau salah satu dari anak paman Im juga?"

"I'am. Namaku Bambam, aku satu sekolah dengan adik kembarmu, by the way."

Mark hanya menganggukkan kepalanya disertai dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya. Boleh dibilang, Bambam itu cukup manis jika diteliti. Sementara Jackson hanya memutar bola matanya malas sambil memainkan bola basket yang berada ditangannya, tidak tertarik dengan percakapan keduanya.

"Jadi, siapa namamu?"

"Well, Aku Mark, dan ini adikku, Jackson. Dia menyebalkan."

Bambam hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan mengalihkan pandangannya pada Jackson yang masih terlihat tidak tertarik dibelakang sana. Entahlah, pria itu begitu terlihat menarik dimatanya.

"Jackson, ya–"

"Kau mengatakan sesuatu?"

"Ah, tidak Markie hyung. Maksudku– Mark hyung."

Tanpa sadar seulas senyum kecil terpasang dibibir tipis milik anak sulung keluarga Kim itu. Bambam terdengar menggemaskan saat memanggilnya tadi.

"Its okay, jika itu membuatmu lebih nyaman."

Yang dijawab dengan cengiran lebar juga perpaduan antara ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O tanda dia mengerti.

"Kalau begitu, aku masuk dulu, hyung. Sampai nanti."

Dengan itu, Bambam berbalik masuk kedalam rumahnya setelah sebelumnya sempat melirik pada Jackson yang masih asik bermain sendiri. Oh, ini benar-benar pertanda yang tidak bagus.

"Hyung, aku bisa melihat bunga-bunga berjatuhan disekitarmu dengan warna pink menjadi latarnya."

"Well, dia tidak begitu buruk, kau tahu?"

"Seriously, dude? Kau tertarik padanya pada pertemuan pertamamu?"

"Sepertinya begitu. Tapi– sudahlah, ayo masuk dan bersihkan badanmu sebelum eomma dan appa kembali."

"Kau benar, itu saran terbaik yang kau keluarkan hari ini, hyung."

Melemparkan bola yang sedari tadi dipegangnya sebelum berlari masuk kedalam rumah untuk segera membersihkan diri. Meninggalkan Mark yang kembali menatap rumah yang berada tepat disampingnya kediamannya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Sepertinya dia hanya tertarik padamu, Jackson.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue..