ChanBaek 9th Stories : Duo Trouble

Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And other Cameo

Rated : K+ to T

Genderswitch and Pedo

OOC and Typo

If You DON'T LIKE so DON'T READ

.

.

Chanyeol melangkah sambil menenteng tas laptopnya. Ia menghela nafas satu kali—upaya untuk mengurangi rasa penatnya.

Kaki jenjangnya membawa namja itu masuk ke dalam apartement miliknya yang terletak di pusat kota. Chanyeol tersenyum tipis begitu seorang wanita yang duduk manis di meja receptionist menyapanya ramah.

Ketika sampai di depan lift, dia menekan tombol yang ada di sana sembari menunggu pintu lift terbuka.

Tingg~

Pintu lift terbuka. Chanyeol pun melangkah masuk ke dalamnya. Ia menekan angka 3 karena memang tempat tinggalnya berada di sana.

Rasanya Chanyeol sudah benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan ranjang empuk kesayangannya. Berada di dalam kamar yang hangat dan bergulung dibalik selimut tebal. Oh... itu pasti akan terasa seperti di surga.

Tingg~

Pintu lift pun terbuka.

Chanyeol langsung membawa dirinya menuju tempat tinggal pribadinya tersebut. Tidak begitu jauh dari lift.

"305"—Chanyeol membatin senang. Dia pun sedikit membungkuk, berniat untuk menekan pass kodenya agar bisa masuk ke dalam.

Namun akhirnya Chanyeol menyadari satu hal. Apartementnya tidak terkunci. Chanyeol mendorong pelan pintu tersebut dengan jari telunjuknya.

Matanya yang bulat itu pun semakin melebar. Apa-apaan ini? Chanyeol rasa dirinya bukanlah orang yang ceroboh. Dia tidak pernah lupa untuk mengunci apartementnya ini jika pergi ke luar rumah. Tapi kenapa sekarang... A-oh! Jangan bilang dia baru saja kemalingan. Ada pencuri yang masuk dan menggeledah tempat tinggalnya.

Berbagai dugaan paranoid mulai memenuhi isi kepalanya.

Tidak, tidak. Sangat mustahil kalau ada pencuri. Gedung apartementnya ini termasuk salah satu apartement teraman di Seoul—sekaligus termewah. Bisa dilihat juga dari banyaknya satpam dan penjaga keamanan di bawah sana. Jadi mana mungkin ada orang nekat yang mencuri di tempat yang dipenuhi penjaga. Orang jahat pun juga ingin hidup kan.

Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam. Tidak peduli tentang apa yang ada di dalam atau apapun itu. Chanyeol hanya ingin memastikan.

Ia pun mendorong pintu apartementnya. Matanya menyipit begitu semua lampu sudah di nyalakan. Biasanya kalau setiap dia pulang kerja, lampu pasti masih dalam keadaan padam.

Syuuungggg~~

Dukkk Dukkk

"Yak! Hitam jelek. Kau curang sekali!"

"Aku tidak curang albino. Kau saja yang payah."

"Kau curang. Tadi kau menarik tanganku dan menendang kakiku. Makanya aku jadi kalah."

"Itu bukan curang! Itu strategi."

"Curanggg"

Buukkkkk~~

Prangggg~

Chanyeol melongo. Bunyi ribut-ribut yang sangat ia kenali. Chanyeol sudah bisa menduga kalau tidak mungkin ada maling di tempat tinggalnya. Hanya saja—

Apa yang mereka lakukan disini?—Adik-adiknya yang nakal itu.

Chanyeol melangkah cepat. Dan begitu melihat keadaan ruang tengahnya. Chanyeol merasa tulang rahang bawahnya akan terlepas dari tempatnya. Mulut Chanyeol menganga dan bola matanya menatap tak percaya pada salah satu tempat favoritenya untuk bersantai.

Ruang tengahnya yang di dominasi warna putih, krem, dan hitam kini sudah tidak jelas bagaimana bentuknya.

Sofa putih kebanggaannya yang selalu menjadi tempatnya berbaring sambil menonton film kesukaannya kini sudah berganti warna menjadi merah karena ketumpahan minuman soda kaleng. Lalu karpet bulu bergambar serigala kesayangannya pun sekarang di penuhi dengan remahan-remahan keripik kentang dan bungkusan snack.

Belum lagi yang paling tidak boleh di abaikan ialah dua anak manusia dengan warna kulit mereka yang sangat kontras terhadap satu sama lain. Terjadi adegan gulat di antara kedua adiknya—dengan tangan mereka yang memegang stik playstation. Mereka saling memukul, menendang dan tidak lupa mulut-mulut mereka yang terus berkicauan memaki satu sama lain. Oh Tuhan, dosa apa dia sampai memiliki adik seperti mereka.

Chanyeol menghela nafas—lagi—lelah. Entah sudah berapa kali dia menghela nafasnya dari beberapa menit terakhir ini. Tidak peduli dengan adanya mitos yang berkata kalau semakin banyak kita menghela nafas maka umur kita akan memendek. Chanyeol benar-benar tidak mempedulikan apapun.

Bahkan sekalipun kedua adiknya dalam keadaan mengenaskan seakan-akan ingin membunuh satu sama lain, Chanyeol tidak peduli. Lagipula, ia mengenal kedua makhluk itu bukan sekedar 1 atau 2 tahun melainkan 17 tahun. Chanyeol tahu kalau seribut apapun mereka berkelahi, seektrim apapun mereka beraksi saling membunuh—tidak akan ada yang mati di antara mereka. kalaupun ada, bolehkah Chanyeol bersyukur? Oke. Dia bercanda.

Hanya saja, Chanyeol tahu bagaimana hubungan antara kedua adiknya. Meski malas mengakuinya—uhukk—tapi kedua manusia itu saling menyayangi satu sama lain. Di buktikan dengan kebersamaan mereka selama ini seakan-akan mereka tidak pernah merasa bosan. Bahkan meski sulit di percaya, mereka masih berbagi kamar yang sama meski sudah menginjak usia remaja. Benar-benar saling terikat.

Chanyeol sendiri kadang berpikir bagaimana nasib masa depan kedua adiknya? Mereka sejak kecil sudah hidup saling berbagi. Apa kelak nanti—dalam hal wanita pun mereka tetap saling berbagi? Uuuppss...

Oke, mari kita kembali ke masalah utama Chanyeol.

"Hhahh! YAK! BISAKAH KALIAN BERHENTI DAN RAPIKAN SEMUA KEKACAUAN INI?" Chanyeol berseru nyaring dengan suara bassnya yang menyeramkan.

Kai dan Sehun yang tadi sedang saling meniban pun langsung mendudukkan diri mereka.

Sehun menendang bokong Kai keras. "Jangan duduki kakiku."

"Ah... Mian." Kai memasang cengirannya.

"CEPAT RAPIKAN!"

Kai dan Sehun langsung terlonjak. Reflek mereka pun mulai memungut sampah-sampah di sekitar mereka. Oh tidak. Dunia akan kiamat kalau kakak tertua mereka sudah mengamuk.

.

.

Chanyeol memijit keningnya lelah. Ia duduk di meja makan sembari menunggu kedua adik nakalnya membersihkan kekacauan diruang tengah.

Sejak lulus dari SMA, Chanyeol sudah memutuskan untuk tinggal sendiri. Dia ingin belajar mandiri dengan menyewa apartement yang letaknya tidak begitu jauh dengan gedung universitasnya. Selain itu juga, Chanyeol ingin merasakan kebebasan dan ketenangannya. Dia ingin lepas dari kedua adiknya yang selalu mengikutinya kemanapun.

Dan beginilah hasilnya. Meskipun Chanyeol tak lagi tinggal di rumah, tapi baik Kai maupun Sehun sangat sering datang ke apartementnya. Untuk membuat kekacauan—tentu saja. Dengan membuat apartementnya ini menjadi seperti kapal pecah. Sungguh, Chanyeol sudah cukup lelah dengan profesi gandanya.

Chanyeol sekarang memang bukan lagi anak kuliahan. Umurnya sekarang sudah 25 tahun. Dan dia berhasil menjabat sebagai Sekertaris Direktur di Perusahaan keluarga Park. Tentu saja posisi direktur masih di pegang oleh Tuan Park—Appa Chanyeol dan KaiHun. Meski mungkin pada akhirnya nanti, posisi itu akan di turunkan pada Chanyeol. Karena bagaimanapun juga Chanyeol adalah anak laki-laki pertama—Serta mengingat baik Kai maupun Sehun yang tidak terlalu bisa di harapkan.

Selain sebagai asisten direktur, Chanyeol juga menjadi guru musik di SM HS. Oke, seharusnya Chanyeol memang sudah berhenti dari sana.

Chanyeol seorang lulusan Seoul Art University dengan jurusan seni musik—Bukan bisnis. Sejak awal Chanyeol tidak punya ketertarikan akan hal-hal berbau bisnis. Hanya saja karena tidak ingin Appanya kecewa saja, maka Chanyeol menuruti kemauan Appanya dengan bekerja di perusahaan Appanya. Setidaknya hal ini bisa menyenangkan hati orangtua yang di kasihinya itu.

Lagipula Chanyeol tidak bodoh. Dan meskipun dia mengambil kuliah dengan jurusan seni, di rumah ia pasti mendapatkan pelajaran bisnis dari guru kepercayaan Appanya—begitu pun Kai dan Sehun. Oleh karena itu, Chanyeol bisa menyesuaikan diri dengan mudah.

Chanyeol melakukan pekerjaan magangnya di SM HS dan karena merasa nyaman bekerja disana, Chanyeol menjadi keterusan dan enggan untuk berhenti. Chanyeol mencintai musik. Dia senang mengenalkan musik pada anak-anak remaja yang terlihat masih awam itu.

Mungkin jika saja tidak di larang, Chanyeol sudah menjadi artis dari salah satu agensi besar di Korea Selatan. Namun sayangnya Tuan Park tidak suka anaknya bergelut dalam dunia keartisan.

Maka dari itu, untuk memuaskan minatnya dalam bermusik, Chanyeol tetap menjadi guru disana. Toh, sebagai perjanjian agar dia setuju untuk bekerja di perusahaan Appanya ialah dengan dia boleh tetap menjadi guru musik.

Namun inilah efeknya. Chanyeol pasti kelelahan karena harus bekerja di dua tempat sekaligus.

"Hyung, sudah kami bersihkan." Sehun tiba-tiba muncul. Ada Kai juga yang mengekor di belakang.

"Kalian ini. Kenapa kalian bisa ada disini ?" Tanya Chanyeol dengan raut wajah frustasi.

"Appa dan Eomma tidak pulang hyung." Kata Sehun.

"Karena itu kami kemari." Lanjut Kai.

"Kami hanya ingin menemanimu." Ujar keduanya bersama-sama.

"Kalian itu hanya menggangguku." Balas Chanyeol kesal lalu beranjak berdiri. Ia pun mendekati kompor dan menyalakannya. "Apa kalian sudah makan malam?"

Yah... sekesal apapun Chanyeol pada kedua adiknya, sayang tetaplah sayang. Chanyeol tidak mungkin bisa marah terlalu lama pada dua orang itu.

"Kau yang terbaik Hyung." Kai mengancungkan jempolnya.

"Eum. Kau paling mengerti kami. Kebetulan perut kami sudah kelaparan sejak tadi."

Chanyeol memutar bola matanya malas dan memilih untuk fokus dalam berkutat dengan urusan dapurnya.

.

.

"Sluurrpppp..." Kai memakan ramyeonnya dengan lahap. Sesekali dia meminum kuah mie tersebut dengan keras dan membuat Sehun yang duduk tenang di sampingnya pun mendelik jijik.

"Hyung..." Panggil Sehun tiba-tiba. Chanyeol yang sejak tadi sedang fokus pada lembaran filenya pun mengangkat kepalanya. Ia menatap Sehun heran seolah bertanya 'Kenapa?'

"Kau masih ingat Wu Baekhyun?" Tubuh Chanyeol mendadak tegang. Sudah cukup lama ia tidak mendengar nama itu.

Mendadak rasa rindu pun bertumbuh kembang dalam hati Chanyeol. Memberikannya efek letupan-letupan yang menggelikan di dalam perutnya. Sebegitu rindukah dia pada sosok itu.

Tadi pagi saat di sekolah, tidak sengaja dia melihat seorang gadis di antara kerumunan gadis-gadis yang meneriaki namanya. Chanyeol tidak melihatnya secara langsung melainkan hanya melalui lirikan sekilas. Jantung Chanyeol sempat terasa berhenti sejenak ketika melihat mata gadis itu. Benar-benar seperti Baekhyun—begitulah pikirnya saat itu. Chanyeol ingin menghentikan langkahnya tapi niat itu ia urungkan.

Belum tentu gadis itu benar-benar Baekhyun. Wu Baekhyun. Gadis kecilnya yang menggemaskan.

Dan Chanyeol tidak mau mengambil resiko dengan terkepung di antara lautan para gadis remaja. Oh tidak... kapan kepopulerannya ini akan berakhir. Sepertinya larangan Appanya terhadap dirinya yang ingin menjadi seorang artis sangatlah tepat. Bukan artis saja Chanyeol sudah sangat populer, apalagi dia menjadi artis. Oke, maafkan saja akan kepercayaan dirinya yang begitu tinggi tapi itu memang kenyataannya.

"Kenapa dengannya?" tanya Chanyeol. Ia menyadari kalau suara yang keluar dari bibir tebalnya ini terdengar bergetar. Apa dia akan berubah menjadi segugup ini jika sudah berhubungan dengan gadis Wu itu.

"Dia adik kelas kami. Apa kau tidak bertemu dengannya? Dia tetap cantik dan menggemaskan loh Hyung." Kali ini Kai lah yang menjawab.

"Iya hyung. Dia semakin cantik sekarang." Sehun menambahkan argumen kakak kembarnya.

Chanyeol terdiam sambil menatap kedua adiknya. Tatapannya seolah menantikan adanya cerita lain yang akan keluar dari mulut adik-adiknya.

"Awalnya kami tidak mengenalinya..." Kai yang memang lebih banyak bicara pun mulai menceritakan kejadian yang di alaminya siang tadi.

Flashback :

"Ya! Chagiya kau mau kemana?" Seru yang berkulit hitam lagi. Sedangkan saudara kembarnya hanya mendengus melihat tingkah berlebihan dari kembarannya.

"Bisakah kau lebih cool dikit. Sungguh, semua perempuan pasti akan lari kalau melihat tingkahmu itu." Lalu Sehun—si kulit putih—melangkah lebih dulu untuk menyusul Baekhyun.

"Sehun-ah... Kau tega sekali pada Partner in Crime-mu ini." Seru Kai sambil berlari pelan menyusul Sehun.

"Aku tidak peduli." Sahut Sehun tanpa menoleh.

Anak itu terus saja berlari kecil mengikuti ke arah perginya Baekhyun dan Luhan.

"Sehun Oppa, bisakah kau berhenti?" Ujar Baekhyun yang tiba-tiba berbalik. Sehun pun secara otomatis menghentikan langkahnya. Sekarang ia tepat berhadapan dengan Baekhyun.

"Kau tahu namaku? Jinjja?" Sehun bertanya dengan ekspresi takjub.

"Tentu saja. Oppa lupa padaku?"

"Kau? Kau cantik kan." jawab Sehun tidak nyambung. Baekhyun memasang wajah datarnya. Ia menarik tangan Luhan cepat dan berlalu pergi meninggalkan Sehun.

"Heii... kenapa kau marah? aku memujimu loh." Sehun berlari kecil lagi untuk menyusul Baekhyun.

"Jangan mengejarku kalau Oppa sendiri sudah lupa denganku. Aku benci Sehun Oppa." teriak Baekhyun dengan suara nyaringnya. Sehun pun berhenti mengikuti Baekhyun. Ia memandang punggung gadis mungil itu dengan tatapan tidak mengerti.

"Sehun... kenapa kau meninggalkanku sih." Keluh Kai sambil menumpukan kedua tangannya pada lutut. Dia tampak ngos-ngosan seperti habis mengikuti lari marathon. Sehun lebih memilih acuh daripada menanggapi saudaranya.

Sehun pun lebih memilih untuk mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nama seseorang dari nomor kontak lalu mengetik pesan pada seseorang itu.

To : Luhan

Siapa yang tadi bersamamu?

Tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk mendapatkan balasan dari Luhan.

From : Luhan

Dia Baekhyun. Wu Baekhyun. Kau tidak mengenalinya Oppa? Padahal kau sangat menyukainya.

Sehun tertegun. Dia menepuk keningnya pelan lalu menoleh pada kakak kembarnya.

"Kai, apa kau tahu gadis cantik itu siapa?" tanya Sehun.

"Tentu saja tidak. kita kan baru bertemu dengannya tadi pagi." Jawab Kai santai sambil mengusap poninya dengan gaya—sok—keren. Pas sekali ketika itu ada segerombolan anak-anak perempuan kelas 1 yang baru lewat. Mereka menjerit pelan sambil tersenyum genit ke arah Kai. "Aku memang tampan."—Batin Kai bangga. Sedangkan Sehun hanya menatap Kai dengan tatapan datar.

"Dia Wu Baekhyun. Adiknya Kris Hyung." kata Sehun.

"MWO?"

FlashBack END

.

Chanyeol menatap kedua adiknya serius. Mencerna dengan baik setiap kata yang di ucapkan oleh mereka.

"Rambutnya sekarang berwarna hitam sepinggang. Tubuhnya juga jadi sedikit lebih tinggi dan sedikit berisi tapi tetap mungil." Kata Kai sambil menaruh telunjuknya di bawah dagu.

"Dia memakai eyeliner yang membuat matanya menjadi tajam. Benar-benar seksi Hyung." Sehun pun ikut menambahkan.

"Pokoknya dia benar-benar cantik." Kata Sehun dan Kai bersamaan.

"Kalian menyukainya?"

"Tentu saja!" Sentak Sehun dan Kai. lagi-lagi berbarengan.

Chanyeol merutuk dalam hati.

"Aku keduluan." Batinnya.

.

.

Sejak awal Chanyeol memang tidak suka menjadi populer. Ia tidak suka ketika suasana menjadi bising dan penuh sesak, parahnya hal itu karena dirinya. Mungkin ada bagusnya juga kalau dia batal menjadi seorang artis waktu itu. Karena tidak menjadi artis saja dia sudah begitu populer. Huh... untuk pertama kalinya Chanyeol menyesali menjadi pria tampan-_-

Chanyeol sangat ingin bertemu dengan Baekhyun. Dia ingin menyapa gadis imut itu. Bahkan meski waktu itu hanya sekilas, Chanyeol masih memiliki sedikit bayangan tentang wajah Baekhyun. dan Chanyeol ingin melihatnya lagi. Dengan intensitas yang lebih lama serta lebih dekat. Tapi kalau seperti ini, bagaimana caranya dia mencari sosok gadis bertubuh mungil itu?

Chanyeol benar-benar bersyukur ketika dia sudah berdiri di depan pintu ruang guru. Dia tersenyum ramah pada murid-murid(fans)—nya itu lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Beberapa guru yang sudah datang pun tersenyum dan ada beberapa yang menyapanya. Chanyeol pun membalas mereka dengan ramah seperti biasanya.

Tinggal beberapa langkah lagi Chanyeol akan sampai di mejanya, tapi langkahnya sontak terhenti.

"Ne Seonsaengnim."

Chanyeol menatap lurus gadis mungil yang sedang berbicara dengan salah seorang guru yang kebetulan mejanya bersebelahan dengan meja Chanyeol. Kebetulan guru itu memang salah satu wali kelas 1.

Tiba-tiba gadis itu berbalik. Wajahnya tampak terkejut begitu matanya bertemu pandang dengan mata Chanyeol. Waktu pun serasa terhenti selama beberapa detik.

Meski samar, Chanyeol bisa melihat senyum tipis yang terpantri di bibir gadis itu. Rasanya Chanyeol benar-benar merindukan wajah cantik itu.

Chanyeol yang lebih dulu sadar pun melangkah ke arah gadis itu. Gadis itu tetap tidak bergeming sekalipun jarak di antaranya dengan Chanyeol semakin terkikis.

Dengan sengaja Chanyeol menghentikan langkah kakinya. Dia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.

"Selamat datang kembali... Wu Baekhyun." Bisik Chanyeol. Setelah itu, Chanyeol melepaskan genggamannya dan kembali melangkah menuju mejanya.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun tersadar dan gadis itu pun bergegas keluar dari ruang guru. Bahkan untuk sekedar menoleh pun dia merasa sangat enggan. Dia malu. Itulah yang di rasakannya.

.

.

Baekhyun menutup pintu ruang guru dengan sekali hentakan. Tidak peduli jika sikapnya tersebut di anggap tidak sopan. Baekhyun benar-benar sudah salah tingkah sekarang.

Rasanya seluruh darah berkumpul di wajahnya sehingga terasa panas.

Baekhyun menaruh kedua telapak tangannya di pipi.

"Dia Chanyeol Oppa. Benar-benar Chanyeol Oppa." Lirih Baekhyun.

.

.

.

.

.

.

Words : 2.444

Friday, 10 September 2014

Preview Next Chap :

"itu Park Seonsaengnim kan?" tanya Luhan sambil memasang wajah penasaran.

"Eumm..." Baekhyun mengangguk dengan semangat.

"Kupikir siapa, ternyata kau sama saja dengan yang lain ya. Apa kerennya sih guru tinggi itu?"

.

"Oppa... kalau terlalu banyak makan, nanti aku gendut."

.

"Byun Baekhyun... berani-beraninya kau."

"Baekhyun... Kau tahu, kita bukan lagi anak-anak yang tidak peduli akan apapun. Kita adalah murid SMA yang sebentar lagi akan dewasa. akan banyak hal yang mungkin saja bisa terjadi. Aku hanya tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padamu."

.

"Apa ini rasanya di teror? Inikah rasanya tidak di sukai.?"

.

.

A/N :

Annyeongg yeorobunnnnn~~~ Ada yang ingat aku? Kangen gak? maaf ya karena hiatus mendadak. Sebenernya ga ada niat buat hiatus. tapi gimana yaa... lagi sibuk banget. Ngurusin acara sekolah yang berlangsung selama seminggu nonstop. Bikin aku pulang malem terus. di susul dengan UTS yang bikin kepala mumet. belum lagi tugas yang tiada kata henti. Haduhhhh apa ini rasanya jadi anak kelas 3? huhuhuhuhuuu

Minggu depan aku juga udah mulai peltam. Ga tau bisa update kilat atau engga. tapi seenggaknya aku akan berusaha buat ngupdate satu persatu chapternya. Maaf kalau kemungkinan Chap selanjutnya bisa sampai satu bulan mendatang.

Aku mau curhat deh. Sesuatu yang bikin aku speechless dan luar biasa kecewa ama SM. Ada apa dengan agensi raksasa yang satu itu? kenapa satu persatu boygroup/girlgroup jadi kehilangan anggota mereka? aku ga ngerti dimana letak kesalahannya.

Di awali oleh Kris. Baiklah ini cerita lama. di susul dengan skandal Baekhyun dating with someone—ga mau sebut namanya. Ini hanya yang berkaitan dengan EXO. Terus dan teruss... nasib sulli F(x) yang vakum dan otomatis member lain menjadi sibuk dengan urusan masing-masing. aku rindu dengan F(x). Dan itu bikin aku ga begitu tertarik dengan Red Velved yang cenderung di keluarkan untuk menutupi masalah—atau justru masalah-masalah itu muncul untuk meningkatkan popularitas SM? Lalu Jessica yang di depak paksa? Heol! Kenapa?

Dan hari ini! Bener-bener hari ini! Aku dapet berita kalau Luhan ngajuin gugatan. Oh God! Katanya dia sakit. Kenapa jadi gugatan gini. Kenapa harus pengacara yang sama? Apa Luhan bakal keluar juga dari EXO? OT11 kemarin udah bikin aku drop. Apalagi OT10? Katanya mereka bakal comeback? Kenapa justru ada member yang keluar?

Buat kelanjutnya mari kita tunggu aja. Fyuhh... Next, siapa lagi yang bakal keluar dari grupnya?*Maaf kalau terdengar sinis. Aku terlalu kesal sih.

Aku harap kalian ga kecewa ama chapter kali ini ya...