Megurine Luka terdiam lama di depan pintu pagar rumah Hatsune Miku, dia tidak benar-benar berjalan menuju rumahnya saat Meiko mengucapkan selamat tinggal di depan pintu gerbang sekolah. Gadis berambut merah muda itu malah menuju rumah orang yang dicintainya Hatsune Miku. Dia ingin meminta maaf telah menepis tangan gadis yang dicintainya itu, sungguh kesalah pahaman yang tak ingin dilakukannya.
Luka memperhatikan rumah itu dengan seksama. Rumah Hatsune Miku masih sepi seperti biasa. Dengan langkah penuh was-was Luka membuka pintu pagar rumah Miku yang tak terkunci, jauh di dalam hatinya Luka sedikit marah karena kecerobohan gadis itu dan disisi lain hatinya dia sangat senang bisa masuk kedalam batas pertahanan pertama rumah Miku. Selanjutnya hanyalah pintu masuk menuju rumah dan Luka akan berada di dalam rumah Hatsune Miku untuk yang kedua kalinya.
Luka yakin bahwa pintu rumahnya juga pasti tidak akan ditutup rapat. Dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan gadis itu melangkah, tangan kanannya menyentuh kenop pintu memutarnya perlahan, benar saja pintu itu sama sekali tak terkunci. Luka mengucapkan salam saat memasuki rumah itu meskipun pemilik rumah hampir tak bisa mendengar suara Luka. Dengan segera gadis berambut merah muda itu menuju ke kamar Miku, walaupun dia baru sekali berada di sana dia bisa menghafal dimana letak kamar Miku. Dan begitu dia telah sampai di kamar Miku dia terkejut, gadis bermabut toska itu sedang tertidur diatas meja penuh buku dan kertas-kertas dan dengan bekas air mata dipipinya.
Chapter 10
VOCALOID © YAMAHA, Crypton, etc.
Yuri!
Miku Hatsune terbangun dari tidurnya yang tak bisa dikatakan nyenyak tapi dia menikmati setiap detik dari tidur itu walaupun dia harus terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat dan sedikit pusing yang menyerang. Miku menguap kecil, gadis berambut biru toska itu berusaha untuk mengumpulkan energinya yang terbang entah kemana saat dia tertidur untuk mencerna apa yang sedang dia lakukan saat ini, dan saat semua itu terkumpul gadis itu langsung terkejut melihat seorang gadis berambut merah muda panjang sedang tertidur disampingnya diatas ranjangnya—bersamanya. Gadis berambut biru toska itu berpikir sejenak, seingatnya dia sedang melakukan survey untuk sesuatu hal di atas meja belajarnya—dan tertidur di sana, apakah gadis merah muda itu membawanya keatas ranjang—mengangkatnya keatas ranjang kesayangannya—dan tertidur bersamanya?
Miku tersenyum. Tangannya dengan ragu bergerak membelai lembut wajah Luka. Kegiatan Miku sejenak terhenti ketika dia mengingat kejadian beberapa saat yang lalu di sekolah, Megurine Luka telah menepis tangannya dengan kasar dan menatap tajam tak suka padanya. Senyum tulus yang tersungging di wajah Miku digantikan dengan senyum miris. Gadis itu kemudian menghentikan kegiatannya membelai wajah Luka. Bangkit dari tempat tidurnya dan segera menuju ke dalam kamar mandinya.
Ketika Hatsune Miku keluar dari kamar mandinya dia sudah mengenakan baju santainya. Dia memandang Luka yang masih tertidur di atas ranjangnya kemudian menghela napas berpikir bahwa Megurine Luka yang ada di sini sekarang ini terlihat seperti anak kecil yang tertidur pulas. Ini sama seperti saat itu, saat dia tertidur—tidak tepatnya dia pingsan—kemudian gadis itu membawanya ke rumahnya, dan dengan jahilnya gadis merah muda itu merebut ciuman pertamanya—tidak. Ciuman pertamanya memang milik gadis itu. Lagi pula, mereka telah berciuman secara tak sengaja di perpustakaan.
Miku tersenyum. Bodoh. Kenapa aku? Pikirnya. Jika dia mengingat kejadian saat Luka menepis tangannya dia merasa sangat sakit dan perih, kemudian setelah itu pikiran buruk menyerangnya dan setelahnya dia berteriak kepada dirinya sendiri. Bodoh. Dia mendekat ke arah Luka, menatap wajah yang tertidur itu lekat dari jarak yang hanya satu jengkal. Apa yang aku pikirkan sekarang? Menciumnya agar dia terbangun? Tunggu dulu itu perbuatan bodoh! Lagi pula aku bukan si jahil Luka! B-baka. Hatinya membatin, kepalanya menggeleng, wajahnya memerah. Ya, begitulah Hatsune Miku.
Miku masih dalam posisinya tadi wajah Luka yang tertidur itu makin merasuki otaknya untuk melakukan hal mesum seperti yang dilakukan Luka padanya. Perlahan gadis itu terus mendekat, jarak diantara wajahnya dan wajah Luka bukanlah satu jengkal lagi. Perlahan, bibir mereka terus akan bertemu. Hanya satu sentimeter lagi sebelum Megurine Luka terbangun dan menatapnya dengan sedikit kaget, namun tatapan itu kemudian berubah menjadi tatapan menggoda Luka. Miku kaget, dengan refleks dia mundur dari hadapan Luka dan memalingkan wajahnya. "A… K-kau sudah ba-bangun, eh? Ha… haha."
Luka bangun dari posisi tidurnya, sekarang dia duduk menatap Miku kemudian dia tersenyum yang tidak bisa diartikan. "Ara, Miku. Apa yang ingin kau lakukan pada gadis yang sedang tertidur sepertiku?"
Miku menggelengkan kepalanya dan membuat tanda silang dengan kedua tangannya. "A-aku tidak melakukan apapun! B-baka, baka!" wajahnya memerah dan dia berjalan mundur selangkah.
Luka mendekat ke arahnya. "Itu kejahatan, kau berniat menciumku , eh?"
"Ti-tidak, mana mungkin. Jangan berharap yang tidak-tidak. Baka," dia memalingkan wajahnya berharap agar rona merah di wajahnya tak terlihat oleh Luka.
Luka tertawa. "Apa ini? Miku menjadi Tsundere?" dia melangkah tepat ke depan Miku, membuat gadis itu menatap wajahnya. Matanya menatap mata Miku dalam. Rona wajah Miku terlihat jelas di matanya. Luka membuat Miku tak bisa bergerak, dia mengunci kedua tangannya dengan menempelkannya ke dinding. Perlahan bibir Luka mendekat ke bibirnya. Kemudian terdengar sebuah kalimat yang sangat samar dari mulutnya—sangat samar sampai tak terdengar oleh Miku—kemudian mereka benar-benar berciuman.
Semua itu hanya sesaat, Megurine Luka hanya menempelkannya bibirnya saja, kemudian dia melepaskan ciumannya dari Hatsune Miku. Luka menatap Miku. Dia tersenyum miris.
"Miku," panggilnya.
Miku menatapnya. "Iya, Luka?" jawabnya.
Luka melepaskan dirinya, dia berbalik dan berjalan menuju meja belajar Hatsune Miku. Menarik kursi yang ada di sana perlahan dan mulai duduk. Tangan kirinya menumpu dagunya dan tangan kanannya mengambil sebuah pulpen yang ada di atas meja Miku. Sedangkan Miku masih ditempatnya berada, terdiam menapat Megurine Luka. Luka mengambil tasnya dan mengeluarkan kumpulan naskah komiknya. Kemudian dia menghelakan napasnya berat. "Deadlinenya…hari ini, dan aku belum menyelesaikannya, aku telah gagal." Gadis itu tertawa kecil.
Miku melangkah menuju ke arahnya. "Selesaikanlah, Luka," kedua tangannya memeluk tubuh Luka dari belakang.
"Jika aku menyelesaikannya maka… Miku… kita…" ucapan Luka terhenti, tangan Miku menutup mulutnya sebelum gadis merah muda itu menyelesaikan ucapannya.
Miku memeluk Luka semakin erat. "Baka. Kita akan selalu bersama selamanya, kisah cinta kita bukanlah sesuatu yang memiliki deadline. Dan kisah cinta kita bukan ukiran tulisan bergambar atau apapun!" dia berhenti dan menarik napasnya panjang manatap ke setumpuk kertas bergambar di atas mejanya. "Kisah kita adalah sebuah kisah nyata. Luka. Kau dan aku adalah penulisnya," lanjut gadis itu kemudian.
Luka tersenyum bahagia. Tangan kanannya mengelus tangan Miku yang memeluknya, dia merasakan kehangatan tubuh mereka telah bersatu. "Satu halaman terakhir…"
"… harus berakhir bahagia," ucap mereka berdua bersamaan.
"Miku…"
"hmm?"
"Kau tidak marah padaku?"
"Untuk apa?"
"Karena, yah aku menepis tanganmu saat itu…"
"Tidak."
"Terima kasih…"
"Tidak perlu berterima kasih, aku tidak akan pernah marah atau melakukan sesuatu yang baik."
ooo
'Malam itu, aku mengakhirinya dengan menulis halaman terakhir dari komikku bersama dengan Miku yang memperhatikan aku membuat komikku—hanya tinggal selembar sih. Setelah selesai, aku berdua dengannya mengantarkan naskah ini bersama ke perusahaan komik terbesar di sana, menjumpai editorku.
Deadline-nya memang hari ini, tapi aku masih bisa memberikan naskah itu besok pagi-pagi sekali, begitulah katanya. Jika aku menyerahkannya besok, maka aku telah gagal—setidaknya begitulah menurutku, tapi aku tahu kegagalan bukanlah awal yang buruk tapi adalah awal untuk mencapai sesuatu kesuksesan yang lain. Tapi, aku ingin memulai semuanya dari yang baik untuk menjadi yang lebih baik lagi. Untuk itu aku berjuang demi memperoleh hasil yang terbaik dan juga aku akan menjaga Hatsune Miku untuk kedepannya dan untuk selamanya kami akan selalu bersama.
Aku telah berbaikan dengan Meiko Sakine, gadis itu telah menerima kenyataannya dan banyak berubah. Walaupun aku telah berteman dengannya kembali tapi tetap saja, ada yang berbeda, persahabatan yang telah terselip perkelahian dan kesalahpahaman akan terasa berbeda—menurutku. Besoknya, saat aku ke sekolah Meiko Sakine—sahabat terbaikku itu—mengumumkan kepindahannya ke sekolah lain dan untuk seminggu kedepan dia masih berada di sini. Mungkin aku akan merindukannya untuk setahun ke depannya.
Aku akan merindukanmu. Megurine Luka,'
Megurine Luka menutup diarinya—dia menghabiskan waktunya membaca ulang setiap lembar dari isi diarinya, kemudian gadis itu menatap keluar jendela—hari sudah sangat gelap—kemudian gadis itu tersenyum. Dia memandang ke arah rak buku di kamarnya, komik-komik hasil karyanya tersimpan rapi di sana termasuk komik itu. "Happy ending?" gumamnya.
Kemudian gadis beranjak dari kursinya menutup tirai jendelanya. Berjalan kearah tempat tidurnya, berbaring dan memejamkan matanya—tidur. Besok, dan seterusnya dia akan terus beruhasa! SEMANGAT!
END
Maaf ya akhirnya tidak memuaskan pembaca. Ide dari cerita ini sudah sangat kandas—hampir mendekati nol dan hampir mencapai dasar jurang, jika ditunda lebih lama maka akan hilang. Makanya ceritanya berakhir begini. Sekali lagi saya sebagai author meminta maaf jika endingnya tidak memuaskan. Dan juga, berterimakasih telah setia menunggu kelanjutan dan mereview fanfik saya. Saya menghargai usaha Anda. Maaf saya tidak bisa balas review satu-satu karena saya upload fic-nya dari HaPe.
Anyway, review?
