Busan

Hanya terdengar detikan jam dan suara daun kering jatuh dari luar yang menyelimuti suasana rumah minimalis itu. Setelah semalaman terjaga, sampai sekarang pun dua orang namja itu belum juga merasakan kantuk atau mungkin sebenarnya iya hanya saja enggan untuk tidur.

Sehun dan luhan duduk di sofa depan tv dengan sehun di ujung kanan sofa dan luhan di ujung kiri sofa. Ya... Bagaimana lagi, memang hanya ada satu sofa. Setelah mendapat kabar dari baekhyun, Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak menutup kemungkinan mereka sama-sama gugup dan sebenarnya ingin meluapkan segalanya yang ada dipikiran mereka saat ini.

"hun/Lu" sehun dan luhan memanggil bebarengan membuat kegugupan mereka semakin menjadi-jadi.

"kau duluan/kau dulu.. "

Luhan menggigit bibir bawahnya dan masih enggan menatap sehun. Sehun akhirnya membuka suara saat di rasa luhan masih gugup.

"Lu.. Kapan pernikahanmu dilaksanakan? " tanya sehun tanpa menatap luhan

"em.. 3 bulan setelah sidang perceraian kita. " Luhan memang sudah siap jika nantinya sehun menanyakan perihal itu.

"hem... "

"sebenarnya kita tak perlu melaksanakan sidang cerai. Kita kan menikah sesama jenis. Hal ini tidak begitu dipermasalahkan oleh hukum."

Hening

"hun-ah.. Ak..aku.. "

"aku terlambat ke kantor. Aku akan memesan Delivery untuk sarapanmu. Tidurlah di kamar baekhyun sampai kau kembali ke China. " ucap sehun memotong ucapan luhan dan beranjak bersiap-siap hendak menuju ke kantor.

Luhan hanya diam di sofa dan sedikit terisak tanpa sepengetahuan sehun. Setelah sehun pergi, luhan beranjak menuju ke kamar baekhyun membersihkan diri. Luhan terduduk di bawah guyuran air dari shower. Ia menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangannya.

"hiks.. Hiks.. Mianhae sehunie.. Hisk.. Aku masih mencintaimu sehunie. "

Flashback

Beijing Capital International Airport

Seorang namja cantik keluar dari gate nampak lesu. Suasana hati yang kurang mendukung di tambah lagi jetlag membuatnya letih dan pucat.

Ia merogoh ponsel hendak menelpon seseorang.

"Mama aku sudah sampai di beijing"

"pak han sudah menjemputmu sejak pukul 5 tadi lulu sayang. Kau belum bertemu dengannya? "

"belum ma.. " luhan menoleh ke sekeliling mencari keberadaan pak han sopir pribadi keluarganya sejak 10 tahun.

"mama akan menelpon pak han sayang. Sekarang kau berada dimana? "

"em.. Di depan pintu kelu.. "

"tuan muda.."

"eoh? Pak han? "

"mama aku sudah bersama pak han. Aku akan segera pulang. "

"baiklah.. Jaga dirimu sayang. Jangan mampir kemana-mana langsung pulang, oke? "

"iya ma. "

Tut

Luhan segera menuju ke rumah orang tuanya. Seperti pesan eommanya, luhan tidak mampir kemanapun dan langsung menuju rumah.

Luhan sudah sampai di halaman rumah keluarga Xi. Rumah yang megah namun tidak mewah, dengan halaman yang luas. Keluarga Xi memang keluarga terpandang, ayah luhan adalah seorang guru besar sekaligus dosen filsafat di universitas ternama di beijing, ibunya seorang dokter kecantikan terkenal di china, oleh karena itu mungkin kecantikan luhan berasal dari tangan ibunya. Kekekeh.

"luhan sayang.. "

Mama luhan langsung memeluk luhan melepas rasa rindunya terhadap putra semata wayangnya.

"mama merindukanmu sayang.. "

"luhan juga. Aku lelah ma.. Bolehkah aku istirahat dulu? "

"istirahatlah sayang, mama sudah menyiapkan kamar lamamu. "

"em.. Baba kemana ma? "

"babamu di kampus, mengajar kelas malam. "

"hem.. " luhan langsung beranjak menuju kamarnya. Ia tidak langsung tidur, melainkan meneruskan acara menangisi suaminya.

Satu bulan kemudian

"pagi baba,mama.." sapa luhan menuju tempat makan bergabung bersama orang tuanya.

"pagi sayang... "

Hanya suara dentingan sendok dan mangkuk sup yang terdengar selama acara sarapan. Memang sudah kebiasaan keluarga Xi, dilarang melakukan kegiatan apapun atau bersuara di meja makan saat makan.

Setelah selesai sarapan. Baba luhan meminta anggota keluarga untuk berkumpul di ruang tengah. Tuan Xi dengan wibawanya duduk di sofa kebesarannya. Sedangkan Nyonya Xi dan Luhan duduk di sofa lain di samping tuan Xi.

"Baba dan mama sudah memikirkan secara matang dan telah diputuskan kau akan bercerai dengan Sehun. "

Luhan seakan nyawanya baru saja di cabut. Matanya terbelalak memandang babanya yang baru saja memutuskan urusan rumah tangganya secara sepihak.

"apa yang baba.. "

Ucapan luhan terpotong hanya dengan babanya yang mengangkan tangan kanannya mengisyaratkan untuk berhenti bicara.

"baba dan mama merestui hubungan kalian yang awalnya kami berpikir kamu akan bahagia dengannya dan kalian juga saling mencintai. Anak itu berjanji tidak akan menyakitimu sehingga baba mengorbankan kehormatan baba untuk menikahkan putraku satu-satunya, putra seorang guru besar universitas ternama untuk menikah dengan sesama jenisnya. Tapi sekarang... Baba harus egois untuk kebahagianmu. Kau akan bercerai dengan Byun Sehun dan menikah dengan gadis pilihan baba. "

Luhan memang terkenal anak yang patuh, apalagi terhadap orang tuanya. Ia tidak mampu lagi berkata-kata. Jika babanya sudah memutuskan sesuatu akan sulit untuk mencabutnya kembali. Luhan hanya bisa menangis dalam diamnya dan ketika menyendiri di kamar tanpa diketahui siapapun. Luhan masih mencintai sehun, dan sehun masih mencintai Luhan.

Flashback off

Seoul

Chanyeol pov

"Huuuwwaaa... Aku mau naik itu channie.. " rancau baekhyun sambil menunjuk ke arah bianglala raksasa. Aku sedikit mual karena sedari tadi baekhyun memaksaku menaiki wahana ekstrim.

"baek... Istirahat dulu ne? Bagaimana jika kita beli permen kapas atau.. Em.. Es krim? "

"otte. Kajja kita beli es krim dan permen kapas. Tapi setelah itu kita naik bianglala ne? "

"ne... "

"janji? "

"janji baekkieku sayang.. " ucapku sambil mencubit gemas hidung mungilnya. Ia hanya terkekeh geli dan menarikku menuju kedai es krim.

Saat ini kami berada di kedai es krim. Tidak sedikit pasang mata yang memperhatikan kemesraan kami. Ya.. You know lah.. Kami kan sama-sama namja. But i don't care.

Aku menikmati wajah cantik di sampingku hingga melupakan es krimku yang mulai mencair. Bibirnya yang belepotan krim stroberi membuatku gemas dan ingin mengecup bibirnya. Aku senang dia bisa tersenyum kembali dan sikapnya yang sedikit manja membuatku semakin tak ingin melepasnya.

"chanie.. Kenapa kau tak memakan es krimmu? Ahhh... Kan aku sudah bilang enak stroberi dari pada pisang. Kau malah memilih pisang, dan sekarang lihatlah kau tidak memakan es krimmu, kan jadi si.. "

Cup

Aku sudah tidak tahan melihat bibirnya yang terua menerocos. Aku memberikannya ciuman lembut. Aku benar-benar menikmati bibirnya yang manis bercampur rasa stroberi. Rasanya aku tidak mau melepas pangutanku apalagi aku rasa baekhyun menerima perlakuanku dan ia terlihat menikmati. Aku semakin memperdalam ciuman kami dengan sedikir menekan tengkuknya dan menggigit bibir bawahnya sedikit agar ia membuka mulutnya dan aku dapat melesatkan lidahku ke dalam rongga hangatnya.

"eughhhh"

Aku melepas ciuman kami saat baekhyun memukul-mukul dadaku tanda kehabisan napas. Aku memandang wajah sayunya yang semakin meningkatkan hasratku. Aku membersihkan saliva yang mengalir di pipi baekhyun dengan ibu jariku. Baekhyun masih memejamkan mata dan aku tersenyum saat ia mulai membuka matanya perlahan sebelum menyembunyikan rona di wajahnya. Aku terkekeh melihat ekspresi polos baekhyun.

"kau sudah selesai kan baek? Kajja kita naik bianglala.. " ucapku kemudian membayar es krim kami dan menarik baekhyun meninggalkan kedai. Tentu saja sambil tak menghiraukan bisikan-bisikan para pengunjung kedai yang beberapa menit yang lalu melihat kegiatan ciuman agak panas kami.

Baekhyun pov

Aku terkejut memang saat chanyeol tiba-tiba menciumku. Aku ingin menolak karena aku sadar kami masih di pusat keramaian. Tapi entahlah tubuhku mengalahkan logikaku, aku malah menikmati ciuman yang di berikan chanyeol. Lumatan kecil yang lama-kelamaan berubah menjadi sedikit kasar dan menuntut.

"euuunngghh"

Lenguhku dan aku memukul-mukul pelan dada chanyeol karena kehabisan napas. Aku masih enggan membuka mataku walaupun pangutan kami sudah terlepas, aku merasakan usapan lembut di pipiku dan perlahan aku membuka mataku menangkap chanyeol yang sedang memandangku sambil tersenyum. Aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus. Aku segera menyembunyikan wajahku karena malu.

Kami sudah berada di dalam bianglala, sebenarnya aku phobia terhadap ketinggian tapi entahlah.. Saat ini aku sedang ingin mencoba berperang dengan segala ketakutanku. Aku selalu mengingat sugesti dalam buku psikologi karya Dr. Ibrahim Elfiky bahwa ketakutan berasal dari pikiranmu sendiri dan kau harus mampu memerangi jika tidak ingin bergelut dengan ketakutan itu semasa hidup. Sugesti ini cukup ampuh untuk membuatku mengatasi segala ketakutan dalam hidupku, seperti ketakutan ditinggal oleh orang yang aku sayangi.

"baek.. "

Aku menoleh pada chanyeol yang di sebelahku.

"permen kapasmu.. "

Aku tersenyum dan mengambil permen kapas dari chanyeol namun masih enggan memakannya.

"baek.. "

"wae? "

"apakah aku boleh bertanya sesuatu? "

Aku mengangguk sebagai balasan. Chanyeol menyandarkan kepalanya di pahaku dan terlentang di kursi bianglala. Aku yakin kakinya pasti sakit harus ditekuk seperti itu. Tapi melihatnya menikmati aku juga ikut menikmati dan membelai surainya sambil menunduk bertetapan dengannya.

"baek.. Berjanjilah kita akan terus seperti ini, apapun yang terjadi jangan sampai kita terpisah. "

"aku berjanji. "

"baek.. Menurutmu aku namja seperti apa? "

"em... Kau namja jelek bertelinga seperti yoda, kadang menjengkelkan dan..."

"cukup baek, aku serius.. "

"aku juga serius chan.. " ucapku sambil terkekeh karena melihat ekspresi kesalnya. Aku menahannya agar tetap di pangkuanku saat ia ingin beranjak karena kesal.

"hehehe.. Aku hanya bercanda park yoda."

"apakah menurutmu aku namja yang baik? "

"entahlah.. Sejauh ini aku rasa aku tidak melihat kejahatan di matamu. "

'tentu saja baek..karena yang kau lihat hanyalah topeng. '

"bagaimana jika aku namja yang buruk? "

"eoh? Em... Aku akan tetap mencintaimu. "

"alasannya? "

"ya... Karena hatiku sudah terlanjur jatuh ke dalam cintamu pak chanyeol. Aku yakin walaupun sebenarnya kau namja yang buruk, seburuk-buruknya dirimu kau tidak akan menyakitiku. "

'bagaimana bisa kau seyakin itu baek? '

"bagaimana jika aku menyakitimu? "

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan chanyeol kali ini.

"ak..aku.. Aku yakin kau tidak akan menyakitiku."

"kau ragu. "

Iya aku memang sedikit gugup karena chanyeol bertanya seperti itu. Tapi bukan berarti aku ragu atas perkataanku. Chanyeol kembali duduk di sampingku dengan melempar pandangan membelakangiku. Aku cukup bingung dengan sikapnya, aku beranikan diri untuk memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalaku pada bahunya.

"aku percaya dengan cintamu chan. Aku memang belum yakin kau namja baik atau buruk. Tapi itu tidak masalah bagiku. Selagi kau mempertahankan cintamu aku yakin aku akan baik-baik saja dan tidak akan terluka. "

Aku mengangkat kepalaku saat chanyeol memutar tubuhnya menghadapku kembali. Aku tersenyum melihatnya juga tersenyum.

"aku akan selalu menjaga cinta ini baek. Aku bersumpah. "

"tanpa kau bersumpah, nuranimu pasti akan melakukannya chan. "

Kami menyatukan bibir kami setelah saling tersenyum dan berbagi kehangatan. Sampai dirasa bianglala kami berhenti berputar dan kami sudah mencapai dasar. Kami melepas ciuman kami dan beranjak pulang. Aku sangat senang karena hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus membantuku sedikit melupakan masalah-masalah yang menghampiri.

Author pov

Baekhyun dan Chanyeol kembali ke apartemen chanyeol. Mereka berdua terlihat lelah. Baekhyun merebahkan tubuhnya di ranjang king size chanyeol sebentar untuk meredakan sedikit tubuh lelahnya. Sedangkan chanyeol sudah menuju kamar mandi.

Drrrttt... Drrttt... Drrttttt...

Baekhyun bangun merasakan handphone bergetar. Ia mengecek ponselnya namun tidak ada panggilan atau pesan masuk. Kemudian ia melihat ke arah nakas dan ternyata ada panggilan masuk di handpone chanyeol.

Incoming call from Appa Wu

"Appa wu? Wu maksudnya? "

Baekhyun hendak mengambil ponsel chanyeol. Namun tiba-tiba chanyeol mengambil ponselnya. Chanyeol melihat nama panggilan yang masuk. Ia sedikit gugup dan takut baekhyun akan curiga.

'tenanglah chanyeol... Baekhyun tidak tahu apa-apa. ' batinnya berusaha menenangkan diri.

Chanyeol segera pergi ke balkon kamar dan mengangkat telpon. Baekhyun hanya mengedikkan bahu dan menuju kamar mandi.

"yeobseoyo.. "

"richard.. Aboejimu bilang kalau kau tidak pulang sejak kemarin. Kau juga tidak mengangkat teleponnya atau membalas pesannya. Dimana kau sekarang? "

"aku di luar kota appa. Aku mencari beberapa alat dan bahan praktik kimia. "

"dimana? Sama siapa? "

"di seoul. Aku bersama temanku. Appa tenang saja aku bisa menjaga diri dan identitasku. "

"baiklah. Cepatlah pulang, ada yang perlu appa bicarakan denganmu. "

"ne. "

"baiklah appa tutup. "

Chanyeol kembali ke kamar setelah mengakhiri telepon. Bersamaan dengan baekhyun yang baru selesai mandi. Chanyeol meneguk ludah kasar saat melihat baekhyun hanya memakai bathrobe dengan dadanya sedikit terbuka.

'mulus sekali.. '

'ah.. Apa yang kau pikirkan chanyeol? '

'lakukan saja chanyeol. Kesempatan emas tidak datang dua kali'

'tidak.. Kau akan kehilangan dia secepatnya jika kau melakukannya. '

Setelah lama berdebat dalam batinnya. Chanyeol yang tak kuasa.. Segera melesat kembali ke kamar mandi. Ya.. Tahu lah.. Pasti ia sedang bermain solo.

Brak

"ada apa dengannya? " gumam baekhyun. Baekhyun berjalan mendekati pintu kamar mandi.

Tok tok tok

"chan.. Kau baik-baik saja? "

Tok tok tok

"chan.. Kenapa kau di.. "

Cklek

Chanyeol menarik baekhyun masuk ke kamar mandi. Baekhyun sedikit terkejut saat chanyeol menghimpitnya ke tembok dengan tatapan yang berbeda.

"chan.. Chanyeol... "

Tbc

Kasih adegan nc gak ya..