Disclaimer © Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya saja)
…
Dandelion
By
Ann
…
Warning : Au, Ooc, typo(s).
Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.
and
Selamat membaca!
…
Mencintaiku bukanlah hal yang buruk. Cobalah, maka kau akan rasakan bahwa jatuh cinta padaku adalah hal terbaik dalam hidupmu.
...
Bab X
Just Falling in Love with Me
...
Rukia tidak memahami cinta. Dulu ia pikir ia mengerti, sebab ia mengira pernikahannya dahulu atas dasar cinta. Tetapi jika menilik ke belakang, ia tak yakin apa yang ia rasakan pada Renji saat itu. Benarkah itu cinta? Ataukah pernikahan itu mereka langsungkan hanya demi status? Hanya demi memuaskan harapan orang-orang.
Ya, pastinya begitu. Jika tidak, mana mungkin Renji meninggalkannya dan Nao demi wanita lain. Dulu Rukia begitu marah dan sakit hati atas perbuatan Renji kepadanya dan Nao hingga tak sempat mencoba untuk sungguh-sungguh memahami apa yang coba disampaikan mantan suaminya lewat surat terakhirnya. Dalam surat itu Renji berusaha menjelaskan alasan kepergiannya. Alasan mengapa rumah tangga mereka tidak bisa dilanjutkan lagi. Alasan yang dahulu tak Rukia pahami, tetapi sekarang setelah ia bertemu Ichigo ia mulai mengerti. Mulai bisa memahami jika apa yang ia rasakah dahulu terhadap Renji bukanlah cinta, begitu pun sebaliknya. Kasih sayang, pengertian, dan persahabatanlah yang dahulu membuat mereka bersama. Dahulu mereka terlalu muda dan tak berpengalaman untuk memahami antara pertemanan dan cinta sejati.
Renji menemukan cintanya lebih dulu, dan memutuskan untuk pergi. Sekarang Rukia mulai bisa memahami alasan kepergiaannya, tetapi ia tetap tidak menyetujui cara pria itu meninggalkanya dan Nao, serta penolakan pria itu untuk menemui anak mereka.
Jadi, apa itu cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta? Apa seperti yang Rangiku katakan padanya?
Ketika melihat senyuman Ichigo tiba-tiba saja semua pertanyaan itu terjawab, seketika Rukia tahu seperti apa rasanya jatuh cinta.
Seperti yang sekarang ia rasakan kepada Ichigo.
...
Rangiku menyadari sesuatu sedang terjadi di antara Ichigo dan Rukia. Ia bisa melihat rayuan yang dilempar Ichigo pada Rukia lewat tatapan dan senyumannya, juga bagaimana Rukia menanggapinya. Sudah jelas sekarang siapa pria yang dimaksud Rukia dalam ceritanya. Andai Rangiku tahu pria itu adalah Ichigo, ia tidak akan memberi dukungan. Ia tahu bagaimana semuanya berakhir jika Rukia menjalin hubungan dengan Ichigo. Patah hati, hanya satu hal itu yang pasti terjadi. Ichigo tidak pernah serius dengan wanita, dan Rukia bukan tipe wanita yang bermain-main dalam menjalin hubungan. Mereka bukanlah pasangan yang cocok.
"Kuharap aku salah sangka," ujar Rangiku membuka kembali percakapan setelah Ichigo melenggang santai meninggalkan ruang praktek Rukia sambil bersiul, tak menyadari bahwa ketengangan kini menyelimuti dua wanita yang tertinggal di ruangan itu.
Rukia menoleh kepadanya. "Apa terlihat begitu jelas?" Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah wanita mungil itu.
"Siapa pun yang melihat cara Ichigo memandangmu, mereka akan tahu," jawab Rangiku. "Dan caramu menanggapinya, sudah jelas kau merespon dengan ketertarikan yang sama besar."
Rukia menutup wajahnya dengan dua tangan. "Kuharap aku tidak semudah itu dibaca."
Rangiku menepuk pelan bahu Rukia.
Rukia melepas tangannya dari wajah dan menatap penuh harap pada Rangiku. "Bagaimana cara dia menatapku, Rangiku?" tanyanya. "Semalam Ichigo berkata dia mencintaiku, aku ... aku tidak merasa yakin dengan yang dia katakan." Suaranya memelan di akhir kalimat.
Untuk sesaat Rangiku terkejut dengan penuturan Rukia, ia tak menyangka jika hubungan keduanya sudah sejauh itu. Selama ini ia pikir mereka hanya sekadar berteman.
"Dia melihatmu dengan tatapan pria yang tertarik pada seorang wanita. Tetapi aku tak yakin berapa lama ketertarikan itu akan bertahan," tutur Rangiku jujur. Ia tak akan berbohong, ia akan memaparkan segalanya agar Rukia paham jika hubungannya dengan Ichigo pasti tidak akan menghasilkan akhir bahagia. "Ichigo itu playboy. Dia tidak pernah serius berhubungan dengan wanita. Tidak ada wanita yang bertahan lama bersamanya, mereka pergi karena tahu Ichigo tidak akan membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius."
Mata Rukia yang memandang Rangiku sesaat memperlihatkan kekecewaan, tetapi saat berkata wanita itu terdengar begitu tenang, "Jadi menurutmu perasaannya padaku juga tidak akan bertahan lama?"
Rangiku menghela napas. "Jangan jatuh cinta padanya, Rukia." Hanya itu yang bisa ia katakan pada akhirnya. Sebuah nasihat yang mungkin terlambat, sebab jelas sudah Rukia terlanjur jatuh hati pada Ichigo.
...
Dengan kata-kata Rangiku terngiang di benaknya Rukia memulai pekerjaannya hari itu. Ia membuka klinik dan melayani pasien sembari bertanya-tanya, benarkah Ichigo tidak serius dengannya? Apakah perasaan pria itu hanya sementara, dan akan menghilang seiring berjalannya waktu?
"Kau sedang banyak pikiran ya?"
Rukia mendongak, terkejut karena tidak menyadari Saya Izanami—salah satu pasiennya—sudah menunggu untuk check-up rutin.
"Maafkan saya, Izanami-san," ucap Rukia penuh rasa sungkan.
"Tak apa." Wanita paruh baya itu melambaikan tangan. "Jangan terlalu memaksakan diri, Rukia-chan," ujarnya. "Kau juga manusia biasa, ada saat-saat pikiranmu tidak berada di tempat seharusnya."
Rukia menyunggingkan senyum dan mengangguk. "Terima kasih," ucapnya tulus. "Sekarang saya ingin tahu bagaimana keadaan Anda." Ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah meniup-niup ke alat kecil aneh itu, tepat seperti yang kausarankan," ujar Izanami dengan nada cepat, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan tabel. "Dan sampai sejauh ini, mudah-mudahan aku baik-baik saja. Dadaku bahkan tidak terasa sakit selama musim dingin ini."
Rukia dengan cepat membaca skala embusan maksimum dengan saksama. "Anda pernah mendapatkan suntikan pencegah flu, Izanami-san, juga suntikan pencegak pneumonia*, jadi keduanya banyak membantu. Kami juga menaikkan dosis inhaler Anda."
"Aku tidak pernah disuntik sebelum musim dingin ini," Izanami mendengus. "Sejujurnya, menurutku semua itu omong kosong. Tapi aku benar-benar sakit musim dingin lalu jadi Dr. Kurosaki menasihatiku panjang-lebar. Memaksaku untuk mendapat suntikan itu."
Rukia tersenyum, amat sangat tahu bahwa sebenarnya Saya Izanami sangat menyukai Isshin Kurosaki, bahkan memuja pria itu.
"Suntikan itu membuat perbedaan, Izanami-san," papar Rukia pelan, "jadi baik sekali jika beliau memaksa Anda mendapatkannya. Skala embusan napas ini bagus. Kalau begitu, tidak ada masalah?"
"Sama sekali tidak ada. Menurutku aku sama sekali tidak menderita asma. Napasku sama sekali tidak ada bunyi menginya."
"Anda tidak harus punya napas dengan bunyi mengi," jelas Rukia kepadanya. "Beberapa anak-anak yang menderita asma napasnya tidak harus berbunyi mengi. Kadang-kadang satu-satunya gejala adalah batuk. Pada orang yang lebih tua satu-satunya gejala mungkin sesak napas."
Saya Izanami tampak tidak yakin. "Umurku sudah enam puluh tahun," bantahnya keras kepada Rukia. "Aku tidak pernah terkena asma, atau penyakit lain yang mirip dengan itu, sampai beberapa tahun lalu. Bagaimana aku bisa terkena asma sekarang?"
"Terkadang ada orang yang didiagnosis menderita asma untuk pertama kalinya di usia lanjut," jelas Rukia sabar. "Dan alasan Dr. Kurosaki mendorong Anda untuk mendapatkan vaksinasi adalah karena pada orang yang lebih tua asma bisa dipicu oleh flu, cuaca dingin, atau penyakit lain yang ditularkan virus."
"Yah, aku memang pernah sesak napas musim dingin lalu, sakit di dadaku sangat parah," tutur Izanami kepadanya. "Tapi waktu itu aku tidak mau menurut ketika Dr. Kurosaki mencoba pengobatan dengan semacam inhaler itu."
"Tak usah mengkhawatirkan itu lagi sekarang." Rukia tersenyum hangat sembari menyerahkan kembali tabel kepada wanita itu. "Yang penting sekarang adalah Anda sehat-sehat saja, dan memang itulah yang sebenarnya."
Rukia berbincang dengan Izanami selama beberapa saat lagi sebelum kemudian mengantar wanita itu kembali ke ruang tunggu.
"Jangan membebani kepalamu dengan berpikir terlalu keras, Rukia-chan. Santailah dan nikmati, itu justru akan membuat segalanya lebih mudah."
Itu kata-kata terakhir Saya Izanami sebelum wanita itu pergi. Rukia tak sempat merenungkan kata-kata itu sebab ia memiliki beberapa pasien yang menunggu perawatannya, dan kemudian kata-kata itu terlupakan oleh kesibukannya hari itu. Ia baru bisa memikirkannya di rumah malam harinya setelah menidurkan Nao.
Santai dan nikmati.
Apakah ia harus melakukan itu dan mengabaikan nasihat Rangiku untuk tidak jatuh cinta kepada Ichigo?
...
Keesokan harinya Rukia masih tidak bisa memutuskan tentang apa yang harus ia lakukan. Ia terlalu bingung untuk mengambil sikap. Ia ingin menerima Ichigo, bersantai dan menikmati hubungan mereka, tetapi di lain sisi ia punya ketakutan jika akhirnya hubungan mereka tidak berhasil. Ia akan terluka, dan Nao ... putranya akan kehilangan sosok ayah sekali lagi.
Dengan pikiran yang masih bingung ia bekerja, berharap pekerjaan bisa mengalihkan perhatiannya. Akan tetapi nasib tidak memihaknya, pasien yang datang untuk periksa hari ini sedikit, bahkan satu jam sebelum rehat makan siang sudah tidak ada lagi pasien yang datang. Karena tak memiliki pekerjaan ia memutuskan pergi menemuin Nanao untuk membahas acara klinik kesehatan anak Kamis depan.
Ia baru akan berbelok ke koridor menuju ruangan Nanao saat melihat Ichigo dan Rangiku tengah mengobrol tak jauh darinya—di dekat meja resepsionis. Melihat dari ekspresi keduanya, kelihatanya itu pembicaraan serius.
Apa Rangiku sedang memperingati Ichigo agar tidak mendekati? pikir Rukia tak tenang. Urung menuju ruangan Nanao, ia berbelok menghampiri Ichigo dan Rangiku. Keduanya tampak begitu sibuk dengan obrolan mereka sehingga tidak menyadari kedatangannya.
Rukia menyadari jika kening Ichigo berkerut, pertanda ia tidak menyukai apa yang baru saja didengarnya dari Rangiku. Jantung Rukia mengentak cepat, setiap langkah mendekat ia semakin was-was dengan pembicaraan kedua orang itu.
"Kau harus mendengarkanku, Ichigo!"
Seruan Rangiku membuat langkah Rukia terhenti. Debar jantungnya semakin memacu, pikirannya melayang ke mana-mana, mereka-reka hal-hal buruk dalam kepalanya.
"Kau tidak bisa memaksaku," sahut Ichigo tak senang.
Rangiku berkacak pinggang, matanya menyorot marah. "O ya? Akan kulaporkan ke ayahmu," ancamnya.
Ichigo memutar bola matanya. "Kita bukan anak kecil lagi."
"Kalau begitu, kau harus bersikap dewasa," ujar Rangiku.
"Nah, siapa di sini yang kekanakan," sahut Ichigo.
"Kau. Aku hanya meminta hal yang kecil, dan kau tidak mau melakukannya."
"Itu sama sekali bukan hal kecil, Rangiku. Itu terlalu berlebihan, seharusnya kau—"
Aku harus menghentikan ini.
"Dr. Kurosaki." Rukia memanggil untuk mendapat perhatian.
Ichigo menoleh padanya. Melihat kerutan di kening pria itu Rukia menjadi semakin was-was. Rangiku pasti sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya marah.
Namun pemikiran itu lenyap seketika saat Ichigo tiba-tiba tersenyum cerah kepadanya, seolah baru menemukan pemecahan dari algoritma tersulit di dunia, senyuman yang terlalu menyilaukan sehingga membuat Rukia mundur selangkah, hendak menghindar, tetapi dengan sigap Ichigo mencengkeram lengannya dan menariknya hingga berada di antara pria itu dan Rangiku, dengan posisi menghadap Rangiku.
"Bagaimana kalau Rukia saja?" Ichigo menawarkan. "Dia perempuan, pasti akan lebih cocok."
Eh? Apa maksudnya.
Rukia menatap bingung Rangiku. Karena tak jua mendapat penjelasan dari wanita itu setelah beberapa detik, ia memutar kepalanya ke belakang. "Sebenarnya ada apa ini?"
"Rangiku butuh bantuanmu, Rukia," jawab Ichigo.
Rukia kembali memandang Rangiku. "Bantuan apa?"
"Kau tidak punya pasien?" Seniornya itu malah balik bertanya.
"Tidak. Sampai rehat makan siang nanti aku tidak mempunyai janji temu." Ia menjawab meski masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang tengah terjadi.
"Bagus. Kau bisa menemaniku," ujar Rangiku.
"Ke mana?" Rukia semakin bingung.
"Aku harus pergi ke butik untuk mencoba gaun pengantin tetapi tidak ada yang menemaniku, bisa kau temani aku?"
Eh, jadi itu yang membuat mereka adu mulut tadi? Kupikir...
Ia mendesah lega.
"Kau mau kan, Rukia?"
Rukia sebenarnya ingin menjawab tidak. Tetapi ia tidak tega saat melihat tatapan memelas Rangiku, dan akhirnya ia mengangguk mengiyakan permintaan itu.
"Terima kasih," ujar Rangiku sembari menggenggam kedua tangan Rukia. "Cepat ambil mantel dan syalmu, Ichigo akan mengantar kita."
"Hoy, kenapa aku tetap harus ikut?" protes Ichigo.
"Karena kami butuh sopir," sahut Rangiku enteng sembari kembali ke meja resepsionis, berbicara sebentar dengan rekan kerjanya dan memasang mantel serta syal.
"Dasar pemaksa," Ichigo menggerutu.
Rukia berputar menghadap Ichigo dan menyipitkan mata ke arah pria itu. "Jadi begitu ya, Ichigo. Kau sengaja mengorbankanmu supaya tidak pergi menemani Rangiku ya?"
Ichigo meringis. "Tadi itu..." Ia menggaruk bagian belakang kepalanya, bingung harus memberi jawaban apa untuk menyelamatkan diri.
Sebelum sempat Rukia mengeluarkan omelannya, Ichigo segera berlari sambil berteriak, "Akan kuambilkan mantel dan syalmu."
Rukia terkikik melihat kelakuan Ichigo. Namun tawanya seketika berhenti saat menyadari Rangiku berdiri di sampingnya. Ia menoleh, melihat Rangiku memandanginya seolah melihat sesuatu yang tak biasa.
"Apa ada sesuatu, Rangiku?"
Rangiku menggeleng. "Tidak," sahutnya.
Rukia tahu seniornya itu menyembunyikan sesuatu tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Perasaannya masih was-was apakah Rangiku akan mengatakan sesuatu pada Ichigo tentang dirinya.
...
Butik yang mereka datangi tidak terlalu jauh dari klinik, cukup berkendara lima belas menit dengan mobil mereka sudah bisa mencapainya.
Rukia merepatkan mantelnya saat melangkah bersebelah dengan Rangiku menuju pintu depan butik, Ichigo berjalan di belakang mereka dengan langkah ogah-ogahan. Siapa pun akan begitu jika dipaksa datang ke tempat yang tidak diinginkan. Seorang karyawan berseragam hitam-putih menyambut mereka di pintu dan mengantar langsung mereka ke lantai atas setelah Rangiku mengatakan tujuan kedatangannya. Mereka disuruh menunggu di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun hangat. Di meja sudah disediakan teh dalam peralatan minum teh yang terbuat dari porselen dengan gambar kelopak sakura berwarna merah muda, beserta three tier—nampan lapis—yang berisi kue-kue kecil nan cantik, mulai dari scone**, tart buah, kue sus, biskuit almond. Ruang itu jelas diperuntukkan bagi tamu VIP.
Rangiku mengambil secangkir teh untuk dirinya, lalu menuang dua gelas lagi untuk Rukia dan Ichigo. "Tempat ini memanjakanku, mereka menyediakan teh hangat dan banyak camilan," ujarnya sembari mengambil sebuah tart buah dan menggigitnya.
"Pantas saja kau tidak bisa kurus," sahut Ichigo sembari mengangkat cangkir tehnya dan menyesap pelan minuman beraroma lemon itu.
"Hey, aku tidak gemuk. Badanku ini berisi, seksi," Rangiku memprotes.
Mereka berdua kembali terlibat adu mulut, sementara Rukia mengamati dari pinggiran cangkir tehnya. Sedikit tercengang dengan sikap keduanya yang seperti anak kecil.
"Lain kali akan kusuruh pegawaiku untuk mengosongkan three tier saat kau datang." Seorang pria berambut hitam sepanjang rahang masuk ke dalam ruangan, pria yang memakai hiasan bulu berwarna merah dan kuning di alis serta bulu matanya itu mengangguk pada Ichigo dan Rukia, sebelum perhatiannya kembali tertuju pada Rangiku. "Perhatikan makanmu, Sayang. Aku tidak ingin terpaksa merombak gaunmu di menit-menit terakhir sebelum pernikahan."
"Tenang saja, Yumi-chan, aku tidak akan bertambah gemuk," sahut Rangiku sembari mengambil sepotong tart buah lagi.
"Ck!" Pria bernama Yumichika yang merupakan desainer sekaligus pemilik butik itu hanya bisa berdecak sebal oleh polah salah satu klien nya itu. "Tinggalkan kue-kue itu, kita harus mencoba gaunmu," ujarnya kemudian. "Aku sudah menambahkan renda di bagian bahunya, dan memanjangkan roknya hingga mata kaki, karena kata Gin desain sebelumnya terlalu terbuka."
"Padahal aku suka rancanganmu sebelumnya, aku merasa sangat seksi saat memakainya, tapi demi Gin aku akan mengalah," ujar Rangiku.
"Kau akan menyukai yang ini juga," kata Yumichika sembari memandu tamu-tamunya menuju ke ruang sebelah yang di kelilingi kaca setinggi dua meter. Di tengah ruangan sebuah gaun putih terpasang di manekin.
Rukia mendekati gaun itu, mengagumi gaun putih off shoulder dengan hiasan bordiran rumit dan renda itu. "Ini indah sekali." Ia menyentuh gaun itu dengan hati-hati.
"Kau benar Rukia, ini indah sekali. Sempurna." Rangiku sama kagumnya dengan Rukia.
Yumichika menghampiri mereka, mengelus permukaan gaun sembari berkata, "Akan lebih indah lagi jika gaun ini dipakai oleh mempelai wanita." Ia menjentikkan jemari, lalu dua orang pegawainya muncul. "Coba gaunmu, Sayang. Aku ingin lihat apa ada bagian yang harus diperbaiki."
Rangiku menghilang ke ruang ganti bersama dua pegawai Yumichika, meninggalkan Yumichika bersama Ichigo dan Rukia di ruang kaca.
"Apa kalian juga sedang merencanakan pernikahan?" Yumichika bertanya kepada mereka. Ia berjalan cepat menghampiri Rukia. "Aku punya rancangan yang cocok untuk nona manis ini. Warna ivory akan cocok untukmu," ujarnya sembari berputar mengelilingi Rukia.
"Kami tidak—"
Yumichika tidak mendengarkan protes Rukia dan terus melanjutkan, "Dengan detail bunga dan payet, ditambah kalung mutiara." Pria itu larut dalam dunianya sendiri. "Kerudung ... kurasa tidak perlu, cukup tiara saja, warna putih dengan hiasan mutiara, itu akan tampak menonjol di rambutmu yang hitam. Kau akan terlihat seperti putri. Ah, bukan, kau akan terlihat seperti ratu, anggun dan memukau."
Pemaparan desainer itu terdengar begitu nyata sehingga Rukia bisa membayangkan apa yang dikatakannya. Sebuah pesta pernikahan dengan tema fairy tale, gaun ivory berlengan pendek dengan rok mengembang, tiara dari mutiara, buket bunga honey suckle, dan Ichigo yang berdiri di sampingnya dalam balutan tuxedo putih, menggenggam erat tangannya.
Stop!
Rukia harus berusaha keras mengembalikan pikirannya ke alam nyata, sebab khayalan itu begitu menggiurkan untuk diabaikan dan tinggalkan.
"A-ano ... maaf, kurasa kau salah sangka. Kami ke sini hanya untuk menemani Rangiku." Rukia berusaha menjelaskan. "Kami tidak sedang merencanakan pernikahan, bahkan kami berdua bukan pasangan." Ia melirik Ichigo saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Sebelah alis Yumichika terangkat. "Benarkah? Tadinya kupikir kalian pasangan, soalnya kalian terlihat serasi."
Ichigo melangkah mendekati Rukia, berhenti tepat di sebelahnya. "Nah, kau dengar sendiri, Rukia. Kalau kita sangat cocok, kenapa kau tidak?" ujarnya pelan tetapi masih bisa didengar jelas oleh Yumichika yang hanya berjarak beberapa langkah dari mereka.
Rukia menutup rapat mulutnya dan membuang muka, berusaha mengabaikan rayuan dalam suara Ichigo.
"Jadi sebenarnya kau menyukai nona ini, tapi dia tidak menyukaimu?" Yumichika mengambil kesimpulan.
"Dia menyukaiku," sahut Ichigo, "dia hanya tidak mau mengakuinya."
Rukia berpaling ke arah Ichigo, memelototinya. "Percaya diri sekali."
Ichigo hanya mengedikan bahu dengan gaya cuek. "Kenyataannya memang begitu, kau menyukaiku tetapi terlalu takut untuk mengatakannya."
Rukia melipat tangannya di depan dada. "Takut kau bilang?"
"Yup. Takut."
"Aku tidak takut padamu!" dusta Rukia. Jauh dalam hatinya sebenarnya ia memang ketakutan. Rasa takut patah hati dan ditinggalkan memerangkapnya, mengunci hatinya sehingga ia tak berani mencoba peruntungannya menjalin hubungan dengan Ichigo.
Mata madu Ichigo menatapnya lama dan intens, hingga membuat pipinya terasa menghangat dan ia terpaksa memalingkan wajahnya. Tetapi hal itu tidak membuat perbedaan, sebab ketika ia menatap cermin yang ia lihat adalah refleksi dirinya serta Ichigo. Dan mata madu itu kembali menatapnya.
"Kau meragukanku." Suara Ichigo mengalun pelan, menggambarkan dengan pasti apa yang ia rasakan saat ini.
Ya, keraguanlah yang menjadi sumber ketakutannya. Hatinya meragu dengan perasaan Ichigo, meski ia tak meragukan perasaannya sendiri.
"Nah, ini dia yang ingin aku lihat!"
Seruan Yumichika mengembalikan Rukia ke alam nyata. Senyumnya langsung merekah saat melihat Rangiku muncul di hadapan mereka dengan gaun pengantinnya. "Cantik sekali," pujinya tulus sembari melangkah mendekati Rangiku.
"Terima kasih, Rukia." Rangiku menerima pujian itu dengan wajah berseri-seri.
"Sepertinya tidak perlu ada perbaikan lagi," ujar Yumichika sambil mengamati Rangiku dengan mata desainernya. "Sekarang tinggal mencoba kerudungnya." Ia menjentikkan jemari lentiknya, dan detik berikutnya seorang pegawainya datang dengan membawa sebuah kerudung panjang dari kain tule. Dengan sigap Yumichika memasangkan kerudung itu di rambut Rangiku, menjepitnya agar posisinya tidak bergeser.
Saat memandang refleksi dirinya sendiri di cermin Rangiku hampir tak bisa berkata-kata, matanya berkaca-kaca, lalu ia langsung menghambur memeluk Yumichika sembari mengucapkan terima kasih.
"Rasanya aku hampir tidak percaya sebentar lagi aku akan jadi pengantin," ujar Rangiku sambil menyusut air matanya. "Andai Gin melihat ini." Ia berputar di depan cermin. "Kuharap dia menyukai ini." Ia tersenyum di cermin.
Rukia ikut terharu melihat moment itu. Kebahagiaan seorang mempelai wanita. Tanpa ia sadari air matanya bergulir turun dari sudut matanya, ia menyusut cairan bening itu dengan jemarinya sembari berpikir, apakah ia sebahagia itu menjelang pernikahannya dulu?
Ia menggeleng pelan. Kenangan itu mengabur, ia tidak ingat jelas apa yang ia rasakan saat itu.
"Aku akan membuatmu sebahagia itu." Bisikan Ichigo menghampiri telinganya, menjanjikan masa depan yang Rukia impikan. "Mencintaiku bukanlah hal yang buruk, Rukia. Cobalah, maka kau akan rasakan bahwa jatuh cinta padaku adalah hal terbaik dalam hidupmu."
Ia berbalik dan bertatapan dengan Ichigo. Mata madu pria itu memancarkan ketulusan. Ia melihat cinta di sana, rasanya begitu berapi-api sampai membakar hatinya, tidak untuk diragukan. Tidak untuk dipertanyakan.
...
bersambung...
...
Catatan kecil:
*pneumonia atau paru-paru basah adalah peradangan jaringan di salah satu atau kedua paru-paru yang biasanya disebabkan oleh infeksi.
**kue khas Inggris yang merupakan persilangan antara cake dan roti, biasanya dimakan dengan krim atau selai.
...
Review's review:
Jeje
Makasih dah RnR, Je.
Yup. Rukia mulai membuka hari tapi dia masih ragu sama perasaan Ichigo.
Nambah lagi nih fans-nya Nao. Wkwk...
Nggak. Ichigo nggak nguping kok.
Damai
Aish, kamu terlalu memuji, saya jadi ge-er. Makasih ya sudah mendukung saya lewat review, padahal kita belum kenal sebelumnya. Saya akan berusaha agar bisa lebih baik lagi, akan belajar dan belajar lagi agar bisa membuat karya yang lebih baik di kemudian hari.
Makasih sudah mampir dan mereview ya~ *-*
Naruzhea AiChi
Iya. Beberapa chapter lagi akan tamat.
Makasih dah RnR ya, AiChi-san.
...
Halo~ Long time no see, minna-san! Akhirnya saya bisa update lagi setelah sekian lama, adakah yang merindukan saya? Atau paling nggak merindukan fanfik ini? Wkwkwk... Maaf ya, updatenya lama, seperti biasa saya terjegal kesibukan pekerjaan, listrik yang sering padam, dan ide yang sering mampet. Hehe...
Di chapter ini saya sepertinya berputar-putar ya, mungkin ada yang bosan membacanya, tetapi saya hanya berusaha membuat perasaan Rukia terlihat lebih jelas di sini, mencoba menampakkan keraguan yang ia alami. Bisakah kalian merasakannya? *Saya harap bisa*
Saya tahu fanfik ini jauh dari kata sempurna, begitu banyak kekurangan di sana-sini, begitu banyak yang masih perlu saya perbaiki, tetapi saya berusaha membuatnya dengan kemampuan terbaik saya. Dan saya sangat berterima kasih untuk kalian semua yang memberikan dukungan kepada saya selama ini. *deepbow* Saya tidak akan bisa sejauh ini tanpa dukungan kalian semua, semoga setelah ini kalian tetap mau membaca karya saya.
See ya,
Ann *-*
...
