Part 9:
Tell Me What
xxx
Bunyi bel berdering kencang, membuat Baekhyun menamplikan senyum lebarnya begitu mengetahui bahwa ujian tengah semester satu sudah ia lewati dengan baik. Dibelakangnya, wajah Joohyun terlihat kusut. Jauh berbeda dengan wajah Jongdae yang tak bisa berhenti tersenyum karena hari ini ia akan resmi berkencan dengan gebetannya, Minseok.
"Hei kalian!" Seruan yang terdengar sangat familiar membuat ketiganya menoleh cepat kearah pintu dan menemukan Seulgi juga Kris yang berdiri disana siap dengan ranselnya. Seulgi berlari kecil menghampiri mereka sedangkan Kris tetap berjalan santai.
"Bagaimana ujiannya tadi?" Tanya Seulgi. Joohyun hanya memasang wajah cemberut sebagai jawaban, membuat Seulgi tertawa karena tau Joohyun memang payah di materi ini.
"Yeah lumayan, tapi mungkin bagi Jongdae yang sedang berbunga-bunga, itu semua cuma masalah kecil." Ucapan sarat akan godaan Baekhyun membuat seluruh atensi menuju ke Jongdae yang sedang salah tingkah tapi begitu bersemangat.
"Apa liat-liat! Sudahlah, aku pergi duluan. Pokoknya doakan aku sukses!" Jongdae langsung melesat keluar kelas dengan seyuman lebar hingga telinganya.
"Bagaimana ujian hari ini?" Sebuah telapak tangan besar menepuk bahunya. Baekhyun menatap Kris dengan senyum lebar.
"Tentu saja itu susah, tapi aku sudah mencoba sebaik mungkin." Tanpa sadar, Kris ikut tersenyum mendengar jawaban penuh aura positif Baekhyun. Ketika tangannya terangkat ingin mengusak rambut Baekhyun, sebuah deheman menginterupsi.
"Ehem."
Baekhyun menoleh, dan matanya berbinar senang. "Chanyeol hyung!" Kaki kecilnya langsung berlari menghampiri sosok Chanyeol yang berdiri diambang pintu.
"Kami duluan ya," Pamit Chanyeol ke teman-teman Baekhyun. Tapi Seulgi dan Joohyun tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari tatapan perang milik Kris dan Chanyeol.
"Sialan." Entah karena alasan apa, Kris mengumpat.
"Aku ingin makan daging!" Dan tentu saja, Baekhyun terlalu bodoh untuk menyadarinya.
xxx
Tidak terasa, kehidupan Baekhyun sebagai siswa SMA sudah berjalan tiga bulan lebih. Ia aktif sebagai sekretaris kelas dan anggota klub radio atau broadcast sekolah. Pertemanannya dengan Seulgi, Joohyun, Jongdae terutama Kris makin lengket. Intensitas Baekhyun dan Kyungsoo bervideo call juga makin sering. Mungkin karena Kyungsoo sudah bosan memakan takoyaki di Jepang sana dan sibuk berceloteh tentang mie udon yang rasanya sungguh luar biasa. Sekolahnya berjalan baik dan ia baru saja melewati ujian tengah semester pertamanya di SMA dengan cukup lancar.
Tapi ada satu yang spesial. Hubungannya dengan Chanyeol.
Sejak Baekhyun yang tidak sengaja tertidur di apartemen milik Chanyeol, mereka jadi makin dekat. Baekhyun hampir setiap hari akan pergi kesana untuk merawat Kris--kucingnya. Ia selalu diantar kemanapun oleh Chanyeol, makan siang selalu bersama Chanyeol, kadang hingga makan malam juga. Saat akhir pekan mereka akan berkencan di Taman Bermain atau sekedar mengunjungi rumah masing-masing dan menghabiskan waktu di kamar dengan mengobrol berbagai macam hal.
Tidak terasa, hubungan palsu ini sudah berjalan tiga bulan. Baekhyun tahu betul apa tujuan dari hubungan ini. Baekhyun yang demi menjadi anak SMA keren dan Chanyeol agar terhindar dari para maniak dan mantannya di sekolah.
Tapi semua ini terlalu nyata untuk sekedar kepura-puraan. Bagaimana Chanyeol tersenyum. Ketika Chanyeol khawatir padanya. Binar antusias kakak kelasnya itu ketika mengajak Baekhyun pergi ke acara kencan pura-pura mereka. Sentuhan dan semua hal yang ia berikan pada Baekhyun. Itu semua terlalu nyata, membuat Baekhyun bingung membedakan mana realita dan sekedar skenario belaka.
Baekhyun memang polos, naif, lugu dan beberapa sifat lainnya yang mencerminkan hal itu. Tapi Baekhyun tahu batasan dimana ia hanya sekedar nyaman atau memiliki rasa lebih.
Baekhyun tidak boleh seperti ini. Ia sadar betul semua yang telah ia jalani bersama Chanyeol hanyalah skenario belaka. Ia juga sadar betul semua ini hanya sekedar hubungan simbiosis mutualisme tanpa landasan suka sama suka.
Harusnya ia tidak boleh menjadi parasit dengan semua perasaan ini.
Baekhyun tahu ini salah.
Baekhyun tahu ini salah karena perlahan ia jatuh kedalam pesona Chanyeol.
xxx
Chanyeol melirik kearah Baekhyun. Menatap bagaimana mata mempesona itu terlihat berbinar mengikuti pergerakkan pencapit yang ada didalam kotak boneka dihadapan mereka. Bibir kecilnya akan membulat penuh semangat saat pencapit itu mendapatkan salah satu boneka lalu berubah akan melengkung kebawah ketika bonekanya kembali terjatuh.
Wajah Baekhyun tampak lusuh karena lelah menjawab ujian tadi dan rambutnya sedikit berminyak karena banyaknya aktivitas hari ini. Tapi dimata Chanyeol, pesona Baekhyun berkali-kali lipat lebih kuat sekarang.
Baekhyun itu cantik. Dia memang tidak secantik atau seanggun deretan mantannya. Tapi, Baekhyun itu cantik dengan caranya sendiri.
Baekhyun tersenyum bahagia saat makan itu cantik. Baekhyun tertawa keras saat melihatnya melakukan kebodohan itu cantik. Chanyeol bahkan sedikit lupa dengan image keren dan jaimnya. Terlalu sibuk jatuh kedalam pesona Baekhyun yang sama cantiknya.
"Chanyeol hyung."
Chanyeol sadar dari aktivitas mengagumi Baekhyun ketika objek kekagumannya memanggilnya. Wajah Baekhyun tampak kesal sambil melirik tajam kearah mesin boneka seakan ia bisa membakarnya dengan tatapannya.
"Aku capek, kesal, dan lapar," Adu Baekhyun lucu. Membuat Chanyeol menahan nafas beberapa detik untuk tidak berteriak sekarang juga.
Chanyeol tahu ini salah. Tahu semua permainan ini, ia sendiri yang buat. Menutupi rasa penasaran dan terpesonanya dengan embel-embel untuk mengusir para maniak.
Chanyeol tidak bisa menahan rasa penasarannya sejak mereka bertemu di supermarket waktu itu. Tidak dengan manik bulat Baekhyun yang membuat Chanyeol jatuh dalam pesona kilau hitam mempesona itu.
Harusnya, ia tidak boleh memiliki perasaan ini. Tapi tubuh mungil dan senyum polosnya membuat sisi egoisme Chanyeol ingin memiliki dan merengkuh tubuh itu kedalam dekapannya. Sedangkan sisi realistisnya menyadarkan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekedar hubungan palsu yang dilandaskan dengan keuntungan masing-masing.
Chanyeol tahu ini salah dan tak pernah terjadi sebelumnya. Dia terlalu cepat mendapatkan perasaan aneh ini bahkan sebelum ia sempat menyadarinya. Tapi Chanyeol ingin berada disisi, melindungi, dan menjaga Baekhyun. Walau ia tahu, cinta bertepuk sebelah tangan tidak akan menjadi mudah.
"Kalau begitu, kita makan daging sekarang."
Karena melihat Baekhyun tersenyum karenanya sudah lebih dari cukup.
xxx
Gerimis mengguyur tak menghentikan langkah semangat Baekhyun untuk cepat-cepat memasuki restoran daging terdekat yang berada di pinggiran jalan Seoul itu.
Chanyeol mengusap bahunya yang sedikit basah karena payung tidak dapat menutupi mereka berdua dengan sempurna. Memesan makanan yang diinginkan si kecil sebelum ikut duduk dihadapan Baekhyun bahkan sudah menyiapkan sumpitnya.
"Kenapa kau terlihat bersemangat sekali?" Chanyeol terkekeh melihat tingkah menggemaskan Baekhyun. Menahan hasrat ingin mengusak rambut cokelat madu itu ketika pelayan restoran datang dengan senampan daging dan jeroan mentah beserta sayuran dan bumbu sebagai pelengkap.
Baekhyun menatap berbinar kearah tumpukan daging dihadapannya. "Karena ini akan menjadi makanan pertamaku setelah bebas dari ujian semester SMA yang ternyata cukup mengerikan!"
Chanyeol tersenyum tipis melihatnya, dan mulai memanggang beberapa daging dan jeroan diatas pemanggang diatas meja. Diikuti Baekhyun yang meletakkan beberapa bawang bombay diatas pemanggang.
"Eumm...Hyung, aku ingin bicara sesuatu mengenai Kris."
Menaikkan satu alisnya, Chanyeol memasang wajah tidak suka.
"Kris yang mana?"
"Kris yang kucing hehe," Baekhyun menyengir kuda. Tahu fakta bahwa Chanyeol tidak menyukai dua mahluk bernama Kris itu. Ya walau Baekhyun tidak tahu kenapa.
"Ada apa dengan buntelan berbulu itu?" Chanyeol membalik daging dan jeroan, yang dirasa sudah cukup makan diletakkan diatas piring Baekhyun.
"Aku ingin memindahkannya dari apartmen hyung. Aku hanya merasa tidak enak saja terlalu sering pergi kesana padahal 'kan aku bukan pacar hyung yang sesungguhnya."
'Tidak, jangan sungkan. Pergilah kerumahku setiap hari, jangan bawa buntelan berbulu itu kemanapun. Aku suka kok menghabiskan waktu bersamamu!' Batin Chanyeol berseru, tapi yang ia keluarkan malah suara yang terkesan tidak tertarik dengan raut malas.
"Oh begitu, keluargamu sudah tidak keberatan dengan kucing dirumah?"
Baekhyun mengigit pipi dalamnya, berpikir. Dan itu terlihat menggemaskan di mata Chanyeol.
"Tidak sih, tapi aku temanku bersedia menampung Kris secara percuma. Dan aku setuju akan hal itu."
"Teman yang mana? Seulgi, Joohyun, atau Jongdae?"
"Kris hehe."
Chanyeol meletakkan sumpitnya, menatap Baekhyun tidak percaya.
"Kenapa dari sekian banyak orang, harus Kris yang dititipkan Kris? Oke, itu terdengar aneh. Tidak-tidak, jangan mau Baek. Dia itu cuma cari muka didepanmu." Chanyeol menjelaskan dengan berapi-rapi, bahkan membuat gestur tangan meremas-remas seakan itu kepala Kris yang ia remas. Entah versi manusia atau kucingnya.
"Memangnya kenapa?" Baekhyun memiringkan kepalanya.
Chanyeol terdiam.Melirik kesana kemari. Kenapa? Ada apa? Bagaimana? Memangnya kenapa Kris tidak boleh Baekhyun titipi kucingnya? Itukan kucing Baekhyun?
"Ehem," Dehem Chanyeol, "Ya...aku hanya merasa keberatan. Memangnya kenapa kalau di apartemenku? Aku saja tidak keberatan atau merasa terganggu." Chanyeol meringis setelah mendengar perkataannya sendiri.
Hanya saja, itu bukan gaya Chanyeol sekali!
Baekhyun terlihat menguyah daging dimulutnya dengan ritme pelan. Mukannya menampakkan ekspresi ragu.
"Apa ada sesuatu yang menganggumu? Apa kau kurang nyaman dengan diriku? Atau aku berbuat sesuatu yang tidak kau sukai?" Tanya Chanyeol bertubi-tubi, dan Itu malah membuat Baekhyun makin tersudut.
"Sebenarnya, aku ingin menjaga jarak dengan hyung." Kalimat yang dilontarkan Baekhyun berhasil membuat Chanyeol menahan nafasnya.
"Kenapa?" Tanya Chanyeol, berusaha menahan nada kecewa disana.
"Aku cuma takut. Kita ini 'kan cuma pacar pura-pura. Aku takut jika aku memiliki perasaan lebih kepada hyung dan semua rencanamu berantakan. Nanti juga hyung akan menjauhiku dan aku sakit hati. Aku selalu memikirkan ini setiap malam sebelum tidur, jadi ada baiknya 'kan kalau kita jaga jarak?" Baekhyun mengigit bibir bawahnya saat mengatakan itu semua. Dia mengatakannya dengan benar 'kan?
"Kau mulai suka padaku Baek?" Chanyeol mengulum senyumnya. Menatap Baekhyun yang sekarang gelagapan bingung harus menjawab apa.
"Anu...bukan begitu maksudnya."
"Tapi kurasa, aku juga mulai menyukaimu." Dan perkataan singkat dari mulut Chanyeol berhasil membuat Baekhyun membeku ditempatnya.
Hah, apa kata Chanyeol tadi?
xxx
Kris menghela nafas kasar, entah sudah berapa kalinya dalam waktu sehari. Harusnya, Kris setidaknya bisa merasakan senang sedikit saja hari ini. Banyak faktor yang seharusnya bisa membuatnya merasa senang. Seperti ujian yang telah usai, Jongdae yang baru saja diterima ajakan kencannya dan Seulgi juga Joohyun yang baru mendapatkan promo ke salon gratis tadi siang.
Melihat Baekhyun bersama Chanyeol tadi, juga tatapan penuh kemenangan Chanyeol membuat Kris merasa buruk. Jika boleh, rasanya ia ingin memukul sembarang orang yang sedari tadi hilir mudik didepannya.
Lampu merah menyala, Kris melangkahkan kakinya menyeberang bersama beberapa orang lainnya. Kakinya melangkah tapi pikirannya kemana-mana.
Kris tidak menyukai Baekhyun. Itulah yang setidaknya ia yakini hingga sekarang. Ia hanya merasa seperti kakak yang berhak melindungi adiknya dari orang jahat. Baekhyun itu polos, naif, dan mudah dijebak. Kenyataan jika ia dan Chanyeol tidak benar-benar berada dalam sebuah hubungan membuat Kris gundah.
Bagaimana jika Chanyeol memanfaatkan sisi naif Baekhyun?
Bagaimana jika Chanyeol memiliki maksud tertentu?
Bagaimana jika Baekhyun jatuh kepada Chanyeol dan berakhir menyakiti dirinya sendiri?
Kris mengacak surainya frustasi. Serius, dia tidak menyukai Baekhyun. Baekhyun benar-benar tak lebih dari sosok teman dan adik baginya. Tapi kenapa melihat Baekhyun tersenyum, tertawa, dan bahagia karena orang lain membuat dirinya kesal?
Cemburu mungkin?
Hah, mana mungkin.
Tetesan air dingin terasa jatuh di pipinya. Bagus, bahkan cuacapun sama suramnya dengan dirinya.
Sialan, kenapa mengetahui fakta tentang Baekhyun malah membuat Kris gundah. Tau begini, ia menolak saat Suho menceritakannya rahasia itu.
Seumur hidup, Kris tidak pernah peduli kepada siapapun kecuali dirinya sendiri. Tapi sekarang, Baekhyun adalah pengecualian.
Hujan semakin deras, ia memutuskan berlari kecil sebelum masuk kedalam tempat bermain baseball. Setidaknya, itu bisa membantunya melepaskan sedikit stress walau kenyataannya ia sangat payah dalam olahraga ini.
Pikirannya bercabang, setiap pukulannya selalu meleset tidak ada satupun yang mengenai bola-bola yang berdatangan dari mesin didepannya.
Ia terus mencoba, menggunakan segala macam gaya yang pernah ia lihat di televisi. Bahkan saking kesalnya mendekat 'kan tongkatnya ke arah moncong mesin penembak bola tapi tetap saja pukulannya meleset
"Aish, sial." Kris mengumpat pelan, setetes keringat meluncur dari dahinya.
"Butuh bantuan?" Sebuah suara angelic membuat Kris menoleh kebelakang dan mendapati Suho, kakak kelasnya menatapnya sambil terkekeh geli melihat seberapa payah Kris dalam baseball.
Suho berdiri diambang pintu, dengan jaket tebalnya juga tongkat baseball ditangannya.
"Aku mungkin bisa mengajarkan sedikit cara untuk memukul bola dengan benar."
xxx
Astagfirullah 99x
Ternyata part ini udh lama jadi tapi akunya lupa jadinya ya terbengkalai dan malah sibuk nulis yang lain huhu maafkan acu :(
Thanks and see you in next chap /love sign
sorry for typo, males revisi nih unchh
