Grey Morning "Sweet Enemy" (Noren Version)

Cast :

Huang Renjun

Lee Jeno

Qian Kun

Seo Jihee (OC)

Nakamoto Yuta

Summary:

Semua orang menganggap Renjun beruntung karena bisa mendapat beasiswa dan bisa tinggal di mansion keluarga Lee. Tetapi tidak ada yang mengerti bahwa yang paling diinginkan Renjun adalah bisa lulus sekolah dan kemudian bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Dan hubungannya dengan Jeno membawa sebuah masalah rumit di kehidupannya sekarang.

Genre:

Romance, Hurt/Comfort

Rate: T

Warning:

BL, Yaoi, out karakter. Cerita ini bukan punya aku, aku hanya meremakenya jadi versi NOREN, cerita aslinya punya Kak Santhy Agatha judul novelnya Sweet Enemy… Jadi kalo nemu crita yg sama dengan pair yg beda, itu wajar. Harap maklum karna critanya emang bagus, jadi banyak yg meremakenya (termasuk aku juga.. hehehe)

Thanks to:

babu keluarga lee, JaeEun21, Cheon yi, Wiji, It's YuanRenkai, chittaphon27, nichi, nrlyukkeuri96, hopekies, FujosGirl, oohseihan, Guest, hiroomi-kun, Cho Kyungmint, Moominoren, dan yang udah follow & favorite ini epep

.

.

-oOo-

10

"Orang yang menyimpan rencana jahat selalu bersembunyi di kegelapan, mengamatimu dalam diam."

(..•ˋ_ˊ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk

-oOo-

Renjun menatap perempuan itu yang sedang berdiri sambil tersenyum aneh kepadanya. Perempuan itu sangat cantik, tentu saja, meskipun sudah setengah baya. Pakaiannya berwarna merah mencolok dan dandanannya lumayan berani dengan warna-warna tak kalah terang.

Saat ini pengawal perempuan itu sudah memborgol tangannya di ranjang hingga Renjun tidak bisa bergerak. Dia hanya diam tak berdaya di bawah tatapan perempuan itu.

"Kau tumbuh menjadi pemuda mungil yang manis, Renjun." Perempuan itu tersenyum manis sambil mengawasi seluruh penampilan Renjun.

Sementara itu Renjun mengernyitkan matanya, kenapa perempuan itu mengetahui namanya? Dan dari kata-katanya yang mengatakan bahwa Renjun tumbuh menjadi pemuda manis… Seolah-olah dia tahu tentang masa kecil Renjun. Tetapi siapa dia? Renjun bahkan tidak punya ingatan sama sekali tentang perempuan ini. Kalau benar perempuan ini mengenal Renjun di masa kecilnya, mungkin saja memang Renjun tidak ingat. Renjun melupakan semua kenangan tentang masa kecilnya, entah kenapa. Appanya juga tidak pernah menanyakan tentang itu, seolah ada tembok pembatas yang menutup antara Renjun kecil dengan Renjun yang sekarang, ingatan pertamanya di masa kecilnya adalah ketika appanya membawanya ke rumah mereka yang sederhana. Sejak saat itu, di dunia ini hanya ada Renjun dan appanya. Appanya bilang mereka hanya tinggal berdua karena eommanya telah meninggal.

"Apakah kau mengenalku di masa kecilku?" Renjun menatap perempuan itu dengan berani, "Kata-katamu seolah tahu bagaimana aku di waktu kecil."

Perempuan itu agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Renjun, dia lalu mengamati Renjun dengan seksama, "Well… Kau tidak ingat masa kecilmu ya? Kau tidak ingat aku?" Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sungguh suatu kebetulan yang menguntungkan."

Apa maksud perempuan ini? Renjun mengerutkan keningnya bingung. Tetapi rupanya perempuan itu tidak ingin membantu menjelaskan kebingungannya, dia malah berdiri, masih dengan senyum manisnya.

"Mungkin lebih baik kalau kau tidak ingat siapa aku, aku jadi lebih leluasa," dikedipkannya sebelah matanya, "Sementara kau bisa memanggilku sampai kau ingat."

Lalu Soojun pergi, meninggalkan Renjun di kamar itu terkurung dan terborgol, tak bisa kemana-mana.

-oOo-

Setelah menerima telepon dari orang yang meminta tebusan itu, Jeno menatap Kun yang duduk di depannya dengan tajam, polisi sedang berkumpul di sisi yang lain mencoba melacak telepon itu dan juga suara peneleponnya, sementara Jihee tadi meminta izin untuk ke kamar mandi. Sedangkan Yuta berada di bandara untuk menjemput eomma Jeno yang sebentar lagi mendarat.

"Apa maksud kata-katamu tadi?" Kun hanya melirik ke arah Jeno, lalu memalingkan mukanya, "Bukan apa-apa."

"Kau bilang kalau Renjun adalah adikmu."

Mata Kun menatap dengan tajam, "Dia memang adikku."

"Bagaimana bisa?" Jeno memajukan tubuhnya, "Kau berasal dari keluarga kaya, dan Renjun…"

"Aku adalah anak angkat." Kun menjelaskan dengan dingin. "Renjun adalah adik kandungku. Ya, kalau kau bertanya, Huang Zitao adalah appaku, dari dialah aku menuruni bakat bermain biola. Kami dulu satu keluarga yang utuh, appa, eomma, aku dan Renjun." Tatapan Kun berubah penuh kebencian. "Sampai kemudian appa menyelamatkan seorang anak kecil dan kariernya hancur… Dia tidak bisa bermain biola lagi, dan semua rencana masa depan keluarga kami musnah… Eommaku meninggalkan appa dan membawaku pergi, memisahkanku dari Renjun yang dibawa oleh appa."

"Apa?" wajah Jeno memucat mendengar penjelasan Kun, matanya masih bersinar tidak percaya, "Oh… Astaga…"

"Kau terkejut Jeno?" Kun tersenyum sinis, "Apalagi aku. Sejak awal aku sudah curiga Renjun adalah adikku, dan aku mencari tahu. Semuanya jelas ketika kau menjelaskan bahwa kau berhutang budi kepada Renjun karena appa kami menyelamatkanmu." Kun menyipitkan matanya, "Secara tidak langsung, kaulah yang memecahkan keluarga kami menjadi tercerai berai."

Jeno meremas rambutnya dengan frustrasi, informasi ini sama sekali tidak disangka-sangkanya. Bagaikan hantaman yang mengejutkan.

"Dan aku bersumpah, Jeno. Kau tidak akan bisa membuat kami terpisah lagi. Renjun adalah adikku, dan sudah saatnya aku mengklaim hak-ku sebagai kakaknya. Akulah yang berhak melindungi dan menjaganya, bukan kau. Dan kalau Renjun kembali nanti, aku akan menjauhkan Renjun darimu."

Jeno masih tidak mampu berkata-kata. Tetapi bayangan Kun akan menjauhkan Renjun darinya membuat jantungnya terasa diremas. Tidak! Dia tidak akan mau dijauhkan dari Renjun. Tetapi… Bagaimana kalau Renjun yang pada akhirnya menjauhinya? Bagaimana kalau sama seperti Kun sekarang, setelah mengetahui bahwa dialah yang menyebabkan mimpi dan karier Zitao hancur hingga meninggal dalam kemiskinan, Renjun akan membencinya dan menyalahkannya?

Jeno belum sempat bersuara ketika polisi mendatanginya untuk memberikan informasi.

"Kami sudah mencoba melacak telepon itu, tetapi belum berhasil karena penculik menggunakan telepon sekali pakai, yang sekarang sudah tidak aktif lagi… Sementara itu dari analisis suara, penculik mengubah suaranya, tetapi kami bisa pastikan bahwa suara itu adalah suara seorang perempuan."

Jeno dan Kun sama-sama tertegun. Perempuan?

-oOo-

Jihee berjalan pelan-pelan menelusuri lorong di lantai dua. Semua orang tampaknya sibuk di lantai bawah, sehingga lantai dua mansion ini tampak lengang. Dia membuka handel pintu dan mengintip, dari tadi dia belum menemukan kamar yang dicarinya.

Di pintu ketiga inilah dia menemukan kamar yang dicarinya, seringainya melebar dan setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya, Jihee melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati.

Di pandangnya seluruh area kamar itu dengan haus, lalu dia mengeluarkan kamera untuk memotret setiap sudutnya, siapa tahu pada malam-malam sepinya dia ingin melihat-lihat gambar kamar-kamar ini dan membayangkan pemiliknya. Matanya mengarah ke arah lemari pakaian, dengan bersemangat dibukanya lemari pakaian itu, baju-baju tertumpuk rapi di sana. Jihee menyentuhkan jemarinya ke seluruh pakaian itu, kemudian matanya melirik jaket yang tersampir di kursi. Diraihnya jaket itu dan dipeluknya, dihirupnya aroma itu dengan sepenuh kenikmatannya.

Lalu dia duduk di kursi itu dan menemukan parfum sang pemilik kamar. Dengan penuh gairah, diambilnya parfum itu dan dioleskannya ke leher, dan di antara buah dadanya. Sekarang aroma mereka akan sama. Jihee mencatat nama parfum itu dalam hati, berjanji akan membelinya nanti. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar dengan seringai puas, karena telah berhasil memasuki area paling pribadi orang yang sangat sangat diinginkannya…

-oOo-

Dongwoo datang beberapa saat kemudian menemui Soojun. Dongwoo adalah pemuda dengan usia 15 tahun di bawah Soojun, dia bekerja sebagai bartender di klub tempat Soojun sering datang dan mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih yang sangat cocok dalam memuaskan gairah masing-masing. Dongwoo jugalah yang memberinya ide untuk menculik Renjun dan kemudian mereka akan membagi hasilnya bersama.

"Kau bisa pergi." Soojun mengayunkan tangannya menyuruh pengawalnya pergi. Dia mendapatkan pengawalnya dari rekomendasi Dongwoo juga yang bersedia bekerjasama kalau dia dibayar gajinya senilai 20% dari hasil penculikan itu, dan tentu saja Soojun menyetujuinya, karena kalau dikurangi 20% pun, hasil penculikan itu masih cukup banyak kalau dibagi antara dia dan Dongwoo.

Setelah pengawalnya pergi, Soojun menyilangkan kakinya dengan menggoda, membuat Dongwoo meliriknya dengan bergairah, yah meskipun jauh lebih tua, tubuh Soojun masih menggiurkan bagi setiap laki-laki yang melihatnya.

"Jadi kau sudah meminta uang seperti yang kita bicarakan kemarin?" Mata Dongwoo masih melirik ke arah paha Soojun, membuat Soojun tersenyum puas.

"Aku memintanya dan mereka menyetujuinya tanpa protes, kita akan mendapatkan uang itu lusa."

Dongwoo terkekeh, "Jadi benar kalau Lee Jeno sangat tergila-gila kepada anakmu ya?" Matanya mengedip genit, "Tidak heran. Kau eommanya, juga selalu bisa membuat para lelaki tergila-gila, mungkin bakat itu menurun darimu."

Soojun tertawa genit, "Mungkin juga. Tetapi aku jelas lebih segalanya dari anak itu." Soojun menyulut rokoknya dan duduk dengan santai, "Semua berjalan lancar, dan kita akan kaya sebentar lagi."

"Ya…" Dongwoo memajukan tubuhnya, "Tidakkah terpikir olehmu kalau kau bisa mendapatkan uang lebih?" Matanya bersinar licik.

"Uang lebih?" Soojun tampak tertarik, apapun yang berhubungan dengan uang dan kekayaan selalu menarik baginya, "Bagaimana caranya?"

"Kun," gumam Dongwoo penuh arti, "Katamu dia sekarang jadi anak kaya dan pewaris tunggal… Tentu saja dia menginginkan adiknya kembali bukan?"

Soojun mengerutkan keningnya, "Kun memang selalu ada bersama Renjun, itu dari pengintaianku… Tetapi sepertinya mereka tidak menyadari kalau mereka adalah kakak beradik."

"Kau bisa meneleponnya diam-diam, atau aku yang akan melakukannya supaya dia tidak curiga bahwa kaulah dalang di balik semua ini." Dongwoo menatap dengan membujuk, "Aku akan memberikan informasi kepadanya bahwa Renjun adalah adiknya, dan melarangnya memberitahu Jeno kalau aku menelepon, kemudian aku akan meminta sejumlah besar uang darinya untuk informasi keberadaan Renjun, tentu saja aku akan mengatur agar dia mengetahuinya sama dengan Jeno, jadi dengan begitu kita mendapatkan pemasukan ganda dari dua lelaki ini." Dongwoo terkekeh, "Ideku cukup bagus bukan?"

Soojun mengernyitkan keningnya dan tercenung, dihisapnya rokoknya dalam-dalam, lalui dia membunuh rokok itu di asbak, dahinya mengernyit tidak setuju. "Tidak Dongwoo, aku tidak akan melakukannya, itu sama saja bunuh diri, Kun akan menyadari bahwa dalangnya adalah aku dan rencana kita akan gagal."

Dongwoo menghela napas panjang dan mengangkat bahu, "Oke, aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak setuju, sayang, aku cuma usul kok."

Soojun menatap Dongwoo mesra, "Terima kasih sayang, lagipula uang tebusan kita sudah cukup banyak untuk kita bersenang-senang," matanya berubah sensual, "Kita bisa menyewa tempat pribadi dan bercinta seharian di sana."

Dongwoo balas tersenyum dengan sensual, tetapi benaknya berkecamuk. Tidak. Uang itu tidak cukup, Dongwoo masih harus membaginya dengan Soojun dan si pengawal itu. Dia harus mendapatkan uang lebih itu. Dan jikalau Soojun tidak mau bekerjasama dengannya, dia akan bertindak sendiri, dia akan menghubungi Kun dan meminta uang sebanyak mungkin, meskipun itu harus mengorbankan Soojun…

-oOo-

"Kalian harus makan." Jihee memarahi Jeno dan Kun yang menolak untuk makan, padahal koki mansion telah menyiapkan sejumlah makanan besar untuk menjamu mereka dan team polisi yang masih bertugas di rumah itu, menanti telepon selanjutnya. "Dalam kondisi seperti ini kalian harus kuat, kalau kalian tidak makan, kalian akan lemah dan mungkin jatuh sakit."

Kun tetap tak bergeming, hanya melemparkan tatapan dingin kepada Jihee tetapi Jeno tersenyum dan menatap Jihee dengan berterima kasih.

"Terima kasih Jihee, aku akan makan nanti."

Jihee menganggukkan kepalanya dengan manis, "Kau tidak keberatan kan kalau kau menginap di sini? Aku ingin mengetahui perkembangan kabar tentang Renjun secepat mungkin."

Jeno menganggukkan kepalanya, "Tentu saja tidak, Jihee, kau tinggal bilang kepada kepala pelayan dan mereka akan menyiapkan kamarmu."

"Aku tidak mau merepotkan…" suara Jihee tampak ragu, "Bolehkah aku tidur di kamar Renjun saja?"

Kun langsung menegakkan tubuh dan menatap Jihee curiga, tetapi tidak berkata apa-apa. Sementara itu Jeno menatap Jihee sambil mengerutkan alisnya, "Kenapa kau memilih tidur di kamar Renjun?"

Mata Jihee tampak sedih, "Aku merindukan Renjun, dan aku mencemaskannya, mungkin dengan berada di kamarnya aku bisa lebih tenang, dan berdoa untuknya."

Jeno masih menatap Jihee bingung, tetapi kemudian dia menemukan ketulusan di mata perempuan itu, dia mengangkat bahunya, "Terserah kamu Jihee, yang penting kau merasa nyaman."

"Terima kasih Jeno-ssi." mata Jihee melebar dan berbinar, hal itu tak luput dari perhatian Kun yang menatap curiga. Tetapi pikirannya terlalu kalut sehingga dia kemudian hanya memalingkan matanya ke arah lain dan menunggu.

-oOo-

Penculik itu menelepon beberapa jam setelahnya, menginformasikan cara pemberian uang itu. Uang itu harus tunai, dengan nomor seri acak dan dimasukkan ke dalam ransel warna hitam bermerk khusus, merk yang sangat terkenal di kalangan anak muda akhir-akhir ini.

Jeno sendiri yang harus membawa ransel berisi uang itu, dan meletakkannya di sudut taman kota, dekat area olahraga, di sebuah tong sampah yang ada di sana. Penyerahan uang itu lusa, tepat pukul sembilan pagi, dan tidak boleh ada polisi. Kalau penculik tahu ada polisi, maka Renjun akan dibunuh.

Jeno menyetujui semua itu, sehingga ketika polisi hendak mengiringinya untuk menyergap penculik itu, Jeno menolak.

"Uang ini tidak masalah bagiku, yang penting Renjun kembali."

"Tapi bagaimana kalau anda menyerahkan uang itu, ternyata penculik mengubah pikirannya dan tidak melepaskan tuan muda Renjun? Sampai sekarang kita juga tidak tahu kondisi tuan muda. Apakah dia masih hidup, apakah kondisinya baik… Setidaknya izinkan saya memasang pelacak di ransel itu."

Jeno mengerutkan keningnya, bayangan Renjun dilukai atau bahkan meninggal membuatnya ketakutan, "Lakukan apapun yang menurut anda perlu, tetapi berjanjilah anda tidak akan membahayakan keadaan Renjun."

-oOo-

Pemuda itu sedang tertidur pulas, Dongwoo mengintip dari pintu yang rupanya lupa dikunci, tadi pelayan mengirimkan makanan ke kamar ini, dan yang pasti lupa menguncinya, karena kuncinya masih tergantung di luar pintu, menggoda Dongwoo untuk membukanya. Lagipula pintu ini tidak perlu dikunci, kata Soojun toh Renjun sudah di borgol di ranjang sehingga kemungkinannya melarikan diri kecil… Hari sudah menjelang malam dan ruangan ini sedikit temaram, tetapi mata Dongwoo masih bisa melihat wajah manis Renjun yang sedang tertidur kelelahan karena seharian ini mencoba melepaskan diri dari borgol dan berteriak-teriak minta dilepaskan, tetapi sia-sia.

Dengan hati-hati dia melangkah masuk dan makin dekat di sisi ranjang. Pikiran mesum langsung melintas di otaknya. Dia sangat ingin mencicipi tubuh mungil ini sebelum dikembalikan, rasanya pasti nikmat…

Dengan penuh nafsu Dongwoo duduk dipinggir ranjang, tangannya mengelus betis Renjun. Renjun yang sedang tertidur langsung terjaga dan waspada. Matanya membelalak ketakutan ketika melihat lelaki yang tidak dikenalnya sedang duduk di tepi ranjangnya dan menyeringai mesum, dan jemari lelaki itu menggerayangi betisnya.

"Apa yang kau lakukan?" Renjun berteriak panik, membuat lelaki itu ikut panik, dia berusaha membekap mulut Renjun tetapi Renjun meronta-ronta dan mencoba berteriak sekeras mungkin, membuat lelaki itu kewalahan.

"Ada apa ini?" Soojun muncul di depan pintu menatap curiga ke arah Dongwoo dan Renjun, dia memakai jubah tidurnya dan tampaknya terbangun dari tidurnya.

Dongwoo tersenyum kepada Soojun, "Aku hanya ingin melihatnya Soojunnie… Dan laki-laki bodoh ini meronta-ronta entah kenapa…"

"Kau menggerayangi kakiku!" Renjun berteriak keras membuat Soojun menatap Dongwoo yang pucat dengan tatapan menuduh.

"Keluar dari kamar ini Dongwoo!" serunya marah, dan langsung dituruti Dongwoo yang segera keluar dari kamar itu.

Setelah itu Soojun berkacak pinggang dan menatap Renjun dengan cemburu, "Kau memang lebih muda dariku, tetapi jangan berani-beraninya kau menggoda kekasihku. Jangan jadi lelaki murahan, mengerti?" Soojun berteriak marah sebelum melangkah keluar dan membanting pintu itu dengan suara berdebum.

Ketika mengunci pintu itu dari luar, dia menatap Dongwoo yang menunggu di sana dengan tatapan bersalah.

"Kuharap kau tidak marah sayang, aku hanya ingin menggodanya," jemari Dongwoo terulur dan menelusuri pipi Soojun dengan lembut.

Soojun langsung mengibaskan tangan Dongwoo dengan marah, "Kau keterlaluan Dongwoo, menggoda anak itu hanya karena dia lebih muda," matanya menyala-nyala. "Kalau kau tidak bisa menjaga tanganmu, aku akan mengeluarkanmu dari rencana ini, aku akan menendangmu dan kau akan pergi tanpa sepeser uangpun!"

Lalu dengan langkah berderap, Soojun pergi dan meninggalkan Dongwoo yang termenung dan menatap sampai sosok Soojun hilang di belokan lorong.

-oOo-

Tidak mendapatkan sepeserpun? Dongwoo menyeringai jahat, melirik ke arah kamar Renjun yang sekarang terkunci rapat. Soojun sangat bodoh berani-beraninya mengancamnya. Dia semakin membulatkan tekad untuk mengambil jalannya sendiri. Dongwoo lebih cerdik dan licik daripada Soojun. Dia akan mengorbankan Soojun dan yang pasti dia akan mendapatkan banyak uang.

-oOo-

Tengah malam ketika ponsel Kun berbunyi. Dia dan Jeno yang rupanya tertidur di ruang tamu tergeragap bersamaan.

Nomor itu tidak dikenal, Kun mengernyit sementara Jeno memperhatikannya dengan tegang. Kun lalu mengangkatnya.

"Halo Kun-ssi," suara di sana terdengar licik dan menyebalkan, suara seorang laki-laki, "Kau mungkin kaget kalau mendapatkan informasi ini, tetapi Renjun adalah adik kandungmu."

"Siapa ini?" Kun langsung menyambar marah, membuat Jeno memperhatikannya dengan seksama.

Suara di seberang sana terkekeh, "Kau tidak perlu tahu tentang aku… Kalau kau ingin menyelamatkan adikmu, aku punya informasi yang berguna untukmu, tetapi tentu saja kau harus membayarnya di muka."

"Apa maksudmu?"

"Aku minta uang." suara diseberang sana masih penuh senyuman, "Dan akan kuberitahukan dimana lokasi adikmu diculik. Aku akan mengubungimu lagi nanti."

Lalu telepon itu ditutup. Kun termangu, tetapi Jeno menyadarkannya dengan pertanyaannya.

"Siapa?"

Kun mengernyit. "Penelepon misterius, dia berkata akan memberitahukan posisi Renjun asal aku memberinya uang."

Jeno langsung menegakkan tubuhnya. "Apa?"

"Ya…" Kun tercenung, "Dan anehnya dia memberiku info bahwa Renjun adalah adikku… Tidak pernah ada orang yang tahu tentang hubungan kami ini, orangtua kami tidak punya saudara, bahkan tidak ada yang bisa melacak keberadaanku setelah aku diambil sebagai anak angkat, namaku pun berubah… Tidak ada yang bisa melacakku sebagai kakak Renjun, kecuali…" Kun teringat kata-kata polisi tadi bahwa penculik yang menelepon itu adalah perempuan. Dia terkenang akan ketamakan eommanya terhadap uang. Matanya menajam menatap Jeno sungguh-sungguh, "Kurasa Jeno… Penculikan ini ada hubungannya dengan…eommaku."

-oOo-

.

.

-oOo-

11

"Jatuh cinta adalah ketika kau mengharapkan keberadaannya, di saat dia tiada."

(..•ˋ_ˊ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk

-oOo-

Nyonya Lee datang menjelang pagi, dan mereka berkumpul bersama di ruang keluarga dengan tegang. Jihee tampaknya belum bangun, lagipula ini masih jam empat pagi.

"Eommamu?" Tatapan nyonya Lee melembut kepada Kun, selama ini dia hanya tahu Kun adalah anak rekan bisnisnya, dia tidak pernah tahu bahwa Kun adalah anak angkat, dan kejutan terbesarnya adalah bahwa Kun adalah kakak kandung Renjun. "Sebelumnya aku ingin minta maaf kepadamu Kun… Sedikit banyak semua hal yang terjadi ini, yang membuat kau terpisah dengan keluargamu adalah karena Zitao appamu menyelamatkan Jeno dari usaha penculikan."

Kun memalingkan muka, tampak murung.

"Kalau boleh saya tidak ingin membahas hal itu sekarang," gumamnya tenang, "Tentang eomma kandung saya. Dia adalah perempuan yang tamak, sangat menyukai uang dan akan melakukan segalanya demi mendapatkan uang. Saya pikir dia pasti mendapat kabar bahwa Renjun diangkat sebagai anak dari keluarga Lee. Sehingga dia pikir dia bisa mengambil keuntungan darinya. Saya yakin bahwa dialah dalang dari penculikan ini."

Para polisi sudah bertugas berdasarkan informasi Kun ini untuk melacak keberadaan ibu kandung Kun, sehingga mansion keluarga Lee tampak lengang. Hanya ada beberapa polisi yang berjaga, menanti kalau-kalau lelaki misterius yang barusan menelepon Kun memutuskan untuk menelepon lagi.

"Apakah eommamu sama sekali tidak pernah mencoba menemuimu?" tanya Nyonya Lee hati-hati.

Kun tersenyum samar, "Menghubungi? Dia menjual saya demi uang, yang dia pakai untuk bersenang-senang di luar negeri. Waktu itu saya masih kecil dan tidak berdaya, tetapi setidaknya saya bersyukur karena keluarga angkat saya sangat baik." Suara Kun hilang, ada kesedihan yang pekat di matanya.

Sementara itu Jeno menatap Kun dan menyadari. Karena itulah Kun sangat membenci perempuan. Lelaki itu selalu bersikap lembut dan tenang, tetapi dia selalu menghancurkan hati perempuan manapun yang dipacarinya, semuanya pada awalnya selalu dibuai dengan kebaikan dan kelembutannya sehingga akhirnya tergila-gila, lalu kemudian Kun menghancurkannya hingga hati para perempuan itu patah berkeping-keping. Jeno bisa memahami perasaan Kun, memiliki ibu kandung sekejam itu memang menyakitkan, Jeno tidak bisa membayangkan kalau dialah yang dijual oleh eommanya sendiri.

Dan ternyata Kun adalah kakak kandung Renjun, seperti yang dikatakannya tadi. Informasi itu sudah diterimanya sejak tadi tetapi baru bisa dicernanya sekarang. Diliriknya Kun, dan menyadari ada kemiripan yang tak kentara diantara Kun dan Renjun, tiba-tiba hati Jeno terasa sakit. Selama ini dia yang memposisikan diri sebagai kakak Renjun dan menikmatinya. Sekarang seolah-olah posisi itu direnggut oleh orang yang benar-benar berhak dan dia kemudian dilempar begitu saja. Rasa mencengkeram yang menyesakkan dada ini…

Apakah dia cemburu?

-oOo-

Petugas polisi kembali dengan membawa kabar gembira, mereka telah berhasil melacak sebuah rumah yang disewa atas nama Soojun, ibu kandung Kun. Mereka sudah mengirimkan tim pengintai untuk mengawasi aktivitas rumah itu. Rumah itu adalah rumah sederhana yang terletak di ujung jalan, jauh dari tetangga, saat ini kondisi rumah itu sepi, dan sepertinya tidak ada kegiatan yang mencurigakan. Orang-orang nampaknya berada di dalam rumah. Dari hasil pengintaian, seorang lelaki tampak keluar masuk di pintu untuk merokok. Dan Soojun dipastikan ada di dalam rumah itu, dia terlihat dari jendela sedang menikmati sarapan yang sedang dihidangkan oleh pegawainya. Sepertinya hanya ada tiga orang di dalam rumah itu.

Kun mengernyitkan kening ketika mendengar semua informasi itu, "Anda harus menyergap ke dalam rumah itu, saya yakin Renjun ada di sana."

Petugas polisi itu menatap Kun dengan pandangan ragu, dia tentu saja tidak mau menyerbu dengan gegabah dan pada akhirnya menyerang orang yang tidak bersalah, "Bagaimana anda bisa yakin?" tanyanya.

Kun tersenyum sinis ketika membayangkan eommanya, "Eommaku bukanlah orang yang mau tinggal di sebuah rumah sederhana, dengan hanya satu dua pelayan." Meskipun lama tidak bertemu eommanya, Kun cukup yakin watak lama eommanya tidak akan berubah, sebenarnya dia merencanakan pembalasan, dia pernah mengirim detektif swasta untuk melacak eommanya. Dan detektif itu melaporkan bahwa eommanya terdampar di Las Vegas, hidup berfoya-foya meskipun hampir bangkrut. Setelah itu Kun kehilangan jejak eommanya. Ternyata eommanya sudah ada di negara ini. "Kalau dia tinggal di rumah sederhana seperti itu, hanya ada satu kemungkinan, dia sedang bangkrut dan kalau dia bangkrut dia akan memikirkan segala cara untuk mendapatkan uang, Renjun adalah jalan termudah baginya." Dengan tak sabar Kun bangkit dari kursinya, "Aku akan mengunjungi rumah itu kalau kalian tidak segera melakukannya."

"Aku ikut." Jeno segera berdiri dari kursinya. Cemburu? Petugas polisi itu menatap kedua lelaki di depannya berganti-ganti lalu menghela napas, "Saya akan mengatur strategi dulu dengan team kami untuk berjaga-jaga. Kalau memang tuan muda Renjun diculik dan disekap di sana, ada kemungkinan kalau penculik itu bersenjata. Dan anda berdua boleh ikut ke sana kalau anda berdua berjanji akan tinggal di dalam mobil demi keselamatan kalian."

-oOo-

"Kau harus makan. Kalau kau mati kami tidak akan mendapatkan uang." Pengawal Soojun meletakkan mangkok makanan itu dengan kasar di meja dekat ranjang, lalu melirik tangan Renjun yang tidak diborgol, "Makanlah."

Renjun memajukan dagunya keras kepala, "Tidak." Dia tidak mau menerima makanan dari para penjahat ini, siapa yang tahu kalau makanannya mungkin sudah diracun atau yang lain? Kemarin saja dia dibius untuk dibawa kemari, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan pengawal itu kepadanya? Lagipula Renjun harus tetap waspada, dia merinding memikirkan lelaki berwajah mesum yang meraba-raba kakinya kemarin.

Pengawal Soojun menatap Renjun dengan marah, "Huh, dasar kau menyusahkan!" Dengan marah dia membanting pintu kamar itu dan meninggalkan Renjun sendirian di dalam.

Tak lama kemudian Renjun mendengar suara gaduh yang membuatnya bingung, suara itu seperti barang beradu dan juga teriakan-teriakan yang bercampur aduk. Jantung Renjun berdegup kencang.

Ada apa di luar?

Lalu kenop pintunya diputar. Renjun memandang pintu itu dengan waspada, melirik ketakutan ke arah pergelangan tangannya yang diborgol. Dia tidak akan bisa melarikan diri ke mana-mana…

Lalu pintu terbuka dan seorang lelaki berpakaian polisi masuk, membuat Renjun lega luar biasa.

"Tuan muda Renjun?"

Renjun langsung mengangguk dengan bersemangat, hampir saja dia berdiri dan hendak menubruk polisi itu saking leganya, tetapi kemudian mengaduh ketika pergelangan tanggannya tertahan oleh borgolnya.

Polisi itu mengerutkan keningnya ketika melihat tangan Renjun diborgol, dia lalu membungkuk di sana dan mencoba membuka borgol itu dengan sebuah kawat kecil yang tersimpan di sakunya.

"Keadaan sudah terkendali, para penculik sudah berhasil diringkus, anda sudah aman." Polisi itu sudah berhasil melepaskan borgol Renjun, "Anda bisa berjalan sendiri?"

Renjun mengangguk, lalu dengan sempoyongan, dibantu oleh polisi itu mereka berjalan menuju ke bagian depan rumah. Bagian depan itu sudah ramai, dengan beberapa mobil polisi di sana. Lelaki berwajah mesum itu, Dongwoo dan Pengawal Soojun sudah ditangkap dan diletakkan di belakang mobil polisi. Sementara perempuan cantik bernama Soojun itu masih berdiri diborgol di dekat mobil polisi, sedang dimintai keterangan. Renjun menatap mereka semua dengan ketakutan, tetapi para penculik itu tampaknya sudah tidak bisa melukainya lagi.

"Renjun!"

Itu suara Jeno yang memanggilnya, Renjun menoleh dan mendapati Jeno dengan tergesa keluar dari mobil, dengan disusul oleh Kun di belakangnya.

"Jeno hyung!" Renjun lega luar biasa, setelah disekap dan ketakutan, melihat orang yang dikenalnya terasa sangat menyenangkan.

Jeno setengah berlari menghampirinya, dan setelah didekatnya lelaki itu berdiri ragu, menatap seluruh diri Renjun seolah ingin menyerapnya.

"Kau tidak apa-apa?"

Renjun menganggukkan kepalanya, dan sedetik kemudian, bahkan sebelum Renjun menyadarinya, dia sudah dipeluk erat-erat oleh Jeno. Aroma maskulin parfum Jeno memenuhinya, dadanya yang hangat melingkupinya, sejenak Renjun membeku dipeluk seerat itu oleh Jeno.

"Oh astaga aku mencemaskanmu," Jeno bergumam lirih, lalu sejenak dia menjauhkan Renjun dari tubuhnya, "Kau tidak apa-apa kan? Kau benar-benar tidak apa-apa?"

Renjun membalas tatapan Jeno, masih merasa bingung akan pelukan dan kelembutan Jeno, "Aku tidak apa-apa…"

"Tanganmu." Kun yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelah Jeno dan Renjun bergumam, tatapan matanya menajam menatap tangan Renjun, dia meraih pergelangan tangan Renjun dan menelitinya, "Pergelangan tanganmu merah dan luka."

Jeno ikut melihat ke arah pergelangan tangan Renjun dan matanya bersinar marah, "Apa yang mereka lakukan kepadamu, Renjun?"

"Mereka memborgolku di ranjang." Renjun meringis, "Laki-laki yang disana itu sempat meraba-raba kakiku, tetapi selebihnya mereka tidak berbuat apa-apa kepadaku."

"Apa?" Jeno dan Kun berseru bersamaan dengan marah, kedua lelaki itu bertatapan lalu melirik Dongwoo yang sudah siap di bawa ke kantor polisi.

"Aku akan membunuhnya." Jeno mendesis tajam, membuat Kun mengangguk tanda setuju.

"Kita bunuh dia nanti bersama-sama."

Renjun menatap Jeno dan Kun berganti-ganti. Kenapa kedua lelaki ini mendadak jadi begitu perhatian kepadanya? Ada apa sebenarnya?"

"Renjun! Kun!" Suara perempuan cantik itu berteriak memanggil, dia diborgol dan berusaha meronta dari pegangan polisi dan mencoba mendekati mereka, "Eomma merindukan kalian sayang! Tidakkah kalian merindukan eomma? Tegakah kalian melihat eomma diperlakukan kejam seperti ini?" Soojun berusaha berteriak-teriak menarik perhatian mereka.

Ekspresi wajah Kun berubah dingin luar biasa ketika mengalihkan tatapannya kepada Soojun. Tetapi perempuan itu tampaknya tidak peduli.

"Kun? Kau ingat eomma nak? Kau berhutang budi kepada eomma, eommalah yang membuatmu bisa menikmati hidup berkecukupan seperti sekarang, sekaranglah saatnya kau membalas budi kepada eomma."

Kun hanya menatap Soojun dengan pandangan merendahkan dan tidak peduli, lelaki itu mengalihkan tatapannya begitu saja membuat Soojun panik dan sadar bahwa dia tidak akan bisa menarik perhatian Kun, karena itu Soojun mengalihkan pandangannya kepada Renjun.

"Renjun, sayang, ingat eomma nak. Ini eomma. Kakakmu Kun memang tidak tahu terima kasih, tetapi kau tidak mungkin berbuat begitu kepada eomma kan? Ini eomma sayang, eomma kandungmu!"

Renjun terpaku mendengarkan kata-kata Soojun. Eomma kandungnya? Apa maksud Soojun bahwa Kun adalah kakak kandungnya? Dia menatap Kun dan Jeno berganti-ganti, berusaha mencari jawaban. Tetapi Kun tetap memasang wajah dingin dan seolah menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Soojun, sementara Jeno tampak diam dan tak tahu harus berkata apa.

Soojun lalu dimasukkan paksa ke mobil polisi, perempuan cantik itu masih meronta-ronta dan berteriak mencoba menarik perhatian mereka, tetapi polisi tetap memasukkannya. Setelah itu mobil polisi itupun pergi membawa Soojun.

Renjun menatap ke arah Jeno dan Kun, memberanikan diri untuk bertanya. "Apa maksudnya tadi itu?"

Kun menghela napas, berusaha menyingkirkan kebencian di matanya ketika membayangkan Soojun, "Apa yang dikatakan perempuan tadi benar." Kun bahkan menolak menyebut nama Soojun, "Dia adalah eomma kandung kita, dan kau adalah adik kandungku." tatapannya menajam, "Dan sebagai kakakmu, aku berhak menentukan yang terbaik untukmu."

Kun lalu menatap Jeno dengan tatapan menantang, "Renjun akan pulang ke rumahku."

-oOo-

"Ikut denganmu?" Renjun menatap bingung pada Kun yang memasang tampang keras kepala. Jeno sendiri tampak tersentak dengan kata-kata Kun.

"Jangan main-main Kun hyung, Renjun tinggal di rumahku dan akan kembali ke sana seperti semula." Jeno merenggut tangan Renjun dan setengah menyeretnya meninggalkan Kun.

"Renjun." Kun tidak mengejar, hanya memanggil pelan.

"Aku kakakmu. Tidakkah kau ingin mendengar kenangan masa kecil kita? Seluruh kenangan yang kau lupakan karena trauma mendalammu? Aku bisa membuatmu mengingat semuanya."

Renjun tertegun. Membuat Jeno berhenti menariknya.

Mata Jeno membara melihat keraguan Renjun. "Jangan mimpi."

Jeno memberi isyarat kepada supir keluarga yang langsung mendekatkan mobilnya, dengan cepat di dorongnya Renjun masuk ke dalam mobil, "Kau tetap pulang denganku."

Mobil itupun melaju, meninggalkan Kun berdiri sendirian di sana.

-oOo-

.

.

TBC

I am back…

Ada yang kangen? /ga ada/

Kalo gg ada juga gpp, aku gg maksa wkwk…

Buat YoonCha, yeolloaddedbaek, nrlyukkeuri96, Akashi Akira, nichi, JaeEun21, Wiji, askasufa, Cheon yi, hopekies, Moominoren, kono Ouji sama ga inai, It's YuanRenkai makasih banget kalian udah review ff noren oneshoot "Cemburu", aku tertawa baca review kalian semua..

Mian aku hiatus gg bilang2 wkwk.. tp ini udah comeback lagi kok..

REVIEWNYA DONG

Sign

Minnie