"Nanti malam kita akan bermain biola bersama. Pertunjukan duet khusus untuk memperkenalkanmu sekaligus menghormati sang tuan rumah."

Donghae sama sekali tidak mempedulikan ekspresi memberontak di mata Hyukjae, "Kita memainkan Beethoven Violin Romance no 2. Kau tentu sudah tahu musik itu dan mempelajarinya, siapkan untuk nanti malam."

Pada saat yang sama, tubuh Zhoumi bergerak di sofa, seakan hendak terbangun dari tidurnya. Hyukjae langsung menoleh waspada sambil menatap ke arah Zhoumi, dan sekejap kemudian, Zhoumi membuka matanya, "Hyukjae?" Zhoumi terduduk, berusaha memfokuskan pikirannya, kemudian matanya membelalak ketika melihat Donghae yang bersandar di pintu sambil tersenyum, "Donghae?" Hyukjae melemparkan tatapan penuh ancaman kepada Donghae yang ditanggapi dengan senyuman geli, sebelum kemudian dia melangkah mendekati Zhoumi, "Kau ketiduran."

Disorongkannya gelas berisi air putih di meja, Zhoumi menerimanya dan meneguknya, lalu melirik jam tangannya. "Aku tertidur cukup lama ternyata." senyumnya melebar, "Dan apa yang dilakukan Donghae di sini?" dia melirik ke arah Donghae dan tersenyum lebar, "Apakah kalian akan mengadakan sesi latihan khusus?'

Donghae menegakkan tubuhnya yang semula bersandar santai di ambang pintu, senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya, "Aku hanya mampir untuk memberitahu Hyukjae tentang undangan pesta makan malam nanti malam." Matanya melemparkan sinar penuh tantangan kepada Zhoumi, "Aku akan membawa Hyukjae sebagai partner makan malamku sekaligus berduet bersama di sana."

Zhoumi ternganga, tentu saja dia tahu reputasi Donghae, dan yang dia tahu pasti, Donghae selalu membawa Kekasih-Kekasihnya sebagai partnernya di setiap undangan pesta dan makan malam yang dihadirinya, tetapi kali ini dia membawa Hyukjae, apa maksud Donghae sebenarnya? Donghae tidak menunggu sampai Zhoumi mendapatkan jawaban, dia kemudian setengah membalikkan tubuhnya, "Oke aku rasa urusanku sudah selesai di sini. Nanti malam aku akan menjemputmu, Hyukjae, pukul tujuh tepat."

Donghae mengedipkan matanya, membuat mata Hyukjae menyala karena marah, tetapi tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.

:: Embrace The Chord ::

"Aku tidak menyangka kalian seakrab itu." Zhoumi melirik ke arah Hyukjae dengan tatapan spekulatif ketika Donghae meninggalkan mereka.

"Apa maksudmu?" Benak Hyukjae masih dipenuhi kejengkelan karena apa yang dilakukan Donghae sehingga tidak begitu memperhatikan kilatan aneh di mata Zhoumi.

"Apakah kau tahu bahwa selama ini Donghae selalu membawa Kekasih-Kekasihnya untuk menemaninya ke setiap undangan untuknya? Dan sekarang dia membawamu sebagai partnernya, tidakkah kau berpikir bahwa orang-orang mungkin akan salah paham kepadamu?"

"Aku?" Hyukjae terkekeh ketika menyadari maksud perkataan Zhoumi, "Maksudmu orang akan mengira aku Kekasih terbaru Donghae?" kali ini kekehan Hyukjae melebar dan berubah menjadi gelak tawa, dia langsung teringat deretan Kekasih-Kekasih Donghae yang elegan dan luar biasa cantik, seperti Arlene misalnya, "Bagaimana mungkin orang mengira bahwa aku Kekasih Donghae? aku tentu saja tidak sebanding dengan kecantikan Kekasih-Kekasihnya sebelumnya."

"Kau cantik." Tiba-tiba Zhoumi tampak serius, "Jangan merendahkan dirimu sendiri Hyukjae, aku rasa Donghae juga menyadari kecantikanmu, karena itu dia mendekatimu.

"Pipi Hyukjae memerah, Zhoumi tidak pernah memujinya secara frontal dan serius seperti itu, "Apakah menurutmu aku cantik?" dia memberanikan diri bertanya.

Tatapan Zhoumi melembut dan jemarinya menyentuh pipi Hyukjae dengan sayang, "Kau cantik Hyukjae, dan karena itulah selama ini aku selalu berusaha menjagamu, aku menyayangimu dan tidak ingin kau disakiti. Dan sekarang aku rasa kau perlu waspada kepada Donghae... mungkin aku salah paham dan Donghae hanya tertarik padamu karena kemampuanmu bermain biola, tetapi aku lelaki, dan seorang lelaki bisa merasakan insting kalau lelaki lain mengincar seorang perempuan..." matanya semakin lembut, "Kau tentu tahu reputasi Donghae sebelumnya, jadi ingatlah, kau harus berhati-hati."

Hyukjae tersenyum malu-malu, bagian peringatan Zhoumi kepada Donghae sama sekali tidak didengarnya, dia hanya fokus kepada kata-kata Zhoumi, bahwa lelaki itu menyayanginya... bahwa lelaki itu peduli kepadanya.

Zhoumi lalu melirik kembali jam tangannya dan mengerukan kening, "Sudah sore ternyata, aku harus pulang dan bersiap sebelum menemui Xian Hua." lelaki itu tidak menyadari perubahan ekspresi Hyukjae yang langsung disembunyikannya secepat kilat, dia menepuk pundak Hyukjae lembut dan tersenyum, "Ingat pesanku, Hyukjae, berhati-hatilah terhadap Donghae." gumamnya sebelum pergi.

:: Embrace The Chord ::

Arlene memandang lembaran undangan berwarna emas elegan itu di tangannya. Ini adalah undangan makan malam yang seharusnya di hadirinya bersama Donghae, sekarang Donghae bahkan tidak bisa dihubungi di mana-mana.

Apakah Arlene harus tetap datang? Sanggupkah dia menerima tatapan cemoohan dan kasihan dari orang-orang ketika mengetahui bahwa dia tidak datang bersama Donghae lagi?

Tetapi mungkin saja Donghae akan datang di pesta itu, mungkin saja Arlene bisa merayunya dan memperoleh kesempatan untuk mendapat-kan Donghae lagi. Ya. Pesta makan malam ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan Donghae kembali... Arlene benar-benar mantap dan bertekad malam ini. Dia kemudian memencet nomor ponsel salon langganannya.

Arlene akan berdandan luar biasa cantik nanti malam, supaya Donghae terpesona dan luluh kepadanya...

:: Embrace The Chord ::

Malam itu kembali Hyukjae menatap bayangan dirinya di cermin. Penampilannya benar-benar feminim, apakagi rambut panjangnya digulung dengan gaya klasik diatas tengkuknya, memamerkan anting-nya yang panjang dan eksotis. Ibunyalah yang mendandaninya hingga penampilannya secantik ini. Tetapi Hyukjae cemberut dan benar-benar cemberut.

Donghae telah bertindak licik, mengancamnya dan memaksanya datang ke pesta itu menemaninya, dan tidak ada yang bisa dilakukan Hyukjae selain mengikuti kemauan Donghae. Selama foto itu masih tersimpan di ponsel Donghae, Hyukjae tidak bisa berbuat apa-apa, tapi mungkin dia bisa mencari cara untuk mengambil ponsel Donghae tanpa ketahuan dan menghapusnya diam-diam, setelah itu dia akan bebas merdeka dari ancaman Donghae.

Ibunya tentu saja sangat senang karena Donghae membawa Hyukjae ke pesta ekslusif dan penuh dengan orang-orang penting di dunia musik klasik. Sepertinya dalam penjelasannya yang mempesona kepada Ibu Hyukjae, Donghae mengatakan bahwa pesta malam ini adalah kesempatannya untuk memperkenalkan Hyukjae sebagai murid khususnya.

Bahkan sang Ibu sama sekali tidak mengungkit-ungkit jam malam, seperti yang selalu diingatkannya ketika Hyukjae pergi bersama Zhoumi... Hyukjae mencoba menghilangkan dahinya yang berkerut, tetapi dia tidak bsia menahannya ketika suara bel pintu berbunyi. Dari kamar-nya dia mendengar suara pintu yang dibuka oleh Ibu Hyukjae dan sapaan Ibu Hyukjae yang bersemangat ketika menyapa Donghae.

Gawat, sang Ibu rupanya sudah tersihir oleh ketampanan dan pesona Donghae. Tiba-tiba saja Hyukjae teringat akan kata-kata Zhoumi kepadanya sore tadi, bahwa dia harus berhati-hati kepada Donghae. Tetapi Hyukjae tahu pasti bahwa Zhoumi sudah tentu salah, amat sangat menggelikan dan tidak bisa dipercaya kalau sampai Donghae tertarik kepadanya.

Dia sudah jelas-jelas bukan tipe Donghae, dan lelaki itu tidak akan pernah melirik-nya. Menurut Hyukjae, Donghae benar-benar tertarik kepadanya karena permainan biolanya saja. Pintu kamarnya diketuk dengan lembut dan Ibunya memanggilnya karena Donghae sudah siap menunggu di depan.

Hyukjae melirik bayangannya di cermin untuk terakhir kali dan kemudian menghela napas panjang dan mengambil biolanya sebelum melangkah ke luar kamar. Yah setidaknya dia harus bertahan untuk melalui malam ini.

:: Embrace The Chord ::

"Pergi ke pesta makan malam?" Zhoumi mengerutkan keningnya sambil menatap Xian Hua, "Maksudmu pesta makan malam di rumah keluarga pemusik terkenal itu?"

"Iya. Sebenarnya appa yang mendapat undangan, tetapi dia tidak bisa hadir karena kondisi kesehatannya menurun, jadi dia memintaku mewakilinya. Pesta makan malam itu akan dihadiri oleh banyak orang penting dalam dunia musik, Zhoumi... kuharap kau mau menjadi pasanganku di pesta."

Zhoumi langsung teringat akan pesta yang dikatakan Donghae tadi, dan dia yakin bahwa ini adalah pesta yang sama, setelah menarik napas panjang, dia mengambil keputusan bahwa dia akan menemani Xian Hua datang ke pesta itu, toh dia bisa sekalian menjaga Hyukjae kalau-kalau dugaannya benar dan Donghae bersikap macam-macam bukan? Zhoumi memang mengagumi Donghae, sangat mengagumi permainan biolanya dan menjadikan lelaki itu inspirasinya, tetapi bukan berarti dia menutup mata atas reputasi Donghae sebagai penghancur wanita. Selama ini reputasi itu tentu saja tidak mengganggunya.

Tetapi sekarang, ketika Hyukjae yang sangat disayanginya terlibat, mau tak mau Zhoumi harus mewaspadai Donghae. Apalagi sudah beberapa kali lelaki itu mencium Hyukjae tanpa izin... melakukannya seolah itu hal yang sangat biasa, kenyataan tentang ciuman itu sebenarnya amat sangat mengganggu Zhoumi.

"Oke, beri waktu aku setengah jam untuk bersiap-siap, lalu aku akan langsung menjemputmu." gumam Zhoumi, memutuskan akan memanfaatkan kesempatan ini mengawasi Donghae.

.

Donghae hanya mengangkat alisnya penuh pujian ketika melihat penampilan Hyukjae, tetapi lelaki itu tidak berkata-apa-apa dan seolah menyimpan pendapatnya dalam hati. Setelah Donghae berpamitan kepada Ibu Hyukjae, dengan lembut dia mengamit lengan Hyukjae dan membawanya ke mobilnya. Sikapnya sopan, bahkan dia membukakan pintu untuk Hyukjae sebelum masuk ke balik kemudi. Setelah mobil dijalankan, Donghae melirik ke arah Hyukjae.

"Kau sangat cantik dengan gaun itu, dan rambut yang ditata sangat feminim." Lelaki itu melemparkan pujiannya dengan lembut. Hyukjae hanya melirik sedikit dan tak bereaksi, "Terimakasih. Ibu yang mendandaniku."

"Jangan cemberut begitu, kau merusak penampilan cantikmu." Hyukjae langsung menyambar, "Tidak ada yang bisa tersenyum kalau dipaksa datang ke sebuah pesta di luar kemauannya."

Donghae terkekeh, "Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau begitu antipati kepadaku..."

"Karena kau licik dan pemaksa." jawab Hyukjae singkat, mengungkapkan semuanya.

Jawaban itu rupanya tidak membuat Donghae marah, lelaki itu malahan tersenyum, "Ya. itu memang sudah sifatku, aku selalu berusaha mendapatkan apapun yang aku mau." Suaranya berubah serius, "Dan tentang dirimu, aku benar-benar serius Hyukjae, aku melihat diriku, kejeniusanku di dalam dirimu di masa depan, dan kalau aku berhasil melatihmu, kau akan sama hebatnya seperti aku."

Kali ini Hyukjae terdiam, baru kali ini dia mendengar pujian terang-terangan Donghae kepada teknik bermain biolanya, matanya melirik ke arah Donghae dan melihat bahwa ekspresi lelaki itu benar-benar serius.

"Benarkah permainanku sebaik itu?" tanyanya ragu. Donghae tertawa.

"Tidak ada satupun orang yang pernah meragukan penilaianku, aku tidak pernah salah menilai bakat seseorang, Hyukjae. Dan percayalah padaku, kalau ada orang yang kemampuannya bisa menandingiku, itu adalah kau."

Donghae melirik ke arah Hyukjae, "Kau sudah menyiapkan apa yang akan kita mainkan nanti malam?" Hyukjae menganggukkan kepala, mau tak mau ketika Donghae mengatakan apa yang akan mereka mainkan nanti malam, Hyukjae langsung mempelajarinya. Beethoven violin romance no 2 adalah salah satu masterpiece karya Beetohoven yang dibuat sang maestro ketika dia berperang dengan penyakit tuli bertahap yang menyerangnya dengan kejam… selama beberapa periode itu, sang maestro menciptakan musik-musik yang penuh gejolak, yang berisikan pertarungan batin, kesedihan serta penderitaannya.

Tetapi kemudian munculah Violin Romance no 2 yang sama sekali tidak mengandung pergolakan batin dan kecemasan dari sang maestro, bahkan musik di dalamnya menimbulkan perasaan manis dan keindahan yang lembut seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kata orang, Beethoven violin romance no 2 adalah wujud dari perdamaian Beethoven dengan penyakit tuli yang dideritanya.

"Itu adalah alunan musik yang indah, sangat indah ketika dimainkan dengan duet, dan aku percaya kau akan menyingkirkan semua permasalahan di antara kita dan bermain dengan baik, Hyukjae." Hyukjae terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Donghae. Meskipun dia memang tidak menyukai kepribadian Donghae, tetapi bisa berduet dengan lelaki itu, bahkan lebih dari satu kali, seharusnya merupakan anugerah yang didambakan oleh setiap pemain biola amatiran seperti Hyukjae.

:: Embrace The Chord ::

Mereka turun dari mobil, dan dengan lembut Donghae mengamit jemari Hyukjae, bersikap gentle sebagai pasangan resminya di pesta. Semua orang menyambut mereka -salah, semua orang menyambut Donghae, dan Hyukjae hanyalah tempelan- dengan hormat, apalagi mereka sudah mendengar bahwa malam ini Donghae akan memberikan penampilan khusus untuk berduet dengan murid khususnya yang sudah banyak di desas-desuskan di dalam dunia musik sehingga membuat orang-orang ingin tahu. Banyak sekali mata-mata para undangan yang menatap Hyukjae penuh spekulasi baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Untungnya penampilan Hyukjae cukup cantik malam ini, sebenarnya ini semua karena Ibu Hyukjae yang bersemangat, ketika menyetujui bahwa Donghae akan membawa Hyukjae ke pesta elit di kalangan musik klasik, Ibu Hyukjae langsung menelepon temannya yang memiliki butik kecil tetapi menghasilkan gaun-gaun nan indah, yang langsung mengirimkannya untuk mereka.

Untung juga Hyukjae memiliki tubuh yang mungil sehingga ukuran gaun itu cukup pas di tubuhnya, hanya kebesaran sedikit di bagian pinggang yang langsung dikecilkan Ibu Hyukjae dengan keahlian menjahitnya. Jadi berdirilah Hyukjae di sini di sebelah Donghae dengan penampilannya yang luar biasa feminim, dengan gaun berwarna hijau gelap yang sangat indah membungkus tubuh mungilnya dengan fantastik dan membuatnya tampak padat, berisi dan feminim.

Gaun itu rendah di bagian depan, melebar di pundaknya menampilkan sedikit kulit pundaknya yang halus, lalu ketat di bagian pinggang dan pinggulnya sebelum kemudian melebar dengan indahnya sampai ke mata kaki. Dan gaun itu membuat penampilan Hyukjae benar-benar feminim.

Para tamu dipersilahkan menikmati hidangan pembuka di lobby yang penuh dengan pelayan-pelayan yang menbawa nampan berisi berbagai jenis minuman dan makanan kecil menawarkannya berkeliling kepada setiap undangan yang hadir. Tamu-tamu itu berkelompok-kelompok dan bersosialisasi tersebar di setiap penjuru lobby indah yang mewah itu, musik lembut mengiringi, mengalir samar-samar yang membuat suasana pesta semakin elegan. desas-desuskan di dalam dunia musik sehingga membuat orang-orang ingin tahu. Banyak sekali mata-mata para undangan yang menatap Hyukjae penuh spekulasi baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Yah setidaknya dia pantas berdiri di samping Donghae yang penampilannya seperti biasa luar biasa tampannya. Mereka saat ini sedang berbasa basi dengan sang tuan rumah, dan Hyukjae berharap dia tidak mempermalukan dirinya sendiri di tengah orang-orang penting di kalangan musik klasik ini.

Hanya itu sebenarnya yang dipikirkan Hyukjae dan dia tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang mengamatinya, dua pasang mata dengan benak berkecamuk yang berbeda.

:: Embrace The Chord ::

Ketika Donghae dan Hyukjae memasuki ruangan pesta itu, Zhoumi menatap Hyukjae dari kejauhan dan ternganga, menyadari bahwa perempuan itu entah bagaimana bertransformasi menjadi perempuan dewasa yang snagat feminim dan cantik. Dia tahu Hyukjae cantik tentu saja, tetapi selama ini Hyukjae selalu ber-penampilan tomboi di depannya, dan Zhoumi hampir menganggapnya sebagai anak laki-laki, dan juga adik kesayangannya.

Tetapi berdiri di sana, menebarkan senyuman lembutnya dalam penampilannya yang luar biasa... Hyukjae benar-benar membuat Zhoumi terpesona. Kenapa dia tidak menyadarinya sebelumnya?

Tiba-tiba mata Zhoumi menatap ke arah jemari Donghae yang entah bagaimana bisa merangkul pinggang feminim Hyukjae dengan posesif, dan tiba-tiba, dorongan amarah melandanya, membuatnya ingin menerjang ke arah Donghae dan memukulnya, mengancamnya untuk menjauhkan tangannya dari Hyukjae.

Cemburu...? Zhoumi merasakan dadanya berdenyut, dia lalu melirik ke arah Xian Hua, dengan penampilan cantik di balut gaun warna peraknya yang mewah. Tetapi entah kenapa, mata Zhoumi selalu tergoda untuk melirik ke arah Hyukjae yang bahkan belum menyadari kehadiran Zhoumi di sana.

Apakah Zhoumi terlambat menyadari perasaannya? Perasaannya yang sesungguhnya?

:: Embrace The Chord ::

Sementara itu, mata yang lainnya menatap pasangan Donghae dan Hyukjae dengan kemarahan membara. Ya, Arlene berdiri di sudut, dengan penampilannya yang luar biasa cantik tetapi diliputi oleh perasaan terhina yang luar biasa. Berani-beraninya Donghae membawa perempuan itu sebagai pasangan-nya setelah mencampakkan Arlene begitu saja! Jadi benar bukan? Donghae meninggalkan Arlene karena tertarik pada kemudaan Hyukjae yang ranum?

Kalau dulu Arlene masih ragu-ragu, sekarang tekadnya makin membulat, dipenuhi oleh kemarahan dan kecemburuan yang melimpah ruah, memenuhi dadanya hingga terasa membakar.

Matanya mengamati Hyukjae yang tampil begitu feminim dan cantik dalam balutan gaun hijaunya yang indah, dan menyadari bahwa Donghae mengamit pinggang Hyukjae dengan lembut. Hyukjae... anak ingusan itu benar-benar mengganggu, Arlene akan melenyapkan semuanya dari Hyukjae, semua hal yang membuat Donghae tertarik kepada Hyukjae akan dilenyapkannya! Arlene akan meng-hancurkan wajah cantik Hyukjae berikut kemampuannya bermain biola.

Jemarinya gemetar menahan marah, ketika masuk ke dalam tas mungilnya, dan merengkuh logam berkilat kecil yang selalu di bawa-bawanya di sana. Sebuah pisau lipat kecil... Tampak kecil dan tak berbahaya, tetapi sebenarnya tajam luar biasa...

:: To Be Continued. . . ::