Sponsor bentar...

Chapter kemarin terjadi typo ketika adegan Luhan bersama Sooyoung, penulis lupa memberikan keterangan deskrip/dialog yang menyatakan dimana alamat ruang kamar Sooyoung. Jadi pada saat Luhan mengintip waktu itu (ch 7) dia hanya memperhatikan Sehun bersama seorang wanita dan ia tidak memperhatikan kamar mana dan dimana, jadi saya mengasumsikan disini Luhan lupa dan tidak menyadari. Luhan baru tahu Sooyoung adalah ibunya Sehun ketika Sehun datang berniat menjenguk Ibunya saat itu (ch 8). Maaf yang kemarin udah dibikin bingung...


"Eung... Aku masih ragu, hehe..." Luhan nyengir sambil menggaruk tengkuk nya, kemudian ia menambahkan "Aku perlu minta pendapat Lao Gao dulu, dah.. Mama"

Secepat kilat Luhan lari dari kamar nya, sang Mama yang awalnya fokus menatap tv kemudian tersentak karena Luhan melarikan diri, wanita itu geleng-geleng kepala, anak itu masih tetap tidak punya pendirian dan kerap lari dari masalah.

"Dasar rusa itu, semoga dia tidak salah pilihan" ujar Mama nya dalam hati

Luhan celingukan mencari keberadaan Lao Gao disekitar Rumah Sakit, ia menoleh ke kanan-kiri namun sosok itu juga tidak terlihat, mungkin jajan lagi..-pikirnya. Langkah kaki nya ia bawa ke kantin Rumah Sakit dan benar, Lao Gao berada disana sedang menikmati se-cup cola sambil memainkan ponsel nya.

"Apa kau tidak pernah kenyang?"

Lao Gao mendongak, ia dikejutkan oleh suara Luhan yang tiba-tiba berada di hadapannya, sambil mendengus ia kemudian meletakkan ponsel nya dan mengalihkan atensi pada Luhan "Ada apa?, kau mengejutkan ku"

Luhan mengambil tempat di depannya, sedikit menatap iri pada cup cola tersebut "Melihat ini tiba-tiba aku juga ingin, tapi ngomong-ngomong aku kesini karena ingin meminta saran mu"

Lao Gao mengangguk, ia hapal betul kebiasaan Luhan padanya "Bisakah lain kali jangan jadikan aku objek yang selalu kau mintai pendapat?" lalu ia sandarkan punggung nya dikursi, juga melipat kedua tangannya di dada

"Kau ragu ingin kembali ke Beijing, kan?" tebak nya, dan Luhan mengangguk

"Kau mungkin akan memihak Mama" sela Luhan sebelum Lao Gao berpendapat

"Nah, kau sudah tahu sendiri" ujar nya santai

"Tapi aku selalu dihantui mimpi aneh, akhir-akhir ini." Luhan mengambil jeda, sambil menghirup napas, ia melanjutkan "Aku bermimpi melihat kaum fans ku dulu di China, dan juga gadis-gadis bermulut pedas itu"

"Lalu?" Lao Gao menyahut

"Aku berfirasat aneh, dan ini bertepatan saat Mama memintaku untuk kembali ke Beijing. Aku merasa akan ada kesialan lagi"

"Jadi karena mimpi itu kau takut kembali ke Beijing?" Lao Gao menyimpulkan

"Bukan begitu juga, tapi ini terlalu berlebihan. Aku sudah memutuskan pilihan bahwa aku akan menuntut ilmu disini, namun karena ketidak sengajaan itu membuat Mama menjadi khawatir, padahal hanya tinggal selangkah lagi untuk meraih mimpiku"

Lalu Luhan menambahkan, "Aku juga ingin belajar mandiri, jika aku kembali, maka semua kebutuhanku tersedia, sama saja aku akan terus bergantung pada orangtua. Kau tahu, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mewujudkan mimpi ku tanpa bantuan mereka"

"Kau memutuskan untuk tetap tinggal?" Lao Gao mencoba memperjelas maksud Luhan

"Kupikir Ya, tapi kau sahabatku. Aku ingin meminta pendapat mu, jadi menurutmu bagaimana?" ia menatap penuh harap pada sahabatnya

"Itu adalah tekadmu, dan aku tak bisa menolak. Mama hanya khawatir padamu, saranku, bicarakan ini pada Mama baik-baik, katakan dengan jelas dan berilah alasan yang logis mengapa kau ingin tetap tinggal. Aku yakin dia juga tidak akan dapat menghalangi mu"

"Terimakasih Lao Gao, kau benar-benar sahabatku yang baik" Luhan mengembangkan senyum nya, dan itu hanya ditanggapi biasa oleh Lao Gao, kemudian ia menyeruput cola nya lagi

"Sudah sana kembalilah ke kamar mu, segera katakan semuanya pada Mama" usir nya secara halus, lantas Luhan mendengus sebal

Ia berdiri gontai sambil membalikkan badan dengan malas, sedetik kemudian ia memekik

"HWAA..! Astaga, kau mengagetkanku" Luhan mengusap dada nya, bersyukur jantung nya masih berdetak sehat walaupun sempat serangan kaget mendadak tadi. Ia terkejut mendapati Sehun tiba-tiba berdiri dibelakang nya

Sehun menatap nya datar, ia merasa tidak bersalah disini "Kau sendiri yang tiba-tiba kaget"

Luhan mengembuskan napas kasar "Ok, aku yang salah. Tapi..-hey apakah sekarang sudah jam 8 ? kurasa belum, aku hendak kembali"

Buru-buru Sehun meraih lengan Luhan "Aku minta waktumu sebentar"

Luhan termangu, bukankah kemarin Sehun bersikap dingin padanya? Lalu kenapa sekarang ia berucap lembut dengan mimik muka seperti itu?, apakah ini ada kaitannya dengan pertemuan secara tidak sengaja tadi?

Mereka berdua duduk disalah satu meja yang kosong, Sehun berdehem pada awalnya kemudian ia menatap Luhan dengan serius "Terimakasih, Luhan. kau telah menemani Ibu ku"

Luhan menatap lurus Sehun, ia terkejut ketika Sehun memberi senyum manis yang tulus padanya, tanpa sadar ia meremat kain baju nya sendiri "Ehh.. iya, kau tidak perlu seperti itu. Ka..-kami tidak sengaja bertemu"

Luhan mengutuk dirinya sendiri, bisa-bisa nya ia gagap sehabis melihat senyum Sehun. Laki-laki di hadapannya ini kemudian menampakkan tampang datar nya lagi "Apa saja yang Ibu ku katakan padamu?"

"Eoh?!"

"Uhm... Beliau, bercerita banyak tentang mu" Luhan mengambil jeda, ia sempat merasa canggung "Bibi sangat menyayangimu..-ahh ani, dia mencintaimu. Beliau memiliki semangat hidup yang tinggi, itu semua karena kau" Luhan ikut tersenyum ketika mengenang

"Sehun, maafkan aku jika terlalu manja pada Ibu mu, apa kau tidak suka? Atau cemburu mungkin?" Luhan tiba-tiba merona, sebenarnya ia malu mengatakan hal ini pada Sehun

Sehun terkekeh yang ia akhiri dengan senyuman "Tidak, kalian cocok" komentar nya

Sempat terjadi kecanggungan lagi, Luhan kemudian berujar "Sehun, maafkan aku atas kejadian waktu itu. Aku sadar jika aku salah dan merepotkan kalian semua, jadi sekarang aku benar-benar minta maaf, ini tulus dari hatiku, asal kau tahu. Jadi.. maukah kau kembali menerimaku sebagai teman, Sehun?"

Sehun terdiam sejenak, tanpa ragu ia mengiyakan "Kami semua marah karena mengkhawatirkan mu, aku minta maaf juga jika itu menyakiti perasaanmu"

Luhan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Sehun, kenapa laki-laki ini begitu cepat melunak padanya?, ia pikir Sehun akan tetap marah dan bersikap dingin padanya, namun semua pikirannya itu musnah ketika Sehun dengan cepat menerima nya kembali, apakah ini karena faktor kedekatannya dengan Bibi Sooyoung?

"Sehun, waktu itu aku tidak sengaja melihatmu menangis memeluk Ibu mu. Aku tidak percaya kau nampak selemah itu di dekapannya, dan saat itu Bibi Sooyoung juga bercerita padaku bahwa keinginanmu bersekolah disana sudah ditentang oleh Ayah dan Kakak mu, tapi karena keinginan mu, Ibu mu tidak dapat menentang"

Rahang Sehun tiba-tiba mengeras, jadi Luhan sudah mengetahui nya?, ia mengembuskan napas kasar, lalu tatapan tajam sekaligus mengintimidasi itu terbit kembali di wajahnya "Dengarkan aku Luhan..." desis nya tajam menusuk, Luhan sampai dibuat meremang

"Jangan pernah katakan itu pada siapa pun, kau yang pertama kalinya tahu tentang ini"

Luhan mengatupkan mulutnya, ia terkejut "Benarkah?"

"Jadi selama ini—"

"Ya, aku selalu menyembunyikan masalah keluarga ku. Dan kau, jika sampai kau membocorkan ini, kau akan tahu akibatnya"

Keringat dingin mengucur di dahi Luhan, jadi dugaan nya benar bahwa selama ini Sehun selalu menyembunyikan kesedihan nya. Luhan merasa tidak pantas mengetahui hal se-pribadi tersebut, ia cepat-cepat meminta maaf pada Sehun "Maafkan aku, aku berjanji akan merahasiakan itu"

"Bagus, jadilah anak yang baik" nasehatnya, Sehun bahkan tak segan untuk mengasak rambut Luhan

Dalam hati Luhan merasa lega, ia telah meminta maaf secara pribadi kepada Sehun, dan dengan mudah nya ia mendapatkan maaf nya, entah bagaimana jika ia meminta maaf pada Chanyeol, Kai, Baekhyun, dan Kyungsoo. Apakah respon mereka akan sama seperti ini?

'Tapi setidaknya aku telah memiliki satu teman lagi' –selain Lao Gao

.

.

Damn I'm Manly Oh Sehun!

Chapter 09


They Come Again!


By: HunHan SeRaXi

.

.

.

"Baiklah, Mama mengerti. Kau bisa tetap tinggal disini, asalkan..."

"Aku berjanji tidak akan membuat ulah lagi, kali ini aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mandiri" Luhan memotong perkataan Ibu nya dengan cepat dan lancar

"Awas jika kau sampai membuatku khawatir lagi" ancam Mama nya, sedangkan Luhan tersenyum kikuk

"Aku berjanji, Ma. Beri aku hukuman jika melanggar" tukas nya, kemudian sang Mama mengusak anak rambut Luhan

"Maafkan Mama, Lu. Semua ini Mama lakukan karena mencemaskan mu, aku terlalu egois untuk memaksa kehendakku sendiri" sang Ibu menatap nya sendu sambil mengusap pipi putranya

"Mama tidak perlu khawatir, Luhan bisa jaga diri" ia meyakinkan sang Ibu

Selanjut nya Mama mendekap nya erat, kedua anak-ibu itu berpelukan cukup lama. Satu tangannya tergerak untuk mengusap punggung sang Mama, Luhan mengerti bahwa setelah ini mereka akan berpisah lagi, dan sepertinya Mama masih merindukan nya.

"Ma, biar aku bantu mengemasi barang-barang nya" Luhan menawarkan diri, yang ditanggapi gelengan oleh Ibu nya

"Tidak, sekarang kau istirahat lah. Mama bisa sendiri" ujar nya sambil tersenyum

Luhan lalu bangkit menuju ranjang nya, ia merebahkan diri dan tidak lama kemudian ia tertidur. Besok adalah hari kepulangan Luhan dari Rumah Sakit, Ibu nya beserta Lao Gao juga sudah bersiap untuk kembali ke Beijing, mereka mengambil jam terbang sore agar dapat menemani Luhan untuk beberapa saat di asrama.

"Sebenarnya Mama ingin kau kembali saja ke Beijing, Luhan" gumam nya sembari menatap tidak rela wajah putra nya yang tengah tertidur

...

Ibu nya terkejut ketika pertama kali memasuki kamar asrama Luhan, yang ia lihat di sekitar nya amat bersih dan rapi, ia kemudian menatap Chanyeol yang tengah tersenyum padanya sambil menawarkan bantuan

"Selamat datang, Ma. Biar ini ku ambil alih"

Tas berisi perlengkapan Luhan tersebut Chanyeol pindahkan ke kamar, ia juga membantu Luhan berbaring di ranjang, dan dengan penuh perhatian ia berucap pada Luhan

"Aku senang kau akhirnya pulang dari Rumah Sakit, kami semua merindukan mu" senyum nya palsu

"Kau sangat baik. Ohh ya, jika Luhan berulah lagi, jangan sungkan laporkan padaku" ujar sang Ibu pada teman sekamar nya

"Ya, aku mengerti. Bibi" jawab Chanyeol sopan

"Kalau begitu kami harus segera ke Bandara, terimakasih atas bantuan nya tadi" kemudian diikuti dengan berdirinya Mama dan Lao Gao

Ibu nya menyempatkan diri untuk mengusak rambut Luhan lalu menciumnya, ia berpesan sebelum pulang "Jangan buat ulah lagi, pulang lah ketika kau sudah sukses nanti"

Luhan-pun mengangguk, Chanyeol kemudian menyahut "Kenapa Mama dan Lao Gao terburu-buru, aku sudah menyiapkan minuman"

Ibu Luhan menggeleng, ia menolak halus tawaran Chanyeol "Jam terbang kurang 45 menit lagi, kami harus segera kesana"

"Baiklah, hati-hati, Ma. Salam untuk Baba juga"

Dan setelah kedua orang itu pergi, Chanyeol lantas berdecih kearah Luhan "Yang tadi hanya akting, setelah ini lakukan semaumu sebebas nya, aku tidak akan melapor pada Mama mu. Kau bukan bagian dari kami lagi kan?"

Ia mengucapkan kalimat tersebut dengan datar dan juga bernada dingin "Ohh ya semoga kau lekas mendapatkan pacar cantik mu, kami para Gay menjijikkan tidak akan mengusik mu lagi"

Chanyeol segera berlalu darisana, Luhan mengembuskan napas, kenapa rasanya sakit sekali diperlakukan seperti ini? Ia tahu ini salah nya dan Luhan juga bingung bagaimana cara meminta maaf pada mereka, hanya Sehun satu-satunya yang bisa ia dekati, mungkin lelaki itu bisa membantunya, tapi...

"Akhh...Kenapa kau begitu bodoh, Lu"

Tangan nya bahkan memukuli kepala nya sendiri, ia merutuki sikap nya yang labil, dulu ia tidak suka pada mereka, menganggap mereka kaum Homo menjijikkan, dan selalu mengganggu nya. Namun kini, karena mereka menjauhi nya, Luhan menjadi kesepian, ia tidak punya teman lagi..-selain Sehun, lalu semakin lama prinsip 'Homo Menjijikkan' tidak lagi menjadi masalah bagi nya.

"Aku tahu, setiap manusia berhak menentukan pilihan hidup nya. Begitu bodoh nya aku selalu mendeskriminasi mereka, lalu kini aku dijauhi, entah mengapa tiba-tiba rasanya sepi sekali"

Ia bergumam, mencoba introspeksi pada diri sendiri "Tapi mereka seakan mengajak ku untuk ikut-ikutan seperti mereka, tapi kenapa? Bukan kah Chanyeol dan Kai telah memiliki..."

Luhan menebak pada suatu kemungkinan "Apakah Sehun?"

Tiba-tiba Luhan diliputi rasa bersalah, kali ini pasti tebakannya benar "Ini semua karena Sehun, ia menyukai ku, kan? Haha... dan mereka berusaha membuatku jatuh cinta padanya" tanpa sadar ia tertawa parau sendiri

"Setahu ku kaum Gay tidak pernah mengajak lainnya untuk menjadi seperti mereka, menjadi seorang gay adalah pilihan"

Luhan kemudian menatap ke cermin, mengamati pantulan paras nya yang ayu disana "Dan aku terlahir cantik, ini bukan deskriminasi, tapi kelebihan ku. Lalu harus kah aku menjadi gay saja?"

Luhan terdiam merenung, ia mencoba mengingat masa lalu saat Xuan Yi tiba-tiba meminta putus padanya dan juga ketika ia meminta Dayoung menjadi pacar nya. Satu hal yang ia ingat bahwa Dayoung dengan jelas mengatakan ia minder karena kalah cantik dengan nya, ahh..mengingat ini membuat Luhan jadi tertawa sedih.

"Aku memang terlahir untuk menjadi Gay, Baekhyun dan Kyungsoo juga memiliki wajah cantik sepertiku, namun mereka malah bahagia dengan apa yang ia punya"

Luhan mengembuskan napas, bergumam sendiri seperti ini memberinya sedikit pencerahan, dan sekarang Luhan sadar. Namun ia masih belum siap lahir batin untuk menjadi gay seperti mereka, butuh tantangan besar dan juga dukungan dari semua orang. Tapi bukankah mereka semua bakal menjadi artis?, Dan apakah mereka akan berpura-pura selama masa itu?, membayangkan nya saja membuat Luhan bergidik ngeri.

'Sejauh itu kah resiko yang akan mereka ambil nanti?'

...

Setelah ia kembali dari laundry, Sehun dengan berhati-hati membawa bubur panas tersebut ke kamar Luhan. ia diminta oleh Bibi kantin untuk mengantar nya karena kebetulan mereka berpapasan saat di koridor, si Bibi itu tidak tahu dimana letak kamar asrama Luhan, dan dengan berat hati akhirnya Sehun mau membantu.

Di tengah jalan, Sehun berpapasan dengan Kyungsoo. Lelaki bermata bulat itu menyapa nya dengan riang seperti biasa

"Hi, Sehun!, kau darimana?, dan apa itu?"

"Ahh... ini bubur nya, Luhan" Sehun mau tidak mau membalas senyuman riang Kyungsoo

Kyungsoo langsung merubah mimik wajah nya ketika mendengar nama Luhan, entah mengapa tiba-tiba saja telinga nya jadi berdenging ketika nama rusa itu yang disebut.

"Kau masih peduli padanya, ya? Ahh.. pantas saja kau terlalu menyukai nya" gumam nya tidak suka

Kyungsoo kemudian menyentuh bahu kiri Sehun "Hei, kawan! Dia bukan gay, asal kau tahu. Masih banyak lelaki cantik sepertinya yang bisa kau dapatkan. Kau kenal Yoon Jeong Han, junior kita? Wajah nya lumayan, menurutku" saran nya

Sehun menghela napas, ia lalu menggeleng "Kau terlalu berlebihan, Soo. Cinta itu tidak bisa di paksa"

Kyungsoo lantas tertawa, ia mengibaskan jari-jarinya di wajah "Kau tipe yang setia rupanya, terserah padamu juga, sih. Aku hanya memberi rekomendasi" lalu Kyungsoo mengerling

"Kyungie!" pekik suara Kai dari arah belakang mereka, lelaki tan tersebut otomatis menggaet lengan Kyungsoo, memberi senyum pada pujaan hatinya dan tidak sedikitpun memandang kearah Sehun

"Kyung, aku merindukan mu. Ayo kita kembali!" ajak nya, Kyungsoo kemudian menatap Sehun lalu pamit darisana

"Dah Sehun! Maaf jika aku sedikit lancang tadi, hehe..."

Lalu kedua lelaki saling mencintai tersebut, berlalu dari hadapannya. Tapi entah mengapa juga ia sedikit tergelitik dengan ucapan Kyungsoo barusan. Tiba-tiba ia tersenyum pilu "Aku terlalu bodoh mengharapkannya"

Ketika sampai ditujuannya, seperti biasa, ia masuk kesana tanpa mengetuk atau permisi dahulu. Lalu ia letakkan bubur panas tersebut di meja seraya berujar "Luhan, ini bubur mu!"

Luhan yang awalnya tengah berbalas pesan dengan Ibu nya, kemudian mendengar teriakan lantang Sehun, membuatnya langsung melesat ke ruang tengah. Bisa ia lihat disana Sehun duduk dengan semangkuk bubur di depannya

"Kau yang membawakan bubur ku? Terimakasih" ujar nya sambil tersenyum

"Kau masih belum bisa makan nasi, ya?" Sehun bertanya yang dibalas anggukan Luhan

"Untuk sementara, begitu" tanggapan nya

"Kalau begitu, makan lah. Keburu dingin"

Luhan sempat terdiam, untuk menutupi kecanggungan, cepat-cepat ia raih mangkuk tersebut tanpa menatap lawan bicara nya. Sehun sendiri juga enggan untuk berbicara, ia memilih berdiam disana sambil memandangi wajah Luhan yang begitu lucu ketika makan.

Sehun beranjak, ia menuju lemari es untuk mengambil air minum dan juga Luhan. dan setelah Luhan selesai dengan suapan terakhirnya, Sehun dengan berbaik hati menyodorkan segelas air untuk nya, membuat Luhan harus berucap terimakasih lagi untuk Sehun.

"Ibu tadi mencarimu, ia tidak tahu kau sudah pulang" Sehun angkat bicara ketika Luhan sudah menyesaikan makanan nya

"Benarkah? Ahh..sampaikan maaf ku pada Bibi, Sehun" sesal nya sambil menunduk

"Tidak apa-apa, ia ikut senang kau akhirnya pulang" Sehun berusaha membuat Luhan tidak khawatir

"Tapi Bibi akan kesepian" gumam Luhan

"Haha... Ibu ku sebenarnya orang yang mandiri, tidak masalah jika dia sendirian. Dia hanya senang karena ada yang menghibur nya, dan itu kau"

Perkataan Sehun barusan sukses membuat Luhan merona hebat. Cukup dengan kata 'hanya kau' dan Wow! ia merasa amat spesial, Sehun sendiri juga tidak tahu kenapa ucapan itu sampai keluar dari bibir nya, tapi setidak nya sekarang ia merasa nyaman, berdua bersama Luhan dalam situasi hening seperti ini.

Sehun mengamati lekat paras ayu Luhan, laki-laki itu cantik ketika tersipu, dan sukses membuat dirinya terjatuh dalam pesona alami Luhan, yahh... walaupun ia tahu Luhan bukan-lah gay. Keinginan nya begitu kuat untuk menjadi 'ssang namja' dan Sehun menyadari ia mulai mundur perlahan, sedikit pesimis terhadap keinginannya untuk memiliki Luhan.

"Andaikan kau tahu perasaanku, Lu" ujar Sehun dalam hati

"Sehun?, hey! Kau kenapa?, melamun, eoh?"

Luhan mengibaskan tangannya di depan Sehun, ia tidak sadar bahwa posisi nya semakin mempersempit jarak diantara mereka, dari jarak sekian Sehun dapat mencium aroma tubuh Luhan, wangi khas vanilla itu menyeruak dalam indra penciuman nya, namun ia menahan diri. Ia raih tangan Luhan yang masih melambai di hadapannya, dan sontak membuat Luhan sedikit terkejut, mereka terdiam untuk beberapa saat dengan tangan yang masih menyatu.

"Sehun..." gumam Luhan melemah, semakin lama ia mulai terbuai

Perlahan Sehun mendekatkan dirinya, dan Luhan semakin menahan napas. Ia terus mengamati pergerakan lelaki di hadapannya, tangannya juga masih setia digenggam oleh Sehun. Lelaki itu bahkan telah memiringkan kepala nya, jarak mereka semakin menipis, Luhan rasanya akan meledak, ia hampir saja akan menutup mata, tapi... dengan tiba-tiba Sehun menjauhkan lagi tubuh nya. mereka hanya hampir, dan tidak jadi berciuman.

"Maaf" ujar Sehun yang malah terkesan datar

Dan Luhan juga tidak tahu harus bagaimana, ia seharus..-ohh tidak! ia sewajib nya marah, namun apa yang terjadi tadi? Kenapa tiba-tiba tubuh nya bereaksi lain? Seakan ia merasa tidak apa-apa jika melakukan ini, yang jelas-jelas salah, atau mungkin tidak seharus nya terjadi. Luhan mengembuskan napas, ia memilih diam daripada harus mengungkapkan emosi nya di depan Sehun.

Sehun sendiri juga sama canggung nya, astaga! Apa yang ia lakukan tadi?, bukankah ia sudah berusaha mengendalikan diri? , tapi perlu diketahui bahwa aroma Luhan cukup kuat untuk menarik dirinya masuk semakin dalam, Luhan sudah bagaikan bunga bang- ahh.. cantik, dan Sehun adalah lebah atau korbannya. Sulit untuk menahan napsu di saat seperti ini, dan entah bagaimana juga, tanpa sadar Sehun berujar

"Aku bersalah, maafkan aku. Aku berusaha tidak lagi menginginkan mu. Dan juga, tadi, saat aku mengantar bubur mu, aku bertemu Kyungsoo dan dia berkata seharusnya aku mencari yang lain saja, haha..." Sehun tertawa sumbang, ia lalu melanjutkan "Kau kenal Yoon Jeong Han, junior kita? Kurasa dia cukup cantik, haha.. Aku terlalu tolol ya selama ini?"

Sehun berbicara sendiri, dan Luhan tidak mampu untuk mejawab gumaman Sehun. Namun ia cukup mengerti apa yang Sehun katakan, sekarang ia peka dan mampu mencerna kalimatnya dengan baik. Tapi aneh nya ia sedikit merasa tidak nyaman, dan bagaimana bisa ia tidak marah setelah insiden kecil tadi? Ahh.. sepertinya Luhan perlu tidur sebentar lagi untuk me-refresh otak nya.

'Sebentar, tadi aku bilang apa ya?' ulang nya dalam hati

Fucking Dam'n Shit! Sehun semakin ingin membenturkan kepala nya ditembok saat ini, apa yang barusan ia katakan tadi? Ahh..tiba-tiba ia merasa pusing sendiri.

...

Pagi yang cerah ini rasanya berbeda sekali dengan pagi-pagi kemarin, hari ini ia mulai bersekolah kembali, meskipun makan saja ia masih harus bubur dan makanan lembut lainnya. Namun ia terlalu merindukan kegiatan rutinnya ini, dimana ia bisa mengasah kemampuan bakat seni nya. Luhan menghirup udara pagi dengan semangat, ia melangkahkan kaki nya sambil tersenyum riang, tas yang ia pikul itu sampai tidak terasa berat nya karena terlalu senang.

"Ohh Luhan sunbae, selamat pagi" sapa Hera, yang merupakan salah satu anggota geng fujoshi

Dan setelah nya gadis itu berlalu saja, Luhan sampai terdiam ditempat, biasanya gadis-gadis itu akan mengerubungi nya lalu berteriak nyaring, memasang-masangkannya dengan Sehun, lalu mendeklarasikan pada semua orang bahwa ia dan lelaki albino itu merupakan pasangan yang serasi. Haha... Luhan ingin tertawa mengingat nya, namun terpaksa ia mengulum senyum pahit, karena sekarang semuanya berubah.

'Mulai saat ini kami semua tidak akan mengganggu mu, sunbae'

Luhan mengembuskan napas nya mengingat ucapan tersebut, senyum nya yang ceria tiba-tiba luntur, ia tundukkan kepala nya hingga sampai di kelas, sedikit mendongak dan ada perasaan aneh, seperti asing, layak nya ia baru saja masuk sekolah pertama kali setelah berbulan-bulan libur. Berlebihan memang, dia hanya cuti seminggu lebih, dan rasa rindu nya sudah semakin besar dengan suasana kelas sehari-hari.

Ia langkah kan kaki nya masuk, seluruh penghuni kelas tidak ada yang menghiraukan kedatangan nya, termasuk trio bandel itu, mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing, dan rasanya Luhan bagaikan makhluk halus saja yang tidak dianggap. Lalu mata nya tanpa sengaja menatap Yerin, yang awalnya gadis itu menatap nya datar kemudian setelah ia berbalik menatap, cepat-cepat Yerin mengalihkan pandangan nya.

Luhan duduk di bangku nya dengan berat hati, kini ia tidak memiliki teman. Itu jelas, biasanya ketika ia datang, Chanyeol dan Kai akan selalu menggoda nya, lalu Sera dan teman-temannya itu, mereka tidak pernah kehabisan akal untuk menjebak nya dengan Sehun. Ia mengeluhkan sikap nya yang labil waktu itu, tanpa sadar ia menenggelamkan wajah nya di meja, hari pertama nya masuk sekolah setelah insiden overdosis sangat buruk!

Sambil menenggelamkan wajah, Luhan merenung. Mengingat kedatangan Sehun semalam yang membuat rasa takut nya sedikit berkurang, ahh.. ia jadi mengingat lelaki itu. Kemudian ia bangkit dari meja dan menoleh kebelakang, Sehun ada disana sedang memejamkan mata sambil mendengarkan musik dari ear phone nya, laki-laki itu dengan nyaman menyandarkan punggung nya di kursi.

Namun ia baru menyadari ada yang aneh sekarang, kenapa Sehun pindah duduk dipojok belakang? Lalu Kai dan Chanyeol, mereka sibuk bercanda sendiri, mengabaikan Sehun yang biasanya mereka selalu bertiga kemanapun. Kai yang merasa diperhatikan oleh Luhan lantas menegur tajam

"Apa lihat-lihat, hah?!"

Luhan kesal, sambil mendengus ia berbalik ke belakang. Lalu bel jam pertama terdengar, siswa-siswi yang awalnya berhamburan langsung duduk dibangku masing-masing sambil menyiapkan buku mata pelajaran sesuai jadwal. Tidak lama kemudian langkah Songsaenim terdengar, dan sepertinya pelajaran kali ini, Luhan merasa tidak bersemangat.

'Hanya Sehun satu-satu nya, mungkin dia dapat membantuku'

...

Ia kurang dua paragraf lagi dan semua catatan di papan tulis akan selesai, Luhan bersemangat menggoyangkan pena hello kitty nya membentuk pola hangul yang rapi, beberapa siswa lain sudah selesai dan mereka beranjak menuju kantin. Luhan sendiri cukup lambat ketika menulis, namun jangan diremehkan, hasil tulisannya cukup bagus, bahkan seperti hasil tulisan tangan perempuan.

Luhan mengembuskan napasnya, ia begitu lega ketika selesai. Cepat-cepat ia rapikan buku nya dan bangkit untuk menuju kantin, sebelum meninggalkan kelas, ia lirik kesekeliling nya dan ternyata hanya ia yang tinggal sendirian disini. Ahh..masa bodoh –pikirnya.

Disana, Luhan sudah ditunggu oleh salah satu petugas kantin. Dia adalah wanita yang sama seperti kemarin, wanita itu kemudian beranjak kebelakang untuk mengambi bubur pesanan Luhan, sambil menunggu, ia tolehkan kepala nya keseluruh penjuru kantin, Sehun tidak terlihat dimanapun, dimana anak itu? Lalu mata nya tidak sengaja mengarah ke barisan bangku tengah, disana hanya nampak Chanyeol dan Baekhyun beserta Kai dan Kyungsoo saja.

'Ada yang tidak beres...' pikir nya

"Nak, Luhan. ini bubur nya, awas masih panas" ujar wanita petugas kantin tersebut

Dengan hati-hati Luhan membawa nampan berisi semangkuk bubur tersebut, lalu dengan sopan ia juga balas berujar "Terimakasih, bibi"

"Cepat sembuh, Luhan" sahut wanita itu tersenyum

Luhan menatap uap bubur yang masih mengepul, ia menghela napas sambil meletakkannya lagi di meja bar. Rasanya tidak enak jika dia makan sendirian, lalu ia ambil ponsel nya di saku dan mengetikkan sesuatu disana

'Sehun, kau ada dimana sekarang?'

Sekitar 5 detik kemudian, ia mendapat balasan.

'Di ruang tari, kenapa?'

Dengan cepat, Luhan juga membalas nya.

'Jangan kemana-mana, aku akan kesana!'

Namun sebelum Luhan benar-benar menyusul kesana, ia ambil satu nampan lagi, mengisi nampan tersebut dengan nasi dan lauk yang tersisa, kemudian ia membawanya bersamaan dengan mangkuk bubur nya. luhan sedikit kesusahan sebenarnya, namun ini balas budi. Sehun kemarin juga sudah bersusah payah untuk membawakan bubur pesanannya.

Sehun yang awal nya fokus menari terpaksa menghentikan latihannya, ia menghela napas, sebuah pesan singkat dari Luhan membuat semua perhatiannya nya kacau. Ia tidak mengerti apa yang akan rusa itu lakukan, dia memintanya untuk tetap disini, yang sebenarnya Sehun menunggu untuk itu. Matanya awas menatap keluar dan bayangan Luhan muncul dari sana tidak lama kemudian.

"Sehun, hoshh... ayo, makan bersama!" tawar nya dengan semangat, walaupun napas Luhan masih belum teratur

"Siapa yang meminta mu membawakan ini?" Sehun memicing, dan Luhan sedikit tidak suka mendengar nya

"Kau ini benar-benar, aku sudah bersusah payah membawakan ini sebagai balasan kemarin" Luhan merengut kecewa, Sehun ternyata masih belum berubah

Namun secara tidak sengaja, entah karena efek nampan tersebut yang sedikit licin, hampir saja satu nampan tersebut hampir jatuh, Sehun dengan tangkas menangkap pergerakan nampan tersebut sehingga tidak jadi jatuh, namun isi bubur nya mengenai sebagian tangan Sehun.

"Jangan makan disini, ayo ikut aku! Kita makan ditempat lain" tukas nya, dan Luhan menurut saja

Sehun dengan berbaik hati mengambil satu nampan ditangan Luhan, jadi rusa china itu hanya membawa satu nampan berisi buburnya saja. Tapi sebelum melangkah, Sehun tiba-tiba menyahut

"Ohh ya, terimakasih telah membawakan nya. kau tahu saja jika aku sedang lapar"

Dan tanpa memperdulikan Luhan yang tengah merona, Sehun berjalan mendahului sedangkan Luhan mengikut di belakang nya. mereka berjalan ke sebuah ruangan hingga menaiki tangga paling atas, Luhan sendiri bingung Sehun akan membawanya kemana, ia merasa asing dan tidak pernah sekalipun menapaki tempat ini. Sehun kemudian berhenti yang otomatis membuatnya menghentikan langkah pula, laki-laki albino itu memutar knop pintu dan Luhan sontak terkejut

"Sehunna, kau membawaku ke atap gedung?, wahh ini indah! Aku tidak pernah kesini sebelum nya"

Sehun hanya tersenyum maklum, dasar rusa cantik ini, dia pasti tidak tahu tempat terlarang ini, yang sayang nya indah jika melihat taman dari atas sini. Disana sudah ada sebuah bangku panjang dan mereka mengambil tempat duduk disana.

"Jangan sampai ketahuan kita berada disini" cetus nya

"Memang nya, kenapa?" sahut Luhan

"Tempat ini terlarang, biasanya sering dijadikan tempat bunuh diri" sekilas keindahan dalam benak Luhan hilang seketika, ia jadi bergidik ngeri

"Lalu kenapa kau membawaku kesini?" protes nya, ia terlanjur ketakutan

"Hahaha... aku hanya ingin kesunyian, jangan takut. Tempat ini akan berhantu ketika malam hari saja" Sehun menoleh kearah Luhan dan menatapnya dalam

"Tapi tetap saja..." rengek nya menunduk

"Jika ada hantu yang menakutimu, sini biar aku makan!, ggrrh.." Sehun membentangkan jari-jarinya seperti hendak menerkam ala harimau, yang tiba-tiba saja membuat Luhan tertawa

"Kau ada-ada saja" sahut nya, ia hendak menyantap semangkuk bubur nya yang hampir dingin. Tapi sebelum itu ia berucap

"Selamat makan!"

Luhan menyantap bubur nya dengan lahap, Sehun tetap bergeming dan hanya menatap Luhan yang rakus dengan bubur nya. Entah mengapa hari ini ia tidak mood makan, terutama setelah pertengkarannya tadi pagi dengan Chanyeol dan Kai, Sehun tanpa sedar menghela napas. Ia masih belum bisa terbuka dengan kedua temannya.

Luhan yang mendengar dengusan napas Sehun terpaksa mendongak, ia melihat laki-laki itu tidak kunjung menghabiskan makanannya. Sambil mengernyit ia bertanya pada Sehun

"Kau kenapa? Katanya kau lapar"

"Ya, maafkan aku"

Sehun tersadar, walaupun ia tidak selera makan, ia harus memakannya walau sedikit. Luhan telah berusaha membawa nampan nya agar ia bisa makan, yang katanya sebagai bentuk balas budi kemarin, huhh.. mendengarnya Sehun merasa sedikit bahagia, ternyata masih ada sebersit rasa kepedulian Luhan terhadapnya.

Luhan bahkan sudah selesai dengan bubur nya, sedangkan Sehun sendiri baru satu suapan. Setelah rusa itu minum, ia kemudian angkat bicara

"Kenapa kau tidak ke kantin? Kau kelihatan berbeda hari ini" ujarnya

"Kurasa, tidak" tampik Sehun, kemudian melanjutkan lagi

"ChanBaek beserta KaiSoo, mereka makan bersama-sama seperti biasa. Kau tidak ikut?" tanya nya lagi

"Aku sedang ingin latihan" sahut nya

"Kau aneh, tadi bahkan kau bertukar posisi duduk" cetus Luhan lagi

"Itu sudah dari kemarin, kau saja yang tidak tahu" timpal nya

"Apa kalian sedang ada masalah, sepertinya kau selalu menghindari mereka, kenapa?" Luhan terlanjur ingin tahu akut

"Tidak, kami baik-baik saja" bohong nya

Luhan terdiam sejenak, ia mengambil napas beberapa kali, lalu menatap Sehun yang sedang menenggak air mineral nya "Sehunna, maukah kau membantuku?"

Sehun mengangkat satu alisnya, ia menatap Luhan dengan dahi berkerut. Kemudian Luhan melanjutkan

"Aku merasa bersalah, aku ingin kembali menjadi bagian dari kalian. Aku merasa kesepian dan saat ini hanya kau satu-satunya temanku"

Luhan menunduk sedih, Sehun yang agak gugup akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan Luhan. Luhan sendiri juga sempat terkejut, namun ia tetap membiarkan tangan lelaki itu menggenggam tangannya "Jangan khawatir, aku akan tetap jadi teman mu jika mereka tidak mau"

"Terimakasih, Sehun. Aku harap kau dapat membantuku" Luhan juga balas menumpukan satu tangannya diatas Sehun, ia memandang laki-laki itu dengan tatapan sarat permohonan

'Kau menyembunyikan sesuatu lagi, aku tahu hubunganmu dengan mereka sedikit tidak baik'

...

Barusan Luhan dipanggil menghadap wali kelas karena absen nya selama seminggu lebih, ia diminta untuk bersedia menerima bimbingan belajar darurat setelah jam sekolah berakhir selama 2 jam. Luhan yang pasrah-pasrah saja akhirnya menerima tawaran tersebut, toh..untuk kebaikannya juga. Ia berjalan melewati gang koridor yang menghubungkan kelas nya, namun saat ia hendak belok, ia melihat sekawanan gay tersebut, maksudku ChanBaek dan KaiSoo. Mereka berjalan beriringan, satu diantara mereka sempat melirik nya namun tidak ada yang mau menyapa, mereka dengan enteng kemudian berlalu begitu saja dari hadapannya.

Luhan merasa ini waktu yang tepat untuk meluruskan semuanya, niat nya yang semula kembali ke kelas, ia urungkan dan berbalik mengejar sekawanan tersebut. ia mempercepat sedikit langkah nya lalu tanpa sengaja meraih bahu pendek Kyungsoo

"Hentikan! Aku ingin bicara dengan kalian" tukas nya nyaring, sontak ke-empat mantan temannya itu menoleh

"Apa yang kau lakukan?" dengan tidak suka, Kai menghempaskan tangan Luhan secara kasar dari bahu Kyungsoo

"Kenapa kalian menghindari Sehun?" Luhan langsung to the point, secara spontan Chanyeol dan Kai memutar bola mata malas

"Lalu kau sendiri siapa?, kenapa berhubungan dengan kami lagi?"

Skakmat! Baekhyun sukses memojokkannya.

Luhan tersenyum pahit, ia menatap ke-empatnya itu dengan tajam "Saat itu aku yang salah. Maafkan aku"

"Semudah itu memaafkan mu?" Kyungsoo menyahut

Luhan tetap sabar, ia masih bisa mengembangkan senyum palsu nya "Itu hak mu memaafkan ku atau tidak. Tapi, aku perlu menyelesaikan satu masalah disini. Kenapa kalian menghindari Sehun? Jelaskan padaku!"

"Kau terlalu ikut campur, Luhan" lagi-lagi Baekhyun bersikukuh, rasa marah nya terhadap Luhan masih membekas dalam hatinya

"Dan apakah kau bisa menjelaskan pada kami, kenapa Sehun sampai mengacaukan penampilan kita malam itu?" timpal Chanyeol blak-blakan, Kai sendiri bahkan sampai mendelik kearahnya

Luhan cukup terkejut, ia terdiam sambil mencerna kalimat barusan. Chanyeol mengatakan Sehun telah mengacaukan penampilan mereka, bagaimana bisa?. Ia alihakan seluruh atensi nya pada Chanyeol, Luhan berusaha memperjelas lagi

"Maksud mu, penampilan saat hari jadi sekolah?"

Lalu ke-empat nya itu mengangguk, sekarang Luhan paham, ia masih mengingat jelas kejadian malam itu saat Sehun berlarian menuju ruang VVIP.

"Lalu kalian marah pada Sehun karena hal itu?, kalian benar-benar kejam!" tukas nya sambil mendelik tajam

"Kenapa sekarang kau malah membela, Sehun?, ingat posisi mu sendiri, Lu" Kyungsoo menimpali

"Bisakah kalian berjanji padaku, bahwa setelah aku memberitahu kalian, kalian akan memaafkan Sehun. Dan jangan pernah katakan bahwa aku yang memberitahu kalian soal masalah ini"

Perhatian ke-empat lelaki itu langsung mengarah pada Luhan, mereka semua mengerutkan dahi dan rasa penasarannya tidak dapat dibendung. Kemudian Chanyeol menyetujui perjanjian Luhan, yang diikuti semuanya.

"Baiklah, katakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi"

"Apa kalian tahu Ibu Sehun mengalami kecelakaan hingga koma selama 6 bulan?, dan malam itu, tepat saat pagelaran hari jadi sekolah berlangsung, Ibu Sehun bangun dari koma nya. Sehun pergi secara mendadak ke rumah sakit karena ingin menemui Ibu nya, dan kalian begitu tega menghindari Sehun yang jelas-jelas merasa terluka"

Luhan menundukkan kepala nya, merasa bersalah pada Sehun karena ia sendiri telah mengingkari janji nya

"Kalian sekarang tahu kan?, kalian benar-benar biadab sebagai kawan"

"KAU SENDIRI YANG LEBIH BIADAB, LU!"

Sontak Luhan maupun ke-empat nya itu menoleh, dan tidak menyadari bahwa Sehun sudah berdiri disana. Baik mereka berlima semuanya merasa terkejut sekaligus tercekat, dapat ia lihat bahwa mimik Sehun sekarang antara marah dan geram, dan itu sebagian besar mengarah pada Luhan.

"Sehun..." cicit nya ketakutan

"Bukankah kau sudah berjanji..." Sehun menggeram lemah, tanpa sadar ia mengepalkan tangannya sendiri

"Sehun, ini sendiri demi kebaikanmu. Mereka juga berhak tahu" Luhan berusaha menghindar, dan itu semakin membuat Sehun murka

"Demi kebaikan ku, katamu?" Sehun menghela napas, ia tahan kepalan tangannya yang bahkan sudah memutih, kalaupun bukan Luhan, Sehun sudah pasti akan menghajar nya habis-habisan

"Sehun, maafkan kami" kini giliran Baekhyun

"Aku tidak butuh maaf mu, tapi kau Lu!" Sehun bahkan tak segan-segan menggunakan nada tinggi sambil menunjuk Luhan, si biang masalah baginya

"Luhan tidak salah. Maafkan kami yang tidak peka terhadap mu" Kai menimpali, sedikit kasihan jika saat ini posisi Luhan yang terpojok

"Aku kecewa padamu, Luhan" desah nya lemah, Luhan sendiri bahkan tidak mampu untuk membantah, ia terlalu takut jika Sehun akan..-membencinya

Sehun meninggalkan mereka dengan perasaan campur aduk, antara perasaan sedih, kecewa, marah dan semua ini terutama pada Luhan, sebenarnya ia tidak mampu untuk membuat rusa itu sedih. tapi, saat ini lain. Luhan sendiri yang telah melanggar janji nya, dan Sehun berhak marah akan itu.

"Sehun tunggu!, jangan lari. Aku bisa jelaskan ini semua padamu"

Sehun semakin mempercepat langkah nya, dan dibelakang, Luhan juga berusaha mengejar nya. ia terus berteriak agar Sehun mau mendengarkan penjelasannya, namun saat ini Sehun terlalu marah dan sedang tidak ingin berhadapan dengan Luhan

"Sehun kumohon, berhenti!" teriak nya nyaring, dan Sehun tetap tidak mengindahkannya

Luhan berhenti mengejar karena terlalu lelah, ia sampai memegangi kedua lutut nya kemudian mengusap sebagian peluh yang membanjiri dahinya. Setelah dirasa cukup mengambil napas, ia hendak berlari lagi, namun tiba-tiba langkah nya terhenti saat segerombolan laki-laki itu...

"Bukankah mereka... lalu bagaimana bisa?" gumam nya tidak percaya

"Luhan, bagaimana kabarmu? Wahh..semakin manis saja"

"Luhan sayang, kenapa kau pindah tanpa sepengetahuan kami?"

"Puji Tuhan aku dapat melihat malaikat cantik ini lagi"

Luhan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, bagaimana bisa segerombolan lelaki mantan fans nya dulu di Beijing bisa masuk area sekolah ini? Dan siapa pula yang memberitahu mereka bahwa Luhan pindah kemari? Tiba-tiba insting buruk nya mulai bekerja, sejenak ia melupakan tujuan awalnya untuk mengejar Sehun, para lelaki itu menatap nya lapar seakan ingin menerkam nya. dan Lao Gao? Ingatkan Luhan bahwa saat ini ia berada di Korea, BUKAN CHINA!

"Ohh tidak!" gumam nya tanpa sadar, para lelaki itu menatap nya tanpa berkedip. Tidak sekalipun mereka mengalihkan perhatian pada selain dirinya, selangkah demi selangkah Luhan mulai mundur kebelakang

"Kalian..."

Secepat kilat Luhan berlari dengan kencang, ia sudah bagaikan rusa sekarang karena Luhan menggunakan insting terancam nya akibat serangan musuh. Ia bahkan tidak tahu harus berlari kemana lagi karena saat ini pikirannya hanya satu, ia ingin sekali menghindar dari mereka!

Para fans nya itu juga ikut berlari, rupanya langkah kaki mereka tidak kalah kencang darinya. Ohh astaga! Ia sendiri bahkan mengabaikan napas nya yang mulai tidak beraturan, terus saja berlari hingga matanya menangkap sebuah belokan dan...

Sreet!

Seseorang membawanya dalam sebuah pelukan lalu membalikkan tubuh mereka hingga punggung Luhan yang membentur tembok. Luhan mendongak dan ia terkejut bahwa yang melakukan ini adalah...-Sehun.

"Jangan panik, tetaplah diam" instruksinya

Sehun kemudian menaikkan penutup kepala jaket nya, dan ketika segerombolan lelaki itu hampir mendekat, dengan berani Sehun langsung meraup bibir Luhan dalam sebuah ciuman mendadak. Sontak mereka terkejut bukan main, lelaki idaman mereka disentuh oleh orang asing? Ohh tidak, ini ancaman!.

Baik mereka, Luhan pun juga sama terkejut. Pada awalnya Luhan tiba-tiba blank, dan saat otak nya mulai berfungsi lagi, ia bahkan dengan berani pula mengalungkan kedua lengannya pada leher Sehun lalu memiringkan kepala nya agar ciuman mereka semakin dalam.

Luhan memejamkan matanya nikmat, ia menekuni akting mendadak ini dengan baik, bahkan suara desahan nya pun ia keraskan, walau ini hanya sebuah ciuman, fakta nya.

"Shhh..ahngg..."

Sehun dan Luhan berpangutan dengan intim sekaligus erotis, seketika para fans nya itu meneguk liur, iri dengan kenyataan yang mereka lihat! Jelas-jelas lelaki itu telah merebut objek delusi mereka.

Tidak sampai disitu, baik Luhan maupun Sehun seperti tidak ingin mengakhiri ciuman nya, berulangkali mengganti posisi bibir atas dan bawah, saliva mereka bercampur menjadi satu dan nampak dagu Luhan sampai berkilat hebat akibat air liur nya sendiri.

Sehun mungkin telah mengeras dibawah sana, namun satu hal, Luhan amat berterimakasih pada Sehun. Ia sengaja melakukan ini dengan terpaksa dan dalam keadaan yang darurat. Ia hanya ingin menunjukkan pada fans nya bahwa ia telah dimiliki, dan mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan apapun.

"Lihatlah ini fans ku, kalian kalah telak" bangga Luhan dalam hati

.

.

TBC

Yang dari kemaren minta HunHan moment :3 , fiuhh... akhirnya ada ruang imajinasi untuk scene ini :D ohh ya, sebetulnya yang aku bilang fast update itu, kalo gak sabtu, minggu, senin atau selasa :v yah pokok nya sekitar hari-hari itu wkwk tetep ditunggu ya, dan stay ngereview terus sebagai perbaikan kedepannya. ^^