Love Sick


Ini fanfiction based from drama Thailand dengan judul yang sama, saya bercerita dengan latar belakang drama tersebut. Hanya setting di pindah ke Seoul, dan nama cast saya ubah. Dari keseluruhan cerita saya menambahkan beberapa plot karya imajinasi saya.

Please, if you don't like this don't read.

Plot is not mine, just part of this plot is mine.

This story maybe need more time to finish.

Cast is not mine!


BAGIAN 10

"Kita Harus.."

Aku berbaring di sofa di ruang klub kami sambil memutar-mutar rubik. Ini salahnya Taehyung si brengsek itu. Dia memberikan benda kotak ini agar aku mainkan siang ini. Jam sekolah sudah berakhir dan aku hanya mampu menyelesaikan satu sisi saja. Benda ini cukup melelahkan, aku bertanya-tanya bagaimana bisa Jisoo bisa ahli menyelesaikan ini. Aku tidak paham.

Aku terus berpikir tentang benda ini sambil merasa kesal. Pinggulku terasa sakit. Aku tidak tahu bagaimana caranya menyelesaikan Rubik Ini.

"Hyung!, kau kelihatan banyak pikiran. Kau berencana memainkan benda itu sepanjang hari?" Aku tidak perlu mendongak untuk tahu komentar itu datang dari Yugyeom. Tapi bagaimanapun, aku sedang tidak berminat untuk berdebat dengannya, jadi aku menggumamkan jawaban untuk memberitahunya agar tidak mengangguku dulu.

Anak ini tak akan meninggalkanku dengan damai. Dia meraih gitar dan memainkannya tepat di hadapanku tanpa memperdulikan keadaan dunia ini. "Bosan. Drum klub kita kondisinya sudah parah sekali, tak ada yang mau menggunakannya sekarang. Aku tidak bisa latihan."

"Terus kenapa?"

"Coba bilang ke Yoongi sunbae suruh cepetan kasih uangnya Hyung"

"Kau pikir aku tidak sedang memperjuangkannya? Sabar sedikit,Kalau dia sudah dapat uangnya pasti langsung bilang" Yugyeom nampak sedikit kecewa setelah mendengar jawabanku. Aku paham kalau dia benar-benar ingin latihan, tapi sejujurnya aku tidak tahu caranya agar membuat proses ini makin cepat. Aku berpikir, merengek-rengek ke Yoongi juga tidak akan membawa dampak yang baik. Aku terus berpikir saat kembali memainkan Rubik ini ditanganku.

Everybody say NO!
Deoneun najungiran mallo andwae
Deoneun namui kkume gatyeo salji ma

"Itu tuh! Yoongi sunbae yang telepon" Aku tersentak dengan keras dan cepat-cepat meraih teleponku untuk memeriksa. Aku hampir melempar Rubik dan teleponku kearah kepala Yugyeom.

"Yoongi pantatmu. Hallo, Yuri." Aku mengutuk Yugyeom sebelum mengubah suara menjadi pura-pura mengantuk saat aku menjawab panggilannya.

"Kau masih di sekolah, Jimin?"

"Aku masih di ruang Klub. Ada apa, Yuri?" Yuri tak biasanya meneleponku jam segini. Biasanya dia telepon sebelum pulang sekolah kalau mau ada perlu, atau telepon malam hari sebelum dia tidur.

"Aku… berdiri didepan gerbang sekolahmu. Aku perlu berbicara denganmu mengenai sesuatu. Bisa menghampiriku sebentar?" Aku hampir meloncar dari sofa dan sesaat lupa dengan rasa sakitku ketika mendengar kata-kata itu. Yuri, berdiri sendirian, didepan gerbang sekolah, yang isinya cowok semua. Ini bahaya.

"Tunggu, Aku berlari kesana. Jangan pergi kemana-mana, Yu" Aku buru-buru memberi tahunya sebelum menutup telepon dan bergerak memakai sepatu di pintu masuk ruang klubku dengan tergesa-gesa.

"Pacarmu yang menelepon?" Pandangan Yugyeom yang nampak bingung mengikutiku. Aku memberinya angguknya sebelum menepuk pundaknya.

"Jaga ruang klub ini, Aku pergi sebentar."

Aku setengah berjalan, setengah berlari, dengan sepatu yang tidak terpasang dengan benar. Yuri berdiri disana menunggu sesuai perintahku tadi. Tapi dengan kulitnya yang putih dan wajahnya yang imut, tidak bisa dipungkiri kalau siswa sekolah ini ternganga meilhatnya.

Aku bukannya cemburu, lebih ke khawatir kalau ada kenapa-napa. Anak laki laki mana yang tidak tertarik dengan Yuri yang punya wajah innocent dan putih, bahaya.

"Kenapa kau tak telepon dulu kalau mau mampir kesini? Lain kali jangan melakukan hal ini lagi." Aku memarahinya sedikit tepat saat aku tiba di situ. Dan kami meninggalkan sekolahku

"Aku minta maaf. Aku terburu-buru kesini dan Aku juga sedang menelepon seseorang sepanjang perjalanan menuju sekolah mu"

"Memang ada sesuatu yang terjadi?"

"Jimin, apa yang terjadi dengan Yoongi?" Aku berharap bisa lenyap didetik ini ini.

Mata Yuri yang hitam dan bundar menatapku tajam seolah-olah sedang mencari sebuah kebenaran tentang sesuatu. Aku sejujurnya tidak tahu apa yang dia cari atau kenapa dia sungguh-sungguh berambisi mencarinya.

"Memang dia kenapa?" Yuri membuang napas kesal, aku tak paham. Biasanya dia tak akan membahas laki laki lain kalau sedang denganku. "Ada yang terjadi?"

"Um, Jimin, kau tahu dimana Yoongi berada kemari malam?" Aku sedikit ragu untuk menjawab, karena aku tahu benar apa yang terjadi kemarin malam.

"K-Kenapa?"

"Argh, Aku udah bilang ke Yejin kalau seharusnya dia jangan menyuruhku berbicara tentang hal ini kepadamu. Aku tahu kau dan Yoongi itu teman, kau pasti menutup-nutupinya untuk Yoongi. Kau juga tidak akan memberitahu yang sebenarnya." Pada titik ini, aku bingung kalau aku tidak yakin apa yang harus kukatakan kepadanya.

Yuri berhenti membuat keributan sendiri sebelum dia mendongak melihatku. Dia mengunci pandangannya ke mataku yang dimana aku tidak bisa menghindarinya.

"Tolong, Jimin, Yejin sangat tertekan dengan hal ini."

Bibir Yuri bergerak cukup lambat, membuatku benar-benar mendengar dan paham setiap butir kata yang dia ucapkan dalam kalimat selanjutnya.

"Bisakah kau memberi tahuku, siapa yang tidur dengan Yoongi kemarin malam?"

Rasanya bagai disambar petir ketika aku mendengar kata-kata itu.

.

.

"Tolong, Jimin, Yejin sangat tertekan dengan hal ini. Kau tahu, siapa yang tidur dengan Yoongi kemarin malam?"

Kata-kata itu terus berputar dalam benakku dan nampaknya tidak akan berhenti untuk waktu yang dekat, bahkan setelah sampai di rumah sekalipun. Aku menungkupkan tanganku di dahi seperti aktor-aktor yang aku lihat di televisi.

Hal ini sama sekali tidak meringankan beban dikepalaku.

Mataku tertutup seolah-olah aku berusaha lari dari kenyataan ini. Tapi bagaimana aku bisa lari dari hal yang kasat mata? Kata-kata itu terus mengiang-ngiang dengan keras didalam kepalaku.

"Brengsek!" Aku menyumpah serapah kepada diriku sendiri dengan keras, sekeras aku melempar bantal ke seberang ruangan. Aku berteriak cukup keras, harapannya sih agar suara Yuri didalam kepalaku tidak terdengar lagi. Rasanya bagai orang yang terus-teruskan memutar adegan yang sama, lagi dan lagi.

Apa yang kurasakan saat ini lebih tepat dibilang perasaan membenci diri sendiri. Aku adalah penyebab semuanya menjadi seperti ini. Aku adalah si brengsek tanpa hati nurani.

"Damn it!" Aku terus-terusan mengumpat untuk diriku sendiri ketika aku mondar-mandir dalam kamar tanpa memperhatikan benda apa yang aku pegang dan melemparnya masuk kedalam tas punggung sekolahku.

Semua ini harus berakhir. tak peduli apa yang terjadi.

.

.

Aku sudah ketempat ini 8 kali dalam tujuh hari terakhir. Aku mendongak untuk menyaksikan rumah besar dihadapanku ini. Kemudian aku menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bel rumah ini.

Bibi Jung buru-buru mempersilahkanku masuk kedalam. Dia menyunggingkan senyum yang lembut ketika dia bertanya kepadaku untuk membantu membawa tas punggungku. Aku bukan laki laki manja. Dia menghela napas panjang karena aku menolak tawarannya. Kemudian dia bilang kepadaku,

"Yoongi, ada diatas dikamarnya. Jimin-ssi bisa langsung masuk saja."

Aku menyeret tas punggunku, melewati lantai kayu di tangga terakhir. Aku berhenti didepan sebuah pintu yang sudah sangat kukenal. Udara dingin berhembus melalui celah di bawah pintu yang berarti pemilik kamar ini sedang berada didalam, seperti yang aku pikir.

Namun, sebelum aku sempat mengetuk pintu, HP-ku berbunyi.

"Kenapa kau meneleponku? Aku ada didepan pintumu persis." Pendek dan mudah dipahami. Orang yang berada disambungan teleponku cepat-cepat menutup panggilan itu sebelum dia membuka pintu didepanku.

"Eh?!"

"Kenapa kau kaget kayak gitu? Lagi nonton film porno?" Aku mengabaikan ekspresi muka Yoongi yang terkejut dan berjalan melewatinya untuk masuk kedalam kamar. Aku melempar tas punggungku ke pojok ruangan sebelum bergerak menuju komputer yang masih menyala.

Aku hanya bermain-main dengannya. Dia sebenarnya sedang membuka Message chat di layar komputernya. Ketika aku duduk di kursi, aku bisa melihat Yejin mengetik sesuatu.

Yejin : [Yoongi, apakah mau masih mencintaiku?]

Huruf berwarna merah muda itu menusuk tepat dipusat jantungku, tapi aku tetap memaksakan diri untuk tertawa. Rasanya lucu saja kalau Yejin menanyakan pertanyaan yang aneh seperti ini. Kalau Yoongi tak mencintai dia, siapa lagi yang Yoongi cintai.

Aku harus mengakui, semakin lama semakin susah untuk menyunggingkan sebuah senyuman.

Profile picture Yejin adalah foto mereka berdua. Nampak kalau mereka ingin menunjukkan betapa besar cinta antara mereka berdua kepada seluruh dunia. Aku menatap gambar tampilan itu untuk sesaat sebelum merenungkan siapa aku sebenarnya. Kemudian Aku mulai mengetik di keyboard untuk memberi tahu Yejin sesuatu.

Min Yoongi : [Tentu Saja]

"Jimin, kau bawa apa?" Yoongi berteriak dari ujung ruangan yang membuatku mengrenyit dan menoleh saat mendapatinya sedang memeriksa tas punggung itu.

"Pakaian bekas buat disumbangin. Emang kau pikir itu apa?". Aku mengalihkan perhatianku kembali ke komputer. Aku sudah keluar dari akunnya dan masuk menggunakan akunku sendiri.

Plak!

"Aw!" Dia memukul kepalaku

"Aku bertanya baik-baik, kenapa jawabanmu gitu? Dan, tuh lihat, tiba tiba me-log out akun emailku juga? Kenapa kau bawa tas punggung kesini, mau kabur denganku atau gimana?" Aku menggosok tempat yang rasanya tertusuk, sedikit merasa dongkol.

"Iya! bawa aku kemana saja Hyung."

" Serius?" Aku tidak percaya betapa percayanya dia padaku, karena detik aku selesai berbicara, dia dengan cepat menyambar kunci mobil yang tergantung di meja komputer. Aku langsung merebut dari tangannya.

"Ya Hyung!, Aku cuma bercanda!"

"Kalau memang kamu mau pergi ke suatu tempat aku bisa mengantarmu. Gimana kalau ke Incheon? Lumayan dekat." Yoongi mengutarakan idenya saat aku masih tercengang. Aku tidak berpikir kalau dia akan menjalankan ide semacam ini semudah itu. "Besok aku ada pretest."

Namun, Yoongi membalas dengan senyuman. Bukan senyuman seperti biasa, namun disertai dengan naiknya kedua alis mata. Dia kemudian lanjut mengambil dua buah jaket dari lemarinya. "Aku janji besok kau masih bisa datang tepat waktu untuk pretest. Ayolah!"

Dia menyampirkan tas pungungku di pundaknya dan menyeretku dengan menggenggam lengan. "Hyung! Matiin computer nya dulu!"

"Nanti ada seseorang yang mengurusinya." Hyung yang banyak minta ini memberi tahuku sambil bersiul dan memimpin jalan, suasana hati yang sedang bagus. Tangan lainnya masih menggenggam menyeret di pergelanganan tangan dan nampaknya juga tidak akan ia lepaskan. Aku bisa melihat Yoongi tersenyum sangat lebar saat kami turun tangga dan bertemu dengan Bibi Jung yang kebetulan sedang berjalan didekat situ. "Bi, aku keluar dulu"

Tapi sebelum beliau sempat menjawab, sebuah wajah nakal muncul dari belakangnya.

"Yoongi Oppa! Mau kemana malam malam?" Itu suara Yeri yang tiba tiba muncul

"Aku mau membawa Jimin keluar malam ini. Nanti aku belikan makanan ringan diperjalanan pulang." Yoongi berkata kepada adik perempuannya sambil memainkan kepala Yeri. Aku bakal menonjoknya kalau Yoongi itu kakakku sendiri. Tapi adiknya malah tersenyum bahagia.

"Ah, hati-hati dijalan Jimin-ssi, oke?"

Yoongi lanjut menyeretku , dia jarang dalam keadaan suasana hati yang gembira begini.

Yoongi menyeretku ketempat mobil sport dua pintunya terparkir. Dia mengenakan jaket ke bahuku. Dia memberitahuku karena aku masih pakai seragam sekolahku." Brengsek kau, setidaknya biarkan aku buat ganti baju dulu."

Dia tertawa menanggapi keluhanku saat dia meraih gagang pintu mobil itu untuk membukakannya untukku. Aku meraih gagang itu terlebih dahulu sehingga aku bisa masuk kedalam mobil dengan keinginanku sendiri. Aku masih bisa mendengar Yoongi menertawakanku saat dia juga masuk ke kursi pengemudi. "Itu salahmu sendiri. Kenapa kau tak ganti baju dirumah sebelum datang untuk menemuiku."

Aku tercekat setelah mendengar kalimat itu. Aku tadi terburu-buru. Tapi bagiku, aku ingin memanfaatkan setiap menitnya selama malam ini berlangsung.

Yoongi menyalakan mesin dan melihatku dengan muka mengejek. "Segitu kangennya sama aku?"

Aku tidak menanggapinya dan duduk dengan diam. Kalaupun aku mau bicara sesuatu, aku juga tidak bakal diberi kesempatan bagaimanapun. Lengannya yang kuat merangkul bahuku dan menariku ke dekapannya.

Yoongi menaruh bibirnya di dahiku. Ada tenaga yang bisa kurasakan dibalik tindakannya, seolah dia ingin menciumku untuk memberiku pengertian tentang apa yang dia rasakan terhadapku. "Aku benar benar tersiksa. Aku tidak bisa melihatmu hari ini. Kau juga tak ada di ruang klubmu pas aku mampir.

"Kapan mampirnya?" Aku sedikit memutar kepalaku menjauhinya. Yoongi malah mendekat dan mencium pipiku. "Tadi siang, aku ada anak kelas 1 dan dia bilang kalau mau menyuruhnya tinggal disitu dan menjaga ruangan itu untukmu."

"Oh, itu Yugyeom." Aku menunduk dan memberikan sebuah jawaban.

Bibir Yoongi berhenti tepat di bibir milikku. Kami tetap berada diposisi itu cukup lama sampai aku harus mendorong dia menjauhi aku. "Jadi kita jadi pergi ke Incheon tidak?"

"Oh, benar. Kita tak akan sampai-sampai kalau kita melanjutkan ini terus-terusan." Dia cekikian sebelum melepaskanku dan kembali ke kursi pengemudi.

Aku menoleh ke arah jendela dan melihat lampu oranye menyala di kedua sisi.

Benar kalau dibilang Yoongi menyetir mobil dengan mengebut, tapi ini hampir jam 10 malam saat kami bergerak menuju sungai Incheon. Dia dan Aku memutuskan untuk memarkir mobil didekat trotoar sehingga kami bisa makan malam di restoran itu. Kami memilih tempat ini karena pengunjungnya banyak sekali terutama siswa seperti kami di area pelanggan.

"Orangnya banyak, aku berani bertaruh kalau makanannya disini enak-enak." Itu yang supirku bilang, yang membuatku menyunggingkan senyum yang lebar. Itu artinya, nggak cuma aku saja yang berpikir kalau sebuah restoran penuh pengunjung artinya makanannya enak.

Yoongi mematikan mesin mobil, kemudian dia memastikan bahwa aku sudah memakai jaketnya dengan benar sebelum dia membuka pintu.

Untuk alasan yang aneh, rasanya kami membuat sedikit kehebohan saat masuk ke restoran itu. Semua mata tertuju pada kami. Mungkin karena aku memakai seragam sekolah Friday, Tapi kalau aku pikir baik-baik…

Orang yang bersamaku ini terlalu memancarkan aura tampannya

Pada dasarnya, dua hal itu menjadi kombinasi. Yang satu tampan dan yang satu memakai seragam sekolah, jadi mau tidak mau kami terlihat mencolok. Sudah sewajarnya kalau aku tegang karena tatapan orang-orang ini. Namun, Yoongi nampaknya terlihat cukup tenang. Aku tidak tahu apakah dia menyadari kalau semua orang sedang melihat ke arah kami.

Seorang pelayan akhirnya membantu kami mencarikan meja setelah Yoongi dan Aku berputar-putar cukup lama karena tidak bisa menemukan meja kosong. Aku duduk tapi masih bingung tentang konsep tempat ini sebenarnya. Ini restoran atau cuma bar biasa? Aku melihat kalau ada beberapa meja yang diatasnya hanya tertata minuman saja, tanpa satupun makanan.

Suara keras dari seseorang yang sedang memesan makanan mengganggu pikiranku. "Kami pesan tteokbokki, kentang goreng, ayam pedas manis, dan bir"Aku meraihnya dan memukul Yoongi dikepalanya.

"Pesen makanan yang beneran makanan dong Hyung!"

" Kau belum makan malam?"

"Belum…"

"Ya sudah kau pesan yang lain." Yoongi berbicara kepadaku sambil menyodorkan menu. Aku menggaruk kepalasambil menelusuri tulisan dimenu itu selama tepat satu menit. "Nasi Goreng."

"Kalau mau pesan itu kenapa sibuk sibuk baca menu" Aku menyodorkan kembali menu itu ke pelayannya sambil tersenyum simpul.

"Kenapa kau tersenyum gitu? Kamu menggoda dia ya?" Si brengsek ini ingin memulai pertarungan denganku.

"Hyung ngomong apa sih. Aku kelaparan sekali, belum makan dari siang dan kau hanya pesan snack"

"Terserah kauu" Dulu Yoongi tak semenyebalkan ini sebelum kami dekat. Seharunya aku tidak membiarkan semua ini terjadi. Ada ekspresi antara terganggu dan terusik yang tergambar di wajahku saat ini saat aku mengetukkan ujung jariku diatas meja sambil mengikuti tempo musik yang dimainkan oleh band itu di restoran.

Restoran ini sebenarnya memiliki pertunjukan live-band. Mereka memainkan musik yang sederhana dan cukup enak untuk didengarkan, seperti band-band kecil lainnya. Aku menghitung ada 5 personil disitu. Aku merasa gatal ingin berdiri dan bergabung dengan mereka di panggung. Oh, ngomong-ngomong tentang alat musik, hal itu mengingatkanku pada sesuatu.

"Aku tadi siang pergi ke ruang kesiswaan untuk menaruh proposal buat festival Natal, tapi Hyung tak ada disana."

"Kau pikir kerjaan ku hanya duduk di ruangan itu. Aku pergi cari makan."

Aku memberinya senyum hambar untuk mengejeknya dan berpura-pura tertawa, "Jadi makanan di kantin sekolah khusus cewek itu enak, Yoongi Sunbaenim?" Aku hanya bermaksud bilang ini hanya sebagai komentar sarkastik saja. Aku gak menyangka kalau Yoongi benar-benar tertohok dengan pertanyaan itu.

"Makanannya enak…" Yoongi memberikan jawaban singkat diikuti dengan kesenyapan diantara kami berdua.

"Aku ketemu dengan adik kelasmu juga disana. Yang kelas 1 itu." Dia meneruskan basa-basi itu sambil menerima makanan pertama yang diantar oleh pelayan itu, ayam asam manis Bau sedap menyengat dari jeruk nipis menusuk hidungku. Aku mulai menelan ludahku sendiri dan makin merasa lapar.

Aku mengangkat garpuku berniat untuk menusuknya satu buah sebelum melanjutkan percakapan ini. "Oh, Yugyeom memang biasanya ke sana dan makan siang ." Tapi karena Aku terlalu sibuk bicara dan kalah cepat dari Yoongi, dia mencuri potongan daging yang sudah ku incar dari tadi dan memasukkan kedalam mulutnya. "Brengsek." Aku tidak bisa menahan untuk mengumpat.

"Iya, Aku baru mau bilang kalau aku melihatnya setiap kali aku pergi kesana." Dia berbicara kepadaku sambil mengunyah potongan daging yang seharusnya menjadi milikku. Tidak terlalu lama, semua sisa

pesananan kami mulai berdatangan di meja kami, termasuk makananku

"Wajarlah kalau semua anggota klubku lumayan menarik sama seperti ketuanya ini." Aku mengejeknya selagi ada kesempatan. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya terkekek.

"Tapi mungkin tetap nggak semenarik diriku." Aku meliriknya saat dia mengangkat salah satu alisnyauntuk menghinaku.

"Aku setuju, itu sebabnya perempuan yang tua disana itu benar-benar ingin membawamu pulang hyung." Aku menyadari kalau ada mahasiswa di dekat meja kami, sudah cukup lama melihat kearah temanku ini dengan mata yang berbinar-binar. Aku berpura-pura tidak memperhatikan karena aku pikir akan lebih aman bagiku.

"Dibelakangmu juga." Yoongi menyangkalku dengan sebuah senyuman.

Aku pikir bakal lebih baik kalau dari awal kami sama sekali tidak membicarakan hal ini. Aku mengangkat bahu untuk menunjukkan kalau Aku tidak memperdulikan apa yang dia katakan sebelum aku menuangkan sendiri segelas bir dari botol yang tinggi itu. Aku sadar setidaknya aku harus minum segelas untuk membilas mulutku.

Aku tidak pernah suka kalau aku sedang seperti ini. Rasanya ada sesuatu yang mencegahku untuk tertawa dan tersenyum riang. Mungkin kelihatanya aku sok pintar didepan Yoongi dan melontarkan hinaan yang membuat segalanya nampak seperti biasa saja. Tapi dari lubuk hati paling dalam, kenyataan masalah yang ada adalah aku sedang memakai topeng untuk menutupi kesedihanku dari dirinya. Aku menjaganya agar tetap tersembunyi walaupun Aku tahu, tidak ada jalan keluar untuk lari dari semua ini. Tapi paling tidak, Aku mampu menipu diriku sendiri agar berpikir kalau Aku baik-baik saja, walaupun hanya untuk sesaat.

Percakapan kami lama-lama terhenti saat Yoongi terus meneguk minuman di dalam gelasnya dalam diam dan, dia berhenti mencoba untuk memperburuk keadaanku. Aku mencuri pandang melihat matanya yang nampak kosong dan hampa. Kadang aku tidak bisa berhenti penasaran, apa yang ada di dalam pikiran pemilik mata itu.

Aku kembali berpikir tentang ciuman Yoongi di mobil tadi. Rasanya seperti 'kesepian,' dia ingin memohon agar sesuatu segera terjadi. Aku tidak yakin apakah ini imajinasiku belaka tapi nampaknya Yoongi juga punya banyak pikiran di benaknya sebanyak pikirianku.

Yoongi, dia memutuskan untuk memegang tanganku sebelum aku sempat menghabiskan gelas bir ke delapanku dalam satu jam terakhir.

"Jimin, kau belum makan, ingat kan? Apa kau mau membunuh perutmu gara-gara minum seperti itu?" Seperti yang aku duga, dia memarahiku dan merebut gelas dari tanganku.

Dengan sedikit memprovokasi, aku mengangkat pundakku ke arahnya dan berakhir dengan meminum segelas air putih untuk membersihkan tenggorokan sebelum aku mulai menghabiskan nasi goreng dalam piring yang besar ini. Sementara itu, Yoongi nampaknya sudah senang dengan paha ayam itu.

"Gimana kau dengan Yejin?" aku tak tahu kenapa tiba tiba bertanya seperti itu padanya.

"Kami biasa-biasa saja…" Yoongi menjawab dengan nada rendah. Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kau tak perlu khawatir"

Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan jadi aku berpura-pura tersedak karena nasi dan kemudian minum sedikit air. Aku mengacunkan jari tengah tapi dia tertawa seolah-olah menikmati momen ini. Hal itu benar-benar membuatku makin kesal.

Aku menaruh gelas kosong yang tadinya berisi air putih sebelum aku mengambil peralatan makan dan melanjutkan. Namun, aku sengaja membiarkan sebuah kalimat meluncur dari mulutmu.

"Itu bagus. Aku khawatir kalau kamu sudah lupa mengenai orang didepanmu ini, yang sudah Hyung ambil ciuman pertamanya." Aku tertawa. Aku sedang tertawa. Walaupun hal itu sebenarnya tidak terlalu lucu. Di dalam hati aku tidak tertawa. Memang ada suara tawa yang keluar dariku, tapi itu tidak nyata, tidak tulus. Di dalam, rasanya ada seribu pisau yang menusuk jantungku.

Makin keras aku tertawa, makin sadar betapa menyedihkannya diriku ini… itu saja.

"Mana mungkin aku lupa.."

Ada rasa sakit yang berlari melewati ujung jariku langsung menuju hatiku saat aku mendengar kata-kata itu. Aku mengangkat sebelah alisku, seperti seseorang yang sedang menerima kenyataan.

.

.

Tapi bagaimanapun, kami pergi dari restoran itu dengan senyum yang lebar terpasang di wajah kami. Yoongi mengemudikan mobil putih itu sepanjang malam, pelan-pelan, sambil membuka atapnya, sehingga Aku bisa benar-benar menikmati keindahan sinar bulan.

Aku merasa perasaan bahagia mengisi jiwaku sampai-sampai Aku berharap kalau malam ini jangan cepat-cepat berakhir. Permainan 'mencari perbedaan' pun ada pilihan untuk menghentikan sementara jalannya permainan. Kenapa di kehidupan nyata tidak ada pilihan itu juga?

Aku mencuri pandang wajah Yoongi yang dimana juga dipenuhi senyuman.

Kami bolak balik menyusuri pantai itu untuk beberapa waktu sambil menghabiskan sekitar tiga atau empat kaleng cola yang kami beli dari supermarket, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel. Awalnya aku menolak, tapi Yoongi memaksa kalau ia tak bisa membawaku pulang dengan kondisi setengah mabuk. Dan aku setuju. Walaupun kenyataannya, tarif menginap disitu lumayan mahal untuk standar kota Incheon kartu Visa milik Yoongi tidak ada masalah menghadapi harga itu.

"Nanti aku ganti kalau sudah dapat uang hyung. " Aku memberitahunya sambil menepuk bahunya beberapa kali sembari berjalan menuju kamar kami. Aku bisa mendengar tawanya sebelum dia memukulku di kepala.

"Nggak usah dipikirin, nanti aku potong dari anggaran yang klub mu." Aku memandanganya dengan muka marah saat dia bersiul dan pura-pura tidak memperhatikanku sambil membua pintu kamar nomor 17. Kalau aku bisa mengayunkan tas punggungku yang berat untuk menghantamnya, pasti sudah aku lakukan dari tadi.

"Waaaah~ Kamarnya bagus sekali!" Momen saat pintu terbuka, Aku melempar tas punggungku ke lantai dan buru-buru lari menuju balkon setelah membuka pintu kacanya dan membiarkan angin laut menyapu tubuhku. Sementara itu, Yoongi terlalu sibuk untuk memastikan agar pintu kamar terkunci.

Aku berdiri di balkon dan mengambil napas dalam-dalam dari angin laut itu, sesaat sebelum aku merasakan sepasang lengan yang hangat meraihku dari belakang dan memelukku tidak terlalu kencang di sekitar perut.

Aku bisa merasakah wajah seseorang bersandar di bahuku. Aku mencuri pandang Yoongi sebelum Aku mengguncangkan bahuku agar wajahnya teranting naik turun untuk senang-senang saja.

"Hyung, kita baru sampai dan kau sudah main peluk peluk." Tidak ada maksud lain disitu, aku hanya ingin bermain-main dengannya.

"Memang nggak boleh? Kau kangen kan? Tadi tiba tiba ada di depan kamarku" Tentu saja, ada penyangkalan yang datang darinya. Tapi suaranya tenggelam karena wajahnya masih menempel di bahuku. Aku tertawa mendengar jawabannya saat aku menurunkan tanganku dari pembatas di balkon itu untuk menggenggam tangan Yoongi.

"Jadi ada sesuatu?" Dari tadi kami baik-baik saja jadi harusnya dia ada alasan tertentu karena memelukku.

"Bisakah kita terus seperti ini untuk sesaat saja…" Suara Yoongi kedengaran sangat ringkih, mengingatkanku agar berhenti sok pintar di hadapannya. Aku menyandarkan kepalaku di kepalanya dan berdiri dengan diam, membiarkan dirinya untuk memelukku selama yang ia mau.

"Tapi kalau nanti tiba-tiba kakiku keram, Hyung yang harus bertanggung jawab."

.

.

Sudah cukup lama waktu berjalan sejak kami berdiri diam di tempat ini, saling memeluk satu sama lain, sebelum telepon warna hitam Yoongi membuat suara keributan yang mengakhiri kesenyapan itu. Aku menoleh dan melihat Handphone Yoongi itu bergetar di meja, disamping barang-barang yang kami taruh disampingnya.

"Aku lupa mematikan teleponku.. " Dia mengeluh kepada dirinya sendiri dengan suara pelan tepat disamping telingaku sebelum melepas pelukan di pinggangku. Hal itu seketika mengingatkanku tentang percakapan antara aku dan Yuri sore hari tadi.

Mataku mengikuti punggung seseorang yang mengenakan baju hijau army saat dia berjalan mendekati teleponnya. Tapi dia kelihatannya tidak ada minat untuk menjawab panggilan itu.

"Kenapa di matiin?" Aku tahu itu telpon dari Yejin. Rasa janggal yang menyakitkan tiba-tiba menghampiriku.

"Karena emang aku ingin mematikannya.." Pemilik Handphone itu dengan segera menghindari tatapanku.

Everybody say NO!
Deoneun najungiran mallo andwae
Deoneun namui kkume gatyeo salji ma

Dering telepon itu menyanyikan lirik-lirik terakhir sebelum akhirnya berhenti berbunyi. Yoongi mengambil kesempatan itu untuk segera mematikan.

Aku melihat sekilas iPhoneku yang berbunyi disamping tas punggungku, yang dimana aku menganggapnya lucu.

Saat berjalan meraih panggilan dari Yuri, Yoongi – yang tangannya setangkas monyet – meraih HP dari tanganku dan langsung mematikannya. Dia mengabaikan keberatanku dan meninggalkan diriku berdiri disana dengan mulut terngaga.

"Yoongi Hyung! Kau kenapa sih?" Ada sedikit kemarahan dari suaraku.

Tapi segala keluhanku nampaknya tidak mempengaruhi Yoongi dalam cara apapun. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi saat dia dengan hati-hati melempar HP-ku ke atas kasur. Aku baru saja akan membuka mulut untuk berteriak kepadanya saat dia menangkapku dan memelukku dengan erat.

Aku sudah bakalan memberontak kalau bahunya tidak bergoncang keras seolah-olah sedang memperingatkanku.

"Ada yang salah Hyung?" Suara serak muncul dari orang yang bergetar hebat yang sedang memelukku.

"Bisakah hanya kita berdua saja malam ini?" Aku terdiam. Aku menatap kepala orang yang sedang memelukku erat-erat dengan banyak emosi yang bercampur. Walaupun dadaku rasanya tanpa beban, ada berjuta-juta pikiran yang berlari liar didalam kepalaku. Aku mencoba melihat masa depan, tapi rasanya aku tidak bisa menemukan hal lain selain jalan buntu.

Kenyataan berbicara, Aku adalah 'orang lain' dalam situasi ini. Yoongi dan aku bahkan tidak bisa menggunakan kata 'kami'. Tidak ada apapun yang terjadi antara dirinya dan diriku. Seharusnya tidak ada apapun yang terjadi antara dirinya dan diriku. Dan sampai seterusnya tidak akan pernah terjadi apapun antara dirinya dan diriku. Tidak peduli tentang perasaan Yoongi terhadapku atau perasaanku terhadap dirinya. Tidak peduli seberapa banyak rasa itu ada, semua yang aku bisa lihat dihadapanku adalah Yoongi dan Yejin, yang dimana seharusnya mereka lebih bahagia dari keadaan saat ini.

Aku memeluknya erat-erat, tapi hal itu malah membuatku sangat tersakiti. Makin erat aku memeluknya, makin terasa sakit didalam hati. Sakitnya sungguh mengerikan sampai-sampai aku tidak yakin berapa lama lagi aku mampu memeluknya seperti ini.

"Kau tidak seharusnya bertengkar dengan Yejin karena diriku…Hyung." Itu adalah hal yang benar-benar ingin aku sampaikan saat ini.

Yoongi menggelengkan kepalanya yang dimana masih tenggelam didadaku.

"Aku tidak ada masalah dengan Yejin karena dirimu. Tapi karena kesalahanku sendiri." Suaranya bergetar dan seolah-olah berisi dengan kebingungan. Seperti datang dari seseorang, yang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Lengan yang membungkus tubuhku itu bergetar. Lengan itu mampu menunjukan bagaimana keadaan pikiran dari pemiliknya.

Aku tahu kalau harusnya jangan memperparah keadaan baginya.

"Lalu memangnya… masalah apa yang sekarang sedang kau… hadapi?"

Aku bertanya karena Aku ingin tahu jawabannya. Tapi kemudian dia diam untuk beberapa saat sebelum dia mulai berbicara.

"Aku ini si bajingan brengsek. Aku sudah memiliki Yejin tapi masih pergi kepadamu."

"Bajingan sesungguhnya nggak mungkin mau memanggil dirinya sendiri bajingan Hyung. Ayo kesitu, kita duduk." Desahan keluar mulutku saat aku melepas pelukannya dan membimbingnya agar duduk dikasur.

Yoongi mengatupkan kedua bibirnya satu sama lain dengan rapat-rapat dan menatap kearah seprai kasur itu. Dia menolak untuk mendongak agar bisa melihatku.

"Jimin, Aku…minta maaf."

"Kenapa minta maaf? Ceritakan kepadaku semuanya."

"Yejin dan Aku… kami sudah berhubungan lebih.. " Akhirnya kata-kata itu meluncur darinya. Hal itu bagai sebuah batu bata yang menghantamku dan aku merasa kebas karena rasa sakit yang luar biasa. Aku mengalihkan pandangan untuk sejenak sebelum aku kembali menatap wajahnya.

"Oke… lalu?" Yoongi mengambil napas panjang lagi, tapi kali ini dia mendongak dan mengunci arah matanya dengan mataku.

"Tapi aku tidak bisa menahan diri… saat berada didekatmu." Yang aku bisa lihat hanyalah penderitaan didalam matanya. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku juga bertanya-tanya kalau Yoongi bisa melihat hal yang sama di dalam mataku sendiri. Bibir itu melanjutkan untuk bergerak walaupun aku mulai merasa tidak ingin mendengar apa yang ia harus sampaikan kepadaku. "Aku tidak bisa semerta-merta meninggalkan Yejin . Tapi saat bersamamu, Aku merasa- Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Pada titik itu, Yoongi nampak murung dan dengan lembut aku menaruh tanganku di atas tangannya yang mengepal kencang.

Karena Aku tahu kalau Akulah yang seharusnya melakukan hal ini.

"Hyung, dengarkan aku…" Sepanjang sejarah hidupku, ini merupakan tantangan terberat yang pernah aku hadapi.

"Yejin itu gadis. Kau tak bisa tiba-tiba meninggalkan dia setelah kau punya hubungan yang semacam itu dengan dirinya. Kau harus kembali dan menjaganya. Aku ini laki laki. Aku tidak punya hal yang bisa hilang." Aku pikir apa yang Aku bicarakan itu adalah hal normal dan masih masuk logika, tapi Yoongi tiba-tiba terhenyak seperti saat mendengarkan cerita hantu.

"Jimin… hentikan bicaramu…" Ada sedikit rasa mengintimidasi di suaranya, tapi Aku sadar kalau aku tidak boleh menyerah darinya untuk saat ini. Aku terus-terusan menghadapi tantangan ini dengan memberikan sebuah senyuman.

"Hyung, biarkan segala hal diantara kita agar sedikit lebih tenang lebih dahulu. Aku tidak terlalu khawatir tentang hal yang kau bicarakan." Aku berbicara kepadanya dengan sebuah senyuman saat aku melihat wajahnya. Mulut Yoongi terbuka seolah ingin menyangkal pernyataanku, tapi dia terlalu lambat untuk melakukannya. "Aku akan bilang kepadamu sekali lagi. Aku ini bukan gadis, brengsek." Dengan segera, Ia mengenggam pergelangan tanganku.

"Jimin, kau kan tahu kalau hal ini tak ada hubungannya dengan hal itu? Hal ini tak ada hubungannya dengan siapa melakukan apa, atau apa yang telah aku lakukan. Jimin, kau ngerti kan?"

Matanya melihatku lekat-lekat yang membuatku terlalu takut untuk menghindari itu. Aku melihat kedalam mata hitam yang hampa yang tiba-tiba membuatku merasa tidak familiar. Bibir Yoongi terus bergerak."Setelah segala hal yang terjadi diantara kita… tolong jangan bilang kalau kau berniat pergi"

Aku buru-buru melepaskan diri dari genggamannya dan membuat tawa palsu. "Hahahaha… Hyung, kau ini berengsek. Jangan jadi sok gentlemen gitu deh." Rasanya seluruh tenagaku sudah terpakai dari tubuhku tapi aku masih harus terus berbicara.

"Dan jangan lupa kalau Aku juga punya pacar juga. Lagian sekarang aku benar-benar sibuk dengan acara sepak bola itu. Bahkan Jungkook ingin bandku membantunya dalam banyak hal. Makanya, aku sudah tidak punya waktu kosong lagi untuk menerima pekerjaan menjadi orang yang kamu cari-cari juga. Rasanya melelahkan dan Aku juga tidak dibayar." Aku sedang melucu, tapi dia tak tertawa. Aku memaksa diri untuk sedikit terkekeh agar dia dengar walaupun sebentar lagi tangisku akan pecah.

Aku bisa membaca apa yang ingin dia sampaikan dari tatapan matanya.

Dan Aku tahu kalau Yoongi juga bisa membaca apa yang ingin aku sampaikan dari tatapan mataku.

Aku rasa tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan dengan suara.

Yoongi dan Aku diam membeku dan melihat ke arah mata satu sama lain. Aku sudah mencapai akhir batasku. Aku tidak mampu menahan ini lagi.

Aku bisa mendengar suara orang yang egois, menggema didalam hatiku, berbicara kalau Aku tidak rela melepas Yoongi pergi.

"Jimin…?"

"Ada apa?"

"Tolong jangan lepaskan aku… setidaknya sampai besok pagi?"

Tiba tiba Yoongi menciumku lembut, aku bisa merasakan ciumannya berat. Ia menekan ciuman kami dan aku membalasnya, aku bukan pencium yang handal tapi aku tahu Yoongi sadar itu. Dia membuat ciuman kami basah, ia melumat dalam. Saliva kami beradu menjadi satu. Aku tetap memejamkan mata, yang hanya bisa ku dengar suara AC dan kecupan bibir kami.

Tangan Yoongi bergerak pelan untuk membuka kancing seragamku, aku sedikit tersentak tapi dia tak mau melepaskan ciuman bibirnya. Satu persatu kancing seragamku terlepas, kini aku bertelanjang dada. Yoongi mengecup bibir ku sebelum melepaskan ciumannya. Dia menatapku diam. Aku tak akan melupakan tatapan nya malam ini.

"Jimin, kau baik baik saja?" suaranya terdengar sangat dalam, kali ini dia berbicara sembari melepas bajunya. Jujur saja aku belum siap, aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku merasa jantungku berdetak sangat cepat sekarang. Dia menanggalkan bajunya, berjalan untuk mematikan lampu kamar ini. Aku masih terdiam, dan dia terseyum kearahku. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang.

"Aku baik baik saja " bohong. Aku merasa aliran darahku bertambah panas. Yoongi kembali ke ranjang. Dia menggenggam kedua tangan ku dan menatapku serius.

"Jimin, kita abaikan semua aturan untuk malam ini." Dia mencium ku lagi, gerakannya cepat namun hati-hati. Ia menangkup wajah ku dan semakin mempersempit celah di antara wajah kami. Yoongi mengulum bibirku, membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku yang memberikan dia kesempatan, walau aku tahu ini salah. Tapi dorongan dalam diriku,aku tak bisa menahannya juga. Aku melumat bibir Yoongi balik, aku berusaha mengimbangi ciuman Yoongi kali ini, aku tidak tahu lagi dengan kata apa menggambarkan semua sensasi ini. Masa bodoh!

Yoongi mendorong tubuhku berbaring di atas ranjang, dan menindihku tanpa melepas ciuman kami. Aku tak tahu berapa lama kami berciuman hingga Yoongi sedikit terengah dan aku hampir kehabisan napas. Dia membenamkan wajahnya dileherku, mencium leherku, hingga turun ke perut ku. Aku menahan eranganku, ini sangat memalukan. Aku tak pernah membayangkan kami berdua akan sejauh ini.

"Hyuungg…" suara ku tertahan, karena Yoongi terus saja mencium setiap inchi tubuhku. Aku bisa merasakan tangan nya kini tepat di atas kemaluanku. Kali ini dia berhenti, dan menatapku. Seolah dia meminta ijin kepadaku, boleh atau tidak. Dan aku menyuguhkan senyum termanisku dan mengagguk dengan pasti.

Kini tubuh sudah tak berbalut apa apa lagi, begitupun dengan Yoongi . Aku mengelus tengkuk Yoongi hyung dan dia terseyum padaku. Tangan Ku berpindah ke pinggang Yoongi. Memeluk laki-laki itu erat dan membuat dua tubuh kami menempel satu sama lain tanpa jarak Yoongi mengangkat satu kakiku, dan mengalungkannya, membungkus tungkai kakinya dan membuat kulit kemaluan kami saling beradu. Tubuhku menegang.

Aku mendengar Yoongi menggeram, sensasi tersebut muncul dan berputar jadi satu di pikiranku dan mungkin dipikirannya juga. Aku mendesah di bawah Yoongi, melagukan namanya melalui erangan pasrah saat tubuh kami bersatu nanti. Tapi sepertinya Yoongi masih bersabar diri. Ia tahu ini akan jadi yang pertama kalinya untuk ku dan mungkin juga untuknya,kurasa dia ingin membuatku merasa nyaman dan tak ingin membuatku takut.

"Aku janji pelan-pelan," ia berucap tepat di telingaku, aku tidak cengeng.

Yoongi menuntun kemaluannya yang telah tegak. Aku bisa merasakannya, ia mendorongnya pelan-pelan memasuki ku, membuatku menggigiti bibir karena sakit. Aku mencengkram jemari Yoongi dengan erat, dan dia mulai bergerak dengan perlahan di dalamku. Aku bersumpah ini sangat sakit.

"Yoongi hyunggg.." aku setengah berteriak. Aku bisa melihat wajah Yoongi dengan sinar bulan yang masuk lewat celah jendela. Dia terseyum lagi kepadaku. Apa dia berusaha membuat ku jatuh cinta padanya?

Sekarang Yoongi bergerak lebih dalam lagi, dengan tempo berbeda. Aku terus mendesah dan mengerang dibawah nya. Bulir keringat kami menjadi satu. Sekarang aku paham apa yang di maksud Yoongi dia tak tahan untuk tidak menyentuhku.

"Hyunggg ah.." aku merasa seperti terbang saat Yoongi menekan penuh beberapa kali. Aku tak tahu berapa kali aku mendesahkan namanya. Ini kali pertamaku yang luar biasa. Aku tak paham lagi dengan semua cerita bohongan yang menjadi nyata ini.

Semua yang terjadi semakin rumit, aku benci hal rumit. Aku berharap ini bukan terakhir kalinya untukku bisa menyentuh Yoongi seperti ini. Ini jalan yang Yoongi pilih, aku tak memaksa. Yoongi pun tak memaksaku untuk jatuh cinta. Hanya, aku tidak siap. Kata orang butuh waktu yang tidak terlalu lama untuk jatuh cinta, hal itu benar benar terjadi, tapi kenapa rasanya benar-benar menyiksa kalau tiba saatnya bagi kita untuk mengucapkan salam perpisahan?

.

.

.


Halo semua!

Maafkan saya off lebih dari seminggu karena ada urusan lain yang terpaksa saya nggak pegang laptop selama seminggu, tapi alhamdulillah sudah terlewati~saya terharu baca review kalian. Terimakasih sekali terimkasih! dan maafkan saya jarang balas review huehe. tapi saya selalu baca review dari kalian satu satu yang bikin semangat saya ngelanjutin ini:) dan merasa sangat gemas dengan kalian semua! haha

Cerita saya udah banyak yang saya perbaikin dari chapter ke chapter, saya tulis semengalir mungkin biar gak pada bingung, dan! udah naik rate nih! asli ini pertama kali buat kayak gitu. -_- maafkan kalo mengecewakan. so, thankyou buat berbagai macam kritik dan saran nya! :) ugh Chapter 10 ini saya update panjaang karena saya libur buka ffn lebih dari seminggu ini. haha

Buat semua yang udah review & baca dapet big thanks! big love! big hug! dari Yoongi!

Dan mungkin saya akan update ff ini tiap seminggu sekali, bisa lebih cepat atau lebih lama. makasih pengertiannya!

ps: Sorry kalau ada typo, baru selesai langsung post hehe

Thankyou!

06.5.2016 6:47 pm