Arco Iria present
Kings
Enjoy!
-chapter sebelumnya-
"KELUARKAN AKU!" Baekhyun berteriak panik, ia terkunci di sebuah ruangan yang sangat gelap dan sumpek, ia bahkan tidak tahu itu ruangan apa, dan dimana, bagaimana cara keluar dari sana! Ruangan itu bahkan tidak memiliki satu jendela pun sehingga tidak ada sinar yang bisa masuk. Hanya ada seberkas cahaya dari celah pintu yang sama sekali tidak membantu.
Babak kedua dalam ujian pencarian jenderal akan dimulai. Kebanyakan peserta telah siap dan menduduki tempatnya masing-masing. Di sana, telah tersedia 2 buah gulungan perkamen dan pena bulu angsa beserta tintanya. Sang raja sendiri─Chanyeol, sudah siap di atas singgasananya menunggu mulainya babak kedua.
Di waktu yang sama, Mingyu berjalan panik kesana kemari sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia mencegat beberapa peserta yang belum pergi ke aula. " Apa kau melihat Baekhyun?" tanyanya panik.
Seorang peserta yang dicegatnya hanya mengenyitkan dahi. " Siapa Baekhyun?"
Dan Mingyu cuma bisa menghantam kepalanya di dinding dengan frustasi.
Mingyu mengumpat, ia sudah mencari-cari Baekhyun dalam setengah jam terakhir dan tidak menemukan mahkluk mungil itu dimanapun. Mingyu terdiam di tempatnya berdiri, mengingat-ingat situasi terakhir saat dia meninggalkan Baekhyun. Tidak ada yang aneh, seharusnya semuanya baik-baik saja. " Aiisssshhh!" Mingyu mengacak kepalanya bingung.
"Hei!" Seseorang tiba-tiba memanggil Mingyu sambil berjalan mendekatinya. " Babak kedua sudah mau dimulai! Ayo bergegas!" perintah orang itu yang ternyata adalah seorang prajurit istana. Mingyu mengeleng, sambil mengerak-gerakan tangannya gelisah.
"Tapi, A-aku─temanku! Dia!" Mingyu berusaha menghindar dari prajurit itu, namun prajurit itu langsung maju dan tanpa ragu menarik kerah kemeja Mingyu, menyeretnya pergi. Mingyu mengumpat, berharap semoga saja tidak terjadi apapun pada Baekhyun.
…
...
"YAAA! KELUARKAN AKUU!" Baekhyun menendang pintu keras di depannya sekuat tenaga. Namun pintu itu sama sekali tidak bergeming. Baekhyun mengeram, dan hampir putus asa. Pemuda mungil itu menyandarkan kepalanya pada pintu yang tidak dapat ia buka, lalu menutup mulutnya sebab ia hampir saja meloloskan air matanya.
KRIEETTT─
"Siapa di sana?!"
Sebuah suara menyahut dari luar ruangan tempat Baekhyun terperangkap. Jantung Baekhyun terpacu seketika dan angsung berdiri tegak. " Keluarkan akuu!" Rasa senang membuncah di dalam dadanya.
KREEAAAKKK── Pintu pun dibuka, mengularkan bias cahaya yang dirindukan Baekhyun. Di depan sana, berdiri Sehun yang memandang Baekhyun dengan penuh kebingungan.
"Baekhyun?" Ia terkesiap, lalu mendatangi Baekhyun segera, " apa yang kau lakukan disini?!"
Baekhyun merasakan kepalanya pening karena sinar yang terlalu menyilaukan, " u-ujiannya? Apa sudah lewat?!"
Sehun memandang dengan wajah tegang, " sekitar beberapa menit lagi, tahap kedua akan dimulai──a-apa yang terjadi sampai kau bisa di dalam sini?" pekik Sehun kemudian.
Baekhyun mengeleng panik, " terimakasih banyak tuan Sehun. Tapi aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku harus bergegas!" seru Baekhyun, ia membungkukan tubuhnya dengan hormat lalu langsung berlari pergi dari sana.
Meninggalkan Sehun yang memandangnya dengan ekspresi aneh.
.
.
Baekhyun melihat orang-orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ia mengedarkan matanya ke sekeliling untuk mencari tempat dimana dia seharusnya berada. Dengan hati kalut, Baekhyun melewati barisan-barisan prajurit itu sambil meminta maaf. Ia benar-benar hampir saja terlambat, keringat dan rasa cemasnya masih belum hilang sama sekali.
Baekhyun akhirnya menemukan sebuah karpet yang kosong. Langsung saja ia duduk di situ, mengingat sepertinya ialah satu-satunya orang yang terlambat dan belum berada di tempatnya. Dengan agak tegang, Baekhyun memandang ke singgasana Chanyeol. Memastikan jika semisalnya sang raja mendapati keterlambatannya.
Dan benar saja, Chanyeol memandangnya dengan sangat tajam. Seolah-olah mengulitinya. Baekhyun langsung saja menundukan kepalanya karena ia tahu ia bersalah. Baekhyun menoleh kesamping saat menyadari Mingyu ternyata hanya berjarang dua orang darinya.
Pemuda kelewat ceria itu melambai-lambaikan tangannya dengan mata lebar dan alis terangkat. Ia bercuap-cuap mengatakan ' kemana saja kau?' tapi Baekhyun tak sempat merespon karena terompet dan gong yang menyatakan dimulainya babak kedua.
Baekhyun menarik pandangannya untuk melihat ke depan. Namun ia sadar bahwa ternyata Yunho berada dua baris di depannya. Yunho melihat ke belakang tepat kea rah Baekhyun, wajahnya merengut dan ia tampak tidak senang. Tentu saja.
Baekhyun mengeraskan rahang dan wajahnya memerah. Itu bukan memerah karena tersipu seperti yang Baekhyun biasa perlihatkan pada Chanyeol, tapi oleh rasa marah. Rasa marah menyusup ke dadanya dan pemuda mungil itu membalas pandangan Yunho dengan sangat tajam.
Sedangkan Yunho, ia tdak bergeming sedikitpun dengan pandangan menusuk Baekhyun. Perhatian Baekhyun teralihkan saat dua orang prajurit berjalan sambil membawa gulungan besar berisi pertanyaan yang akan diuji. Untuk membuka gulungan itu dan memperlihatkannya kepada seluruh peserta, diperlukan dua orang.
Gulungan itu pun dibuka, dan menampilkan sebuah tulisan, " JATUHKAN MEREKA YANG MELAWAN "
Baekhyun mengernyit, dan terjadi kebingungan di antara para peserta. Kalimat itu─apa maksudnya?
Setelah beberapa menit tulisan itu dipampang, gulungan itu diturunkan, dengan sang raja agung, Chanyeol sudah berdiri dari singgasananya dan maju ke arah para peserta. Ia membuka mulutnya dan dengan bersahaja mulai berbicara.
" Di sini, aku ingin melihat kemampuan kalian dalam membuat strategi untuk pasukan yang akan mengambil alih sebuah kota. Kalian mempunyai 7000 prajurit, dan kalian dapat membagikan masing-masing tugas mereka sendiri. Di tempat kalian duduk telah diletakkkan dua buah gulungan. Gulungan berwarna hijau berisikan info-info penting berupa letak geografis, sumber daya kota itu, kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat, informasi tentang pemimpin mereka dan pasukan militernya. Sedangkan, gulungan berwarna merah adalah gulungan kosong. Kalian dapat menuliskan jawaban kalian di sana. Aku akan menunggu, hingga matahari berada di bagian paling atas langit!"
Chanyeol mengedarkan pandangannya pada seluruh peserta, ia menyeringai. " setiap orang memiliki kondisi dan informasi kota yang berbeda-beda. Jadi, aku berharap banyak kepada kalian untuk tidak melakukan kecurangan."
Dan kemudian gong tanda dimulainya pertandingan berbunyi. Para peserta sibuk membuka gulungan hijau dan termangut-mangut membaca isinya. Tak terkecuali dengan Baekhyun, ia berpikir keras untuk membuat strategi perang yang sesuai denan informasi yang ada di dalam gulungan hijau itu.
Dan Baekyun pun mulai mengambil bulu angsa dan mencelupkannya ke tinta. Siap menulis ide-ide yang ada di dalam pikirannya.
.
.
Sudah hampir tengah hari dan matahari sudah hampir mencapai titik tertinggi. Keadaan sudah begitu panas dan menyilaukan, namun tidak ada satupun peserta yang sudah menyelesaikan strategi mereka. Sang raja masih menunggu dengan wajah bosan dan kaki menghentak-hentak.
Baekhyun pun menelan ludahnya. Ia memandang gulungannya dengan kurang yakin. Kalau-kalau strategi yang ia buat tidak sesuai. Pasalnya, hari sudah semakin panas, dan itu membuat kepala Baekhyun pusing, dan dari awal ia memang tidak dalam kondisi yang baik. 'Penyakit' yang dideritanya membuatnya jadi begitu lemah dan sensitive.
Baekhyun menoleh memandang Mingyu yang masih sibuk dengan gulungannya. Ia tampak sangat serius hingga wajah tampannya terlihat basah oleh keringat. Baekhyun tersenyum teduh, melihat Mingyu mengingatkannya kepada bawahannya─Jongdae yang sangat periang namun juga pekerja keras.
Tak berapa lama, saat Baekhyun menarik matanya dari Mingyu, pandangannya bersirobok dengan Yunho. Pemuda sinting yang berusaha menjatuhkannya di sayembara ini. Baekhyun meneguk ludahnya saat melihat Yunho terus-terusan melemparkan tatapan pembunuh kepadanya. Dengan kesal, Baekhyun membalas Yunho dengan pandangan meremehkan. Baekhyun berdiri, berjalan ke arah panatia sayembara yang akan memeriksa jawabannya.
Para panitia sayembara kemudian memeriksa jawaban Baekhyun dengan seksama. Baekhyun menunggu dengan sabar meskipun ia merasa risih karena seluruh peserta memperhatikannya. Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama, gulungan miliknya kemudia dibawa kehadapan Chanyeol. Dan Baekhyun berdebar-debar dibuatnya.
Beberapa saat kemudian, Chanyeol mengecap gulungan itu dan menyeringai kearah Baekhyun . Baekhyun menegang gugup. Sehun mengambil gulungannya dari tangan raja, lalu berkata.
" BAEKHYUN DARI KERAJAAN PERSEI! DINYATAKAN─LULUS!"
Pemuda mungil itu menghela napas lega, perasaannya semakin senang karena Mingyu menyorakinya dari kejauhan dan Baekhyun ingin memeluk laki-laki itu segera. Sambil berjalan ke sebuah ruangan sebagai tempat beristirahat, Perhatian Baekhyun pun teralihkan dari Mingyu ke Yunho saat pemuda itu berdiri dan membawa gulungannya. Nampaknya ia juga sudah menyelesaikan jawabannya.
"YUNHO DARI PERBATASAN BARAT DAYA, DARI KELUARGA JUNG DINYATAKAN──LULUS!"
…
Baekhyun terduduk kaku di ruang beristirahat. Ia tidak melakukan apapun selama beberapa menit selain bernapas. Dengan enggan, mata cantik raja Persei itu melihat Yunho yang sedang bermain dengan pedang sepanjang lengan miliknya.
Saat ini, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu. Entah bagaimana, peserta-peserta lain belum juga ada yang menyusul mereka.
Baekhyun menarik pandangannya cepat saat Yunho menoleh kearahnya. SWUSHH!─Dan hanya dalam satu kedipan mata, Baekhyun menyadari pedang yang Yunho main-mainkan tadi sudah meluncur melematinya dan tertancap di dinding.
"KAU!─APA YANG KAU INGINKAN!?" Baekhyun berteriak murka, berjalan cepat menuju Yunho dan mencekram kerah bajunya──posisi yang lucu mengingat Baekhyun lebih pendek daripada musuhnya itu.
Yunho memandang Baekhyun dengan mata meremehkan, ia mendengus melihat raja Persei I tu. "aku hanya kesal melihatmu." Yunho menjeda perkataannya, " kau seorang raja kan? " Tangan Yunho terulur untuk mencekram pipi Baekhyun dan mendorongnya menjauh.
"Kau dibawa ke kerajaan ini untuk menyelamatkan rakyat-rakyatmu meskipun seharusnya kau dibunuh. ─Di sini, hidupmu bukanlah seperti seorang tawanan. Kau memiliki baju-baju dan makanan mewah, juga perhatian Yang Mulia. " Yunho memandang Baekhyun tajam. "Kau beruntung, rakyatmu selamat dan mendapat hidup nyaman di istana. Kau hanya harus membuka kedua kakimu dan menyambutnya."
Baekhyun mengeram, kepalan tangannya mengepal erat bersiap untuk melayang ke arah yunho.
"Tapi lihat sekarang! ─kau malah bertingkah dan berpikir untuk menjadi seorang jendral!" lanjut Yunho, se kaligus mengakhiri perkataannya. Baekhyun bergetar, wajahnya merah padam dan tangannya mengepal begitu kuat seolah ingin menghancurkan jari jemari itu sendiri. Baekhyun hampir saja meneteskan air matanya, ia merasa kesal, marah dan terhina. Dan Baekhyun sendiri bertanya-tanya mengapa ia sangat sensitive akhir-akhir ini.
"Kau marah? Ingin menangis" Yunho mengejek, " Kau marah padaku, huh?! Kenapa tidak kau pukul saja aku dan membuat dirimu di-diskualifikasi?! " perintahnya sambil memasang wajah menantang. Namun Baekhyun hanya memandang pria di depannya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Baek?!" Perhatian keduanya kemudian teralihkan pada sesosok pemuda di depan pintu ruangan. Di sana, berdiri Mingyu dengan wajah yang seolah tidak mengerti apa yang terjadi. Saat Baekhyun menolehkan wajahnya yang memerah dan berkaca-kaca, Mingyu terhenyak seketika. Wajahnya waspada dan kemudian mendatangi Baekhyun, memposisikan tubuhnya diantara Yunho dan Raja Persei itu.
"Baekhyun?ada apa?" Mingyu memanggil, menyelidiki wajah Baekhyun dengan seksama dan melempar tatapan menyelidik pada Yunho. Baekhyun mengeleng, masih berusaha menenangkan hatinya. Pemuda mungil itu berbalik dan kembali duduk di kursinya.
"Aku baik-baik saja. " jawab Baekhyun singkat. Namun sedikitnya Mingyu dapat mengetahui ada sesuatu yang salah disini.
" Segala yang kau lakukan akan sia-sia, Baekhyun." Ujar Yunho kemudian. Ia berjalan melewati kursi Baekhyun untuk mengambil pisaunya.
"Aku tidak butuh kata-katamu, brengsek!" balas Baekhyun dengan ketus. Menetapkan hatinya bahwa ia harus menenangkan pertandingan ini.
Yunho mendengus, menyarungkan pedang berukuran kecil itu kemudian melengang pergi. Ia berbalik, untuk menatap Baekhyun sebentar. Matanya sedikit menyiratkan rasa bersalah yang amat dalam, sampai kemudian Yunho pun menghilang dari balik pintu.
…
"Baek, apa yang terjadi?apa yang pria itu inginkan?" tanya Mingyu pada Baekhyun yang masih duduk dalam diam.
Baekhyun mengeleng lemah, ia merasa begitu lelah lahir batin. " aku tidak tahu Mingyu. Ka─karena dialah aku terlambat dalam mengikuti ujian ini. Dia─mengurungku di dalam sebuah ruangan gelap. Untunglah Perdana Menteri mendengarkan dan melepaskanku."
"A-APA?! SI BEDEBAH ITU!" Mingyu memekik, tubuhnya langsung menegak lurus dan wajahnya berubah jadi sangat marah. " Apa yang dia inginkan?!"
Baekhyun mengeleng, " aku tidak tahu. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan ini. Kupikir dia iri kepadaku." Jawab pemuda mungil itu. Masih berusaha membuat tubuhnya tetap sadar. " Oh Mingyu, aku sangat lelah dan si brengsek itu benar-benar membuatku kesal!"
Mingyu menganguk-anguk setuju, " itu benar! Kita harus mengalahkannya saat babak ketiga! Dia tidak boleh menang!"
Baekhyun terdiam sebentar, berbagai macam pemikiran melintas di dalam otaknya hingga menganguk setuju. Berusaha menepis firasat buruk yang entah bagaimana menghampirinya tiba-tiba.
…
…
Matahari sudah berada di tengah langit yang menandakan bahwa babak kedua telah selesai. Dan perlahan orang-orang yang lulus pada babak kedua sudah berkumpul di dalam ruangan. Baekhyun sendiri, mulai menghitung para prajurit-prajurit itu,dan mendapati ada 22 orang di dalam ruangan─termasuk dia, Mingyu, dan si berebah Yunho itu.
Brak─pintu ruangan itu pun terbuka dan menampilkan Sehun bersama para instruktur ujian. Beberapa orang yang awalnya berkumpul satu sama lain kembali ke tempat duduknya dan mulai memusatkan perhatian pada perdana menteri itu. Sehun berdiri di depan dengan penuh wibawa. Ia tersenyum ramah.
"Selamat siang." Mulainya "Pertama-tama, selamat untuk para prajurit yang telah berdedikasi tinggi untuk mengabdi kepada kerajaan dan mampu menyelesaikan ujian kedua ini." Ucap Sehun, Ia berkata dengan lancer seolah tidak ada hambatan, " lalu, sebelum kalian memasuki ujian babak ketiga. Yang Mulia memutuskan untuk menjamu kalian semua sebagai hadiah karena telah berhasil melewati ujiannya. Kalian dapat mengikutiku sekarang!"
Seketika, prajurit-prajurit yang ada di dalam ruangan itu langsung bersorak gembira. Mereka sangat senang bisa mendapatkan jamuan langsung dari sang raja. Tak terkecuali dengan Mingyu, wajah lelaki itu berbinar membayangkan bisa berhadapan langsung dengan rajanya. Dengan penuh kegembiraan, seluruh prajurit itu pun pergi mengikuti Sehun.
…
Baekhyun menahan napas saat memasuki ruangan yang nyatanya adalah ruangan terbesar dan termewah di istana Exordium itu. Ruangan yang memang dikhusukan untuk pesta dan perjamuan besar-besaran. Dan memasukinya dengan orang yang hanya berjumlah kira-kira 20 orang membuat ruangan itu terasa begitu lengang.
Di tengah ruangan yang benar-benar luas itu, mata mereka menemukan sebuah meja panjang super besar dengan jejeran kursi-kursi mewah dan singgasana cantik di ujungnya. Di atas meja itu sudah tersusun rapi perkakas dan alat makan yang terbuat dari perak dan keramik terbaik. Dan semua orang hanya bisa terperangah melihatnya.
"YANG MULIA TELAH TIBA!" Terdengar suara seorang prajurit berkumandang, dan membuat seluruh orang memusatkan perhatian pada pintu utama. Dengan cepat mereka pun membawa diri mereka untuk berbaris rapi dan membungkuk hormat kepada Sang raja yang telah muncul dari balik pintu.
Chanyeol berjalan pelan melewati orang-orang yang membungkuk kepadanya. Wajahnya masih tetap tampan dan menyembalkan. Dan Raja Exordium itu tidak dapat menahan serigaiannya saat melihat pemuda manis yag turut membungkuk di sampingnya. Dengan sengaja, Chanyeol berhenti sebentar di depan Baekhyun dan menjitak kepalanya. Baekhyun mengeluarkan suara yang lucu saat ia mengaduh dan itu imut sekali. Chanyeol berjalan menuju singgasananya dengna senyum lebar.
Dan Baekhyun hanya bisa mengumpat Chanyeol dalam hati diikuti dengan menerima tatapan heran rekan-rekannya yang lain. ─juga tatapan membunuh milik Yunho.
Setelah Chanyeol duduk rapi di atas singgasananya, orang nomor satu di Exordium itu mengangukan kepalanya pelan pada ajudannya bahwa ia telah siap memulai jamuan makan itu. Sang ajudan kemudian memberi kode kepada Baekhyun dan kawan-kawan untuk segera duduk.
…
Baekhyun duduk di tengah-tengah meja panjang itu. Ia bersyukur para ajudan memilihkan posisi itu untuknya dan Mingyu karena menjauhkannya dari sang raja─siapa yang sudi berdekat-dekatan dengan orang yang jelas-jelas mengesalkan itu?!
Setidaknya, Baekhyun merasa sedikit tenang karena di sebelahnya ada Mingyu. Sebab, suasana awal jamuan itu memang benar-benar seperti sebuah makam. Tidak ada yang bercekrama maupun bergurau. Semuanya menjaga sikap dan tata krama karena terdapat sang raja di sana.
Chanyeol kemudian berdehem, dan sontak semua orang langsung memusatkan perhatian kepadanya. Raja Exordium itu berdiri dari singgasananya dan mulai menyampaikan pidatonya, " kepada kalian semua yang telah berhasil melewati segala rintangan hingga saat ini. Selamat. " mulainya, namun saat ia mengatakan 'kepada kalian semua' matanya hanya mengarah pada satu orang. ─Baekhyun.
" setengah dari kalian akan pulang, dan hanya ada satu orang yang akan menjadi seorang jenderal dari setengahnya lagi. Babak ketiga akan benar-benar berat, beberapa orang mungkin tidak akan benar-benar pulang, dan yang lain mungkin akan merasa ini adalah pilihan terburuknya. Namun aku sungguh kagum kepada keberanian kalian semua. Karena itu, untuk saat ini bersenang-senanglah! Jangan malu di hadapanku!" Chanyeol menjentikan jarinya dan puluhan dayang dan juru masak masuk ke dalam ruangan untuk mengantarkan makanan-makanan yang tidak terhitung mewahnya.
Namun, bukan makanan yang menjadi fokus Baekhyun.
Melainkan Kyungsoo yang berjalan pelan ke sisi Chanyeol untuk mengantarkan makanannya. Dengan hati-hati dan dengan langkah yang agak limbung, Kyungsoo membawa nampan berisi makanan itu ke hadapan Chanyeol. Namun, yang membuat Baekhyun menahan napasnya syok adalah pada saat Chanyeol berdiri dan langsung menyambut dan mengambil makanan itu dari tangan Kyungsoo. Bukannya menunggu Kyungsoo menyajikannya langsung di atas meja. Tindakan Chanyeol seolahmengartikan bahwa Raja Exordium itu tidak mau membebani Kyungsoo yang nampak kesulitan membawa hidangannya.
Baekhyun merasakan jantungnya berdetak bertalu-talu melihat itu. Ada sedikit rasa sakit dan kecewa yang mancul di hatinya. Dan itu membuat Baekhyun tidak berselera melihat makanannya.
"Aku sungguh-sungguh kasihan padanya, ia pasti sangat menderita karena ditinggalkan oleh Jenderal Kai." Baekhyun menoleh saat mendengar Mingyu berceletuk di sebelahnya. Lalu mengikuti pandangan Mingyu rupa-rupanya mengarah langsung kepada Kyungsoo. Baekhyun menganguk lemah kemudian, membenarkan dalam hati, karena itu─seharusnya Baekhyun tidak merasa cemburu atas kedekatannya dengan sang raja yang notabenenya adalah sahabat Kai.
Tunggu. Cemburu?
Baekhyun tertawa kecut menepis pemikirannya itu.
"kudengar─dia sedang mengandung anak dari Jenderal. Pasti akan sangat berat baginya untuk membesarkan anaknya sendirian kelak." Mingyu melanjutkan celetukannya sambil melempar sepotong daging di dalam mulutnya.
"A-APA?!" Baekhyun terlonjak kaget karena kata-kata Mingyu. Ia langsung memandang kawannya itu dengan pandangan tidak percaya, "ITU TIDAK─hmmp!" Baekhyun sontak langsung menutup mulutnya saat Mingyu menyenggol tubuhnya karena mereka menjadi pusat perhatian di dalam ruangan itu. Termasuk sang Raja.
Baekhyun hanya meneguk ludanya gugup saat melihat tatapan tajam dari Chanyeol yang ditujukan kepada dirinya dan Mingyu. "I-itu tidak mungkin kann~? Kyungsoo laki-laki."
Mingyu mendengus, lalu menyentil dahi Baekhyun. " Kau tidak pernah mendengar soal kacang Graviar ya Baek?" tanya Mingyu dengan wajah meremehkan.
"Graviar?" Baekhyun menautkan alisnya. " apa itu?"
Mingyu memutar bola matanya, " oh kau sungguh ketinggalan zaman sekali Baek." Ujar Mingyu seraya mengambil sebuah kacang hijau dari piringnya, " kacang graviar itu kacang ajaib. Aku tidak pernah melihatnya tapi katanya kacang itu berukuran seperti kacang merah dan berwarna hijau." Terang Mingyu sambil memasukan kacang hijau itu ke dalam mulutnya, " Graviar katanya bisa menumbuhkan rahim pada seorang pria dan membuatnya hamil."
Baekhyun tergagap, " i-itu tidak mungkin! Tidak mungkin ada kacang seperti itu! Hamil adalah kemampuan yang hanya dimiliki oleh wanita." Sanggahnya.
Mingyu menaikan alisnya, " kau tidak percaya?" tanyanya, lalu kemudian menunjuk Kyungsoo dengan dagunya, " kau tidak lihat juru masak itu terus-terusan mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit?"
Baekhyun terdiam, memperhatikan gerak-gerik Kyungsoo dengan seksama. Memang benar, saat ini Kyungsoo tengah mengusap-usap bagian perutnya. "Tidak mungkin." Baekhyun bergumam.
Kyungsoo yang menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh sepasang manik milik Baekhyun pun tersenyum dan mengangkat tangannya untuk melambai. Membuat Baekhyun terlonjak malu karena sudah ketahuan memperhatikan Kyungsoo.
Dengan terpaksa, Baekhyun menarik senyumnya. Di dalam otaknya, kilas kejadian saat Chanyeol meminta Kyungsoo menjadi pasangannya benar-benar membuat dadanya terasa nyeri. Dan karena itu, Baekhyun mulai merasa tidak nyaman saat dirinya melihat Kyungsoo. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin marah tapi ia tidak mengetahui alasannya.
Ia tidak sedang cemburu kan?
…
…
Baekhyun mengerakan tubuhnya dengan kaku. Matanya melirik gelisah Kyungsoo yang berjalan di sebelahnya dengan senyum lembut.
Entah sial atau bagaimana. Saat selesainya perjamuan makan siang itu, Baekhyun dan Kyungsoo tiba-tiba saja bertemu satu sama lain saat Baekhyun berniat untuk memberi makan Bacon. Dengan senyum paling manis yang tidak bisa Baekhyun tolak, Kyungsoo menawarkan diri untuk membantunya.
Baekhyun menurunkan ember yang berisi rumput dan dedak. Mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Bacon. Baekhyun tersenyum girang saat melihat Bacon makan dengan lahap. Bulunya yang putih bersih dan tubuhnya yang gagah benar-benar membuat Bacon menjadi kuda paling cantik yang pernah dia punya.
Di sebelahnya, Kyungsoo pun memandang Bacon dengan penuh takjub. Bibirnya mengeluarkan kata 'woah' secara berturut-turut. " Kuda ini benar-benar cantik, Tuan Baekhyun." Gumamnya sambil memainkan surai panjang di leher Bacon, " Yang Mulia benar-benar pintar dalam memilih seekor hewan."
Baekhyun menganguk sambil tersenyum. Diam –diam dia memperhatikan seluruh tubuh dan penampilan Kyungsoo. Menyadari bahwa lelaki itu terlihat lebih berisi dan perutnya tampak besar.
─ternyata, yang dikatakan Mingyu itu benar adanya.
"TUAN!"
Kyungsoo dan Baekhyun membalikan badan mereka berdua saat menyadari sebuah suara memanggil mereka. Baekhyun menyipitkan matanya dan menyadari seorang juru masaka berlari ke arah Kyungsoo.
"Ada apa?" Kyungsoo bertanya dengan lembut pada anak buahnya itu.
Anak buahnya itu mengatur napasnya sebentar sebelum akhirnya memberi hormat pada Kyungsoo dan Baekhyun. " Tuan─" ia memanggil, "─sang raja memanggilku dan bertanya-tanya apakah tuan sudah mengambil keputusan atas tawarannya?"
Kyungsoo tersentak mendengar pertanyaan itu dan ia mulai merasa tidak nyaman. " a-aku─aku belum memutuskannya. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Yang Mulia."
Anak buah Kyungsoo itu menganguk dan pergi dengan wajah kecewa. Meninggalkan Kyungsoo yang menghela napas berat lalu kembali mengelus surai Bacon.
Di sisi lain, Baekhyun berpura-pura sibuk dengan makanan Bacon meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat gelisah dan tersakiti. Baekhyun menelan ludahnya sebentar sebelum membuka mulutnya, berusaha mengutarakan apa yang ada di pikirannya sambil dan menepis rasa sakit di dadanya.
"A-aku sungguh berduka atas Kai." Ujar Baekhyun. Pemuda manis itu mengangkat matanya dan menemukan Kyungsoo menghentikan gerakannya. Kyungsoo membatu untuk sementara sebelum akhirnya menolehkan wajahnya. Menampilkan senyumnya yang jelas sekali tampak dipaksakan.
"Te-terima kasih tuan." Jawab Kyungsoo. Wajahnya menyendu dan ia seolah akan menangis. Bulir-bulir air mata telah mengumpul di ufuk matanya.
Baekhyun mengeleng, rasa bersalah menyusup ke dalam dadanya saat melihat Kyungsoo yang tampak begitu hancur. " Oh Kyungsoo─kau harus kuat." Dengan sepenuh hati, Baekhyun berjalan mendekat dan memeluk tubuh itu.
Di dalam pelukan Baekhyun, Kyungsoo bergetar dan suara isaknya terdengar. " Di-dia, hiks!─meninggalkanku." Tangan Kyungsoo naik membalas pelukan Baekhyun. "Hiks! terkadang─aku berpikir bahwa Kai─hiks!hiks! ─ tidak mencintaiku." Ujarnya sambil membenamkan wajahnya pada bahu Baekhyun.
" Tidak Kyungsoo! Jangan berpikir seperti itu!" Baekhyun melepaskan pelukannya dari Kyungsoo, mencekram kedua lengannya dengan penuh keyakinan, " Kai sangat mencintai dan menyayangimu! Kau harus tahu itu!"
Kyungsoo mengeleng, air matanya terus berjatuhan dengan deras. " jika dia mencintaiku ─hiks─mengapa dia meninggalkanku?" Kyungsoo jatuh di atas tanah, tak kuasa menahan tubuhnya, " a-aku bodoh! Aku sungguh seperti orang bodoh! ─membeli gelang keabadian berharap dia akan terus bersamaku."
"Kyungsoo." Baekhyun memanggil, memandang Kyungsoo dengan penuh kelembutan dan keyakinan. "Kau harus tahu bahwa Kai begitu mencintaimu! Dia memandangmu seolah engkau adalah dunianya! bahkan─hingga akhir ayatnya dia hanya memikirkanmu dan bayi kalian."
Kyungsoo terdiam,isakannya mereda dan ia mulai nampak tenang meskipun air matanya tetap mengalir. Samar-samar, ia terus mengeluarkan ucapan lirih secara berulang-ulang, " mengapa? ─mengapa Kai? Mangapa dia?!"
…
…
Kyungsoo dan Baekhyun terdiam di padang rumput selagi Bacon berlari-lari bebas di belakang mereka. Saat ini, Kyungsoo sudah mulai tenang dari tangisannya dan Baekhyun dengan penuh simpati menyakinkan Kyungsoo untuk menceritakan keluh kesahnya agar ia merasa lebih baik.
Jadi─Kyungsoo menceritakan semuanya. Ia menceritakan betapa terpukulnya dia akan kematian Kai, dan kegelisahannya akan nasib anak mereka. Terkadang ia masih menangis tersedu-sedu dan Baekhyun akan menenangkannya. Baekhyun hanya bisa memaklumi─tidak semudah itu bagi kita melepaskan kepergian orang tercinta.
Hari sudah mulai senja, dan Baekhyun serta Kyungsoo tahu bahwa mereka harus kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Baekhyun bangkit dan memanggil Bacon untuk dikembalikan lagi di kandangnya.
"Kyungsoo, aku harus kembali ke aula untuk mengikuti ujian babak ketiga esok hari." Ujar Baekhyun.
Kyungsoo menganguk, ia tersenyum simpul dengan matanya yang bengkak, " Tuan, aku sunguh berterima kasih atas penghiburanmu hari ini." Ujarnya, tangannya meraih telapak tangan Baekhyun dan mengengamnya erat.
Baekhyun menganguk, cahaya senja membuat hati keduanya menjadi hangat. "Kyungsoo, boleh aku mengatakan satu hal padamu?"tanyanya. Raja Persei itu memandang dalam-dalam mata Kyungsoo yang menatapnya penuh tanda tanya.
Kyungsoo menganguk.
"Kau tahu─ anak ini…" Baekhyun memandang lembut perut Kyungsoo dan mengelusnya, " ia akan memerlukan banyak hal. Ia memerlukan makanan yang sehat, baju yang bagus. Yang terpenting─ia memerlukan seorang ayah."
Kyungsoo menegang, ia memandang Baekhyun dengan intens seolah mengatakan ' apa kau tahu apa yang kau bicarakan?'
Baekhyun menganguk, " a-aku tidak tahu apakah tawaran sang raja adalah yang terbaik untukmu, tapi─"Baekhyun menahan napasnya, ia maju mendekap tubuh juru masak itu sambil berbisik, "─jika ini adalah satu-satunya pilihanmu maka terimalah."
"Kau berhak untuk memilih apapun yang terbaik bagimu Kyungsoo."
Setelah itu, Kyungsoo tersenyum simpul, "aku mengerti. Aku akan memutuskan pilihanku segera." Katanya sebelum kemudian dia pergi meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun sendiri, ia terjatuh di tanah dan menangis sunyi ketika Kyungsoo sudah tidak terlihat lagi. Karena dia sungguh tahu, bahwa di hati terdalamnya ia tidak menginginkan Kyungsoo untuk menerima tawaran Chanyeol.
Ia tidak tahu mengapa dan bertanya-tanya akan perasaan yang dirasakannya ini! Ia bukanlah siapa-siapa bagi Chanyeol.
Lalu mengapa ia begitu marah?
Baekhyun kembali ke kamarnya dengan lesu, dan akhirnya ia mengacuhkan Mingyu yang menanyainya macam-macam. Baekhyun sangat lelah karena terus-terusan menangis, jadi ia langsung mengambil tempat istirahatnya di dalam aula dan tidur. Ia harus bersiap-siap untuk menghadapi babak ketiga esok hari.
Tapi, keesokan harinya. Babak terakhir itu belum juga diadakan sehingga membuat seluruh peserta kebingungan. Seorang peserta mencoba bertanya pada para panitia, namun hanya mendapatkan jawaban tidak berguna seperti "tunggu saja lah!
Jadi, mereka menyimpulkan bahwa babak ketiga akan diundur sementara.
Baekhyun sendiri, ia akhirnya menghabiskan satu hari senggang itu dengan menunggangi Bacon dan mengobrol lebih jauh dengan Mingyu dan beberapa orang lainnya, lalu pergi tidur dengan cepat. Baekhyun sendiri, tidak menyangka bahwa akan diberikan sedikit 'kejutan' di waktu tidurnya.
Jadi─pada saat seluruh orang sudah tidur. Tiba-tiba terdengar gebrakan kencang pada pintu aula dan segerombolan orang berbaju serba hitam tertutup masuk. Orang-orang itu bertingkah seperti banteng mengamuk, menyerang semua orang dan memberikan cairan yang tampaknya berasal dari bunga Poppy, karena sesaat setelah menghirup cairan itu, mereka jatuh tertidur.
Baekhyun sendiri awalnya mencoba melawan, ia berhasil melumpuhkan dua orang. Tapi seseorang punya tangan yang cukup cepat dan berhasil membuatnya menghirup cairan yang membuat mengantuk itu. Maka Baekhyun bernasib sama dengan peserta-peserta lainnya─tertidur lelap.
Tubuh mereka kemudian dinaikan dengan barbar ke atas kereta kuda dan dibawa ke tempat dimana babak ketiga akan dimulai.
…
Baekhyun mengerang sambil membuka matanya. Suara dengungan yang menyakitkan terdengar di telinganya dan kepalanya menjadi sangat pening. Suara orang-orang yang membentak tidak karuan terdengar, dan Baekhyun segera sadar sepenuhnya dengan mulut menganga.
Di mana ini?!
Baekhyun terdiam tegang dan memandang ke sekelilingnya. Mereka ada di hutan rimba!? Baekhyun membuka menutup mulutnya saat melihat pohon-pohon yang besar menjulang itu. Sinar mentari tampak remang-remang di balik cakrawala, menandakan bahwa pagi akan menyapa sebentar lagi.
Beberapa peserta yang lulus babak kedua telah tampak membuka matanya, yang lain masih tampak tidak sadar. Baekhyun dapat melihat Mingyu masih tergeletak di tanah, sedangkan orang-orang yang Baekhyun kira adalah panitia ujian sudah mulai berbaris rapi di depan mereka semua.
Baekhyun segera menghampiri Mingyu dan menguncangnya. Mingyu berdecak dan mengingau sebentar sebelum akhirnya merasakan tamparan di pipinya hingga ia terlonjak bangun. Jadi, masih dengan jalan yang terhuyung-huyung, Baekhyun dan Mingyu masuk ke dalam barisan.
"Semuanya sudah bangun?" tanya seseorang pria yang sudah cukup tua yang berada paling depan, wajahnya nampak sudah keriput namun badannya masih tegap. Ia memandang rendah semua peserta dengan matanya yang mengintimidasi itu.
"Itu komandan Jung. Petinggi militer di Exordium untuk raja sebelumnya." Mingyu berbisik di sebelah Baekhyun sambil berkali-kali mengedipkan matanya yang berair. " astaga! Kepalaku sangat sakit! Pasti mereka menghajarku banyak-banyak semalam!" gerutu Mingyu kemudian.
"Semuanya sudah bangun?" tanya komandan Jung kepada anak buahnya, ia menganguk saat melihat respin positif dari anak buahnya, " bagus."
"─sekarang. Ujian yang sebenarnya akan segera dimulai." Komandan Jung tersenyum dari balik kumis putihnya. Anak buahnya lalu membawakan sebuah kotak dan memberikannya kepada para peserta untuk diambil isinya.
"Aku akan membagi kalian menjadi dua buah grup." Ujarnya, para peserta kemudian mengambil benda yang ada di dalam kotak tertutup itu. Saat tangan mereka keluar, satu orang mendapatkan kertas berwarna merah, dan yang lain berwarna biru.
"OH ASTAGAAA!" Mingyu menutup mulutnya syok saat melihat warna kertas yang ia pegang. Ia melambai-lambaikan kertas berwarna merah yang ada di tangannya memperlihatkannya kepada Baekhyun yang memegang kertas berwarna biru.
" Kita tidak berada di grup yang sama?" desis Mingyu kesal. Lalu matanya melirik sosok Yunho yang mengengam kertas berwarna merah di tangannya. "─dan si bedebah itu satu grup denganku!" bisiknya.
Komandan Jung yang melihat bahwa seluruh peserta sudah mendapatkan warnanya pun memerintahkan mereka untuk berkumpul satu sama lain. Tim merah dan Tim biru dengan masing-masing 11 anggota. "Seluruh orang sudah mendapatkan timnya?"
" Bagus. Karena aku akan menjelaskan peraturan babak ketiga ini kepada kalian." Komandan Jung menyeringai. Ia mengambil gulungan kertas yang diberikan kepadanya, " pertama-tama, kalian lihat sebuah angka kecil di kertasmu? "tanyanya, membuat semua orang memperhatikan kertasnya masing-masing, Baekhyun sendiri mengernyit heran saat menemukan angka 50 di kertasnya.
" Jangan sampai musuh melihat angkamu." Lanjut komandan Jung yang akhirnya membuat kedua tim menjaga jarak satu sama lain. Laki-laki tua itu terkekeh, " angka-angka itu adalah sebuah poin. Masing-masing tim mempunyai 7 buah kertas bernilai 10 poin, 3 buah kertas bernilai 20 poin, dan hanya ada 1 buah kertas bernilai 50 poin. Kalian tentu tahu bagaimana cara mainnya? Kalian hanya tinggal merebut kertas-kertas itu dari musuh kalian, dan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya."
Komandan Jung lalu berbalik, menunjuk puncak gunung yang mereka pijak saat ini. " Aku akan menunggu kalian di puncak gunung besok kehilangan kertasnya akan gagal─yahh, kecuali kalian dapat merebutnya kembali." Komandan Jung menaikan kedua bahunya,"Jadi, dapat disimpulkan pemenangnya adalah mereka yang tidak kehilangan kertasnya, berhasil sampai ke puncak gunung, dan mempunyai poin paling tinggi di antara yang lainnya."
"Tim merah dan tim biru silahkan mendatangi anak-anak buahku agar nama dan poin kalian dapat dicatat. Dan kalian akan diantarkan ke lokasi di mana petualangan kalian akan dimulai."
"Kupikir hanya itu yang dapat kujelaskan." Tutup lelaki tua itu. Ia awalnya hendak bergegas pergi namun teringat satu hal. "Ah dan satu tambahan lagi." Komandan Jung menepuk kepalanya sambil terkekeh, ia lalu tersenyum lebar dan manis sekali, " kalian boleh membunuh satu sama lain."
Perkataannya itu sontak membuat para peserta menegang dan memandang takut satu sama lain. Tak terkecuali dengan Baekhyun yang menyadari bahwa Yunho melihatnya seolah akan menusukan belati kepadanya.
Di lain sisi, Mingyu menyempatkan diri untuk menepuk bahu Baekhyun, " Baek, aku akan mengawasi Yunho, agar dia tidak dapat menyentuhmu sedikitpun. Kau lihat wajahnya? Dia seolah ingin mengunyahmu!"
Baekhyun memandang Mingyu dengan tidak enak, lalu mengeleng, " Tidak perlu, kau kan juga harus mengawasi dirimu sendiri. Aku bisa menjaga diriku sendiri Mingyu."
Mendengar jawaban Baekhyun, Mingyu kemudian menghembuskan napas kesal, " Baek, kau tahu? Sejak aku pertama kali mengenalmu. Aku mempunyai firasat bahwa membantumu akan menjadi suatu keuntungan untukku!" ujar Minyu, berasur-asur ia menampakan senyumnya yang lebar.
Baekhyun terdiam. Memandang terpana pada senyum tulus Mingyu. Hingga akhirnya membuatnya luluh dan menganguk, "Baiklah Mingyu. Aku berharap padamu. Pastikan dirimu selamat juga!" Baekhyun memperingatkan, sambil berjalan kembali kepada timnya. Bersiap naik ke atas kereta kuda.
Mingyu menganguk yakin. Lalu berlari pergi.
Baekhyun sendiri memandang pohon-pohon rimbun di depannya itu dengan tatapan datar. Berbagai macam pemikiran melanglang buana membuatnya sungguh cemas.
"UGH!" Baekhyun menahan napasnya dan mengaduh kesakitan saat rasa mual yang ia rasakan setiap pagi itu muncul lagi. Dalam hati Baekhyun berdoa, berharap bahwa ia akan baik-baik saja.
Ia akan baik-baik saja kan?
.
.
.
To be Continued
A/N: Hallo! Halo! Ketemu lagi denganku sang Author PHP! #ditampar _rame_rame. Oke, pertama-tama, aku mau mengucapkan bahwa aku minta maaf banget sama reader-deul sekalian karena ingkar janji dan ngak update-update sampai sekarang. Jadi─kemaren itu kan aku janji mau update tanggal 14 Januari. Itu sebenarnya aku memang benar-benar mau serius update, tapi taunya aku sakit, dan udah keburu UAS duluan. UAS-nya selesai, eh kena remedial sana sini. #capedeh
Terus juga, aku berharap kalian ngak bosan yang baca chapter yang ini karena interaksi ChanBaeknya ngak ada.
Yang kedua, as always aku benar-benar berterima kasih kepada para reader sekalian. Yang sudah review dan favorit-in ff ini makasih banyak. Terutama juga untuk yang masih menunggu dan membaca hingga author note ini. Buat yang suka nagihin update kak Restika Dena, makasih kak (berkatmu aku jadi terpacu buat ngetik). Trus buat teman-temanku Myungie, Serunii, dan Tasha, makasih sudah kasih semangat supaya aku ngetik. ehehehehe. Tambahan juga, untuk baekpie461, Cheonsa528, dan Dongchimi Chanbaek. Maaf ya, aku ngak balas pm kalian yg nanya kings kapan update. Aku sumpah ngak pernah buka akun ffn kalau ngak update. Maaf ya, dan terima kasih juga sudah perhatian dengan ff ini. #kecup.
Terakhir, boleh jujur dong? Iya dong? Iya kan?!
Ok. Jadi gini, sebenarnya waktu aku nulis 'To Be Continued' di chapter ini, aku ada di dalam keadaan dimana aku ngak tahu harus ngelanjutin chapter depan itu gimana ceritanya. Jadi di dalam pikiranku itu, aku ngak punya bayangan akan membuat chapter depan seperti apa jadinya. Semua plot yang kusiapkan untuk chapter depan rasanya jadi ngak masuk akal. Kayaknya, aku kena 'story block' deh, keadaan dimana author tidak punya ide lanjutan untuk sebuah cerita. #nangis
Jadi intinya begitu. Karena itu, sepertinya chapter selanjutnya tidak akan diketahui berojolnya kapan…#maafkan
Mohon pergertiannya ya reader-deul. Aku perlu waktu untuk nge-fix ide cerita buat chapter depan.
Yang pasti, untuk saat ini aku benar-benar butuh semangat dari kalian. Cukup bilang 'fighting author' ngak apa-apa kok. Kalau mau nagih update juga silahkan, supaya aku ngak ngalor ngidul malas-malasan dan akhirnya nelantarin nih ff.
Makasih ya, sampai berjumpa lagi di chapter depan.
Btw, kalau ada yang mau kontak add line ivanajossyca
