"Aku bahkan tidak berani keluar rumah!" Taehyung berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan ponsel berada ditelinganya.

"Kenapa kau ceroboh sekali? Dan kenapa kau bisa sampai subuh bersama si Jeon itu? Kau sudah gila?" Jimin balas memarahi Taehyung.

"Jim, dengar, aku butuh bantuanmu sampai gossip ini mereda." Pinta Taehyung.

"Bantu apa?"

"Kau punya banyak kenalan wartawan dari majalah online lain dan dari stasiun TV kan? Tolong cek mereka apa ada yang sudah punya data lengkapku atau tidak, terutama media online yang memberitakan soal aku dan si Jeon itu, kali ini saja Jimin, tolong bantu aku. Otakku benar-benar buntu" Taehyung menghempaskan tubuhnya keatas kasur.

"Kalau aku sudah tau, lalu aku harus apa?"

"Kalau kau sudah menemukan orang yang mengambil fotoku, tolong minta dia menghapus fotoku, berapapun akan ku bayar, ini bukan hanya soal aku, aku takut Taeyong juga terkena imbasnya" ucap Taehyung putus asa.

.

.

.

DEVIL IN a BLACK COAT

.

.

.

Jungkook itu artis yang namanya sedang berada diatas dalam daftar pencarian selama sebulan ini. Mulai dari berita dia berkencan dengan artis A yang bahkan belum reda, kini muncul berita lebih heboh lagi. Taehyung benar-benar panic saat ada fotonya yang muncul di halaman beritta online semalam pagi.

Sangkin takutnya, Taehyung bahkan menghapus semua akun social media miliknya dan bahkan mematikan ponselnya setelah menelepon Seokjin untuk izin semalam. Baru pagi ini Taehyung berani mengaktifkan kembali ponselnya dan satu-satunya orang yang dia pikir bisa menolongnya adalah Jimin.

Setelah menelepon Jimin, Taehyung menyalakan TV untuk mencari tahu perkembangan terakhir soal isu yang beredar tentangnya dan Taehyung makin terperangah, dia terlambat. Fotonya sudah muncul dengan jelas di media, lengkap dengan nama dan statusnya yang memiliki satu anak.

.

.

.

"Jadi, semalam kau kemana lagi hyung?" Hoseok menggusap keningnya. Kepalanya pusing menghadapi hyung nya yang terlalu banyak menuntut padanya.

"Membuatkan Ibu cucu" jawab Yoongi santai. Matanya sibuk memandang TV di ruangan Hoseok yang sedang menyalakan berita soal Jungkook dan Taehyung yang baru saja diterbitkan Hoseok tepat jam 5 subuh tadi. Berita soal identitas Taehyung yang sudah dibuka ke public.

"Aku serius"

"Memangnya kau tidak bisa melihat wajahku yang berseri-seri?" Yoongi membalikkan badannya kearah Hoseok dan mengedipkan matanya lamban-lamban.

Hoseok mendengus kesal. "Hyung, aku sudah memenuhi permintaanmu, jadi, kapan kau akan menemui Ibu?"

"Sabar sedikit, cucu-nya masih belum jadi"

"Hyung, bisa serius tidak?" Hoseok berucap kesal.

"Ya! Jung Hoseok, ucapanku yang mana yang kau anggap bercanda?" Yoongi mengeryit tak suka.

"Sudahlah, katakan, kapan kau akan ada di rumah? Ibu akan datang ke rumahmu kalau kau ada di rumah"

"Sudah ku bilang untuk beberapa minggu kedepan aku tidak akan pulang ke rumahku"

"Jadi kau ke mana?" geram Hoseok.

"Nanti kalau sudah saatnya, aku akan pulang ke rumah kita dan membawakan Ibu menantu dan cucu. Santai sedikit" Yoongi berucap tak peduli. "Oh ya, soal Kim Taehyung, apa kau tahu soal anaknya? Muka anaknya tidak mirip Jungkook, apa benar itu anak mereka?" Tanya Yoongi serius dan berpindah duduk ke bangku didepan meja kerja Hoseok.

"Itu memang anak Jungkook. Aku sudah pernah melakukan test DNA memakai rambut Taeyong dan rambut Jungkook tanpa sepengetahuan Taehyung" aku Hoseok.

"Kenapa kau lakukan?" Tanya Yoongi penasaran.

"Jungkook itu artisku, dia salah satu mesin uang di perusahaan ini, aku perlu menjaga imej-nya tetap baik di masyarakat dan fans-fans-nya. Saat Taehyung mengaku kalau Jungkook adalah Appa dari anaknya, aku langsung memblok semua akses Jungkook untuk Taehyung, tanpa terkecuali" aku Hoseok.

"Keren" puji Yoongi bangga. "Kau memang harus menjaga tambang uangmu sebaik mungkin. Lalu sekarang? Kenapa kau bersedia membeberkan faktanya? Bisa saja Jungkook mengambil tindakan yang sama dengan melakukan test DNA pada Taeyong, kan?"

"Seperti pribahasa kuno. Bangkai yang terlalu lama disimpan, baunya pasti akan tercium juga. Dan lagi, aku rasa Taehyung terlalu egois, Taeyong berhak tau siapa Appa-nya, meskipun Jungkook itu brengsek, tetap saja dia Appa-nya" jelas Hoseok.

Jujur saja, dikeluarga mereka hanya Hoseok yang benar-benar 'waras'.

"Jadi kau peduli pada anaknya?" Yoongi menaikkan alisnya penasaran.

"Aku melihat diriku dalam diri Taeyong. Kami sama-sama tidak tahu siapa orang tua kami, bedanya hanya aku tau siapa Ibu kandungku tapi dia tidak tau aku masih hidup, sementara Taeyong dengan sengaja Taehyung sembunyikan untuk dirinya sendiri. Itu tindakan egois, anak yang akan jadi korban" ucap Hoseok sambil tersenyum miris.

"Ya, kau ini kan anak Ibu-ku juga. Ingat kalau Appa-mu dan Ibu-ku sudah menikah"

"Tentu, Ibu adalah Ibu yang paling baik, kau saja yang gila" maki Hoseok.

.

.

.

"Jungkook?!" Taehyung tersentak mundur saat membuka pintu apartemennya dan menemukan Jungkook yang sudah berdiri disana.

"Boleh aku masuk?"

"Dari mana kau tau alamatku?" Tanya Taehyung panic.

"Wartawan yang membuntutimu sampai disini" ucap Jungkook. "Aku masuk" Jungkook melepas sepatu dan berjalan masuk kedalam apartemen Taehyung.

"Tolong buat konfirmasi soal pemberitaan diluar sana" ucap Taehyung tanpa basa-basi.

"Bisa persilahkan aku duduk dan menawari aku minum dulu?" Tanya Jungkook sambil menaikkan kedua alisnya.

"Maaf.." guman Taehyung pelan. Dia hanya panic hingga bersikap agak kurang sopan pada tamunya ini. "Mau minum apa?" Tanya Taehyung setengah hati.

"Teh?"

"Aku ku buatkan" ucap Taehyung dan berlalu ke dapur.

Selesai membuatkan Jungkook teh, Taehyung dengan berjalan cepat menuju ruang tamu, meletakkan minuman panas itu dan berjalan ke lemari hias dimana ada foto-foto Taeyong semenjak bayi terpajang diatasnya. Buru-buru Taehyung menghalangi Jungkook yang sedang berdiri didekatt lemari itu dan menatap kesal pada Jungkook.

"Aku tidak mempersilahkanmu untuk melihat-lihat isi rumahku" ucap Taehyung dingin.

"Oh, sorry" Jungkook mundur dan kembali duduk di sofa ruang tamu. "Aku hanya melihat foto Taeyong saat bayi. Dia lucu sekali" komentar Jungkook.

Taehyung hanya mendiamkan ucapannya.

"Kau tinggal dengan siapa disini?" Tanya Jungkook basa-basi.

"Dengan Taeyong dan… suami-ku" jawab Taehyung.

Jungkook menatap nyalang pada Taehyung yang duduk didekatnya. Ada rasa marah yang tidak bisa ditahan Jungkook di dadanya. "Lalu yang semalam itu apa?" Tanya Jungkook dingin. Rasanya dia ingin menyerang Taehyung dengan sejuta pertanyaan.

"Aku hanya terbawa suasana. Bukannya itu hal biasa? Kau sudah biasa melakukannya dengan orang yag baru kau kenal kan? Jangan terlalu dipikirkan soal itu." Taehyung mengangkat dagunya, angkuh.

Jungkook mendengus dan tertawa dingin. "Lalu, dimana suami mu itu?" Tanya Jungkook, enggan menanggapi ucapan Taehyung.

Taehyung tersentak dan terduduk tegak di sofa. "Bekerja" jawabnya berusaha setenang mungkin.

"Mau sampai kapan kau akan seperti ini, Kim Taehyung?"

"Apa maksudmu?"

"Kau berbohong!" tuduh Jungkook.

"Apa maksudmu aku berbohong?" tantang Taehyung. "Kau pikir Taeyong lahir dari cangkang telur" sinis Taehyung.

"Lalu siapa Appa-nya?" Jungkook balas menantang. "Jimin?"

"Bukan urusanmu. Aku hanya minta, tolong luruskan pemberitaan diluar sana soal kita. Aku tidak ingin terlibat denganmu dalam hal apapun, lagi" tegas Taehyung.

"Apa yang harus ku luruskan? Apa aku harus menjelaskan yang sebenarnya kalau kau adalah mantan pacarku dan kita baru saja bercinta semalam?"

"Diam!" Taehyung menatap marah pada Jungkook.

"Tae, jangan memperumit hal yang seharusnya bisa dibuat mudah" Jungkook menatap lurus pada Taehyung. "Apa karena Jimin?"

"Kalau kau sudah tau, kenapa kau masih saja muncul disini? Tolong selesaikan masalah diluar sana dan biarkan aku hidup tenang." Taehyung berkeras.

"Aku memang brengsek karena meninggalkanmu, aku juga sudah mengakui semua kesalahanku kemarin. Aku sudah minta maaf bahkan bersujud untukmu, apalagi sekarang, Tae? Kenapa kau kembali dingin?" Jungkook mengalah.

"Biarkan aku hidup tenang, pergilah. Lakukan seperti yang kau lakukan selama beberapa tahun ini, jangan pernah muncul lagi, aku akan benar-benar memaafkanmu kalau kau melakukannya"

Jungkook sudah siap untuk protes sampai pintu apartemen Taehyung terbuka dan menampakan Ibu-nya dan Taeyong yang baru saja pulang dari sekolah. Badan Taehyung terasa mendingin sekarang.

Ibu Taehyung terlihat terkejut mendapati Jungkook yang sudah berdiri dan membungkuk sopan padanya. Pandangan ibu Taehyung beralih pada Taehyung yang terlihat gugup dan panic dari sorot matanya saat menatap Taeyong yang masih disibukkan dengan mainan ditangannya.

"Eomma, lihat, ini pesawat dari…." Celotehan Taeyong terhenti, tangannya yang sudah mengangkat mainan pesawat kecilnya menggantung begitu saja saat melihat sosok asing yang dikenalnya berdiri di dekat meja ruang tamu.

"Hei…" sapa Jungkook gugup.

"Wooah… pacar Minki…" ucap Taeyong takjub. Mungkin dia lupa kalau Jungkook pernah menggendongnya di rumah sakit. "Eomma…. Kenapa pacar Minki ada disini?" Taeyong berlari kesamping kaki Taehyung dan menatap antusias pada Taehyung dan Jungkook secara bergantian.

"Taeyong, beri salam yang benar" Ibu Taehyung memperingati.

"Oh, Annyeonghaseyo, Kim Taeyong imnida" Taeyong membungkuk dan kembali berdiri disamping kaki Taehyung setelah memperkenalkan dirinya pada Jungkook.

"Hei, aku Jungkook"

"Sudah tau. Kookie hyung yang ada difoto bersama Minki…" ucap Taeyong dari balik kaki Taehyung, hanya kepalanya yang mengintip kearah Jungkook.

"Minki?" Jungkook berjongkok tidak jauh dari Taeyong yang menyembunyikan diri dibalik kaki Taehyung.

"Iya, Minki teman Taeyong di sekolah. Katanya Kookie hyung akan menikah dengan Minki kalau Minki sudah lulus sekolah" cerita Taeyong.

"Oh ya? lalu, apalagi katanya? Mau berbagi rahasia soal Minki?" pancing Jungkook.

"Eomma, Taeyong boleh kesana?" Taeyong mengguncang kaki Taehyung untuk minta izin. Bagaimanapun, Jungkook adalah orang asing bagi Taeyong, jadi dia masih butuh izin Taehyung untuk berbicara dengan Jungkook.

Taehyung jelas ingin melarang dan segera mengusir Jungkook pulang. Tapi saat melihat mata Taeyong yang berbinar senang, Taehyung merasa tidak tega. Dengan tangan yang mulai mendingin, Taehyung melirik ibunya yang masih berdiri tak jauh darinya. Saat ibunya terlihat mengangguk, Taehyung ikut menganggukan kepalanya.

Taeyong dengan sedikit ragu berjalan keluar mendekati Jungkook, belum sampai Taeyong melangkah mendekat, Jungkook sudah menggendongnya dan membawa Taeyong untuk bercerita di sofa.

Taehyung melirik lagi pada Ibu nya yang hanya tersenyum lembut melihat kearah Taeyong yang sedang sibuk bercerita soal temannya yang bernama Minki pada Jungkook. Hati Taehyung seperti di remas, buru-buru Taehyung berlalu ke kamar dan menghapus air matanya yang sudah jatuh. Dia merasa sangat jahat pada Taeyong karena sudah meniadakan keberadaan Jungkook.

.

.

.

Jimin menyalakan lampu ruang tamu flat-nya yang kosong. Biasanya dia akan menemukan Yoongi yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV, tapi beda malam ini. Namja pucat itu tidak ada disana. Jimin berjalan ke kamar, hati kecilnya sedikit berharap ada Yoongi disana, tapi nihil. Kamarnya kosong.

"Kenapa juga aku mencari-carinya." Jimin mengangkat bahu tidak peduli, berjalan ke kamar mandi dan bersih-bersih untuk tidur.

Tengah malam tepat dan Jimin tidak bisa tidur. Meskipun menyangkal, Tapi Jimin sadar kalau dia berharap Yoongi untuk datang. Jimin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan tidur menghadap dinding, berkali-kali Jimin bergerak mencari posisi yang nyaman untuk tidur, tapi semuanya terasa tidak tepat. Ada yang hilang.

"Sepertinya aku perlu minum susu agar tidurku nyenyak" guman Jimin.

Selesai membuat susu, Jimin melirik-lirik kearah pintu depan flat-nya berharap pintu itu terbuka dan ada Yoongi muncul disana, dan lagi-lagi tidak terjadi. Jimin menghembuskan nafasnya kesal dengan pemikirannya sendiri.

"Park Jimin, apa kau sudah gila? Memangnya kau menunggu siapa?" marah Jimin pada dirinya sendiri.

Jimin kembali ke kamar mandi, mencuci muka dan menyikat gigi, meskipun sudah dilakukannya, tapi Jimin lakukan lagi, entahlah. Dia seperti sedang membunuh waktu dengan melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan berulang kali.

Sebelum kembali ketempat tidur, Jimin melirik lagi pintu kamarnya dan menghela napas. Jimin yakin dia pasti sudah gila karena menunggu Yoongi datang padanya.

Sampai pagi, Yoongi benar-benar tidak muncul sama sekali, padahal Jimin yakin kalau luka di perut Yoongi belum sembuh. Jimin tidur dengan tidak nyenyak, beberapa kali dia terbangun hanya untuk memastikan ada yang datang ke flatnya malam ini.

Jimin sudah bersiap akan ke kantor, dia sudah mandi dan akan segera pergi sampai kepalanya terasanya pusing tiba-tiba. Jimin mendudukan diri kursi ruang tamunya sambil memijat kepalanya yang terasa berputar. Jimin tidak berani izin, bisa-bisa Seokjin memecatnya kali ini.

Pusingnya sedikit mereda saat Jimin memberikan sedikit minyak angin di dahinya. Wangi dari minyak itu membuat Jimin sedikit rilex. Saat merasa sudah membaik, Jimin memutuskan untuk memakai bus saja untuk pergi bekerja. Dia tidak yakin kalau dia akan sanggup menyetir sampai kantor.

Sampai di kantor, Jimin disambut dengan heboh oleh Baekhyun dan Kyungsoo. Lagi-lagi pasti ada berita heboh baru. Jimin mendekat dan duduk di kursi Baekhyun yang bersebelahan dengan Kyungsoo, melirik ke computer milik Kyungsoo yang sedang menunjukan headline berita dari media online lain.

"Ketahuan lagi" ucap Baekhyun seperti sedang menjelaskan pada Jimin.

"Aku tidak habis pikir dengan si artis A ini. Masih belasan tahun tapi sudah jadi peliharaan ahjussi-ahjussi" Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Kau lihat, Jim? Percuma rasanya agensi-nya melindungi imej lugunya dengan membuat rumor soal dia dan Jungkook. Jalang kecil ini malah tertangkap keluar hotel jam empat pagi bersama Min Yoongi" Baekhyun menggeleng tak percaya.

Jimin membeku. Rasanya sangat konyol saat semalaman dia menunggu Yoongi sementara yang di tunggu sedang bersama jalang kecilnya di hotel. Rasanya Jimin ingin menangis dan tertawa disaat bersamaan.

"Setidaknya dia mendapatkan ahjussi kaya raya" Kyungsoo tertawa dengan ucapannya sendiri.

"Min Yoongi ini masih berumur 30 tahun, kan? Tapi karena dia memacari anak belasan tahun, dia jadi terlihat seperti ahjussi-ahjussi" komentar Baekhyun.

"Konyol" komentar Jimin kemudian beranjak dari kursi Baekhyun dan duduk di kursi miliknya.

"Memang! Sia-sia saja mereka dilindungi oleh agensi mereka sampai sebegitunya. Dasar artisnya saja yang bermasalah" sambung Baekhyun.

"Hah, sudahlah. Aku sudah diminta sajangnim untuk pergi liputan bersama Mingyu. Kalian hari ini akan kemana?" Tanya Kyungsoo sambil melirik Baekhyun dan Jimin.

"Aku ada liputan jam 11. Sebelum pergi aku harus menyerahkan laporan hasil liputanku yang sudah di edit pada sajangnim karena Taehyung-ssi sedang cuti" jawab Baekhyun.

"Kau kemana Jim?" Tanya Kyungsoo.

"Huh? Kau bilang apa?" Tanya Jimin bingung.

"Kau kemana hari ini? Tidak liputan?" ulang Kyungsoo.

"Oh, aku ada wawancara hari ini, tapi tidak tau siapa" Jimin terkekeh diakhir.

"Kau sakit?" Baekhyun mengernyit.

"Tidak"

"Paling hanya karena belum sarapan" Kyungsoo membuka laci mejanya dan melemparkan sebungkus roti diatas meja kerja Jimin. "Makan"

"Gomawo" Jimin tersenyum cerah.

Jimin menatap Hyungwon yang sedang sibuk memasang kameranya, disamping Hyungwon sedang berdiri Minhyun yang juga sibuk dengan kamera miliknya,tinggal Jimin yang terduduk malas di ruang tunggu dengan sebuah notes berisi bermacam pertanyaan yang akan ditanyakan Jimin pada narasumbernya nanti.

"Kita akan mewawancarai siapa?" Tanya Jimin pada Hyungwon yang sudah selesai memasang kamera untuk merekam hasil wawancara nanti.

"Kau tidak tau tugas kita?" Hyungwon mengernyit heran pada Jimin.

"Memangnya apa?" Tanya Jimin penasaran.

"Kita sedang ditugaskan untuk mewawancarai miliarder lajang terkaya di Korea" Minyun menjawab.

"Oh, wow" ucap Jimin basa-basi.

"Berita sedang ramai dengan berita Jeon Jungkook, Taehyung-ssi, artis A, dan pengusaha itu, nah, kita sedang mendapatkan tugas mulia untuk mewawancarai pengusaha itu hari ini, Min Yoongi" jelas Hyungwon.

Jimin membatu. Kemana saja otaknya hari ini sampai tidak sadar kalau dia sedang berada di lingkungan kerja Min Yoongi.

"Berita seperti ini pasti banyak peminatnya, lagian aku penasaran ingin lihat langsung wajah Min Yoongi itu" ucap Minhyun.

Jimin enggan menanggapi. Dia ingin lari, tapi tidak ada alasan yang masuk akal yang bisa Jimin lontarkan pada dua rekan kerjanya ini.

Pintu terbuka, Minhyun berbalik diikuti oleh Hyungwon yang langsung berdiri menghadap pintu dan membungkuk sopan sementara Jimin masih berusaha berdiri dan membalikkan badan, dia tidak siap berhadapan dengan Yoongi.

Saat Jimin menatap kearah pintu, Jimin seketika merasa miris. Gadis kontroversial itu sedang berdiri dibelakang Yoongi dan seorang gadis lain yang Jimin rasa adalah sekertaris Min Yoongi.

"Maaf menunggu lama. Kita bisa mulai wawancaranya sekarang" ucap Yoongi dan berjalan melewati Jimin seoalah mereka tidak pernah kenal sebelumnya.

Jimin lagi-lagi tersenyum miris.

Selama wawancara, Jimin memilih menghindari kontak mata dengan Yoongi. Matanya sibuk menatap notes dan beberapa kali sibuk melirik kamera Hyungwon yang sedang menyoroti Yoongi. Dilain sisi, Yoongi sedang menatap terang-terangan pada Jimin yang sejak tadi menolak menatapnya. Beberapa kali alis Yoongi terangkat naik saat Jimin bertanya tapi tidak menatap kearahnya.

"Terimakasih untuk waktunya, Tuan" Minhyun menyalami Yoongi setelah selesai mengambil foto Yoongi.

"Ne" jawab Yoongi singkat tapi matanya sibuk mematai Jimin yang terlihat sedang menggoyang-goyangkan tangan Hyungwon seperti sedang merengek.

"A-ada yang bisa kubantu tuan?" Tanya Minyun penasaran karena Yoongi menatap lurus pada Jimin dan Hyungwon yang terlihat seperti sedang berdebat kecil.

"Tidak" jawab Yoongi dan berjalan kearah Jimin.

Jimin tersentak saat tangannya ditarik paksa sampai berdiri oleh Yoongi. Jimin berontak sebisanya dan mengundang kerutan kening dari Minyun, Hyungwon dan kedua gadis yang berada disana.

"Ikut!" ucap Yoongi tegas. Tangannya masih berada disiku Jimin.

"Aku sedang bekerja!" Jimin berkeras sambil memberontak minta dilepaskan.

Bukan Yoongi namanya kalau dia menurut, apalagi ini wilayah kekuasaannya. Jimin dipaksa masuk kedalam lift dengan tangan yang masih dipegang oleh Yoongi erat. Sampai dilantai 9, Yoongi kembali menarik Jimin kedalam satu ruangan yang cukup luas yang terlihat mewah. Jimin yakin ini ruang kerja Yoongi.

"Aku sedang bekerja!" Jimin menatap kesal pada Yoongi.

"Kau membentakku?" Yoongi memojokkan Jimin didinding dekat pintu.

"Aku sedang bekerja… jangan seenaknya" cicit Jimin pelan. Mendengar suara Yoongi yang meninggi membuat nyalinya ciut.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan kesini?"

"Aku tidak tau kalau aku akan kesini, aku juga tidak tau ini tempatmu" Jimin menjawab jujur.

"Duduk" perintah Yoongi sambil menarik tangan Jimin menuju sofa.

"Aku harus kembali ke kantor" tolak Jimin.

"Aku akan menelepon Seokjin"

"Ini pekerjaanku! Jangan seenaknya" Jimin melepaskan tangannya dari genggaman Yoongi. Perasaannya yang merasa bodoh karena menunggui Yoongi semalam membuat emosi Jimin menjadi naik.

Yoongi menatap lurus pada Jimin. Seingatnya Jimin sudah mulai jinak padanya, kenapa dia kembali seperti semula?.

"Aku pergi" Jimin berusah membuka pintu tapi tidak bisa, Yoongi dibelakangnya berdiri seolah sedang mengejek Jimin dan tindakannya.

"Semua orang yang keluar masuk keruangan ini hanya bisa atas izin dariku" Yoongi menaikkan satu alisnya.

"Kalau begitu, cepat buka. Aku harus pergi" Jimin berucap jengah.

"Kau marah?" tebak Yoongi.

"Marah? Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri dan tertawa sinis.

Yoongi menaikan alisnya melihat sikap Jimin hari ini. Ini agak membingungkan.

"Kau marah karena aku tidak datang semalam?" tembak Yoongi.

Jimin terperangah, sedetik kemudian dia tertawa meremehkan. "Kau tidak sepenting itu" ucap Jimin sambil memutar bola matanya.

Jawaban Jimin membuat Yoongi marah, Yoongi menarik tangan Jimin dan menghempaskan tubuh Jimin diatas sofa ruang kerjanya. Jimin yang terkejut mengerjapkan matanya dan menatap Yoongi tak percaya.

"aku tidak sepenting itu, huh?" Yoongi mengurung Jimin diantara tanganya.

"K-kau mau apa?" Jimin berusaha melindungi dirinya dengan mendorong bahu Yoongi, tapi tindakan Jimin segera berakhir karena Yoongi menarik tangannya dan menekan tangan Jimin disamping kepala Jimin.

"Aku ingin membuatmu paham sepenting apa aku untukmu" Yoongi menyeringai.

Yoongi menunduk, meraup bibir Jimin dengan kasar. Yoongi tidak berhenti hingga Jimin merasa nafasnya mulai terasa sesak karena Yoongi masih saja menciumnya, menyesap bibir Jimin hingga Jimin merasa bibir bawahnya terasa kebas.

"Yoonhh…" Jimin berusaha memalingkan wajahnya untuk mengais udara, tapi Yoongi seperti sedang dalam mode marahnya. Tidak terbantah.

Jimin kembali dicium dengan kasar, lidah Yoongi melesak masuk kedalam mulut Jimin dan menari-nari disana, Jimin merasa tubuhnya mulai lemas. Tangannya yang sejak tadi berusaha berontak mulai kehilangan dayanya. Kepalanya yang berusaha menghindar sudah tidak lagi bergerak, Jimin benar-benar kalah.

Saat merasa Jimin mulai pasrah, Yoongi melepas ciumannya dan menatap Jimin yang sedang memalingkan wajahnya dengan dadanya yang naik turun menghirup udara sebanyak yang dia bisa.

"Biarkan aku keluar dari sini" cicit Jimin pelan, matanya terlihat sayu dan bibirnya bengkak memerah. Yoongi rasa dia akan gila sebentar lagi. Jimin yang terlihat pasrah dibawahnya membuat egonya seolah dipuaskan.

"Tidak sebelum aku memberimu hukuman, kucing kecil" Yoongi menyeringai dan kembali mencium Jimin dengan rakus.

.

.

.

"Y-yoonh…sakitth… pelan-pelan…"

Namjoon mendengus. Tadinya dia ingin mengunjungi Yoongi untuk membahas masalah Taehyung atas permintaan Seokjin, tapi sepertinya Namjoon akan datang lain kali. Kalau Yoongi sudah tidak sibuk…

"Aku rasa dia perlu membuat ruangannya kedap suara." Namjoon menggosok kedua telinganya dengan telapak tangan dan berlalu dari depan pintu ruangan Yoongi.

"Seokjin, pulang sekarang. Aku menunggu di rumah" Namjoon menutup sambungan teleponnya yang hanya beberapa detik dan memasuki lift yang akan membawanya turun menuju lobi.

.

.

.

TBC

Besok libur~

Segini dulu ya kakak yorobun :*

oia, FF ini juga ada di wattpad (yunkiminsugar) ya kakak yorobun.