Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.


The Black Queen 2

Chapter 10

The Girl Behind The Bar


Suasana sudah mulai kacau semenjak Lucius menjejakkan kaki lagi ke Hogwarts. Dan Narcissa, sudah pasti ikut terlibat.

Masalahnya. sebersih apapun catatan Lucius dan teman-temannya dari pemeriksaan Kementerian, entah bagaimanapun mereka mengatasinya, tidak bisa melepas fakta bahwa mereka datang ke teritori Dumbledore. Dan yang terpenting, mereka tidak masuk tahun ajaran baru tepat waktu.

"Hanya sedikit pembicaraan, Lucius. Ini demi kau juga... Kepala Sekolah marah dan berkeras kau harus ikut aturannya..."

Slughorn terengah-engah saat membicarakan ini dengan Lucius di depan ruang rekreasi mereka. Jelas dia berharap Lucius dan kawan-kawan tidak kembali sekalian saja, untuk mempermudah masalah.

"Persetan dengan Dumbledore!" gertak Lucius. "Saya sudah membereskan semua dengan dewan sekolah. Mereka yang menentukan apakah kami dihukum atau tidak. Keduabelas orang itu sudah oke-oke saja kami masuk kembali..."

"Tentu mereka oke-oke saja!" kuak Slughorn, sekarang mulai panas. "Mereka ada dalam saku Abraxas! Tetapi kau harus tetap melewati Dumbledore. Dan dia tidak seperti anggota dewan. Ini untuk mempermudah segalanya, aku akan pastikan dia bisa melunak sedikit... Cissy, betulkan? Yakinkan Lucius!"

Narcissa kaget tiba-tiba dimintai pendapat. Di hari lain, biasanya dia hanya akan memarahi Lucius karena bodoh sekali menantang kepala sekolahnya sendiri, saat dia masih menjadi muridnya. Tetapi Lucius sudah menahan Narcissa dengan rangkulan pada bahunya sebelum Narcissa sempat bereaksi.

"Besok kalau begitu... Kami lelah dan ingin beristirahat..." putus Lucius dengan nada disopan-sopankan.

Slughorn tampaknya ingin membantah tetapi tidak jadi. Akhirnya setelah menggumamkan sesuatu tentang 'pensiun dini', dia beringsut menjauh.

"Kita harus menyamakan alasan, kalau begitu..." kata Lucius berbalik untuk menghadapi yang lain yang sejak tadi diam saja di belakang Narcissa dan Lucius.

"Kupikir semua sudah baik-baik saja!" protes Evan.

Ada luka di atas alisnya yang tampaknya akan berbekas seumur hidup. Narcissa belum pernah melihat itu sebelumnya. Mungkin akibat dari serangan muggle yang lalu.

"Kita akan samakan alasan!" gertak Lucius.

"Ini gara-gara kau, Black!" Evan menatap Narcissa dengan sadis. "Kalau saja kau tidak kabur kemari dan berteriak-teriak bagai orang gila. Semua akan baik-baik saja. Dasar wanita lemah!"

"Evan!" sentak Lucius, tapi lalu dia menarik nafas dalam-dalam. "Kembali ke ruang rekreasi, kalian. Kita akan bicarakan untuk selanjutnya."

Evan tampaknya belum puas memaki, tetapi dia akhirnya ikut pergi dengan kawanannya yang juga menggerutu. Meninggalkan Narcissa dan Lucius yang masih mencengkeram bahunya.

Narcissa mendongak menatapnya. Tetapi Lucius tidak berkata apa-apa melainkan terus menatap ke kawanan yang menjauh. Tidak ada bekas luka pada wajah Lucius. Tapi Narcissa tahu betul Lucius sedang meredam kemarahannya pada Narcissa karena tiba-tiba lari dan tidak mau pulang. Seperti apa yang diteriakkan Evan padanya. Memberi kecurigaan pada apapun yang mereka lakukan.

Narcissa menunduk dan ikut berjalan ke ruang rekreasi. Dia tidak dalam posisi bisa menolak apapun...

.

.

.

Pagi yang dingin berselimut kabut mengawang di jendela di kantor itu. Awan-awan berarak dikejauhan, menghadang pantulan sinar matahari yang menyilaukan. Warna kebiruan langit yang pucat, sama pucatnya dengan Narcissa sendiri.

Narcissa duduk di kursi berlengan dengan kepalan tangan yang basah oleh keringat. Sejauh ini dia hanya sekali menoleh ke jendela, sisanya dihabiskan dengan menatap lututnya.

Burung phoenix yang merah kurus itu berkuak mengagetkan Narcissa, lalu Dumbledore yang dibingkai jendela itu mulai bicara.

"Kau mengalami tahun yang sibuk, Miss Black..."

Narcissa memberanikan diri menatap ke wajahnya.

Tahu bahwa Narcissa adalah salah satu yang akan ditanyai karena kedekatannya dengan Lucius dan masalah datang-tiba-tiba-ke-perapian-Slughorn-dan-menjadi-gila, sejak semalam Narcissa tidak bisa memikirkan apapun selain dinding batu-bata. Lucius dan kawan-kawan tampaknya tahu dari Tuan mereka, bahwa Dumbledore punya keahlian Legilimens, pembaca-pikiran. Mereka belajar dengan susah payah untuk menutup pikiran mereka.

Dan pertahanan Narcissa kini hampir runtuh ketika memaksakan diri menatap mata biru dengan bingkai bulan-separo tersebut.

"Ya, saya pikir demikian..." komentar Narcissa datar.

"Seseorang tidak bisa menampung semua masalah sendirian. Dan, kalau melihat apa yang terjadi di kantor Profesor Slughorn pada malam sebelum tahun ajaran dimulai kemarin..." Dumbledore berhenti dan ini kode untuk Narcissa melihat kemana saja selain mata Dumbledore. "... bisa dibilang sangat memprihatinkan..."

"Saya baik-baik saja, Sir... Anda tidak usah khawatir..."

"Kau terus mengoceh tentang muggle dan kami semua tahu Orion dan Walburga Black, paman-bibimu, tinggal di Grimmauld Place, tempat serangan itu terjadi..."

"Saya ada pada tempat yang salah!" tegas Narcissa.

"Juga pada waktu yang salah selama ini? Hogwarts tidak terlalu tenang saat ini. Kau tahu, bukan? Dan kau juga tampak selalu ada saat itu..."

"Saya tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu!" gertak Narcissa. Lupa untuk memikirkan tembok batu-bata saat mendengar tuduhan Dumbledore.

"Ya, aku mungkin tahu, Miss Black. Kau hanya bergaul dengan anak-anak yang salah..." kata Dumbledore kalem.

Narcissa ingin sekali berteriak mengiyakan, menyelamatkan dirinya. Kemudian dia teringat Lucius, dan apapun yang mereka lakukan malam Natal yang lalu, yang akan mengikat mereka selamanya. Dipaksakannya untuk memikirkan tembok batu-bata kembali.

"Kericuhan yang terjadi hari-hari sebelumnya di Grimmauld Place memang sangat parah. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk keluar rumah. Akibatnya jadi begini. Saya dikejar mereka, lolos, dan langsung melarikan diri. Lupa bahwa mereka muggle dan tidak dapat menembus pertahanan sihir rumah Paman saya. Saya langsung masuk Floo ke Hogwarts, refleks, menganggap itu tempat teraman. Dan terjadilah kejadian malam itu karena saya amat shock..."

Terlalu banyak kekosongan yang tidak bisa ditutupi dalam cerita ini. Dan Dumbledore tidak akan disebut-sebut sebagai penyihir hebat kalau dia tidak bisa mengetahui rencana anak belasan tahun. Tetapi Narcissa hanya bisa membicarakan tentang kejadian di malam itu sebelum Dumbledore menggerecokinya kejadian malam-malam jauh sebelum liburan Natal mereka.

"Kau tahu aku bisa membantumu, bukan?" tanya Dumbledore, sekarang mencondongkan tubuhnya menyeberangi meja. "Aku tahu kau dekat dengan Profesor Spages..."

Narcissa menarik nafas kuat-kuat, tetap memikirkan tembok batu-bata.

"Terima kasih... Tetapi saya baik-baik saja..."

Dumbledore akhirnya mempersilakan Narcissa keluar setelah itu. Narcissa baru akan keluar dari pintu kayu saat tangga berputar menghampirinya, ketika Dumbledore bicara lagi,

"Kau lari ke Hogwarts, menganggap ini tempat teraman lebih dari rumahmu sendiri... Dan tempat ini memang akan selalu kujaga keamanannya, bahkan..."

Ada jeda yang membuat Narcissa menoleh kembali ke belakang.

"... bahkan dari Tom Riddle sendiri... Ah... Aku percaya ada yang menyebutnya Lord Voldemort... Dan, katakan padaku, Miss Black, bagaimana tempat ini masih akan aman apabila ada yang mencoba merusaknya dari dalam?"

"Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud, Sir... Saya tidak tahu apa-apa..."

Narcissa mengangguk sedikit dan segera menaiki tangga berjalan tersebut, yang akan mengantarnya ke bawah. Narcissa mendongak menatap langit-langit sementara matanya kini berkaca-kaca, berharap dia tidak perlu memikirkan tembok batu-bata lagi dan bisa menerima tawaran Dumbledore...

.

.

.

Hari-hari berikutnya sama sepi dan sama menyedihkan bagi Narcissa. Lucius dan kelompoknya merayakan keberhasilan mereka masuk Hogwarts kembali tanpa ada hukuman apapun.

Terlalu banyak cerita, terlalu banyak uang suap, terlalu banyak ancaman, dan terlalu sedikit bukti.

Bahkan Dumbledore yang hebat pun tidak berkutik.

Kelihatannya dia saat ini tidak berkutik...

Tetapi Narcissa jadi terus memikirkan apa yang telah Dumbledore katakan. Bahwa tidak ada keuntungan yang akan Narcissa dapatkan kalau berpihak pada orang yang berencana menghancurkan Hogwarts dari dalam, dan bagaimana Dumbledore berencana melindungi sekolahnya itu. Hati kecil Narcissa berharap supaya bagaimanapun itu, Dumbledore berhasil...

Semurni apapun darahnya, sekuat apapun pengaruh keluarganya, sekuat apapun Lucius berjanji melindunginya, Narcissa tetap tidak tahu harus pergi kemana, kalau dia sendiri menghadapi kejadian seperti malam itu di Grimmauld Place.

Jadi, Narcissa bangun setiap pagi, merasa kosong. Ketiga temannya bahkan tidak berani untuk bergabung dengannya yang selalu dipaksa duduk dekat Lucius dan kelompoknya. Lucius tampaknya menyadari Narcissa dan teman-temannya sedang ada masalah. Dan menyadari bahwa Narcissa sedang sedih hati. Tetapi kemudian memutuskan pertengkaran para gadis dan perasaan sebenarnya dari tunangannya sendiri hanya akan membuang waktunya.

Lalu, disanalah Narcissa, terikat dengan Lucius, ada disampingnya setiap saat, tersenyum sampai pipinya pegal mendengar kesombongan saat mereka mengacau dan kabur dari hukuman. Mendukung mereka dalam setiap hal bodoh yang mereka lakukan.

Satu-satunya yang menarik perhatian Narcissa adalah pelajaran apparationnya. Robert Twycross kini menganggap Narcissa anak kesayangan. Narcissa telah berhasil pindah ke hulahopnya sendiri, walaupun itu membuatnya muntah-muntah setelahnya. Si instruktur memutuskan mereka yang sudah berhasil bisa mengikuti latihan sebenarnya di Hogsmeade, beberapa kali sebelum ujian mereka di bulan Juli.

Beberapa anak sama berhasil dan sama muntah-muntahnya dengan Narcissa sewaktu mereka pertama kali berhasil. Jadi, Narcissa duduk di lantai batu di seberang toilet untuk menunggu saking penuhnya toilet. Dia merenungi nasibnya sementara baik tangan maupun perutnya bergetar karena mual.

Narcissa tidak menyadari semenyedihkan apa keadaannya saat ini kalau saja sudut matanya tidak menangkap Spages di ujung koridor.

Narcissa sama sekali tidak pernah mendapat kesempatan berbicara lagi dengan Spages semenjak Narcissa mengantar ke kencan pertamanya dengan Auror-magang yang bahkan namanya pun Narcissa sudah lupa.

Dia juga telah melepas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam karena Lucius yang menyuruhnya.

Narcissa berusaha untuk tidak memprotes dan terus-menerus mengingatkan diri, bahwa saat ini, lebih sedikit dia berurusan dengan Auror, magang ataupun tidak, lebih baik.

Narcissa baru menyadari bahwa dia amat kehilangan Spages saat dia melihat Spages berjalan ragu-ragu kearah Narcissa. Tangannya saling terkait.

Narcissa bangkit dan melihat betapa Spages telah berubah. Rambutnya kini panjang lurus, wajahnya bersinar dengan riasan tipis-tipis menyapu wajahnya. Dan dietnya pasti berhasil... Dia terlihat lebih tirus saat ini.

Tidak perlu mengatakan kalau hubungannya dengan si Auror-magang berjalan lumayan lancar. Spages mengingatkan Narcissa pada Andromeda di hari pernikahannya.

Mereka mendekat tetapi mungkin karena terlalu lelah berdiet atau terlalu takut untuk menemui Narcissa yang sedang terlibat masalah atau entah mengapa, Spages kelihatan ragu dan kesulitan memandang wajah Narcissa.

Akhirnya Narcissa memutuskan untuk memulai. Dan Spages pun sama.

"Alice, aku..."

"Cissy..."

Mereka berbicara berbarengan. Tapi ada yang menghentikan Spages karena dia menoleh ke atas bahu Narcissa dan seketika mulutnya tertutup rapat.

Narcissa berbalik dan mendapati Lucius berjalan ke arah mereka, mirip kelelawar raksasa.

"Cissy, ayo. Kami membutuhkanmu..."

Lucius tampak tidak kaget melihat Spages. Seolah dia bisa menebaknya.

"Profesor..."

Lucius mengangguk pada Spages dengan akting kesopanan yang jelas dibuat-buat. Spages, seperti pemalu pada umumnya, wajahnya memerah. Tapi alih-alih kembali mengangguk, dia langsung berbalik tanpa kata.

Narcissa menatap punggung Spages yang berjalan menjauh dengan buku-buku jari Lucius mencengkeram bahunya.

"Darah-lumpur..." desis Lucius. "Tahu diri juga akhirnya..."

"Tolong, dia..." potong Narcissa mulai terganggu.

"Guru slash sahabatmu? Sungguh mengharukan... Ayo, anak-anak lain menunggu di ruang rekreasi."

Narcissa ingin memberontak, tetapi kemudian mengalah. Dia mengikuti Lucius, sementara otaknya berputar tentang Spages, dan apapun yang ingin dikatakannya, jauh dari pendengaran Lucius...

.

.

.

Tahun-tahun berikutnya Narcissa akan merasa aneh dia bisa mengerjakan ujiannya dengan lancar di tengah tekanan dan kesendiriannya. Mantra non-verbal tidak menyulitkannya, begitu juga teori lainnya.

Tetapi hanya satu yang disesali Narcissa. Mantra Firestrom untuk mengusir inferi dan Patronus yang dijanjikan Spages kepada murid-murid kelas enam. Sekarang Narcissa sama sekali tidak akan pernah bisa mempelajarinya.

Dia menatap penuh iri saat anak-anak kelas enam Ravenclaw yang dulu pernah menghinanya tidak akan pernah bisa menjuruskan mantra Patronus karena bukan orang 'baik-baik', berlatih menghasilkan sesuatu yang berwarna keperakan dengan sekuat tenaga di meja makan. Walaupun hanya berupa cercahan-cercahan, cahaya itu tampak menenangkan...

Narcissa mengalihkan diri dari pemandangan ini. Karena dia tidak mengambil Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, besok dia sudah akan bebas dari semua ujiannya...

"Seragam Auror? Ada apa?" bisik Evan entah kepada siapa di meja makan, memutus lamunan Narcissa.

Semua kepala berpaling ke pintu Aula Besar. Benar saja, dua orang pria berseragam Auror Kementerian dan dua orang lainnya yang sepertinya asisten mereka, berjalan dengan Dumbledore di depan.

Lucius dan semua kelompoknya tampak gundah, walaupun mereka belum melakukan apa-apa lagi karena harus fokus juga pada ujian jika ingin lulus.

Beberapa anak-anak bubar sementara Narcissa masih memainkan saladnya tanpa semangat. Hanya tinggal beberapa hari lagi dan dia akan meninggalkan Hogwarts. Terkurung dalam rumahnya karena Lucius pasti akan melarangnya mengikuti. Narcissa sama sekali tidak tahu bagaimana reaksi ayah dan ibunya saat ini. Mereka belum mengiriminya surat lagi. Dan Narcissa setengah yakin mereka marah, menganggapnya anak durhaka seperti Andromeda. Narcissa berpikir kembali tentang apparate. Mungkin setelah lulus, dia akan punya lisensi yang membebaskannya pergi kemanapun dia mau...

Ya, itu akan tampak sangat menyenangkan. Setidaknya akan mengobati ketidakmampuannya mengusir Dementor karena tidak bisa Patronus...

"Cissy, ikut aku sebentar..."

Itu Slughorn menghampirinya, dia tampaknya baru setengah menyelesaikan makan malam porsi ketiganya. Di kumis beruang lautnya ada saus krim.

"Ikut aku sebentar... Dan, Lucius, tenanglah... Ini hanya Cissy..."

Slughorn menatap memperingatkan Lucius yang percakapannya terganggu. Lucius hanya mengangguk, mungkin mengira Slughorn hanya akan membicarakan ujian Narcissa.

Narcissa sama seperti Lucius, hanya saja ketika Slughorn membawanya masuk ke ruangan Dumbledore, Narcissa berhenti untuk bertanya,

"Ada apa? Mengapa saya dipanggil?" tuntutnya.

"Cissy, jangan mempersulit masalah..." Slughorn kini menggamit erat lengan Narcissa, khawatir dia kabur. "Kami hanya ingin berbicara..."

"Kami?"

"Ini lebih baik daripada kau terlihat di Aula Besar... Mari... Dumbledore sedang membicarakannya..."

Narcissa terpaksa naik ke tangga berjalan dengan kaki gemetar. Berharap hanya akan bicara dengan Dumbledore dan para Auror itu sudah pulang. Sialnya, mereka masih ada di ruangan tersebut.

Laki-laki satunya berambut merah dengan jenggot layaknya orang kebakaran. Yang satu lagi berkuncir kuda merah juga, tampak lebih muda, tapi tampak sama sangarnya. Kedua asisten itu tidak menarik perhatian, tapi Narcissa menatap dengan waswas karena tongkat sihir mereka siaga.

"Sudah aku peringatkan, Tuan-tuan... Ini melanggar dekrit manapun yang kalian buat untuk melindungi penyihir di bawah umur..." Dumbledore bangkit dari kursinya dengan tergesa. "Aku pribadi menolak penangkapan ini di bawah sekolahku sendiri..."

"Bukan penangkapan... Hanya interogasi..." kata si Auror dengan jenggot-terbakar. "Kami mendapat informasi dari sumber terpercaya..."

"...yang akan memberatkanmu nantinya ..." potong Dumbledore, mencoba melarang Auror itu melakukan sesuatu.

"Narcissa Black, Anda ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam kasus pembunuhan dan kekacauan masal di Grimmauld Place, London, mengeksploitasi sihir di depan banyak muggle, dan tentunya larangan sihir bagi anak di bawah umur, serta kekacauan lainnya yang terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts..."

Kata-katanya bagai melayang di benak Narcissa, atau dia yang sedang limbung karena Slughorn sekarang mengeratkan pegangannya pada siku Narcissa.

"Apapun yang terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts adalah tanggung jawabku untuk memutuskan hukuman!" seru Dumbledore, yang hanya terdengar bagai gaung di telinga Narcissa.

"Kita bicarakan ini di kantor kami, Kepala Sekolah... Saat ini kami bawa Narcissa Black ke Kementerian. Kami menunggumu di sana..."

Tampaknya yang berbicara itu adalah Auror dengan kuncir-kuda. Narcissa hanya bisa menebak sementara Auror itu memberi isyarat pada asistennya.

Satu sentakkan tongkat dan tongkat sihir Narcissa terbang ke arahnya. Narcissa sama sekali tidak siap, tidak memperhitungkan datangnya ini. Kemudian kedua tangannya terlipat sendiri ke belakang. Tali tak terlihat terasa meliliti pergelangan tangannya.

Narcissa mulai histeris.

"BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA!"

Tapi kedua asisten Auror itu menggiringnya menuruni tangga.

Di sela teriakan Narcissa sendiri, dia sempat mendengar Dumbledore mengambil jubah dan berteriak pada Slughorn,

"Orang tuanya! Langsung hubungi untuk ke Kementerian!'

Mereka mulai berjalan menuju lorong, tetapi Narcissa terus berteriak, menyangkal, berontak dan menyangkal lagi. Kedua orang itu sampai harus menggeret Narcissa.

Dia merasa darah membeku di otaknya saat dia mendengar teriakkan kaget.

"CISSY?"

Itu adalah Yvonne diapit kedua temannya yang lain. Entah mengapa mereka ada di sini. Kemungkinan besar mengikuti Narcissa tadi. Atau, otaknya kini menjadi panas, mereka yang menyebarkan semuanya...

Pikiran ini pupus saat Genevive berlari di sampingnya, berusaha meraih si asisten yang berada di kanan Narcissa.

"Cissy? Ada apa? Kenapa?" lalu dia mulai menangis.

"Panggil Lucius!" seru Narcissa. "Hubungi dia, aku ke Kementerian!"

Sekarang dua temannya berlari sambil memanggil-manggil.

Kalau saja keadaannya tidak segenting itu, Narcissa sudah akan terharu karena Yvonne meneriakkan undang-undang yang sama seperti yang diserukan Dumbledore pada mereka. Eva, sekarang menjambak rambut si buntut-kuda.

Suasana jadi kacau untuk beberapa saat, tetapi Narcissa tidak memperhatikannya, dia telah melewati Aula Besar, ditonton oleh beberapa murid yang penasaran dari Aula sampai ke tangga menuju lantai atas.

Kalau ada yang menyebutkan kejatuhan besar Narcissa Black, seperti yang belum cukup saja, itu adalah hari ini.

"Gen! Panggil Lucius!"

Hanya itu yang sempat diteriakkan Narcissa terakhir kali, sebelum mereka menyeretnya menuju gerbang Hogwarts.

.

.

.

Narcissa tidak muntah saat mereka mengajaknya ber-apparate. Dia hanya menatap kosong pada terowongan dengan batu marmer hitam yang berkilat. Jejeran perapian floo berada di samping kiri-kanan koridor. Langkah-langkah mereka bergema di keheningan. Beberapa penyihir yang pulang lembur, menatap Narcissa seolah dia adalah penjahat. Yang mungkin memang benar. Mengingat siapa yang mengapitnya keras-keras.

Lukisan Nobby Leach, Menteri Sihir saat itu, menatapnya dengan garang. Lukisan itu hitam-putih setinggi sepuluh lantai lebih. Di bawahnya dan terlihat kecil, ada kolam yang menampilkan patung-patung emas yang sama sekali tidak bisa Narcissa tentukan apa bentuknya, mengingat pikirannya amat sibuk saat ini.

Petugas jaga-gerbang berdiri melihat mereka datang. Rasanya seperti ada yang menghantam Narcissa, lagi. Karena 'Booth' tertera di seragam petugas tersebut.

Penyihir yang sama yang pernah menghampiri Narcissa, saat pertama kali dia datang ke Kementerian, saat Pelahap Maut teman Seth Shaan menyandera penghuni Malfoy Manor dan tamu mereka. Tepat Natal satu tahun yang lalu...

Narcissa sama sekali tidak percaya dia akan kembali lagi...

"Keperluan?" tanya Booth.

Si Auror melempar tongkat Narcissa.

"Cek tongkatnya dan tahan!" seru si Auror.

Narcissa tidak pernah mendengar ada yang menahan tongkat sihir kalau seseorang hanya akan ditanyai.

"Kau tidak bisa menahan tongkat! Aku di bawah umur! Dan kalian akan dituduh dengan penganiayaan! Camkan itu! AKU DI BAWAH UMUR!"

Dia meneriaki mereka semua, menyebabkan kericuhan di lobi tersebut. Tetapi para Auror pura-pura tidak mendengarnya.

Narcissa masih meronta dan berontak saat mereka memasuki lift yang tampaknya khusus tahanan. Karena lift itu sepi dan langsung menuju ke bawah.

Narcissa merasa tidak ada gunanya dia berteriak kepada tembok, sehingga dia diam lagi. Kelelahan lahir batin.

Dimanakah Lucius? Atau Dumbledore? Atau kedua orang tuanya?

Saat ini hanya mereka yang menjadi tumpuan Narcissa agar bisa membantunya...

Lorong yang terbuat dari marmer hitam yang terbuka dihadapannya menampilkan efek menyeramkan dibandingkan dengan di atas. Narcissa berjalan lunglai, kehabisan tenaga. Dia tidak tahu di lantai mana dia berada. Tapi keadaan sunyi sepi... Cahaya temaram menambah ketakutannya. Dia merasa jantungnya tertekan di tulang iganya.

Tapi apa yang ditakuti Narcissa mungkin adalah ruangan di sisi-sisi koridor. Kelihatannya seperti sel-sel kosong. Narcissa sama sekali tidak bisa menduga apakah ada orang lain didalamnya.

"Bersyukurlah, Nak!" seru Auror entah yang mana, suaranya bergaung-gaung. "Kami tidak menginterogasimu di Azkaban!"

Narcissa terus diseret menuju ruangan paling akhir. Dan mereka memasukkannya ke dalam. Tetapi tidak seperti ruang interogasi, hanya ada tembok sebagai tempat duduk satu arah. Benar-benar seperti sel tahanan.

Semua orang keluar dan Narcissa berusaha untuk ikut keluar. Ada sesuatu yang menegakkan bulu kuduknya sedari tadi, entah apapun itu. Nafasnya kini beruap dihadapannya, walaupun keringat mengucur deras di keningnya.

"TIDAK! Ini bukan interogasi!" seru Narcissa sambil menggebrak jeruji.

"Kami akan kemari lagi saat penjaminmu sudah datang!" seru salah satu Auror. "Sementara itu, nikmati hari-harimu di sini, cewek Pelahap Maut sialan! Itu adik muggle-ku yang kalian bunuh di gereja malam itu!"

Auror tersebut meludah tepat ke wajah Narcissa, menyebabkannya kelimpungan. Tetapi penghinaan itu tidak bisa menghilangkan perasaan takut Narcissa dan mencegahnya memohon untuk dikeluarkan.

"TOLONG!" kini dia mulai menangis. "Aku tidak terlibat! Keluarkan aku..."

Tetapi mereka telah menjauh. Narcissa mulai jatuh berlutut dan menangis tanpa suara. Merasa ketakutan setengah mati.

Tapi kemudian uap di mulutnya semakin tebal. Dan dia merasa mendengar tulang berkeretakan entah dimana. Sesaat dia merasa ada orang memasuki lorong menuju sel-nya. Tapi dia tidak bisa melihat apapun selain kegelapan. Dia hanya merasa dia tidak sendirian... Tapi terlalu gelap untuk melihat...

Cahaya di depan lift nyala-padam, kemudian Narcissa melepaskan genggamannya pada jeruji karena tiba-tiba saja jeruji itu menjadi sedingin es.

Narcissa tersentak, merasakan ada yang berteriak memenuhi kepalanya. Kemudian dia mendapati itu adalah mayat pada tertancap pada trisula, masih menggelepar, lalu ibu Seth Shaan yang berteriak, sementara dirinya terbakar. Ada yang melambung-lambung ke udara... Mayat Hera Malfoy, matanya terbuka. Satu hantaman ke tanah dan berulang kali pula Hera berteriak kepada Narcissa, "Katanya kau akan menjaganya?"

Lalu Lord Voldemort tertawa nyaring diatas tumpukkan mayat keluarganya... Tumpukkan mayat itu bangun menjadi mayat hidup, mengejarnya...

Narcissa merasa dia sedang terus berlari tanpa ujung di Grimmauld Place... Sementara para muggle berusaha membakarnya juga...

"TIDAK!" Narcissa mendapati dirinya berteriak sampai pita suaranya nyaris putus. "TIDAK!"

.

.

.