Now we're back to the beginning

It's just a feeling and now one knows yet

But just because they can't feel it too

Doesn't mean that you have to forget

Let your memories grow stronger and stronger

'Til they're before your eyes

You'll come back

When they call you

No need to say good bye

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

Namaku Vernon.

Tidak menarik sih sebenarnya untuk membuat sebuah perkenalan, toh aku juga bukan seseorang yang spesial. Jadi aku akan membiarkan kalian untuk menebak sendiri tentang diriku, meski aku tahu bahwa kalian tidak tertarik sama sekali. Vernon, siapa sih Vernon, tidak ada yang kenal, hanya seorang anak lelaki yang menghabiskan seumur hidupnya mengurung diri di bawah atap sebuah rumah hantu. Tidak keren.

Sejujurnya, di balik diriku yang sangat tidak menarik ini, aku punya sejuta cerita yang mungkin agak gila untuk didengar. Aku juga tidak akan terang-terangan menceritakan ini kepada siapapun, termasuk kalian, mungkin hanya kilasan yang paling manisnya saja.

Beberapa bulan yang lalu, aku dan sekeluarga pindah ke tengah kota Seoul, tadinya kami tinggal di pinggiran yang jaraknya sangat jauh dari pusat kota, semua orang berkata bahwa daerah perumahan yang dulu kami tinggali itu menyeramkan, berhantu, seperti Silent Hill. Kenyataannya memang benar, perumahan itu memang menjadi salah satu perumahan terangker yang ada di Seoul karena jumlah penduduk yang tidak banyak, rumah-rumah besar yang ditinggalkan, masih dikelilingi oleh hutan-hutan dan banyak lagi faktor lain yang menyebabkan perumahan ini berhantu.

Rumahku, rumahku berhantu. Kalau dipikir-pikir lagi sangat masuk akal jika rumahku berhantu karena aku telah membunuh sangat banyak orang di dalamnya.

Aku membunuh. Sebuah fakta yang tidak dapat kusembunyikan seumur hidupku. Menyedihkan memang menjadi diriku.

Dulu di dalam rumah lamaku, terdapat sebuah gudang di bawah tanah, biasanya ayah dan ibuku menyimpan persediaan makanan dan juga alat-alat bangunan, mungkin juga beberapa barang kami yang tidak terpakai diletakkan di sana. Tidak hanya itu, di bawah sana juga ada sebuah lilin yang berbaris membentuk lingkaran dengan sebuah pentagram di tengah-tengahnya. Setiap tahun, aku menyerahkan sebuah kepala manusia yang kupenggal sendiri di dalam lingkaran itu, seraya lilin-lilinnya menyala, bisa dua sampai tiga kali dalam setahun. Mayatnya kubuang jauh-jauh ke tengah hutan, terkadang profesor Choi atau ayahku membantu untuk membuangnya, beberapa organ kecilnya kusimpan di dalam toples sebagai alat pembelajaran dan kuletakkan di kamar, darah dari kepalanya kusimpan juga dalam sebuah toples, tapi dikubur di halaman belakang rumahku. Jika orangnya sudah mati, ibuku akan membuat sebuah boneka sebagai perwujudan dari orang itu, di mana di dalamnya akan ada surat terakhir sebelum mereka dibunuh.

Berapa banyak? banyak sekali, mungkin ada sekian puluh orang yang mati di rumahku.

Selama tujuh belas tahun aku hidup, yang kulakukan hanyalah membunuh, main game di kamar, belajar privat bersama profesor Choi dan hal-hal lain yang membuatku dapat bertahan hidup. Awalnya, aku tidak tahu kenapa aku harus melakukan itu, orang tuaku bilang itu demi keselamatanku. Namanya juga demi keselamatan, aku harus selamat. Dulu, waktu aku masih kecil, profesor Choi bilang bahwa membunuh itu adalah salah satu bentuk dari terima kasih karena aku masih bisa bertahan hidup. Aku bertanya-tanya kenapa hanya aku yang membunuh dan orang tuaku menjawabnya ketika aku berumur dua belas tahun.

Ternyata semuanya adalah bentuk pemujaan kepada iblis, setan, apapun lah namanya. Aku meminta hidupku kepada iblis dan aku melakukannya.

Oke. Dimengerti. Kulakukan hal itu terus-menerus karena aku ingin hidup.

Sampai aku bertemu Seungkwan, cinta pertamaku. Sampai Sofia membenciku. Sampai profesor Choi mati.

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

"Ugh! Astaga!"

Di hadapannya, terdapat satu setel seragam lengkap dengan ciri khas dari SMA ternama di Seoul. Sesetel seragam itu dipasangkan di sebuah gantungan baju dan digantung di gagang lemari yang warnanya cerah, mengkilap, memiliki tiga pintu dan terpasang sebuah kaca berbentuk horizontal yang setinggi ukuran salah satu pintunya.

Gugup, frustasi, bingung, tapi juga senang, yang pada akhirnya mengacaukan pikiran lelaki muda berdarah campuran, Hansol Vernon Chwe.

Sejak satu jam yang lalu, Vernon duduk di atas tempat tidurnya menghadap ke lemari, lebih tepatnya menatap seragam SMA barunya yang masih sangat bersih, wangi, segar dari setrikaan, begitu rapi tanpa adanya noda atau lecak di setiap incinya. Dari jarak satu meter pun Vernon dapat mencium aroma setrikaannya, begitu hangat dan juga segar.

Hiperbola saja. Indera penciuman Vernon tidak sekuat itu.

Besok akan menjadi hari yang sangat baru bagi Vernon, karena untuk pertama kalinya ia akan memakai seragam sekolah dan pergi ke sekolah.

Benar. Vernon sudah terdaftar di salah satu SMA terbaik di Seoul, SMA di mana Seungkwan juga bersekolah semenjak beberapa bulan yang lalu, sejak pertama kali ia menjadi bagian dari keluarga Chwe. Bagi Vernon, hal ini masih menjadi mimpi, bahkan sampai malam ini pun segalanya tampak seperti belum nyata. Rasa tidak sabar menyelubungi hati Vernon untuk mengenakan seragam itu, banyak godaan yang membawanya agar ia mencoba seragam itu sekarang juga, tapi Vernon sama sekali tidak ingin menodai seragam yang bagaikan berhala baginya.

Terus berkutat di sana, memikirkan hal pertama apa yang akan terjadi di sekolah esok hari, bagaimana ia akan mendapatkan seorang teman, bagaimana agar dia mengerti bahasa dari setiap guru yang berbeda (karena selama ini dia hanya punya satu guru), apakah orang-orang akan menyukainya atau tidak, bagaimana caranya agar bisa tetap dekat dengan Seungkwan. Intinya, hari ini Vernon hampir gila karena memikirkan itu semua.

Tok! Tok!

Seseorang membuyarkan semedi penuh depresi Vernon.

"Oh my God." Vernon menjambak rambutnya sendiri, lalu mencoba untuk bersikap biasa saja sebelum mengizinkan orang yang mengetuk pintu masuk ke kamarnya. "Masuk!"

Pintu kamar terbuka dan muncul sosok ibu. "Belum tidur?" tanya wanita Amerika itu.

"Bagaimana bisa tidur?!" suara Vernon melengking.

Melihat dari cara bicaranya saja, sang ibu sudah tahu bahwa anak sulungnya tengah mengalami gugup berat saat ini. Ia tersenyum sejenak di ambang pintu, lalu masuk menghampiri Vernon.

"Nervous?" ibunya duduk di samping Vernon, berharap bahwa kedatangannya dapat membuat perasaan Vernon lebih baik.

"Hm." Vernon menganggukan kepalanya yang menunduk.

"Haah... ini benar-benar akan menjadi tahun terbaikmu."

"Bagaimana kalau tidak?"

"Pesimis sekali. Tentu saja ini akan menjadi tahun yang sangat baik untukmu. Kau bisa pergi ke sekolah, kau punya seragam baru, kau bahkan punya handphone baru dan kau bisa menghubungi teman-teman sesuka hatimu."

"Mom." Vernon sedikit memutar tubuhnya menghadap sang ibu. "Rasanya SMA itu... bagaimana?"

"Hmm, SMA ya?"

Tiba-tiba saja ada ombak yang menggulung di kepala sang ibu, memori yang terputar kembali akan masa-masa SMA-nya. Sebagai orang tua, Nyonya Chwe merasa perlu untuk menceritakan segala hal negatif dan positif yang ia alami di masa SMA kepada anak sulungnya. Memang tidak akan sama dengan apa yang akan terjadi dengan Vernon, tapi setidaknya Vernon punya gambaran yang menyiapkan mental-batinnya.

"SMA di Korea mungkin akan berbeda dengan SMA di Korea, tapi jangan khawatir, karena SMA sesungguhnya adalah masa terindah yang akan kau alami sebelum kau menikah nanti." jelas sang ibu. "Akan ada banyak sekali hal yang lucu, tragis, menyedihkan, kebahagiaan, kebersamaan, drama, semuanya akan kau lalui. Namun, di sana lah bagian terbaiknya. SMA merupakan tempat di mana masa remajamu akan dimanjakan dan diuji sekaligus. Kau mungkin akan menangis karena tugas yang begitu menumpuk, hatimu akan dibimbangi karena kau jatuh cinta kepada beberapa orang sekaligus, nilaimu mungkin akan turun karena kau terlalu banyak bermain. Namun, eomma tidak masalah, itulah hidup dan kebahagiaanmu."

"Apa eomma pikir aku bisa mengatasinya?" tanya Vernon, penuh dengan kekhawatiran.

"Pasti bisa. Kalau tidak bisa, ada eomma dan appa yang siap untuk membantumu. Kapan pun!"

"Hft." bahu Vernon merosot. "Aku seharusnya latihan dulu untuk hal yang satu ini."

Sang ibu tertawa dan mengelus pipi putranya dengan lembut. "Kau bahagia, kan?"

"Pertanyaan macam apa?" Vernon terlihat mengelak. "Jelas aku bahagia, aku selalu bahagia."

"Setelah sekian lama kau-"

"Mom." Vernon menggenggam telapak tangan sang ibu dengan begitu erat, juga kedua netra hazelnya membuat tatapan lembut nan dalam ke dalam dua indera pengelihatan sang ibu. "Lupakan apa yang terjadi di masa lalu!" suara Vernon memelan. "Aku bahagia dan selalu bahagia. Aku punya kau, appa, Sofia, Seungkwan juga kini sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Selama aku hidup bersama kalian, tentu saja merasa bahagia."

"Eomma hanya..." nyawa sang ibu terasa bagai berada di ujung tekak. "Menyesal karena pernah membuat hidupmu menjadi seperti itu."

"Tapi aku hidup, berkatmu."

"Vernon." genggaman di tangan sang ibu menjadi lebih kuat. "Eomma benar-benar bangga kepadamu."

Vernon tersenyum malu-malu. "Intinya jangan bahas tentang masa lalu lagi. Anggap saja, aku ini adalah anak kalian yang baru."

"Kau akan tetap menjadi-"

"Vernonnie, aku sudah menyiap-oh... mianhae."

Keadaan menjadi kikuk setelah Seungkwan tidak sengaja menyela perbincangan antara ibu dan anak di kamar Vernon. Begitu sadar bahwa Seungkwan masuk di waktu yang salah, ia buru-buru memutar tubuhnya dan melangkah jauh dari kamar Vernon, tapi sang ibu memanggil dan membuat Seungkwan membeku di tempat.

"Seungkwan!"

"Ne?"

Sang ibu tidak menjawab lagi dan mengalihkan perhatian kepada Vernon. "Pokoknya harus semangat, ya? Eomma sayang padamu."

"I love you too, mom."

Nyonya Chwe memberikan sebuah kecupan ringan di dahi Vernon lalu keluar dari kamar anaknya, menghampiri putranya yang tengah berdiri agak jauh dari ambang pintu.

"Seungkwan, kau sudah bisa masuk ke kamar Vernon."

"Uh uh... g-gwenchana, aku seharusnya-"

"Kami benar-benar sudah selesai." jawab sang ibu dengan begitu lembut. "Sana! Bantu Vernon mempersiapkan dirinya untuk besok."

Seungkwan terdiam sejenak lalu mengiyakan perintah sang ibu dengan ragu-ragu. Ia berjalan lagi ke kamar Vernon, tapi kali ini sambil memastikan bahwa Vernon benar-benar sendirian.

Tok! Tok!

Seungkwan mengetuk pintu kamar Vernon, meskipun pintu kamarnya terbuka begitu lebar hingga ia dapat melihat Vernon yang tengah termenung sendirian di dalamnya.

"Masuk saja!" Vernon tertawa.

"Mianhae, aku tadi tidak bermaksud-"

"Gwenchana, Seungkwan. Tadi kami tidak membicarakan hal yang serius kok." jawab lelaki berdarah campuran itu. "Sini! Tutup pintunya!" Tangan Vernon menepuk-nepuk kasur yang ia duduki, menyuruh Seungkwan untuk datang dan duduk di sampingnya.

"Ini..." Seraya menutup pintu dan menghampiri saudaranya, di bahu Seungkwan ada sebuah tas ransel berwarna hijau tentara dengan sebuah label bertuliskan 'Jansport' di permukaan bagian depan. Ditaruhnya tas itu di atas tempat tidur Vernon. "Aku sudah menyiapkan segala keperluanmu untuk besok." Seungkwan membuka resleting dari tas ransel itu dan mengeluarkan berbagai macam alat tulis dari dalamnya, lengkap. "Pokoknya semuanya lengkap, kau hanya tinggal menggunakannya saja dengan baik."

"Apa punyaku sama seperti yang Sofia punya?"

"Iya... relatif sama, hanya saja yang punya dia lebih feminin. Kau mau punya yang lebih feminin?"

Keduanya tertawa bersamaan.

"Aku juga menyiapkan beberapa buku untukmu, seandainya besok kau perlu menulis sesuatu, kau tidak perlu minta kertas dari orang lain." Seungkwan melanjuti. "Besok mungkin kau hanya akan melakukan perkenalan, menulis jadwal pelajaran, intinya besok tidak akan ada hal yang sulit. Kalau ada apa-apa, kau bisa temui aku di jam istirahat."

Vernon menggigit bibir bawahnya dan menatap Seungkwan dengan begitu dalam. "Aku gugup." katanya.

"Tahu, tapi kau harus percaya bahwa segalanya akan berjalan dengan baik. Berpikir positif saja."

"Apa kau pikir aku akan mampu untuk membangun sebuah pertemanan?"

"Tentu saja. Aku yakin mereka semua akan menyukaimu."

Selalu ada senyuman di setiap kali Seungkwan berbicara, itu adalah ciri khas dari dirinya: tersenyum dan menyebarkan aura positif meski suasana hatinya tidak sebaik apa yang wajahnya tampilkan. Begitu juga untuk kali ini, hanya saja Seungkwan lebih percaya diri untuk menyurutkan senyuman dari bibirnya sambil pura-pura sibuk dengan alat sekolah milik Vernon.

"Ada apa?" tanya Vernon ketika mulai merasakan adanya hal ganjil yang terjadi kepada Seungkwan.

"Mmm, tidak apa-apa."

"Wae?" Vernon maju sedikit agar lebih dekat dengan Seungkwan. "Katakan padaku!"

"Gwenchana, aku hanya merasa ada yang kurang saja di kotak pensilmu."

Sontak Vernon menyingkirkan tas ransel beserta seluruh alat tulisnya dari tangan Seungkwan, seakan ia lupa bahwa besok adalah hari pertamanya pergi ke sekolah. Namun, hari pertama tidak akan pernah menjadi sespesial orang pertama yang membuatnya jatuh cinta.

"Ada apa?" tanya Vernon lagi, kali ini jauh lebih intens seraya menggenggam tangan Seungkwan erat.

"Tid-"

"Boo," sela Vernon, "jangan bohong! Ayo, katakan saja!"

Seungkwan merapatkan matanya kuat-kuat selama beberapa detik, menghembuskan napas seakan ia baru saja menelan beban ke dalam tubuhnya dan mulai kembali fokus kepada sang pujaan hati di depan mata.

"Di SMA nanti kan banyak perempuan..." Seungkwan terlihat ragu-ragu. "Kalau nanti kau tertarik atau mulai suka kepada salah satu dari mereka, kau boleh bilang padaku. Kita bisa akhiri hubungannya."

"Kau minta putus?"

"Bu-bukan! Aku hanya bilang kalau... kalau nanti kau mulai menyukai seseorang di sekolah, kau boleh bilang padaku, atau kalau misalnya kau mau putus denganku karena jatuh cinta dengan seorang gadis, kau boleh mengatakannya kepadaku."

"..."

"Di SMA kan perempuannya cantik-cantik, apalagi wajahmu tampan seperti ini, siapa yang tidak mau?" wajah Seungkwan tenggelam perlahan.

Tanpa disadari, Vernon yang daritadi kelihatannya bingung, ternyata tersenyum melihat tingkah lucu kekasihnya itu, yang malu-malu dan kehilangan percaya diri sekaligus.

"Boo," tangan Vernon merangkul pinggul Seungkwan sepenuhnya, "aku mencintaimu, tahu tidak?"

"Tahu..." Seungkwan membuat pout di bibir, "tapi kan... entahlah, yang penting aku sudah mengatakannya kepadamu."

"Mmhh," Vernon menaruh dagunya di bahu sang pujaan hati, "cemburu, hm?"

"Ya... kalau kau memang melakukannya, aku pasti cemburu, tapi mudah-mudahan aku kuat kok."

"Kau bicara apa, sih? Siapa yang mau jatuh cinta kepada orang lain?"

"Vernon, kau tidak mengerti-"

"Apa yang tidak kumengerti?"

"Mungkin sekarang kau bisa mengatakan bahwa kau tidak akan jatuh cinta kepada siapapun karena yang ada di hadapanmu ini hanya aku, tapi kau tidak tahu bahwa di luar sana ada sejuta perempuan yang dapat menarik perhatianmu. Kau tahu... perempuan itu adalah makhluk yang indah, mereka punya banyak sekali kelebihan, apalagi jika dibandingkan denganku."

"Boo," Vernon angkat bicara lagi, "kau ingat kejadian kita yang waktu itu?"

"...hm?"

"Pillowtalk?"

"Oh..." Seungkwan mengangguk malu-malu. "Ne, aku ingat."

"Kita sudah melakukannya dan kurasa aku tidak punya alasan untuk jatuh cinta kepada orang lain, tidak semudah itu meninggalkanmu setelah apa yang kita lakukan."

"Bicara itu mudah, Vernon." Seungkwan mencoba untuk tersenyum. "Apapun yang terjadi nanti, aku ingin kau bicara tentang apapun sejujurnya kepadaku, baik itu soal percintaan atau bukan."

"I will." Vernon mengangguk di bahu kekasihnya.

"Yah... itu saja, pokoknya kau tidak perlu khawatir, besok akan baik-baik saja."

"Boo." ujar Vernon manja seraya menggenggam tangan Seungkwan seakan ia tidak akan pernah melepasnya lagi. "I love you."

"I love you too, Vernon."

Ketika Seungkwan akan bangkit, Vernon seakan tidak mengizinkannya untuk pergi satu langkah pun. Vernon menarik tangan Seungkwan, memerintahkannya untuk menetap di sana tanpa kata-kata. Seungkwan pun dengan 'terpaksa' harus duduk menatap mata kekasihya yang berwarna cokelat terang seperti perunggu yang berkilau.

"Jangan pikirkan yang macam-macam! Kalau aku mencintaimu, artinya aku mencintaimu." tutur Vernon, pelan sekali sampai Seungkwan menganggapnya sebagai suatu bisikan merdu.

Sepertinya Vernon sudah lama menginginkannya sampai ia harus melakukannya sekarang. Tangannya meraup pinggang Seungkwan dan mendorong wajahnya sendiri sampai bibirnya dapat menyentuh bibir tipis Seungkwan yang manis.

Ciuman yang membawa mereka larut kepada sebuah kepercayaan yang mengatakan bahwa cinta di antara mereka memang benar-benar terjalin dengan kuat. Lumatan perlahan seakan menyetrum tubuh mereka dari ubun-ubun hingga ke ujung ibu jari kaki, entah bagaimana tapi rasanya sangat hangat dan membuat candu. Sedikit lebih romantis daripada ciuman pertama mereka, tapi sensasinya tidak kalah menggetarkan perasaan masing-masing, masih dahsyat mempercepat detak jantung.

Seungkwan mengalungkan tangannya di seputar leher Vernon, menarik tubuh sang adam berdarah campuran agar dapat menciumnya jauh lebih dalam.

Otak Seungkwan mungkin tidak sanggup lagi untuk berpikir, bahkan untuk hal-hal yang sederhana saja. Vernon sudah menginvasi segala bagian darinya, baik fisik dan batin, mengasumsikan bahwa apa yang ada dalam dirinya hanya bisa dimiliki oleh seorang Chwe Vernon. Terlalu cepat, tapi rasa cinta manusia muda memang tidak mengenal waktu dan rasionalitas.

Nyaris kehilangan napasnya, Seungkwan melepas perlahan ciuman manis mereka, meski Seunkwan sendiri belum mau mengakhirinya.

"Neo naekkoya." bisik Vernon.

"Eottae? Bagaimana caranya bisa kau mengklaim bahwa aku ini milikmu?"

Jakun Vernon bergerak bersamaan dengan bola matanya, menunjukkan bahwa ia baru saja menelan salivanya seraya memperhatikan setiap inci dari kulit Seungkwan.

"Begini?"

Tanpa ada peringatan apapun, bibir Vernon menjurus ke arah leher sebelah kiri Seungkwan dan 'tega'nya menggigit kulit tipis itu bagai tanpa ampun sampai Seungkwan nyaris menjerit. Terpaksa Seungkwan menarik lengan baju Vernon dan menggigitnya sambil menjerit sepelan mungkin demi melampiaskan rasa sakit, tanpa harus dicurigai oleh orang yang berada di luar kamar.

"Wae...?" rintih Seungkwan. "Kenapa kau menggigitku seperti itu?"

Vernon menjilat bibir atasnya lalu membersihkan saliva yang tersisa di leher Seungkwan. "Nanti ada bekasnya, itu akan menjadi tanda bahwa kau adalah milikku. Mengerti?" sahutnya pelan.

"Tapi sakit."

"Kalau ada yang tanya, bilang saja kau terbentur rak tajam yang ada di kamarmu itu, ya? Harus agak dramatis saat menjelaskannya."

"Ish..."

"Gwenchana, aku lebih baik menyakitimu seperti ini daripada menyakiti hatimu."

"Apa... aku boleh melakukannya terhadapmu juga?"

Vernon tiba-tiba menjenjangkan lehernya. "Buat tanda sebanyak mungkin!"

"Tapi rasanya sakit sekali tahu!"

"Wae? Aku juga mau dimiliki Boo Seungkwan... my Boo." sejak mereka menjalin hubungan yang lebih dari sekedar adik-kak, Vernon sering memainkan nama Seungkwan, apalagi nama marga yang Seungkwan miliki sebelum berubah menjadi Chwe, bagi Vernon itu bukan hanya nama marga biasa yang unik, tapi juga suatu panggilan sayang yang berharga.

"Vernon, kau tahu seberapa dalam aku jatuh hati kepadamu? Apa yang telah kau lakukan?"

"Seberapa dalam, hm?"

"Entahlah... lebih dalam daripada saat kita melakukan pillowtalk."

"Ayo!" Vernon membuka kaosnya begitu saja dan jadilah seorang Vernon yang telanjang dada. "Kita pillowtalk lagi." Tatapan kedua mata itu menggoda Seungkwan sampai ke titik terlemahnya.

Seungkwan tak sanggup menahan dirinya, tapi sebisa mungkin untuk tidak terbuai dengan godaan Vernon yang sebetulnya tidak pernah meleset itu. Sampai Seungkwan harus meremas celananya sendiri dan lupa caranya untuk berkedip, itulah kekuatan tatapan mata Vernon, manusia keturunan Adam yang paling sempurna di mata Seungkwan. Hanya dengan tatapan dalam dan mengantuk itu, Seungkwan dapat mengingat setiap bait dari lagu Pillowtalk yang waktu itu mengiringi momen keintiman terbaik mereka.

Diam, tapi raut wajah Seungkwan sangat mudah dibaca dan mengatakan bahwa ia mau untuk melakukan 'pillowtalk' lagi dengan kekasihnya.

"Aku..." suara Seungkwan bergetar. "Aku kunci pintunya dulu."

Vernon mengeluarkan senyuman jahilnya dan mulai berimajinasi liar sambil bertanya kepada dirinya sendiri: kali ini, harus mulai dari mana?

x

x

x

x

x

And if in the moment you bite your lip

When I get you moaning you know it's real

Can you feel the pressure between your hips?

I'll make it feel like the first time

x

x

x

x

x

"Uhhh..." kepala Vernon jatuh menatap lantai, tak sanggup melihat ke depan dan menyaksikan apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa yang akan datang-detik yang akan datang pun sepertinya sulit untuk diterima. Berkali-kali menelan saliva dan menahan napas tidak membuat jantungnya berdetak lebih tenang, tidak membuat peluhnya berhenti bercucuran membasahi tengkuk dan kerah kemeja seragam sekolahnya yang sudah dicuci dengan bersih sempurna.

Hari pertama Vernon masuk ke SMA, sekaligus hari pertamanya pergi ke sekolah dalam tujuh belas tahun ini. Tentunya hari ini akan menjadi sebuah memori terbaik bagi Vernon karena akhirnya dia bisa merasakan kehidupan remaja pada umumnya, yang semestinya, hidup yang selama ini ia damba-dambakan.

Memang tidak mudah. Banyak sekali hal yang Vernon khawatirkan. Adaptasi adalah kesulitan yang nomor satu karena selama hidupnya ia berdiam diri di dalam rumahnya, tidak mengetahui segala sesuatu yang terjadi di luar pagar rumah lamanya yang tinggi dan megah itu. Namun detik ini juga Vernon akan mengetahui betapa dunia ini memiliki milyaran kisah yang tentunya memiliki cita rasa tersendiri.

Di depan ruang guru, Vernon berdiri bersamaan dengan rasa gugupnya yang tidak kunjung membaik, menunggu kedua orang tuanya yang masih berada di dalam guru melakukan diskusi tentang anak mereka.

Tiba-tiba seseorang berlari menuju ruang guru dari ujung lorong, sosoknya begitu familiar di mata Vernon sampai senyuman timbul di bibir.

"Eottae?" suara Seungkwan yang merdu akhirnya menyembuhkan perasaan gugup Vernon, meskipun hanya beberapa persen.

"Kenapa kau di sini? Ini kan sudah jam pelajaran, kau seharusnya berada di dalam kelas."

"Wae? Aku kan cuma mau menyemangati saudara kembarku-"

"Dan pacarmu." tambah Vernon dengan bangga. Mereka lalu melakukan acara saling menatap mata untuk beberapa lama, sekiranya itu memeberikan Vernon aura positif yang dapat meredakan badai di dalam dirinya. "Terima kasih, ya. Kau benar-benar sumber semangat utama bagiku. Jangan lupa cintai aku!"

"Fighting!" sebuah kecupan singkat mendarat di pipi sebelah kiri Vernon. "Kalau ada apa-apa, panggil aku di jam istirahat, oke?"

"Arraso."

"Aku kembali ke kelas dulu. Saranghae, Vernonnie." setelah pertemuan beberapa menit yang berharga itu, Seungkwan berlari lagi dan berintensi untuk kembali ke kelasnya.

Menyadari bahwa dirinya dan Seungkwan berada di kelas yang berbeda menimbulkan kecemasan tersendiri, tapi Vernon tahu bahwa ia harus bisa melalui segalanya bersama teman-teman yang baru. Karena tujuannya pergi ke sekolah umum bukan hanya untuk sekedar menuntut ilmu, tapi belajar untuk mengenal insan-insan lain yang belum pernah ia temui.

Kedua orang tua Vernon dan seorang guru keluar dari ruangan.

"Vernon, ayo kita pergi ke kelasmu." kata seorang wanita yang tampaknya adalah seorang guru atau walikelasnya yang baru.

Vernon menatap kedua orang tuanya, bertanya-tanya apakah pergi ke sekolah umum merupakan keputusan yang terbaik.

"Belajar dengan baik, ya! Kami tahu kau bisa melakukannya." tutur sang ayah.

"Baik-baik di kelas!" ibunya melanjutkan, matanya seakan takjub melihat anak sulungnya terlihat begitu tampan dengan seragam sekolah SMA yang lengkap. Untuk pertama kalinya.

"Vernon, kau siap?"

Dagu Vernon terangkat gagah. "Ne."

"Baiklah. Tuan, Nyonya, terima kasih karena sudah mempercayakan putra anda di sekolah kami."

"Mom, dad, aku ke kelas dulu, ya."

Cukup seperti itu ucapan perpisahan mereka. Wanita itu membawa Vernon ke lantai dua dari gedung dan memasuki pintu kedua dari tangga.

Kelas XI-B. Mata Vernon langsung terfokus ke papan label kelas yang menggantung di atas pintu kelas yang ia masuki.

Beberapa bulan yang lalu seluruh keluarga Chwe pindah rumah ke tengah kota Seoul demi mendapatkan suasana dan juga aura hidup yang lebih baik, mereka melakukannya demi kebaikan dan perkembangan ketiga anak mereka. Setelah pindah ke rumah yang baru, Vernon menjalankan terapi rutin selama beberapa bulan di rumah sakit untuk menghilangkan trauma berat yang ia alami akibat kematian profesor Choi, sementara Sofia sudah masuk ke sekolah dasar umum terlebih dahulu tepat setelah pindahan mereka dan Seungkwan pergi ke sekolah seperti biasanya. Sebulan yang lalu, Vernon melakukan ujian tertulis di sekolah itu untuk melihat kemampuan intelektual dan akademik Vernon yang sekiranya harus mencapai nilai minimum agar bisa masuk ke sekolah itu. Seminggu setelah ujian tertulis, ia mendapatkan surat dari pihak sekolah bahwa Vernon akhirnya lulus ujian tertulis dengan nilai yang sangat memuaskan. Hari ini, Vernon resmi menjadi siswa SMA yang sangat ternama di kota Seoul.

Ketika memasuki kelas, lutut Vernon rasanya akan jatuh saat itu juga. Matanya menangkap mata-mata lain yang melihatnya seakan Vernon adalah alien yang turun ke bumi, sangat asing dan juga tidak nyaman. Kini bebannya tidak hanya terasa di punggung akibat tas ransel, tapi juga kecemasan berlebih. Vernon memutuskan untuk berdiam di depan kelas, menghadap kurang lebih sekitar dua puluh siswa-siswi yang akan menjadi teman satu perjuangannya selama satu semester ke depan.

Tidak pernah Vernon sangka bahwa hari ini akan benar-benar terjadi kepadanya. Melihat semua wajah-wajah baru itu membuat Vernon merasa bahwa ia sepenuhnya berada di dalam dunia yang baru.

"Semuanya, hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Vernon." masih kata ibu guru yang tadi. "Venon, ayo perkenalkan dirimu!"

Bahu Vernon merosot, tapi bukan karena dia menyerah untuk menatap hari ini lebih jauh, tapi karena ia punya semangat yang membuat batinnya jauh lebih rileks, sebuah visi yang membawa sebuah keyakinan bahwa akan ada hari di mana ia bisa menjadi sosok manusia yang lebih baik daripada sebelumnya.

"Annyeong haseyo." Vernon membungkuk sembilan puluh derajat kepada teman-temannya. "Namaku Hansol Vernon Chwe."

Si remaja tangguh dan luar biasa yang hidup di dunia ini, Hansol Vernon Chwe.

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

I wrote this fanfiction with all my love to the precious person named Hansol Vernon Chwe, to his best friend named Boo Seungkwan that claimed as the closest person to Vernon, to Seventeen's members who actually will never read this fanfiction but still can feel the fans' love. And the most important of all, to his fans who always love him without any hasitate and doubt, that always support him through no matter what as long as they can, those who never give up for giving all their love for Vernon and his band mates. To my readers.

I never thought I would write this fanfiction and received lots of love from readers, this might be the most loved fanfiction by me after Annoying Senior (or reversed). Seriously, all I thought while writing this fanfiction was only the perfections of a Hansol, my first and always be ultimate bias in Seventeen since their pre-debut era and the VerKwan fever that readers spread that gave me so much energy to keep writing T_T

There are a lot of better VerKwan or Seventeen fanfictions than this and this might be overboard, but I seriously love this fanfiction although I was the one who wrote this *cries*.

That was the ending of 'The Chwe', thank you for everyone who has been supported me since the first time I wrote this fanfiction HAHA I'm so sad that this is really the end. Once again, this fanfiction might be imperfect, boring, senseless, insane and more negative thing that possibly define this fanfiction. I've tried by best and I'm still trying to be better. I need your support.

Kalian boleh request OTP favorit kalian, mungkin siapa tau author bisa nulis lagi kapan-kapan kalau ada waktu. Kritik dan saran juga sangat dibutuhkan untuk perkembangan author dalam menulis FF haha. Doakan saja saya bisa menjadi author sekaligus pembaca aktif di sini. Author juga minta saran ke kalian, apakah author musti sesekali nulis FF straight atau terus lanjut saja dengan FF boyxboy, semuanya bisa ditulis di section review, terserah, hak kalian untuk mengeluarkan suara. Sekali lagi, author minta dukungannya.

MAKASIH AKU CINTA KALIAN.

[ VERKWAN FOREVER ]

- END -