Note: yang diunderline biasa berarti ngomong pake bahasa cina ya.
.:xxx:.
Willis kembali ke tempat tendanya didirikan dengan langkah ringan. Mukanya yang biasa menampakkan ekspresi garang kali ini terlihat lebih santai.
Atau malah—tenang.
Ada beberapa sorot senter dari beberapa pucuk tenda itu terarah padanya. Lalu suara Johnny terdengar lantang, dan Willis tahu mereka pasti sedang mencarinya.
"Boss," Johnny tergopoh menghampirinya dengan dua pengawal pribadinya—yang langsung memberikan handuk dan mantel karena udara memang dingin. "Kami mencari Anda sedari tadi—"
"I'm okay." Willis menerima yang disodorkan. Beruntung dia membawa sepasukan pengawal pribadinya kemari. "I was just strolling around."
Willis memberi perintah agar pengawal lain pergi sehingga hanya tersisa ia dan Johnny di sana. Johnny nampaknya sudah lama cemas karena Willis tiba-tiba menghilang dari tendanya. Willis yang merencanakan penyadapan informasi ini secara tiba-tiba—karena bagaimanapun, dari tim yang mereka bentuk, hanya Willis yang pernah ke desa itu sebelumnya. Jadi ia yang lebih tahu tempat itu.
"Baiklah." Johnny tampaknya sudah memaafkan. "Kau menemukan sesuatu, Sehun?"
Pria itu tersenyum miring, lalu menyisir surai pirangnya dengan jari, menyibak poninya ke belakang. "I found some infos you might love, from a trusted source."
Johnny berkedip. "What...?"
"A little hybrid was desperately in heat... I just helped him out and he paid me with nice details of the village." Johnny menganga. Tidak menyangkan bosnya semesum itu sampai memanfaatkan hybrid liar yang sedang birahi untuk mendapat informasinya. "It's just a mutual relationship. Let's go back in the morning, we already collected all we need. Besides... we have to check whether the heat formula is done yet."
.:xxx:.
.
.
Tiga hari kemudian
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo hanya bisa mengamati dengan dahi berkerut, kasihan. Junmyeon di sampingnya, sama-sama hanya bisa menatap Baekhyun yang terus-terusan mengerang dan menggulingkan badannya ke kiri-kanan. Badan Baekhyun suhunya dingin, tapi ia terus-menerus merengek kepanasan. Kausnya yang tipis sampai menempel ke kulitnya gara-gara keringat yang membanjir.
Baekhyun pasti tersiksa sekali. Saat birahinya selesai, yang pertama kali Baekhyun tanyakan adalah Chanyeol—dan bodohnya, Zitao mengatakan apa yang waktu itu Chanyeol katakan.
"Dia mati bunuh diri."
Bagi submisif seperti Kyungsoo dan Junmyeon, itu tindakan bodoh. Baekhyun beku setelah mendengarnya, lalu tertawa kecil seolah baru digoda dengan banyolan khas Zitao.
"Bercanda, kan?" Baekhyun tertawa sambil berurai air mata.
Bagi dominan seperti yang lainnya, ini satu kesempatan terakhir agar Chanyeol tidak mati lajang dan—tidak membunuh dominan lain di desa ini.
"Yeollie..." kucing itu terisak. "Yeollie..."
Sudah begitu sejak beberapa jam yang lalu. Baekhyun terus-terusan mengerangkan nama itu, seolah nanti akan membawa Chanyeol kembali kalau ia terus meneriakkan namanya.
Bahkan Yixing sendiri mengaku tidak kuat mendengar rintihan Baekhyun dari luar. Jaguar itu perasaannya campur aduk.
"Baekhyun..." bisik Kyungsoo saat Yifan masuk dan membawakan makanan. "Baekhyun, bangun?"
"Baekhyun masih sakit?" tanya si alpha. Submisifnya mengangguk, segera menenggelamkan diri dalam pelukan pasangannya yang lalu mengusak kepalanya lembut.
"Demamnya belum turun." Bisik Junmyeon. Yifan hanya mengangguk maklum, mencoba mengeluarkan bau dominannya untuk menenangkan si submisif yang kalut.
"Pasti gara-gara ini birahi keduanya..." Kyungsoo berbisik, mengecek suhu badan Baekhyun dengan punggung tangan. "Kasihan Baekhyun..."
Junmyeon mengambil alih nampan makanan Baekhyun yang lama dan memberikanya pada Kyungsoo, meminta tolong padanya agar bersedia mencucikan perangkat makan itu sementara Junmyeon akan menunggui Baekhyun sampai terbangun untuk menyuapinya lagi. Bahaya kalau submisif setengah sadar seperti Baekhyun tidak makan... ia bisa pingsan dan dehidrasi.
Kyungsoo mengangguk. Ia meninggalkan sejoli itu di pondoknya dan Baekhyun, dan si lynx berjalan muram ke arah sungai.
Langkahnya terhenti tak lama saat ia mencium ada sesuatu yang aneh di pondok samping miliknya.
Pondok Jongin.
Baunya aneh. Menyengat dan panas, tapi membuat kelenjar ludahnya berliur. Ada yang aneh di sini. Kyungsoo berputar haluan dan mendatangi pondok Jongin, mengetuk pintunya.
"Jongin?"
Tidak ada jawaban. Tapi ada grusak-grusuk kasar dari dalam sana. Kyungsoo mengernyit, lalu menarik kenop dan mendorong pintunya terbuka.
"JANGAN MASUK!"
Si lynx terkejut sampai-sampai nampannya jatuh berkelontang di atas lantai.
Kenapa Jongin menggunakan suara dominannya? Itu justru membuat Kyungsoo lemas sampai tidak bisa bergerak!
"J-Jongin...?" rintih si lynx.
"KALAU KAMU NGGAK SEGERA PERGI, KAMU SUMPAH BAKAL NYESEL, SOO!"
Mata bulat si lynx makin lebar. "A-apa...?"
Jongin tidak tampak dari luar. Kyungsoo badannya tiba-tiba gemetar. Ia tidak bisa... tidak bisa bergerak. Suara dominan Jongin telah membuat lututnya lemas dan jatuh bersimpuh seolah ia dikontrol dari kejauhan.
Dan bau Jongin. Bau Jongin. Demi Tuhan—Kyungsoo merengek, submisif dalam dirinya menggeliat. Bau Jongin.
Bau Jongin benar-benar menggiurkan. Seperti cokelat matang.
Ekor si lynx bergerak naik turun. Ia bersimpuh di antara pondok Jongin dan jalan utama desa. Dengan celana basah karena pelumas alaminya seperti dipompa keluar oleh tiap geraman Jongin dari dalam sana.
Kyungsoo perlahan mulai hilang kesadaran. Napasnya pendek-pendek, dan matanya mengabur.
"Jonginnie... hiks..." Kyungsoo merintih, mengundang geraman buas lain dari dalam sana. "L-lepaskan aku..."
Lepaskan aku dari kontrol suara dominanmu... aku tidak bisa bergera—
"GRAAAHHH!"
Jongin mengaum. Tubuhnya yang kekar menerjang si lynx tanpa peringatann.
Kyungsoo menjerit.
.:xxx:.
.
.
.
Tiga hari kemudian
.
.
.
.
.
Chanyeol lari—lari begitu jauh sampai-sampai ia tidak bisa mencium bekas kencing dominan manapun di desanya—yang digunakan untuk menandai teritori.
Chanyeol berhenti di sebuah mata air kecil dekat gua kosong, dan ia berhenti di sana. Terdiam, menatap bayangannya di air.
Ia tampak berantakan. Walau tetap tampan. Di pipinya masih tersisa darah bekas memakan mentah buruan rusanya tadi.
Tapi benaknya masih terus saja mengiangkan teriakan Baekhyun—aku mau Yixing.
Begitu besar pengaruh kucing itu padanya. Chanyeol tidak tahu kenapa bisa begitu.
Si harimau putih memutuskan ia akan menginap di situ malam ini. Perjalanannya mencari Minseok dan Jongdae—dua dominan yang beberapa minggu sebelum kedatangan Yixing sempat hengkang dari desa karena hubungan terlarang. Ya—keduanya dominan, tapi terlibat hubungan selayaknya seorang dominan dan submisif.
Harusnya Chanyeol bisa dengan mudah mencari mereka, karena dominan tidak akan bepergian terus dan pasti akan singgah di suatu tempat, dan Chanyeol akan bisa mengenali baunya karena ia cukup dekat dengan Jongdae. Tapi selama hampir seminggu pencariannya, ia mendapatkan nihil.
Sial, kedua dominan itu pasti mendapat teritori yang bagus jauh di sana.
Malam menjelang. Chanyeol sudah menyalakan api. Ia terduduk sendiri di atas batu yang ia bawa dari bawah sebuah pohon akasia, setengah melamun ia melempar kayu-kayu kering pada api yang ia buat.
"Mama nggak usah sedih. Chanyeol bakal balik, kok."
"Kamu nggak perlu pergi dari desa ini..."
Percakapannya dengan Junma sesaat sebelum ia pergi dari desa.
"Chanyeol bakal balik. Junma juga tahu sendiri kalau Chanyeol perlu jaga jarak sampai birahi Baekhyun selesai."
Chanyeol masih ingat raut muka Junmyeon yang seperti merasa bersalah.
"Chanyeol... Sebenernya nggak ada maksud untuk misahin kamu dan Baekhyun..."
Tapi bukannya selama ini Junma yang paling tidak setuju kalau Chanyeol kawin dengan Baekhyun—walau paksa?
"Nggak, kok. Emangnya kenapa?"
"Mama mau cerita sedikit ke kamu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Junma, C-Chanyeol ngejar Baekkie lagi... hiks..."
"Baekkie, sini..." Junmyeon terkekeh, menepuk pahanya agar Baekhyun duduk di atasnya. Sudah sering kali ia menerima aduan dari Baekhyun kalau Chanyeol, putra angkatnya yang paling jantan itu tidak pernah berhenti mengincar bokongnya. "Dengerin mama ya. Kamu harusnya seneng. Chanyeol itu dominan alpha. Dia anak terbaik yang mama punya. Kalau Baekkie nolak Chanyeol, belum tentu Baekkie dapat yang lebih baik dari dia. Baekkie paham?"
Kucing itu menggeleng, lalu mengusakkan mukanya pada pundak Junmyeon.
"Baekkie t-takut..."
Junmyeon berkedip. "Kenapa?"
"Baekkie nggak mau punya pasangan..."
"Eh?"
Junmyeon rasa ada yang salah. Bagaimana bisa seorang submisif tidak mau punya pasangan?
"Jadi Baekkie mau sampai tua sendirian aja?" Junmyeon berucap lembut, mencoba membuka wawasan baru untuk si submisif muda. "Baekkie nggak mau punya suami dominan kaya Junma sama Yifan? Nggak mau kawin terus punya anak-anak lucu yang bisa bantuin Baekhyun masak, atau bersih-bersih pondok?"
Yang tidak Junmyeon sangka...
"Hiks... hiks..."
Baekhyun tiba-tiba menangis hingga punggungnya gemetaran.
"B-Baekkie?" Si cheetah terkejut melihat kucing kesayangannya menangis sesenggukan tiba-tiba. Apakah ia menyinggung sesuatu yang salah?
Mungkin iya, karena bagaimanapun, baru dua bulan sejak Junmyeon menemukan Baekhyun.
"B-Baekkie j-jadi inget m-mama..."
Mama?
"Mamanya Baekhyun yang asli?"
Baekhyun mengangguk, menyembunyikan mukanya.
"M-mama... s-setelah mama kawin sama papa... M-mama dipindahin sama Tuan... Tuan b-bilang itu supaya Baekkie nggak dimakan papa... soalnya Baekkie punya... hiks... bulu belang tiga... hiks..."
Junmyeon terdiam.
"Baekkie nggak mau kawin sama Chanyeollie... hiks... karena nanti... kalau udah punya anak... nanti Baekkie harus dipisah sama Chanyeollie... hiks... B-Baekkie nggak mau hidup sendiri kaya mama dulu... harus ngurus Baekkie sendirian... hiks..."
"Baekhyun..."
"Baekkie nggak mau sama Chanyeollie... soalnya... hiks... B-Baekkie suka kalau dekat-dekat Chanyeollie... t-tapi kalau Baekkie kawin sama Chanyeollie... nanti Baekkie harus pisah dari Chanyeollie soalnya... soalnya Baekkie kucing belang tiga..." Baekhyun menarik mukanya, dan Junmyeon bisa melihatnya—muka Baekhyun yang sembab, mata Baekhyun yang merah. "Baekkie kesel... Baekkie nggak mau jadi kucing belang tiga... hiks... Baekkie pingin anak Baekkie nanti punya papa tapi... tapi... Baekkie nggak bisa..."
Tentu saja. Bagaimana Junmyeon bisa lupa.
Kutukan kucing yang memiliki bulu belang tiga.
"Baekhyun," bisik si cheetah, berusaha meredakan isak tangis Baekhyun yang membuat jantungnya mencelos. "Nggak akan ada yang maksa kamu untuk pisah dari Chanyeol kalau kalian kawin. Percaya sama Junma."
Kucing itu menggeleng sampai rambutnya melambai.
Ia masih kecil.
Tapi ia sudah mengerti kalau tidak ada harapan untuknya.
Tidak ada harapan untuk Baekhyun memiliki keluarga normal seperti yang Junmyeon miliki.
Takdirnya sudah berkata begitu.
"T-tapi mau gimanapun, Baekkie harus pisah dari pasangan Baekkie. Mama yang bilang gitu, kalau nggak nanti anak Baekkie d-dimakan sama papanya... Itu kutukan kucing belang tiga... hiks..." Kucing itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas kain bajunya. "Baekkie nggak mau liat anak Baekkie dimakan... Nggak mau pisah dari Chanyeollie juga..."
"Baekhyun..."
"Baekkie nggak mau punya anak..." isak kucing itu selanjutnya. "Baekkie nggak mau sampai kawin sama C-Chanyeolnya Baekkie... T-Tapi Junma jangan sampai bilang ini k-ke Chanyeollie... K-kalau Chanyeollie sampai tahu Baekkie n-nggak mau punya anak... Chanyeollie n-nanti marah..."
.
.
.
"Baekkie n-nggak mau dijauhi Chanyeollie... Biar Chanyeollie kejar-kejar Baekkie sampai lama. Baekkie pingin terus diperhatikan Chanyeollie... Walaupun n-nggak selamanya... Tapi paling nggak s-sampai Chanyeollie bosan d-dan akhirnya milih pasangan lain..."
.
.
.
.
.
"K-kalau sudah begitu... nanti Baekkie akan pergi d-dari desa... Supaya Chanyeollie bisa hidup bahagia sama p-pasangan barunya..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Itu kenapa... Waktu Baekhyun birahi kemarin dan kamu malah pamer kalau kamu bisa kasih dia banyak anak, Baekhyun makin takut."
Chanyeol ingat tubuhnya menegang setelah mendengar itu. Dan Junmyeon terus menunduk.
"Terus kenapa..." bisik Chanyeol. "Kenapa Baekhyun mau sama Yixing?! Bukannya kami sama-sama dominan—"
"Kamu nggak lihat? Chanyeol, Yixing itu hybrid kota. Di kota, hybrid itu dilarang dipelihara, makanya banyak diperjualbelikan di pasar gelap. Kalaupun dipelihara, hybrid kucing liar seperti Yixing harus dijinakkan dulu."
"Benar, Yixing juga pernah bilang kalau dia jaguar yang sudah dijinakkan." Macan putih itu berkedip, baru sadar."Tunggu, dijinakkan itu berarti—"
Junmyeon mengangguk.
"... disterilkan?"
"Sperma Yixing tidak bisa membuahi Baekhyun. Itu kenapa Baekhyun merasa aman dengan Yixing—karena dia tahu dia tidak akan dipisah dengan pasangannya kalau ia tidak punya anak."
Chanyeol jatuh ke tanah. Meremat rambutnya.
Jadi selama ini...
"Kenapa dia nggak pernah cerita ke aku...?"
"Mungkin dia takut? Selama ini kan kamu aktif agresif ke Baekhyun. Kalau kamu jadi dia, kucing rumahan yang taring saja cuma punya empat dan kamu dikejar macan putih super gede kaya kamu, kamu mau apa?"
"Terus aku harus gimana...?" Chanyeol menjambak rambutnya. "Junma tahu, kan, kalau insting dominan itu membuahi submisifnya dan bikin anak sebanyak mungkin?"
"Tentu. Tapi kamu juga harus ngertiin Baekhyun. Dia itu cuma kucing kecil. Dia itu cuma takut, Chanyeol..."
Chanyeol terdiam. Junmyeon menghela napas. "Dan lagi... Kalau Baekhyun sampai hamil..." si cheetah meringis. "Persalinan pertamanya pasti bakal susah banget untuk kucing sekecil Baekhyun..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"... Hiks..."
Chanyeol sampai lompat saking kagetnya.
Suara itu samar, tapi jelas.
Apa itu?
"Hiks... hiks... t-tolong..."
Si harimau putih berdiri gagah, melihat ke arah pohon-pohon tinggi besar yang berjajar rapat di utara.
Itu seperti suara tangisan?
"Siapa itu?!"
Chanyeol bertanya tegas, tapi tidak ada yang menjawab.
Lalu ia mengandalkan penciumannya, membimmbingnya ke arah suara itu berasal.
Dari balik semak, agak jauh darinya.
"Siapa di situ?!"
Chanyeol menggeram, membuat suara tangisan itu makin kencang.
Chanyeol mencium sesuatu yang lain dari sebuah bau manis anggur. Ini bau yang ia suka—darah.
"Tolong aku..."
Chanyeol menyibak semak itu, dan matanya membulat melihat apa yang ada di baliknya.
Seekor kucing hybrid angora, dengan bulu ekor yang tebal dan panjang.
Cantik. Warna bulunya keperakan, mengilat di bawah sinar bulan.
Tapi tertutup noda merah. Hybrid angora itu terluka.
Parah.
Chanyeol berkedip saat mata jernih si angora yang asing menatap balik padanya, terisak dan menyeret diri ke kakinya.
Bau anggurnya memabukkan.
"Tolong j-jangan bunuh aku, Tuan... T-tolong aku..!"
Kenapa kucing angora ini berbahasa Cina?
.
.
.
.
.
[tbc]
AN:
Happy Eid Mubarak eperibadehhhh Crell mau ngucapin mohon maaf lahir batin buat semuanya yaa =) Terima kasih sudah ngikutin NND sampe chapter ini, terutama yang review atau nambah-nambahin angka fav/follow uu makasiiih yang sider cukup doain aja Crell sanggup namatin ini sehingga ga perlu ada acara gantung massal oke? =)
/terus sungkem ke mamah baek sama papah ceye sama om issing/
Reviewnya, boleh?
