Aku bales review dulu ya... sekalian semuanya aja dan sekalian bales review chap lalu juga yang gak sempet aku bales :
Fuuyuki Ayasegawa : Makasi ya fuuyu-neesan udah nyempetin waktunya untuk rnr. Ini udah update. Ino akhirnya masih rahasia XDD.
Firdacha : hehehe... kamu suka sasuino ya? Makasi udah rnr.
Rikundou461 : Mereka udah tau kok, kalau mereka itu saudara se-ayah. Eerr... soal kehamilan Ino, Gaara pasti akan tau kok nanti. Ini udah diupdate lho, makasi ya rikundou-san udah rnr. Pain ya? Err... mungkin tidak di ff ini, maaf ya :'(
Inuzukarei15 : Goyang ranjang apaan sih rei-chan sayang? *tampangpolos* Ahh kamu terlalu vulgar. *tabokRei* Gaara nya mau kok kamu yang sewot sih rei? Ini udah update Rei, tapi bukan rateM GaaRei bahahaha... kamu bisa aja ya, jadi gemes? *ketjupRei*
Yamanaka tenten : penuh konflik? Iya. Intrik? Iya. Dan drama? Iyess bahahaha Saya berasa menyajikan infotement gagal yak? Makasi ya yamanaka-san udah mau rnr.
Helni954 : makasi ya helni-san ini udah semangat buat update. Makasi atas rnr dan kasi semangatnya. Sasuino ya? Itu kan udah ada janin uchiha. hihihi *ketawanista* muaach juga. :* :*
Exol : kata siapa sasu nyerah? *bertaya pada dinding kamar(?)* dan saya langsung guling-guling lho exol-san waktu baca review kamu. Ppffttt... *ikutmasukrumahsakitjiwa* nyerah itu bukan sasuke banget, pasti dia tunjukan kok siapa uchiha itu. *kibarbenderasasuino* makasi ya udah mau rnr.
Hana : ini udah lanjut hana-san makasi ya hana-san udah rnr.
Miya Maretha GaaIno : bahahaha... kamu kasian pada mereka ya? Padahal aku lebih kasian lho miya-san. Hiks... makasi ya miya-san udah mau dan selalu nyempetin buat rnr. *terharu/ketjupbasah*
Kaname : maaf ya mengecewakan, ini hanya tuntutan cerita kok. Gimana reaksi mereka pasti nanti terjawab kok. Malah adegan itu udah aku pikirkan sejak awal cerita. Tapi kalau aku kasi tau sekarang, entar kaname-san gapenasaran lagi donk? Err... soal judul, sebenarnya hanya judul itu yang terlintas diotakku waktu itu *digebukinmasal* tunggu aja sampai akhir kenapa saya membuat judul yang ganyambung gini. *dichidorisasuke* makasi ya kaname-san udah mau rnr. XDD
Chimi Wila chan : kalau seandainya satu chap boleh review beberapa kali pasti itu udah aku lakukan dan pasti chimi-senpai akan bosen baca review nyampahku di ff chimi-senpai XDD ditunggu ya liat reaksi Gaara mungkin chap depan hihihi. Perjuangan sasuke belum berakhir kok. Sabar ya. Aku juga iklas sakura sama jugo. Arigatou ya chimi-senpai udah mau rnr. :* :*
TikaChanpm : makasi ya udah rnr tika-san. Ditunggu aja ya gimana reaksi Gaara-ku(?) entar.
Minori Hikaru : ini udah dilanjut minori-san makasi ya udah rnr. X(
Tamiino : nanti gak konflik-konflik(?) kalau tarik ulur terus dan ino nya pasti capek. Hahaha makasi ya tami-san udah rnr bahkan sampai PM juga. *Kiss*
Sabaku No Dili : aku juga baper lho sabaku-san huwee. Makasi ya udah nunggu dan rnr. :*
Zielavienaz96 : duh... *tepukjidatsakura* sasuino bukannya sudah bersatu ya *dichidorisasuke* Tenang aja sasuke juga garela kok liat gaaino bersatu, hihihi makasi ya zielavienaz-san udah rnr.
Nami-switch : makasi nami-san *hug* soal endingnya? kamu harus sabar nunggu endingnya *puppyeyes* gaara sama aku aja ya. Sekali lagi makasi nami-san udah rnr.
Park shin hye : makasi ya park-san udah rnr dan ini udah dilanjut. XD
Guest : iya ini udah diupdate, makasi ya udah rnr. XD
Wardah : makasi koreksinya. Semoga kali ini bisa lebih baik makasi ya wardah-san udah rnr. XD
Amayy : sasu gaakan stress kok amayy-san, aku juga sedih pasti. Makasi udah rnr. XD
Triputriyuki : sabar ya buat nunggu reaksi gaara. Mungkin chap depan. Makasi udah rnr triputri-san. XD
Daisy kyuu : sebenarnya mereka sama-sama hancur lho. Makasi ya daisy-san udah mau rnr, dan maaf baru bisa bales reviewnya di chap ini. aku juga mau punya nee kek shizune ngomong-ngomong XD
Mell Hinaga Kuran : horee... susu frustasi *tossamamell-senpai* makasi ya mell-senpai udah mau rnr. *terharu*
Izumi Kim : gak bakalan digugurin kok untuk kali ini. pasrah ya? Hihihi makasi ya Izumi-san udah mau rnr. :*
Aulya'aina731 : makasi udah rnr aulya-san ini udah dilanjut. Maaf baru bales riviewnya sekarang. XD
Ok akhirnya selesai juga bales review. Kita mulai kecerita. Jeng... jeng...
DISCLAIMER: Naruto © Masashi Kishimoto.
RATE: M
WARNING : TYPO, AU, OOC, ^_^ banyak kesalahan dan jangan lempar saya kejurang.
(Ini ceritaku, aku bebas berimajinasi didalamnya. Dan aku adalah seorang Inocent akut jadi jangan memperparah ketidak sukaan anda pada Ino karena memaksa membaca cerita dari orang frustasi seperti saya.)
...
..
.
Enjoy
Setelah beberapa jam yang lalu mereka habiskan untuk berkunjung ke sebuah museum di Akropolis kini kedua pasangan pengantin baru itu sedang menikmati menu makan siang yang mereka pesan beberapa menit yang lalu di restaurant yang tak jauh dari museum.
Sebenarnya Ino yang meminta untuk mengunjungi museum terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengisi perut mereka. Dengan makanan khas Yunani, Tzaziki merupakan hidangan salad yang kini sedang dinikmati oleh wanita bermata biru.
Sedangkan Gaara lebih memilih menu makan siangnya dengan Moussaka, makanan yang berisi potongan kentang dan daging sapi cincang, kemudian dilengkapi dengan saus tomat dan ditaburi keju diatasnya dan kemudian dipanggang. Yang menurut Gaara akan lebih mengenyangkan daripada makanan yang kini sedang dinikmati oleh sang istri.
Gaara berpikir mungkin istrinya ini sedang menjaga tubuh indahnya, maka dari itu ia lebih memilih salad untuk makan siangnya.
Dan tentu saja Gaara tak keberatan saat tiba-tiba sang istri memintanya untuk mengunjungi museum yang dulu pernah ia datangi. Bahkan mengabaikan perutnya yang berteriak minta untuk diisi terlebih dahulu, sebab dari kemarin malam mereka belum mengisi perut.
Sebenarnya pria tampan itu sedikit kuatir dengan keadaan sang istri, yang tadi pagi wanitanya itu terlihat tidak sehat dengan memuntahkan isi perutnya dan wajahnya terlihat pucat. Namun wanita pirangnya itu menolak untuk pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan keadaannya.
Dan sekarang disinilah mereka, setelah menikmati makan siang, namun mereka masih enggan untuk beranjak dari restaurant yang tak terlalu besar itu. Mungkin mereka masih betah untuk menikmati siang hari mereka di kota indah, Athena.
"Aku tidak menyangka kalau kau ternyata tau banyak tentang cerita dewa-dewa Olympus?" Ino berucap sambil menikmati kopi yang dicampur dengan sedikit cream untuk mengurangi rasa pahit dan menatap suaminya.
Sedangkan Gaara yang mendengarnya pun hanya melirik sang istri. Lalu pria bersurai merah itu menatap keluar jendela kaca yang mengarah langsung keluar dimana ia dapat melihat beberapa orang yang keluar masuk ke dalam museum.
Restaurant yang berbentuk bangunan Victoria khas Negara-negara Eropa. Tak begitu besar namun cukup banyak penggunjung disiang itu. Ino dan Gaara memilih tempat duduk yang hanya ada dua kursi berbentuk sofa dan terletak didekat kaca besar. Memang restaurant itu terlihat apik dengan dinding-dinding kaca bening yang mampuh membuat penggunjung menikmati dan melihat suasana diluar restaurant.
"Aku pikir kau tidak tertarik dengan cerita-cerita mitologi seperti itu." Ino menambahkan, setelah Gaara belum memberi respon atas pernyataannya.
Kali ini Gaara menatap wanita yang sedang menunduk, mengamati gelas yang berisi kopi didepanya. "Aku hanya merasa cerita hidupku hampir sama dengan para dewa itu."
"Ehh...?"
Ino langsung mendongak setelah mendengar kalimatnya, pria itu juga sedang menatapnya. Tak ada respon lebih, atau lebih tepatnya ia sedang menunggu Gaara untuk melanjutkan kalimatnya, menjelaskan dari arti ucapanya.
Ia tidak mengerti. Selama ia mengenal Gaara, ia tau pria itu bukan seseorang yang suka bercanda, bahkan ia hampir tidak pernah melihat Gaara bercanda dengan ucapannya. Tapi dari mana kesamaan hidup pria ini dengan cerita mitologi Yunani itu?
Gaara yang paham akan kebinggungan yang ditunjukan oleh sang istri, pria itu tersenyum dan menjelaskan.
"Zeus, mempunyai banyak anak dari istri yang berbeda. Dan bukankah ayahku juga seperti itu?" ia berhenti dan meminum kopinya yang agak meninggin sebelum melanjutkan.
Ya, Ino tau soal itu, bahkan dari awal Gaara sudah memberitaunya namun pria itu sepertinya enggan untuk bercerita lebih lanjut dan ia juga tidak ingin memaksa Gaara untuk bercerita, sebab ia tidak terlalu tertarik mengenainya.
Tapi pikirannya malah mengarah apakah Gaara akan seperti ayahnya?
"Aku tidak ingin sepertinya." Gaara melanjutkan. Seakan ia tau apa yang sedang dipikirkan oleh wanitannya.
Ino masih menatapnya, bahkan ia sedikit membelalakan matanya setelah mendengar ucapan Gaara yang seolah mampuh membaca apa yang sedang ia pikirkan. Bukannya ia kolot ingin memiliki Gaara sendiri tapi wanita mana yang mau miliknya dibagi dengan banyak orang?
Dan bukankah berakhirnya hubungannya dengan Uchiha Sasuke adalah karena perselikuhan pria itu. Meski ia menolak untuk mengakui perselingkuhannya, tapi jelas dari cara ia enggak menikahinya dan menolak kehamilannya dulu.
Ia kembali menunduk saat mengingatnya. Entah apa yang sedang pria itu lakukan sekarang, apa ia masih suka minum dan melupakan jam makannya?
"Apa kau tau kalau ada putra Zeus yang mencintai wanita yang sama?" Suara Gaara menyentakkan Ino dari lamunannya. Ia kembali mendongak menatap suaminya dan seolah bertanya memangnya ada ya?
"Aphrodite istri dari Hefaistos dan selingkuh dengan Ares." Gaara tersenyum saat melanjutkan. "Kalau aku menjadi Ares aku tidak akan mendekati kekasih ataupun istri dari saudaraku sendiri. Meski secantik apapun dia."
Ino masih memperhatikan cerita dari sang suami. Ia tidak tau banyak tentang cerita mitologi yang melegenda itu, sungguh ia tidak pernah berpikir kalau pria seperti Gaara tau banyak tentang sejarah para dewa yang menjadi penjaga Negara ini.
"Tapi aku rasa Aphrodite-nya juga salahkan, kenapa dia mau berselingkuh dengan saudara suaminya?" ia sedikit memiringkan kepalanya ketika mengucapkan pertanyaannya. Hanya kalimat itu yang ia berikan untuk merespon cerita sang suami.
Gaara tersenyum ketika mendengarnya. Jadi ino benar-benar tidak tau soal cerita ini?
"Itu karena ia tidak bahagia dengan pernikahannya. Dan Ares jauh lebih tampan dari Hefaistos." Ia terkekek sedikit saat mengucapkannya.
Ino hanya membulatkan bibirnya membentuk hurup 'O' ketika mendengar penjelasan Gaara. "Dan bukankah Aphrodite itu adalah dewi tercantik?" Ino bertanya melanjutkan, sepertinya ia mulai tertarik dengan cerita yang sedang mereka bahas ini. Penasaran, setaunya Aphrodite adalah dewi yang mendapat gelat tercantik.
Gaara mengangguk dan menjawab. "Dia adalah Venus dan Ares adalah Mars."
"Jadi Aphrodite dan Ares adalah jodoh?"
Gaara kembali meneguk kopinya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Entalah tidak hanya ada dua pria itu dalam hidupnya. Karena dia cantik jadi siapa saja bisa menyukainya."
"Huuuuff... aku jadi tidak ingin menjadi Aphrodite." Ino mengerucutkan bibir mungilnya saat mengucapkannya.
Dan tindakan nya itu membuat Gaara sedikit tertawa. "Jadi kau ingin menjadi dewi tercantik itu?" masih dengan tersenyum ia bertanya dan dijawab oleh gelengan oleh wanita bermata indah di depannya.
"Aku ingin menjadi Athena, kalau bisa aku ingin menjadi gadis untuk selamanya." Ia memandang keluar jendela ketika mengucapkannya sedangkan Gaara menatapnya lekat.
Pria bermata jade itu tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh wanitanya dari kalimat yang baru saja wanita itu ucapkan. Ingin menjadi gadis selamanya? Seperti dewi yang mendapat julukan dewi perawan itu, Athena?
Athena mendapat julukan itu karena dewi itu memutuskan tidak menikah dan menolak berhubungan dengan pria, dan tetap menjaga keperawanannya. Apa mungkin Ino menyesal telah menikah dengannya? Apa wanitanya ini tidak bahagia?
"Apa kau bahagia Ino?" jadi pertanyaan itulah yang meluncur dari mulutnya.
Ino menoleh kearahnya, masih tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya, entah bahagia seperti apa yang dipertanyakan oleh pria itu.
"Apa kau terpaksa menikah denganku? Dan itu membuatmu tidak bahagia?"
Ino yang masih diam membuat Gaara memperjelas kalimatnya. Dan seketika Ino melotot mendengar kalimat itu keluar dari mulut pria didepannya. Jadi apa Gaara berpikir ia terpaksa menerima Gaara menjadi suaminya? Karena kehamilannya Padahal bukan sepenuhnya seperti itu, dan pria itu juga belum tau soal kehamilannya.
Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya, ia merasa takut dan bersalah secara bersamaan. Ia takut bagaimana kalau seadainya Gaara tau tentang kehamilannya dan merasa bersalah karena sampai sekarang ia belum bisa untuk mengatakannya.
Apa Gaara akan meninggalkannya setelah pria itu tau bahwa ia telah mengandung anak dari pria lain? Jujur bukan itu yang ia takutkan, tapi pertanyaan Gaara itulah yang ia takutkan. Gaara akan berpikir bahwa ia menerima lamaran pria itu karena kehamilannya.
"Gaara? Aku menerimamu bukan karena...-" ia semakin menunduk nencoba menguatkan diri untuk mengatakan kelanjutan dari kalimatnya. "-apa kau percaya kalau aku mencintaimu?" bukan, bukan kalimat itu sebenarnya yang ingin ia sambungkan untuk kalimat awalnya.
Gaara tersenyum memandangnya, pria berambut merah itu mengenggam tangannya dan mengusapnya lembut. Sebenarnya ingin sekali ia memeluk wanita didepannya itu namun meja menjadi penghalang keinginannya itu.
Seharusnya ia sudah tau bahwa wanita ini memang terpaksa menerimanya dan ia yang memaksa wanita ini untuk menjadikannya pelariannya, seandainya jawabannya yang ia dengar tadi adalah terpaksa tentu ia tak akan menyesal karena ia percaya waktu akan merubah semuanya. Tapi kebahagiaan wanita inilah yang ia pikirkan. Gaara hanya ingin membuat wanita yang ia cinta bahagia. Menutup luka yang mungkin pernah wanita ini dapatkan dulu.
Namun kalimat yang ia dengar tadi seolah membawa harapan baru untuknya. Tentu ia tidak ingin menjadi pria munafik yang tidak menginginkan balasan cinta dari wanita yang ia cinta. Ya mungkin waktu telah berpihak padanya. Namun siapa yang tau hati seseorang.
Ino merasa lega melihat respon dari suaminya meski rasa bersalahnya semakin bertambah seolah ingin melukainya lebih lagi. Ia berbohong namun tak sepenuhnya berbohong, ia mencintai pria ini meski hatinya juga masih ada tempat untuk mantan kekasihnya, Uchiha Sasuke. bagaimanapun juga terlalu sulit untuk sepenuhnya melupakan mantan cinta pertama dengan hubungan yang begitu lama mereka jalani.
Ia tidak tau mau sampai kapan ia akan menutupi kehamilannya ini, bukankah semakin lama akan semakin terlihat? Apa membiarkan Gaara mengetahui dengan sendirinya? Tapi apakah itu tidak menambah kekecewaan pria itu seandainya ia mengetahui tanpa ia beritau?
'Maaf!'
Lagi-lagi ia hanya mampuh mengucapkan kata itu didalam hatinya.
.
.
.
.
.
Naruto memutuskan untuk datang lima belas menit lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Sebeb Neji mengatakan jangan sampai terlambat dan tentu ia juga tau tentang perusahaan besar itu. Perusahaan Uchiha yang telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Hyuga, milik ayah mertuanya.
Sebenarnya ia enggan untuk bergabung di perusahaan mertuannya ini kalau saja istrinya Hyuga Hinata yang sekarang telah menjadi Namikaze Hinata tidak memaksanya untuk membantu sang ayah, mungkin ia lebih memilih merantau di Negara yang telah ia habiskan untuk menempuh pendidikan, Jerman.
Dan disinilah Naruto dengan sang sekertaris Yuhi Kurenai menunggu kedatangan orang dari perusahaan Uchiha. Disebuah hall hotel Hilton yang cukup besar untuk ukuran pertemuan rutin yang hanya dihadirin oleh empat orang saja.
Sekertarisnya telah menjelaskan semuanya bahkan dari pemilihan tempat, pihak Uchiha yang telah memilihnya. Mengapa sekertarisnya ini terlihat lebih tau segalanya dibandingkan dengan dirinya, jangan heran sebab wanita cantik ini adalah sekertaris dari sulung Hyuga, dan diminta untuk membantu dirinya yang memang butuh bimbingan diperusahaan dan jabatan barunya.
Sudah hampir sepulu menit berlalu dari awal kedatangannya dan Naruto belum juga melihat kedatangan orang yang ditunggu. Apa mungkin perusahaan sebesar itu memiliki orang-orang yang suka terlambat?
"Haaa..."
Pria tampan dengan kulit tan itu terlihat menghela napas setelah menyesap kopi yang memang telah disiapkan untuknya dimeja beserta makanan pembuka. Memang ini bukan pertemuan formal melainkan hanya pertemuan rutin untuk mempererat tali kerjasama dengan mengadakan makan siang bersama. Tapi meski begitu acara ini menjadi acara penting untuk kedua perusahaan.
Terlihat pintu utama hall terbuka menampilkan seorang pelayan yang sedang membukakan pintu tersebut untuk dua orang pria yang berbeda warna rambut.
Naruto mengernyit ketika melihatnya, seperti merasa tidak asing dengan pria yang bermodel rambut menyerupai pantat ayam berwarna drak blue yang sedang berjalan menuju kearahnya.
"Maaf! Apa anda sudah menunggu lama...?" pria tinggi dengan warna rambut silver sedikit membungkuk setelah sampai tepat dimeja tempat pertemuan.
Seketika Naruto dan sang sekertaris berdiri menyambut orang yang memang sedang mereka tunggu dan mempersilakan setelah menjawab kebinggungan kedua orang didepannya mengenai bos barunya.
"Dia Namikaze Naruto-sama, menantu dari Hyuga Hiashi-sama. Silakan Uchiha-sama, Hatake-sama!" ucap wanita cantik itu setelah memperkenalkan bos barunya.
Kakashi mengangguk mengerti sebelum memperkenalkan diri. " Dia Uchiha Sasuke dan saya Hatake kakashi." Kemudia kedua orang itu duduk dan diikuti Naruto dan sekertarisnya.
"Hisashiburi Naruto." Sasuke menyapa orang yang memang telah menarik ingatannya, sejak ia masuk dan melihat pria berambut kuning cerah yang juga sedang menatapnya tanpa kedip. Dan rasa penasarannya terjawab dengan Kurenai yang memperkenalkan nama-nya, sebagai Namikaze Naruto. Bos barunya sekaligus menantu dari pemilik perusahaan.
Sapaan Sasuke membuat Naruto yang sedari tadi menatapnya tanpa kedip pun tertawa dengan tidak elitnya. Dan sifat aslinyapun keluar.
"Wow... jadi kau benar Sasuke-Teme?"
Sasuke hanya mendengus melihat tingkah sahabat lamanya ini yang tidak pernah berubah.
"Kau sama sekali tidak berubah Naruto."
"Haa... haa... haa... kau juga tidak berubah Teme."
Dan akhirnya pertemuan keduannya dalam acara pertemuan rutin kedua perusahaan menjadi ajang reuni kedua sahabat lama itu. Bila sebelum-sebelumnya Uchiha muda itu tampak bosan dalam menjalani pertemuan rutin dengan Hyuga Neji, berbeda dengan kali ini. ia terlihat menikmatinya, ajang pertemuan kembali dengan sahabat lamanya.
Sedangkan kedua orang yang datang bersama mereka hanya tersenyum melihatnya sebelum kemuan mereka berdualah yang membicarakan tentang perusahaan yang menjadi tempat mereka berkerja sekarang. Mengabaikan kedua orang yang sedang asik berreunian disamping mereka.
"Aku tidak menyangka kalau kau menikah dengan seorang Hyuga." Sasuke menyandarkan punggungnya dan melipat tangannya didepan dada untuk merilekskan tubuhnya.
Sedangkan Naruto hanya nyengir sesaat "Hmm... Bagaimana ya? Aku inikan terlalu tampan untuk tidak memikat wanita." Ia menjawab dengan kelewat percaya diri.
"Ck." Sasuke mendengus saat mendengar kalimat yang keluar dari sahabat lamanya. "Sama sekali tidak cocok denganmu." Ia berpendapat.
Dan lagi-lagi Naruto hanya menunjukan cengiran andalannya menanggapi pendapat dari teman raven-nya. Ia juga tau Hinata dan dirinya sangatlah berbeda jauh. Keluarga Hyuga yang terkenal dengan keseriusannya dan pendiam sedangkan keluarganya yang sangat hangat dan ceria.
"Kau sendiri apa kau sudah menikah?"
Sasuke tidak menjawabnya, melainkan ia lebih memilih menyesap kopinya yang ia rasa lebih menarik daripada pertanyaan temannya itu. Kenapa semua orang terlalu menyanjung pernikahan, apa pernikahan sepenting itu? Ia mendenggus. Bahkan ia tidak akan mati meski tidak menikah.
Naruto yang tau seperti apa jawaban yang mungkin ia dapat hanya mengamati sahabatnya itu. Dan ikut menyesap kopinya sebelum berkata, "Mau sampai kapan mengabaikan perasaan gadis yang menyukaimu? Huuft benar-benar tidak berubah."
Apa sahabat didepannya ini masih berpikir bahwa ia tidak bisa jatuh cinta dan memberikan hatinya pada seorang gadis. Bahkan ia telah memberikan seluruh hatinya dan cintanya pada seorang gadis, tapi apa yang ia dapat? Penghiantan dan entah sampai kapan rasa sakitnya akan hilang.
Setiap mengingatnya, ia ingin sekali menyeret Yamanaka Ino kembali kepadanya, berlutut dikakinya dan membuat wanita itu menyesal telah berbuat hal ini padanya. Atau mungkin ia ingin menunjukan kepada sahabatnya ini, inilah wanitaku.
Ia menyeringai, sedangkan Kakashi melirik mereka saat telingannya mendengar ucapan pria Namikaze itu dan menunggu kalimat seperti apa yang akan bosnya itu berikan untuk menjawab pertanyaan si Namikaze.
Namun tidak ada jawaban yang diharapkan keluar dari bibir tipis sang Uchiha, suasana pun hening. Setelah beberapa saat diam Sasuke kembali berbicara bukan memberiakan jawaban melainakan kalimat yang lain, mungkin sebagai pengalih dari pertanyaan sebelumnya.
"Aku bertemu dengan Sakura, apa kau tidak ingin melihatnya lagi?" Itulah kalimat yang ia ucapkan untuk memecahkan keheningan. Karena bagaimanapun ia sangat tau seperti apa rasa cintanya sahabatnya ini dengan wanita berambut merah jambu itu.
Mengingat dulu hanya wanita itu yang sahabatnya ini kejar-kejar. Menceritakan semuanya tentang wanita itu, melakukan banyak hal bahkan bertikah sangat konyol hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Meski sang gadis tidak sedikitpun melirik ataupun memberi sedikit harapan padanya. Sasuke miris saat mengingatnya.
Naruto mengaruk belakang kepalanya meski tidak gatal. "Oh ya? Aku jadi merindukan Sakura-chan, apa dia bertambah cantik?" Sasuke hanya mengedikan bahu.
"Apa dia sudah menikah juga?" ia bertanya pada dirinya sendiri, sebab bertanya pada sahabat didepannya ini akan sama jawabnya, tidak tau. Ia paham betul, meski Sasuke mengatakan bertemu dengan mantan temannya disekolah menengah pertama dulu itu tapi ia yakin seratus satu persen bahwa Sasuke tidak akan mengajaknya ngobrol sampai menanyakan setatus pernikahan wanita itu. mungkin ia tidak tau bahwa Sasuke sudah berubah.
"Oi Sasuke kau bertemu denganya dimana? Apa dia ada di Tyoko juga?" ia kembali bertanya. Dan kali ini pertanyaannya itu ia tujukan untuk sang Uchiha.
"Dia berkerja di sebuah café milik salah satu temanku."
Namun jawaban dari sang sahabat malah membuat Naruto mengerutkan kening kebingunggan. Bagaimana mungkin Haruno Sakura yang itu, yang menjadi primadona sekolahnya dulu yang memiliki segalanya, kecantiakan dan harta berkerja di sebuah café?
Mungkin mereka tidak tau, bahwa waktu mampuh merubah seseorang. Ya, waktu adalah perubah yang mengerikan.
"Antar aku kesana." Ia terlihat antusias sampai-sampai tidak mengindahkan Kurenai yang menatapnya.
Sedangkan Sasuke hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan tingkah sahabatnya ini. Bukankah sahabatnya ini sudah menikah, apa pernikahan perjodohan sehingga Naruto tidak mencintai istrinya atau sebuah pelarian untuk melupakan gadis Haruno? Kalau ia seharusnya Sasuke tidak membahasnya tadi.
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk menemuinya."
"Hyuga akan membunuhmu setelah itu?" pria bermata onyx itu menghela napas, sebenarnya ini bukan urusannya.
"Aku hanya ingin menemui teman lama, apa tidak boleh? Lagian aku sangat mencintai Hinata-chan. Jadi kau tenang saja kalau kau menghawatirkanku." Ia tersenyum.
Ya, mungkin sahabatnya ini telah berubah, seperti halnya dengan dirinya. Waktu telah merubahnya.
.
.
.
.
.
Setelah menghabiskan waktu hampir seharian untuk jalan-jalan di kota Athena, kini Gaara dan Ino memutuskan kembali ke hotel tempat pasangan suami istri itu menginap.
Ino meminta untuk berjalan kaki saja saat memutuskan kembali hotel, memang hotel yang mereka tempati berada dipusat kota Athena, jadi tak perlu merasa akan kelelahan ketika memutuskan berjalan.
Pria yang sedang berjalan disampingnya ini masih tetap menggenggam tangannya erat, dari beberapa waktu lalu mereka menghabiskan waktu untuk berkeliling.
Namun tiba-tiba pria tampan itu berhenti dan tentu saja tindakan itu membuat Ino pun ikut berhenti, ia menatap sang suami yang kini sedang menatap suatu bangunan yang ia tau bangunan indah itu adalah sebuah Gereja.
Gaara menoleh padanya dan berucap. "Mau berdoa sebentar?" Seketika Ino beralih menatap sang suami.
"Boleh." Jawabnya.
Dan kedua pasangan suami istri itu pun berjalan beriringan menuju kedalam Gereja. Dengan masih tetap menggenggam tangan lentik sang istri pria tampan itu melangkah semakin kedalam.
Ino yang melihat tindakan sang suami yang tanpa membuang waktu langsung berlutut dan memejamkan mata, pria Sabaku itu tampak khusuk dalam berdoa. Entah apa yang diminta dalam doanya, ia tersenyum. Sungguh pria disampingnya ini ternyata bukan hanya seorang goodkisser tapi juga seorang yang religius dan taat pada Tuhan. Mungkin ia menjadi wanita yang beruntung telah mendapatkan suami seperti Sabaku Gaara.
Setelah melihat tindakan sang suami, Ino kembali menghadap tempat Tuhan ia menautkan kedua tangannya dan berucap dalam hati 'arigatou'. Setelah itu kembali memperhatikan suaminya yang masih berdoa, entah apa yang pria itu inginkan atau sampaikan pada Tuhan sehingga mengharuskannya berdoa begitu lama. Namun ia juga tidak ingin menganggunya. Jadi wanita cantik itu hanya menunggu sang pria menyelesaikan doanya dan masih tetap memperhatikan dengan intens.
Sebelumnya memang ia bukan wanita yang percaya dengan adanya Tuhan, tapi kini setelah ia melihat pria yang mencintainya berdoa disampingnya ia merasa haruskah ia percaya dengan Tuhan? Gaara seolah memperlihatkan bahwa doa adalah kekuatan terbesar manusia. Sekali lagi ia beruntung telah mendapatkan pria sepertinya.
Kini tanpa sadar ia bersandar pada bahu pria yang masih berdoa itu dengan melingkarkan tangannya pada tubuh tegap yang kini tengah berlutut. Mungkin ia sedang mencoba mengatakan bahwa 'pria inilah sandaranku kali ini Tuhan'.
Gaara sedikit tersentak merasakan sadaran yang tiba-tiba dari arah sampinya, ia membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam, dan menoleh melihat wanita yang dicintainya kembali melepas pelukannya dan terlihat salah tingkah. Ia berdiri dan tersenyum.
"Apa aku menganggumu?" pertanyaan yang keluar dari wanita yang kini ada didepannya. Dan Gaara menggerakan tangannya untuk membelai wajah ayu didepannya, mendekatkan wajahnya. Pria tampan itu menghilangkan jarang dengan menempelkan keningnya pada kening sang wanita. Sebagai jawaban ia tidak keberatan dengan gangguan yang diberikan oleh wanita itu.
Setelah itu mereka berdua berbalik, kembali berjalan keluar dari gereja. bukan lagi genggaman yang pria itu berikan pada wanitanya melainkan sebuah pelukan tangan yang melingkar pada bahu sang wanita.
"Apa yang kau minta?" lagi, wanitanya bertanya disela perjelanan mereka.
"Kebahagianmu." pria itu menjawab singkat.
"Ehh?" entah otak Ino yang memang berkerja lamban ataukah jawaban yang pria itu berikan begitu ambigu. Yang pasti ia ingin penjelan.
Berdoa begitu lama hanya meminta kebahagianya? Apa Gaara benar-benar tidak ada yang di inginkan selain dirinya? Sebegitu berhargannyakah dirinya?
Gaara tersenyum, sungguh ia merasa gemas dengan wanitanya yang begitu polos, ralat wanita yang terlihat polos, ya hanya terlihat. Sebab wanitanya ini jauh berpengalam dalam hal menjalin hubungan dibandingkan dirinya. Bukankah wanita-wanita Asia memang terlihat polos dibandingkan dengan wanita barat? Ia mengedikkan bahu dan hanya menjawab dalam hati. 'Aku ingin membuatmu bahagia Sabaku Ino.'
Sabaku Gaara mungkin bukan pria yang taat dengan satu agama, namun ia hanya merasa lebih damai saja ketika berada di gereja, suasanya yang membuat pria berambut merah itu merasa tenang.
.
.
.
.
.
Tidak terasa waktu telah berjalan cukup cepat untuk orang-orang yang memang terbiasah menyibukan diri mereka dengan segudang aktivitas. Tanpa terkecuali Yamanaka Ino, yang sekarang berganti marga menggunakan marga sang suami Sabaku.
Wanita cantik bersurai platina itu sedang menyibukan diri dengan pekerjaanya, yang hampir satu minggu lebih terabaikan dengan acara pernikahan sampai bulan madu. Ya, kini ia telah kembali berkerja seperti sebelum-sebelumnya setelah satu hari yang lalu ia kembali dari acara bulan madunya.
Meski kini ia tidak terlalu focus pada desain yang kini sedang ia kerjakan, entalah kepalanya serasa semakin sakit ditambah morning sickness-nya yang semakin parah. Bahakan ia sempat takut Gaara curiga, namun pria itu seakan tak minat dengan keadaannya. Seharusnya ia bersukur tentang ini, namun hati kecilnya seakan tercubit dengan tingkah dingin Gaara yang seolah mengabaikan keadaanya.
Sebenarnya tidak sepenuhnya pria itu mengabaikan keadaanya, sebab beberapa kali pria bertato kanji AI itu menyuruhnya kedokter, namun ia selalu menolak. Tentu saja bagaimana pun ia masih takut dengan reaksi Gaara nanti setelah ia tau dia hamil.
Ngomong-ngomong soal dokter, mungkin ia bisa pergi kesana setelah ini. Dan pasti Shizune-nee akan dengan senang hati mengantarnya. Wanita berambut hitam itu tidak akan pernah menolaknya, sebab ia tau Shizune sangat menyayanginyaa.
Bahkan wanita dewasa itu memberinya kado sebuah mobil diacara pernikahannya kemarin, karena Shizune tau ia tidak memiliki mobil setelah mobil mewahnya yang di berikan oleh Sasuke telah ia kembalikan kepada sang pemilik. Memang bukan mobil mewah seperti Ferrari yang diberikan Sasuke, atau semacamnya. Namun ia tau pasti Shizune cukup menguras tabungannya untuk membelikan sebuah mobil untuknya.
Wanita cantik itu tersenyum, dan beranjak dari kursinya.
.
.
.
"Shizune-nee...?"
Shizune baru saja bicara dengan salah satu karyawan butik miliknya ketika wanita bermata sebiru lautan itu memangilnya, terdengan sedikit parau ditelinganya.
Shizune menoleh. "Ino-chan? Ada apa?"
Wanita cantik itu mengeleng, namun tiba-tiba ia memeluk wanita yang telah ia anggap sebagai kakak didepannya.
Shizune sedikit kaget dengan tindakan wanita cantik itu, tidak biasahnya atau lebih tepatnya sudah lama sekali tidak melihat Ino-chan-nya manaja seperti ini, semenjak ayahnya meninggal.
Jadilah wanita bermata onyx itu membiarkannya, ia tersenyum dengan tidakan Ino, sungguh ia menyayangi wanita ini.
Dulu ketika ia dibawa pulang kekediaman Yamanaka dan dianggap sebagai anak oleh Yamanaka Inoichi, ia baru beruasia dua belas tahun, saat itu Yamanaka Inoichi seorang yang menjabat kepala kepolisian jepang menemukannya di disebuah rumah yang menjadi korban perampokan dan pembunuhan. Dan membawa pulang ke-kediamannya, mengasuhnya dan meemperkenalkannya dengan seorang anak kecil yang imut dan juga memiliki senyum ceria yaitu Yamanaka Ino.
Inoichi juga memintanya untuk menjaga toko bunga milik mendiang istrinya, agar ia tidak merasa bosan. Toko bunga yang telah lama tak terawat karena kesibukannya dan putrinya masih terlalu kecil untuk menjaganya.
Sejak saat itulah ia mengetahui bahwa keluarga Yamanaka begitu menyukai bunga, namun ketika kepala keluarga itu meninggal, wanita cantik bermarga Yamanaka itu terlihat tak tertarik dengan bunga lagi, bahkan ia meminta Shizune untuk tidak mengurusi toko bunganya lagi. Ditambah kekasihnya Uchiha sasuke pada waktu itu membelikan apartment untuk wanita cantik itu, dan memintanya untuk tinggal di apartment pemberiannya dengan alasan dekat dengan universitas Ino menempuh studynya.
Sejak saat itu mereka berdua tinggal di apartmen yang berbeda, tentu saja ia tidak tinggal di apartment yang sama dengan gadis Yamanaka, sebab ia tidak memiliki banyak uang untuk membeli apartmen mewah yang menjadi kediamanan gadis cantik itu.
Dan setelah ia mengenal Hatake Kakashi, dan bertunangan dengan pria berambut silver itu, ia tinggal di apartment pria itu karena pria itu yang memintanya. Namun ia sesekali masih mengunjungi rumah kediaman Yamanaka untuk sekedar membersihkan rumah itu atau sekedar melihatnya.
"Shizune-nee, antar aku kedokter ya?"
Suara lembut Ino menyentakannya dari lamunan panjangnya, ia melepas pelukan wanita bermata indah itu dan menatapnya.
"Kau sakit?" dan pertanyaan itu dijawab gelengan pelan oleh pemilik surai pirang pucat.
"Aku hanya ingin memeriksakan kandunganku."
Shizune langsung paham, dan ia mengangguk. "Sekarang?" ia bertanya mencoba memastikan.
"Apa kau tidak sibuk?" dan lagi Shizune hanya mengeleng.
.
.
.
.
.
"Gaara... apa kau sedang sibuk?" Sabaku Rei, membuka pintu ruang kerja putranya dan melihat sang putra sedang berkutat dengan ponsel canggihnya.
Pria bersurai merah itu mengalihkan pandangannya pada sang ayah, sebelum menjawab. "Ada apa?"
"Kau mau menemani ayah makan siang?" pria yang tampak kerutan lelah di wajahnya karena usia itu mendudukan diri di kursi depan sang putra.
Gaara terlihat menghela napas sejenak sebelum mengangguk. Ia pikir tidak buruk mengiyakan ajakan sang ayah, sebab beberapa saat yang lalu sang istri mengirim sebuah pesan, bahwa ia akan makan siang dengan Shizune-nee-nya. Jadi Gaara memang tidak ada janji dengan siapapun.
.
.
.
Disinilah kedua ayah dan anak itu, disebuah restaurant dipusat kota yang terbilang cukup ramai di jam makan siang. Gaara sedikit heran kenapa ayahnya memilih tempat makan siang yang terbilang cukup jauh dari kantornya. Tapi ia enggan untuk mengutarakannya.
"Kau ingin makan apa Gaara?" pertanyaan sang ayah membuatnya menoleh pada pria berumur didepannya.
"Terserah ayah saja." Ia menjawab seadanya.
Kemudian sang ayah terlihat menujuk menu makanan yang dibawa oleh sang pelayan restaurant.
Setelah itu tidak ada obrolan yang keluar dari mulut duannya. Gaara terlihat hanya bermain-main dengan ponselnya, sedangkan sang ayah hanya duduk tenang dengan menumpukan salah satu kakinya diatas kakinya yang lain.
.
.
.
.
.
Kakashi baru saja akan menemui sang Uchiha diruangnya, namun malah bos-nya itu telah terlebih dahulu membuka pintu ruangannya.
"Kakashi...?" Sasuke mengantungkan kalimatnya sebentar, setelah Kakashi memperhatikannya ia melanjutkan. "Aku akan keluar, dan mungkin tidak kembali ke kantor lagi hari ini."
Kakashi hanya menautkan alisnya tanda tidak mengerti, tidak biasahnya, semenjak hubungannya berakhir dengan Ino, bos-nya ini lebih sering menghabiskan waktunya di kantor seharian bahkan sampai melupakan makan siangnya.
Namun kali ini, apa yang baru saja ia dengar 'keluar dan tidak akan kembali ke kantor lagi'
"Kau mau kemana?" akhirnya pria bersurai silver itu bertanya.
"Tidak ada jadwal khusus kan setelah ini?" bukannya menjawab pria Uchiha itu lebih memilih bertanya memastikan. Dan Kakashi hanya mengangguk-angguk kan kepala.
Setelah mendapat jawaban non verbal dari sang Hatake, Sasuke langsung berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan yang menjadi tempat kerja dari seorang Hatake Kakashi.
Melihat itu Kakashi hanya mengelengkan kepalanya, kemudian kembali merapikan meja kerjanya sebelum ia meninggalkan tempat itu.
Bahkan ia belum sempat mengutarakan maksutnya kali ini kepada bos-nya itu. sebenarnya ia juga akan keluar ada janji dengan seseorang. Namun sepertinya bos-nya itu tampak tak peduli dan memang tidak ada jadwal pertemuan atau hal yang perlu dikerjakan oleh keduanya setelah ini.
Pria bertubuh tinggi itu memutuskan keluar dari ruang kerjanya setelah semua tertata rapi untuk segera berangkat. Namun sebelum itu ia memberitau sekertarisnya terlebih dahulu.
Setelah sampai di lobi perusaha, ia melihat pria berambut coklat panjang baru saja masuk melewati pintu utama perusahaan besar itu. Tanpa pikir panjang Kakashi segera melangkahkan kakinya untuk menemui pria yang dikenal dengan nama Hyuga Neji.
"Neji-sama?" sapa Kakashi setelah sampai didepan sang pria Hyuga.
Nampaknya Neji sedikit kaget, dengan sapaan Kakashi terbukti ia segera menoleh cepat kearah sipenyapa.
"Hatake-san?" pria berambut panjang lurus itu sedikit membungkuk memberi hormat.
Kakashi mengaruk belakang kepalanya, sambil tersenyum kearah pria didepannya. "Apa yang membawa anda kemari?" ia bertanya sedikit penasaran juga sebenarnya melihat pria Hyuga ini berada di perusahaan Uchiha, padahal Kakashi tau betul tidak ada jadwal ataupun janji dengan pria ini. atau mungkin bosnya?
"Tidak aku hanya ingin bertemu dengan Uchiha-san, apa dia ada?"
"Apa anda ada janji dengannya?" sebenarnya Kakashi merasa tidak sopan mengajak bicara anak dari pemilik perusahan Hyuga ini sambil berdiri. Maka dari itu ia buru-buru menambahkan. "Mau bicara dengan duduk sebentar?" ia menujuk ke sofa yang memang ada ditengah-tengah lobi besar itu.
Neji mengangguk, setuju sebelum mengikuti Kakashi berjalan ke sofa.
"Mau minum sesuatu?" Kakshi menambahkan setelah mereka berdua mendudukan diri.
"Tidak, terimakasi." Neji buru-buru menjawab.
Kakashi mengangguk dan kemuadian bertanya. "Jadi?"
"Aku belum membuat janji dengannya. Jadi apa Uchiha-san tidak ada diruangannya?"
"Ya begitulah, dia baru saja keluar." Neji mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari pria didepannya.
Kakashi semakin penasaran, apa yang membuat Neji ingi bertemu dengan Sasuke dan tanpa membuat janji. Itu menandakan ini bukan masalah perusahaan. Sebab ia akan tau segalanya kalau saja seandainya itu masalah perusahan.
Terlihat pria bermarga Hyuga itu memberikan sesuatu yang sedari tadi ia bawa, meski tidak menarik perhatiannya.
"Ini." Kakashi menerimanya dan mendengar kelanjutan penjelasan yang mungkin tidak ia mengerti dari mulut sang Hyuga sulung itu. "Aku hanya ingin memberikan secara langsung saja undangan pernikahanku kepada Uchiha-san."
Setelah itu, baru Kakashi mengerti, kini benda yang berada digengamannya itu adalah sebuah undangan pernikahan dari seorang Hyuga Neji untuk bos-nya. Kemudian pria Hatake itu tersenyum kearah pria didepannya.
"Wah... wah... anda akan menikah? siapa kah wanita beruntung itu?" langsung saja Kakashi membrodongnya dengan banyak pertanyaan, sampai-sampai Neji terlihat bersemu meski tertutupi dengan wajah stoic andalannya.
"Ya begitulah, dengan teman lamaku. Aku harap kalian bisa datang."
"Tentu." Kakashi segera menjawab setelah membaca cover undangan ditangannya. "Satu minggu lagi, eh?" ia menambahkan. Dan dijawab anggukan oleh Hyuga Neji.
Setelah itupun Neji memutuskan untuk undur diri, Kakashi pun enggan menahanya lebih lama, sebab ia sudah cukup terlambat dengan janjinya.
Setelah kepergian putra Hyuga itu, ia kemudian segera menuju mobilnya dan mengendarai ketempat perjanjian.
Ino baru saja selesai dengan pemeriksaannya. Kemudian seorang dokter ber-name-tag 'dr Tsunade, Sp.OG'itu menuliskan sebuah resep untuknya.
"Sudah dua bulan, kenapa baru memeriksakannya sekarang?" dokter cantik itu menyerahkan resep padanya.
"Aku tidak sempat, apa kandunganku baik-baik saja?"
"Terlihat sehat, hanya sedikit kecil untuk janin berusia delapan minggu."
Ia menghela napas untuk itu. Ya, perutnya memang terlihat seolah ia tidak sedang hamil muda. Ia memang merasa tidak ada napsu untuk makan ditambah lagi ia mengalami morning-sickness yang cukup sering.
"Berat badanmu juga terbilang kurus untuk ukuran ibu hamil." Dokter Tsunade masih memberi penjelasan tentang pemeriksaannya kali ini. bahkan dokter yang terlihat masih muda itu menatapnya tajam. Mungkin ia sedikit tidak puas dengan keadaan pasiennya kali ini.
"Aku mengalami morning-sickness yang cukup parah di tambah napsu makanku menghilang." Ia mencoba memberi penjelasan.
Dan dokter cantik itu menghela napas mendengarnya. Sebelum berkata, "Itu wajar untuk masa awal kahamilan, bahakan akan semakin sering saat mengijak trimester kedua. Aku hanya memberimu vitamin, aku harap kau bisa menambah berat badanmu."
Masih tidak ada respon, Ino hanya memandang kertas resep yang ada ditangannya, disitu tertulis 'Pyridoxone'. Shizune yang sedari tadi duduk disampingnya pun hanya diam.
Bahkan sampai dokter Tsunade menambahkan. "Kau tidak sedang takut dengan tubuhmu yang akan menjadi gemuk kan?-" ia mengantung kalimatnya dengan mengamati wajah ayu didepannya. Dan lagi-lagi menghela napas. "-Bagaimanpun juga kau akan mengalami kenaikan berat badan sampai kau melahirkan nanti."
"Ino-chan?" Shizune mengusap pundanya pelan setelah tidak mendapat respon dari wanita disampingnya.
"Adakah obat untuk menghilangkan morning-sickness?" tanyanya kemudian setelah lama diam.
Tsunade seketika mengerutkan kening. "Apa kau menegrti bahwa ibu hamil tidak boleh mengonsumsi obat-obatan? Mual dan muntah saat kehamilan itu memang gejala alami." Ia akan bersabar untuk pasien satu ini. "Apa kau juga mengalami yang namanya ngidam?"
Ino mengeleng untuk pertanyaan yang satu ini.
Tsunade tersenyum mendengarnya dan menambahkan. "Biasanya kehamilan akan dibarengi dengan keinginan-keinginan yang diluar kebiasaan. Memang tidak semua ibu hamil mengalaminya, bisa jadi ayah si bayi yang mengalaminya."
Penjelasan panjang dari sang dokter membuat Ino menatapnya tanpa kedip. Kalau dia tidak mengalami yang namanya ngidam lalu, apa mungkin Sasuke yang mengalaminya, pria itu yang notabennya memang ayah dari bayi yang sedang ia kandung.
Kemudian ia menghela napas kembali. "Baiklah." Ia akan menurut. Alhasil wanita cantik itu menganggukan kepala pirangnya. Toh ia tidak ingin memikirkan apapun sekarang apalagi yang berhubungan dengan Uchiha Sasuke.
"Satu minggu lagi kembalilah kesini, aku ingin melihat perkembangannya." Sebelum kedua wanita didepannya itu memutuskan untuk berdiri. "Kau mengerti Ino-chan?" dokter cantik itu mencoba meniru panggilan Shizune untuknya.
Ino tersenyum dan berbalik meninggalkan ruangan. Kemudian disusul Shizune dibelakangnya. Sebelum pergi wanita berambut hitam yang sedari tadi hanya diam itu membungkuk kearah sang dokter dan berujar "Arigatou".
Uchiha Sasuke baru saja akan menyendok pesanannya, yang sejak tadi teralihkan oleh ponsel pintarnya. Namun kegiatannya terganggu denga suara cemprek sahabat kurusnya Suigetsu.
"Sasuke, sejak kapan kau menyukai makanan manis?" tak diacuhkannya pertanyaan sang pria bertubuh kurus itu, yang tengah menatapnya dan pesanannya.
Namun kemuadia berseru nyaring bahkan tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang kebetulah menjadi pelangan di café nya siang ini.
"WOW... setroberry cake, apa mataku tidak salah melihatnya? Kau terlihat seperti seorang wanita yang sedang eerr... ngidam" langsung saja pertanyaan dari pria itu membuat Sasuke tersedak, kue yang terbilang lembut itu seolah enggan masuk kedalam lambungnya.
Masih enggan merespon, pria tampan itu memilih memejamkan matanya menahan marah. Keparat! Sebab acara ketenannya diganggu dengan bodohnya oleh pria yang memang ia anggap bodoh.
Melihat sahabatnya tersedak karena ulahnya, Suigetsu segera mencari minum, matanya sempat melirik sebuah cangkir namun isinya kopi. Dan itu membuatnya berlari menuju dapur café miliknya untuk mengambil segelas air mineral.
Setelah merasa rasa tak nyaman didadanya berkurang, pria uchiha itu membuka matanya dan segera Suigetsu menyodorkan segelas air mineral untuknya.
"Kau tidak apa-apa?" ia sedikit takut kalau saja temannya ini akan marah padanya, namun bukannya marah, Sasuke malah menghabiskan air yang ia berikan. Dan itu membuat Suigetsu tersenyum menatapnya.
"Berhenti menatapku seperti itu Suigetsu." Entah kehadiran temannya ini malah membuatnya merasa malas memakan kue yang mendadak ingin ia nikmati siang ini. Aneh memang, ia yang memang tidak menyukai makanan manis malah memesan makanan yang terbilang sangat manis di lidah. Jadi tidak heran kalau temannya yang mengetahui itu merasa kaget dibuatnya.
Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa ingin sekali memakan cake, jadilah setelah sampai di café milik temannya ini ia langsung memesan stroberry cake dan secangkir kopi.
Pria yang dipanggil Suigetsu itu tertawa melihatnya. "Apa kau baik-baik saja Sasuke? kau aneh. Sejak kapan kau berpindah haluan menjadi penyuka makanan manis?" pria berambut lurus kebiruan itu masih bertanya yang menurut Sasuke sama sekali tidak penting.
Akhirnya Sasuke gedek juga mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur mulus tanpa penghalang dari mulut orang yang dengan berat hati ia anggap teman itu.
"Apa kau selalu memberi pertanyaan yang tidak penting kepada setiap pelanggan café-mu Hozuki?"
Mendengar nama keluarganya disebut ia berhenti tertawa. Akan bertambah gawat bila Uchiha Sasuke menyebutnya seperti itu. memang ia mengenal Sasuke bukan seseorang yang bisa diajak bercanda tapi ia juga buka seorang tempramen yang akan mudah marah kalau saja tidak mencapai batas.
"Baiklah-baiklah aku diam." Ia memutuskan menyerah namun tak bertahan lama sebab ia kembali bertanya. "Tapi tidak biasahnya kau berkunjung ke café ku, apa kau merindukan kekasih barumu itu?" ia menambahkan.
Kalimat terakhir yang ia dengar keluar dari mulut pria desampingnya ini membuat Uchiha Sasuke menatapnya tajam. Dan menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Aku ada janji denga seorang teman lama. Apa itu menganggumu?" sebuah jawaban dibarengi dengan deathgler yang ia berikan untuk pria disampingnya.
Setelah itu mereka diam, tidak ada yang memulai untuk bicara. Suigetsu pun tidak berani membuka mulut ia hanya memperhatikan karyawan café-nya dan sesekali melihat sahabatnya yang sedang berkutat dengan ponsel ditangannya dan sesekali terlihat mendengus.
Sedikit penasaran sebenarnya, siapa teman lama yang ingin Sasuke temui di café miliknya. Namun dari pada bertanya ia lebih memilih menunggu, toh ia nanti akan tau siapa orang itu.
Benar saja, selang beberapa lama seseorang sudah bertriak nyaring memanggil sang Uchiha didepan café yang memang di desain terbuka tanpa dinding penghalang untuk menikmati suasana pantai namun masih dengan atap dan pilar-pilar untuk penyangganya.
Pria berambut kuning cerah itu mendekat kearah mereka, setelah Sasuke menolehkan kepalanya karena panggilannya tersebut. Ia memilih duduk di depan Sasuke dan terlihat mengernyitkan alis heran.
"Eh, teme sejak kapan kau menyukai makanan manis?" Tanya Naruto setelah matanya menangkap sisa setroberry cake di meja sang pria berambut raven.
"Itu pesananmu kan?" Tambahnya lagi.
Tukan benar? Ternyata bukan ia seorang yang merasa heran dengan pesanan Sasuke. Suigetsu membatin.
"Berisik Naruto." Keparat! Keparat! Sungguh ia ingin mengucapkan kata umpatan itu. Sebenarnya bukan hanya kedua temannya ini yang terlihat heran, ia juga heran kenapa tiba-tiba ingin makan makanan manis, padahal ia tidak menyukainya.
Naruto hanya mengedikkan bahu, mendengar jawaban dari sahabat lamanya. Ia lebih memilih mengamati café yang berada di dekat bibir pantai yang menjadi tujuannya sekarang. Ahh tidak lebih tepatnya café yang menjadi tempat wanita yang ia rinduka berkerja.
"Sasuke, dimana Sakura-chan?" setelah puas memanjakan matanya, ia kembali menatap sang sahabat.
"Dia Suigetsu, temanku dan pemilik café tempat Sakura berkerja." Sebelumnya ia harus memperkenalkan dua orang yang berbeda ini. Naruto hanya tersenyum kearah pria yang dimaksud begitu dengan Suigetsu.
"Naruto ingin bertemu Sakura." Sasuke menjelaskan kepada bos dari wanita yang akan mereka temui.
Dan akhirnya rasa penasarannya Suigetsu menghilang setelah mendengarnya. Pria kurus itu memangil salah satu maid yang kebetulan sedang melayani pelanggan.
"Tolong ya kau panggilkan Sakura." Perintahnya kepada sang maid. Dan wanita itu mengangguk lalu pergi.
Sasuke dan Naruto memang telah membuat janji untuk bertemu di sebuah café yang menjadi tempat wanita yang ingin ditemui oleh pria bermarga Namikaze itu berkerja.
Sasuke telah sampai hampir satu jam yang lalu, karena ia memang keluar dari kantornya lebih awal. Setelah memberi tau Kakashi tadi ia langsung melesat menuju kemari. Berbeda dengan pria Namikaze, ia harus memberi tau istrinya trelebih dahulu bahkan harus menggunakan sedikit kebohongan. Mesti tidak sepenuhnya, kan memang mereka akan makan siang bersama sahabat lama.
Itulah yang dikatakan oleh Naruto kepada Hinata, bahwa ia akan makan siang bersama teman lamanya sewaktu sekolah menegah pertama dulu.
Tentu saja setelah meminta ijin dari sang kakak ipar. Dia tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya dan perusahaan karena kabur sebelum jam pulang. Dan Hyuga Neji akan mengulitinya hidup-hidup.
Ngomong-ngomong soal kakak iparnya itu, ia sampai melupakan mandat dari sang kakak ipar untuk memberikan undangan pernikahan kepada sahabat merahnya, Sabaku Gaara. Karena terburu-buru kemari. Biar saja, toh ia bisa memberikannya kepada sahabatnya itu nanti sepulang dari sini. Gaara tidak akan kemana-mana, ia nyakin.
"Naruto?" wanita berambut merah jambu itu membulatkan matanya, kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Naruto sedikit tersentak dari lamunannya, mendengar panggilan untuknya. Namun kemudia pria itu berdiri sambil memberikan cengiran andalannya.
"Apa kabar Sakura-chan?"
Bukannya menjawab Sakura malah menghambur kepelukannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan pria menyebalkan ini. Terakhir saat Naruto memberi taunya bahwa ia akan melanjutkan sekolahnya ke Jerman.
Tidak berubah, itu yang dilihat Sakura pada saat pertama kali ia melihatnya tadi. Hanya saja pria ini bertambah keren jauh dari pemuda ingusan yang sering menganggu dan selalu mengejar cintanya dulu.
Naruto membibing wanita cantik itu duduk disampingnya. "Sudah-sudah jangan menangis Sakura-chan, kau jelek kalau menangis begini."
"Baka."
Sasuke hanya kembali menyesap kopinya dan begitu pula dengan Suigetsu ia hanya diam menyaksikan adegan reuni antar sahabat lama didepannya ini.
Permata biru langit itu mengamati wanita didepannya lekat, wanita berambut merah jambu itu tetap cantik seperti dulu, ahh bahkan bertambah cantik dan juga bertambah kurus. Lihat bahkan dadanya pun sampai terlihat datar.
Buru-buru Naruto mengalihkan pandangannya untuk menutupi semburat merah diwajahnya karena pikirannya barusan.
"Kapan kau kembali ke Jepang Naruto?" Sakura bertanya setelah berhenti dari isakan kecil.
Naruto kembali menatapnya, dan memberikan sebuah nyengiran. "Sudah lumayan lama aku kembali dari Jerman Sakura-chan. Kau sendiri sejak kapan pindah ke Tokyo?"
Wanita satu-satunya dimeja tersebut, tak langsung menjawab. Bahkan ia menunduk, terlihat enggan untuk menjawab. Haruskah ia menceritakan semua yang telah terjadi padanya kepada pria didepannya ini?
Naruto masih menunggu jawabannya. Namun ia segera mengerti mungkin teman wanitanya ini masih enggan untuk menjawab.
"Kau sudah makan Sakura-chan?" wanita itu mengangguk mendengar pertanyaan dari pria Namikaze.
Setelah itu Naruto beralih menatap pria berambut biru, yang dikenalkan Sasuke sebagai pemilik café. "Suigetsu-san? Apa menu andalan café ini?"
Pria yang dipanggil hanya bemberikan tatapan melotot tak percaya mendengar panggilan baru untuknya dari pria berambut kuning didepannya itu. Namun kemudian ia menghela napas dan memanggil salah satu maid di café-nya.
Setelah sang maid sampai ke meja mereka, Naruto segera memesan makanan. "Baiklah, lebih baik kita memesan makanan dulu, setelah itu kita lanjutkan ngobrolnya. Kau mau pesan apa Sakura-chan?"
Setelah menyebutkan pesanan miliknya dan Sakura kemudian ia beralih ke arah Sasuke, pria itu hanya diam sebelum Naruto bertanya. "Kau mau pesan apa Sasuke?"
"Aku tidak lapar." Dia menjawab singkat.
"Masa kau hanya pesan itu saja?" kini Sakura ikut menatap pesanan pria berambut raven didepannya. Dan kemudian matanya membulat, kembali menatap Sasuke kemudian pesanannya secara bergantian.
"Err... sejak kapan kau menyukai manis Sasuke-kun?"
Keparat! Keparat! Keparat! Keparat! Keparat! Entah harus berapa banyak kata umpatan yang harus ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan terbrengsek yang perna ia dengar. Dan tentu saja jangan lupakan untuk suasana yang membuatnya terlihat seperti orang tolol.
Uchiha Sasuke hanya menghela napas setelah mendengar pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda sebanyak tiga kali disatu waktu. Great! Yang benar saja? Apa terlalu aneh pesanannya? tentu saja tidak ini hanya sebuah cake, dan bukan masalah cake-nya. Hanya saja ini makanan manis dan ia tidak menyukai makanan manis.
Dan lagi sebenarnya ia juga merasa heran dengan keinginannya kali ini, sungguh ia ingin sekali mengutuk kengininan ataupun lidahnya yang kali ini begitu menginginkan makan makanan manis.
"Aku hanya merasa ingin saja." Jawaban singkat itu ia harap bisa membuat ketiga orang ini tidak bertanya lagi.
Setelah maid berwajah manis itu mencatat semua pesanan Naruto, ia segera bergegas meninggalkan meja.
"Apa kau sudah menikah Sakura-chan?" dan Naruto kembali membuka pembicaraan. Sakura yang mendengar pertanyaan itu hanya menggeleng.
"Sayang sekali ya! Aku sudah menikah." Sakura menatap pria didepannya lekat.
"Kau sudah menikah, benarkah?" Naruto mengangguk. Mengiyakan.
"Kau sendiri kenapa belum menikah?" wanita itu tak menjawab. Kemudian Naruto menambahkan. "Apa kau masih meninggu si-teme?" pria bermata biru langit itu melirik sahabat yang juga sedang menatapnya dengan memicingkan mata kelamnya dan seolah memberikan tatapan tidak setuju dengan pernyataannya.
Sedangkan Sakura hanya menunduk. Wanita itu terlihat binggung akan mulai bercerita dari mana. Ia memilih untuk menghela napas terlebih dahulu untuk memulai cerita yang menurutnya cukup panjang.
"Maaf, membuat anda menunggu lama Sabaku-sama."
Sebuah kalimat yang mengagetkan kedua Sabaku yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing dalam menunggu pesanan mereka.
Sabaku Rei, menoleh kesumber suara dan melihat Hatake Kakashi berdiri disampingnya. "Oh... Kakashi?" dan kakashi membungkuk memberi hormat.
"Ayo duduklah, kami juga baru memesan makan siang." Setelah itu pria bermarga Hatake itu mendudukan diri disalah satu kursi. "Kau pesanlah makan siang terlebih dahulu." Tanbahnya setelah melihat orang yang ditunggunya duduk disampingnnya.
Kakashi hanya mengangguk, setelah itu memanggil pelayan restaurant untuk mencatat pesanannya.
"Dia Gaara, putraku dengan Karura." Kepala keluarga Sabaku itu memperkenalkan Gaara kepada Kakashi.
Dan pandangan Kakashi beralih kepada pria muda didepannya. Mengangguk sekilas dan sedikit mengerutkan keningnya, heran. Tentu saja, sebab mantan bos-nya di perusahaan Uchiha dulu itu baru saja menikah dengan wanita yang digadang-gadang menjadi selingkuhannya. Namun sungguh tidak masuk akal, bilang pernikahan yang baru mengijak tahun ke delapan sudah memiliki putra sebesar ini. Ia menebak pria tampan didepannya ini seumuran dengan putra pertamanya, Uchiha Sasuke.
"Gaara lahir, enam bulan sebelum kelahiran Sasuke." Tuan Sabaku seolah tau apa yang sedang Kakashi pikirkan, ia mencoba menjelakan atas keterkejutannya Kakashi. Dan kalimat itu sukses membuat Kakashi kembali menatapnya.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Sengaja dipotong dari ini hihihi... XDD *digebukin* tapi tenang aja kelanjutannya udah diketik kok, karena idenya ngalir gitu aja jadi gak kerasa udah panjang banget jadi dipotong takutnya pada bosen entar.
Sekali lagi Arigatou udah sempetin baca end review fanfic yang jauh dari layak diupdate ini. *ciumsatu-satu*
See you di next chap ya minna...
