My Princess Serenity

Chapter 10

By Itou kyuu-chan

Naruto by Masashi Kishimoto

Warn: too much warnings, I can't write all.

.

.

.

Ino ingin melihat pemandangan yang berbeda, itulah alasan mengapa ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya ketika tidak ada siapapun yang berjaga di kamarnya. Berharap tidak bertemu Naruto, Ino mencoba melewati rute yang kelihatannya sepi. Bahkan ketimbang naik lift, Ino lebih memilih turun lewat tangga. Tidak mungkin Naruto akan melewati tangga, bukan?

Mengintip ke bawah, Ino bersyukur tidak ada orang di tangga. Ia menuruni anak tangga dengan riang—mungkin sedikit terlalu riang—sambil menggumamkan sebuah melodi dari anime yang ditontonnya setiap sore. Oh, Ino penasaran apakah anime itu masih diputar selama 10 tahun ini? Tunggu! Mungkin saja anime kesukaannya sudah tamat! Ino mengeluarkan ponsel dari sakunya, memasukkan password yang hampir terlupakan.

"Kenapa passwordku sulit sekali, sih?" gumamnya pada dirinya sendiri.

Terlalu fokus dengan layar ponselnya, Ino tidak sadar ketika ada seseorang di belokan tangga, dan ia tidak bisa menahan tubuhnya yang terjatuh dan secara keras menabrak orang malang itu. Mereka sempat berguling di anak tangga, beruntung mereka jatuh di tangga lantai satu sehingga setelah melewati beberapa anak tangga, mereka sampai di lantai. Ponsel Ino terlembar jauh dan terdengar bunyi benda pecah.

Pria yang ditabrak Ino terbaring di bawah, sedangkan Ino menimpanya di atas. Tangan pria itu melingkar beberapa centi di bawah dadanya, melindunginya sehingga ia tidak sakit sama sekali. Ino mengangkat kepalanya, berusaha melihat korban sekaligus penyelamatnya ini.

Dilihatnya kepala pirang yang mengerang.

Naruto.

Oh shit.

Ino berdiri secara tiba-tiba, mengedipkan matanya berkali-kali ke arah pria itu. Naruto berdiri setelahnya, memegang bahu kirinya dengan tangan kanannya, ekspresinya menunjukkan ia sedikit kesakitan. Pria itu menatap ke arahnya, kemudian melihatnya dari kepala—lukanya—sampai bawah untuk memastikan Ino baik-baik saja. Ino merasa risih dengan pandangan itu, ia melingkarkan salah satu tangan ke tubuhnya. "Aku minta maaf telah menabrakmu," ucapnya lirih sambil menunduk.

Naruto menyengir. "Aku juga minta maaf telah, er, memegang dadamu," kata Naruto lebih lirih.

Ino melotot ke arah pria itu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada seolah Naruto adalah pria mesum. "D-d-dada?! Kau tidak memegang dadaku!" tegasnya panik.

Naruto mengangkat kedua tangan. "Whoa whoa, maaf! Kupikir aku memegang da—."

"Kau memegang perutku! PERUT!" Ino berteriak. Orang-orang di sekitar mereka terdiam, beberapa memandang dengan aneh dan yang lain tersipu malu. Ino merasa wajahnya memanas seketika, ia sangat yakin seluruh tubuhnya merah bak kepiting rebus. Ia mengintip ke arah Naruto yang memegang kepalanya dengan canggung dan sama merahnya.

"Kupikir itu payudaramu," kata Naruto lirih, dimaksudkan untuk telinganya sendiri, namun sayang Ino mendengarnya.

Ino membatu. Seriously? Naruto, yang seharusnya adalah suaminya, yang seharusnya sudah pernah mel—, ekhem, pria itu salah mengenali perut sebagai payudara?! Ino melirik ke bawah. Dadanya tidak rata! Ya Tuhan, dadanya ini TIDAK RATA! Bagaimana bisa disamakan dengan perut?!

"Oh no." Ino memegang kepalanya dengan kedua tangan. Ia menatap ke arah Naruto horror.

"Kenapa? Kepalamu sakit?" Tanya Naruto panik.

Ino memukul kepalanya dengan tangannya sendiri membuat Naruto yang kaget langsung menangkap kedua tangannya, takut-takut terjadi sesuatu dengan lukanya. Tubuh tinggi Naruto memberikan pemudah itu akses yang lebih mudah dalam menghentikan Ino. Ino mendongak ke atas, menghadap wajah Naruto yang sekarang berada dekat dengannya. Ino tidak mengambil langkah mundur mengetahui itu, ia malah merengut. Bibirnya membentuk parabola yang membuka ke bawah. "Aku gendut," katanya.

Naruto hampir saja melongo. Ia melihat Ino dari atas sampai ujung bawah. Baginya, tubuh Ino masih sama-sama saja ketimbang saat mereka pertama kali bertemu. Naruto mengerutkan keningnya. "Kau tidak gendut, Ino."

Cemberutnya semakin jelas. "Aku gendut, Naruto." Naruto membebaskan kedua tangan Ino dari cengkramannya, Ino langsung memegang perutnya, berusaha menunjukkan pada Naruto bahwa perutnya penuh lemak. Meskipun hal itu sulit dilakukan mengingat baju rumah sakit cukup longgar.

"Aku gendut, dan kau bahkan menyebut perutku dengan payudara! Itu adalah hinaan yang paling kejam!"

Dan memalukan! jerit Ino dalam hati.

Panik, Naruto membuka tutup mulutnya. Ia kemudian menyentuh salah satu bahu wanita itu dan kemudian menunduk, menatap serius ke arah perutnya. Naruto bahkan memasang tangan satunya yang bebas di dagu, bertingkah seolah ia sedang berpikir keras. Ino menunggu pria ini untuk berkata sesuatu.

"Hm…"

"Menurutmu aku gendut sungguhan?" nada horror Ino terdengar jelas.

Naruto menggeleng, masih dengan kening berkerut. Ia lalu menegakkan badan tingginya, memberikan tatapan serius. "Menurutku kau sempurna."

Blush.

Seluruh wajah Ino memanas, dan jantungnya ikut-ikutan menjahilinya dengan berdegup lebih cepat dari yang sewajarnya. Ino memasang ekspresi marah—marah karena Naruto mengatakannya di saat pertahanannya sedang lemah—kepada Naruto. Ino tahu ia terlihat bodoh karena ia memasang ekspresi itu dengan wajah yang memerah malu. Tapi ia tetap melakukannya juga. "A-apa yang kau lakukan di tangga lagi pula?" bentaknya mengalihkan pembicaraan.

Naruto sedikit meloncat mendengar bentakan Ino. "Naik ke atas?" jawabnya seolah itu sudah jelas.

Ino memutar kedua bola matanya. Rasa malunya sudah berkurang, bagus. "Ada lift di sini, Naruto…" Ino berhenti sejenak, membelalakkan kedua matanya. "… -san," sambungnya lirih. Oh, sial. Ia tadi bersikap sok akrab dengan pria yang tidak diingatnya ini?!

"Aku bosan," jawab Naruto terus terang. Tidak sadar dengan sebutan Ino padanya.

Ino memberikan perhatiannya kepada Naruto, mengangkat salah satu alis sebagai penanda bahwa ia ingin mendapatkan penjelasan lebih.

"Kau tahu… aku tidak melakukan apapun seharian, jadi aku lebih memilih menaiki tangga daripada lift untuk menghabiskan waktu."

Ino memandangnya dengan seksama. Pria itu selalu bersiaga di rumah sakit demi dirinya namun ia menolak bertemu dengan pria itu. Apakah ia jahat? Tapi ia merasa asing—tapi juga nyaman, hanya saja Ino tidak mau mengakuinya—terhadap Naruto. Rasanya benar-benar aneh ketika tiba-tiba kau bangun dari tidur, 10 tahun telah berlalu dan ada seorang pria yang mengaku sebagai suamimu! Meskipun orang tuanya sudah meyakinkannya bahwa Naruto memang lah suaminya, tapi Ino dengan sangat menyesal masih menolak menerimanya.

"Maafkan aku."

Naruto tertegun di tempat. "Ahaha. Tidak apa, sih."

Ino melihatnya lagi. Pria itu ternyata terlihat sangat kacau. Mata merah, kantung mata yang gelap nan tebal, rambut pirang yang lepek dan tidak disisir, kulit yang tidak kelihatan berseri…

"Kau tidak mandi, ya?" Tanya Ino dengan jujur.

Naruto menyengir. "Aku mencuci muka dan menggosok gigi tiap hari, kok! Dan pakaianku kuganti dengan pakaian yang dibawa Okaa-san. Apa aku bau?" Naruto mengangkat lengannya, mencium aroma ketiaknya.

"Sedikit." Tidak.

Ino melihat pria itu hanya tersenyum kecil, terlihat bingung mengucapkan sesuatu. Hati kecilnya berteriak untuk segera melakukan sesuatu. "Ayo ke ruanganku." Kata Ino. Ia segera membalikkan badannya tanpa menunggu respon Naruto. Mereka pasti akan lebih canggung lagi nanti jika harus bertatapan.

Ino berjalan dengan gugup ke dalam lift, Naruto mengikutinya dan berdiri di sampingnya. Agak jauh. Mengerutkan kening, ia menoleh ke Naruto. "Tidak perlu berdiri di situ. Kau tidak sebau itu."

Mendengarnya, Naruto mendekatkan diri dua langkah kecil. Ino menahan diri untuk tersenyum melihat tingkat pria ini. Tingkahnya masih kekanakan, aku tidak percaya dia sekitar 27 tahun juga, pikirnya. Tunggu! Naruto tidak lebih muda darinya, kan? Ino mengamati Naruto lagi. Naruto yang sadar, menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.

Dia jelas seorang pria, sih.

"Kenapa?"

Ino menggeleng, kembali melihat ke depan. "Tidak."

"Kekanakan dasar," kata Naruto pelan dengan nada humor di dalamnya. Anehnya, Ino tidak merasa jengkel mendengar itu, malahan sebuah senyum perlahan terbentuk di wajahnya, meningkatkan moodnya. Tidak buruk juga pria yang dinikahinya ini.

Ino menyerahkan Naruto handuk dan shamponya. "Kau bisa mandi di dalam." Ino menunjuk toilet dalam ruangannya dengan dagu.

Naruto melihat ke benda yang diberikan Ino, kemudian ke sang pemilik. Ia tersenyum menawan, membuat jantung Ino berhenti berdetak sejenak. Ino mengalihkan pandangannya ke atap. Ketika Naruto berjalan masuk ke toilet, ia mengikuti gerakan pria itu dan tidak bisa berhenti bertanya-tanya apa yang ada dibalik pakaian itu.

Ino menggeleng-geleng.

Mau bagaimana lagi, sebagai gadis berusia 17 tahun, Ino belum pernah melihat tubuh pria sixpack. Ayahnya saja buncit!

Ino membaringkan di kasur, memejamkan mata sambil memikirkan sesuatu agar pikirannya tidak mengarah ke sesuatu yang liar.

Ino menoleh saat Naruto keluar dari toilet. "Sudah sele—,"

"Hm… Maaf ya kurasa percuma saja kalau aku pakai pakaian bau setelah mandi. Kenapa kau menutup mata?" kata Naruto sambil mengeringkan rambutnya.

Ino membuka matanya cepat. "Aku tidak menutup mata." Ia melirik perut 'wow' Naruto, otot lengannya, ya ampun… untung saja pria itu masih pakai celana kalau tidak Ino mungkin mimisan. Atau justru mungkin, 'sialnya'.

"Kau…," Ino memulai, Naruto mengangkat kedua alisnya sekali. "… sering berolahraga ya?" Ino bertanya karena ia 100% penasaran, sungguh.

Naruto melirik ke tubuhnya, kemudian menyengir ke Ino. "Aku kelihatan seksi ya?" wajahnya terlihat bodoh saat mengatakan Ino.

Bukannya malu, Ino memasang wajah syok. "Aku tidak bilang begitu, Naruto-san. Aku cuma penasaran bagaimana pria mempertahankan bentuk tubuhnya?"

Cengiran Naruto semakin melebar, menampakkan gigi-gigi putihnya. "Tapi dengan kata lain kau menyebutku mampu mempertahankan bentuk tubuhku kan?"

Ino menolak untuk menjawab walaupun hatinya menjerit mengatakan YA.

Naruto menghilangkan cengiran di wajahnya, berdeham kecil. "Aku berolahraga seminggu sekali, kau tahu itu kok sebelumnya."

Ino mengangkat dagunya, sedikit senang. Aku tahu?

"Tidak sesering saat dulu sih. Aku biasa ke gym, dan ke dojo juga."

Ino mengangguk-angguk.

"Itu kau tidak tahu."

Ino memicingkan matanya. "Bagaimana bisa kau tidak memberitahu istrimu, Naruto-san?" protesnya seolah ia dan istri Naruto adalah kedua orang yang berbeda.

Ino melipat kedua tangannya di depan dada, mengangkat dagunya dan dengan tatapan bak anak remaja, ia berkata, "Sepasang suami-istri tidak boleh merahasiakan apapun dari satu sama lain. Itu sudah menjadi rahasia umum."

Naruto menyengir, bingung bagaimana menjelaskan. Tapi walau bagaimana pun ia mencoba menjawab, "Hm… begini… ketika kau menikah, Ino…" alis Naruto sedikit berkedut. "… ketika kau menikah…"

Terdengar seperti seorang ayah, batin Ino.

Naruto menarik napas panjang. "… ketika kau menikah, kau tidak menceritakan semuanya. Hanya membiarkan pasanganmu tahu dengan sendirinya…"

"Siapa yang memutuskan hal itu?" Ino merengut. "Kalau kau tidak duduk berhadapan dan mulai bercerita tentang dirimu, bagaimana kau bisa mengenal satu sama lain?"

"Kurasa itu dilakukan saat tahap pacaran."

"Tidak. Tahap pacaran adalah tahap dimana kau ingin menunjukkan semua kebaikanmu. Kau hanya akan mengatakan sedikit hal yang berkesan baik."

"Mungkin itulah alasan aku tidak bisa ingat padamu."

Ino sadar tepat ketika kalimat itu keluar dari mulutnya, ia sudah salah bicara. Terlebih, ia melihat ekspresi Naruto yang berubah suram. Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam, tatapan yang tidak Ino sangka akan ia lihat dari pria itu. Tidak berbicara maupun menatap Ino, Naruto berjalan keluar hanya dengan handuk di kepalanya.

"K-kau mau keluar dengan penampilan begitu?" Ino menegakkan tubuh.

Naruto berhenti, melirik kea rah Ino dengan tatapan 'baru' yang sedikit membuat Ino merinding. Pria itu berjalan ke meja di sana, mengambil ponselnya yang ia taruh di sana sebelum masuk ke toilet. "Aku akan minta dikirimkan pakaian," jawabnya. Ia berjalan pergi.

Dia pasti marah.

Menghela napas, Ino beralih ke ponselny—PONSELNYA!

Bergegas lari keluar ruangan, ia melihat Naruto masih bicara di ponselnya dengan tubuh hot itu. Pandangan mereka bertemu, namun Ino tidak berani menatap lebih lama. Ia kembali berlari melewati pria itu menuju tangga. Wah gawat sekali. Mau dilihat berapa kali pun, cowok hot akan selalu hot.

Berhasil menemukan ponselnya di bawah, Ino tersenyum girang. Hm… meskipun sedikit pecah sih.

"Kau sepertinya sudah sehat, Ino."

Ino menoleh. "Kakashi-sensei!" panggilnya girang dengan senyum lebar.

Kakashi mengucapkan permisi kepada rekan dokternya dan mendekat ke arah Ino. Ino mendongak melihat orang yang disukainya saat SMA itu. Jarak usia mereka sekitar 7 tahun, tapi rasanya Kakashi seperti seorang kakak kelas. "Rasanya seperti sensei masuk ke SMAku kemarin," kata Ino sambil tertawa. "Pakaian sensei mirip sekali, sih!" lanjutnya.

"Haha… benar sih, rasanya seperti kemarin. Aku masih muda, kan?" Kakasih menundukkan tubuh, mensejajarkan wajah mereka.

Tawa Ino berubah menjadi senyum. "Tapi rasanya aneh… tidak mengenal dirimu sendiri," ujar Ino lirih.

Kakashi menegakkan tubuhnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung seragam putihnya. "Kau bisa melihat sisi positifnya, lho. Kau tahu film Paycheck? Kau kehilangan memorimu dan kemudian mencoba mencari tahu apa yang terjadi? Oh, entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat film itu." Kakashi mengerutkan kening sambil tersenyum.

Ino hanya mengangguk. Tetap saja…

Tidak disangka, Kakashi mendekat padanya, memeluknya dan mengelus bagian kepalanya yang diperban. "Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat. Karena terkadang… bagus juga untuk tidak ingat sesuatu yang buruk."

Apakah maksud Kakashi ia punya kenangan buruk dalam 10 tahun terakhir? Mata Ino membulat ketika ia menyadari sesuatu. Apa jangan-jangan ia dipaksa menikah dengan Naruto? Itulah alasan mengapa mereka tidak begitu mengenal satu sama lain?

Otaknya berhenti ketika dirasanya sebuah cengkraman kuat memegang lengannya, menariknya hingga wajah Ino membentur sesuatu yang keras. Mengedip beberapa kali, Ino menyadari yang dibentur wajahnya adalah bagian atas tubuh pria, dan baunya segar seperti sabun. Naruto. Ino merasa tubuhnya menegang dan memanas malu. Ooohhhh, haruskah ia balas memeluk Naruto untuk merasakan otot punggung pria itu? Atau menyentuhkan tangannya saja ke dada Naruto? Bukan itu lebih natural? Pikiran kotornya terhenti ketika ia mendengar Naruto berbicara, "Kau tidak sedang bercanda kan? Ini istriku yang kau peluk."

Kakashi kemudian menjawab, "Ino adalah muridku saat SMA dulu. Tidak ada salahnya seorang guru menyalurkan rasa simpatinya ke murid yang terkena musibah. Terlebih Ino adalah murid yang dekat denganku."

Naruto tidak membalas. Ino mendengar Kakashi berkata lagi, "Oh, maaf. Apa Ino tidak memberitahumu kalau aku gurunya dulu?"

Pelukan Naruto semakin erat terhadapnya, membuat jantung Ino berdegup terlalu kencang. Oh tidak, Naruto akan tahu, Naruto akan tahu! Batinnya menjerit.

"Tidak peduli. Menjauh dari istriku."

"Baiklah, Namikaze-san. Aku minta maaf, haha. Tidak kusangka kau akan marah seperti ini," ucap Kakashi dengan nada bersalah.

Beberapa saat setelahnya, Ino merasakan pelukan Naruto melonggar. Dengan hati-hati, Ino menghembuskan perlahan napasnya yang sedari tadi tertahan. Ia tidak bisa membiarkan Naruto tahu ia gugup, kan?

Naruto menunduk ke arahnya, dan Ino mendongak di saat yang bersamaan. Pria itu menatapnya dengan kelembutan dan rasa rindu yang membuat hati Ino meleleh. Tangan pria itu yang terbebas memegang helaian rambut pirang Ino, mendekatkan kepalanya sehingga kening mereka bersentuhan. Hidung mereka menyentuh, tidak menyentuh, terus begitu. Ino pikir Naruto akan menciumnya, dan sudah sangat gugup, bahkan pria itu telah memejamkan matanya. Tangan itu bergerak menyentuh letak luka Ino berada. Dalam waktu singkat, Naruto menjauhkan wajahnya dari Ino, membuka matanya. Tatapan pria itu telah berubah drastis menjadi tatapan sendu. Ia melepas Ino dan berjalan pergi.

Apa itu tadi?!

Author's Note:

(Pas selesai aku nulis '100%' di fic ini, aku jadi keinget sama kuliahku haha. Nulis tanda persen gitu, kek coding2 gitu, u know… haha. Dan percayalah, aku langsung nulis komentar ini sebelum ceritanya selesai:v)

What do u think guys? Oiya aku baru bener-bener sadar kalau FF sekarang agak sepi ya

Hehe, makasih udah memberi dukungan ke cerita ini, I am so happy! Mohon reviewsnya yaaa… karena komentar dan saran kalian yang membangun sangat berharga

P.S. Mampir-mampir aja ke ceritaku yang lain, pairnya bukan NaruIno sih, tapi siapa tahu suka!:)