POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#13 Fair


"Tidak, maksudku, aku pikir aku mengerti kenapa dia menyukaimu."

Wajah Jaesuk semakin mendekat, dan Wonwoo berhenti mengerjakan posternya. Ia menaruh pensilnya di meja, dan memandang pria di depannya.

"Menjauhlah, Jaesuk. Ayo cepat selesaikan ini jadi aku bisa pergi dan tidak perlu melihat wajahmu lagi."

Ia melanjutkan mengerjakan posternya, dan mencoba untuk mengabaikan Jaesuk. Tapi, Jaesuk seperti tidak mengenal lelah mengganggu Wonwoo, dengan komentar-komentar tentangnya dan kekasihnya. Wonwoo menatap Jaesuk sekali lagi, bersiap untuk menyuruhnya menjauh.

"Bisakah kau menutup mulutmu dan berhenti membicarakan tentang Mingyu? Dan menjauh dariku? Aku tidak bermaksud sombong tapi aku bisa tahu kalau seseorang sedang menggodaku, jadi jika kau bisa fuck off dan menjauh dariku, aku akan sangat berterima kasih."

Wonwoo berhenti bicara, kehabisan napas setelah mengeluarkan amarahnya. Mata mereka terkunci oleh tatapan satu sama lain, dan saat itulah Jaesuk mendengarnya. Suara langkah kaki. Suaranya tidak terdengar seperti suara langkah kaki 2 orang, jadi itu tidak mungkin suara kaki Minghao dan Jun. Kalau tidak, suara langkah kaki guru mereka, atau anggota komite lainnya yang berjalan di koridor. Atau, skenario terbaik untuk Jaesuk, adalah suara langkah Mingyu. Ia memutuskan untuk mengambil kesempatan, berpikir kalau ia sudah melakukan banyak hal yang lebih 'berbahaya' sebelumnya. Begitu ia mendengar suara langkah kaki itu sudah cukup dekat dengan tempat mereka, ia merasa timingnya sempurna, lalu ia menekankan bibirnya pada bibir Wonwoo begitu orang yang ia tunggu-tunggu muncul di pintu masuk. Wonwoo langsung melepaskan ciuman mereka, dan sudah bersiap untuk meninju pria yang baru saja menciumnya, sebelum ia melihat kekasihnya yang, dari ekspresi di wajahnya, sudah menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Dan setelahnya, lebih banyak kesalah pahaman lainnya timbul. Keadaan Wonwoo yang kehabisan napas, sama sekali tidak membantu. Padahal ia kehabisan napas bukan karena make out session yang ia lakukan bersama Jaesuk seperti yang mungkin Mingyu pikirkan, tapi karena ia baru saja selesai memberitahu pria sialan di depannya untuk menjauhinya dan kekasihnya. Sebelum Wonwoo sempat memberikan penjelasan, Jaesuk lebih dulu mengambil kesempatan itu untuk mengatakan sesuatu pada Mingyu, dan satu-satunya kata yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah nama kekasihnya,

"Mingyu-ya"

"Aku sekarang tahu kenapa kau lebih memilihnya, Mingyu... Sial, dia benar-benar hebat dalam hal berciuman."

Mingyu hanya menatap kedua orang di depannya, yang ia temui dalam saat yang benar-benar tidak tepat. Sebagian dari dirinya ingin meninju Jaesuk karena sudah mencium Wonwoo, dan sebagian lainnya bertanya-tanya apakah Wonwoo memang membiarkan Jaesuk menciumnya. Bagian dirinya yang ini ingin berpikir kalau ini memang sudah sebaiknya terjadi, dan mungkin ini adalah tanda kalau Wonwoo memang hanya menyukainya dari segi fisik. Tapi sebagian dari dirinya mengingatkannya kalau ia dan Wonwoo sama sekali tidak pernah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan 'fisik'. Yang paling jauh mereka lakukan hanyalah berciuman, itupun jarang terjadi, dan ketika itu terjadi, Mingyulah yang lebih dulu memulainya. 3 detik dalam keheningan terasa seperti selamanya. Tidak tahu harus berbuat apa, Mingyu hanya memasang wajah datar dan berjalan keluar kelas, bertabrakan dengan Minghao yang baru akan masuk ke kelas, membuatnya hampir menjatuhkan cat yang dibawanya.

"Yah, Mingyu-ya. Ada apa?"

Minghao meneriakkan nama Mingyu karena Mingyu sama sekali tidak berbalik, dan terus berjalan. Jun dan Minghao menatap ke dalam kelas untuk melihat Wonwoo yang mencoba mengejar Mingyu. Ketua Kelas itu kelihatan cemas, dan tubuhnya bergerak untuk menyusul kekasihnya. Jaesuk menarik tangannya, mencegahnya untuk bergerak dan melakukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Wonwoo merasakan pergelangan tangannya dicekal seseorang, dan ia dengan cepat berbalik, mendaratkan pukulan keras di wajah sialan itu. Jaesuk sama sekali tidak mengharapkan itu terjadi, dan ia menatap ke bawah, terdiam dalam kesakitan dan terkejut karena Wonwoo memukulnya, matanya melebar. Minghao dan Jun juga melebarkan matanya, tidak pernah menyangka kalau Wonwoo akan melakukan hal yang baru saja ia lakukan.

"Sialan, jangan menyentuhku."

Wonwoo menuntut, suaranya rendah dan terdengar dominan. Wajahnya yang cemas dengan cepat digantikan oleh ekspresi kemarahan. Ia menarik tangannya dan mulai berjalan keluar kelas, mencoba untuk mengejar Mingyu. Sambil terus berjalan, ia mengusap kasar bibirnya, merasa jijik karena orang lain selain Mingyu mencium bibirnya. Rasanya benar-benar buruk, dan ia merasa ingin menangis selagi ia terus menggunakan lengan bajunya untuk menghilangkan bekas 'ciuman' tadi. Kembali ke kelas, Jun dan Minghao terdiam karena terkejut dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang baru saja terjadi. Lelaki berrambut biru adalah yang pertama memecahkan keheningan,

"Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?"

Jaesuk mengusap sedikit jejak darah yang muncul di bibirnya sebagai hasil dari pukulan Wonwoo. Ia tersenyum miring,

"Itu hanya sebuah ciuman," ia berkata seakan-akan itu bukan masalah besar,

"C'mon, aku yakin dia dan Mingyu sudah sering melakukan hal yang lebih dari itu," dan Minghao hampir saja akan melayangkan tinjunya, ketika Jun menarik kerah seragam Jaesuk.

"Jika kau tidak menghormati mereka berdua, atau hubungan mereka sekali lagi, aku akan memastikan untuk menghancurkan hidupmu."

Minghao memasang wajah puas di wajahnya, senang karena Jun mengatakan apa yang ingin ia katakan. Jaesuk mulai tertawa,

"Kenapa kau mengatakan ini padaku? Aku mendengar tentang kau dan cinta bertepuk sebelah tanganmu pada Wonwoo..." ia menatap mata Jun,

"Aku berani bertaruh kalau kau diam-diam ingin mereka putus."

Jun terkekeh,

"Mereka tidak akan pernah putus hanya karena kau... Jika aku tidak bisa menghentikannya, jangan berani-berani berpikir untuk sedetikpun kalau kau bisa."

.

Wonwoo berjalan di trotoar yang ramai, mencari Mingyu. Ia sudah terlambat ketika ia berjalan keluar gedung sekolahnya, dan Mingyu tidak ada dimanapun. Wonwoo mencoba untuk mengirim pesan, dan menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Ketua Kelas itu lalu berjalan menuju tempat yang tidak asing untuknya. Peringatan Mingyu sebelumnya untuk tidak pergi ke markas sendirian muncul di kepalanya, tapi saat ini prioritasnya adalah untuk mencari Mingyu dan menjelaskan padanya, jadi ia meneruskan perjalanannya. Semakin ia mendekat ke markas, ia bisa mendengar beberapa suara, tidak tahu apakah Mingyu ada di sana, jadi ia terus berjalan masuk. Ketika pintu terbuka, 7 kepala berbalik dan menatap Wonwoo.

"Wonwoo hyung! Apa yang kau lakukan disini?" Lee Chan bertanya sambil tersenyum.

Wonwoo menatap ke sekeliling ruangan, menatap wajah yang tidak asing untuknya, tapi tidak ada Mingyu.

"Apa Mingyu ada disini?", Wonwoo bertanya, pada siapapun yang ada di ruangan itu sambil tetap mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

8 orang di depannya saling berpandangan satu sama lain, dan Joshua menatap Wonwoo bingung,

"Tidak. Kami pikir dia ada bersamamu di sekolah.", dan yang lainnya mengangguk setuju.

Wonwoo menghela napas berat, kecewa. Ia benar-benar berharap kalau Mingyu ada disini, karena selain tempat ini, ia tidak tahu kemana lagi harus mencari Mingyu.

"Mau makanan?" Jeonghan bertanya, sambil mengangkat sepiring kentang goreng.

Wonwoo hanya tersenyum dan berkata,

"Tidak, tidak usah. Terima kasih."

Lalu Ketua Kelas itu berjalan keluar, meninggalkan markas. Suara pintu yang ditutup menggema di ruangan itu, diikuti oleh keheningan saat semua orang di dalam markas menghentikan kegiatan mereka, dan hanya menatap pintu yang barusan dilalui Wonwoo.

"Kau bertingkah bodoh." Suara Seungcheol memecah keheningan, diikuti teman-temannya yang lain.

"Aku tahu." Sebuah suara berat terdengar dari balik sofa. Mingyu duduk di lantai, punggungnya bersandar pada belakang sofa, salah satu kakinya terlipat ke atas, tangannya bertumpu pada salah satu lututnya, dan yang satunya terkulai di lantai.

"Dia terluka, dan datang kesini sendirian." Hansol berkata dan teman-temannya melanjutkan kegiatan mereka.

Mingyu menghela napas,

"Apa dia terluka? Apa wajahnya terluka? atau memar?" Ia bertanya, khawatir.

Jeonghan mendengus,

"Kau kedengarannya cukup khawatir untuk seseorang yang hampir memutuskan hubungan kalian."

"Bisakah salah satu dari kalian mengikutinya? Hanya supaya ia tidak terkena masalah lainnya? Hanya- cobalah untuk jangan sampai ketahuan."

Lee Chan menawarkan diri untuk pergi, dan berjalan keluar markas untuk diam-diam mengikuti Wonwoo.

Mingyu menatap lantai di bawahnya, dan menggigit bibirnya, khawatir. Jeonghan melihat itu dan meyakinkan sahabatnya dengan berkata,

"Tidak, dia benar-benar baik-baik saja. Kecuali fakta kalau dia kelihatan putus asa mencoba mencari kekasihnya."

"Jangan panggil aku seperti itu, please." Mingyu berkata, membuat semua orang terdiam.

"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Seungcheol bertanya.

"Aku tidak tahu lagi. Apa... apa yang Jaesuk katakan benar. Itu bisa menjelaskan kenapa aku bisa sampai memergoki mereka sedang berciuman, kan?" Mingyu mendengus, dan menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana kalau dia memang hanya menyukaiku karena fisik..."

Mingyu tersentak dari pemikiran buruknya oleh sebuah buku yang mendarat tepat di kepalanya.

"Jangan bertingkah lebih bodoh dari ini." Soonyoung berkata, tangannya masih dalam posisi yang sama setelah melemparkan buku ke kepala Mingyu.

"Kau tahu kalau Wonwoo tidak seperti itu." Joshua berkata.

Mingyu mulai terkekeh,

"Sebenarnya, aku tidak tahu apapun tentang Wonwoo. Kami sama sekali tidak memiliki kesamaan, jadi aku tidak bisa berbohong pada kalian dan menebak hal-hal kesukaannya, atau hobinya."

"Kau benar-benar bodoh. Dan kalian memiliki satu hal yang sama. Kalian berdua saling menyukai satu sama lain, jadi jangan berbohong." Soonyoung berkata.

Mingyu mendengus,

"Tapi, apakah kami saling menyukai dalam konteks yang sama?"

Dan ruangan itu kembali diliputi keheningan, tidak ada satupun yang yakin bagaimana harus menjawab itu. Mingyu bangun dari posisinya dan berjalan keluar markas sambil melambaikan tangannya pada teman-temannya, dan pergi.

.

Keesokan harinya di sekolah terasa sepi dan tenang. Ini pertama kalinya setelah sekian lama, Mingyu tidak muncul di sekolah. Wonwoo mencoba menghubunginya, mengiriminya pesan, bahkan menggunakan ponsel Minghao dengan harapan mendapatkan balasan, tapi ia sama sekali tidak mendapatkan apapun. Saat ini, ia khawatir, bukan hanya tentang menjelaskan kesalahpahaman mereka, tapi ia khawatir apakah Mingyu masih hidup. Saat jam makan siang, Minghao dan Jun duduk bersama Wonwoo, dan mencoba membicarakan hal-hal normal, tidak menyebutkan Mingyu demi Wonwoo. Wonwoo melewati sisa minggu itu, masih tidak mendengar apapun dari 'kekasih'nya, sebenarnya ia tidak yakin harus menyebutnya apa saat ini.

Jum'at, satu-satunya harapan Wonwoo untuk melihat Mingyu adalah saat Festival Musim Gugur. Setelah satu minggu tidak berbicara, bahkan tidak melihat pria tinggi itu, Wonwoo bertanya-tanya apakah ini akan membuahkan hasil. Bertanya-tanya apakah Mingyu akan datang saat festival. Dan kalaupun ia datang, apakah ia akan berhenti dan mendengarkannya? Kehadiran Jaesuk yang masih menjadi bagian dari booth mereka sama sekali tidak membantu. Jadi kesempatan Wonwoo untuk bertemu dan berbicara dengan Mingyu kecil. Tapi ia memutuskan untuk mencobanya.

Di hari diadakannya festival, sepulang sekolah, Wonwoo pulang ke rumahnya dan bersiap-siap. Ia menemukan dirinya sendiri mencoba berbagai baju di lemarinya, bertanya-tanya yang manakah yang akan Mingyu sukai. Sekarang, ia sedang memandangi dirinya sendiri di cermin, mengenakan jins hitam, dan hoodie hitam polos. Ia berpikir kalau penampilannya kurang berwarna, jadi ia menatap ke sekeliling kamarnya, mencari sesuatu untuk ditambahkan di pakaiannya saat ini. Sambil mencari, sebuah jaket merah menarik perhatiannya, dan ia berjalan ke arahnya. Wonwoo mengambil jaket itu dan memeluknya, menyembunyikan wajahnya di kain jaket itu.

"Aku akan membuatmu mendengarkan kebenarannya."

Berbicara pada Mingyu melalui jaketnya.

Wonwoo lalu melilitkan jaket itu di pinggangnya, dan berpikir kalau sekarang penampilannya hanya membutuhkan topi. Ia mengambil snapback putih dan memakainya terbalik, topi putih terangnya terlihat kontras dengan rambut hitam eboninya. Ia menatap dirinya di cermin untuk yang terakhir kalinya, dan berjalan menuruni tangga, berpapasan dengan ibunya di bawah.

"Oh honey, kau kelihatan sangat tampan."

Wonwoo terkekeh sambil memakai sepasang Adidas putih yang cocok dengan topinya. Ia mencium pipi ibunya, dan berjalan menuju pintu ketika ia mendengar suara familiaribunya berkata,

"Mingyu akan menyukai itu!"

Wonwoo berbalik dengan cepat, wajahnya kelihatan terkejut, melihat ibunya tersenyum jahil.

"Tunggu- apa! Ibu, apa-"

Ibunya memotong perkataan Wonwoo dengan menutup pintu dan berteriak,

"Dah sayang~! Sampaikan salamku untuk Mingyu!"

Lalu pintu tertutup tanpa balasan dari Wonwoo.

Dalam perjalanan menuju sekolah, kata-kata ibunya terngiang di kepalanya dan Wonwoo berpikir,

"Aku harap dia benar-benar menyukainya." sambil menatap penampilannya, yang membuatnya menghabiskan waktu lama.

.

Di sekolah, lapangan sepak bola dipenuhi oleh booth yang berjajar, dan bahkan beberapa permainan, lampu-lampu digantung di atasnya, menyinari festival ini, membuatnya kelihatan lebih spesial dan magical. Orang-orang berlalu lalang di sekitar booth. Festival Musim Gugur memang selalu menyenangkan, jadi acara ini memang populer di sekolahnya. Wonwoo mendapati beberapa orang menatapnya saat ia berjalan, siswa-siswa lain memang terbiasa melihatnya hanya menggunakan seragam. Ia akhirnya menemukan booth mereka, dan langsung mengerutkan keningnya ketika ia hanya melihat Jaesuk di sana.

"Wow." Jaesuk berkata, memandangi Wonwoo dari ujung kepala sampai ujung kaki,

"Kau kelihatan hot." Ia berkata dengan wajah puas. Wonwoo mengabaikan komentar itu, dan bertanya, datar,

"Dimana Minghao dan Jun?"

"Mereka sedang melihat-lihat festival. Ketika mereka kembali untuk berjaga disini, itu berarti giliran kita untuk menikmati festival."

Wonwoo mendengarkan informasi itu, tapi tidak menunjukan ketertarikannya. Malam semakin berlanjut, dan matahari sudah terbenam, banyak orang yang berhenti di booth mereka, kebanyakan adalah fans Jaesuk, tapi beberapa orang datang untuk bermain Ring Toss, dan Wonwoo selalu memberikan senyum ramah sambil memberikan hadiahnya.

.

Jun dan Minghao sedang berjalan-jalan menikmati festival, berjalan berdampingan dengan senyuman di wajah mereka bersamaan dengan lampu berwarna-warni yang bersinar dan terpancar di senyuman mereka. Minghao membawa permen kapas di tangannya, sedangkan Jun sedang menikmati ayamnya.

"Itu kelihatan seperti rambutmu," Jun berkata sambil membuka mulutnya lebar, menggigit permen kapas Minghao dan tertawa. Pria berambut biru di sebalahnya tertawa, dan ia juga, memakan permen kapasnya.

Setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu bersama, Minghao benar-benar telah jatuh hati pada Junhui. Ia menyukai tawanya, senyumnya, suaranya, obrolan mereka yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Minghao menikmati kehadiran Jun, dan hatinya terasa sakit ketika ia melihat Jun marah. Jadi, ia memutuskan untuk menekan perasaannya, dan menjadi sahabat yang bisa membantunya dan menghiburnya saat masa-masa Jun bermasalah dengan Wonwoo. Minghao tidak pernah memberitahu Jun, meyakinkan dirinya sendiri kalau itu memang yang terbaik, sehingga Jun bisa mengatasi dan menghadapi Wonwoo tanpa harus menyadari perasaannya. Yang ia tidak tahu adalah sedikit demi sedikit, Jun juga mulai jatuh hati padanya. Tanpa tahu, kalau pria berambut cokelat itu mulai menaruh perhatian, dan mulai peduli tentang pria berambut permen kapas. Bukan sebagai pengalihan atau pengganti Wonwoo, dan Jun tahu itu, ia tahu kalau perasaannya untuk Wonwoo sudah memudar, sedangkan perasaannya untuk seseorang yang baru mulai berkembang. Mereka terus berjalan, keduanya mencoba untuk menahan rasa bahagia mereka demi satu sama lain. Bersisian, tangan mereka saling bersentuhan selagi mereka berjalan, itu membuat hati keduanya berdebar.

"Minghao-ya."

"Hmm?" Minghao mejawab.

"Apa kau masih menyukai orang yang sama, ketika kita membicarakannya di atap?"

Minghao menatap lurus ke depan, menggigit permen kapasnya lagi.

"Mhm!"

"Apa kau sudah memberitahunya?"

"Tidak!"

"Kenapa?"

"Karena aku tahu dia menyukai orang lain... Aku hanya akan membuat segalanya semakin sulit kalau aku memberitahunya."

Junhui menatap pria berambut biru di sebelahnya sedangkan mata Minghao tetap menatap ke depan.

"Membuat segalanya semakin sulit, huh? Aku pikir aku bisa mengatasi itu."

"Bagaimana denganmu? Apa kau masih menyukai Wonwoo?", kini gilirannya yang bertanya.

Jun menggelengkan kepalanya, dan tersenyum memikirkan orang yang disukainya saat ini.

"Tidak, aku menyukai orang lain. Tapi, dia menyukai orang lain, dan aku tidak tahu apakah orang itu aku atau bukan." Ia berkata. Mata Minghao melebar terkejut yang menutupi kegugupannya dan sedikit rasa kecewa karena Jun ternyata masih menyukai seseorang.

"Apa menurutmu kau akan mengatakannya padanya?"

Jun mengangguk,

"Aku berencana mengatakannya malam ini.", dan Minghao hanya mengangguk.

"Bagaimana?"

"Seperti ini." Jun berkata, lalu menarik dagu Minghao lembut. Ia menekankan bibirnya di bibir Minghao, yang kepalanya sedikit terangkat. Ciuman mereka terlepas, dan mereka saling bertatapan. Minghao berkata,

"Aku pikir itu akan membuat pesannya tersampaikan dengan baik."

Dan mereka berdua mulai tertawa, dan mereka berjalan lagi. Sambil berjalan, Jun merasakan ponselnya bergetar di sakunya, dan itu adalah pesan dari Wonwoo. Ia berbalik pada Minghao dan berkata,

"Yah, ayo kembali, Wonwoo sendirian dengan Jaesuk."

Mereka berdua berlari kecil menuju booth mereka, membuat Wonwoo merasa lega saat melihatnya. Lalu, Wonwoo berjalan ke festival yang ramai, mencari sesosok pria tinggi. Seharusnya tidak sulit untuk menemukan Mingyu, karena Mingyu lebih tinggi dari kebanyakan orang, dan rambutnya terlihat berbeda. Wonwoo mencari dengan teliti, berharap dan berdoa kalau Mingyu memang ada di sana.

Lalu ia melihatnya.

Ia melihat ptia tinggi, tampan, dan terlihat tidak asing yang jelas-jelas kekasihnya, berdiri di dekat ferris wheel. Mingyu memakai kaus putih polos, dan sebuah cardigan abu tua panjang yang mencapai lututnya. Jins hitam, dan sepatu putih, sama seperti Wonwoo.

Wonwoo langsung berlari menuju kekasihnya, dan kerumunan orang di depannya memberi jalan karena ia kelihatannya tidak ingin memperlambat larinya. Ia menarik pergelangan tangan pria di depannya, yang terkejut dan tidak punya pilihan lain selain mengikuti orang yang menarik tangannya, menaiki salah satu kincir ria itu dan Wonwoo menguncinya. Lalu, kincir ria itu berputar. Mingyu tidak sempat memproses siapa yang menariknya, karena begitu ia melihat kalau gerbong mereka bergerak naik ke atas, ia langsung menutup matanya, menolak untuk melihat ketinggian di bawahnya.

"Yah, yah! Apa masalahmu? Biarkan aku turun dari sini sekarang." Mingyu berkata, memegang erat pegangan di depan perutnya.

Ia lalu mendengar suara kekehan yang terdengar tidak asing, dan memaksa untuk membuka sebelah matanya, lalu ia melihat Wonwoo duduk di hadapannya, dagunya di tumpukan di tangannya.

"Tidak. Tidak akan. Aku perlu kau mendengar apa yang akan kukatakan."

Mingyu membuka kedua matanya, masih mengeratkan pegangannya pada pegangan besi yang membuatnya aman di posisinya. Ia menatap mata Wonwoo, dan seluruh perasaan cinta, kerinduan, peduli, dan khawatir datang sekaligus melanda dirinya. Setelah satu minggu tidak melihat Wonwoo, melihatnya lagi kali ini rasanya membuatnya tertantang. Wonwoo memeriksa wajah kekasihnya,

"Kau memiliki luka dan memar baru... Apa kau berkelahi?"

Mingyu diam tidak menjawab.

Mereka berdua saling bertatapan, keduanya sama-sama tidak tahu harus berkata apa.

"Mingyu-ya... Tentang minggu kemarin." Mata Mingyu menggelap mendengar topik itu,

"Dia yang menciumku. Aku bersumpah aku tidak membalas ciumannya, dan aku bersumpah aku tidak akan pernah mencium siapapun kecuali kau." Ia memohon, putus asa.

"Dan, sejujurnya, mengabaikanku selama seminggu rasanya keterlaluan. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku? Aku bahkan pergi ke markas untuk mencarimu. Aku menghubungimu dan mengirim pesan padamu, dan kau tidak menunjukkan wajahmu selama satu minggu."

"Jadi kenapa kau mengklarifikasi kesalahpahaman ini?"

"Alasan yang sama dengan kenapa kau kelihatan benar-benar terluka dengan kesalahpahaman ini."

Mingyu menatap keluar,

"Apa kau benar-benar harus mengabaikanku? Selama seminggu? Kau bahkan meninggalkanku sendirian dengan Jaesuk..." Wonwoo menatap sepatunya.

"Karena aku bodoh." Mingyu akhirnya bicara.

"Karena aku idiot, karena aku takut kehilanganmu, karena aku sangat tidak percaya diri dengan sesuatu yang berhubungan denganmu. Karena aku menyukaimu.", ia mengatakan alasannya dengan jujur.

"Dan, aku sudah memberitahumu untuk tidak pergi ke markas sendirian... Bagaimana kalau kau terluka?"

"Tapi aku tidak terluka, dan itu sebanding dengan kesempatan untuk bertemu denganmu kalau kau ada di sana."

Mereka berdua duduk dengan keheningan yang canggung.

"Wonwoo-ya... Kau tahu kalau aku menyukaimu, kan?"

Wonwoo mengangguk mendengar itu, takut dengan apa yang akan ia dengar selanjutnya.

"Oke, mendekatlah, aku punya rahasia yang harus kukatakan padamu."

Semakin kincir mereka berada di puncak, Wonwoo membawa wajahnya mendekat ke arah Mingyu, mendengarkan dengan hati-hati.

"Jadi, apa rahasiamu? Apa kau selingkuh dariku?!"

Kekhawatirannya hilang ketika Mingyu mencium bibirnya. Ciuman itu menyampaikan perasaan kerinduan, rasa bersalah, dan cinta.

"I fucking missed you.", yang lebih tinggi berbisik, Wonwoo bisa merasakan napas Mingyu karena wajah mereka masih saling berdekatan.

"Dan, aku minta maaf."

Kincir ria itu berhenti, dan mereka berdua turun sambil bergandengan tangan, Mingyu mengecup puncak kepala Wonwoo setiap beberapa detik, mengingatkannya kalau rasa cintanya masih ada. Pasangan yang baru berbaikan itu memutuskan untuk berjalan menuju booth mereka, dan disapa oleh Jaesuk.

"Aku akan bermain satu kali." Mingyu berkata, mengambil salah satu hoops. Ia menatap Wonwoo dan mengedipkan sebelah matanya, berkata,

"Pilih hadiahnya ketika aku menang, 'kay?"

Dan, Mingyu menang. Wonwoo memilih boneka Koala yang mengingatkannya pada Mingyu, karena Mingyu sering tertidur di kelas.

Jaesuk menyerahkan boneka itu pada Mingyu dan berkata,

"Kau kelihatan tanpan."

Mingyu tersenyum miring dan berkata,

"Yup. Berusahalah satu level denganku kalau kau akan mencium kekasihku secara paksa."

Lalu Mingyu melingkarkan tangannya di leher kekasihnya, dan mereka berdua berjalan menjauh, tertawa dan mengobrol.

Setiap Festival Musim Gugur memang menyenangkan... tapi tahun ini, festival ini rasanya terasa lebih spesial.


#14 Saturday


Malam itu berakhir, dan lampu-lampu yang menerangi gelapnya langit, menyinari festival, sekarang sudah diturunkan dan dimatikan. Setelah membereskan booth mereka, Minghao dan Jun berkata kalau mereka akan berjalan pulang, dan Mingyu tersenyum menggoda ke arah sahabat berambut birunya dan Minghao mengerutkan hidungnya sebagai balasannya. Jaesuk benar-benar diabaikan oleh keempat orang lainnya, dan saat ini sedang pergi dengan seorang pria yang sama sekali tidak pernah mereka lihat sebelum malam ini. Mingyu dan Wonwoo berjalan bersama, dengan jemari yang saling bertautan, dan Wonwoo yang menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya. Mereka menikmati waktu dengan berjalan kaki, saling menikmati kehadiran satu sama lain. Sudah lama sejak terakhir kali mereka menikmati waktu bersama seperti ini, mengobrol seperti ini, atau bahkan saling menatap satu sama lain. Selama perjalanan, Mingyu terus menunjuk ke arah hamparan langit luas yang memperlihatkan perpaduan warna nebula dan bintang yang menawan, beberapa bintang terlihat lebih bersinar dari yang lainnya, tapi Mingyu tidak pernah salah menjelaskan atau menunjukkan satu titik yang bersinar di langit itu. Mingyu menatap langit di atasnya dengan rasa terpesona yang terpancar dari matanya. Wonwoo berharap dalam hati,

"Aku harap kau menatapku seperti itu."

Mingyu memutuskan untuk mengantar Wonwoo pulang dengan berjalan kaki, karena sekarang sudah larut dan gelap di luar, dan yang terpenting ia ingin tinggal bersama dengan Wonwoo sedikit lebih lama. Semakin mereka mendekat ke rumahnya, Wonwoo mulai merasa sedikit sedih, dengan sengaja memperlambat dan memperpendek langkah mereka. Ketika mereka sampai ke beranda rumah Wonwoo, lampu di rumahnya masih menyala, mungkin menunggu Wonwoo pulang. Wonwoo berbalik, sekarang berhadapan dengan kekasihnya yang tampan yang sudah ia rindukan selama satu minggu ini. Mingyu hanya tersenyum manis, menatap mata hitam kekasihnya. Mingyu mengingat pertengkaran serius pertama dalam hubungan mereka. Ia mengatakan pada dirinya sendiri, adalah sebuah kesalahan ia bisa bertingkah sebodoh itu, mengatakan kalau ia seharusnya mendengarkan cerita kekasihnya sebelum berasumsi dan mempercayai yang lainnya. Masih saling bertatapan mata dengan kekasihnya, Wonwoo juga berpikir tentang semua hal yang terjadi minggu ini. Ia mengatakan pada dirinya sendiri, karena selama ini Mingyu yang selalu memulai interaksi di antara mereka, memang mudah bagi Mingyu untuk berpikir kalau perasaan Wonwoo untuknya tidak serius. Jadi, tujuannya saat ini adalah untuk menghilangkan keraguan di diri Mingyu, dan membiarkan kekasihnya tahu dan yakin, tentang perasaannya yang sebenarnya. Mereka berdua masih saling menatap mata satu sama lain, keduanya sama-sama tersenyum, tidak ada satu katapun yang terdengar atau dibutuhkan saat ini. Lalu, Wonwoo berjinjit sedikit, dan mendongakkan kepalanya, menutup matanya sambil mencium kekasihnya. Sikapnya membuat Mingyu terkejut, lalu setelahnya ia juga menutup matanya, membalas ciumannya dengan tulus. Ciuman itu tidak sebentar, tapi juga tidak terlalu lama, cukup untuk menegaskan lagi semua perasaan yang mereka miliki untuk satu sama lain, dan menghilangkan segala kekhawatiran dan keraguan mereka. Mingyu tersenyum dalam ciuman itu, membuat Wonwoo ikut tersenyum, dan mereka berdua berdiri disana, hidung dan dahi saling bersentuhan. Tangan Wonwoo melingkar di leher Mingyu, sedangkan yang lebih tinggi melingkarkan tangannya di pinggang kecil kekasihnya. Rasanya sangat lucu karena begitu mereka selesai berciuman, pintu depan rumah Wonwoo terbuka, memperlihatkan Ny. Jeon yang sudah memakai pakaian tidurnya, dan handuk yang membungkus rambut basahnya.

"Wonwoo, sayang!"

Ia berkata sambil melambaikan tangan pada putranya. Wonwoo menatap Mingyu dan tersenyum, melambaikan tangannya kecil pada ibunya dan berjalan menuju pintu depan.

"Selamat malam, Ny. Jeon." Mingyu berkata, melemparkan senyumnya sambil membungkuk sopan.

"Oh, Mingyu-ya! Terima kasih karena selalu mengantar Wonwoo pulang... Dan, panggil aku Ibu!" Ia berkata,

Mingyu tersenyum canggung memikirkan ia memanggil Ny. Jeon dengan sebutan ibu dan hanya berkata,

"Oke," lalu ia baru akan berjalan pulang,

"Tinggallah lebih lama lain kali! Selamat malam, sweetie!" Ny. Jeon menjawab.

"Baiklah! Selamat malam.", lalu ia menatap kekasihnya,

"Sampai jumpa lagi, Wonwoo-ya." Ia memberikan senyuman lucu ke arah Wonwoo, yang membuat Wonwoo ingin menamparnya.

Mingyu mulai berjalan pulang, cardigannya yang panjang bergerak ke sana kemari terbawa angin.

Ny. Jeon dan putranya berjalan masuk setelah menutup pintu, dan Wonwoo melepas sepatunya. Ia belum makan sama sekali, jadi ia berjalan menuju dapur, membuka kulkas hitam dan melihat isinya. Ny. Jeon mengikuti putranya ke dapur dan duduk di kursi selagi memperhatikan putranya membuat sandwich untuk dirinya sendiri. Ny. Jeon duduk, bersandar ke mejanya dengan dagunya di telapak tangannya.

"Jadi~, Wonwoo... Bagaimana festivalnya?" Ia bertanya sambil tersenyum.

Wonwoo baru akan menggigit makanannya ketika ia tersenyum sambil memikirkan tentang segala yang terjadi hari ini.

"Menyenangkan,"

Ibunya tersenyum mendengar jawaban putranya yang kelihatan sedang jatuh cinta.

"Apa Mingyu juga bersenang-senang?"

Wonwoo hanya mengangguk.

"Wonwoo-ya... Sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dari Ibu?"

Wonwoo mengalihkan tatapannya dari makanannya yang sedang ia nikmati, dan membuat wajah kebingungan dan sedikit rasa gugup sambil menatap ibunya. Ibunya memutar bola matanya,

"Honey, aku hanya ingin kau tahu kalau Ayah dan Ibu mendukungmu, selalu. Selama kau bahagia, kami akan mendukungmu 100%."

"Ibu, berhenti bersikap aneh." Wonwoo berkata dan melanjutkan makannya.

Ibunya menyerah, dan memutuskan untuk pergi tidur. Ia mencium kening putranya dan berkata,

"Kau memiliki kekasih yang sangat tampan."

Setelah mengatakan itu, Ny. Jeon berlari menaiki tangga, dan Wonwoo tidak bisa mengatakan apapun, karena ibunya sudah berlari menuju kamar utama. Wonwoo berdiri sendirian di dapur, memandangi sandwichnya. Sebuah senyuman muncul di wajahnya, dan ia mulai tertawa sendiri saat memikirkan tingkah lucu ibunya.

Minggu ini berjalan seperti biasanya; Sabtu pagi menyelesaikan pekerjaan rumah dan belajar, agar pada akhir pekannya ia bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Sabtu sore dan malam dihabiskan dengan menonton anime dan Netflix di ruang keluarga, dengan duduk di pangkuan kekasihnya dan kadang-kadang menjadikan bahu kekasihnya sebagai bantal. Mingyu akhirnya menghabiskan waktunya dengan makan malam di rumah Wonwoo pada Sabtu malam. Ia duduk di sebelah Wonwoo, di depan Tn. dan Ny. Jeon. Makan malam malam ini tidak terlalu mewah, hanya daging panggang dengan sayuran di sisinya, tapi rasanya benar-benar enak. Mereka saling berbicara satu sama lain, dan sejujurnya, Mingyu merasa nyaman dan bahagia karena merasa diterima di rumah kekasihnya. Tapi, ia tidak tahu apakah Wonwoo sudah memberitahu orangtuanya atau belum tentang mereka, yang memang belum dikatakan Wonwoo, tapi orangtuanya mengenal anak mereka terlalu baik, dan secara tidak langsung sengaja membicarakan topik itu,

"Mingyu-ya, apa kau dan Wonwoo dekat?"

Sebelum Mingyu bisa menjawab, Ny. Jeon menjawab pertanyaan suaminya,

"Tentu saja mereka dekat! Wonwoo tidak pernah membawa siapapun kecuali Jun. Aku sampai terkejut ketika Mingyu datang."

Wonwoo menatap kedua orangtuanya, kecurigaan memenuhi wajahnya, bertanya-tanya apa tujuan dari percakapan ini sebenarnya.

"Aku terkejut orang setampan dirimu tidak memiliki kekasih, dan mau bergaul dengan anakku yang canggung ini." Ny. Jeon berkata, membuat Mingyu terkekeh dan wajah Wonwoo memerah,

"Dia hanya bersikap canggung ketika baru bertemu seseorang. Tapi selain itu, aku pikir dia adalah orang yang hebat." Mingyu berkata setelah meminum sodanya.

Wajah Wonwoo semakin memerah dan berkata,

"Terima kasih, Mingyu." Lalu ia menatap kedua orangtuanya, "See, aku tidak secanggung itu." Ia menjelaskan sambil menusukkan daging dan baked potato wedge lalu memasukkannya ke mulutnya, menutupi rasa kesalnya. Mingyu hanya tertawa pelan, dan tersenyum pada kekasihnya.

"Mingyu-ya, kau tidak memiliki kekasih?"

Wonwoo tersedak makanannya, dan Mingyu menjawab dengan tenang,

"Tidak, tuan. Tapi, aku punya seseorang yang kusukai.", jawaban itu menerima senyuman dan tawa dari Tn. Jeon.

"Tidak usah seformal itu, kubilang, panggil saja aku Ayah, atau Minsung, atau apapun yang membuatmu nyaman."

"Jika kau melakukan itu, panggil aku Ibu atau Narin," Ibu Wonwoo menambahkan, dan Wonwoo memukul dahinya keras, merasa malu.

"Ah- ya, mungkin akan membutuhkan waktu sampai aku terbiasa."

"Jadi! Mingyu-ya, siapa orang yang kau sukai itu?"

Mingyu berpikir sebentar, dan Wonwoo meliriknya berkali-kali, yang membuat Mingyu terus menatap lurus ke depan, mencoba bersikap tidak mencurigakan di depan orang tua Wonwoo.

"Mmm.. Well, orangnya baik. Dia membuatku merasa senang, dan tenang... Matanya saat tersenyum adalah hal terlucu yang pernah kulihat, dan giginya sempurna."

"Oh, jadi dia pria." Narin berkata, sudah tahu siapa orang itu. Dan Minsung memutuskan untuk ikut berpura-pura seperti istrinya, menunjukkan muka terkejut yang palsu.

"Ya... Apa kalian tidak apa-apa dengan itu, atau kalian..." Mingyu menggantungkan pertanyaannya.

"Tidak, kami tidak masalah dengan itu! Cinta adalah cinta, apapun itu." Minsung berkata,

"Oke, jadi tentang pria ini..." Narin mendesak Mingyu untuk menjelaskan lebih lanjut tentang orang ini. Ia ingin melihat bagaimana Mingyu mendeskripsikan tentang putranya.

"Dia benar-benar pintar, tapi dia juga sedikit bodoh, karena dia tidak menyadari perasaanku sampai beberapa waktu terakhir ini. Dia tampan, lucu, lebih pendek dariku, jadi rasanya mudah memeluknya." Mingyu mendeskripsikan kekasihnya dengan sebuah senyuman manis di wajahnya.

"Aw~" Narin berkata. Ia bersikap seolah sedang berbicara dengan anak perempuannya yang sedang membicarakan kekasihnya,

"Wonwoo-ya, bukankah kekasihmu ini sangat manis?"

Wonwoo hampir tersedak makanannya, dan Mingyu mulai terbatuk karena tersedak soda yang sedang diminumnya.

"Ibu!", Wonwoo berteriak setelah akhirnya berhasil menelan makanannya.

"Apa?! Jangan marah pada ibumu ketika kau tidak memperkenalkan kekasihmu saat makan malam." Ibunya berkata, membela diri.

"Apa ibu juga harus memberitahu Ayah?!" Wonwoo menjawab, melirik ayahnya di seberang meja.

"Honey, ayahmu sudah tahu sebelum aku bahkan sempat membicarakannya."

Dan Minsung mengangguk setuju. Lalu meja makan itu diliputi oleh keheningan yang canggung, Mingyu menganggap kejadian ini menghiburnya, tapi ia mencoba menahan tawanya demi kekasihnya yang sedang malu.

"Bagaimana kami bisa tidak tahu. Kau bahkan tidak menatap Jun dengan tatapan seperti itu, Wonwoo-ya."

"Berhenti~~" Wonwoo mengerang sambil menutupi wajahnya dengan tangannya, karena wajahnya kini menjadi sangat merah.

"Mingyu-ya," Narin berkata dengan senyum bangga di wajahnya,

"Jaga Wonwoo kami, oke?", dan Mingyu hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Jadi, nak. Terima kasih karena sudah mau makan malam bersama kami," Minsung berkata

"Terima kasih karena sudah mengundangku,"

"Apa kau mau memperkenalkan dirimu sekali lagi?" Minsung menambahkan.

Mingyu tersenyum tampan, dan berkata

"Halo, Tn. dan Ny. Jeon. Aku Kim Mingyu, kekasih Wonwoo."

Orang tua Wonwoo tersenyum bahagia dan mulai tertawa bersama Mingyu sedangkan Wonwoo menyembunyikan wajahnya di tangannya, rasanya ingin meleleh saja di meja ini. Mingyu melihat tingkah kekasihnya dan memutuskan untuk menggodanya, dan menggunakan sebuah nama panggilan untuk pertama kalinya,

"Babe~" ia berkata dengan nada yang terdengar lucu.

Wonwoo memukul lengan kekasihnya, dan sisa malam itu dilanjutkan dengan Wonwoo yang berharap kalau ini semua adalah mimpi. Bukan karena ia malu berkencan dengan Mingyu, hell, ia akan memamerkan tentang kekasihnya yang sangat tampan dan menakjubkan itu. Tapi, sekarang ia tahu kalau ibunya akan selalu mengurusi urusannya, yang sama sekali tidak ia inginkan, dan bahkan ibunya akan menatapnya dan menggodanya kapanpun ia berkata ia akan pergi dengan Mingyu. Orangtuanya cool, dan kadang bisa menjadi sangat norak. Ketika Mingyu akhirnya berkata kalau ia akan pulang, seluruh keluarga Jeon mengantarnya sampai pintu depan rumahnya.

Mingyu membungkuk dan berkata,

"Terima kasih karena sudah menerimaku malam ini, Ibu, Ayah." dan Narin tersenyum mendengar sebutan itu, ia menarik Mingyu dan mencium pipinya penuh rasa sayang, membuat Mingyu tertawa.

"Kau, baik-baiklah dengan Wonwoo, oke?"

"Aku berjanji," Mingyu menjawab pada Minsung.

"Oh! Dan, dia mungkin anak yang aneh dan pemalu, kau adalah kekasih pertama-"

"Oke~! Mingyu, aku akan mengantarmu sampai ujung jalan!"

Wonwoo berkata, dengan cepat menarik pergelangan tangan kekasihnya dan membawanya keluar dari rumahnya, jauh dari orangtuanya yang membuatnya malu. Mereka berdua berjalan, dan begitu sampai di luar, Wonwoo menghembuskan napas, mengusap wajahnya dengan frustasi. Mingyu mulai terkekeh,

"Aku pikir mereka menyukaiku." Ia berkata, mencoba mencairkan suasana. Wonwoo tertawa dan berkata,

"Well, ya. Aku senang mereka menyukaimu, tapi sekarang mereka akan selalu menggodaku tentangmu~" Wonwoo mengeluh lagi. Mingyu tersenyum melihat sisi lucu kekasihnya yang ia lihat hari ini.

"Itu akan jadi sangat lucu. FaceTime aku ketika mereka melakukan itu, jadi aku bisa mendengarnya, oke?" Mingyu bercanda.

Wonwoo memukul lengannya sekali lagi, sambil tertawa.

"Dan kau!",

"Apa~?" Mingyu berkata dengan nada merajuk, menggoda kekasihnya.

"Kenapa kau memanggilku 'babe', kau tidak pernah melakukannya sebelumnya!" Wonwoo berkata, menyalahkan Mingyu yang membuatnya semakin digoda oleh orangtuanya.

"Yah, kenapa? Kau tidak menyukainya?"

Wonwoo menggelengkan kepalanya, dan dengan lucu berkata,

"Aku menyukainya."

Mingyu tertawa melihat reaksi kekasihnya dan melingkarkan tangannya pada tubuh kekasihnya sambil terus berjalan.

"Kalau begitu, jangan protes."

"Tapi itu terdengar sangat cheesy~~" Wonwoo terus merajuk.

"Berhenti merajuk, babe." Mingyu menggodanya.

"Yah, aku serius. Berhenti menggodaku,"

"Apa yang akan kau lakukan kalau aku terus menggodamu, hmm?" Mingyu bertanya, menaikkan sebelah alisnya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek kekasihnya. Wonwoo hanya mengerutkan wajahnya dan bibirnya bergerak meniru apa yang dikatakan Mingyu. Mingyu mulai tertawa, dan sekali lagi memeluk Wonwoo. Wonwoo menyilangkan tangannya dan memajukan bibir bawahnya, berpura-pura kesal, sambil terus berjalan di dalam pelukan kekasih tingginya. Mereka sampai di ujung jalan, dan Wonwoo berbalik, masih dalam pelukan Mingyu, sekarang berhadapan dengan kekasihnya.

"Selamat malam!" Wonwoo berkata sambil tersenyum, menatap Mingyu. Mingyu menatap kekasihnya dan tersenyum, menikmati senyum Wonwoo, wajahnya, dan keberadaannya dalam dekapannya. Ia mencium Wonwoo manis tepat di dahinya, hidung, dan terakhir di bibirnya, lalu mengeratkan pelukannya.

"Selamat malam!"

Wonwoo berdiri di sana, terdiam, perasaan hangat menjalar di wajahnya, dan di hatinya. Ia suka dan benci dengan cara Mingyu memperlakukannya. Ia suka ketika Mingyu bertingkah manis, perhatian, lembut, padanya. Tapi pada saat yang sama, Wonwoo benci merasa kalau ia jatuh terlalu dalam pada Mingyu, ia benci karena ia menginginkan Mingyu untuk mengatakan 'i love you' padanya. Ia menyukai dan membenci bagaimana Mingyu bisa bersikap begitu lucu, dan bagaimana Mingyu menggodanya. Ia takjub melihat bahwa seseorang bisa membuatnya benar-benar merasakan perasaan yang berlawanan, tapi setiap kali Mingyu menatapnya, itu membuat Wonwoo jatuh cinta semakin dalam padanya.

"Kirimi aku pesan ketika kau sampai di rumah!" Wonwoo berkata saat Mingyu berbalik untuk melanjutkan perjalanannya.

"Aku akan menghubungimu!" Mingyu menjawab. Melambaikan tangannya pada Wonwoo, yang juga melambaikan tangannya, lengan bajunya terlalu panjang untuk tangannya, dan menutupi tangannya yang bergerak ke kanan dan ke kiri.

"Bye~"

Wonwoo masih berdiri di trotoar, menunggu Mingyu benar-benar hilang dari pandangannya sebelum ia kembali ke rumahnya. Mingyu berbalik beberapa kali dan tersenyum setiap kali ia melihat Wonwoo masih berdiri di sana,

"Dia seharusnya tidak mengkhawatirkan aku... Dia seharusnya pulang saja, ini sudah larut." Mingyu berkata dalam hati, tapi masih tersenyum melihat kekasihnya yang bersikap perhatian padanya.

Wonwoo sampai di rumah dengan selamat, dan ia memutarkan matanya saat sampai di rumah, dan melihat ibunya menunggunya di sofa. Ia mengerang dan menyeret tubuhnya sendiri masuk ke dalam rumah, berharap bisa langsung berjalan menaiki tangga dan mengabaikan ibunya, tidak ingin menghadapi ibunya yang senang bergossip. Tapi, ia gagal.

"Bukankah Mingyu yang terbaik, Wonwoo-ya?"

"Ibu, dia kekasihku, jadi kalau ibu bisa sedikit lebih tenang, aku akan sangat berterima kasih,"

Mata Narin berubah sedih dan ia memegang wajah Wonwoo.

"Awe~"

Wonwoo mencoba melepaskan tangan Ibunya dari wajahnya,

"Lihatlah bayi kecilku. Memanggil Mingyu dengan sebutan kekasihnya~"

Meskipun wajahnya berada di tangan ibunya, Wonwoo masih bisa memutarkan bola matanya melihat betapa bersemangatnya ibunya. Akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari ibunya. Ia dengan cepat berlari menaiki tangga, dan berteriak,

"Selamat malam, Ibu!", sebelum ibunya bisa mengatakan apapun lagi.

Wonwoo memasuki kamarnya, dan menutup pintunya, menyandarkan punggungnya pada pintu. Bernapas lega karena bisa terlepas dari ibunya. Maksudku, rasanya pasti senang karena orangtuanya mendukung mereka dan hubungan mereka sepenuhnya, tapi Wonwoo merasa tertekan dengan betapa bersemangatnya ibunya. Ia menjatuhkan dirinya di tempat tidur, lelah, tapi senang dengan kejadian hari ini. Ia masih sepenuhnya terbangun, dan hanya diam menatapi langit-langit kamarnya, ketika ia mendengar ponselnya berdering. Ia menatai iPhone putih miliknya yang menunjukkan panggilang masuk dari Mingyu. Ia mengangkatnya setelah 2 kali deringan,

"Hai!"

"Hei,"

"Apa kau sampai rumah dengan selamat?" Wonwoo bertanya sambil menggulingkan tubuhnya.

"Ya." Mingyu menjawab, "Terima kasih untuk hari ini. Ucapkan juga terima kasih pada orangtuamu."

"Akan kusampaikan," Wonwoo berkata.

Malam semakin larut, dan mereka masih saling mengobrol di telpon selama berjam-jam. Saat Narin masuk ke kamar Wonwoo untuk mengucapkan selamat malam, dan memeriksa apakah putranya sudah tidur, ia masuk dengan hati-hati dan tersenyum melihat Wonwoo tidur di atas tempat tidurnya dengan ponsel di telinganya, tertawa dan tersenyum sambil berbicara di telepon. Ibunya berjinjit di kamar putranya, memastikan kalau ia tidak mengganggu percakapan anaknya, lalu masuk ke kamarnya sendiri untuk tidur.

Percakapan mereka di telepon sudah berlangsung selama 4 jam, dan Wonwoo mulai merasa sedikit lelah, tapi ia menyadari kalau Mingyu pasti merasa lebih lelah. Percakapan mereka mulai terdengar memelan, dan Wonwoo mendengar suara serak yang terdengar tidak asing untuknya, sama seperti suara yang ia dengar saat ia menelpon Mingyu pagi itu. Jadi, percakapan mereka selesai, tapi tidak ada satupun yang menutup panggilan mereka sampai Wonwoo mendengar suara dengkuran halus dari seberang teleponnya. Ia tersenyum mendengar dengkuran lucu kekasihnya, dan berbisik pelan,

"Selamat malam,"

Lalu ia mengakhiri panggilannya. Wonwoo berbaring di tempat tidurnya, berpikir,

"Hari Sabtu ini rasanya benar-benar hebat."

.

.

.

To Be Continued...


Panjang yaa huehehehehe ini full fluff meanie

karena di OFD ngga ada moment meanie sama sekali:(( jadi moment meanienya di ff aja gapapa lah ya:(

jgn sedih my fellow meanie shipper. Berdoa aja di episode2 selanjutnya ofd ada moment mereka ya:((

lagian knp sih ya harus dipisah gitu dibagi dua tim HUHUHUHU

yaudah lah ya:( selamat membaca semoga suka dan gak galau2 lagi karena kekurangan meanie moment;)

makasih byk buat yg udah review! favfollow!

ps. buat yg nanya jaesuk siapa... aku juga gatau wkwk:( itu OC aja kayanya tapi i can't help yg kebayang emang jadinya yoo jaesuk lol

Read n Review?

Love,

selgibear