xxxHolic belong to Lady CLAMP
Warning : Canon? SemiCanon?, (hope not) OOC, Sounen-Ai, (miss)typo, etc
"Kau…"
"Maaf, aku telat," Watanuki memaksakan sebuah senyum. Dengan sedikit terhuyung ia berjalan mendekati perempuan itu dan duduk di kursi kayu—mengambil tempat di samping perempuan paruh baya itu.
"…." Perempuan itu tidak mengucapkan apapun. Raut wajahnya tidak hanya menyiratkan sedih, tapi juga perasaan bersalah.
"Uhuk! Uhuk!" Watanuki mengangkat salah satu tangannya untuk mengkover mulutnya, dan satu lagi meraba perutnya yang terasa sakit setiap kali terbatuk. Tubuhnya membungkuk hingga dahinya mencapai lutut, efek dari rasa perih di diafragmanya.
"Padahal tahu bakal begini," ujar perempuan itu dengan campuran nada terluka dan ingin menyalahkan tapi tidak tega, "padahal kau tahu, makin sering menemuiku nafasmu makin sesak,"
"Ini salahku," potong Watanuki dengan senyum yang tidak sama seperti biasanya.
"Makanya… kenapa kemari?"
"Karena…" suara Watanuki tersengal, wajah dan tangannya mulai berkeringat dingin, "kau… dan aku, kesepian"
Perempuan paruh baya itu terbelalak, terkejut mendengar pernyataan itu. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya ia kembali merasa bersalah ketika pemuda yang belakangan ini mengisi hari-harinya kembali terbatuk parah.
Ia mengangkat tangannya, bermaksud memberikan tepukan menenangkan di bahu Watanuki, tapi segera ia hentikan. Ia sadar hal itu pastinya hanya menambah penderitaan pemuda itu. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya diam dan memenuhi pikirannya dengan rasa sesal.
Perempuan itu kembali terkejut dan refleks akan memberi pemuda berkacamata itu pelukan ketika Watanuki jatuh berlutut dari bangku taman—kalau saja tidak ada seseorang yang berteriak "Jangan sentuh!" dengan tegas.
Beberapa meter di depan mereka, berdiri seorang pemuda dengan seragam gakuran yang Watanuki kenali sebagai seragam yang sama dengan gakuran sekolahnya. Ia melangkah dengan busur di tangan dan kerutan dalam di dahinya.
Ini pertama kalinya Watanuki melihat ekspresi bosan benar-benar menghilang dari wajah itu.
"Doume—"
"Sudah kuduga kau bakal menemuinya," Doumeki tidak bersusah payah menyembunyikan nada kesal dalam suaranya. Menatapnya dengan segala kemarahan yang bisa ia tunjukkan, bahkan kekhawatiran tidak mendapat tempat disana. Ralat. Kekhawatiran yang teramat besarlah yang menyulut kemarahan di dadanya.
"Ternyata memang bukan manusia," Doumeki menatap perempuan paruh baya di samping pemuda yang sudah berkali-kali ia lindungi, "wanita itu… dia tembus pandang,"
Ia mengangkat busur di tangannya dan melakukan pose membidik meski tanpa anak panah.
"…henti…kan.."
Doumeki seolah menulikan pendengarannya pada suara terbata Watanuki, ia menarik busur dan mulai memusatkan energinya pada titik dimana anak panah seharusnya berada.
"Hentikan!" teriak Watanuki penuh tekanan dan keputusasaan di saat yang sama. Membentangkan tangannya menghalangi sudut bidikan pemuda di depannya.
Doumeki masih pada posisinya, ia menatap mata biru yang biasanya memancarkan kilau kehidupan yang ia diam-diam sukai kini meredup, direnggut oleh rasa takut. Tanpa peduli anak panah yang berasal dari energi miliknya mungkin akan melukai Watanuki, Doumeki melepaskan bidikannya tanpa ragu. Melesatkan energi berwarna keemasan menuju dua entitas di depannya.
Di saat yang sama, perempuan itu merangsek maju ke depan Watanuki, menerima lesakan energi itu dan menghalanginya mengenai Watanuki.
Watanuki adalah satu-satunya dari mereka semua yang tidak siap dengan hal yang tiba-tiba itu.
"Kena..pa?" Watanuki bertanya tidak percaya, perempuan itu tersenyum menanggapinya.
"Karena, aku tidak kesepian lagi," tubuh wanita itu perlahan-lahan menghilang, berubah menjadi uraian energi yang menghilang bagai asap, "kamu sudah menemaniku meski sebentar,"
Perempuan itu belum melunturkan senyumnya dan masih menatap Watanuki yang tidak sanggup menyuarakan apapun ketika berujar, "kau juga pasti… punya seseorang yang tidak ingin kehilanganmu,"
Setelahnya sosok itu hilang seluruhnya dari hadapan dua pemuda itu.
Menyisakan Doumeki yang terdiam di tempatnya, menatap pemuda berkacamata yang masih menangis pilu karena kehilangan.
"Kenapa kau memanahnya?" tanya laki-laki itu dengan suara lirih yang sengau, "apa karena dia bukan manusia?" tanyanya penuh dengan tekanan, tidak mampu membendung buncahan emosi di dadanya.
"Bukan," Watanuki mendongak, menatap pemuda klub kyuudo itu dengan tatapan penuh tanya dan juga kekesalan yang tidak bisa ia katakan.
"Karena itu pilihanku,"
Setelah mendengarnya, Watanuki tidak mampu menahan beban tubuhnya lagi. Ia ambruk, masih dengan rasa sesalnya pada tindakan Doumeki.
.
.
.
"Maaf… aku tidak mendengarkan nasihatmu," apologi Watanuki mengalir penuh rasa sesal setelah keheningan memerangkap ruangan tempatnya di rawat.
"Nggak apa-apa," ujar Yuuko dengan senyum lembut menghiasi wajahnya, "itu pilihanmu. Kau tetap bertemu walau tahu berbahaya, 'kan?" ujarnya tanpa nada bercanda ataupun jahil yang biasanya menjadi ciri khasnya ketika berbicara pada Watanuki.
"Itu kan hasil pilihanmu sendiri, selama Watanuki nggak menyesalinya," Watanuki menatap owner toko pengabul keinginan itu dengan pandangan sendu.
Yuuko meliriknya, kemudian membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya, seakan ingin mengucapkan hal yang rahasia, "Doumeki juga… memilih, lho,"
"Dia tetap menmbak wanita itu walau Watanuki akan terluka. Dan meski nanti kau kan membencinya," Yuuko menjeda kalimatnya sejenak, "supaya Watanuki nggak menghilang,"
Perempuan berambut hitam panjang itu bisa melihat air mata mengembun di sudut mata pegawai part timenya itu.
"Makanya… sebaiknya, kau pikirkan ulang gimana menghadapi Doumeki setelah ini,"
Keheningan kembali menghantam ruangan tempat mereka berada. Bahkan Maru dan Moro yang biasanya berisik tidak terdengar suaranya.
"Mau tahu siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Yuuko setelah memastikan Watanuki tidak ingin menanggapi kata-katanya.
"Nggak," balas Watanuki sambil memejamkan matanya, "meski bukan manusia, bagiku dia wanita yang hangat dan baik,"
Yuuko beranjak dari tempatnya berjalan ke arah pintu geser, tepat setelah ia membuka pintu ia berujar, "kalau begitu, kuberitahu satu hal, yang dia katakan sebelum menghilang itu benar, lho,"
"…."
Sesaat Watanuki terdiam, menyembunyikan ekspresi dengan kedua lengannya yang ia lipat di atas wajahnya, mungkin mencoba mengingat kalimat yang dimaksud Yuuko, dan setelahnya ia tertawa parau.
"Haha.. waktu part timeku bertambah lagi, kan?"
Yuuko menarik senyum di sudut bibirnya, berkata "tentu saja," dan menutup pintu geser di belakang punggungnya setelah keluar dari sana.
.
.
Fin~
