Disclaimer : I do not own Naruto

Warning SasuFemNaru, one sided SasuSaku, semi-canon, dimensional travel

Rating : Mature

Genre : Romance, Drama, Adventure, Family

Selamat Membaca!

ooOoo

Mendengar keributan di pagi hari bukanlah sesuatu yang biasa didapatkan Sarada. Beberapa hari lalu, Sarada sempat berpikir tentang sikap kedua orangtuanya yang sangat berbeda dengan orangtua teman-temannya. Ia mengira bahwa Sakura masih sedih karena sikap Sasuke padanya meskipun bagi Sarada, keluarganya terasa normal dan baik-baik saja. Namun, di saat bersamaan ia juga merasa ada yang kurang. Entah apa kekurangan tersebut. Sarada sendiri tidak mengerti. Tetapi, ketika melihat ayah dan ibunya kemarin... entah mengapa Sarada tahu bahwa kekurangan itu telah terisi, meskipun sikap ibunya sedikit berbeda.

Perbedaan di diri Sakura memang tidak terlalu tampak bagi gadis berusia enam tahun ini. Di matanya, Sakura biasa-biasa saja. Ia hanya beberapa kali menangkap perbedaan itu ketika Sakura termenung cukup lama sebelum kembali tersadar dengan keadaan sekitarnya dan bersikap seolah sebelumnya ia sama sekali tidak termenung semacam itu. Di saat yang lain, Sarada melihat sorot sedih di mata Sakura, namun sorot tersebut segera hilang secepat saat Sarada melihatnya. Pada detik selanjutnya, Sakura akan tersenyum dan mengusap kepala Sarada--sebuah gestur baru yang sering dilakukannya akhir-akhir ini.

Meskipun begitu, Sarada sama sekali tidak terganggu dengan perbedaan kecil itu. Sakura tetaplah ibu baginya, tidak ada yang dapat mengubahnya.

Yang terpenting adalah ia dan keluarganya yang bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama, seperti kemarin ketika mereka sarapan bersama-sama di luar.

Mengulum senyum di bibirnya, Sarada tampak terlalu tenggelam dalam kepalanya sendiri sampai tidak mendapati sebuah kantung snack besar yang sedang disodorkan kepadanya. Akimichi Chocho merengut tidak suka ketika melihat teman baiknya mengabaikan dia begitu saja. Belum lagi dengan senyum tak beralasan di wajahnya itu.

Dia kenapa?

"Sarada," panggilnya dengan suara yang khas.

Yang dipanggil masih belum menjawab, membuat Chocho semakin menyodorkan camilannya kepada Sarada.

"Sa-ra-da," serunya lagi. Kali ini tepat di telinga gadis berambut hitam itu.

Sarada menolehkan kepala kilat, ia menyipitkan mata tidak suka pada temannya.

"Chocho, kita sedang berada di dalam kelas," bisiknya sambil mengerling kepada Shino yang sedang memberi materi tentang sistem sosial yang diterapkan di Elemental Nations.

Chocho merengut. Ia menjauhkan snacknya dari Sarada.

"Kau sendiri tidak memperhatikan Shino-sensei."

Kembali menghadap ke depan, Sarada bergumam, "Aku sudah mengerti sebagian besar penjelasannya."

"Yeah, itu karena kau adalah anak Hokage-sama, tentu saja kau tahu segala materi Akademi sehingga bebas untuk melamun."

"Bukan begitu," decak Sarada pelan. Ia mengerling pada Chocho, menatapnya sebal. "Aku sudah membacanya dari buku yang kupinjamkan padamu. Kalau kau membacanya juga, kau pasti sudah tahu materi ini."

"Aku sudah baca halaman pertama, tapi tidak kulanjutkan karena bosan."

"Kau selalu bosan pada hampir semua kegiatan selain menonton film dan makan," timpal Sarada sepelan mungkin, berusaha agar Shino tidak mendengarnya. "Lain kali ikutlah aku ke perpustakaan."

Chocho menggeleng mantap. Ia kembali melanjutkan acara makanannya--bersamaan dengan serangga milik Shino yang menyambar snack yang hendak dimakan oleh Chocho. Alih-alih mendapatkan keripik kentang gurih, ia hanya mendapatkan udara kosong dan hampir menggigit jarinya sendiri. Snack keripik kentang favoritnya kini sudah melayang beberapa meter dari tempatnya duduk.

Di samping Chocho, Sarada menahan diri untuk tidak menepuk dahi ketika melihat kelakuan temannya. Sang guru Akademi, Aburame Shino, tengah berkacak pinggang sambil membenarkan kaca matanya sekali-kali. Sisa jam pelajaran sore itu kemudian diisi dengan ceramah mengenai tata tertib di dalam kelas. Beberapa siswa tampak bersyukur karena bisa berhenti mendengarkan materi pelajaran yang membosankan.

Tapi, beberapa diantaranya tidak begitu beruntung karena merekalah yang menjadi objek ceramah. Contohnya Shikadai yang ternyata sedang tidur di pojok ruangan, Inojin yang sedang mencorat-coret bukunya dengan gambar acak, ataupun Hyūga Miyo yang sedang bermain simpul tali dengan teman sebangkunya--Suzumeno Namida.

Jumlah siswa yang benar-benar memperhatikan Shino ketika sedang diajar bisa dihitung dengan jari, mereka kelihatan suntuk dengan jadwal hari ini yang hampir seluruhnya hanya berupa materi tertulis. Maka dari itu, ketika jam dinding telah menunjukan pukul empat, mereka semua begitu semangat untuk berhamburan keluar kelas.

Sarada yang melihatnya hanya berdecak pelan sebelum ikut melangkahkan kaki ke luar. Ia menjejeri Chocho dan Miyo yang sedang sama-sama mengoceh tentang Shino-sensei si pemarah--julukan yang sebenarnya tidak benar-benar amat, sebab menurut Sarada, Shino-sensei tidak sepemarah itu. Ia mungkin hanya... sedikit sensitif.

"--tidak akan lagi! Kita sangat beruntung jam pelajaran sudah selesai," ujar Miyo sebelum meringis ngeri dengan apa yang ia bayangkan. Gigi taringnya yang runcing terlihat begitu mencolok ketika ia meringis seperti itu. Ia mengelus seekor anak anjing yang berada di pelukannya. "Aku tidak mau menyalin semua tata tertib kelas itu lagi. Terima kasih banyak."

Chocho yang telah kembali mendapatkan snack-nya pun mengangguk setuju. Ia mencomot keripik kentang tersebut dan menggigitnya dengan geram, seolah kekesalannya bisa tersalurkan dengan berbuat demikian.

"Kau tahu Miyo, Sarada sebenarnya sedang melamun sejak tadi," timpalnya memburu. Ia merengut dan mencebikkan bibirnya. "Sangat tidak adil."

Mengedikkan bahu, Sarada memegangi tas selempangnya dengan santai. Ia membenarkan kacamata yang dipakainya.

"Asalkan tidak ketahuan sebenarnya tidak masalah," balasnya ringan. Ia menolehkan kepala kepada dua orang temannya. "Kemarin Mamaku sendiri yang mengatakannya. Dia bilang, melanggar peraturan boleh-boleh saja asalkan dengan cerdik."

"Huh, bagaimana bisa? Aku selalu dinasihati ini itu oleh orangtuaku! Padahal kita masuk Akademi belum sampai satu minggu!" timpal Chocho sambil menyuapkan lebih banyak keripik kentang.

Di samping Chocho, Miyo ikut merengut. "Benar sekali. Contohnya, ayahku. Aku tahu dia dulu tidak rajin atau apalah, tapi dia berlagak menasihatiku agar bisa rajin seperti okāsan. Ketika aku mendapatkan hukuman menyalin puluhan tata tertib itu, dia malah tertawa! Dia tertawa sebelum mengingatkanku untuk tidak memancing amarah Shino-sensei yang merupakan teman baiknya. Bisa kalian bayangkan? Ugh, kau sangat beruntung, Sarada. Ibumu terlihat asik, tidak kaku ataupun menyebalkan."

Sarada mengerjap. Ia baru menyadari sesuatu.

Tidak kaku.

Tidak kaku.

Tidak kaku

Tidak kaku dan tidak--

Ibunya tidak begitu. Seingat Sarada, Sakura hampir sama ketatnya dalam hal mendidik anak, sama seperti orangtua pada umumnya. Sarada baru menyadarinya pada detik ini. Dibandingkan dengan ia yang biasanya, Sakura bertindak jauh lebih longgar kepada Sarada.

Pertama, ia menawarkan diri untuk bepergian melalui jendela. Kedua, ia membolehkan Sarada menginap di rumah Chocho tanpa banyak tanya. Ketiga, ia hanya tertawa ketika Sarada mengaku bahwa ia belum sempat mengerjakan tugas rumah karena semalam ketiduran bersama Chocho--seolah kesalahan yang ia lakukan sama sekali bukan masalah besar baginya. Padahal, sebelumnya, ia selalu mewanti-wanti Sarada untuk tidak mengabaikan perkara kecil sekalipun--takut jadi kebiasaan, katanya.

Ketika hendak mengoreksi perkataan Miyo, Sarada sudah lebih dulu melihat sosok berambut merah muda yang tengah melambaikan tangan kepadanya. Ia berdiri di dekat Iruka-sensei, tampak habis mengobrolkan sesuatu. Senyum di wajahnya tampak berseri ketika ia melihat Sarada yang tengah berjalan ke arahnya. Di samping Sakura, Sarada melihat ibu Miyo--Hyūga Hinata--dan ibu dari Tama--Hyūga Tenten. Mereka berdua menoleh mengikuti Sakura sebelum ikut melambaikan tangan kepada ketiga murid Akademi yang juga merupakan anggota klan terkemuka di Konoha.

Berbagai kejanggalan yang dipikirkan Sarada beberapa saat lalu langsung menghilang begitu melihat senyum ibunya. Ia segera menyambar lengan Chocho dan Miyo untuk menghampiri keempat orang dewasa yang sedang mengobrol di depan gerbang sana.

Begitu sampai ke arahnya, Sakura segera membungkuk untuk mengusap kepala Sarada, membuat gadis itu mencebikkan bibir sambil berusaha membenarkan posisi rambutnya. Tingkah Sarada menerbitkan senyum geli di wajah wanita tersebut. Dengan posisi masih membungkuk, ia berujar, "Sejauh ini, bagaimana harimu, Sarada-chan?"

"Mama! Berhenti memanggilku--"

"Jangan berteriak di depan Kepala Sekolah kalau kau ingin menjadi anak yang baik."

"Hmph," gumamnya sambil memalingkan muka. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Kemarin kau baru saja menasihatiku untuk tidak terlalu terpaku pada peraturan."

Sakura kembali mengulum senyum. Ia menegakkan tubuhnya dari posisi membungkuk tadi.

"Tidak berlaku untuk sekarang ini," ujarnya ringan. Ia mengembalikan perhatiannya pada tiga orang dewasa lain yang berada di sana. "Kau akan mengetahuinya nanti, ketika sudah tahu aturan mana yang menguntungkan dan mana yang merugikanmu. Bukan begitu, Iruka-sensei?"

Iruka yang sejak tadi mengamati interaksi ibu-anak itu merasa sedikit terhenyak setelah mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba dari Sakura. Ia memproses pertanyaan itu selama beberapa saat sebelum tertawa pelan.

"Kau benar-benar sudah menjadi murid Kakashi-san, ya, Sakura-chan?"

Sakura tidak langsung merespon perkataan Iruka--membuat sang kepala sekolah hendak mengoreksi perkataannya, takut jika ia salah mengucapkan sesuatu tepat saat Sakura memutuskan untuk menjawab Iruka. Senyum jahil yang familiar tiba-tiba menghiasi wajahnya. Iruka mengerjap, mencoba mengingat dari mana ia mendapatkan rasa familiar itu.

Apakah Sakura memang sering tersenyum seperti itu?

Sedetik kemudian ia menggeleng dalam hati.

Kami bahkan jarang mengobrol. Mana mungkin aku sering melihatnya senyum?

"Jangan seperti itu, Sensei. Mau bagaimana pun kau tetap guruku juga--well, guru yang sebenarnya karena Kakashi-sensei sangat sangat jarang mengajari kami. Dia sibuk melakukan banyak hal yang tidak perlu," oceh Sakura dengan rengutan.

Iruka tersenyum ketika melihatnya, begitu pula dengan Hinata dan Tenten--terutama Tenten. Ia menahan gelak tawa dengan menutup mulutnya sebelum berujar, "Mungkin Kakashi-sensei sibuk melarikan diri dari Gai-sensei."

Hinata dan Iruka tertawa. Sakura tergelak pelan. Ia kemudian tersenyum, senyumnya terlihat sendu, namun tidak ada yang memperhatikannya. Ia lanjut bercakap-cakap singkat dengan Iruka, Tenten, dan Hinata--menanyakan masalah-masalah remeh seperti keadaan anak mereka dan kesibukan apa yang sedang mereka lakukan mengingat Sakura yang selama ini jarang bersosialisasi karena terlalu sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit.

Selain bercakap-cakap dengan para orang dewasa, ia juga melemparkan beberapa pertanyaan kepada Miyo dan juga Chocho. Untuk Chocho ia bertanya bagaimana acara menginap tadi malam--yang langsung dijelaskan oleh Chocho dengan semangat. Sebab, itulah pertama kalinya ia ditanyai oleh orang dewasa tanpa membawa-bawa nama ayahnya. Sedangkan Miyo, Sakura menanyakan hal yang cukup acak. Ia ingin tahu apakah anak anjing yang dibawa sang Hyūga adalah anak dari Akamaru atau bukan.

Untuk pertama kalinya, Sarada baru tahu bahwa ibunya ternyata seacak ini. Ia bisa menanyakan hal-hal remeh yang hanya dilihat ataupun didengarnya dengan sepintas, seolah pertanyaan tersebut terdengar begitu normal untuk diutarakan di tengah-tengah perbincangan serius--meskipun kondisi sekarang tidak termasuk dalam kategori serius-serius amat.

Ketika sepupu Miyo, Hyūga Tama, menghampiri ibunya--Tenten, Sakura mengajak Sarada dan Chocho untuk beranjak. Ia melambaikan tangan kepada yang lain sebelum menyusul dua gadis kecil yang sudah mendahuluinya. Mereka berjalan beriringan di sela keramaian Konoha, melihat berbagai kedai yang baru buka di sore hari, melihat bagaimana toko-toko mulai mulai menyala dengan sinar lampu kelap-kelip, ataupun ketika layar super besar yang terletak di pusat desa mengiklankan berbagai film yang sedang tayang di layar lebar.

Suasana serba modern ini sangat bertolak belakang dengan suasana desa beberapa tahun silam. Kemajuan yang dicapai oleh kelima desa ninja terlihat begitu pesat begitu perdamaian di antara kelima negara mampu tercapai. Setelah selesai berkonflik antar satu sama lain, mereka mulai membangun desanya menjadi tempat tinggal yang lebih baik. Proses ataupun pencapaian ini tidak lepas dari jasa para pahlawan yang telah memberi mereka kesempatan untuk membangun desa menjadi yang seperti sekarang.

Setidaknya, itulah yang diajarkan oleh para guru di Akademi. Sayangnya, nilai mengenai pentingnya menjaga desa masih belum terlalu dimengerti oleh para generasi baru. Ketiadaan ancaman membuat mereka lupa esensi asli dari keberadaan ninja. Untuk itulah Sarada, yang baru masuk Akademi beberapa hari lalu, belum mengetahui pentingnya peran Hokage.

Ia bertanya-tanya alasan mengapa Sasuke begitu terpaku dengan pekerjaan dan sulit menyediakan waktu untuk keluarga. Suatu ketika, ia sempat menanyakannya pada Sasuke, namun penjelasan ayahnya tidak mampu ditangkap oleh kepalanya yang masih berpikir dengan sederhana.

Berpisah dengan Chocho, Sarada melambaikan tangannya. Ia meneruskan jalan bersama Sakura yang sedang menyapukan pandangannya ke sekeliling mereka, seolah tengah berusaha mencetak semua gambaran ini di kepalanya agar ia bisa selalu mengingatnya. Mendongakkan kepala melihat ketujuh patung Hokage, Sarada melihat wajah tak berekspresi khas ayahnya yang terpahat di sana, tepat di samping wajah Hatake Kakashi--sang Rokudaime Hokage.

Kenapa Hokage mendapatkan keistimewaan yang seperti itu ketika Kage di desa lain tidak mempunyainya?

Sebelum ia bisa mengalihkan pikirannya, Sarada sudah lebih dahulu menyuarakan pertanyaan tersebut. Ia baru menyadarinya ketika mendengar tawa renyah Sakura. Dengan polos, ia mendongak melihat ibunya, bertanya-tanya kenapa pertanyaannya ditertawakan.

"Kau begitu prespektif, ya," gumam Sakura dengan sinar geli di wajahnya. Ia tiba-tiba berhenti di tengah jalan, membuat Sarada ikut berhenti. Setelahnya, ia menggenggam tangan Sarada dan membopongnya kilat--membuat Sarada berteriak kaget secara spontan. Beberapa detik selanjutnya, mereka sudah berada di salah satu atap tertinggi di tiap bangunan itu. Sakura membungkuk, ia menjejerkan tubuhnya dengan Sarada sambil menunjukkan jari pada ketujuh wajah yang terpahat di tebing sana. "Sebenarnya, tidak ada filosofi mengharukan di tiap ukiran wajah itu. Mereka semua hanya patung."

Sarada mengerjap.

"Kalau begitu kenapa mereka membuatnya?"

Kilat jahil tiba-tiba muncul di mata ibunya. Duduk di sana, ia memandang ketujuh patung dengan tatapan mengenang. Entah apa yang diingatnya.

"Karena mereka Hokage. Hokage bisa melakukan apa yang mereka inginkan," jawabnya asal.

Sarada menoleh dengan tatapan polosnya.

"Benarkah?"

Sakura kembali tertawa. Ia mengoreksi ucapannya.

"Tidak. Tidak sepenuhnya benar," balasnya ketika tawanya mereda. Masih mengarahkan pandangan pada pahatan wajah itu, ia melanjutkan. "Alasannya karena Shodaime Hokage menginginkannya. Ia mendapatkan ide ini ketika melihat tebing besar yang mengelilingi desa, seketika merasa perlu mengisi kekosongan tebing itu."

Mengerutkan hidung, Sarada bergumam, "Dia sangat narsis, huh? Memasang wajahnya sendiri."

Senyum lembut menghiasi bibir sosok tersebut. Ia tertawa kecil.

"Tidak seperti itu," gumamnya sambil menerawang menatap ketujuh wajah Hokage, memperhatikan pahatan yang berada di sisi paling kiri--sang Hokage Ketujuh. "Dia ingin wajah teman baiknya terpahat di sana supaya warga desa mampu melihat jasa temannya ini dalam membangun Konoha, bukan hanya dirinya."

Masih belum mengerti, Sarada kembali bertanya, "Lalu, kenapa Shodaime sendiri yang terlihat di sana dan bukan temannya?"

Senyum di bibir Sakura luntur. Ia tampak tidak menyukai jawaban yang hendak keluar dari mulutnya sendiri.

"Karena warga desa yang didominasi oleh Senju belum mampu menerima seorang Uchiha sebagai pemimpinnya--secara tidak langsung baru saja menyulut api yang akan membakar para keturunan mereka yang tidak beruntung."

Memiringkan wajah, Sarada berucap, "Menyulut api?"

Seolah tersadar dari ocehannya, Sakura mengerjap. Ia menoleh pada Sarada, melihat mana oniksnya yang bersinar polos, dan memutuskan untuk mengulas senyum samar. Diusapnya kepala anak perempuan itu.

"Kau akan mengerti suatu saat nanti, Sarada."

Mencebikkan bibir, Sarada bergumam, "Aku mengerti. Kau sedang membicarakan Uchiha Madara, bukan? Dia adalah teman baik Shodaime Hokage, Senju Hashirama. Dia juga penemu desa Konoha sebelum memutuskan untuk pergi dari desa dan bertarung dengan Shodaime. Aku mengetahuinya dari buku yang kubaca. Tapi, kenapa dia meninggalkan desa? Apakah dia marah karena wajahnya tidak jadi dipahat di tebing sana?"

Sakura menaikan sebelah alis, tampak tidak terkejut dengan pengetahuan yang dimiliki Sarada. Di detik selanjutnya, ia tertawa begitu menyadari kepolosan anak ini.

"Kau tahu, Sarada, Madara tidak akan mau wajahnya dipajang sebesar itu di atas sana kalau dia menjadi Hokage," ujarnya dengan decakan. "Dia punya selera yang buruk. Padahal patung itu terlihat keren, kan? Semua orang jadi bisa mengenalmu."

Mengerutkan hidung, Sarada bergumam dengan tidak suka, "Terlihat norak. Ukirannya bahkan tidak persis seperti wajah mereka."

Di sampingnya, Sakura menyebikkan bibir. Ia memandang Sarada dengan tatapan penuh kalkulasi.

"Kau benar-benar berdarah Uchiha," gumamnya pelan, hampir tidak didengar oleh sang Uchiha Muda.

"Kau mengatakan sesuatu, Mama?"

Sakura tersenyum manis. Amat manis. Tapi dibuat-buat, seolah menahan sepercik kekesalan. Hanya saja, kekesalan itu bukan sebuah amarah. Hanya kekesalan biasa yang biasa dirasakan terhadap anak berusia enam tahun.

"Tidak," ungkapnya pendek. Ia berdiri dan kembali menggenggam tangan mungil Sarada. "Sesi tanya jawab susah selesai. Kita harus segera pulang, Tuan Putri. Kau ingin membantuku masak makan malam?"

Binar kesal di mata Sarada ketika mendengar sebutan baru dari ibunya langsung hilang begitu mendengar tawaran tersebut. Ia mengangguk antusias. Kemudian, sebelum ia mampu berkata sepatah kata yang lain, ia sudah kembali berada di pelukan ibunya ketika ia membawanya untuk mendarat di tanah.

Di sisa sore hari itu, Sarada merasakan perbedaan besar di diri ibunya. Namun, di saat bersamaan, ia juga merasakan kefamiliaran yang sama. Kefamiliaran yang membuatnya nyaman sekaligus aman. Ia merasa seperti di dekat ibu sekaligus ayahnya meski ayah jelas-jelas tidak ada di sini.

Selain itu, sikap baru ibunya terasa menghibur dan membuat Sarada tenang. Ia senang ketika mendapatkan prespektif baru yang tidak ia temukan di dalam buku. Misalnya saja, bagaimana ibunya tahu bahwa Shodaime dulu ingin menjadikan temannya sebagai Hokage Pertama? Ia mengatakannya seolah-olah pernah menemui dua orang itu secara langsung.

Namun, tidak terlalu lama tenggelam dalam pikirannya, Sarada segera mengalihkan pikiran begitu sampai di rumah. Ia menaruh tas selempangnya di kamar sebelum bergegas turun menyusul Sakura yang berada di dapur. Namun, ketika sampai di sana, ia tidak mendapati ibunya. Yang dilihatnya hanyalah kantung kain yang tadi dibawa Sakura dari rumah sakit. Kemudian, ketika ia hendak berbalik untuk memanggil ibunya, ia malah mendapati seorang wanita asing yang tengah duduk bergelung di samping pintu kamar mandi. Rambut pirang panjangnya menutupi sebagaian wajah. Dengan kaki yang ditekuk, ia menyenderkan diri di dinding, bergelung dengan sedemikian rupa sehingga sulit bagi Sarada untuk melihat wajahnya.

Sarada langsung awas dengan keberadaan orang asing di dalam rumahnya. Ia memicingkan mata tanpa bergerak sedikit pun dari sana. Tanpa sadar, tangannya segera melesat pada lengan kiri, hendak menyentuh sebuah segel khusus yang diberikan Sasuke padanya. Segel yang akan membuat Sasuke bisa langsung menemuinya begitu Sarada merasa dirinya sedang berada dalam bahaya.

Namun, tepat sebelum Sarada membentuk segel tangan sederhana dan menyentuhkan ibu jarinya di sana, sosok tersebut menghentikannya. Ia terbatuk, keras. Batuk itu terdengar menyakitkan. Ia masih terbatuk beberapa kali, hingga kemudian suara paraunya terdengar. Keparauan tersebut disebabkan oleh tenggorokannya yang baru saja batuk dengan menyakitkan.

"Tidak," ungkapnya pendek. Wajahnya masih tersembunyi di balik rambut pirang tersebut. Ia kembali terbatuk dan semakin meringkukkan diri pada dinding, seolah ingin melebur saja dengan dinding yang berada di belakangnya.

"Aku tidak berniat jahat," ujarnya setelah batuknya mereda.

Sarada terlihat ragu. Amat ragu. Namun, suara batuk menyakitkan dari wanita itu membuatnya sedikit mempercayainya. Siapa pun wanita ini, ia kelihatan tidak ingin menyakitinya. Tidak dengan keadaannya yang terlihat sedang menahan sakit seperti itu.

Memutuskan untuk mengurungkan niat guna memanggil Sasuke, Sarada mengembalikan kedua tangannya ke masing-masing sisi tubuh. Ia menatap perempuan itu dengan seksama, melihat kimono merah-putih panjangnya yang tampak ternoda oleh bercak kemerahan--darah--begitu ia menyapukan tangan pada pakaian tersebut.

Wanita ini baru saja batuk berdarah.

Kepanikan segera melanda Sarada. Ia tiba-tiba melupakan keraguannya dan buru-buru mendekati wanita itu--hanya untuk kembali diinterupsi.

Siapa pun dia, Sarada segera menghentikan langkahnya ketika melihat wanita ini mengangkat tangan, memberi Sarada sebuah isyarat sederhana untuk tidak meneruskan apa yang hendak ia lakukan.

Menajamkan pandangan, Sarada mengumpulkan keberaniannya. Ia bertanya dengan lantang, "Siapa kau?"

Begitu pertanyaan tersebut terucap, sang wanita asing menyelipkan rambut pirangnya yang menutupi sebagian wajah. Ia menoleh pada Sarada, matanya terlihat amat sangat biru--sebiru langit di pagi hari. Wajahnya pucat, membuat kulit kecoklatan cerahnya memutih. Bibirnya yang juga pucat kini ternoda oleh darah. Sarada mengerutkan dahi ketika melihat tiga buah tanda lahir asing di masing-masing pipi wanita tersebut, membuatnya terlihat unik.

Ketika mata mereka bertemu, sosok itu menatapnya dengan sayu. Bibirnya menampilkan senyum lemah. Senyum yang entah mengapa mengirimkan kefamiliaran kuat pada diri Sarada.

"Aku teman baik Sakura-chan," ujarnya dengan nada parau yang masih sama. Ia menyandarkan punggung di dinding, mencoba mendapatkan posisi yang lebih nyaman baginya. Dengan dada yang masih sedikit naik turun, ia melanjutkan, "Senang bertemu denganmu, Sarada."

Kemudian, wanita itu tersenyum. Senyum hangat. Sarada mematung di tempatnya. Ia merasakan sesuatu dari senyum itu. Sesuatu itu membuatnya melihat wajah sang wanita asing menjadi hidup meskipun ia tampak begitu pucat. Senyumnya membuat Sarada tersadar bahwa wanita ini entah mengapa terlihat indah, cantik... apa pun itu. Kalau saja ia tidak sepucat ini dengan noda darah di kedua sudut bibirnya...

Sarada mengerjap. Ia menatapnya lama sebelum mengangguk pelan. Tanpa berpindah dari tempatnya duduk, ia memutuskan untuk duduk di depan wanita itu, melihatnya mendongakkan wajah ketika berusaha menstabilkan napasnya yang sedikit memburu. Kedua matanya tertutup. Sarada hanya mengamatinya dalam diam. Ia penasaran dengan sosok ini. Namun, di saat yang sama, ia juga tidak tahu harus menanyakan pertanyaan yang mana.

Seolah mampu membaca isi pikiran Sarada, wanita itu angkat bicara meskipun sama sekali tidak membuka mata ataupun mengalihkan diri dari posisi awalnya.

"Saat ini, Sakura-chan sedang membantuku. Kau tak perlu khawatir," gumamnya pelan. Tangannya yang tadi terlihat menekan dada kini terkulai di masing-masing tubuhnya. "Aku hanya perlu istirahat sebentar di sini. Sambil menunggunya. Kau tidak masalah jika aku tetap di sini sampai ia kembali?"

Sarada segera memahaminya. Ia tidak tahu mengapa. Tapi, sesuatu membuatnya terdorong untuk mempercayai sosok asing ini.

"Aku akan menemanimu."

Begitu kalimatnya terucap, Sarada melihat mata itu berkedip pelan. Di detik selanjutnya, ia sudah kembali menatap mata yang membuatnya ingat pada warna langit nan cerah.

"Terima kasih."

TBC

A/N : fyi aja, jd di ff ini aku bikin beberapa OC yg bakal jd anak-anak generasi naruto yah. sejauh ini baru anaknya neji-tenten sama kiba-hinata xD maaf kalo ada yg ga suka sama side pairingnya aku ngepair kiba-hinata karena di ff sasunaru/narusaku emng cukup banyak juga kibahina soalnya naruto udh taken.- see u in the later chap!