.Happy Read.
Ost op: No Pain No Game (NaNo)
¤Uchida Tokugawa¤
-Present-
.Naruto belong's Masashi Kishimoto.
Naruto © Kishimoto M.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Summary: Aku hanya terlalu lelah dengan semua ini, Impian? Cinta? Harapan? Persahabatan? Semua hal tersebut indah pada awalnya namun memuakkan pada akhirnya, bahkan terkadang aku sering tertawa miris mengingat semua hal yang kulakukan selama ini tentang impian dan ambisi bahwa 'tidak akan mengubah jalan ninjaku' , semua hanyalah kebahagian semu yang memuakan percayalah bahwa seorang Uzumaki Naruto bahkan bosan dengan hal yang bernama impian dan ambisi.
.
.
.
(Break the limit)
Naruto membuka kedua iris safirnya saat terbangun disebuah dataran luas dengan Padang rumput sepanjang mata memandang serta langit yang biru bersih tanpa awan, mungkin bisa dikatakan bahwa yang dirinya lihat saat ini sangatlah indah meskipun Naruto tidak tahu mengapa dirinya bisa terbangun ditempat seperti ini.
Wush!
Tuk!
Sebuah kerikil kecil melesat cepat mengenai kepala pirang Naruto membuatnya menoleh kearah kerikil tersebut berasal namun detik berikutnya mau tidak mau kedua iris safirnya melebar sesaat bahkan tubuhnya menegang saat melihat seorang pria dewasa mengenakan yukatta hitam serta Surai raven sepunggung yang menatap dirinya dengan senyuman kecil.
"Lama tidak bertemu Uzumaki Naruto" sapa pria tersebut pelan.
Naruto yang awalnya terkejut dengan kemunculan pria dihadapannya ini perlahan mulai merilekskan tubuhnya seperti biasa dan menatapnya datar.
"Hishasiburi Madara" balas Naruto pelan kemudian melangkah pelan saat melihat Madara menepuk nepuk disamping tempatnya duduk.
"Tenanglah aku tidak akan berulah" Madara terkekeh pelan saat tahu arti pandangan iris safir Naruto yang menatapnya seolah olah dirinya akan berbuat sesuatu.
Suasana dipadang rumput tersebut menjadi sunyi dan hanya terdengar suara hembusan angin yang bergesekan dengan rumput seusai Naruto duduk disamping Madara.
"Suasana seperti inilah yang sedari dulu aku impikan bersama Hashirama"
Naruto melirik kearah Madara yang memejamkan kedua iris onyx nya menikmati suasana yang juga Naruto akui sangat terasa nyaman dan tenang.
"Mungkin tindakanku dulu waktu dielemental nation salah namun entah mengapa sejak kematian adikku serta tugu prasasti Uchiha yang kubaca membuatku semakin gelap mata dan berakhir seperti yang kau saksikan Naruto" Ucap Madara pelan sambil menghirup nafas dalam, "aku terlalu paranoid dengan semua hal dulu" sambungnya pelan.
"Kurasa semua takdir akan berjalan sesuai apa yang kamii-sama janjikan Madara" balas Naruto pelan mengabaikan Madara yang meliriknya, "sekuat apapun kita berusaha untuk merubahnya namun tetap saja semua hal tersebut sia sia karena pada akhirnya akan kembali seperti semula" Sambung Naruto seketika membuat Madara tertawa lepas.
"Apa yang terjadi denganmu Naruto? Kau tampak seperti Obito saat ini" Madara tertawa pelan melihat sifat Naruto yang malah layaknya Obito saat ini, dimana selalu berbicara tentang takdir dan takdir, dimana Naruto yang selalu berbicara ambisi dan impian seperti waktu melawannya dulu.
Naruto menatap malas kearah Madara yang tertawa disampingnya, dirinya juga merasa heran karena kemunculan hantu Uchiha disebelahnya ini.
"Jadi kau masih hidup Madara? Apakah kau akan bangkit didunia ini?" Tanya Naruto datar membuat Madara terdiam seketika.
"Hei itu ide bagus! Kurasa aku bisa melanjutkan rencana Mugen Tsukoyomi di duniamu sekarang Naruto" Balas Madara menyeringai kecil namun detik berikutnya dirinya kembali terkekeh pelan, "hanya bercanda tapi, aku sekarang tidak lebih hanyalah secuil energi yang kutinggalkan ditubuhmu sebelum aku mati dulu Naruto" sambung Madara tersenyum kecil.
"Waktuku tidaklah banyak Naruto, kemunculanku saat ini adalah untuk membantumu" ucap Madara kembali yang langsung ditatap Naruto dengan pandangan bertanya tanya tentang maksud sebenarnya.
"Bukankah titik Chakra ditubuhmu beberapa ada yang rusak?"
Naruto mengangguk pelan mendengar kalimat Madara barusan, dirinya juga tahu bahwa setelah perpindahan dimensi yang dilakukan Kaguya, beberapa titik chakra didalam tubuhnya rusak permanen dan butuh waktu lama untuk menormalkannya seperti semula, meskipun dirinya mempunyai kekuatan Sage dan Ashura mode namun itu tidaklah bisa memperbaiki titik chakranya yang rusak karena mau dikata apa, Sage dan Ashura mode tetaplah masih kategori energi chakra dan chakra akan aktif jika melewati setiap jalur titik chakra didalam tubuhnya, jadi jika beberapa titik didalam tubuhnya rusak maka mode apapun akan sia sia, mungkin untuk sementara akan kuat seperti yang dilakukannya waktu melawan Raiser dan Vali akan tetapi harus diingat bahwa semua itu hanyalah untuk beberapa saat karena seusainya dapat Naruto rasakan tubuhnya yang serasa akan remuk karena terlalu memaksakan mengeluarkan chakra dalam kapasitas besar, bahkan gen Uzumaki didalam tubuhnya yang digadang gadang orang bahwa clan Uzumaki mempunyai kapasitas chakra besar namun tetaplah tidak berguna disaat seperti ini karena hampir 80% gen didalam tubuhnya ini adalah gen dari ayahnya Minato Namikaze sedangkan 20% sisanya adalah gen dari ibunya Kushina Uzumaki dan karena sebab itulah sejak dulu dirinya tidak bisa menggunakan Rantai chakra maupun Jutsu spesial milik klan Uzumaki.
Madara tersenyum tipis melihat respon Naruto, perlahan tubuhnya mulai terurai menjadi partikel kecil keudara membuat Naruto yang melihatnya tersentak pelan.
"Sisa chakraku ini akan mengalir ditubuhmu dan meregenerasi titik chakramu seperti semula Naruto" Ucap Madara pelan, "namun aku peringatkan kepadamu Naruto, tetaplah waspada kepada Zetsu hitam karena mahluk tersebut tetaplah tercipta dari niat buruk sang Dewi kelinci Kaguya Ootsuki, jadi tetaplah waspada" sambung Madara diakhir kalimatnya tubuhnya terurai menjadi partikel kecil meninggalkan Naruto seorang diri didataran tersebut.
.
.
.
Perlahan Naruto membuka matanya menampakkan kedua iris safir teduh yang menatap langit langit kamarnya dalam diam sesaat sebelum dirinya bangkit menjadi terduduk dipinggir ranjang.
"Enggh~"
Naruto melirik kearah Kaguya yang entah sejak kapan bahkan dirinya tidak mengetahui kalau Dewi kelinci tersebut tidur disampingnya sedari tadi, mungkin jika lelaki diluar sana melihat Kaguya yang saat ini hanya tidur menggunakan sebuah gaun tipis berwarna putih tembus pandang maka akan langsung menggagahi Dewi disampingnya ini namun entah mengapa dirinya tidak mempunyai niatan seperti itu malah yang ada ia merasa risih dengan keberadaan Kaguya yang mulai sering muncul dirumahnya padahal sebelumnya Dewi tersebut lebih sering berada didalam tubuhnya.
"Masih jam 3 pagi" desis Naruto pelan saat melihat kearah jam weker yang berada di meja disamping ranjangnya.
Perlahan Naruto bangkit dari ranjangnya berniat bangun karena entah mengapa saat melihat Kaguya yang tidur disampingnya malah membuat ngantuknya hilang seketika, bukan dirinya masih membenci Dewi kelinci tersebut namun entah mengapa dirinya merasa risih dengan keberadaannya dan akhirnya Naruto memakai kaos putih polos yang dirinya letakan di gantungan baju dibalik pintu kamarnya kemudian melangkah pergi, karena hari ini adalah hari Minggu mungkin berolahraga dipagi Hari bukanlah hal yang buruk.
Naruto berlari pelan atau istilahnya joging menyusuri trotoar jalan kota Kuoh yang sepi karena saat ini masihlah pukul 03'15 pagi dimana hampir seluruh penduduk di kota tersebut masih terlelap dan hanya beberapa orang saja yang terjaga, beberapa menit dirinya joging akhirnya Naruto berhenti tepat disebuah gedung pencakar langit tertinggi di Kuoh, perlahan kedua iris Naruto menatap keatas tepatnya kearah puncak gedung yang terlihat kecil karena ketinggian gedung tersebut adalah yang paling tinggi di kota Kuoh.
Set!
Tap!
Sebelah kaki Naruto perlahan terangkat dan menapak didinding gedung tersebut kemudian disusul kaki sebelahnya dan terlihatlah saat ini Naruto berdiri menyamping seolah sedang berdiri didinding vertikal gedung tersebut, mungkin jika ada orang yang melihat aksi Naruto saat ini mereka akan terkagum karena melihat manusia yang berdiri tegak disebuah dinding vertikal.
Tap!
Tap!
Tap!
Naruto berlari pelan keatas menapaki dinding gedung tersebut, dirinya berpikir latihan seperti ini bagus untuk mengatur kontrol chakranya ditambah ia sudah tidak pernah berlatih sejak berada didunia ini namun tanpa disadari oleh Naruto dibagian puncak gedung tersebut terdapat seorang gadis dengan gaun Lolita gothik berwarna hitam menatap dirinya dengan kedua iris kelamnya dalam diam bahkan sampai saat Naruto tiba dipuncak gedungnya tersebut dan beradu pandang dengannya, namun Naruto mengabaikannya dan memilih kembali berlari pelan turun.
Gadis tersebut menatap Naruto sesaat sebelum tersenyum tipis, entah mengapa padahal baru pertama kali melihatnya namun instingnya mengatakan bahwa pemuda pirang tersebut mempunyai sesuatu yang menarik minatnya dan juga tidakkah dia merasakan auranya? Padahal hampir semua mahluk yang bertemu pandang dengannya akan selalu lari atau menghindar namun nyatanya baru kali ini ada seorang mahluk terlebih manusia unik yang bisa berlari ditembok melihatnya dan malah terkesan acuh.
Crash!
Dua buah sayap naga keluar dari punggung gadis tersebut kemudian mengepak membuatnya terbang pelan menuju kearah pemuda pirang yang beberapa saat lalu beradu pandang dengannya tersebut.
Sedangkan Naruto sebenarnya dirinya sudah tahu mahluk apa yang dirinya lihat tadi namun dirinya memilih mengacuhkannya karena memang tidak ada sangkut-pautnya dengannya namun detik berikutnya Naruto harus menelan bulat bulat pemikiran nya saat melihat gadis yang tadi sempat dirinya lihat dipuncak gedung terbang pelan mendekat kearahnya.
"Kau manusia yang kuat" ucap gadis tersebut pelan yang saat ini terbang rendah tepat dihadapan Naruto yang menghentikan langkahnya menatap gadis tersebut datar.
"Hanya perasaanmu saja" balas Naruto singkat kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti akibat ulah gadis naga dihadapannya ini.
"Aku adalah Ophis sang Ourobos Dragon" ucap gadis atau Ophis kembali dengan nada datar, "kau bergabunglah dengan organisasiku" sambung Ophis datar mau tidak mau membuat langkah Naruto kembali terhenti.
Naruto menatap sesaat kearah gadis atau Ophis, dirinya sebenarnya sudah bosan mendengar kalimat 'Ajakan' dari setiap mahluk yang dirinya temui didunia ini namun seberapa kuat dirinya menghindari semua masalah dunia ini namun pada akhirnya dirinya akan tetap juga terseret kedalamnya.
"Maaf aku tidak tertarik dengan hal seperti itu Ophis" balas Naruto datar kemudian memutuskan melompat kebawah karena posisinya saat ini masih berada dipertengahan gedung dan akan lama jika dirinya meladeni gadis naga dihadapannya ini membuat Naruto akhirnya memutuskan untuk melompat kemudian menghilang menjadi kilatan kuning meninggalkan Ophis yang terdiam melihat aksi Naruto barusan.
"Menarik" desis Ophis pelan sambil tersenyum tipis.
Set!
Tep!
Sedangkan tepat diruang tengah rumah Naruto sebuah kilatan kuning dari arah luar melesat cepat masuk melewati jendela kemudian terhenti menampakkan tubuh Naruto yang masih berkeringat akibat aktivitasnya tadi.
Dirinya menghela nafas pelan kemudian mengalihkan pandangannya kearah jam dinding diruangan tersebut yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Kau sudah kembali Naruto?"
Naruto mengalihkan pandangannya kearah Kaguya yang melangkah pelan dari dalam kamar kearahnya dan sepertinya Dewi tersebut masihlah memakai gaun tembus pandang seperti sebelumnya, Naruto dapat dengan jelas melihat properti milik Kaguya dibalik gaun tersebut.
"Hmm~ kau tertarik Naruto~" Kaguya tersenyum tipis saat melihat arah pandangan Naruto yang melihat tubuhnya dibalik gaun yang dikenakannya, meskipun ia seorang Dewi berumur ribuan tahun namun tubuhnya tidak akan menua dan terus akan terlihat muda.
"Pakailah baju Kaguya" desis Naruto pelan sambil berlalu ke toilet meninggalkan sang Dewi yang hanya terdiam sesaat melihat respon Naruto yang acuh namun detik berikutnya tertawa pelan karena bisa merasakan sebuah kobaran gairah kecil di hati Naruto meskipun pemuda tersebut sangatlah pintar menyembunyikan perasaanya.
"Aku akan berkeliling sebentar Naruto, kau ikut?" Ucap Kaguya sedikit nyaring kearah Naruto yang berada di wastafel disamping toilet dan dibalas sebuah gerakan tangan menolak kalau dirinya dirumah saja membuat Kaguya yang melihat respon Naruto kemudian nencetikkan jarinya dan detik berikutnya gaun tidur yang sebelumnya dikenakannya berganti menjadi sebuah kaos kasual dengan celana jeans hitam pas di kaki jenjang Kaguya, Dewi tersebut merubah penampilannya seperti yang ia lihat beberapa gadis yang lewat didepan rumahnya lusa lalu.
Cklek!
Suara pintu rumah yang ditututp Kaguya seusai Dewi tersebut pergi keluar untuk berjalan jalan meninggalkan Naruto yang melirik kepergiannya dengan pandangan datar, entah mengapa dirinya tadi sempat terpaku melihat tubuh Dewi tersebut saat mengenakan gaun tembus pandang, sebuah perasaan aneh yang entahlah dirinya tidak terlalu tertarik untuk mengetahuinya namun yang pasti tingkah Kaguya sedikit berbeda sejak didunia ini atau memang dirinya saja yang belum mengetahui sifatnya.
.
.
.
Beralih menuju sebuah bangunan apartemen dibagian utara Kuoh, terlihat di pintu keluar gedung apartemen tersebut seorang pemuda bersurai coklat dengan style captain Tsubasa mengenakan kaos putih serta celana jeans abu abu melangkah keluar.
Pemuda atau lebih dikenal dengan Issei Hyoudo tersebut berniat menuju mini market didekat apartemen tempatnya tinggal untuk membeli beberapa kebutuhannya dan juga sedikit menenangkan pikirannya yang dirinya akui sedikit kalut sejak pertemuannya dengan siswa bernama Naruto beberapa hari lalu, sebuah kalimat diucapkan oleh Naruto yang selalu terngiang dibenaknya.
"Ingatlah Senpai bahwa roda takdir selalu berputar selama kita hidup didunia"
Issei tertawa pelan mengingat kelimat yang diucapkan oleh Naruto beberapa hari lalu tersebut, dirinya tidaklah mempercayai hal naif seperti itu karena selama ini sudah ratusan orang dirinya kalahkan dan dari sekian banyak pertarungan yang ia lawati baru sekali ia kalah meskipun bukan pertandingan resmi namun saat itu dirinya kalah melawan seorang siswa sekolah pengguna kekuatan psikis, kalah dengan telak.
Genggaman Issei mengerat mengingat hal paling ingin dilupakannya tersebut, entah mengapa sejak siswa bernama Naruto Springfield tersebut menjadi kuat, pikirannya selalu terasa was was, apakah ia takut akan kekalahan? Takut dengan seorang Naruto Springfield?.
"Aku pasti akan mengalah-!"
Issei seketika terdiam menghentikan kalimatnya saat kedua iris nya terpaku memandang kearah seorang wanita bersurai putih panjang dengan pakaian kaos serta jeans hitam yang pas di kaki jenjangnya lewat tidak jauh dari hadapannya, baru kali ini ia melihat wanita tersebut dan entah mengapa insting prianya seperti terpikat dengan wanita tersebut bahkan dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya hanya karena melihatnya.
Dengan pelan Issei melangkahkan kedua kakinya mendekati wanita bersurai putih tersebut yang sekarang sedang duduk disebuah bangku dipinggir taman.
"Y-yo!"
Issei mengutuk nada bicaranya yang entah mengapa menjadi tergagap karena ingin mengajak bicara gadis dihadapannya yang saat ini menatap dengan kedua iris lavender kearahnya.
Kaguya yang mendengar suara seseorang dari arah sampingnya kemudian menoleh dan dapat melihat seorang pemuda seumuran Naruto bersurai coklat yang tersenyum kearahnya dan detik berikutnya dirinya balas dengan senyuman juga karena dapat merasakan hawa pemuda dihadapannya ini tidak mempunyai niat jahat.
"Perkenalkan namaku Issei Hyoudo" Issei mengulurkan tangan kanannya kearah Kaguya yang terdiam sesaat kemudian membalas uluran tangan Issei.
"Kau bisa memanggilku Kaguya, Issei-san" balas Kaguya singkat entah mengapa membuat Issei yang mendengarnya merasa hatinya sedikit merasakan perasaan aneh.
"Jadi Kaguya-san penduduk baru didaerah ini ya?" Issei sedikit basi basi karena belum terlalu kenal dengan wanita dihadapannya saat ini namun dengan pasti dirinya dapat merasakan bahwa baru pertama kali ini merasa tertarik dengan seorang wanita dan wanita beruntung tersebut adalah Wanita bernama Kaguya Ini karena sudah banyak gadis diluar sana yang ingin menjadi kekasihnya namun dirinya tolak karena memang tidak ada rasa tertarik dan mungkin akan menyakiti hati gadis tersebut jika memaksa menjadi kekasihnya, bahkan saat ini Issei melupakan niat awalnya yang ingin ke minimarket membeli kebutuhannya hanya karena akibat wanita bernama Kaguya dihadapannya saat ini.
"Aku tinggal tidak jauh dari sini, hanya beberapa blok dibagian selatan" balas Kaguya yang hanya tersenyum tipis melihat tingkah pemuda dihadapannya saat ini, dirinya tidaklah bodoh untuk mengetahui bahwa pemuda bernama Issei dihadapannya ini terpikat dengannya karena dulu saat Kaguya masihlah seorang Puteri klan Ootsuki banyak pemuda yang juga menaksirnya karena wajah jelitanya jadi saat ini pun dirinya dapat dengan jelas melihat dikedua iris Issei dan juga dapat merasakan sebuah energi besar didalam tubuhnya, entahlah Kaguya belum pasti mengetahui energi apa yang bersemayam di tubuh Issei tersebut.
Mereka mengobrol hampir 30 menit hingga akhirnya Kaguya bangkit dari duduknya kemudian tersenyum kecil kearah Issei, pamit untuk pulang yang awalnya ingin Issei antar namun dengan halus Kaguya tolak akan tetapi sepertinya Issei yang entah mengapa keras kepala dan memilih untuk mengikuti Kaguya yang menghela nafas pelan karena meskipun pemuda tersebut pintar bersembunyi saat mengikutinya namun dengan sangat jelas dirinya dapat merasakan hawa keberadaan pemuda tersebut.
Beberapa saat dirinya melangkah sampai akhirnya Kaguya sampai didepan rumah tempatnya tinggal bersama Naruto dan dengan langkah pelan ia memasuki rumah tersebut meninggalkan Issei yang bersembunyi tidak jauh dari sana memandang kearah rumah Kaguya tinggal dengan senyuman lebar, dirinya dengan dapat dengan pasti merasakan gejolak hatinya yang terpikat dengan wanita bernama Kaguya tersebut dan juga pasti akan ia buat jatuh kedalam pelukannya nanti.
Cklek!
Suara pintu yang terbuka dan tertutup pelan menampakkan Kaguya yang baru memasuki rumah tersebut dan pandangannya teralihkan kearah Naruto yang duduk dibagian pinggir ruang tengah menatap kearah luar jendela dalam diam.
"Aku pulang" ucap singkat Kaguya kearah Naruto yang meliriknya sesaat kemudian mengangguk pelan sebagai balasannya.
Naruto dapat merasakan hawa dari Issei dan juga sebenarnya mengetahui bahwa Kaguya sedang diikuti oleh Red Dragon emperor tersebut entah karena apa, bahkan sampai sekarang ia dapat merasakan keberadaan Issei yang masih bersembunyi disemak belukar tidak jauh dari rumahnya namun Naruto masa bodo dengan hal semacam itu.
"Kau dapat merasakan hawa pemuda tersebut Naruto" Ucap Kaguya membuat Naruto menatapnya sesaat ketika melihat Dewi tersebut akan melanjutkan perkataannya, "tadi aku sempat mengobrol dengannya, dan kurasakan energi besar didalam tubuhnya" lanjut Kaguya sedikit menjelaskan kejadiannya membuat Naruto hanya mengangguk paham karena sebenarnya dirinya juga tidak terlalu peduli sebab semua itu adalah hal normal dan kebebasan Kaguya untuk berinteraksi kepada siapapun dan saat Kaguya yang seperti melapor kepadanya saat ini malah seperti dirinya membatasi kebebasan Dewi kelinci tersebut.
"Kurasa dia tertarik denganmu Kaguya" Ucap Naruto pelan saat melihat hawa keberadaan Issei masihlah belum menghilang dan berada di semak semak, "karena yang kudengar ras naga hanya mempunyai pasangan sekali dalam seumur hidupnya" sambung Naruto perlahan bangkit dari duduknya berniat untuk kekamarnya.
"Namun aku tidak tertarik dengannya" balas Kaguya pelan menatap kearah Naruto yang melangkah pelan kearahnya, " aku sedari awal lebih tertarik kepadam-!"
Tuk!
Kaguya menghentikan kalimatnya saat Naruto yang melangkah akan melewatinya menuju kamar menghentikan langkahnya kemudian menyentil jidat Dewi kelinci tersebut pelan.
"Perasaan bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan" Desis Naruto pelan saat tepat berada disamping tubuh Kaguya kemudian dirinya maka jika langkahnya meninggalkan Kaguya yang terdiam, entah mengapa ia malah mengingat kisahnya dulu waktu masih kecil hingga remaja dimana dirinya mencintai seorang Haruno Sakura yang jelas jelas mengejar sahabatnya Uchiha Sasuke dan mengabaikan cinta seorang gadis bernama Hyuga Hinata yang menyukainya sejak genin namun juga semua pada akhirnya malah sangat menyakitkan dimana harapan dan impian hanyalah khayalan semu yang diharapkan oleh semua orang.
Naruto tersenyum tipis saat mengingat kenangan dari dunianya dulu yang entah mengapa seperti selalu menamparnya setiap saat untuk menyadarkannya di dunia ini bahwa jangan terlalu berharap dan berambisi karena semua itu akan terasa menyakitkan diakhir dan alangkah baiknya jika hidup mengikuti alur takdir.
.
Keesokan harinya terlihat Naruto yang beraktivitas seperti biasanya yaitu bersiap untuk keakademi, terlihat pemuda itu saat ini mengenakan seragam akademinya dengan rapi namun pandangannya sesaat teralihkan kearah ranjangnya terdapat Kaguya yang terlelap.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara pintu rumahnya yang diketuk seseorang membuat pandangan Naruto buyar kemudian melangkah pelan kearah ruang depan berniat membukakan pintu untuk Asia yang memang biasanya selalu mempir untuk berangkat bersama.
Cklek!
Naruto terdiam sesaat ketika usai membuka pintu rumahnya, dirinya dapat melihat Asia yang memang sepertinya akan mengetuk pintu rumahnya namun sang pelaku pengetuk bukanlah gadis pirang tersebut namun Issei Hyoudo yang juga sekarang menatapnya dalam diam.
"Naruto?" Issei berucap pelan tidak menyangka bahwa yang membuka pintu adalah seorang Naruto Springfield, karena setahunya rumah ini adalah kediaman Kaguya, wanita yang di incarnya, sedangkan Asia hanya diam kemudian mengambil jarak saat merasakan hawa kurang bersahabat antara peringkat 1 dan 2 tersebut.
Sebenarnya Naruto sudah tahu bahwa cepat atau lambat inang Dragon emperor ini memang terpikat dengan Kaguya namun sepertinya dia lebih cepat mengambil tindakan dari yang Naruto pikirkan.
Tap!
Tap!
"Kau berangkat Naruto?"
Issei mengalihkan pandangannya kearah dalam rumah Naruto dan tersentak saat melihat Kaguya yang mengenakan gaun tembus pandang yang memang selalu digunakanya untuk tidur, pikiran negatif mulai merasuki akal Issei saat melihat hal tersebut dan entah mengapa hatinya merasa sakit seolah seperti dikhianati padahal dirinya saja belumlah mengakui perasaannya kepada wanita tersebut namun entah mengapa sekali lagi dapat Issei rasakan hatinya yang merasa seperti di khianati.
Naruto menghela nafas pelan melihat kemunculan Kaguya yang bisa dikatakan kurang tepat, kemudian dirinya melirik sang Dewi kelinci tersebut datar seolah mengatakan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Issei dan juga sepertinya dirinya bersama Asia akan telat masuk akademi akibat masalah tadi.
"Kurasa masalah kita belumlah usai Naruto"
Naruto menghentikan langkahnya saat mendengar kalimat Issei barusan dan perlahan dirinya menoleh menatap kearah inang Heavenly Dragon tersebut dan dapat melihat wajah Issei yang entah kenapa memandangnya benci? Memangnya dirinya melakukan kesalahan apa?.
¤TBC¤
.Dont Like Dont Read.
END OST: Itowokashi (Yadoriboshi)
.THANKS FOR READ FIC UCHIDA.
.Mirai Wa Aka Belong's Uchida Tokugawa.
.Keep calm and read fic Uchida tokugawa.
-SAYONARA-
