What Am I To You?

Genre: romance, drama,school life, marriage life

Disclaimer: This story fiction is mine. I just borrow the character for this fic. Don't be a copycat.

.

.

.

.

.

.

Happy reading!

.

.

.

.

.

Chapter 10: Rabbit's Side

Aku mengusap wajah kasar saat mendengar jam weker berbunyi. Itu bukan jam weker milikku melainkan milik Tzuyu. Dia lupa membawanya saat akan pulang atau dia memang sengaja melakukannya. Sedikit demi sedikit, aku mulai melihat gelapnya ruangan ini. Posisiku masih seperti sejak lima menit yang lalu; berbaring. Saat aku akan mendudukkan diri, sesuatu menggelitik dada. Aku meraba sesuatu yang menggelitik itu, lalu tersenyum tipis. Itu adalah jari-jari Kyungsoo. Dia semakin mendekatkan tubuhnya sehingga wajahnya semakin menempel pada tubuhku. Aku berbalik dengan hati-hati agar dia tidak terbangun. Kemudian aku terdiam sejenak. Wajahnya terlihat damai di dalam gelapnya ruangan ini. Dia menggesekkan pipinya pada lenganku, aku terkekeh. Tidurnya benar-benar nyenyak. Otakku mulai mencerna sesuatu, lalu aku teringat kejadian kemarin. Kyungsoo tiba-tiba datang tanpa menghubungiku terlebih dahulu. Dia meminta agar aku menghabiskan waktu bersamanya. Aku yakin sekali wajahku benar-benar kebingungan dengan permintaan tiba-tiba itu. Well, itu tidak terlihat seperti permintaan, tetapi permohonan. Jadi, dengan raut yang tidak jelas, aku mengangguk. Tidak mungkin untuk menolaknya karena saat itu aku benar-benar ingin memeluknya. Sejak Music Video debut dirilis, jadwal semakin padat dan tidak memungkinkan untuk sekedar menghubungi seseorang. Bahkan mereka telah menyiapkan sebuah tempat khusus untuk kesibukan kami jika itu diperlukan. Dan, memang sangat diperlukan.

Dia menggumamkan sesuatu tidak jelas. Aku mulai menatapnya, lalu jari-jariku tertarik untuk bermain di atas pipinya. Aku membelai punggungnya dengan gerakan perlahan sebelum benar-benar bangkit dari tempat tidur. Menghidupkan lampu dan memastikan bahwa dia tidak terganggu. Aku tersenyum geli melihatnya dalam gulungan selimut. Itu benar-benar menggemaskan.

Aku melangkahkan kaki mengambil handuk, lalu segera menuju kamar mandi. Satu kebiasaan yang tidak pernah hilang dariku adalah menari sambil menyenandungkan suatu lagu. Jika orang-orang berpendapat aneh, maka bagiku itu adalah hal yang menyenangkan. Mataku terpejam saat air shower yang dingin mengenai wajah. Menyegarkan, juga membantu lebih rileks. Aku meregangkan otot tanganku. Ini terjadi karena kemarin aku dan Kyungsoo menonton sebuah film misteri disaat tengah malam dengan posisi dia berada di lenganku sampai tertidur. Saat akan mengangkatnya ke kamar, dia segera bangun dengan wajah merahnya. Mungkin itu campuran antara marah dan malu. Aku tidak pernah mengusulkan untuk menonton film apalagi di saat tengah malam. Tiba-tiba saja saat kami selesai makan malam, dia menunjukkan sebuah CD. Itu bukan milikku karena aku bukan penggemar film berjenis seperti itu. Wajahnya sedikit memelas saat memberikan CD itu, aku menganggukkan kepala, dan dia tersenyum lebar. Sikapnya memang sedikit aneh, mungkin sejak kemarin, tepatnya saat aku bisa kembali ke apartemen ini. Dia jadi lebih perhatian (walaupun dia memang perhatian) dan sering memohon sesuatu. Itu memang sifat alaminya, tapi terasa asing. Mungkin karena aku merindukannya dan dia juga merasakan hal yang sama. Kyungsoo memang tidak pernah mengutarakan perasaannya, tapi wajahnya selalu mengatakan yang sebenarnya.

Tidak lama kemudian, aku mulai mengeringkan tubuh. Tubuhku terasa lebih nyaman, lalu aku menghela lega. Aku melilit handuk pada pinggang sebelum benar-benar keluar dari kamar mandi. Gadis itu masih seperti gulungan dengan rambutnya yang terurai ke berbagai arah, aku terkekeh pelan. Aku berjalan menuju lemari hitam kemudian memilih seragam untuk hari ini. Aku melihat diri ke cermin sambil merapikan seragam. Merasa sudah rapi, aku melangkah menuju tempat tidur. Dahinya tampak berkerut saat aku meniup kelopak matanya. Terlintaslah sebuah ide, aku tersenyum licik. Aku menggigiti kecil pipinya. Raut wajahnya mengatakan bahwa dia sedang terganggu. Saat aku berhenti, dia masih seperti tadi. Jadi, aku mencium pipinya berkali-kali hingga dia terbangun.

"Jongin…" Ujarnya yang lebih seperti berbisik dengan nada kesal. Dia terganggu dan aku tersenyum.

"Kau tidak berniat untuk tidur sepanjang hari, bukan?"

Rautnya tampak kesal, tapi matanya tidak juga terbuka. "Aku akan bangun sebentar lagi." Setelah mengatakannya, dia menghadap ke arah yang lain sambil menutup wajahnya dengan guling.

"Ayolah sayang," aku sedikit menggoyang-goyangkan badannya, tapi dia tidak bangun. Wajahku mendekat dengannya, lalu aku menggerakkan telunjukku pada pipinya. Tidak perlu waktu lama untuk melihat warna pipi itu berubah.

Dia mendesah pelan, "Hentikan Jongin. Aku akan bangun."

Namun, aku tidak berhenti melakukannya. Ini seperti sesuatu yang paling ditunggu-tunggu saat melihat wajahnya tersipu dan menahan malunya. Dia begitu menggemaskan dan bukan tipe gadis yang tidak mudah untuk ditebak, kecuali dalam hal-hal tertentu. Dia segera duduk dengan wajah kesal, lalu menepis jariku. Matanya memandangku selama beberapa waktu. Matanya mulai melebar tidak biasa dengan jarinya yang menunjukku. Aku hanya memandangnya dengan bingung.

"Kenapa kau sudah memakai seragam?!" Suaranya bernada terkejut. Mungkin dia pikir, dia akan terlambat. Jam masih menunjukkan waktu yang sangat pagi, jadi tidak mungkin akan terlambat.

Aku menghela, "Kyungsoo, aku hanya mandi lebih dulu. Ini masih sangat pagi."

"Oh." Gumamnya. Matanya memandang ke bawah, lalu melihat ke arahku. Begitu seterusnya sampai pipinya berwarna merah muda. "K-kenapa kau tidak membangunkanku lebih dulu?" Kali ini, matanya sudah benar-benar melihat ke arahku.

Aku menggaruk pipiku dengan telunjuk, lalu tersenyum, "karena, kau begitu nyenyak, jadi aku tidak tega membangunkanmu."

Warna pipinya lebih cerah daripada sebelumnya. Aku memandangnya dengan hangat. Kemudian dia tersenyum malu. "B-begitu?"

Aku terkekeh sebelum mengangguk. Suatu yang lembab menyentuh pipiku, kepalaku segera berputar melihatnya. Selama beberapa waktu, aku terdiam, mencerna apa yang barusan terjadi. Itu hanya sekilas, tapi aku dapat memastikan bahwa dia mencium pipi ini. Samar-samar aku mendengarnya berkata, "Terimakasih Jonginnie." Aku tersenyum dan menatapnya yang sedang berlari terburu-buru menuju kamar mandi, dia pasti benar-benar malu. Kakinya tampak bergetar dan tubuhnya hampir terhuyung. Aku terkekeh.

Kyungsoo sedang berada di kamar, jadi aku memutuskan untuk keluar dan berbaring di atas sofa sambil menonton salah satu saluran. Sepertinya itu adalah salah satu variety show yang kembali diulang. Orang-orang itu sudah tidak asing lagi. Aku mendesah sambil mengambil salah satu buku dari tumpukan buku yang tergeletak di atas meja. Ini bukan milikku. Aku melihat ke arah pintu kamar. Aku meyakini jika Kyungsoo yang membawanya. Aku mengedikkan bahu, tidak masalah, karena tempat ini adalah tempat miliknya juga. Buku ini tampak tebal, tetapi ukurannya tidak besar. Dari sinopsisnya, buku ini seperti sesuatu yang sedikit berbahaya meskipun tidak ada masalah dengan sinopsisnya. Lagipula aku tidak tertarik, jadi aku memejamkan mata, menunggu Kyungsoo keluar dari kamar. Sofa ini benar-benar nyaman, aku tidak tahu bahwa sebuah sofa bisa sampai se-nyaman ini. Otot-ototku terasa lebih lentur. Ini benar-benar nyaman, bahkan sepertinya untuk membuka mata terasa berat. Lama-kelamaan aku mulai terhanyut.

Seseorang berdehem. Well, aku tidak peduli, itu tidak penting. Aku menyamankan posisi tubuhku, mengabaikan suara itu.

"Jongin."

Ini sedikit aneh. Orang yang berdehem kemudian menyebut namaku. Terasa tidak nyaman, tapi aku mencoba mengabaikan itu. Suara orang itu menyebut namaku berkali-kali. Kemudian dia kembali berdehem, kali ini lebih kuat. Dahiku mengernyit dan menggumamkan sesuatu.

"Jongin?" Dia berkata lebih jelas, lalu menggerutu. Suaranya tidak asing lagi.

Aku meringis saat merasakan sesuatu menyentuh wajahku. Aku menepis udara. Sentuhan itu kembali, lebih kuat. Saat aku membuka mata dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, seseorang yang tidak asing berada dihadapanku. Tangannya terkepal dengan wajahnya yang merah. Itu benar-benar tidak asing.

"K-kyungie, aku—"

Kilat dari matanya membuat kalimatku terputus. Sesuatu mengganjal tenggorokanku. Aku tersenyum gugup. Jika Kyungsoo marah, itu bisa menjadi pertanda yang baik, juga buruk.

Dia memejamkan matanya, juga menahan nafasnya. Jarinya menunjukku, "aku sudah memanggilmu berkali-kali, bahkan sampai mencubitmu, tapi kau tidak bangun." Dadanya terlihat naik-turun. Kemudian dia mulai berkata lagi, "aku hanya ingin mengatakan bahwa aku telah membuatkan sarapan untukmu."

Kyungsoo memalingkan wajahnya. Ini adalah kesalahanku. Aku mulai bangkit dan mengabaikan pinggangku yang terasa sedikit sakit karena tidur di sofa. Saat tanganku akan menggapai bahunya, dia segera berjalan menuju ruang makan. Aku mendesah kasar. Ini adalah salah satu sisi buruk Kyungsoo jika sedang marah dan akan memakan waktu yang cukup lama untuk merayunya, tapi ini memang bukan kesalahannya. Aku berjalan menuju ruang makan dan duduk di sampingnya. Di hadapanku terdapat beberapa donat yang terlihat menggiurkan. Aku menghela, wajar saja jika gadis ini marah.

"Kyungie.." Aku tersenyum tepat di depan wajahnya dan berusaha membuat suara yang merayu. Matanya melihat ke arah lain.

Aku tersenyum saat sebuah ide terlintas. "Sayang?" Aku menyuarakannya agar terdengar menggoda sambil mengerucutkan bibirku.

Aku dapat menangkap saat dia melihatku walau hanya sekilas. Bibirnya tampak ingin membuat senyuman, tapi dia menahannya. Pipinya mulai berwarna merah muda samar. Aku tersenyum miring, lalu mengambil salah satu donat. Mataku sedikit melebar saat merasakan isi dalam donat tersebut. Aku lupa sejak kapan pernah memberitahunya bahwa aku menyukai tiramisu.

"Ini enak!"

Tatapannya mulai melembut, tetapi tetap enggan untuk melihat ke arahku. Samar-samar dia tersenyum. Aku menatapnya lembut, lalu terkekeh. Aku membelai pipinya dan bermain disana dengan perlahan-lahan hingga rautnya menunjukkan salah tingkah. Dia melirik ke arahku kemudian segera mengalihkan matanya. Saat aku melirik ke bawah, jari-jarinya tampak bergetar.

"Well, awalnya aku ingin menunggumu hingga selesai, tapi ternyata aku tertidur." Aku mendengus pelan, "bahkan kau telah membuat sarapan. Apa aku tidur selama itu?" Aku memandangnya sambil terus membelai pipinya.

Dia tampak ragu-ragu melihat ke arahku. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gugup sebelum benar-benar berbicara denganku, "Mungkin salahku, karena terlalu lama bercermin." Dia tersenyum malu dengan pipinya yang memerah. "Maaf, karena telah memarahimu."

Aku tertawa sedikit. Jari-jariku masih terus bergerak di pipinya dengan gerakan yang berbeda. "Lagipula kau terlihat menggemaskan saat marah."

Warna pipinya mulai terlihat lebih jelas, matanya tampak berpikir untuk mengalihkan sesuatu. Aku tersenyum penuh arti sambil memandang wajahnya. Ini pemandangan yang indah dan terlihat memancing. "Um, sepertinya kita harus pergi sekarang." Ujarnya dengan mata yang melihat ke bawah. Jari-jarinya memegang ujung roknya. Aku hanya mengangguk dan dia menggigit bibir bawahnya. Dia mulai menggoyang-goyangkan tanganku. Aku segera tersadar, lalu terkekeh. Sebelum bangkit, aku mencubit pipinya dengan kerlingan yang membuatnya menatapku dengan warna merah di pipinya.

Setelah selesai menutup pintu, aku melihat ke berbagai arah, mencari keberadaan gadis itu. Menyunggingkan sebuah senyuman sebelum aku menghampirinya. Wajahnya berputar ke berbagai arah dengan matanya yang berbinar. Ruangan ini memang di desain dengan rapi dan tidak meninggalkan kesan hangat. Tidak asing jika dia sibuk melihat ruangan ini. Saat aku menyentuh bahunya, dia tampak terkejut. Kemudian dia tertawa kecil saat tertangkap basah melihat sesuatu yang ada disini. Aku menarik tangannya agar dia berjalan di sampingku. Saat aku menoleh, dia sedang melihatku, tapi segera memalingkan wajahnya. Kedua alisku terangkat saat dia tertangkap basah sedang melihatku, dia hanya cengir sambil berusaha mengalihkan pandangannya. Aku mengulum senyuman geli. Kami masih tetap berjalan menuju lift yang berjarak beberapa meter. Dinding dengan corak modern itu tampak mencuri perhatiannya, kali ini pandangannya hanya terfokus pada benda itu. Bibirnya bahkan terbuka tanpa sadar membuat sudut bibir siapapun, termasuk diriku, tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. Pandanganku mulai terarah ke depan, lift sudah berada di depan, hanya menunggu lift itu segera terbuka. Kyungsoo masih terus berjalan sambil mengamati corak dinding itu. Aku menarik lengannya saat dia hampir menabrak pintu lift yang masih tertutup. Dia segera melihat ke arah dengan wajah ingin protes, tapi saat melihat ke depan, senyum malu-malunya segera terlihat.

TING!

Tepat pada saat itu, lift terbuka. Lift itu terlihat kosong setelah seorang anak kecil keluar. Aku melangkahkan kaki untuk masuk, juga Kyungsoo. Posisiku berada di lantai 5 dan akan menuju ke lobby. Tidak perlu waktu lama untuk sampai. Kami segera berjalan keluar melewati pintu kaca. Menuju tempat dimana mobilku berada.

Aku melirik sekilas pada Kyungsoo. Gadis itu tengah sibuk dengan ponselnya dengan wajah cerahnya. Saat aku melirik yang entah ke berapa kalinya, ia masih melihat ponselnya dengan wajah yang begitu cerah. Pipinya merona, matanya yang berbinar kagum, dan bibirnya yang membentuk seulas senyuman cerah. Ini adalah pemandangan langka. Aku tersenyum sedikit melihatnya dan kembali fokus pada jalanan. Jalanan tidak se-ramai biasanya, kali ini lebih rapi dan tertata. Beberapa orang berjalan kaki di trotoar, kebanyakan adalah murid Sekolah Dasar. Langkah mereka terlihat riang dengan senyum dan tawa yang benar-benar polos tanpa memikirkan apa yang orang pikirkan terhadap mereka. Entah mengapa, aku mulai tersenyum mengingat masa Sekolah Dasar-ku yang begitu konyol. Konyol saat memberikan sebuah bunga pada salah satu guru yang aku kagumi. Konyol saat mencubit pipi orang-orang yang sedang menghadap ke samping kemudian aku berusaha mengeluarkan ekspresi tidak-mengetahui-apapun. Konyol saat tertidur di kelas (walaupun saat ini beberapa kali melakukannya) karena materi yang diberikan sangat membosankan. Juga, konyol saat menulis surat cinta pada seseorang yang saat itu berada di tingkatan yang sama denganku. Masih banyak berbagai macam hal konyol yang lainnya, bahkan sampai saat ini, termasuk sifat penggoda turunan dari dad.

Aku melihat ke arah jam yang melingkar di tangan. Beberapa menit lagi akan sampai. Kemudian aku melihat ke arah Kyungsoo. Dahiku berkerut heran, gadis itu masih tetap dengan ponselnya, juga dengan ekspresi yang sama. Aku tidak bisa menahan lagi untuk bertanya.

"Kyung,"

Tidak ada jawaban. Rautnya masih sama. Kemudian aku tersadar bahwa ada benda putih yang terletak pada telinganya, ia memakai headset.

"Kyungsoo." Aku memanggilnya dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya. Tidak ada jawaban lagi. Mendadak aku mulai kesal, tapi tetap berusaha menepis pikiran itu. Aku melepas benda penyumbat itu, lalu memanggilnya lagi. Ia segera menoleh.

"Apa yang kau lihat?"

Sejenak ia terdiam dengan matanya yang melihat ke berbagai arah, lalu tersenyum penuh arti. "Tidak ada."

Ia kembali pada ponselnya dengan wajah seperti tadi. Aku mendesah kasar dan berusaha fokus pada jalanan. Saat aku menoleh, Kyungsoo tampak tidak menyadari. Otakku mulai memproduksi hal-hal tidak penting mengenai apa yang ada di dalam ponsel Kyungsoo. Jika aku bertanya, maka hanya ada dua respon; tidak menjawab dan mengatakan 'tidak ada'. Jadi, aku lebih memilih untuk tetap diam sampai saat yang tepat, tapi rautku tidak dapat menyembunyikannya.

"Kyung, apa yang kau lihat?" Aku berusaha setenang mungkin.

Gadis itu mengerjapkan matanya, dan itu membuatku sedikit bersalah karena telah memikirkan hal aneh. Dia tersenyum penuh arti. Lagi. "Tidak ada, Jongin." Jawabnya tenang.

Seperti dugaanku, dia akan menjawab diantara dua respon itu, dan dia telah memakai respon yang kedua. Sebenarnya, aku ingin mengutarakan pertanyaan itu berkali-kali tanpa peduli apa respon yang didapat. Aku berusaha bersikap seperti biasa; melihat ke depan. Mobilku telah sampai di depan gerbang kemudian masuk dan mencari tempat. Memarkir tepat di samping mobil putih dengan plat yang tidak asing lagi. Itu adalah milik Park Chanyeol. Pemandangan yang asing mengingat dia selalu datang di saat-saat terakhir. Aku mematikan mobil dan gadis itu tampak masih asyik dengan ponselnya. Aku menghela kemudian berencana untuk mengambil ponsel tersebut, tapi sepertinya dia sadar akan hal itu dan segera mematikan ponselnya. Setelahnya, aku tidak mengatakan apa-apa, lalu keluar dari mobil. Kyungsoo juga keluar dari mobil, lalu aku sedikit mempercepat langkahku. Dia tampak mengimbangiku dan masih menggenggam ponselnya. Dia melihat ke arahku seraya berjalan, tapi aku berusaha untuk mengabaikannya. Kakinya tampak berhenti untuk melangkah dan saat aku akan terus berjalan, dia menahan tanganku.

"A-aku—" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Dia sedang gugup, tapi rautnya menunjukkan sedang mencari kalimat yang tepat. Aku masih menunggunya mengeluarkan sebuah kalimat. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjelaskan sesuatu, aku bisa merasakan bagaimana jantungnya berdebar dengan gila.

Beberapa waktu kemudian, aku menghela dengan senyuman. "Tarik nafasmu, Kyungsoo."

Dia melakukannya sampai beberapa kali. Tarik dan buang. Kemudian dia mulai memejamkan matanya sebelum berbicara. "A-aku tidak tahu harus mengatakan apa." Gumamnya dengan cengiran. Aku memandangnya lembut. "Kau tahu, i-ini hanya salah paham dan, um, maaf."

Kalimat itu tampak tidak jelas. Aku memandangnya selama beberapa saat, dia hanya tersenyum gugup dengan warna merah samar di pipinya. Kemudian aku mengangguk sebelum berbicara sesuatu. "Jadi, apa yang kau lihat?"

Terdiam. Matanya tampak menatapku. Itu benar-benar menggemaskan. Sebuah senyuman misterius mulai terukir di wajahnya. Dia menggeleng, aku menghela—pasrah. "Tidak ada." Ujarnya masih dengan senyuman itu. Respon yang sama. Senyum yang sama. Entah mengapa aku mulai kesal saat dia tersenyum seperti itu.

Aku hanya mengangguk-angguk malas. Dia mulai berjalan dengan riang seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan. Sepertinya itu sangat rahasia.

Cukup anggap itu tidak penting.

Aku tidak tahu apakah ini pertama kali atau mungkin aku pernah merasakannya meski hanya sekali, tapi harus kuakui bahwa aku merasa tidak suka dengan ponsel itu. Tepat, ponsel dengan pelindung bergambar animasi Pororo yang sedari tadi digenggam olehnya. Kyungsoo memang tidak melihat ponselnya dengan sangat fokus seperti di mobil, tapi sesekali ia melihat ke ponselnya. Saat ia melihat ke ponselnya, saat itu juga senyum cerahnya muncul. Aku tidak pernah tahu jika kemungkinan besar Kyungsoo adalah seorang fangirl (atau apalah karena mereka menyebutnya begitu), tapi aku tidak pernah melihatnya sampai seperti ini. Aku tidak merasa benci pada benda itu, hanya saja keberadaannya mengganggu, jadi mungkin aku harus membelikan Kyungsoo ponsel baru.

Langkah Kyungsoo berhenti, aku ikut berhenti. Penyebab dia berhenti adalah karena ponsel itu. Dia menutup mulutnya dengan wajahnya yang merah, dia seperti ingin teriak. Aku berusaha untuk tidak menatapnya, tapi sialnya mataku berusaha untuk melirik sesuatu yang ada pada ponsel itu. Itu gagal, saat itu juga Kyungsoo menempelkan ponsel ke dadanya. Aku mulai berjalan dengan malas, lalu mendengus. Telingaku menangkap suara tawa tertahan, sepertinya itu dari Kyungsoo. Kami sudah berada di tengah-tengah lapangan, aku berencana untuk mengikuti Kyungsoo hingga ke kelasnya (walau sebenarnya Kyungsoo tidak akan mengizinkannya).

Samar-samar aku mendengar orang-orang menyebut 'Kai', beberapa lagi tampak menatapku sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Ada kumpulan gadis yang melambai-lambai padaku, aku membalas lambaian mereka dengan senyuman, lalu mereka teriak. Sedikit membingungkan, tapi aku rasa mereka tidak se-rumit itu. Aku menoleh dan mendapati Kyungsoo tidak menggenggam apapun, termasuk ponsel itu. Aku tersenyum sedikit. Selama berjalan, orang-orang menatap kami dengan pandangan yang berbeda-beda. Aku tidak bisa membuktikan apa yang mereka pikirkan, tapi wajah mereka berkata dengan curiga. Curiga dengan seribu hal.

"Jongin, apa kau akan ke lokasi kelas satu?" Pertanyaan Kyungsoo membuat aku tersadar.

Aku mengangguk. Kyungsoo menghela dengan ekspresi khawatir atau gelisah atau resah, aku tidak tahu. Dia menggeleng kuat. "Tidak. Kau tidak bisa."

"Kenapa?"

Kyungsoo mendorongku pelan. Dia berbisik, "kau telah debut Jongin."

"Dan?" Aku masih tidak mengerti apa hubungan antara dua hal itu. Antara aku telah debut dan mengantar Kyungsoo ke kelasnya.

"Apa yang akan orang-orang disana katakan?" Nadanya mulai meninggi. Aku merasakan tatapan aneh dari beberapa orang disini.

"Kyungsoo, itu tidak se-rumit yang kau pikirkan."

"Bukan hanya itu. Kita bahkan…" Kyungsoo menggantung kalimatnya saat melihat sekeliling. Dia tidak perlu melanjutkan karena aku tahu apa yang akan dia katakan. 'Kita bahkan sudah menikah'. Fakta itu tidak akan terlupakan. "Aku tidak mau kita terjebak dalam gosip aneh."

Aku mulai memikirkan kata-kata Kyungsoo. Dia tidak sepenuhnya salah dan aku tidak bisa menyalahkan siapapun jika itu mengancam kami berdua, aku mengangguk dengan senyuman. Dia ikut tersenyum. Sebelum berjalan ke arah yang berbeda, aku mencium pipinya dengan cepat tanpa memperdulikan orang-orang. Dia tampak tidak bisa berkata-kata kecuali wajahnya yang benar-benar merah, aku tidak tahu itu adalah karena marah atau karena malu. Aku segera berjalan ke arah yang lain dengan santai, menuju ke kelas.

Menunggu sampai lift terbuka, aku memejamkan mata. Itu kebiasaan, lagipula tidak ada orang selain aku disini. Otakku sibuk berpikir, mengingat, dan sesuatu yang terlintas. Mengingat apa saja teori gen yang pernah diajarkan. Berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesuatu abstrak yang melintas seperti kereta api. Itu yang sedang otakku lakukan. Aku menghela, beberapa saat kemudian membuka mata, dan sesuatu mulai terbayang. Sedikit aneh saat tiba-tiba membayangkan kejadian Kyungsoo yang mencium pipiku, tapi kali ini dengan gerakan lambat. Aku tersenyum geli, dia begitu lucu. Suara dentingan berbunyi dengan pintu yang otomatis terbuka secara perlahan. Pemandangan sosok yang tidak asing lagi dan hampir setiap hari aku temui berada di depanku. Itu Kang Seulgi dengan mata orientalnya. Itu mengingatkanku saat aku akan menjadikan Seulgi salah satu kekasihku, tapi karena dia terlalu baik, aku membatalkan rencana itu. Dia tersenyum sambil melambai, dia orang yang ramah. Aku tersenyum singkat sebelum melangkah keluar. Pintu lift sudah tertutup, tampaknya dia tidak berniat untuk masuk.

Seulgi mengulurkan tangannya, sejenak aku terheran-heran. "Selamat." Kalimat pendek itu membuat aku membalas ulurannya. Dia tersenyum. "Selamat atas debutmu. Aku sudah melihat videonya."

Aku terkekeh sebelum tersenyum. "Terimakasih." Dia mengangguk. "Jadi, menurutmu?"

"Menurutku, Myungsoo tampak tampan."

"Maksudku, aku."

Bola matanya berputar dengan malas. Kemudian dia tersenyum. "Aku tidak begitu memperhatikanmu, Kai" Dia mengedikkan bahunya sebelum tertawa sedikit, aku hanya tersenyum miring. Kai adalah nama panggungku di dalam EXO. Dia sedikit berjinjit sambil berjalan mendekatiku, aku merendahkan tubuh saat merasa dia mulai membisikkan sesuatu. "Coba saja kau tanya pada Kyungsoo."

Setelah dia mengucapkannya, lift segera terbuka, dan dia segera masuk sambil melambaikan tangannya. Aku merasa pupil mataku membesar. Kyungsoo di dunia ini yang kutahu hanyalah Do Kyungsoo. Kyungsoo si gadis bermata bulat dengan bibir mungilnya, juga kulit putihnya yang terlihat cerah dan terasa halus. Jika Kyungsoo yang Seulgi maksud adalah dirinya, maka itu tidak heran. Seulgi memang seorang trainee dan mungkin dia mengenal Kyungsoo. Aku mengedikkan bahu, berpikir bahwa jika Seulgi mengetahui hubungan ini, maka tidak ada masalah.

Selama berjalan, orang-orang terutama para gadis melihat ke arahku, beberapa diantaranya menutup mulut mereka, tidak masalah karena ini bukan pemandangan langka. Kelasku hanya berada selangkah lagi dan aku sudah sampai. Beberapa murid berada di kelas, terutama Jongdae dan Sehun yang tampak memegang PSP. Benda itu sangat tidak diperbolehkan untuk dibawa, tapi aku tidak pernah mengerti bagaimana cara berpikir mereka. Kemudian di belakang mereka ada dua orang gadis, Kim Ah Young dan Lee Hyeri. Mereka tampak dengan sebuah majalah dan beberapa foto yang berserakan di meja mereka. Aku menaruh tas di meja sebelum duduk di bangku. Kemudian membuka tas dan mengeluarkan sebuah catatan, lalu membacanya. Itu adalah catatan tentang pelajaran yang dapat mengisi waktu. Merasa seseorang menggoyangkan tanganku, aku menoleh dan mendapati Ah Young dan Hyeri sedang tersenyum padaku, aku menaikkan alis.

"Kami sudah melihatmu di Music Video itu dan, ya, selamat." Ah Young tersenyum. Dia cantik. Mungkin itu alasan mengapa aku pernah menjadikannya kekasihku selama seminggu saat kelas dua. Kami tidak terlalu dekat, aku mengatakan terimakasih pada Ah Young dan Hyeri.

"Sebenarnya, aku tidak terlalu yakin apakah itu kau atau tidak, tapi kuakui kau tampan." Gumam Hyeri dan sekali lagi, aku mengucapkan terimakasih. Kebanyakan teman sekelasku mempunyai pemikiran yang berbeda dengan murid lain karena menurut mereka aku bukan seperti pemikiran sempurna dari orang lain.

"Kau tidak mengucapkan selamat padaku?" Jongdae bertanya pada Ahyoung dengan wajah kesal pura-pura. Dia menggoyang-goyangkan tangan Ah Young sampai pada akhirnya gadis itu mendesah kasar.

"Baiklah, selamat untukmu Chen 'EXO'. "

Kemudian Jongdae tertawa kemenangan dan melanjutkan PSP-nya bersama Sehun. Aku melihat apa yang mereka mainkan. Itu tidak pernah berubah bahkan skor tidak akan berubah sejak pertama kali mereka berdua memainkan itu. Sehun akan selalu lebih tinggi dua angka dari Jongdae. Biasanya, aku akan ikut bermain bersama mereka, tetapi kali ini aku lebih memilih untuk membuka ponsel. Melihat sesuatu di dalam ponsel dan tergerak untuk membuka pesan. Nama teratas adalah 'Tzuyu'. Aku menyentuhnya dan mulai membaca pesan dari awal. Dia adik yang menggemaskan dan menyebalkan dengan wajah yang orang-orang pikir adalah angkuh, karena konsepnya sebagai artis adalah seksi. Tidak peduli seberapa seksi aura ataupun fisik yang dimiliki, karena dia tetap adikku dan itu tidak pernah berubah. Di negara Tzuyu tinggal, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa artis yang mulai terkenal itu mempunyai seorang kakak laki-laki. Saat aku ke sana, aku bisa melihat ataupun mendengar orang-orang berkata bahwa kami sangat cocok saat kami berjalan bersama. Mereka berkata bahwa kami mempunyai kecocokan saat aku tertangkap sebuah gosip sedang berbincang akrab dengan adik sendiri, juga sebagai penambahan kulit eksotis yang aku dan Tzuyu miliki. Mereka hanya tidak tahu bahwa kami bersaudara dan Tzuyu adalah gadis berusia 16 tahun dengan tinggi 170 cm.

Aku mulai membaca pesan yang lain. Aku melewati nama 'eomma', karena pesan tersebut sudah aku baca berulang kali, bahkan Kyungsoo ikut membacanya walau hanya sekali. Berbagai macam isi pesan dari eomma yang sudah dapat ditebak bagaimana tingkat ketidaknormalannya. Dia akan menanyakan, nama apa yang aku dan Kyungsoo inginkan untuk anak kami, untungnya saat pesan tersebut, Kyungsoo sedang tidak membacanya. Kemudian bertanya, kapan waktu yang tepat agar aku dan Kyungsoo memiliki anak karena dia benar-benar tidak sabar mempunyai seorang cucu. Juga menanyakan apakah aku dan Kyungsoo pernah bercumbu. Aku bisa melihat perubahan warna wajah Kyungsoo saat membaca pesan itu. Dan pesan lainnya yang sama tidak normalnya. Kemudian pada pesan selanjutnya adalah dari eommonim. Aku juga tidak perlu membacanya, karena aku benar-benar ingat bagaimana isi pesan tersebut. Pesan itu berisi eommonim yang menanyakan bagaimana keadaan Kyungsoo, melarangku untuk tidur terlalu dekat dengan Kyungsoo, apakah Kyungsoo membawa baju ganti, jam berapa Kyungsoo akan mandi di pagi hari, dan kekhawatiran tentang Kyungsoo yang lainnya. Setidaknya lebih normal daripada eomma.

Aku menghela dan terus melihat pesan yang sebenarnya bukanlah kebiasaanku. Tertera nama 'Kyungsoo', aku mulai membaca isi pesan itu. Pesan saat aku melakukan pertandingan akhir di Incheon, pesan saat aku sedang dalam sebuah variety show dengan seorang gadis, pesan saat aku tidak berada di apartemen selama hampir seminggu, pesan saat berada di sebuah sampul majalah dengan seorang model, dan pesan lainnya. Dia terlihat menggemaskan dari isi pesannya. Itu mengagumkan sekaligus membuatku terkikik.


From: Kyungsoo

Kau sudah sampai? Apa kau sudah membawa handuk lebih dari tiga yang aku berikan?


From: Kyungsoo

Im Nayeon terlihat sangat seksi dan cantik.


From: Kyungsoo

Apa kau sudah makan? Apa disana mereka menyiapkan makanan untukmu? Jangan memakan makanan cepat saji, karena jika sakit maka kau dan orang yang lainnya akan repot.


From: Kyungsoo

Kau dan Suzy tampak sangat dekat dan berjalan alami. Foto-foto kalian sangat bagus, bahkan saat Suzy berada di lehermu.


Masih banyak pesan yang lainnya dan aku tidak mau membacanya lagi, karena itu akan membuatku semakin ingin memeluk Kyungsoo. Benar-benar ingin memeluknya sampai aromanya tercium tanpa memperdulikan sekeliling. Sekarang aku mengerti mengapa Chanyeol akan tersenyum seperti orang gila saat membaca pesan dari Baekhyun berulang kali.

Bel berbunyi, aku segera mematikan ponselku. Myungsoo segera duduk di sebelahku sambil membuka tasnya. Dia sedang mencari sesuatu. Saat sudah menemukan benda yang dicari, dia mengangkat benda itu. Itu adalah sebuah pulpen. Seorang guru mulai masuk. Itu adalah Hwang sonsaengnim yang dianggap sebagai guru dengan tubuh seksi walaupun memakai pakaian seperti guru yang lainnya, juga wajah yang menawan. Dia adalah guru bahasa Inggris. Kami mulai berdiri, memberikan salam, lalu Hwang sonsaengnim akan membalasnya dengan bahasa Inggris, seperti 'Good morning too, My Lovely Children!' Dia memang salah satu guru yang ramah dan dekat terhadap muridnya, bahkan Sehun pernah tersipu saat guru tersebut menanyakan keadaannya saat dia tidak datang selama tiga hari. Hwang sonsaengnim mulai membuka bukunya dengan pulpen diantara jemarinya yang berkuku merah. Dia mulai menghidupkan suatu program di laptopnya sebelum layar infokus hidup dan menampilkan suatu percakapan. Kami mendengarkan percakapan tersebut dengan aba-aba Hwang sonsaengnim. Selama percakapan itu, aku sesekali melihat ke yang lainnya. Dahi mereka mengernyit dengan mata yang serius, mungkin ada dua hal di dalam otak mereka, seperti 'Apa yang mereka katakan?' atau 'Apa maksudnya ini?' Tetapi itu hanya kemungkinan, karena tidak semuanya menganggap bahasa Inggris seperti itu. Aku dan yang lainnya mulai menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan percakapan itu, seperti yang Hwang sonsaengnim suruh. Itu tidak terlalu sulit.

Guru yang lain mulai masuk seiring berakhirnya pelajaran. Di tengah-tengah pelajaran, Myungsoo tampak menuliskan sesuatu yang tidak penting. Ia bertanya padaku, "Kau tidak bermain game itu lagi?"

Game sepak bola yang sudah tidak asing lagi. Dia juga sama gilanya dengan game itu sepertiku. "Terkadang. Akhir-akhir ini aku lebih menghabiskan waktu untuk—"

Ucapanku terputus saat Myungsoo menepuk bahuku. Dia tampak tidak peduli dengan sonsaengnim yang menatapnya penuh ancaman. "Menghabiskan waktu untuk wanita? Gadis?"

"Mereka ada bedanya?"

"Jangan bercanda, Kim." Dia mulai menyeringai sambil menaikkan kedua alisnya. "Kau tentu tahu perbedaannya."

Aku memutar bola mata dengan malas, mengerti kemana arah pembicaraan ini. Kali ini, aku tidak dalam suasana untuk membicarakan ini. Aku hanya mengedikkan bahu yang disambung dengan wajah datarnya. Biasanya, dia akan membicarakan ini tidak ada habisnya, seperti Taemin. Mereka berdua punya otak yang sama, walau aku sesekali mengikuti mereka. Tidak selamanya membosankan, tidak selamanya menarik. Jika mereka membicarakan tentang wanita atau gadis, aku akan teringat pada Kyungsoo dan itu berbahaya.

Bel berbunyi, tepat saat sonsaengnim ini memberikan sebuah tugas. Kebanyakan orang-orang keluar dari kelas, lalu menuju kantin. Aku mengambil headphone dari tas dan menggantungkannya di leherku. Seseorang menepuk bahuku, aku menoleh. Oh Sehun bersama Kim Jongdae. Biasanya Jongdae akan bersama yang lain, seperti bersama Yi Fan yang berasal dari kelas Chanyeol berada, walau sesekali bersama kami. Kami berjalan mulai berjalan, saat melewati sebuah kelas, Chanyeol mengikuti kami. Dia memang selalu begitu, tiba-tiba datang dan ikut. Sehun dan Jongdae tampak membicarakan sesuatu, tentang film animasi Jepang yang berjudul Sword Art Online, itu memang bukan game, tapi animasi tersebut bercerita tentang seseorang yang masuk ke dalam dunia game. Semakin lama pembicaraan mereka mulai menjadi abstrak dan aku tidak berniat untuk mengikuti topik mereka. Chanyeol dengan ponselnya, aku sedikit mengintip, dan tebakanku benar itu berasal dari Baekhyun. Dia tidak sadar kalau aku melihat pesannya yang membicarakan tentang sesuatu. Dahiku mengernyit. Hubungan mereka terlihat menarik dengan kemisteriusan itu. Tidak lama, kami sampai di kantin dan mengatakan apa yang akan kami pesan pada Sehun, Jongdae ikut dengan Sehun. Aku dan Chanyeol mulai duduk di sebuah tempat.

"Jadi, bagaimana kau dan Kyungsoo?" Chanyeol bertanya dengan santai. Ini sedikit membingungkan, dia memulai pertanyaan seperti itu.

Aku menaikkan alisku dengan nada sedikit terkejut, aku menjawab dengan pertanyaan, "Untuk apa kau menanyakannya?"

"Aku juga punya rasa penasaran tentang perjodohan." Dia tersenyum lebar yang membuatnya semakin terlihat aneh, menurutku. Dia melihat sekeliling, sebelum berbicara dengan pelan. "Kapan kalian akan melakukannya?"

"Melakukan apa?"

Chanyeol memutar bola matanya dengan helaan kasar. Terkadang, aku merasa lebih idiot darinya. "Making Love."

Aku menggeleng. "Kami tidak akan melakukannya sampai waktu yang tepat." Aku merasa Chanyeol mulai mirip dengan eomma. "Kenapa kau bertanya?"

"Kau tidak penasaran dengannya? Bagaimana keringatnya yang bercucuran bersama wajahnya yang merah, lalu matanya yang menatapmu dengan sayu bercampur kebingungan dan kegelisahan?"

Aku meneguk ludah mendengar penuturan Chanyeol. Kemudian berusaha untuk tidak akan membayangkannya, karena itu berbahaya. "Kau pernah melakukannya dengan Baekhyun?"

Chanyeol menyeringai. "Tidak, tapi kami pernah melakukan ciuman panas, berbeda denganmu yang tidak pernah berciuman dengan istri sendiri." Dia berkata dengan nada pamer. Terserah.

Sehun dan Jongdae datang membawa dua nampan berisi makanan dan minuman yang dipesan. Aku mengambil softdrink dan meneguknya. Sehun dan Jongdae kembali berbicara, kali ini tentang Volkswagen yang mengeluarkan Bugatti baru. Aku mulai mengikuti pembicaraan mereka, mengabaikan Chanyeol yang sibuk tersenyum dengan ponselnya. Dia seperti orang yang pertama kali mempunyai seorang kekasih. Pembicaraan mereka mulai abstrak, aku memutuskan untuk memasang headphone. Tidak jauh dari sini, aku melihat Kyungsoo, Baekhyun, dan Yeri. Kyungsoo terlihat memegang nampan, sedangkan Baekhyun sama seperti kekasihnya, kemudian Yeri sedang mencari sesuatu. Kyungsoo awalnya menunduk, lalu melihat ke arahku dengan raut terkejut dan tergantikan dengan senyuman tipis dan merah muda samar pada pipinya, aku tersenyum membalasnya. Aku mulai teringat pada perkataan Chanyeol yang tidak waras. Membayangkan bagaimana jika Kyungsoo berkeringat dengan wajahnya yang merah. Bagaimana matanya menatap sayu bercampur kegelisahan, juga bagaimana jika dia benar-benar pasrah. Aku mengusap wajah kasar. Ini gila.

Kyungsoo dan yang lainnya mulai berjalan ke arah sini, Baekhyun terlihat menarik tangan Kyungsoo dan Yeri. Hanya beberapa jarak lagi mereka akan sampai, tetapi Kyungsoo dan Yeri lebih memilih untuk tidak terlalu dekat. Sedangkan Baekhyun memeluk kekasihnya dari belakang dengan ciuman di pipi dan Chanyeol membalasnya. Mata Kyungsoo dan Yeri tampak melebar.

"Aku sudah melihat Music Video-mu. Kau terlihat keren dan tampan!" Seru Baekhyun sambil terus mencium pipi Chanyeol. Chanyeol tersenyum penuh kemenangan. Jongdae sama sepertiku, memutar bola mata dengan malas. Baekhyun melupakan bahwa video itu bukan hanya Chanyeol saja.

"Terimakasih, aku mencintaimu." Chanyeol menarik kepala Baekhyun dan mulai mencium bibir gadis itu. Mungkin itu adalah ciuman panas yang dia maksud. Mata mereka berdua terpejam, seolah-olah tidak ada orang lain selain mereka disini. Orang-orang mulai melihat adegan mereka dengan saksama. Kyungsoo dengan wajahnya yang mulai berwarna merah dan Yeri dengan kedua tangan yang menutup mulutnya. Aku tidak melihat ke arah bagaimana intimnya ciuman mereka, aku melihat ke arah Kyungsoo. Wajahnya benar-benar merah seperti ddukbokki pedas. Matanya berbinar-binar, aku tidak tahu arti mengapa matanya menjadi seperti itu. Dia meneguk ludahnya sebelum menatapku. Dia berkedip.

Aku berdehem. Semua orang mulai tersadar, begitu juga dengan dua orang di hadapanku. Chanyeol tersenyum miring sebelum mencium sekilas bibir Baekhyun. Aku mendengar nafas pendek, itu berasal dari Baekhyun.

"K-kenapa," Dia terengah-engah dan Chanyeol mengusap punggungnya. "Kenapa kau menciumku?"

"Karena aku mencintaimu."

Mereka saling melempar senyuman, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, karena kakiku otomatis melangkah keluar dari kantin, menuju sebuah lorong yang sempit dan menaiki tangga yang terdapat disana. Aku menaiki setiap anak tangga dengan perasaan khawatir dan berbagai macam hal lainnya. Aku mendesah kasar. Tempat ini dapat disebut sebagai jalur terlarang, karena hanya orang-orang tertentu yang biasa kesini. Aku mengabaikan tulisan 'DILARANG MASUK', segera membuka pintu yang tidak terkunci itu. Hamparan dasar luas dengan semen terlihat. Disana terdapat sebuah tong, aku segera duduk di dekat tong tersebut agar tidak ada yang dapat melihat keberadaanku. Aku menghela seraya menghidupkan lagu yang terdapat pada ponselku. Part of The List yang dinyanyikan oleh Ne Yo. Alunan musik mulai terdengar lewat headphone yang aku pakai.

Langit yang tidak benar-benar cerah dengan hilir angin yang melegakan. Aku menghela dengan mata yang terpejam secara bersamaan. Seharusnya aku membawa Kyungsoo kesini. Chanyeol dan Baekhyun telah menunjukkan sesuatu yang sangat gila untuk gadis seperti Kyungsoo. Gadis itu tentu saja tidak akan menutup matanya, karena jika ada sesuatu yang sangat asing baginya, maka dia akan memperhatikan itu sampai ke detailnya. Mungkin membawa Kyungsoo bukan hal yang bagus, karena ada kemungkinan jika aku melakukan hal yang sama padanya. Aku memijit pelipis, berusaha melupakan hal gila itu. Bersyukur saat otakku mulai mengabaikan itu dan beralih pada yang lain. Aku mulai teringat bagaimana acara perjodohan itu dimulai, tepatnya saat pertama kali aku dan Kyungsoo bertemu. Perjodohan atau arranged marriage memang gila, bahkan saat itu aku merasa bahwa ini hanyalah sebuah permainan yang akhirnya hanyalah game over. Jika aku hanya pasrah dengan sikap orangtuaku, maka raut Kyungsoo saat itu berkata lain. Rautnya, sikapnya, dan bagaimana dirinya saat itu masih tercetak jelas di ingatanku. Saat itu wajahnya terlihat sehabis menangis, benar-benar jauh dari kata baik. Dia memang sangat menolak hal gila ini, sampai eommonim harus mendorong dirinya dengan paksa. Dia terlihat tidak ingin berbicara ataupun tersenyum saat aku melambaikan tangan dengan gila padanya. Kemudian para orangtua mulai menghilang dengan berbagai alasan agar kami hanya berdua untuk mencapai pendekatan. Kyungsoo terlihat ingin menangis dan yang bisa kulakukan hanyalah berpura-pura serius menonton film di televisi. Tapi dia terlihat benar-benar hancur, jadi aku mulai mendekatinya. Hanya mendekati sambil sesekali melirik, karena aku tidak tahu harus memulai apa. Aku mulai memberanikan diri untuk mengamati bagaimana wujud Kyungsoo saat itu, bahkan namanya aku tidak tahu. Dia menunduk dalam sampai aku harus berjuang untuk melihat dengan jelas bagaimana rupa-nya, tetapi gagal karena matanya tertutup oleh poni tidak jelasnya. Tubuhnya terlihat bagus dengan kulitnya yang putih. Gaun yang dipakainya terlihat indah dan aku harus mengakui kalau itu sedikit terbuka pada bagian-bagian tertentu. Aku mulai berdehem dan itu sukses membuat Kyungsoo menoleh walau hanya sekilas. Bahunya tampak bergetar dan itu membuatku panik.

Aku segera menyapanya dengan, "Hai. Boleh aku tahu namamu?" Kemudian dia mulai mengangkat wajahnya sambil menahan sesenggukan dengan hidung dan mata yang merah. Dia menoleh, menatapku datar, lalu aku tersenyum sebelum mengatakan sesuatu yang lain, mungkin seperti, "Aku Kim Jongin. Kita ber-sekolah di tempat yang sama walau aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Dia seperti menggumamkan kalimat, "Aku tahu dan tidak perlu diberitahu." Saat itu dia bahkan belum menyebutkan namanya. Saat dia akan menunduk, aku menahannya sambil menanyakan namanya, lalu dia menjawab dengan ketus, "Kau tidak perlu tahu!" Tangisnya mulai pecah dan aku berusaha menenangkannya dengan mengusap pelan lengannya. Dia mulai mengucapkan kalimat seperti, "Usiaku masih tujuh belas tahun", "Aku tidak mau hidup lagi", "Tidak ada yang menyayangiku, bahkan eomma sekalipun", "Seharusnya aku dijual saja", "Disini dingin", dan kalimat frustasi lainnya. Dia hanya berusia satu tahun diatas Tzuyu, jadi aku memakluminya. Keputusan ini memang gila. Aku bertanya-tanya mengapa eomma menjodohkanku dengan gadis di bawah umur. Perjodohan tidak segalanya buruk bagiku, karena aku memang tidak punya gambaran yang jelas bagaimana orang yang akan menikah denganku, lagipula dad dan eomma juga dijodohkan, lalu dad beberapa kali tertangkap sedang berkencan dengan wanita lain, tapi tentunya saat usia pernikahan mereka masih sangat muda, karena sekarang dad benar-benar mencintai eomma. Aku pernah berpikir mungkin sebaiknya aku memilih perempuan seperti eomma atau Tzuyu. Aku terus menenangkannya sambil mengusap air mata yang berjatuhan. Kemudian aku tidak tahu mengapa aku mengatakan, "Tidak ada yang bisa membatalkan perjodohan gila ini, karena semua sudah menyetujuinya. Tidak ada yang akan menjualmu bahkan jika kau menjual dirimu sendiri, itu tidak akan berguna. Kita berada di posisi yang sama." Matanya berkedip dengan polos. Aku mulai merasa bersalah mengatakannya. Dia hanya menatapku dengan mata yang merah, tapi kali ini lebih baik, karena aku mulai mengetahui bahwa dia tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Kemudian saat aku menanyakan nama, dan berbagai macam hal lainnya, dia tetap tidak mau memberitahu namanya dan hanya membalas semua kalimatku dengan ketus.

Lagu Gee yang dinyanyikan oleh Girls' Generation mulai terdengar. Aku mengernyit. Lagunya tidak buruk, hanya saja aku tidak pernah tahu kapan pernah memasukkan lagu ini dalam playlists. Segera saja, aku mengganti dengan lagu yang lain dan mulai menutup mata kembali. Sudah lama rasanya aku tidak ke tempat ini—atap sekolah—mengingat ini adalah tempat yang dulu selalu aku tempati. Disini terasa nyaman, jauh dari kata ramai. Aku menghela lega.

"Kenapa kau tiba-tiba pergi?"

Sebuah suara membuatku menoleh dan melihat sosok yang sedang berjongkok dengan wajah kesal. Aku terkejut saat menyadari bahwa itu Kyungsoo. Ini aneh karena aku tidak pernah memberitahu siapapun tentang tempat ini. Dahiku masih mengernyit, tidak menyangka tentang keberadaan Kyungsoo saat ini.

"Kim Jongin." Bola matanya berputar dengan bibir yang dimajukan. Aku terkekeh sebelum mencubit pipinya sekilas, lalu dia mendengus.

"Duduklah, Kyungsoo." Aku menggeser tempatku dan membiarkan Kyungsoo duduk di sebelahku. Dia meluruskan kakinya sambil menatap lurus ke depan. "Kenapa kau bisa kesini?"

Dia menoleh kemudian mengeluarkan cengirannya. Pipinya mulai bersemu. "A-a-aku hanya menebak. Ya, menebak."

"Benarkah?" Aku tersenyum miring dan wajahnya semakin bersemu dengan senyum malunya.

Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Memangnya apa yang kau pikirkan?"

"Kau bertanya pada orang-orang arah mana yang aku lalui, mungkin?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang merah. Dia segera menunduk dan sibuk memilin jari-jarinya. Aku tersenyum lembut kemudian mendekatkan jarak pada Kyungsoo. Aku menyenderkan kepala pada bahunya dengan mata yang terpejam. Alunan musik masih terdengar. One Call Away. Aku mulai menyenandungkan lagu ini sambil sesekali melirik Kyungsoo yang melihat ke langit. Dia tampak kagum dengan mulutnya yang terbuka tanpa disadari. Aku menarik pinggangnya agar lebih dekat denganku. Matanya tampak berbinar-binar, aku tersenyum. Kemudian menyembunyikan wajahku di lehernya. Dia mempunyai aroma yang khas dan memabukkan sehingga aku mengeratkan tangan pada pinggangnya. Aku merasa sesuatu yang lembut menyentuh tanganku. Aku bisa merasakan bagaimana jemarinya menari di atas tanganku. Diam-diam, aku mengulum senyum dengan mata yang terpejam. Beberapa saat kemudian, aku tidak merasakan apapun menyentuh tanganku. Kepalaku sedikit terangkat kemudian aku menghela malas. Dia dan ponsel itu. Aku masih bertanya-tanya apa yang dia lihat disana. Dia terlihat sangat serius dan bahagia, itu benar-benar segera tegak dan memandangnya dengan dahi mengernyit.

Aku berencana untuk menanyakan, tapi sebelum itu aku harus menahan rasa kesal terlebih dahulu. "Kyungsoo, apa yang kau lihat?"

Dia menoleh dan aku tidak bisa menyembunyikan raut kesal ini. Telunjuknya mengetukkan bibirnya yang dimajukan itu. Aku terus menunggu dengan antusias, namun dia menggeleng, dan aku hanya bisa mendesah kasar. "Tidak ada."

Aku memutuskan untuk tidak menyerah, karena ponsel itu membuatku gila. "Kau hanya perlu memperlihatkannya padaku."

Dahinya mengernyit, tapi aku bisa melihat senyuman geli yang dia tahan disana. "Kenapa kau ingin mengetahuinya?"

"Jangan bermain teka-teki saat ini." Aku menyuarakannya dengan tegas. Rautnya terlihat berubah terkejut.

"Aku hanya ingin memastikan mengapa kau ingin mengetahuinya." Wajahnya mulai berwarna saus. Dia terlihat kesal. Artinya, sekarang tidak hanya aku saja yang kesal.

Aku berusaha untuk bersikap tenang menghadapinya. "Baik. Aku hanya penasaran, jadi kau sebaiknya memberikan ponsel itu padaku." Aku berusaha mengambil ponsel yang dia sembunyikan di belakangnya. Dia semakin memundurkan tubuhnya, membuatku semakin sulit untuk mengambil benda itu. "Berikan itu, Kyungsoo."

Dia menggeleng dengan raut kesalnya. "Ini milikku."

Aku menggeram kesal dan tetap berusaha untuk mengambil ponsel itu darinya. Benda itu memang miliknya, tapi apa yang ada di dalam sana membuatku gila dan membuat melakukan hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya; merebut ponsel , kecuali merebut ponsel milik Chanyeol, Sehun, ataupun Taemin. Dia tetap berusaha mempertahankan ponselnya. Aku menarik paksa kedua tangannya hingga dia terkejut dan hampir terbaring. Ponsel itu berada di tangan kanannya, terlihat bahwa dia menggenggam benda itu begitu erat seperti itu adalah hal terpenting dalam hidupnya. Walaupun aku berusaha mengambil ponsel itu, setidaknya aku harus mengatakan sesuatu padanya, seperti meminta persetujuan.

"Katakan apa yang kau lihat di dalam sana."

Dia mendengus sambil memalingkan wajahnya. Aku mendiamkannya beberapa saat, berusaha menetralkan nafas. Dia belum berniat untuk menatapku walau matanya melirik. Tidak ada kata yang aku ucapkan, juga dirinya. Hening. Angin yang datang membuat suasana menjadi sedikit tenang, setidaknya ada yang bisa dijadikan suatu pengalihan disini. Aku dapat merasakan rambutku yang berterbangan. Menghela sebelum aku menatap Kyungsoo yang ternyata sedang mendongak—melihat terlihat melayang ke arah tidak jelas bersamaan dengan rambut ekor kuda khasnya yang diterbangkan oleh angin. Dia terlihat damai. Ponsel itu masih digenggam olehnya, tapi tidak erat. Aku bisa mengambil ponsel itu, tapi itu tidak akan berarti tanpa persetujuannya. Dia menatap ke arahku dengan wajah yang lebih baik dari sebelumnya. Aku merasa sesuatu bergerak di tanganku, aku melihat ke arah itu kemudian melihat tangan Kyungsoo meronta-ronta. Aku belum melepaskannya, berencana untuk mengatakan sesuatu, tetapi saat membuka mulut, dia sudah berbicara lebih dahulu.

"Lepaskan aku dan kau akan mendapatkan benda ini." Ucapnya dengan kata-kata yang terlihat menyeramkan, tapi bagaimanapun juga jika dia yang mengatakannya itu tidak akan terlihat menyeramkan sama sekali.

Aku memandangnya dengan dahi mengernyit dan melihat ke dasar saat mendengar bunyi sesuatu. Kyungsoo melepas ponsel dalam genggamannya. Rautnya terlihat kesal, tapi menyedihkan. Aku segera melepas tanganku. Dia berdiri dan mulai berjalan, tapi aku menahan tangannya. Aku tidak tahu ini kesalahan siapa, diriku atau dirinya atau keduanya. Kyungsoo berdecak sebelum melihat ke arahku dengan tidak suka. Aku menarik tangannya kemudian dia segera terduduk dengan ringisan. Dia sibuk menendangku, aku hanya menerimanya tanpa membalas sedikitpun. Ponsel itu tergeletak begitu saja dan aku segera mengambilnya, belum berniat untuk melihat apa yang ada di dalam sana.

"Apa yang kau lihat disini?" Aku menatap Kyungsoo, menunggu jawabannya. "Aku berjanji tidak akan menertawakan atau apapun hal yang tidak diinginkan terjadi saat aku melihat apa yang sedari tadi pagi kau lihat." Aku menghela pada akhirnya.

Rautnya berubah menjadi lebih baik, kali ini terlihat menggemaskan. Bola matanya melihat ke berbagai arah dengan pipinya yang berwarna merah muda. "T-tidak—"

"Jangan mengatakan kalimat itu lagi, Kyungsoo."

Wajahnya terlihat gugup. Itu membuatku semakin ingin mengetahui apa yang dia lihat, tapi aku harus berusaha menahan kalimat yang akan aku keluarkan ini. Dia memejamkan mata, lalu menghembuskan nafasnya.

"A-aku melihat, um, ya, teaser Kai 'EXO' dan Music Video yang dikeluarkan oleh EXO." Wajahnya merah sempurna, dia tidak berani melihat ke itu benar-benar mengejutkan, tapi aku mulai memandangnya dengan antusias. Dia menggigit bibir bawahnya sambil memalingkan wajahnya. Wajahnya benar-benar merah mengalahkan tomat ataupun saus atau apapun itu. Dia terlihat ragu saat akan melihat ke arahku dengan bibir bawah yang digigit. "K-k-kau tidak akan menertawakannya, bukan?"

"Kau tidak seharusnya menyembunyikan ini, Kyung." Aku bergumam. Wajahnya masih berwarna merah dan aku benar-benar ingin mencium pipinya sekarang. Tentunya aku tidak akan melakukan itu sekarang. "Tunggu, jika hanya melihat itu, kenapa kau selalu melihat ke ponselmu? Itu tidak memakan waktu lama, bukan?" Mataku menyipit, masih penasaran. Dia tidak menjawab, otakku mulai mengolah sesuatu. Mataku melebar. "Kau melihat itu berulang kali?!"

Bola matanya kembali melihat ke arah yang lain bersama kepalanya yang mengangguk. Dia tetap tidak melihat ke arahku saat akan berbicara. "K-k-karena itu menakjubkan, jadi aku melihatnya berulang kali."

Aku memasang raut menggoda dan aku yakin dia melihatku walau hanya sekilas. "Bagaimana jika Kai menciummu?"

Matanya melebar saat melihatku. Mulutnya terbuka. Dia benar-benar terkejut. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan cengiran tidak jelas disertai raut gugupnya. "A-a-aku, ya, um, tidak tahu, m-m-maksudku…" Dia menggigit bibir bawahnya. Aku masih tersenyum menggodanya.

"Kau hanya perlu mengatakan 'ya', lalu memilih dimana ingin dicium atau mungkin di semua bagian." Aku memandangnya dengan seringaian. Rautnya terlihat berpikir dalam kegugupan. "Kyung—"

"Bagaimana jika, jika ada yang melihat? Atau mungkin ada CCTV disini?" Kepalanya menoleh ke berbagai arah. Aku merangkak mendekatinya dan dia mundur secara perlahan, tapi terlambat karena aku menahan kakinya.

"Jangan membuat kemungkinan yang tidak mungkin terjadi. Disini tidak ada CCTV, karena aku sering ke tempat ini dan kurasa hanya aku yang benar-benar kesini." Aku terkekeh sambil memandangnya yang benar-benar enggan untuk melihatku. Ini aneh, aku menghela. "Sekali lagi, kau hanya perlu mengatakan 'ya' dan itu tidak sulit."

Tingkahnya terlalu aneh bahkan wajahnya benar-benar merah dibandingkan benda berwarna merah terang yang pernah aku lihat. Aku mencoba berkompromi dengan otak tentang apa yang sedang Kyungsoo pikirkan, karena ini terlalu berlebihan. Sesuatu terlintas, walaupun aku tidak begitu yakin. Aku menarik kakinya dan aku begitu dekat dengannya. Hening sesaat. Aku menunggu apa yang akan Kyungsoo lakukan selanjutnya. Dia menoleh, melihat ke arahku. Matanya melebar, tapi tetap melihat ke arahku. Aku menatapnya lekat sebelum mulai berbicara, "Kau tidak berpikir aku akan menciummu di bagian paling lembut, bukan?"

Kedua tangannya segera menutup mulutnya, lebih terlihat seperti melindungi sesuatu disana. Kepalanya menggeleng kuat, aku tersenyum miring. Tebakanku benar. Aku tersenyum tipis. "Maksudku, yang paling lembut adalah pipimu." Sudut bibirku tertarik untuk membentuk seringaian bersama punggung jemariku yang mengusap pelan pipinya. Dia mulai melepas tangannya bersama helaan. Aku tidak melepas pandangan darinya, warna samar di wajahnya terlihat permanen. Aku memberinya cubitan kecil dan dia memprotes ringan. Kemudian mendengus ringan dengan dahi berkerut, aku tersenyum melihatnya. Tidak ada percakapan setelah ini. Angin begitu menyejukkan dan langit terlihat indah. Kyungsoo menyunggingkan sebuah senyuman simpul. Dia terlihat semakin manis dan itu membuat aku tidak tega untuk mencubit pinggangnya. Aku mendengarnya menghela, lalu tersenyum kembali. Dia menopang dagu diantara kedua lututnya. Aku menarik pinggangnya agar merapat pada tubuhku, dia tertegun kemudian tersenyum melihatku. Bibirnya mengerucut dengan matanya yang terlihat berpikir. Kalimat Chanyeol tiba-tiba terlintas dan aku mulai membayangkan bagaimana itu akan terjadi atau ciuman yang Chanyeol lakukan. Aku mengerang dan menggigit bibir dengan kuat agar tidak membiarkan impian eomma terwujud.

"Sepertinya, aku belum memberi selamat." Gumamnya sebelum terkekeh. "Selamat atas debutmu!" Serunya riang hingga matanya menyipit. Aku tertawa sedikit sebelum mengusap rambutnya dengan lembut. Dia memiringkan kepalanya dengan senyum yang lembut, aku ikut tersenyum. Jika impian eomma terjadi, maka aku akan sangat merasa bersalah. Pandanganku berubah menjadi nanar. Aku meneguk ludah dengan kasar. Kyungsoo tidak tersenyum lagi, matanya mengerjap dua kali. Aku mengepalkan tangan, menahan sesuatu yang bergejolak.

Ingat, itu tidak akan terjadi.

"Jongin?" Panggilnya dan aku tidak bisa mencerna panggilannya dengan baik. Aku merasakan nafas yang berderu tidak jelas. Semakin aku menahan, semakin aku merasakan jantung berpacu dengan cepat. Aku mendengarnya suaranya lagi, tapi wajahnya terlihat tidak jelas. Aku memegang kedua bahunya, mendekatkan wajahku dengannya. Sambil berusaha mengatur nafas, aku memandangnya, mungkin seperti memohon, tetapi rautnya terlihat bingung. "Jong—" Aku segera mendaratkan bibirku pada sesuatu yang paling lembut dan lembab sebelum dia menyelesaikan kata-katanya. Mataku perlahan terpejam seiring bibirku terus bergerak lembut pada bibirnya. Aku mengeratkan cengkeraman pada bahunya bersama dengan lidah yang mengusap lembut bibirnya. Pikiranku tidak jelas keberadaannya, aku tidak peduli. Bibirnya begitu lembab hingga aku semakin melumatnya dengan dalam meski bibirnya belum terbuka. Tangannya menyentuh dadaku, memukul pelan. Aku segera tersadar dengan mata yang terbuka. Perlahan, aku menjauhkan wajahku, lalu menatapnya. Matanya melebar, tetapi terlihat sayu. Wajahnya yang merah dan nafasnya yang tersenggal. Bibir itu terlihat basah. Nafasku tersenggal dengan keringat yang mulai bercucuran. Saat itu mata Kyungsoo yang berbinar dan milikku bertemu.

"A-a-apa itu?" Tanyanya di sela-sela nafasnya yang tersenggal. Suaranya terdengar serak, aku mengernyit. Aku hanya menatap tanpa mengatakan apapun. "K-kenapa kau melakukannya?" Kyungsoo menyuarakannya dengan lebih tinggi. Aku menyentuh satu per satu jari-jarinya, lalu mengusapnya lembut. Mulutku tidak mengeluarkan satu kalimat pun. Kepalaku tertunduk melihat jari-jarinya.

Saat aku mengangkat kepala, mata Kyungsoo masih melebar, seperti tidak mempercayai apa yang barusan aku lakukan padanya. Dia melihat ke arahku dan aku tersenyum dengan rasa bersalah. Seharusnya aku tidak melakukan itu, tetapi itu tiba-tiba terjadi. Mungkin Chanyeol harus disalahkan, tapi itu sangat tidak mungkin, karena aku yang melakukannya saat ini. Tanganku terus bergerak mengusap perlahan jemarinya. "Maaf." Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan. "Aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi."

Tidak ada jawaban dari Kyungsoo. Gadis itu masih rautnya yang tidak berubah. Aku tidak bisa menebak apa yang kini dia pikirkan sekarang. Matanya menerawang dan aku tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajahnya. Aku mengusap kulitnya secara perlahan. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak sadar apa yang sedang kulakukan. Jari-jariku berjalan di atas pipinya kemudian mengikuti garis wajahnya hingga pada bagian dagu. Bibirnya tertarik untuk membentuk sebuah senyuman tipis, aku segera menarik tanganku, menelan susah payah sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Rautnya terlihat tenang dan membuatku ingin menciumnya lagi.

Dia mengedikkan bahu dengan rona samar pada pipinya kemudian menggigit bibir. Aku mulai merasa panas disini. "K-kau tidak perlu minta maaf. Baekhyun dan Chanyeol juga melakukannya, jadi itu tidak apa-apa, bukan?" Tanyanya dengan mata yang mengerjap. Dia benar-benar terlihat tidak berdosa dan aku semakin bersalah. Jadi, aku memutuskan agar wajah Chanyeol dipenuhi lebam yang mengurangi ketampanannya.

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya dengan dahi yang berkerut. Mungkin dia heran dengan aku yang tidak menjawab apapun. Rautnya benar-benar menggemaskan dan aku mulai merasakan keringat pada tubuhku. Bibirnya begitu pas dan itu gila. Aku menatapnya nanar. Semakin mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Wajahnya memerah akibat kegugupan.

"Jika merasa sesak, kau bisa memukulku, mengerti?" Aku berucap dengan suara serak. Kyungsoo mengangguk cepat sambil memejamkan matanya dengan erat. Aku mengelus kelopak mata itu dengan ibu jari, lalu meniupnya. "Jangan menutupnya."

Aku menangkup wajah dengan kepala yang dimiringkan, mengusap kedua pipinya agar dia tetap tenang. Matanya tidak menunjukkan ketegangan lagi. Secara perlahan, bibirku mendarat di bibirnya, lalu mengecupnya. Kemudian melumat bibirnya dengan lembut dan menghisap secara ringan. Mataku mulai terpejam dengan sendirinya seiring terhanyut dalam suasana ini. Bibirnya begitu kenyal sehingga aku baru menyadari bahwa aku melumatnya sedikit kuat. Aku merasakan sebuah tangan mencengkeram bahuku, aku membuka mata sedikit. Matanya terpejam dengan wajah yang berkeringat. Aku mengusap kepalanya dengan satu tangan kemudian menggigit bibir bawahnya. Bibirnya terbuka dan aku merasa tangan Kyungsoo menekan kepalaku. Lidahku memasukinya dan menekan lidahnya.

"Jongin.." Lirihnya di sela-sela ciuman dan tangannya menggenggam erat rambutku. Aku mengusap pelan punggungnya. Kemudian aku menelusuri mulutnya sambil menghisap dan melumatnya. Lidahnya menekan lidahku dan aku mencoba untuk tidak kehilangan akal sehat yang sudah setengah bagian hilang. Tangannya sibuk mengacak rambutku. Dia melenguh dan aku segera menarik wajahku. Nafasku terengah pendek, juga Kyungsoo. Matanya terlihat sayu dengan keringat di wajahnya, juga poninya yang tidak beraturan. Itu semua membuktikan bahwa kewarasanku hampir hilang. Kyungsoo menggumamkan namaku.

"Kenapa kau melepasnya?" Dia bertanya dengan kepala yang mulai bergoyang, aku segera menarik kepalanya dan menyenderkannya di dada.

"Karena kalau tidak, eomma akan mempunyai cucu." Aku tertawa sedikit. Bibirnya terlihat mengkilap dan aku mengecupnya lama.

"Cucu?" Alisnya terangkat. Aku mengangguk sebagai jawaban. Dia mendengus sebelum menghela. Suasana terasa tenang dengan jari-jari milik Kyungsoo yang entah sejak kapan bermain di dadaku. Walaupun aku tidak melihatnya, aku bisa merasakannya. "Jongin, apakah setelah berciuman akan mengantuk?" Dia mendongak dengan warna merah muda di pipinya. Aku merapikan poninya yang berantakan sebelum mengelus kepalanya.

"Entahlah. Aku tidak pernah berciuman sebelumnya." Aku tersenyum dan mata sayunya sedikit melebar. Aku bisa menebak apa yang dia pikirkan tentang orang sepertiku belum pernah berciuman. Untungnya dia tidak berkata apapun lagi setelah itu, dia menguap. Aku melihat jam tanganku. Bel baru saja berbunyi, tapi Kyungsoo terlihat lelah. Aku tidak tahu mengapa dia bisa lelah hanya karena sebuah ciuman. "Kau mengantuk?"

"Mhm." Dia mengangguk sambil memeluk pinggangku, dia mengubur wajahnya pada dadaku. Aku mengusap perlahan salah satu pipinya. "Pukul berapa ini?" Suaranya hampir menghilang kemudian menguap.

"Bel sudah berbunyi."

Dia hampir bangkit jika aku tidak menahan kepalanya. "Aku harus ke kelas!" Serunya dengan suara yang teredam.

Aku mendesah. "Tidak. Kau lebih baik tidur, Kyung." Aku mulai memejamkan mata. Dia bergumam kesal dan aku dapat mendengarnya.

"Ini sekolah, Jongin." Dia segera mengangkat wajahnya. Kemarahan mulai terlihat. Aku bersikap santai. "Aku tidak pernah terlambat masuk sebelumnya. Jadi, biarkan aku pergi." Ujarnya sambil berusaha melepas cengkeraman tanganku pada pinggangnya. Dia menggeram saat usahanya sia-sia. "Apa tujuanmu menahanku?"

Aku menghela sebelum menjawab. "Tidak ada gunanya masuk jika mengantuk, sayang." Aku mencubit pipinya dengan gemas. Dia menghela pasrah, lalu kembali menyenderkan bahunya. Aku mengelus pipinya. "Aku tahu kau sangat mengantuk."

Kyungsoo tidak menjawab. Saat aku menunduk, aku melihat dia sudah tertidur. Ini begitu cepat, tetapi dengkuran halus membuktikan bahwa dia benar-benar kelelahan. Tanpa dia sadari, dia semakin mengeratkan pelukannya. Aku tersenyum geli melihatnya sebelum memejamkan mata. Aku masih tidak tahu apa penyebab dia seperti sesuatu yang berharga. Bukan karena aku dan dia telah menikah, bukan juga karena wajahnya yang manis, dan bukan karena rautnya yang selalu menggoda. Jika dibandingkan dengan mantan kekasihku, Kyungsoo tidak mempunyai wajah yang seperti ratu, tapi dia mempunyai sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh yang lain dan aku tidak tahu sesuatu apa itu.


Aku melangkah di belakang tiga orang yang seperti Tuan Rumah. Aku tidak ingat kapan terakhir kali mereka ke apartemenku, karena aku tidak pernah mengajak mereka. Dan, sehabis pulang sekolah mereka berkata bahwa aku mempunyai janji tentang mengajak mereka ke apartemenku. Tentunya itu tidak bisa dipercaya begitu saja, tapi raut mereka yang seperti anak ayam itu membuatku mengangguk pasrah. Pastinya mereka mempunyai tujuan, seperti berkuasa seenaknya di apartemenku. Rupa apartemenku saat terakhir kali mereka datang masih tercetak jelas di ingatanku. Permintaan mereka yang tiba-tiba itu membuatku harus mengirimkan pesan pada Kyungsoo bahwa aku tidak bisa mengantarnya dan untungnya dia memaklumi itu, tapi aku merasa tidak bertanggungjawab membiarkan Kyungsoo pergi dengan bus. Aku tidak bisa membiarkan Kyungsoo berada satu mobil dengan mereka. Mereka mempunyai mobil masing-masing dan masih memohon untuk menumpang seperti anak ayam. Lagi, aku mengangguk pasrah.

Kini aku, Sehun, Chanyeol, dan Taemin tiba di depan pintu apartemenku. Mereka masih berada di depanku, mencoba menebak kode apartemenku. Saat kode yang dimasukkan salah, mereka mengumpat, aku memutar bola mata. Mungkin mereka melupakan bahwa pemiliknya ada disini. Ketiga kalinya mereka memasukkan kode dan semuanya salah. Chanyeol menendang pintu apartemen dan saat dia menoleh, aku menatapnya tajam. Seperti yang aku kira, mereka lupa bahwa aku berada disini. Mereka mundur, aku maju, lalu menekan angka secepat mungkin. Taemin meninju lenganku, memprotes, dan aku mendengus pelan, memakluminya. Saat kami melangkahkan menuju apartemen, aku tersenyum bangga melihat raut mereka yang tidak percaya. Tentunya tidak percaya bahwa apartemen ini begitu rapi.

"Kurasa menguntungkan mempunyai istri seperti Kyungsoo." Sehun bergumam sambil berjalan mengitari ruangan ini, diikuti Chanyeol dan Taemin. "Tunggu, dia tinggal disini?"

Aku menggeleng. Itu memang sebuah fakta jika Kyungsoo dan aku tidak tinggal bersama. Jika dia bertanya apakah Kyungsoo menginap maka aku akan mengatakan yang sejujurnya. "Ada apa dengan wajah kalian?" Aku bertanya pada Chanyeol dan Taemin. Mereka menyeringai penuh arti.

Mereka segera melangkah mendekatiku. Tangan Chanyeol mengangkat sebuah buku. Mataku menyipit, buku itu terlihat tidak asing. Itu adalah buku yang aku lihat tadi pagi, itu punya Kyungsoo. "Itu punya Kyungsoo. Ada apa?"

"Kupikir Kyungsoo adalah gadis polos." Gumam Taemin. Aku mengernyit. Kyungsoo memang polos dan itu tidak hanya dipikirannya.

Chanyeol berdehem dan menunjukkan bagian belakang bukunya. Terdapat sinopsis disana. Dahiku semakin berkerut. "Historical Romance." Ujar Chanyeol dengan matanya yang melebar.

"Dan?" Aku masih tidak mengerti. Dia berdecak dengan bola matanya yang berputar.

"Kau tidak tahu tentang apa yang ada di dalam sini?" Tunjuk Chanyeol pada buku itu. "Kurasa kau lebih polos daripada Kyungsoo." Gumam Chanyeol dan aku berekspresi tidak suka padanya.

"Ayolah, Jongin. Ini adalah buku bernuansa erotis!" Mataku melebar dengan tidak percaya mendengar perkataan Taemin. Aku tahu apa arti erotis itu dan mereka tidak perlu menjelaskannya lebih lanjut. Kyungsoo dan erotis. Lupakan. Itu tidak mungkin.

"Kalian yakin?"

"Sangat!" Jawab mereka bersamaan. "Ini adalah salah satu buku yang terkenal dengan Historical Romance-nya." Kalimat Chanyeol membuat aku terkejut. Terkejut karena orang sepertinya pernah membaca buku. "Menurutmu, mengapa Kyungsoo punya buku seperti ini?"

Aku mengedikkan bahu. "Karena dia ingin melakukannya!" Seru Chanyeol dan Taemin dengan semangat. Kemudian mereka tertawa. Kepalaku mengangguk malas. Di pikiranku, mungkin Kyungsoo belum membacanya walaupun aku tidak yakin. Lagipula, Kyungsoo tidak pernah membahas hal seperti itu, kecuali saat itu. Ya, saat di atap sekolah dan wajahnya memerah, karena dia berpikir aku akan menciumnya di bibir, sebelum itu terjadi. Aku berusaha menganggap itu tidak benar. Ciuman adalah hal yang biasa dan belum tentu berkaitan dengan erotis. Aku menghela. Chanyeol dan Taemin terlihat mencari keberadaan Sehun. Sehun keluar dari sebuah kamar. Aku mengernyit. Disini hanya ada satu kamar dan artinya dia ke kamarku. Aku segera menghampirinya.

"Aroma kamarmu lebih baik daripada yang sebelumnya." Sehun mengangguk-angguk. Satu lagi orang yang sama gilanya dengan Chanyeol dan Taemin. "Omong-omong aku suka aromanya." Dia berbisik.

Aku segera membelalakkan mata. Tiga orang gila dihadapanku sedang tertawa dan aku hanya bisa mendengus. Aku tidak perlu bertanya aroma siapa yang dia maksud karena itu sudah jelas. "Kau ingin aku mengatakan ini pada Luhan?" Aku berucap santai. Wajah Sehun mulai menunjukkan kengerian, aku menyeringai. Aku berdehem, menyadarkannya. Wajahnya yang pucat membuatku tersenyum penuh kemenangan. "Tenang, aku tidak akan memberitahunya."

Setelah percakapan itu, mereka segera mengambil makanan ringan yang ada di lemari sambil menghidupkan PlayStation4 milikku. Taemin memilih sebuah game yang sedang populer akhir-akhir ini, kami menyetujuinya. Lagipula, aku hanya dua kali memainkan itu. Hanya Chanyeol yang bermain sambil memegang ponsel, menunggu pesan dari kekasihnya. Sehun akan mengumpat saat kalah sambil melempar bungkus makanan ringan. Taemin akan memukul orang disebelahnya—aku—jika kalah. Aku tidak perlu melihat dengan jelas bagaimana keadaan lantai akibat perbuatan mereka. Tiba-tiba, Taemin mengatakan bahwa dia lapar. Saat itu juga, aku dan yang lainnya merasakan lapar. Aku segera membuka lemari es. Hanya ada bahan-bahan masakan dan tidak ada yang bisa memasak disini. Makanan ringan sudah habis. Jadi, aku menggeleng pasrah pada mereka yang menunduk pasrah. Sesuatu tentang memesan makanan terlintas dan aku segera menelpon sebuah tempat makan yang menyediakan pizza. Wanita itu bilang, pizza akan diantar sekitar setengah jam lagi. Aku memberitahukan mereka dan mereka segera menggeleng cepat. Setengah jam terlalu lama untuk menahan lapar.

Kami memutuskan untuk membeli mie instan. Saat berunding, aku dan Sehun yang akan pergi membelinya. Jaraknya sangat dekat, hanya berjalan. Selama di mini market semuanya berubah. Tidak lagi mie instan, bahkan oreo dengan dua rasa, cad burry, chips, dan yang lainnya telah terbeli. Ini ide Sehun dan aku hanya menghela selagi membayar di kasir. Tidak buruk, karena tidak mungkin jika mereka menghabiskan itu semua dalam sehari, kecuali jika mereka menginap. Aku mendorong pintu dan segera keluar menuju apartemen. Biasanya, Chanyeol akan menelpon jika dia sudah sampai pada batas kelaparannya, berteriak tidak jelas.

Pintu apartemen telah di depan mata, aku segera menekan tombol kode. Kode benar dan aku segera membuka pintu, lalu memasuki ruangan bersama Sehun. Suara tawa mereka terdengar dan aku merasa ada yang tidak baik jika meninggalkan mereka berdua disini. Aku melangkah menuju ruang tamu dan mendapati Chanyeol dan Taemin sedang memakan ramyeon. Aku mengernyit.

"Kalian memasaknya?"

Mereka menoleh dan menggeleng. "Tidak, tidak. Memasak bukan keahlianku." Ucap Taemin. Jika bukan mereka yang memasaknya maka mereka memesannya. "Dan kami tidak memesannya."

Aku mengangkat alis. Samar-samar aku dapat mendengar suara ribut di dapur. Dahiku berkerut heran sambil terus melangkah menuju dapur. Seseorang dengan rambut hitam legam yang diikat ekor kuda dengan seragam sekolah. Itu Kyungsoo. Aku segera mendekatinya. Rautnya menunjukkan bahwa dia terlalu fokus dengan piring yang menumpuk. Aku menelan kembali pertanyaan yang ingin aku lontarkan, melihat dirinya yang tengah serius membuatku menunggu lebih lama hingga dia berbalik. Tentu dia tidak menyadari keberadaanku, itu terbukti dari sesuatu yang disenandungkannya. Aku tersenyum. Dia berbalik dengan raut terkejut sama seperti yang aku lakukan. Jaraknya begitu dekat bahkan aku bisa merasakan dengan jelas bagaimana gugupnya dia. Dia menggigit bibirnya dan aku mengepalkan tangan. Dia semakin menjauhkan wajahnya saat aku mendekatkan wajahku. Pikiranku mulai hilang entah kemana dan aku tidak peduli, tapi dia segera mencegahnya.

"Ada apa?" Kyungsoo menatap dengan curiga.

"Kenapa kau datang?"

"Memangnya ada apa?"

Pertanyaan yang dibalas dengan pertanyaan. Aku menghela sebelum menanyakan kalimat yang sama. "Ada CD dan buku milik Baekhyun yang tertinggal." Ucapnya sambil mengedikkan bahu. Aku mulai teringat pada benda-benda yang tergeletak di meja. Dalam hati, aku menghela lega karena buku itu bukan milik Kyungsoo, tapi aku tidak menyangka jika Byun Baekhyun mempunyai buku seperti itu.

"Kau sudah membaca bukunya?" Aku bertanya dengan hati-hati. Dia menggeleng dan aku tidak bisa menahan senyuman. Dahinya mengernyit. "Kenapa kau tidak membacanya?"

Rona di wajahnya mulai muncul dan dia tersenyum malu. "Karena aku sedikit tidak bisa dalam mencerna bahasa novel terjemahan." Dia mulai melangkah sambil menunduk. Aku mencium pipinya, wajahnya terlihat terkejut. "Kenapa kau melakukannya?"

Aku hanya tertawa sambil berjalan menuju ruang tamu. Disana, mereka sedang bermain sesuatu. Sehun sedang memakan ramyeonnya dan ada semangkuk ramyeon di atas meja. Sekarang aku mengetahui siapa yang membuat ramyeon. Saat Kyungsoo duduk di sofa, Chanyeol dan Taemin menghampirinya. Tubuh mereka menempel dengan Kyungsoo dan aku menatap mereka berdua dengan tajam, tapi mereka tampak tidak peduli. Chanyeol dan Taemin bertanya sesuatu pada Kyungsoo, terlihat seperti menggoda.

"Kau punya aroma yang bagus." Ucap Chanyeol yang dibenarkan oleh Taemin. Kyungsoo hanya tersenyum gugup, tapi aku dapat melihat dengan jelas matanya yang semakin bulat. Taemin mengendus lengan Kyungsoo, aku menggeram, tapi tetap ingin melihat apa yang sebenarnya mereka rencanakan. "Aromamu sedikit berbeda dari terakhir kali aku bertemu denganmu."

"Maksudmu?" Kyungsoo terlihat tidak percaya. "Aku hanya memakai satu jenis parfum." Gumamnya.

Chanyeol dan Taemin menyeringai. "Aromamu sedikit terasa seperti Jongin." Taemin mengedipkan sebelah matanya dan aku segera menarik dirinya dengan paksa, tidak peduli ringisannya. Mulut Kyungsoo terbuka dengan sendirinya. Wajahnya memerah seperti ddukbokki. Chanyeol berusaha menahan tawanya. Jika ini diteruskan maka akan menyebabkan tanda tanya pada gadis itu. Aku tidak ingin jika Kyungsoo menanyakan apa yang mereka maksudkan karena apa yang mereka katakan adalah gila,

"Kyungsoo, pulang sekarang." Perintahku sambil terus menahan Taemin yang sedang aku injak. Kyungsoo segera mengambil tasnya dan keluar sambil melemparkan senyuman. Sedikit bersalah saat membiarkan Kyungsoo pulang sendiri, tapi melampiaskan kekesalan pada Taemin lebih penting. Aku segera melepas Taemin.

"Itu kenyataan." Taemin berkata sambil menyeringai. Mungkin menginjaknya saja tidak akan mempan.

Aku mendengus. "Tapi kau tidak perlu mengatakan padanya." Aku mendesis.

Dia tertawa. "Aku sangat yakin jika kau menyadarinya." Dia duduk di sofa sambil menepuk pundak Chanyeol. "Tebak apa yang Jongin lakukan pada si Manis Kyungsoo?"

"Mungkin dia tergoda saat aku mencium Baekhyun." Chanyeol menaikkan alisnya. "Aku benar, Kim Jongin?"

Aku tidak membalas perkataannya karena setelah itu mereka tertawa. Aku segera menuju meja makan bersama Sehun yang sudah selesai dengan makanannya. Ramyeonnya telah mengembang, tapi itu lebih baik daripada mendengarkan apa yang mereka bicarakan tentang aroma Kyungsoo. Gadis itu memang mempunyai aroma yang menggoda dengan wajah yang menggemaskan. Sehun memanggil saat berencana kembali memainkan PlayStation. Aku segera menuju ke sana saat makanan telah habis.


To be continued?


Akhirnya bisa update! Woohoo~ Ini semua karena banyak hal yang membuat saya mulai melupakan kalo ff harus di update. Lol. Mulai dari Raizel (karakter Noblesse) sampai anime, movie, dan drama yang bener-bener membuat saya jadi keterusan hingga berujung pada mager. Jadi…maaf. Oh, makasih buat yang sudah review dan berbagai macam hal karena semuanya itu membantu saya untuk bangkit dari kemageran

Err, aneh gak pake sudut pandang orang pertama aku-an? Ini emang udah direncanain dari lama, soalnya saya sering liat ff Eng yang authornya udah pro pake sudut pandang ini dan keren banget ._. Jadi, pengen nyoba dan inilah hasilnya dari sudut pandang Jongin. Milih Jongin karena ada teman yang bilang kalo saya terlalu sering dari Kyungsoo-nya.

Last, can give me something opinion in review box?


Azle Gwen