"Bisakah kita memulainya dari awal lagi, Hinata?" Gumam pemuda itu dengan suara baritonnya yang meredup. Ia mengecup puncak kepala gadis itu dan mengelus rambutnya perlahan, Hinata bisa merasakan ada perbedaan sikap Naruto kali ini.

Hinata melepaskan pelukannya lalu menatap Naruto bingung, "Apa?"

"Kita mulai dari awal.." Ujar Naruto sambil mengelus pipinya dan mencium keningnya, walau hinata mengerti maksudnya? ia memilih diam menerima perlakuan pemuda itu. Naruto mengusap pelan bekas air mata yang turun di pipinya.

"Aku tahu, aku sangat terlambat. Tapi aku harap perasaanmu kepadaku tidak berubah..."

oOoOoSpring On TimeoOoOo

~Pov Hinata~

"Aku mencintaimu," ujar Naruto.

Deg!

"Naruto.."

"Hinata tolong dengarkan aku …" ucap Naruto dengan tegas seakan tak ingin di sela lagi perkataannya, ia memandangi wajahku dengan serius. Raut mukanya menunjukan kalau dirinya ingin aku mendengarkan semua kalimat yang ingin ia ucapkan kepadaku. Lantas aku terdiam menunggu kata – kata selanjutnya yang akan ia ucapkan.

"Aku tidak tahu, aku tidak tahu sampai mana aku telah menyakitimu selama ini. Dengan ketidak pekaannya diriku, kau masih mau bertahan disisi ku, menungguku, dan selalu membangunkan ku dari keterpurukkan ku. Kau selalu ada disana… disampingku… didekatku…" naruto terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya kembali. Mata Shapiernya menatapku dengan lembut. Membuat hatiku menghangat seketika. "Tapi kau tidak pernah menyerah"

Aku tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Naruto. Apa hal itu terdengar bodoh, aku tidak pernah mengeluh atau menyerah padanya. Untuk itu aku masih tetap bertahan disini, tapi mungkin kesabaran ku sudah melewati batas kemampuan ku sendiri. Saat ini dan kedepannya, aku tidak tahu akan seperti apa? Karena aku sudah menyerah Naruto.

Aku kembali wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu, "Aku tidak habis pikir dengan mu. Bagaimana bisa kau menungguku dan menyimpan perasaanmu ini." Ia menggenggam kedua tanganku dengan lembut. "Didalam hatiku, aku terus bertanya-tanya akan hal ini. Apa kau benar-benar menyukaiku? Apa kau selama ini membenciku karena aku tak menyadarinya? Apa kau merasa jenuh dengan semua ini maka dari itu kau memilih menyerah." Ujarnya.

Aku menggelengkan kepalaku kemudian tersenyum kecil, "Tidak…" ucapku dengan pelan. Mataku mulai memanas.

Ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dariku, entah apa yang tengah ia pikirkan sekarang. Aku merasa bahwa ia sangat takut, mungkin takut akan kesendiriannya nanti.

"Hinata?" ia menggumamkan namaku dengan suara yang sangat pelan.

Ia terdiam dengan raut muka yang tengah berpikir keras lalu tak lama kemudian ia memandangku dengan penuh harap,"Kita pergi saja." Ucapnya dengan final.

Aku terkejut akan ucapannya. Tak sampai disana keterkejutan ku, ia masih meneruskan kalimatnya, "Aku akan pergi kemanapun kau mau."

Aku terkejut mendengar pernyataan Naruto yang tiba-tiba, "Hinata Chan.. ayo kita melarikan diri" aku mengerutkan kening, heran, apalagi saat Naruto meraih tanganku dan menggenggamnya, "Ke tempat dimana tak seorangpun bisa menemukan kita. Pergilah bersamaku, Hinata-chan."

"Kita pergi saja ya.." Kata Naruto memohon.

Sesaat aku merasa ragu, aku menarik tanganku dari genggamannya, "Aku tak mau. Kupikir kau sudah salah paham, Naruto. Bagiku sekarang, Sekolah—impian-ambisiku, dan mencari tahu tentang kebenaran kematian ayahku yang sebenarnya lebih penting jika dibanding dirimu"

"Hinata" ia memanggil namaku. Setiap kali ia memanggil namaku, entah mengapa detak jantungku menjadi tidak normal. Aku merasa sangat senang dan disisi lain aku semakin ingin terus berada di sampingnya setiap saat, dimana pun dan kapan pun. Aku merasa semakin ingin memilikinya. Tapi hal ini tidak boleh terjadi.

"Naruto, kita sudah dewasa…" aku menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatku kembali, walau terasa begitu berat mengatakannya tapi aku harus tegas dalam hal ini. Aku tidak ingin ia membuatku berhenti dan mengubah keputusanku. "Kita sudah dewasa… kau tahu artinya? Itu berarti kita sudah harus memilih jalan hidup yang akan kita jalani nanti. Aku memilih untuk melanjutkan sekolahku diluar negeri dan hidup disana, itu adalah keputusan yang ku pilih, aku akan menjalaninya…"

"Hinata.." ia memanggilku dengan nada tinggi, matanya memerah dan aku tahu ia akan marah.

"Naruto, tentang perasaanku dan pengakuanku tempo hari, tolong… lupakan lah?" Kataku sambil menahan air mata yang akan jatuh dari sudut pelupuk mataku. Aku berbalik memunggunginya, aku tidak ingin ia melihat ku menangis.. aku tidak ingin ia mengkhawatirkan ku. Aku ingin ia bisa menerima semua ini. Aku ingin ia melupakan semua tentang diriku.

Aku berjalan pergi namun sebuah tarikan membuatku berhenti dan secara cepat Naruto tiba-tiba mencium ku. Mata ku membulat sempurna, tubuhku serasa seketika tidak bisa di gerakan. Ciuman itu tidak lama, beberapa detik kemudian Naruto melepaskannya.

"Aku tidak mau mendengarnya, kau milikku Hinata!"

Plaakk! Sebuah tamparan mendarat telak di pipi Naruto.

"Kau gila Naruto!", air mata kembali mengalir di pipi ku, tiba-tiba hujan turun, seakan sang langit ikut menangisi sesuatu. Sementara Naruto, tidak beranjak dari tempatnya berdiri, membiarkan tetesan air hujan membasahinya, meski ia tahu itu tak akan mampu mencairkan kesedihan yang kini ia rasakan.

"Hinata.." lagi – lagi ia memanggil namaku dengan lembut.

Aku tak menyahut ataupun menoleh, tapi aku merasakan bahwa kedua lengannya tengah memelukku dengan erat, ia membenamkan wajahnya dipangkal leherku, tidak lama setelah itu aku mendengar suara isakan kecil dan merasakan bahuku menjadi basah.

Naruto tengah menangis.

"Aku tidak ingin kita berpisah.." ucapnya dengar suara serak. "Tapi jika ini yang terbaik dan membuatmu bahagia, baiklah… pergilah" ujar Naruto dengan berat lalu melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan diriku yang mematung ditempat. Pada akhirnya aku tak bisa mencegah air mataku yang keluar dan turun begitu saja.

Warning : GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Karakter di fic ini bukan milik saya tapi milik hak cipta

Masashi Kimoto

Rated : T

Pairing : NaruHina

Main Chara : Hinata dan Naruto.

Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.

Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship

Paginya. Hinata berdiri didepan sekolah. Bel sekolah sudah berbunyi tapi Hinata masih berdiri melamun didepan pintu gerbang sekolahnya. Ia tiba-tiba berbalik dan meninggalkan sekolahnya sambil melamun. Ia berjalan menatap lurus kejalanan tidak memperhatikan sekitarnya.

Naruto yang melihat Hinata dari jendela kelas hanya bisa berdiam diri setelah Hinata beranjak meninggalkan sekolah. Tubuhnya tidak bereaksi apapun kini. Setelah kejadian kemarin, pemuda itu tak tahu harus bersikap seperti apa pada gadis itu.

Hinata duduk sendiri di bangku taman kota dibawah bunga sakura yang sedang mekar. Merenungkan kembali kejadian kemarin. Tiba-tiba seseorang mendekatinya dan duduk disampingnya. Hinata menoleh dan terkejut mendapati Sasuke berada disebelahnya.

"Aku akan menemanimu.." kata Sasuke tanpa menatap Hinata yang ada disampingnya. ".. kau tak tau caranya untuk bolos kan?" lanjutnya sambil menatap Hinata yang tengah menatapnya. Hinata pun langsung menunduk. "kau ingin pergi kemana?" tanya Sasuke.

Hinata kembali menatap Sasuke.

Sekarang Hinata dan Sasuke duduk direstauran keluarga tempat yang berada di tikungan jalan sekolah. Sasuke menatap Hinata yang ada didepannya dan melihat gadis itu sedari tadi hanya menatap jam dinding dan tidak membaca menu makanan.

"Bagaimana kalau kau melupakan masalahmu dengan Naruto untuk saat ini." kata Sasuke seakan membaca pikiran Hinata. "... maksudku si Dobe. Kau memikirkannya kan?"

Hinata hanya tertunduk sedih menatap menu makanan. Sasuke meletakkan menu makanan ditangannya "Apa kau sudah tau apa yang akan kau pesan?" Hinata mengangguk, Sasuke mengambil bel pesanan dan ditaruh didepan Hinata.

"Saat dulu kita berempat kesini, kau nampaknya ingin datang kesini kembali" Hinata teringat masa-masa itu, ia ragu-ragu menekan bel pesanan dan keduluan Sasuke bahkan tangan mereka berdua sempat bersentuhan. Hinata tersenyum malu dan kemudian menekan bel pesanan.

"Aneh?" Gumam Hinata pelan.

Sasuke menyeringit heran, "Apa yang aneh?" Tanya pemuda itu.

Hinata terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan pemuda didepannya, kemudian mata lavendernya matap intens Sasuke."Kau Uchiha Sasuke, tuben sekali kau mengajak ku berbicara dan terlebih lagi kenapa kau sering mengajukan pertanyaan padaku. Tidak biasanya kau seperti ini.." ujar Hinata sedikit mengejek pemuda itu.

Sasuke malah menyeringit dan menatap tajam setelah mendengar perkataan Hinata. Padahal ia hanya ingin mencairkan suasana saja, kalau saja bukan Sakura yang membujuknya ia tidak akan mau melakukan hal seperti ini.

"Hn.." dengus Sasuke kesal mood baiknya malah jadi rusak sekarang.

Hinata meredakan tawanya kemudian berdehem pelan, "Apa sakura yang memintamu. Maaf.. aku tak bermaksud begitu" Ujar Hinata sedikit gugup.

Sasuke sendiri masih tetap memasang wajah temboknya sekarang, "Hn.."

"Sasuke.." Panggil Hinata dengan nada tegas yang mulai berubah, "Ada apa sebenarnya?" tanya Hinata langsung ke intinya. Ia tahu pemuda itu tak akan menemuinya jika tidak ada hal yang penting untuk dibicarakan.

Akhirnya Sasuke memilih menyerah, ia menghela nafas dan menatap Hinata dengan serius. "Kau sudah tahu kedatanganku buat apa bukan?"

oOoOoOo

Sore harinya, bel sekolah berbunyi tapi belum ada tanda-tanda dari Naruto untuk beranjak pulang. Ia masih berdiam di tempat duduknya sambil memandang keluar jendela, entah mengapa ia seperti masih melihat Hinata tengah berdiri disana didepan sekolah.

Namun kegiatan lamunannya tak lama kemudian terganggu akibat panggilan seseorang disampingnya. Ia sangat malas untuk mendengar atau sekedar melihat siapa yang tengah memanggilnya, lebih baik ia segera bergegas pergi. Dengan cepat ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kelas tanpa memperdulikan suara panggilan itu.

"NARUTO-KUN!" Teriak sang gadis yang naasnya tak didengarkan oleh pemuda itu.

Tapi gadis itu tak menyerah begitu saja, ia masih tetap mengejar Naruto dan mencoba menjelaskan kejadian tempo hari yang lalu.

"Berhentilah mengganggu ku Shion" ujar Naruto tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya.

Naruto berjalan cepat, hari ini dia memang sengaja tak membawa sepeda seperti biasanya karena sepedanya masih berada di bengkel. Jadi beberapa hari ini ia akan berjalan kaki untuk pulang kerumah. Tapi naasnya ia tidak bisa melarikan diri dari gadis itu, Shion. Menyebalkan, ia tidak sudi melihat wajah gadis itu lagi. Rasanya sangat muak!

Sampai ditikungan jalan sekolah, Naruto langsung dicegat dengan mobil Shion. Ia menatap datar pada Shion yang kini tengah membuka pintu dan berjalan mendekatinya, "Naruto, tunggu sebentar, dengar penjelasan ku dulu.." ujar Shion memohon sembari menarik pergelangan tangan Naruto agar tidak kabur.

Plak! Naruto dengan kasar menepis genggaman tangan Shion, "Jangan berani-beraninya kau menyentuhku. Dasar wanita tak tau diri.." Maki Naruto dengan kesal.

"Naruto, jangan berkata seperti itu kepadaku, aku ini kekasihmu.." Ucap Shion dengan nada meninggi.

Naruto mendecih,"Kekasih? Sejak kapan? Apa kita pernah memiliki hubungan.." Ujar Naruto dengan kesal, "Pergilah sebelum aku kehabisan kesabaranku Shion" lanjutnya.

"TIDAK! Aku tidak akan melepaskan mu, kau tidak boleh begini Naruto, Kau tidak boleh.."

"Tidak boleh apa?" Teriak Naruto dengan amarahnya yang sudah tertahankan. "Masih berani kau menunjukan taringmu didepanku setelah kau ketahuan selingkuh. Apa kau tidak berkaca.. kau sudah bukan pacarku lagi shion" Naruto berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang terisak menangis.

"Naruto ini semua bukan kesalahan ku.." Ujar Shion membela diri, "Kalau bukan karena kau yang terus sibuk memikirkan Hinata, aku tak akan melakukan kesalahan seperti ini. Jadi semua ini bukan sepenuhnya kesalahan ku Naruto…" kata Shion dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.

Naruto terdiam ditempat, "Jangan bawa-bawa Hinata kedalam masalah kita Shion. Dia tidak bersalah apa-apa, ini semua adalah kesalahan ku… seharusnya aku tak mencintaimu, seharusnya aku lebih menghabiskan waktu bersamanya, seharusnya aku tak mengikuti kemauan mu, dan seharusnya aku tidak terlamabat untuk menyadari hal ini…"

Naruto menoleh kearah Shion, "Gomen! Shion, Anggap saja kita tak pernah saling mengenal dan lupakan saja hubungan kita yang sudah berlalu itu." Gumam Naruto.

Shion terpaku setelah melihat tatapan dingin Naruto, ia tidak berbuat apa-apa, ia hanya bisa menangis dan menyesali perbuatannya. Naruto berlalu pergi meninggalkan gadis itu ditengah keramaian.

Tanpa sepengetahuan mereka didalam sebuah restoran ada sepasang mata yang telah melihat kejadian tadi. Seorang gadis yang tak lain adalah Hinata sendiri yang sedang bersama Sasuke. Setelah melihat kepergian Naruto, Sasuke kembali memandang Hinata dengan senyum kemenangan.

"Ku rasa kau bisa memikirkan lagi, apa yang kukatakan tadi." Ujar Sasuke kepada Hinata yang masih menatap sendu Naruto. "Ini pemberian darinya.." Ucap Sasuke sembari menyerah sebuah buku.

Hinata menerimanya dengan berat hati,"Akan ku pikirkan kembali?"

~oOoOoOo~

Dirumah Naruto berdiam diri didalam kamar, ia tak berniat turun kebawah walau hanya sekedar nonton tv atau makan malam. Rasanya enggan sekali bertemu Hinata, hatinya masih merasa sakit dan kecewa.

Tapi harusnya perasaan ini lebih berlaku kepada Hinata sediri bukan kedapa dirinya. Harusnya ia merasa bersalah kepada gadis itu. Apa daya jika kenyataan malah berbalik, Naruto merasa ia tidak akan sanggup melihat Hinata setelah penolakannya kemarin.

Tok! Tok!

Suara pintu terketuk membuat Naruto mengalihkan pandangannya kearah pintu, "Masuk.." ucap Naruto.

Tak lama setelah itu pintu terbuka lebar dan menampakkan Hinata yang telah berdiri disana. Naruto terkejut, namun ia langsung bersikap tidak peduli dengan keberadaan Hinata. Ia memandang kosong kedepan tanpa mau melihat Hinata.

"ada apa kau kemari?" Tanya Naruto tanpa menoleh kepadanya.

Hinata menghela nafas gusar karena melihat tingkah laku naruto yang masih kekanak-kanak kan. Ia melangkah masuk kedalam dan mendekati Naruto. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan Naruto" ucap Hinata.

Naruto memejamkan matanya setelah ia tahu bahwa gadis itu telah berada disamping tempat tidurnya. "Hah… Apa?"

"Bukankah kau pernah mengatakan kepadaku untuk tidak berperilaku yang membuat kita saling mengkhawatirkan. Kau sendiri yang bilang begitu kepadaku, lalu sekarang yang kau lakukan saat ini?"

Naruto masih tetap memejamkan matanya tanpa berminat mendengarkan perkataan Hinata. "Naruto.." panggil Hinata dengan lembut.

"Tidak bisakah.. Kita bersikap seperti biasa.." ucap Hinata dengan parau.

Tapi lagi – lagi naruto tak mau mendengarkannya.

"Dasar bodoh! Apa kau tahu, aku berkata seperti ini karena aku sangat mengkhawatirkanmu Naruto. Apa kau tak bisa berpura-pura terlihat baik didepanku, jangan menyiksa dirimu sendiri Naruto. Bukankah lebih baik jika kau tidak tahu perasaanku sebenarnya, seharusnya kau tak membaca diary ku dan kau tak perlu merasa bersalah kepadaku.." Ucap Hinata dengan penuh emosi.

"Baiklah, kalau kau masih bersikeras ingin tetap seperti ini maka aku tidak bisa berbuat apa-apa.. Aku pergi!" Hinata melangkah kan kakinya beranjak dari tempat tidur Naruto. Ia berharap Naruto akan menghentikan langkahnya, namun sampai di daun pintu nampaknya Naruto benar – benar sudah tak peduli lagi dengannya. Sakit. Hatinya terasa begitu sakit dengan sikap pemuda itu yang terus mendiaminya. Mungkin jika ia lebih cepat pergi dari sini maka semuanya akan terasa lebih mudah untuk dilupakan.

~oOoOoOo~

Pov Naru

Aku merasa badanku tak enak pagi ini, kepalaku terasa begitu pusing, rasanya aku ingin tidur lebih lama. Tapi cahaya matahari yang masuk kedalam kamarku terasa begitu mengganggu. Dengan malas ku tengokkan kepalaku ke samping untuk melihat jam weker dimeja belajarku.

Pukul 07.30

APA! Sial, aku telat. Dengan cepat aku bergegas kekamar mandi dan berganti pakaian, setelah selesai berpakaian aku langsung turun dan mengambil empat lembar roti dimeja makan. Aku memakannya dengan lahap. Tanpa menunggu lama aku sudah menghabiskan makananku, dan terburu – buru meminum susu yang telah disediakan.

Aku berjalan dengan tergesa – gesa menuju bagasi mobil, karena waktu yang mendesak ku, aku terpaksa harus membawa mobil untuk sampai sekolah lebih cepat. Setidaknya mobil pemberian Otousan untuk hadiah ulang tahunku masih berguna guna.

~Skip Time~

Sampai disekolah. Beruntung dikelas kurenai sensei belum datang, dan keadaan kelas masih berisik seperti biasa. Aku menghela nafas lega, setidaknya kali ini aku tidak akan kena hukuman dari nenek sihir itu.

aku memasuki kelas dan segera berjalan menuju tempat duduk ku, aku melihat teman - temanku yang menatapku dengan pandangan sulit diartikan, aku mengalihkan wajahku dari mereka tapi tanpa sengaja pandanganku malah bertemu dengan mata Lavender nan indah itu.

"Ohayou Naruto.." Sapa Kiba yang sudah terlebih dahulu menyusulku.

"Ohayou" Ku sapa balik dengan malas. Setelah mendengar suaraku entah mengapa mereka melihatku dengan pandangan menyedihkan.

Aku menyeringitkan dahi, "Kenapa?" Tanyaku heran melihat raut wajah mereka.

Shikamaru menggelengkan kepalanya, "Seharusnya kami yang bertanya begitu. Kau kenapa Naruto? Pagi ini kau kelihatan sangat tidak bersemangat seperti biasanya. Ada masalah?" Tanya aku sudah duduk ditempatku.

"Tidak ada apa-apa!" Jawabku asal.

"Kau kelihatan sangat pucat Naruto, apa kau tidak sarapan dirumah?" Tanya kiba sambil merengkuh wajahku.

Dengan kesal aku menepis tangannya begitu saja, "Baka, Aku baik-baik saja!" Ucapku dengan nada tinggi kepadanya. Sedangkan ia hanya menatapku dengan sedih.

"Teganya kau Naruto.. aku ini temanmu.. kenapa kau bersikap begitu kepadaku.. HUAAAA!" rengek Kiba dengan lebay.

"Cihh.. diamlah, kau sangat berisik kiba..." Kata ku kesal. Menyebalkan sekali pagi - pagi begini sudah disungguhi rengekkan kiba yang kelewatan lebay.

"Kau sedang ada masalah?" Tanya Sai yang mulai masuk kepercakapan kami.

"Kalau ada masalah lebih baik kau selesaikan baik-baik, jangan membuat jarak denganya. Kalau kau seperti itu, maka masalahnya malah akan bertambah runyam." Ucap Sai menatap ku sekilas lalu kembali fokus pada buku ditangannya.

"Jangan sok tahu.." Jawabku kesal. "Kau berkata seolah - olah kau tahu betul apa yang sedang kurasakan." lanjutku dengan nada ketus.

Tapi sai tidak begitu mengindahkan perkataanku karena dia sudah terlanjur sibuk dengan kegiatannya, sedangkan Shikamaru hanya menghela nafas dengan kasar. "Baiklah, terserah padamu saja Naruto" gumam Shikamaru kemudian berbalik kedepan karena Kurenai sensei sudah masuk kedalam kelas.

Aku memutar kedua bola mataku, "Ngomong-omong, dimana si teme.. Aku belum melihatnya dari tadi?" Tanyaku entah pada siapa.

"Dia ada ditempat Sakura..." Jawab Sai tanpa menolehkan kepalanya kesamping.

Aku melihat kebelakang dimana kursi Sakura yang sudah diduduki Sasuke, sedangkan Sakura sudah duduk bersama Ino. Pandanganku berubah tajam saat melihat Sasuke duduk ditempat Sakura. Kenapa Sasuke duduk disamping Hinata. Mereka berdua nampak sedang membicarakan sesuatu, aku tak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak tempat duduk sangat berjauhan dengan mereka.

Aku masih memandangi mereka berdua dengan intens, hatiku terasa panas begitu saja, sialan kau teme? Apa yang sedang kau lakukan disana..

Kepalaku semakin terasa sakit, menyebalkan. Setidaknya aku hanya harus betahan selama satu jam pelajaran, syukurnya hari ini akan ada survei fakultas disekolah.

Dengan begini aku bisa tidur di Uks selama survei berlangsung, tapi pikiran ku tidak bisa tenang melihat kedekatan Sasuke dan Hinata dikelas, Ah.. kepalaku terasa ingin pecah begitu saja.

"Oi.. Dobe.." Panggil seseorang membangunku.

"Hmm.." aku mengerjap - ngerjapkan kedua kelopak mataku. Kemudian melihat siapa yang tengah membangunkan ku, "Baka!" Ucapnya dengan nada sangat datar.

Aku menyeringit melihat Sasuke. Sepertinya kepalaku masih terasa pusing sampai - sampai kesadaranku masih belum mengumpul. "Kau ini sedang bicara apa teme?" Tanyaku heran.

Aku memijat pangkal leherku yang terasa pegal, lalu mengusap kasar wajahku. "Jangan mencari gara - gara denganku sekarang.. aku sedang dalam keadaan tidak baik." kataku dengan malas.

Ku tatap Sasuke yang tengah menatapku dengan khawatir, "Dobe, kau sakit?" Tanya kawanku ini. "Lebih baik kau segera ke Uks..."

Aku mendengus sebal, "Aku tahu.."

"Cepat sana pergi, sebelum kau pingsan dan merepotkan banyak orang disini.." Ujar Sasuke lalu berlalu pergi meninggalkan ku yang sudah muncul perempat didahiku. "Kau menyebalkan teme..."

~End Pov Naru~

Naruto beranjak dari kelas setelah mendengar suara bel istirahat berbunyi, diperjalanan ia begitu tidak bersemangat untuk menyapa penggemarnya dan para sahabatnya. Ia hanya terdiam melewati mereka yang menyapanya.

Ia tidak peduli, karena yang ia inginkan hanya sampai di Uks secepatnya tanpa mendengar suara bising dari para gadis yang terus berceloteh menanyakan keadaannya, "Hahh…"

Naruto membuka pintu UKS, ia masuk kedalam dan langsung mengunci pintu agar tidak ada yang masuk untuk mengganggu ketenangannya. Kebetulan sekali penjaga sedang keluar, mungkin absen atau tengah makan siang. Biarlah…

Naruto membaringkan tubuhnya dikasur yang tidak bisa terbilang nyaman itu, ia mencoba memejamkan matanya namun ia tidak bisa tertidur lelap. Naruto mendesah kasar, ia melihat – lihat kesekeliling ruangan. Matanya langsung tertuju pada kulkas didepannya. Mungkin ada sedikit makanan didalamnya, tidak apa-apa juga kalau ia memakan makanan didalam kulkas itu. Setidaknya bisa menambah staminanya untuk siang kedepan.

Ia membuka pintu kulkas itu dan melihat lihat apa yang bisa ia makan, tapi yang tersedia hanyalah air putih saja, lagi lagi menyebalkan sekali. Tangannya terulur untuk mengambil gelas itu untuk diminumnya namun ada sebuah suara yang menghetikannya.

"Jangan diminum.. kalau kau meminum air itu, maka jantungmu akan melamah Naruto.." ucap seseorang dengan lembut.

Naruto tertegun ketika mendengar suara itu, ia sangat mengenali suara itu. Segera ia kembalikan botol minuman itu kedalam kulkas dan membalikkan badan dengan ragu-ragu. Dilihatnya sesosok yang tengah berbaring disamping tempat tidurnya namun terhalangi oleh sebuah tirai.

Namun tanpa melihat sosok itu Naruto sudah tahu siapa dia?

Naruto duduk disisi kasur yang lain, ia terdiam sejenak memikirkan perkataan sai tadi pagi. Mungkin ia harus menyelesaikan masalahnya dengan baik. Tapi mengingat kejadian dikelas tadi membuat hatinya memanas dan tubuhnya terasa terbakar oleh panasnya diruangan ini.

"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Hinata tanpa melirik pemuda disampingnya.

"Untuk bertemu denganmu." Jawab Naruto berbohong, padahal ia kesini karena kepalanya terasa pusing.

"Kelihatannya kau tidak akan jatuh sakit. Tanpa memperdulikan bahaya, kau tidak melihat disekitarmu. Kau hanya melakukan apa yang kau mau. Kau bersikeras, memaksakan kehendakmu." Kata Naruto yang bermaksud menyinggung gadis disampingnya itu.

"Jika kau hanya ingin mengatakan hal seperti itu lebih baik kau pergi dari sini!" ucap Hinata dengan kesal. Ia merasa sangat kesal dengan semua perkataan Naruto tentang dirinya. Padahal sebelumnya Naruto memang suka berkata seperti itu padanya, tapi sikapnya biasa saja. Untuk kali ini berbeda, ia tidak terima Naruto berkata yang tidak baik tentang dirinya. Entah mengapa ia tidak mau pemuda itu berfikir macam-macam tentang dirinya.

"Tidak mau!" Sahut Naruto tanpa memperdulikan tatapan tajam Hinata.

"Menyingkirlah!" Ujar Hinata dengan nada tinggi, ia beranjak dari kasurnya namun ditahan oleh sebuah tangan dan pemiliknya yang tak lain adalah Uzumaki Naruto. "Kau ingin mati!"

"Kalau begitu coba saja…" Sahut Naruto sambil menahan tawanya melihat tingkah laku Hinata yang terkadang suka berubah-ubah tak wajar. Apa sekarang gadis ini sedang mengalami masa pubertas.

"Kenapa ketawa?" Tanya Hinata menatap Naruto dengan garang.

"Kedengarannya seperti ide yang bagus. Membunuhku menggunakan tanganmu sendiri." Ungkap Naruto dengan sambil terkekeh..

"Ternyata kau cerdas juga, Hyuuga Hinata." Naruto bertepuk tangan dengan riang, seolah – olah ia telah mendengar sebuah lelucon dari mulut Hinata. Sebenarnya yang bersikap yang tidak wajar sekarang itu siapa?

Hinata menggelengkan kepalanya sambil bergumam bahwa pemuda di depannya itu sudah gila, kemudian ia memilih untuk beranjak dari tempat itu tapi tangannya malah tertahan oleh genggaman pemuda itu sendiri. "Mau ke mana?"

Dengan kasar hinata menghempaskan tangan Naruto, "Jangan mengurusi urusan orang lain!"

Tapi Naruto tak menyerah sampai disitu, ia memandang Hinata dengan tajam seolah ia benar-benar sangat marah. "Itu urusanku. Ke depannya tidak peduli ke mana, kapan saja... Kau harus selalu bersamaku, selalu bersamaku." Ucap Naruto dengan tegas.

"Kau sudah gila ya?" Ucap Hinata dengan marah. "Aku tidak punya waktu bercanda denganmu sekarang." Lanjutnya kemudian kembali menepiskan genggaman pemuda itu darinya.

Naruto kembali menahan Hinata, ia ikut berdiri dan mendekati gadis itu sambil melemparkan tatapan mengintimidasinya pada Hinata. "Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Bukankah kau bilang mau membunuhku dengan menggunakan tanganmu? Kalau begitu, kau harus selalu berada dalam jangkauanku. Tunggu saat di mana aku telah siap, Kau bisa segera menikamku." Hinata memekik sakit karena pengangan Naruto semakin menguat.

"Dasar Gila!" Maki Hinata.

Naruto mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata kemudian membisikkan kata-kata yang membuat gadis itu mematung ditempat. "Ini sama sekali bukan bercanda. Bukankah ini adalah idemu? Kelak tidak peduli mau ke mana, harus ada aku di sisimu. Kecuali ke kamar mandi. Salah! Ke kamar mandi juga harus sama-sama."

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

Maaf… baru update. Soalnya ada beberapa masalah diakun ff, apa lagi bulan kemarin lagi sibuk bgt dirumah… Apalagi setelah dikoreksi lagi, cerita saya ini rada makin gak jelas(Heheheh maklumin aja ya) tulisannya juga banyak yang ngaco.

Author tidak bisa mengupdate sering-sering, tapi akan diusahakan update terus kok…

Saya sangat senang karena ada beberapa rader yang masih mengingatkan saya dengan fic ini… hehehe. Terimakasih banyak semuanya…

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Dan maaf kalau belum ada balasannya di PM!

Miinyaan : ini lanjutannya

Reader abal: terimakasih dukungannya ini udah lanjut kok..

Aru Hasuna 2409: Terimakasih atas review nya Aru-san... tentang hinata yang gak ngebongkar kejahatannya shion emang aku buat kaya gitu. Soalnya disini hinata ingin melihat apa saja yang shion lakukan untuk menghancurkan dirinya (hahahaha) jadi dia itu cuman diem aja.. kalo masalah perselingkuhannya Shion (nanti kita liat aja yah...)

Guetus: yah… semoga romacenya makin ngefeel ya… terimakasih komentarnya.

SEMUANYA PADA BAPER?