Hello, dear readers~

A new chapter is coming~ And it's the first Ramadhan! Untuk saudara-saudari Muslim pembaca, selamat menunaikan ibadah puasa ya... :)

Dan, terima kasih untuk kalian yang masih bertahan mengikuti fic ini *bow. Termasuk yang sudah hadir dalam chart, mem-fav, mem-follow, dan yang paling utama yang sudah me-review. It's really meant a lot for me! Beberapa review sudah author balas via PM, tapi jika ada yang belum author mohon maaf, ya

Anyway, tanpa banyak cakap lagi, selamat membaca. Sekali lagi, jangan lupa review ya~ Itu bisa menjadi penyemangat dan penginspirasi, lho~

Chapter 10

Profesor Kanda membuat Harry mendapat kesan bahwa organisasi rahasia tempatnya bergabung adalah organisasi beraura gelap, sangat rahasia, dan suram. Maksudnya, lihat saja si rambut panjang itu. Sifatnya begitu dingin! Wajahnya selalu tanpa ekspresi! Gaya bicaranya selalu tajam, setajam matanya yang kadang Harry yakin ada tambahan di belakang kepalanya karena ia selalu tahu siapa yang berisik di dalam kelas sementara ia berbalik dari mereka!

Tapi, tampaknya hanya Kanda yang begitu. Terbukti atasannya yang berpakaian serba putih itu tampak ramah. Si rambut pirang memang agak kaku, tapi jelas terlihat kalau ia tipe resmi. Adapun si rambut merah, sikapnya yang ceria benar-benar bertolak belakang dengan Kanda. Ia mungkin satu-satunya orang yang dengan santainya berani mengobrol dengannya sementara makhluk lain, hidup atau mati, akan memilih menjauhi guru mereka itu.

Meski kedengarannya Profesor Kanda banyak memberikan ancaman mengerikan yang sepertinya dianggap angin lalu oleh si rambut merah.

Dan Harry, Ron, dan Hermione sendiri keramahan si rambut merah ketika bertemu dengannya di perpustakaan, yang niat mereka awalnya mencari bahan esai transfigurasi mereka.

Lavi, begitu namanya, datang ke sana bersama Profesor Kanda yang bertampang jengkel. Ekspresi si rambut merah itu tampak seperti anak kecil yang mendapat hadiah Natal ekstra begitu memasuki perpustakaan. Matanya berbinar riang sekaligus lapar – kombinasi yang aneh - dan ia melompat-lompat kecil di tempatnya berdiri.

"Ini tak mungkin, ini tak mungkin," katanya bersemangat. "Aku pasti sudah mati dan akhirnya aku masuk ke surga pilihanku! Buku di mana-mana~"

"Ini perpustakaan, bukan surga! Tapi kalau kau mau mati, kau tinggal bilang saja, Baka Usagi!"

"Ini hebat! Ini hebat!" Lavi mengabaikannya dan sibuk menatap rak-rak buku menjulang di depannya dengan ekspresi sangat bahagia.

Jelas sekali Profesor Kanda sangat jengkel dengan tingkah si rambut merah. Tak sabar, ia menyeret Lavi yang tampaknya masih terbius dengan banyaknya buku, ke arah Madam Pince. Kanda tampak berbincang sebentar dengan penjaga perpustakaan kaku itu, sesekali mengedik ke Lavi. Harry hanya mendengar beberapa potong kalimat, seperti, "... dia akan diam jika buku-buku sudah di bawah hidungnya..." dan "...dia tidak akan mengacau, kalau iya, lakukan semaumu."

Dan setelahnya, Profesor Kanda pergi, meninggalkan rekannya yang menatap Madam Pince yang mengernyit dengan penuh semangat. Jelas aura galak seperti burung manyar pemarah entah sama sekali tidak disadari atau diabaikan si rambut merah.

Dan baru Harry sadari setelahnya, pria muda yang bernama Lavi itu maniak buku.

Dengan bantuan Madam Pince, ia mengumpulkan sejumlah besar buku setebal bata – beberapa malah lebih tebal – dan menempatkannya di satu meja baca yang segera menjadi teritorinya. Ia langsung tenggelam dalam bacaannya itu dan tak mempedulikan sekitarnya dalam waktu lima detik.

"Dia membaca semua buku sejarah," kata Hermione, mengamati si rambut merah yang sosoknya tertutupi gunungan buku.

"Siapa yang mau membaca buku sejarah?" komentar Ron sangat heran. "Dia aneh, kalau kau tanya pendapatku."

Harry hanya mengangkat bahu, kembali menunduk ke esai Ramuannya. Ia sedang memiliki sebuah misi khusus; tak membiarkan esai kali ini mendapat D dari Snape.

Saking seriusnya menyelesaikan esainya, Harry dan Ron tidak menyadari Lavi yang bergerak ke meja mereka, bertanya sesuatu pada Hermione yang mengawasi keduanya mengerjakan tugas sambil meneliti laporan Prefek-nya. Ketika Hermione memberitahu sederetan kata rumit tentang judul buku, Harry mengangkat wajahnya dari perkamen esainya, mendapati Lavi yang menatap serius ke buku bersampul kulit dengan ornamen unik sambil mendengarkan penjelasan sahabat mereka.

"... ini bisa kau temukan di buku Transfigurasi untuk Aplikasi Praktis. Di sana tertulis bagaimana penggunaan dan alasan hukum substitusi elemental."

Lavi mengangguk-angguk. "Sesuatu yang layak dicari! Sihir ternyata bisa jadi sangat mengagumkan, eh?"

Si rambut merah itu menguap sambil menggeliat.

"Kurasa aku bisa pinjam beberapa buku pakai nama Yuu, eh? Atau aku minta dia belikan saja? Lebih enak kalau jadi milik sendiri, kan?" gumamnya dengan seringai usil.

"Er, Mr Bookman?"

Lavi menoleh kaget sampai hampir terjungkal dari kursinya.

"Jangan panggil begitu! Lavi saja!" seru si rambut merah segera. Harry melihat Madam Pince berdesis mengancam, membuat mereka serentak merendahkan suara. "Penjaga perpustakaan kalian seram sekali..."

Hermione tersenyum gugup, "B-baiklah. Hanya ingin tahu, kau sepertinya sudah mengenal Profesor Kanda sejak lama. Maksudku, aku tahu Profesor Kanda itu orang Jepang, jadi setahuku biasanya mereka tak panggil nama depan kecuali sudah kenal sangat lama dan akrab..."

"Oh! Jadi Yuu tidak pernah beritahu nama depannya?" tanya Lavi, menyeringai. "Yah, dia memang tidak suka kalau kami panggil begitu. Bahkan tidak dengan Master-nya sendiri. Dan, yah, bisa dibilang lama tidak, ya? Aku kenal dia sejak kami seusia kalian. Lima belas, sekitar itulah. Dan dia hampir memenggalku gara-gara memanggil nama depannya untuk pertama kalinya."

Sungguh aneh mendengar Lavi menceritakan hal sehoror itu dengan gaya ringan.

"Tapi menyenangkan bisa melihatnya marah hanya karena hal seperti itu. Habis, wajah dinginnya itu kadang bikin jengkel!" Lavi mendengus. "Dan kuharap dia tidak mengancam siapapun di sini?"

"Yah, dia tidak pernah membawa pedangnya..."

"Ah, benar," kata Lavi, tampak sangat terkesan. "Kurasa Yuu menurunkan standar emosinya ke level di mana aku tak tahu kalau tingkatan itu sebenarnya ada."

"Eh?" Harry, Ron, dan Hermione mengerjap heran.

Lavi menyeringai melihat keingintahuan terpancar di wajah tiga murid sahabatnya itu. Heh, sedikit cerita tidak masalah, kan? "Yah, Yuu itu bisa dibilang anggota kami yang paling berbahaya! Dia punya temperamen yang buruk, kepribadian kasar, dan tidak segan pada siapapun yang menghalani jalannya! Bahkan Supervisor kami saja tidak berani dalam skala tertentu padanya!" Lavi menggelengkan kepalanya dramatis. "Di Markas, dia punya beberapa julukan mengerikan: Si Iblis Pemenggal, Reinkarnasi Dewa Neraka, dan Setan Black Order!"

Harry tercengang. Profesor muda mereka ternyata punya prestasi yang sangat mengagumkan dalam memiliki nama yang membuat kecil nyali. Di sampingnya, Ron menelan ludah ngeri.

"Dia bisa membuat semua gadis bertekuk lutut dan memujanya, sampai mereka tahu mulutnya sekasar bajak laut. Yah, tapi jika tahu masa lalunya, kurasa wajar dia jadi orang brengsek tak berperasaan begitu..."

Kalimat terakhir itu terdengar seakan Lavi bicara pada dirinya sendiri. Dan dia tampaknya tak sadar masih berbicara pada mereka, mengatakan lagi dengan nada suram dan tatapan nyalang, "Dia kehilangan segalanya karena Black Order, tapi dia tak bisa bebas... Heh, masalahku terdengar konyol daripada masalah dia..."

"Eh, Lavi..." Hermione tampak ragu.

Lavi mengerjap, sebelum tersenyum, "Ah! Hampir makan malam!" Lavi menatap jam di dekat pintu. "Kurasa aku harus pergi sekarang! Kalau tidak, nanti Yuu bakal menyeretku keluar dari sini!"

Lavi meninggalkan meja mereka untuk mengembalikan buku-buku yang tadi dibacanya sebelum keluar dari perpustakaan. Tapi, mereka bertemu dengannya lagi di depan Aula Besar, mengamati deretan Dekrit Pendidikan yang digantung di sepanjang dinding di kanan dan kiri pintu ek ganda itu. Ekspresinya serius, seakan berpikir keras, sementara Kanda yang berdiri di sampingnya tampak tak sabar dan Link juga mengamati deretan plakat itu, tapi tidak seantusias Lavi.

"...banyak sekali untuk jadi Dekrit," komentarnya.

"Yeah, biasakan dirimu," gerutu Kanda.

"Hm! Aku jadi punya ide dengan ini," kata Lavi ceria, menyampirkan tangannya dengan akrab ke bahu guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam mereka yang jelas amat sangat tidak suka dengan kontak fisik seperti itu. "Menempelkan plakat seperti ini di Aula atau di depan kafetaria! Tapi, semuanya pajang wajahku! Yah, aku tahu aku ini cakep, keren, seksi! Ha!"

Tawa Lavi terpotong seketika karena Kanda, saking jengkelnya, menendang si rambut merah sampai terguling dan menabrak dinding. "Idiot narsis!"

"Aw, Yuu~" keluh Lavi, sambil mengusap dahinya yang mencium tembok batu, "Kau ini kasar sekali, sih?"

Anak-anak yang melihat itu bergidik ngeri dan buru-buru masuk ke Aula Besar. Ini tak luput dari pengamatan Lavi.

"Jangan galak-galak! Nanti muridmu mimpi buruk, lho~"

"Memangnya aku peduli?" sambar Kanda.

"Ah, ayolah~ Aku tahu, jauh di dalam hatimu, kau itu orang baik hati dan sangat perhatian..."

"Aku ragu," komentar Link.

"Kalau begitu, kutunjukkan padaku seberapa baiknya aku! Sial, kutinggalkan Mugen di kamarku –!"

"Eh?! Kok pakai bawa-bawa Mugen?!" seru Lavi horor.

"Kurasa aku mau makan daging kelinci malam ini."

"GYAAAAAAAHHHH!"

Lavi lari tunggang langgang menjauhi Kanda yang memancarkan aura mengancam, langsung masuk ke Aula, tak peduli banyaknya anak-anak yang menoleh sangat kaget. Tapi begitu si rambut merah menghilang, aura itu lenyap, menyisakan Kanda yang menghela napas bosan.

"Itu tadi," kata Ron dengan suara bergetar, masih merasakan efek horor yang dipancarkan profesor muda mereka yang memasuki Aula diikuti oleh Link, "lumayan menyeramkan, eh?"

Di belakangnya, Neville Longbottom mengeluarkan suara seperti cicit tikus terjepit.


"Mr Komui," ujar Profesor Dumbledore, bercakap-cakap dengan Supervisor Black Order itu ketika makan malam dimulai. Aula Besar masih belum terlalu ramai. Bahkan Umbridge belum ada di sana.

Komui tersenyum. Ia tahu, percakapan ini akan sangat menarik perhatian para guru Hogwarts. "Ah, ya. Dia bergabung dengan Black Order di usia yang sangat muda." Komui mendesah pelan, "Waktu itu, sepertinya dialah anggota termuda kami."

"Kalian merekrut anak di bawah umur?" tanya McGonagall, mengernyit tak setuju.

Komui mengangkat bahu. "Order yang dulu sangat... ah, bagaimana mendeskripsikannya? Keras, begitulah. Mereka akan mencari siapapun yang bisa berada garis depan dan mempersiapkannya menjadi petarung tangguh. Semakin dini, semakin baik, begitu menurut mereka. Kanda menerima pelatihannya sejak dia delapan tahun, masih di China, sebelum pindah ke Inggris setahun kemudian."

Para guru yang mendengar itu hampir semuanya dibuat tercengang. Tentu saja, hanya Kepala Sekolah dan Severus Snape yang tak menampilkan ekspresi yang kentara.

"Aku bergabung dengan Order beberapa tahun setelah Kanda, itu juga karena adikku ada di sana, jadi aku waktu itu belum tahu rahasia-rahasia organisasi. Yah, mengesampingkan semua itu, aku senang Kanda ada di sana sebelum aku bergabung." Ada senyum suram di wajah Supervisor itu, teringat akan masa lalunya. "Dia menjaga Lenalee selama tiga tahun awal yang mengerikan di Order. Sesuatu yang gagal kulakukan. Dia barangkali salah satu dari sedikit laki-laki yang kuizinkan dan bisa kupercaya untuk menjaga adikku. Dia toh tidak setipe dengan Cross –"

Tepat saat itu Lavi memasuki Aula Besar seperti angin ribut, berteriak keras dan langsung bersembunyi di belakang kursi Komui. Tentu saja, ini membuat para guru sangat heran dan para murid sangat kaget.

Supervisor Black Order itu anehnya tampak kalem, menyesap tehnya, "Apa kau baru saja membuat Kanda mengamuk lagi, Lavi?"

Lavi menjulurkan kepalanya, menatap pintu Aula dengan gugup sambil menyeringai, "Aku lupa kalau dia tidak suka bercanda!"

Para guru dibuat tercengang dengan jawaban santai Komui kalau kolega muda mereka lebih suka menghajar orang, dan menyarankan Lavi untuk sparring dengannya saja.

"Tidak, ah! Kakiku baru sembuh! Aku tidak mau dapat patah tulang yang lain! Dan bukannya aku mau pergi ke Argentina delapan jam lagi? Aku mau tetap cakep, kudengar cewek-cewek sana cantiknya super!"

"Tidak heran Kanda ingin menendang bokongmu," seringai Komui. "Tapi kuharap kau tidak terlalu jauh sampai menyentuh rambutnya lagi, Lavi." Si rambut merah terkekeh, sebelum mengambil tempat duduk di samping Komui.

"Jadi Kanda memang tidak suka jika ada yang memegang rambutnya?" tanya Profesor Sprout.

Komui mengangguk. "Itu sama berbahayanya dengan menusuk mata harimau tidur. Lavi ini pernah usil mengepang rambutnya waktu Kanda ketiduran di kafetaria."

"Dia menghajarku tanpa ampun, baru berhenti ketika Master-nya datang dan mencegahnya membabat habis rambutku!" cengir Lavi, tak sadar tatapan kaget sejumlah guru. "Dulu waktu lagi tempur, ada monster yang memotong rambutnya, paling cuma sepuluh helai. Dia benar-benar murka dan mencincang monster itu dengan buas. Buset, marahnya seram luar biasa. Aku yakin aku melihat penampakan Raja Iblis di belakangnya! Aku yakin dia reinkarnasi-nya!"

"Dan kau tetap saja suka mengganggunya."

"Habis seru, sih!" seringai Lavi. "Tapi dalam waktu dekat aku tidak akan lakukan itu..."

"Lakukan apa, Baka Usagi?"

Geraman rendah yang sangat tidak asing itu nyaris membuat Lavi terlonjak. Dengan gugup Lavi menoleh, mendapati yang sedang mereka bicarakan baru saja mencapai meja guru. Link mengikuti di belakangnya, tapi langsung duduk di samping Komui.

"Hehehe, Yuu... Kau tidak jadi makan kelinci, kan?"

Kanda mengernyit, "Masih kupikirkan."

Senyum Lavi melebar, "Aku tahu! Kau kan teman baikku!"

"Aku bukan temanmu," sambar Kanda segera.

"Eh?" Lavi agak kaget, tapi senyumnya tak memudar "Oke! Kita kan saudara!"

"Pemikiran itu membuatku jijik."

Senyum Lavi akhirnya menghilang, digantikan ekspresi shock. Ia langsung menunduk kecewa dengan aura suram menyelubunginya. Ini membuat para guru yang menonton interaksi itu sangat takjub sekaligus heran.

"Ma, ma," Komui menepuk-nepuk bahu Lavi seakan menghiburnya, "jangan kasar begitu, Kanda. Dan Lavi, dia tidak anggap siapapun di Black Order sebagai saudara kecuali Marie, ingat?"

"Tidak adil! Kami kan juga bertempur bersama!" rengek Lavi dengan airmata yang tak mampu mengecoh Kanda.

"Itu karena dia tahu waktunya menutup mulutnya. Dan tetap berakting seperti itu, Baka Usagi, kau mungkin akan kalahkan Moyashi," gerutu Kanda, duduk di kursinya dan mulai mengisi piringnya dengan porsi kecil ayam-jamur bakar.

"Yang benar?"

Lavi langsung menegakkan diri, membuat beberapa guru terkejut dengan reaksi mendadaknya itu. Apalagi si rambut merah mengapus air mata palsunya dan memasang senyum lebar.

"Kau tahu aku aktor yang lebih baik dari Moyashi kita! Ngomong-ngomong," Lavi merendahkan suaranya dan memangku dagunya dengan santai dan mengeluarkan rentetan kalimat dalam bahasa asing yang langsung diidentifikasi para guru sebagai bahasa Jepang.

"Ah, akhirnya mereka bisa bicara dengan tenang," kata Komui lega.

"Apa mereka selalu begitu?" tanya Profesor McGonagall.

Komui menyeringai, "Setiap waktu." Komui menambahkan dengan nada sangat pelan, "Kanda tidak akan mengakuinya, tapi mereka memang sahabat baik."

Namun, ketika ia melihat kedatangan Umbridge dari balik kacamata segi limanya, ia berhenti bicara. Sebagai gantinya, ia menatap tertarik Aula Besar dan mulai bertanya bagaimana langit-langit ruangan di sana bisa memiliki pemandangan spektakuler.

Dan, tetap saja, ketika Inkuisitor itu bicara, Komui dengan sopan menatapnya.

"Berada dalam organisasi serahasia itu, memangnya seberapa besar kompensasi yang kalian dapatkan?" tanya Umbridge dengan nada semanis madu, meski ada cemoohan di sana.

Dan tatapan sopan Komui seketika berubah menjadi tatapan tercengang. Tentu saja, dia bukan satu-satunya.