Maaf ya updatenya lamaaa... hah... fanfic ini nggak jelas mau dibawa kenapa *terus kenapa di tulis

Jadi, aku memutuskan buat nulis sambilng ngambang *emang renang?

Silahkan dinikmati


Fang terkenal sebagai siswa introvert, susah bergaul namun memiliki kemampuan akademis dan olahraga yang mengaggumkan. Meski mungkin sikapnya kadang membuat guru dan teman-temannya sakit kepala, tapi Fang merasa dia sama sekali bukan biang onar.

Intinya, ia belum pernah benar-benar berkelahi serius dengan siapapun. Maksud berkelahi di sini adalah saling pukul, bukan cuma mulut.

Dirinya segera bangkit saat dipukul oleh Boboiboy. Dalam hati tak pernah menyangka, Boboiboy yang kalem, pemalu dan menarik diri itu bisa berbuat kasar seperti ini.

"Hei! Hentikan!"

Fang menarik satu tangan Boboiboy yang hendak menggapai kawan sekelasnya. Siapa namanya? Gopal kalau tidak salah.

Ia memang tidak pernah berteman akrab dengan siapapun, bukan berarti ingin melihat ada yang terluka di depan matanya. Entah itu bisa disebut heroik atau tidak, tapi Fang merasa punya kewajiban untuk melindungi ketiga teman sekelasnya yang ketakutan dan tak berdaya.

"Kau ini dari dulu mengganggu saja terus! Apa masalahmu!?" gertak Boboiboy.

Jika keadaan tidak genting, maka Fang akan menjawabnya dengan sarkartis 'seharusnya itu perkataanku'. Tapi, luka lebam yang menghias pipinya membuat adrenalinnya terpacu tinggi sehingga tak mau menjawab gertakan macam itu.

Boboiboy menerjangnya lagi, Fang berusaha untuk menangkis setiap pukulan dan tendangannya.

Meski jago olahraga, Fang tidak pernah belajar bela diri. Dan jujur saja, ia bertanya-tanya apakah sekalipun ia bisa bela diri, bisa membuatnya bertahan di bawah amukan Boboiboy.

Bocah bertopi itu mengamuk seperti binatang. Matanya bersinar tajam seperti seekor predator dan gerakannya sulit ditebak. Pemuda cina berkacamata itu bahkan hanya bisa terkejut saat Boboiboy mencakar wajahnya.

"Uuuh...," Fang menghapus darah yang mengalir dari pipinya. Menatap Boboiboy yang tampaknya masih mengamuk, entah marah karena apa.

"Boboiboy hentikan!" kali ini ia mendengar salah satu teman sekelas perempuannya berteriak.

Tapi seakan tidak mendengar teriakan itu, Boboiboy masih menerjang Fang. Dalam hati pemuda itu sedikit bersyukur karena dari semua orang yang ada di atap, dirinyalah yang diincar. Tapi, ia tidak tahu bagaimana harus melawan.

Yang ia tahu, ia harus bisa membuat Boboiboy berhenti bergerak, bagaimanapun caranya.

Fang berhasil meninju Boboiboy dengan telak. Sebenarnya sedikit tidak tega saat melihat wajah Boboiboy yang masih merah karena tersiram teh panas. Tapi, ia tidak punya pilihan lain selain melawan untuk membela diri.

"Boboiboy!"

Fang syok saat melihat Yaya menarik lengan Boboiboy.

"Sudah hentikan!"

Air mata gadis itu mengalir.

"Minggir!" Boboiboy berusaha melepaskan diri. Tapi, Fang bisa melihat kalau usahanya mungkin bisa dibilang jauh lebih lembut daripada saat ia memukulnya.

"Bangun Boboiboy, bangun!" seru Yaya lagi.

Kali ini Fang mengernyit.

Apa maksudnya?

"Iya Boboiboy, sadarlah!" Ying kali ini tak mau kalah, berdiri di depan Boboiboy meski tak berani mengunci lengannya.

"Uuuh, kalian semua cuma bisa mengganggu!" teriak Boboiboy keras.

"Boboiboy!"

PLAK!

Fang tercengang melihat Yaya mendaratkan tamparan keras di pipi teman sekelasnya itu. Boboiboy juga terlihat sama terkejutnya karena matanya membelalak dan tubuhnya terpaku.

"Sadarlah! Hentikan semua ini! Aku tahu kau ada di sana!" pekik Yaya dengan berlinang air mata.

Fang mengerjapkan mata, menghapus noda darah dari pinggir mulutnya. Adrenalin yang menguasai tubuhnya perlahan mulai turun, meski ia masih siap melompat jikalau Boboiboy akan mengamuk lagi.

Ia melirik Gopal, yang tampak ketakutan setengah mati, dengan lutut bergetar akhirnya berani menghampiri Boboiboy.

"Boboiboy! Sadarlah! Kau lupa kita semua kawan baik?"

Fang mendengus, menahan diri untuk tidak melemparkan komentar sinis.

Namun, pemuda cina berkacamata itu terbelalak saat melihat Boboiboy bersikap aneh. Tubuhnya seperti kejang dan sesaat kemudian, mata tajam dengan aura membunuh itu terganti dengan mata yang jauh lebih familiar.

"Kalian semua...?"

Fang mengernyitkan dahinya, masih belum bisa mengerti apa yang sedang terjadi.

"Boboiboy!"

Ying memeluk Boboiboy saking senangnya, membuat pemuda itu semakin kelihatan bingung.

"Kau sudah sadar?" tanya Yaya dengan penuh senyuman meski pipinya masih basah oleh air mata.

"Eh... iya?" Boboiboy tampak ragu, berusaha melepaskan pelukan Ying.

Fang diam di sana, melihat pemandangan yang aneh. Ketika matanya bertemu mata dengan Boboiboy, pemuda bertopi itu tampak terkejut, kemudian terlihat penyesalan di matanya, kemudian akhirnya mengalihkan matanya ke lantai.

"Kenapa kalian semua ada di sini!?" Boboiboy berseru, membuat semuanya terkejut. Namun, nada suaranya berbeda dengan sebelumnya. Nada suara ini lebih Fang kenal, meski baru kali ini ia mendengar Boboiboy berrteriak.

"Aku kan sudah bilang untuk menjauhiku!" lanjut Boboiboy.

Sebelum semuanya bisa merespon, Boboiboy hanya menghindar dan berlari melewai mereka. Keempat teman sekelas itu diam saat akhirnya Boboiboy menghilang dari atap.

Fang mengerjapkan mata dan mengernyit. Ia merasa marah karena Boboiboy bahkan tak mengatakan apapun padanya setelah mengamuk seperti itu. Tapi ia terlalu heran dengan sikapnya, jadi tidak terlalu peduli akan hal itu.

"Fang, kau tidak apa-apa?" tanya Ying. Fang menoleh pada gadis cina itu.

"Menurutmu?" tanyanya ketus.

Ying terlihat sedikit tersinggung.

"Makasih ya..."

Fang diam sambil menatap Yaya. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Ada hal lain yang lebih penting.

"Jadi, kalian tahu, Boboiboy sebenarnya kenapa?"

IoI

Boboiboy mengkompres seluruh wajahnya di kamar, rasa panas dan sakit mulai menumpul karena rasa dingin. Namun, dalam hati ia masih merasa kalut.

Yang ia ingat terakhir kali adalah wajahnya tersiram teh panas.

Lalu saat sadar kemudian, ia ada di atap, ia melihat Yaya menangis di depannya, Ying kemudian memeluknya, Gopal tampak takut juga lega dan ia melihat Fang babak belur.

Boboiboy tidak bodoh, ia langsung paham kalau Halilintar baru saja keluar kemudian mengamuk.

Ia bersyukur sepertinya ia tidak melukai teman perempuannya, tapi sebagai gantinya sepertinya Fang yang jadi pelampiasan kesal.

Pemuda bertopi itu memeluk lututnya, sambil tangannya terus mengompres wajahnya.

Ia tidak mengerti, padahal ia sudah mengatakan pada teman-temannya itu untuk menjauhinya. Tapi mereka tidak mematuhinya dan yang ia takutkan sudah terjadi.

Sekarang, ia tidak tahu lagi harus bagaimana...

IoI

[Ya. Aku yang melakukannya.]

[Kenapa kau melakukan itu? Wajahku tersiram teh panas karena salahku sendiri, bukan salah mereka.]

[Kau pikir aku tahu hal itu?! Yang kutahu mereka menyeretku ke atap dengan paksa!]

Gempa mendengus, menutup buku notesnya. Ia tahu, seharusnya Boboiboy yang keluar dan membalas catatan terakhir dari Halilintar. Tapi, ia tak tega. Keduanya sudah mengalami hari yang berat, jadi Gempa memutuskan untuk keluar dan membiarkan keduanya beristirahat sejenak.

Sekarang, ia harus memikirkan langkah selanjutnya.

Gempa membongkar meja belajar Boboiboy dan tersenyum puas melihat menemukan buku daftar kelas beserta nomor telepon yang bisa dihubungi. Mengagumkan bagi Boboiboy bisa mendapatkan sesuatu seperti ini setelah memintanya pada wali kelas dulu.

Dengan cepat, Gempa mencari nama yang ia cari.

Fang.

Gempa belum pernah bertemu langsung dengan teman sekelas Boboiboy itu. Dari yang ia tangkap di notes, Fang tampaknya cuma teman sekelas biasa yang anti sosial dan bermasalah dalam kepribadiannya. Memang lebih bermasalah Boboiboy sih, tapi bukan di situ intinya.

"Atok, aku pinjam telepon sebentar ya," sahut Gempa, turun ke lantai satu, menghampiri dimana telepon rumah berada.

"Iya, pakai aja, Boboiboy," sahut Atok dari dapur. Entah sedang memasak apa.

Boboiboy tidak punya ponsel, karena memang merasa tidak ada gunanya. Lagipula, semuanya sepakat, ponsel kemungkinan besar akan hancur ditangan Halilintar atau dibongkar oleh Taufan.

Gempa memencet nomor telepon yang ia tuju dan menunggu.

"Halo? Bisa bicara dengan Fang?" tanyanya cepat ketika teleponnya diangkat.

"Siapa?" balas orang yang diseberang sana.

"Oh, dari Boboiboy," jawab Gempa dengan jujur.

"Ada perlu apa denganku?" Gempa menafsirkan yang mengangkat telepon ini adalah Fang sendiri.

"Ah, aku mau minta maaf untuk yang tadi siang, kau tidak apa-apa?" tanya Gempa.

"Kau siapa ya?"

Gempa terdiam. Badannya terpaku untuk sepersekian detik sebelum akhirnya mulai rileks setelah mengambil kesimpulan.

"Kau sudah tahu?" tanyanya balik.

"Entahlah, aku belum tahu secara langsung. Aku juga nggak punya bukti, tapi karena kau aneh sekali, kurasa pasti ada yang salah dengan otakmu."

Gempa menahan diri untuk tidak marah. Kata-kata itu terasa menusuk dan ia bersyukur ia sudah mengambil langkah duluan menghubungi teman sekelasnya yang bermulut tajam ini sebelum Boboiboy.

"Ya, kau benar. Lalu, kenapa kau bertanya padaku, 'kau siapa?'?" tanya Gempa lagi.

"Karena, kau pasti bukan Boboiboy. Suaramu terlalu tenang dan dewasa, kau juga bukan orang yang membabi buta tadi. Sebenarnya ada perlu apa denganku? Kalau kau nggak menjawab pertanyaanku, bakal kututup!"

Gempa menarik napas. "Sebaiknya kau bisa bertanya lebih jauh nanti. Kalau kau merasa aku sudah kembali jadi orang yang kau kenal. Yang bisa kujawab sekarang, aku Gempa. Itu saja. Aku telepon karena khawatir denganmu."

"Oh terima kasih." Gempa bisa merasakan nada bicara sarkartis yang kental dari seberang telepon. "Aku nggak butuh perhatianmu. Aku cuma mau bilang. Kalau kau menganggap Yaya, Ying dan Gopal itu temanmu, perlakukanlah mereka dengan baik!"

Gempa memutar matanya, dasar orang hypocrite. Bukannya Fang sendiri tidak punya teman?

"Sebenarnya Boboiboy sudah memberikan mereka peringatan, mereka saja yang tidak mendengar. Tapi, terima kasih atas perhatiannya. Akan kuingat baik-baik," jawab Gempa, tidak bisa menahan untuk tidak terdengar sinis di akhir perkataannya.

"Dan katakan pada orang brengsek yang mengamuk tadi. Kalau dia keluar di sekolah lagi, aku tidak akan segan-segan lagi! Dia akan berhadapan denganku."

Gempa tertegun sebentar kemudian tersenyum tipis.

"Terima kasih."

"Apa?!"

"Ada baiknya kau langsung lari saja bila melihatku mengamuk seperti tadi. Percayalah, itu yang terbaik dan tak akan ada yang menganggapmu pengecut. Itu juga jauh lebih baik untuk semuanya."

Gempa menunggu balasan, namun tidak mendengarnya. Ia merasa Fang tengah tertegun.

"Karena kau tampaknya baik-baik saja, aku merasa senang mendengarnya. Maaf karena insiden tadi. Aku harap itu tidak terulang tapi aku tidak bisa berjanji. Maaf sekali lagi karena aku tidak bisa menjelaskan alasannya sepenuhnya, kau bisa bertanya lain kali... kepada Boboiboy yang kau kenal."

Gempa menyudahi perkataannya.

"Hm."

"Kalau begitu, sampai nanti," tutup Gempa.

"Ya, sampai nanti aku bisa bertemu muka dengamu secara langsung."

Gempa mengulum senyum dan menutup teleponnya. Ia tidak habis pikir.

Namanya manusia memang bermacam-macam, baru kali ini ia bicara dengan orang yang mulutnya sangat ketus dan sarkartis, tapi sebenarnya baik.

Andai saja Boboiboy bisa berteman dengannya juga... tapi, Gempa tidak bisa melawan keputusan Boboiboy. Bagaimanapun, ia sudah berjanji akan mendukung Boboiboy apapun keputusannya.

Dan bila keputusan itu, Boboiboy ingin menjauhi teman-temannya, Gempa akan mendukungnya.

Meski ia tahu, itu bukan keputusan yang terbaik.

TBC


Hebat...aku nulis chapter ini spontan banget, nggak dipikir sebelumnya. Jadi, maaf ya kalau pendek, karena aku masih harus mikir, habis ini kelanjutannya gimana. Aku sama nggak tahunya dengan kalian *plak

Dan Fang udah muncul dari chapter 4! Aku nulis dia kok, aduuuh... dia nggak mendadak muncul di chapter kemaren... dia emang temen sekelasnya Boboiboy.

Apakah Air dan Api bakal muncul? Ergh, kurasa... nggak deh, bakalan jadi terlalu panjang... mau sampe berapa chapter ntar?

Kenapa aku suka DID? Hm... aku nggak spesifik sih, intinya aku suka tentang penyakit jiwa, itu aja

Apakah Boboiboy bakal sembuh? Saya masih ragu soal itu, jadi liat ntar

Udah segitu aja.

See you next time. REVIEW!