Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam

Rate: T

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

Pubertas, apa itu pubertas? Coba letakan kata 'pubertas' di benak kalian, di kepala kalian, di dalam diri kalian, dan tanya kepada diri kalian sendiri, apa arti dari kata 'pubertas'.

Kuberi kalian waktu selama semenit untuk memikirkan apa itu arti dari kata 'pubertas.'

.

.

.

Kalian menemukannya? Jika iya, simpulkan kata 'pubertas' itu hanya dengan satu kata saja, apapun. Jika tidak, kurasa kalian harus lebih mendalami lagi banyak peristiwa dan hal yang terjadi pada diri kalian di masa lampau.

Pubertas, mari kita simpulkan itu dalam satu kata yang mudah dimengerti oleh semua orang. Pubertas itu sebuah perubahan. Mungkin kalian akan bertanya-tanya di mana tepatnya perubahan itu terjadi. Kalau boleh kubilang, perubahan itu terjadi di dalam diri kalian sendiri, ketika kau mengalami pubertas, maka kau mengalami perubahan yang jelas pada dirimu. Mungkin ibu atau guru di sekolahmu telah mengajarkan banyak hal tentang pubertas, tentang perubahan itu, tentang apa yang terjadi pada dirimu saat kau menginjakan umur yang tepat. Namun, ketahuilah, banyak hal yang tidak kau ketahui tentang kata ini karena tak ada seorangpun yang mengajarimu hal ini.

Kalau begitu, siapa yang akan atau telah mengajarimu tentang hal yang tidak kau ketahui itu? Tentu saja, dirimu sendiri.

Cerita ini dibuat, ditulis, disiratkan, untuk orang-orang yang tengah belajar memahami apa itu pubertas, apa itu perubahan pada diri sendiri, dan apa yang dapat mereka pelajari dari hal itu. Kau pernah mendengar kata cinta di telingamu? Kuharap kau tidak akan pernah menghapus kata cinta dari kamus bahasamu, bahkan kalau kau mampu, pahamilah kata yang berharga itu dengan baik, agar nantinya kau tidak akan pernah menyalahgunakan kata ini di kehidupanmu.

Aku terlalu muda untuk memahami kata cinta.

Tidak! Tidak pernah ada kata terlalu muda atau terlalu tua untuk mengenal kata itu, memahami kata itu. Semakin kau mengerti apa yang di maksud dengan kata cinta, semakin kau akan mendapati kehidupan yang baik.

Karena jika kau mengerti, kau akan menyadari bahwa kata cinta adalah salah satu bagian terpenting yang akan mendampingi masa pubertasmu, masa perubahan pada dirimu. Biarkan cinta itu menjadi satu dengan dirimu dan membawa keindahan yang luar biasa di kehidupan yang sebentar ini.

Bambam, umurnya enam belas tahun, tapi hidupnya bagai digoyahkan oleh guncangan-guncangan keras yang menimpanya. Hari demi hari hatinya diselimuti suasana kelabu abu, yang membuat hari-harinya terlalu banyak dipakai untuk murung, berpikir terlaluh jauh, merenungkan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Lucu baginya saat dua laki-laki yang hanya setahun lebih tua darinya membuat ia merasa bahwa hidupnya sudah hancur dilanda problematika yang tiada henti, padahal umurnya baru enam belas tahun, yang perlu ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya mendapatkan teman dan mendapatkan nilai bagus di sekolah.

Mark, namja ini, dia seharusnya bisa lebih dewasa menanggapi hal-hal yang sangat umum seperti ini, seperti yang tengah ia hadapi. Tidak perlu banyak penjelasan lagi mengenai Mark yang kini terlanjur pusing memikirkan bagaimana cara mengubah kekacauan yang ia buat oleh dirinya sendiri, Mark kini berusaha tersenyum dan menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, tapi percayalah, jauh di dalam hatinya, penyesalan dan berbagai kutukan menghantui masa kelas dua SMA nya yang baru dimulai itu.

Apa yang membuat keduanya terpuruk dalam masalah kecil? Mereka hanya tidak mengerti apa arti kata cinta sebenarnya.

"Ck," Bambam berdecak, wajahnya ia tenggelamkan lagi di bawah rambutnya yang hitam berapi itu sambil mendekat kedua lututnya di bawah dagu. Dia berhasil menarik perhatian teman-temannya yang sedang sibuk belajar dan membaca buku di bawah pohon rindang, sementara Bambam membiarkan bukunya tergeletak di samping sepatu hitamnya yang mengkilat.

"Ada apa lagi, Bam?" tanya Jungkook khawatir, ia menjepit jari telunjuknya di antara kedua halaman agar dia tahu di mana ia berhenti.

"Mark lagi?" Junhoe ikut berbicara.

"Aku benci pubertas." Bambam menjawab kedua pertanyaan dari temannya sekaligus. Jungkook dan Junhoe saling menatap heran, sedangkan Mingyu dan Yugyeom hanya melirik Bambam sejenak dan kembali fokus dengan buku mereka masing-masing.

"Kali ini apa masalahnya, Bam?" tanya Junhoe lagi.

Bambam mengangkat wajahnya dan menunjukkan ekspresi masam, "aku lelah terus-menerus dihantui masalah seperti ini."

"Maksudmu Mark?"

Bambam mengangguk perlahan dan bersedih lagi. Junhoe, hatinya tidak pernah tahan ketika melihat salah satu dari sahabatnya itu terluka bahkan hingga menangis. Junhoe pada dasarnya memang bukan namja yang lembek seperti keempat sahabatnya, yang menyukai seorang namja manly dan gagah, justru Junhoe lah yang memainkan peran manly dan gagah itu, dia lah namja yang diinginkan oleh para bottom, yang diinginkan oleh para namja cantik. Demi keempat sahabatnya, ia rela menjadi pelindung dan tameng untuk melawan segala rasa sakit yang akan menimpa mereka. Junhoe meninggalkan bukunya di atas rumput dan mendekat ke arah Bambam, perlahan ia elus rambut Bambam sambil memperhatikan wajahnya dengan tatapan keyakinan.

"Tapi kau menikmatinya kan?" Junhoe bertanya lembut.

"Tidak," Bambam menggelengkan kepalanya keras, "aku tidak menikmatinya sama sekali, menjadi remaja membuatku muak."

"Hihi, Bam, semua orang pasti pernah mengalami hal yang sama denganmu." Jungkook mencoba mencairkan suasana kelabu dengan sedikit tawaan kilas. "Ini hanyalah... setitik masalah yang kau hadapi, karena di depan sana masih ada jutaan titik masalah yang akan kau hadapi."

"Begitukah?" Bambam menatap sedih wajah Jungkook, dengan keyakinan yang teguh, Jungkook mengangguk disertai senyuman manis yang membawa banyak dukungan. "Aku menyesal telah menerima ciuman dan berbagai hal dari Mark hyung."

"Heeeeey," Junhoe spontan mendorong tubuh Bambam hingga hampir terjatuh, maksudnya hanya bercanda karena dia gemas dengan ucapan Bambam yang terus-menerus mengungkapkan kata penyesalan, "justru di situlah mental pubertasmu diuji. Kalau kau menganggap ciumanmu dengan Mark hyung itu adalah suatu penyesalan, kau akan terus menganggap semua hal yang terjadi pada masa pubertasmu adalah penyesalan."

"Begitu ya..." Bambam menghela nafasnya dengan berat lalu kembali berusaha memfokuskan dirinya dengan buku fisika, namun hasilnya nol, ia terlanjur memusingkan diri dengan suatu hal yang sudah berminggu-minggu mengusik perasaannya.

"Tenang saja, Bam, lama-lama kau juga akan memahami segalanya."

"Aku hanya ingin berbaikan dengan Jackson hyung, dia benar-benar tidak ingin mengenalku lagi." curhat Bambam, wajahnya menjadi semakin lesu. Yugyeom yang daritadi menyibukkan dirinya di hadapan buku menjadi sedikit terkecoh dengan nama yang baru saja Bambam sebutkan di antara kata-katanya, namun Yugyeom berusaha menahan diri agar tidak ikut masuk dalam pembicaraan ketiga temannya.

"Kau pasti bisa, Jackson hyung pasti memaafkanmu." Jungkook memberikan senyuman terbaiknya lalu kembali menghadap buku fisika yang seharusnya daritadi sudah mereka selesaikan untuk dipelajari.

Kalau Bambam bisa berlutut sambi menangis, memohon maaf dari Jackson, mungkin dia sudah melakukan itu. Mungkin Jackson bisa saja memaafkannya ketika Bambam harus melakukan itu, tapi kalau hati Jackson tidak berkenan, tetap saja tidak akan ada hasilnya, Bambam perlu mendapatkan hati Jackson lagi supaya dia benar-benar mau memaafkannya, supaya Jackson mau berteman lagi dengannya. Jackson hanya butuh kekuatan untuk melepaskan Bambam secara tulus.

Di samping Jackson, ada Yugyeom yang terduduk manis sambil menikmati cahaya matahari pukul sepuluh pagi, tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas, benar-benar hangat dan menenangkan. Di bawah pohon rindang mereka berbincang layaknya teman hidup, penuh canda, tawa, riang, kadang sedikit ada rasa pahit di dalamnya, namun justru itulah yang membuat mereka semakin merasakan kedekatan, dan helai-helai cahaya matahari lah yang menjadi saksi bisu mereka.

Jackson tersenyum lebar, "sebenarnya rasa kesukaanku bukanlah Butter Biscuit."

"Lalu?" Yugyeom bertanya penasaran.

"Papermint dan cornflakes, aku mencintai kedua rasa itu."

"Oh, jadi seharusnya waktu itu aku membelikanmu rasa papermint, ya?" Yugyeom mengerucutkan bibirnya.

"Hehe, jangan begitu, butter biscuit juga enak kok." dengan lembut Jackson mencubit lengan Yugyeom yang agak gendut. "Yang penting kita menyukai cokelat yang sama."

"Hmm, aku jadi ingin makan ritter sport lagi." Yugyeom pura-pura tidak melihat Jackson, seakan apa yang ia inginkan itu hanyalah angan semata, padahal di dalam hatinya ia menunggu Jackson untuk mengucapkan kata-kata yang sama persis ketika ia menjanjikan untuk makan cokelat bersama dengan Yugyeom.

"Nanti sore, kita makan cokelat bersama, mau?" tawa Jackson, seketika senyum Yugyeom mekar bagai bunga.

"Serius hyung?" tanya Yugyeom bersemangat.

"Untuk Gyeomie yang imut, hyung serius." kata Jackson seraya menyeringai lebar dan mengacak-acak rambut Yugyeom perlahan, seperti yang biasa ia lakukan.

Kedua insan itu tak berhenti saling melempar senyuman dan barisan kata-kata manis yang membuat hati mereka bergetar sendiri. Masih belum diketahui pasti apa yang sebenarnya menyelubungi hati mereka hingga setiap hari selalu ada saja hal yang membuat mereka selalu nyaman untuk saling berdekatan, untuk saling mengenal lebih baik, untuk saling menghibur dan melupakan masalah abal-abal mereka untuk sejenak. Belum juga Yugyeom puas tertawa bersama Jackson, sudah ada hal lagi yang menyurutkan tawaannya ke dalam diam dan bisu.

Mata Yugyeom menangkap dua sosok namja berjalan mendekati mereka, keduanya memiliki tinggi tubuh yang sama, wajah mereka terlihat kaku ketika mereka menangkap maat Yugyeom, dan yang lebih mengerikannya lagi ketika Yugyeom mengenal kedua orang itu. Jackson melihat wajah Yugyeom yang seketika berubah dalam hitungan detik, ia memperhatikan tatapan Yugyeom yang kosong dan itu membawanya tepat ke arah Yugyeom menatap. Ketika Jackson berbalik-dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya-ia mendapati dua orang yang mengejutkan hatinya, senyuman tipisnya pun sirna.

Mark dan Junhoe berada di sana, merupakan suatu hal yang tumben bagi orang-orang untuk melihat kedua orang itu berjalan bersama.

"Junhoe?" Yugyeom melongo. "Sedang apa?"

"Aku..." Junhoe menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menandakan kalau dia gugup, begitu juga dengan Mark. "...aku sedang berdiskusi tentang pendaftaran anggota OSIS baru bersama Mark hyung." suaranya terputus-putus.

"Kau berniat masuk OSIS?"

"Kurasa begitu." Junhoe menyeringai polos. "Eh.. Yugyeom..." sekarang Junhoe menggantung kalimatnya. Ia hanya menggunakan mimik muka untuk berkomunikasi dengan Yugyeom, wajahnya seakan mengatakan: cepat pergi dari sini sebelum Jackson hyung kabur. Awalnya Yugyeom buntu, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Junhoe coba katakan padanya, namun beberapa detik kemudian, Yugyeom mulai menyadari apa yang Junhoe maksud.

"Aaah, ya..." Yugyeom tertawa sekilas lalu menatap Jackson kikuk, "...hyung, aku harus membantu teman-temanku di kelas, kutinggal sendiri tidak apa-apa kan? Nanti sore kita makan cokelat bersama ya!" Yugyeom perlahan bangkit, menghampiri Junhoe yang sudah menunggunya dan membiarkan kedua kakak kelas mereka memiliki waktunya sendiri, entah untuk apa. Yang pasti mereka mengharapkan hasil yang lebih baik setelah mereka meninggalkan Mark dan Jackson.

"Hyung, kami ke kelas dulu ya!" pamit Junhoe.

"Ne, hubungi aku jika kau sudah bulat dengan keputusanmu." jawab Mark perlahan dan memandangi punggung kedua adik kelasnya itu selagi mereka pergi menjauh.

Kini, hanya Mark dan Jackson yang tersisa, berdua di dekat pohon rindang yang selalu menjadi spot terbaik siapapun. Jackson berencana untuk pergi dan menghindari Mark, tapi baru saja ia akan mengangkat pantatnya, Mark buru-buru menghambatnya untuk pergi.

"Bisa kita duduk bersama sebentar disini?" tanya Mark dengan hati-hati. Jackson menunjukkan wajah kesalnya lagi dan membuat Mark merasa kalau dia adalah orang yang paling Jackson benci. "Kumohon!" katanya lagi. Berhasil, Jackson kembali duduk seperti semula, disusul oleh Mark kini duduk dengan arah menyerong dari depan sambil menghadap ke Jackson.

Untuk beberapa menit, mereka memiliki waktu yang canggung, kikuk, hening hingga mereka dapat mendengar suara orang mengobrol yang jaraknya beberapa meter dari tempat mereka duduk bersama. Jackson hanya bisa mencabuti rumput sebagai pelampiasan kecanggungannya, ia sama sekali tidak ingin menatap wajah Mark bahan untuk sedetikpun, yang ia mau hanyalah cepat-cepat pergi dan tidak bertemu lagi dengan mantan sahabatnya.

"Kau masih marah padaku?" tanya Mark. Sama seperti yang Jackson lakukan sebelumnya kepada Bambam, bungkam dan enggan untuk membuka suara. Mark tersenyum sebisanya. "Aku tidak menyangka kalau kau akan membenciku separah ini."

Jackson tak menjawab, tetap, tangannya bermain-main dengan rumput kering di sekitarannya.

"Kau tahu? Bambam sering bilang kalau kau adalah orang yang baik, dia bahkan bilang kalau kau lebih baik dariku."

Aku lebih baik darimu, tetap saja dia memilihmu, keluh Jackson di dalam hatinya. Di luar, dia hanya berusaha menjaga ekspresinya agar tidak terbawa oleh suasana.

"Bambam ingin kita berbaikan."

"Huh," Jackson tertawa dalam satu nafas pendek, "untuk apa?" matanya dikerlingkan malas.

"Kau sayang padanya, kan? Tidakkah kau akan melakukan hal ini untuknya?"

"Rasa sayangku terlanjur dikecewakan dan aku sudah tidak sayang padanya lagi." jawab Jackson. Menurut Mark, jawabannya itu terlalu terang-terangan sehingga Jackson tidak bisa berkompromi dengan maksud Mark yang sebenarnya.

"Hey, tetap saja, kau kan masih temannya Bambam."

"Aku menyuruhnya untuk mencari teman yang lain." jawab Jackson dengan cepat. Mark berpikir menjungkir balikkan otaknya, tidakkah ada cara untuk meluluhkan hati Jackson yang sekeras batu itu? Apakah benar Jackson membencinya sejauh itu? Mark hanya saja kehabisan akal. Apa yang ia rasakan benar-benar persis sama seperti apa yang Bambam rasakan ketika Bambam berbicara berdua dengan Jackson untuk minta maaf, rasanya menyakitkan, menyesal, sedih, penuh rasa kecewa terhadap diri sendiri.

Kali ini Mark menggiggit bibirnya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan setetes air matapun, sayangnya, ia mengingat begitu banyak hal indah yang dulu pernah ia lewati bersmaa dengan Jackson, ketika tidak ada masalah apapun membebani mereka.

"Karena..." Mark menggantung kalimatnya, mencoba agar suaranya yang bergetar itu tak terdengar oleh Jackson. "...karena kau sahabatku?"

Perlahan senyuman mulai terlukis di wajah Jackson, bahkan Jackson tak menyembunyikan itu. Ia merasa senang mendengar Mark yang mengatakan hal semacam itu meski Jackson membencinya setengah mati, namun sampai saat ini, belum ada aksi Mark yang benar-benar membuat Jackson memaafkannya.

"Sudah kubilang jangan pernah sebut aku dengan kata sahabat lagi." ujar Jackson. "aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi sahabat siapapun, baik itu kau, Taehyung, Jinhwan atau Jaebum. Aku keluar."

"Kau yakin dengan keputusanmu itu?" hati Mark mulai teriris-iris mendengar jawaban Jackson yang sangat jauh dari harapannya, bahkan Jackson menjawabnya dalam senyuman.

"Iya." Jackson mengangguk yakin, kini dia berhasil menatap mata Mark yang sudah mulai agak basah itu. "Pasti akan ada waktu di mana aku akan menyesali keputusan ini, tapi... aku juga telah merasakan hal yang lebih buruk dari itu."

"Jackson, maafkan aku." suara Mark menghilang, satu persatu bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia mencoba untuk menahan, tapi gagal, hatinya sudah terlalu berat untuk menahan segala emosi. Untuk pertama kalinya Mark mengeluarkan air mata karena seorang sahabat, itu membuatnya terlihat lemah, tapi Mark tidak mampu berpura-pura lagi menjadi namja yang kuat. "Aku sungguh minta maaf."

Layaknya kembali menjadi seorang sahabat, Jackson menyentuh bahu Mark dan menepuknya beberapa kali secara perlahan dan lembut, jarak di antara mereka sudah tidak jauh lagi, tapi tetap menyakitkan karena tahu bahwa itu akan menjadi kedekatan mereka yang terakhir. "Tidak apa-apa." Jackson menjawab santai.

"Jackson, tolong maafkan aku!" Mark tidak sanggup menahan air matanya yang terus mengalir deras bergantian, kepalanya ia benamkan agar Jackson tak dapat melihatnya menangis dalam sesal.

"Sudah sudah! Hentikan tangisanmu!" seru Jackson, suaranya terdengar sangat ramah, ia pun tidak berhenti tersenyum. Sambil terus memegang bahu Mark, ia mencoba setenang mungkin untuk kembali berbicara. "Miliki Bambam, buat dia bahagia, kau pantas mendapatkannya."

Jleb! Kalimatnya membuat hati Mark bertambah sakit. Mark memang cinta mati dengan Bambam, tapi rasanya ia tidak siap jika harus kehilangan orang yang telah menjadi bagian dari hidupnya untuk waktu yang tidak sebentar.

"Jangan buat dirimu pusing karena memikirkanku, seseorang akan datang padaku dengan sendirinya." Jackson mempertahankan senyuman manisnya seolah-olah tak ada apapun yang terjadi. "Aku..." Jackson menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan emosi tepat di ujung tekak. "...aku baik-baik saja."

"Jackson-"

"Bilang pada Bambam kalau kau sudah berbaikan denganku, OK?" sambil mengelus bahu Mark pelahan, Jackson memperhatikan tangisan Mark yang dalam seakan itu akan membuat Jackson berubah pikiran. Memang, Jackson nyaris luluh dan ikut menangis, larut ke dalam suasana. Tapi Jackson tahu, ia tidak seharusnya menyakiti diri sendiri untuk menjadi sahabat Mark lagi. "Berhenti menggantung Bambam seperti ini dan jadilah kekasih yang baik untuknya. Aku ikut bahagia."

Putus asa... buntu... hanya itu yang dapat Mark rasakan saat ini. Ia merasa gagal untuk mejadi sahabat Jackson lagi, untuk mendapatkan hati Jackson, untuk membuat segalanya kembali kepada tempat yang semula. Jackson benar-benar pergi, dan kepergiannya itu membuat hati Mark sakit karena ia akan terus melihat Jackson setiap hari. Kepergian yang samar-samar itu. Dengan melihat Jackson setiap hari di sekolah, itu akan terus menyayat hati Mark karena ia tahu Jackson tidak akan tertawa lagi di spot yang sama, di lingkungan yang sama, di pertemanan yang sama.

.

.

.

.

"Bamieee~~" seseorang mengejutkan Bambam karena tiba-tiba memeluknya dengan erat dan manja. Siapa lagi kalau bukan Mark, hanya dia yang dapat melakukan hal itu kepada Bambam, ekstra manja dan menggemaskan. Dengan perasaan bahagia namun heran, Bambam membalas pelukannya dengan erat, sesekali mengelus rambut keemasan Mark yang terasa di belakang lehernya.

"Hyung, ada apa?" tanya Bambam khawatir.

"Hihi..." Mark tiba-tiba tertawa geli, "...I love you so much."

"Hm?" Bambam tercengang, dia buru-buru melepaskan pelukan itu dan menatap wajah Mark terheran-heran. "Hyung?!"

"Wanna tell you something."

"Kau? Ingin mengatakan apa?!" Jantung Bambam berdebar-debar kencang bagai kecepatan tornado.

"Aku berhasil."

"Berhasil apa!?"

"Aku..." Mark menggigit bibirnya seraya tersenyum menggoda, membuat Bambam semakin penasaran dengan keadaan yang tiba-tiba itu. "...aku sudah berbaikan dengan Jackson."

Speechless, keajaiban lain menjatuhi kepala Bambam. Entah perasaan apa yang muncul di dalam hatinya, yang pasti itu mengejutkan dan menjadi sebuah kebahagiaan terbesar bagi Bambam.

"Hyung-"

"Yes, baby,"

Tanpa menjawab isyarat Bambam, Mark tidak ingin berbasa-basi dan langsung mencium bibir Mark dengan mesra. Ini ciuman ketiga yang mereka lakukan, kali ini Mark seperti dibakar emosi dalam ciumannya. Ia melumat bibir Bambam berkali-kali seperti sedang makan permen karet, lembut dan kenyal. Tak ada lagi yang menghalanginya untuk menyentuh bagian tubuh 'lain' dari Bambam, ia memberanikan diri untuk memasukkan tangannya ke dalam kemeja seragam sekolah Bambam, tentu itu membuat Bambam menggeliat kegelian.

Perlahan mereka menghentikan ciuman mesra mereka, tapi Mark tidak ingin menjauhkan wajahnya sesentipun dari Bambam, bahkan jari-jari tangannya masih berada di balik kemeja Bambam, sibuk menyentuh kulit pinggang Bambam yang sensitif.

"Hyung, terima kasih." ucap Bambam sepelan yang ia bisa, matanya masih menatap bibir Mark. "Sungguh... aku mencintaimu."

"I love you more, Bamie." sekali lagi Mark mengecup mesra bibir Bambam.

Tak ada kata menunggu lagi, tak ada kata menggantung lagi, tak ada air mata yang terbuang, yang disebabkan oleh hati kelabu lagi. Mark sungguh mendapatkan apa yang ia inginkan, ia menginginkan Bambam, dan Mark mendapatkannya. Tidak tahu bagaimana Bambam harus mengungkapkan perasaannya, karena baginya memiliki Mark adalah hal yang paling berharga di masanya yang muda itu. Tak dapat diungkapkan oleh kata-kata untuk menjelaskan seberapa besarnya cinta mereka satu sama lain, cinta yang masih buta nan polos itu, biar bagaimana pun, saling memiliki di antara mereka adalah hal terindah. Biarkan gedung sekolah yang berdiri tegak itu menyaksikan cerita cinta anak muda yang terjadi di sekitarnya, melambung tinggi menjadi moment tak terlupakan yang akan selalu dapat di rasakan di antaranya.

Sampai kapanpun, North High School akan menjadi saksi abadi cinta yang orang anggap tabu, yang orang anggap tidak lah wajar, laki-laki kepada laki-laki, cinta yang tidak dikodratkan, cinta yang irasional. Kalau orang mengerti apa itu yang dinamakan cinta, pasti mereka akan mengerti kalau para pasangan yang tercipta di sekolah itu begitu nyata, begitu indah, melukiskan banyak tawa dan kebahagiaan bagi yang menjalaninya.

Itulah kenapa kau perlu memahami betul tentang cinta, semakin kau memahaminya, semakin kau akan merasakan betapa indahnya hidupmu dinaungi oleh cinta. Tidak perlu banyak kata lagi yang harus disampaikan, cukup dengan memahami dan merasakan, maka segalanya akan meresap baik di hatimu.

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

. .

Belum...

Ini belum selesai...

Masih ada banyak orang yang belum merasakan indahnya cinta di dunia ini. Di antara ratusan orang yang tersenyum akan adanya cinta di hati mereka, ribuan orang lainnya menangis pilu karena cinta bertengger di hati mereka. Miris memang, tapi begitulah yang terjadi kepada Jackson.

Sudah lewat dua hari setelah ia menyaksikan perminta maafan Mark yang penuh dengan air mata akan emosi itu, namun tetap saja hatinya masih sekeras batu, menurutnya kata maaf bukanlah hal yang tepat untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.

Dia memilih untuk duduk sendirian di serambi kelas, menikmati angin sore yang hangat selagi berharap bahwa angin akan membawa perasaannya pergi jauh.

"Jackson hyung?" seseorang memanggilnya. Jackson seperti mengenali suara itu, tentu dia kenal. Bambam berlari kecil dengan imut ke arahnya. Terpaksa, Jackson harus menyambutnya dengan senyuman. "Jackson hyung, kenapa sendirian saja?" Bambam duduk di sampingnya.

"Yang lain sudah pulang."

"Dan kau tidak pulang?"

"Tidak, aku masih ingin bersantai di sini." jawab Jackson. "Kau tidak pulang?"

"Aku sedang menunggu Mingyu ulangan susulan, dia tidak masuk kemarin karena sakit demam, untungnya hari ini dia sudah sembuh." curhat Bambam.

"Syukurlah." Jackson memberikan senyuman terbaiknya, senyuman yang menyimpan banyak pedih itu.

"Hyung," Bambam tersenyum gemas, Jackson tidak menyahut dan hanya menoleh dengan senyuman tipis ke arah Bambam, "aku benar-benar senang dapat melihatmu tersenyum lagi."

"Aku juga senang bahwa aku dapat tersenyum lagi."

Mereka berdua tertawa bersamaan. Bambam tidak ingin membicarakan Mark di depannya, yang sekarang ingin ia bicarakan adalah kemajuan hubungan Jackson dengan Yuygeom yang sudah sangat dekat itu namun belum menyandang status pacaran.

"Jadi... bagaimana?"

"Bagaimana apanya?" Jackson terlihat bingung.

"Kau dan Yugyeom."

"Maksudmu?"

"Kau belum pacaran dengannya?" tanya Bambam dengan percaya diri. Itu sedikit menyinggung hati Jackson, namun hanya senyuman tegar yang dapat Jackson berikan sebagai reaksi terbaiknya.

"Ooh, hehe," Jackson terkekeh, "aku mau fokus belajar dulu, aku harus meningkatkan nilaiku agar bisa memasuki universitas yang kumau."

Bambam memajukan bibirnya dua senti, terlihat sekali wajahnya tampak kecewa. "Tapi ini kan masih semester awal kelas dua, hyung."

"Hyung tahu, tapi persiapan tetaplah persiapan."

Tidak seperti apa yang Bambam harapkan, jawaban Jackson membuat Bambam khawatir setengah mati akan kedekatan Jackson dengan sahabatnya itu. Bambam jadi bingung sendiri memikirkan bagaimana nasib Yugyeom yang harus menunggu selama itu untuk berpacaran dengan Jackson, waktu menunggunya jauh lebih lama daripada yang Bambam rasakan ketika ia harus menunggu Mark.

"Hmm, jadi Yugyeom harus menunggu ya, kasihan sekali dia." sindir Bambam, jarinya memainkan kancing kemejanya yang paling bawah.

"Hm." gumam Jackson sambil mengangguk sebagai jawaban 'ya'.

"Tapi..." Bambam menyusun kembali kalimatnya dengan benar. "...hyung mencintainya kan?"

Deg. Bukanlah waktu yang tepat bagi Jackson untuk menerima pertanyaan semacam itu. Jackson tengah belajar bagaimana caranya melupakan segala hal yang berhubungan dengan cinta, bahkan ia sedang tidak ingin mendiskusikan hubungannya dengan Yugyeom, ia hanya ingin fokus ke hal lain yang tidak berhubungan dengan cinta, karena itu sudah cukup menyakitkan baginya.

Jackson tersenyum sebentar dalam diam lalu menatap wajah Bambam lagi, "iya, aku mencintainya." kata-katanya terdengar sangat meyakinkan di telinga Bambam, tapi bagi Jackson sendiri tidak tahu apa yang ia bicarakan.

"Hyung..." Bambam memelas seketika, ia meraih tangan Jackson seperti sedang memohon akan sesuatu. "...aku mohon, jangan sakiti dia, Yugyeom itu anak yang baik, dia pantas mendapatkan orang yang terbaik juga sepertimu. Maukah kau berjanji agar tidak menyakiti hatinya?"

.

.

.

.

- To be continued -

Walaaa sudah genap 10 chapters :3 gimana, sudah mulai bosen dengan FF nya belum? Bertanya-tanya gak kenapa chapter yang ini banyak cermah dan filosofinya? Engga? Yaudah *nangis*/? pertama-tama, makasih banyak yang udah setia mau baca FF ini walaupun FF nya jadi tambah ngebosenin dan garing :') mohon di review siapa tau FF nya berubah menjadi semakin baik yaaa. MAAF GAK BISA NAMATIN DI SINI HAHAH masih ada tiga kapel yang perlu diselesaikan, MarkBam juga masih ada konflik hot soalnya kan si Jek masih sakit hati dan belum ikhlas :') pokoknya di chapter paling akhir nanti author mau curhat dikit lah pokoknya yah oke :* review nya kakak. sampai ketemu di chap selanjutnya *aminnn*