Jari jemari itu perlahan bergerak, bola matanya pun bergerak ke samping kanan dan kiri dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya. Dengan pandangan teduhnya, perlahan ia melihat di sekitar ruangan itu. Dahinya mengerut ketika ia merasakan sedikit pusing yang agak terasa sakit.
"Luhan, kau tidak apa - apa?"
Pria yang sedang berbaring itu menolehkan kepalanya perlahan menuju ke arah Sumber suara yang tak jauh darinya.
Seorang wanita dengan kacamata kotaknya yang bertengger di hidung menanyakan keadaannya dengan rasa khawatir.
Luhan tersenyum kecil. Ia bergumam mengatakan jika ia baik - baik saja. Luhan bangkit dari berbaringnya dan duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menatap setiap sudut ruangan yang nampak aneh karena seingatnya ruang kesehatan disekolahnya tidak seperti ini kemudian ia menatap wanita di hadapannya yang memakai jas putih. "Apa ini dirumah sakit? Memangnya ada apa denganku? Kenapa aku bisa berada di sini?"
"Perlahan Luhan, aku akan menjelaskannya." Wanita itu tersenyum maklum melihat wajah Luhan yang nampak sedang kebingungan. "Namaku Julie Ahn, Aku dokter yang menangani mu saat ini. Sejam yang lalu kau dikirim dari Sekolahmu aku tak tahu kenapa awalnya tetap seorang siswa - mungkin temammu- memaksaku untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan yang kutemukan adalah kau kelelahan, Luhan."
"Jadi aku di kirim ke rumah sakit hanya karena kelelahan? Apa itu tidak berlebihan?" Luhan bertanya dengan mengerutkan dahinya. Ia merasa heran, untuk apa dia dibawa ke rumah sakit jika hanya kelelahan?
"Sayangnya tidak, Luhan." Dokter cantik itu menggelengkan kepalanya. Ia sangat mengerti apa saat ini sedang remaja itu rasakan. Apalagi jika remaja itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu ada apa? Jangan membuatku khawatir."
"Aku akan bertanya suatu hal padamu sebelum memberikan jawabannya dan ini sedikit menyinggung privasmu, apa itu tidak apa - apa?"
"Katakan."
"Apa kau pernah berhubungan intim dengan seorang pria sebelumnya?"
Pria berwajah pucat itu tertegun mendengar pertanyaan itu, tiba - tiba ia teringat dengan kisah Luhan yang asli sebelum ia memutuskan untuk terjun ke laut.
Oh Sehun. Si brengsek itu.
Menundukan kepalanya dan Gigi Luhan bergemeletuk seperti sedang menahan emosinya dan itu sudah sangat terbaca di kata dokter muda itu. "Ya. Aku pernah sekali." Luhan menarik lehernya ke atas, mendongkak menatap wajah sang dokter. "Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padaku?" Tanya Luhan dengan suara yang begitu lirih.
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu, Luhan. Entah ini kabar baik atau buruk untukmu, tapi Selamat saat ini kau tengah mengandung sebuah janin di dalam tubuhmu."
.
.
.
.
Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.
Tolong hargai saya.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!
Younha - Waiting
.
.
.
.
.
Permukaan dingin pertama kali menyapa telapak kaki Luhan, dengan perlahan ia turun dari ranjang rumah sakit dengan mata sesekali melirik ke arah jam dinding yang saat ini menunjukan pukul sembilan malam.
Baekhyun yang saat ini berada di dalam raga Luhan itu berpikir jika ia tidak boleh bermalam disini pasti nenek Luhan akan mengkhawatirkan dirinya. Dan perlahan ia mencabut infus yang tertancap pada pergelangan tangan kirinya sehingga mengeluarkan darah.
Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya yang terasa seperti jelly. Oh sial, tubuhnya langsung terasa lemah dan pusing yang sangat terasa sekali akan tapi sekali lagi ia tepis semua rasa sakit ini demi bisa pulang dan bertemu dengan neneknya. Lagi pula jika ia bermalam disini pasti ia tidak akan mampu membayarnya.
Dengan langkah tertatih, Luhan telah sampai di pintu dan dengan sekali hentakan lemah ia berhasil membuka itu.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi dan Tuhan sepertinya sedang berpihak padanya karena koridor ini nampak sepi. Dengan perasaan lega ia kembali berjalan sambil berpegangan pada tembok karna keseimbangannya belum kembali normal.
Berjalan dengan kepala yang menunduk karna pusingnya benar - benar terasa. Langkah nya terhenti ketika ia melihat ada sepasang sepatu tepat berada di hadapannya.
Kepalanya sedikit demi sedikit terangkat untuk melihat siapakah pemilik sepasang sepatu tersebut. Alis nya bertaut melihat seseorang yang ia sangat kenal.
"Mau kemana kau?"
Pertanyaan singkat namun penuh dengan intimidasi. Siapa lagi jika pelakunya bukan Oh Sehun. Si brengsek itu.
Anak laki - laki yang di hadapan Luhan itu sedang menatap tajam ke arahnya. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya sambil membawa satu cup yang Baekhyun yakini jika itu ada berisi kopi panas.
"Aku ingin pulang." Jawabnya dengan lirih. Ia tak punya cukup tenaga untuk berdebat dengan Sehun.
"Kembali ke kamarmu, Luhan." Perintahnya seperti perintah seorang Raja. Tapi Sehun bukanlah seorang Raja jadi Luhan mendorong tubuh besar Sehun dengan sedikit tenaga yang tersisa.
"Minggir." Perintahnya dengan suara lirih.
Sehun dengan sigap menangkap pergelangan tangan kurus Luhan yang hinggap di tubuhnya dan dengan gerakan mengangkat tangan Luhan, mata elang Sehun menatap mata rusa itu yang terlihat sangat sayu.
"Kenapa kau jadi keras kepala seperti ini? Ku bilang kembali ke kamarmu ya kau harus melakukan itu."
"Kenapa aku harus menuruti perkataanmu? Memangnya siapa dirimu?" Dibalik mata rusa milik Luhan yang sayu tetap saja terlihat kebencian yang besar pada Sehun.
Sehun terdiam mendengar kalimat tajam yang Luhan layangkan. Benar. Semua yang dikatakan Luhan untuknya sangat benar. Memang siapa dirinya sampai Luhan harus menuruti apapun perintahnya.
Tapi Sehun melakukan itu semua demi kebaikan Luhan kan?
Tunggu.
Sehun, saat ini kau sedang tidak memperdulikan Luhan bukan?
Dan tadi siapa yang begitu panik melihat Luhan pingsan dan juga terus memaksa pihak sekolah untuk membawa Luhan ke rumah sakit?
Oh Sehun, kau sungguh gila saat ini.
"Argh..."
Sehun tersadar dari lamunannya ketika suara meringis itu terdengar di depannya. Luhan memegang perut seraya meringis kesakitan yang lama kelamaan tubuhnya ia bawa berlutut di lantai.
Tiga hal yang langsung Sehun lakukan. Ikut berlutut, menaruh kopi panasnya di lantai dan memegang kedua bahu milik Luhan.
"Luhan kau tak apa? Apa perutmu sangat sakit?" Nada suara Sehun terdengar begitu panik seperti saat ia melihat Luhan jatuh pingsan di perpustakaan.
Lama menunggu jawaban Luhan, Sehun langsung segera menggendong tubuh kecilnya kembali masuk ke kamarnya.
Membaringkan tubuh Luhan di atas ranjangnya. "Aku akan memanggil dokter." Luhan menahan lengan Sehun sebelum pria itu pergi.
"Tidak perlu. Aku sudah agak baik." Ujar Luhan dengan Lirih dan nafasnya yang ia menghembuskan semakin normal.
Sehun akhirnya urungkan niat nya untuk pergi. Ia duduk di sisi ranjang Luhan dan memperhatikan pria yang sedang memejamkan matanya itu. Kemudian matanya teralih pada genggaman tangan Luhan di lengannya yang masih erat.
Hatinya menghangat.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan Luhan.
"Air."
Sehun kembali tersadar. "Aku mau minum." Mata Luhan sedikit terbuka dan dengan sigap Sehun mengambil segelas air di meja nakas samping ranjang Luhan.
Selesai meminum air, Luhan kembali memejamkan matanya.
"Nenekku. Bagaimana nenekku jika beliau mencariku?" Luhan bertanya dengan pelan pada Sehun.
Pria yang di tanya pun sedikit tersentak. Ia bingung untuk memberitahu tentang kematian neneknya.
Tidak. Jangan beritahu ia sekarang, Sehun. Kondisinya masih belum stabil, mungkin saja saat kau memberitahu yang sebenarnya ia akan kembali drop.
"Aku sudah memberitahunya. Mungkin besok pagi beliau akan kemari."
Bagus Oh Sehun. Bagus karena sudah membuat Luhan semakin membencimu.
Luhan menganggukan kepalanya dan mencoba untuk menyelami alam bawah sadarnya sedangkan Sehun? Pria itu masih menatap Luhan. Tidak, Lebih tepatnya pada bibir merah muda yang ia rindukan rasanya.
Bibir Lembut ketika ia lumat. Bibir manis ketika ia emut.
Sehun bajingan ini sangat merindukan itu semua.
Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah milik Luhan. Bibir mereka pun bertemu. Sehun tanpa banyak memikir pun langsung melumat bibir bawah Luhan sehingga lelaki yang sedang tidur itu terbangun.
Mata sayu itu pun terbuka dengan pela begitu pula dengan tautan bibir mereka. Sehun menatap Luhan, begitu pun dengan Luhan.
"Sehun...-"
Bibir mereka kembali bertautan. Tanpa mereka sadari jika keajaiban terjadi.
Ia menyayangi Luhan. ia sangat mencintai Luhan. Tapi itu semua tertutupi oleh dendam.
Dendam yang ia tak pernah tahu kebenaran yang sebenarnya.
.
.
.
What If
.
.
.
Entah hanya perasaannya saja atau ini memang terjadi jika malam ini terasa sangat lamban berlalu.
Jiwa Luhan yang saat ini berada di raga Baekhyun pun sedang mengalami keresahan yang sangat luar biasa.
Apa yang ia lakukan semua ini adalah hal tepat atau malah sebaliknya?
Siapa lagi jika bukan Chanyeol pelakunya yang membuat Luhan merasa bersalah. Seharusnya ia tidak melakukan hal sejauh itu, dasar bodoh. Kau tidak tahu bagaimana perasaan Chanyeol sebenarnya bukan? Jadi berhentilah membuat masalah.
Ini menyebalkan.
Langkah kakinya terus berlaju sampai matanya melihat seseorang yang tak asing lagi. Seseorang yang membuatnya sangat bersalah. Pelaku dari keresahannya.
Park Chanyeol yang sedang duduk di kursi taman sambil memangku sang gitar kesayangan. Dan jangan lupakan suara merdu Chanyeol yang sedang melantunkan beberapa bait lagu.
Sepertinya Chanyeol belum menyadari keberadaannya sehingga Tubuh Baekhyun ia bawa untuk duduk di kursi taman yang bersebrangan dengan Chanyeol sehingga ia bisa memperhatikan apa saja yang dilakukan Chanyeol saat ini.
"Gudael wihae akkigo shipo nugudo jeul su objjo"
[I'm saving it for you and can't give it to anyone else]
"Naneun geudeman geudega animyeon"
[For me, it's only you, if not you]
"Honja in ge do pyeonhan nara to oje cheorom igoseso"
[I'm more comfortable alone, so like yesterday, here]
"Gidarida gidarineun nayeyo"
[The one waiting and waiting is me]
Petikan jari itu terhenti tanda ia mengakhiri permainan gitarnya. Matanya mengedar dan sedikit terkejut melihat tubuh Baekhyun yang kini duduk dikursi yang di sebrangnya.
Suara tepukan mengalihkan rasa terkejut Chanyeol. Matanya mengikuti apa yang Baekhyun lakukan, termasuk melihat Baekhyun yang mendekat dan duduk disampingnya.
"Permainan dan nyanyian mu sangat indah, Chanyeol." Itu adalah sebuah pujian tetapi rasanya terasa hambar dan Baekhyun tahu itu.
Canggung adalah suasana saat ini.
suara serangga malam backsound yang tepat di keheningan malam ini.
"Chanyeol? Kau menangis?" Pria mungil itu baru menyadari beberapa saat kemudian setelah ia memuji Chanyeol namun pria tinggi itu tak kunjung membalasnya.
Pria tinggi itu tanpa sadar menghapus lelehan airmata yang mengalir di pipinya.
"Kenapa kau menagis,Yeol? Ah, Aku tahu. Pasti karena lagu yang barusan kau nyanyikan ya?"
Chanyeol terkekeh pelan tak sadar akan ucapan polos Baekhyun. "Benar. Lagu itu sangat menggambarkan kisah cintaku saat ini."
"Apa kau sedang menyukai seseorang?" Tanya Baekhyun dengan hati - hati. Ia sangat takut jika Chanyeol tersinggung dengan pertanyaannya.
Chanyeol menghapus airmatanya kemudian ia dongakan kepalanya melihat indahnya langit malam yang cerah.
"Benar. Aku sedang menyukai seseorang."
"Apa itu bukan Irene?"
Kepala Chanyeol menggeleng pelan. "Bukan. Yang jelas seseorang itu sudah mengambil hatiku sejak lama tapi sialnya dia tidak pernah menyadarinya. Sekeras apapun usahaku, ia tak akan pernah menyadarinya."
"Kenapa bisa seperti itu? Bukankah kau seharusnya mengatakan yang sejujurnya pada orang itu? Jika kau seperti itu pasti ia juga akan menyadarinya." Dahi Baekhyun mengerut sempurna seolah tak setuju apa yang di katakan oleh Chanyeol.
"Sangat susah di jelaskan, Byun Baekhyun." Jawab Chanyeol dengan tenang namun ia sedikit gemas dengan sikap Baekhyun yang satu ini.
"Apa susah nya menjelaskan perasaanmu? Aku yakin jika kau mengatakan dengan jujur perasaanmu pasti orang yang kau sukai itu tidak akan mungkin menolakmu."
Kali ini dahi Chanyeol yang mengerut sempurna. "Itu semua tidak semudah yang kau bayangkan."
"Tid - "
Chanyeol tahu jika Baekhyun akan kembali menyangkal maka dengan cepat bibirnya menempel pada bibir tipis kelewat cerewet milik Baekhyun dan membuat laki - laki itu sangat terkejut.
"Aku menyukai mu, Baekhyun. Sejak lama sekali aku memendam perasaanku padamu."
Baekhyub baru saja membuka mulutnya untuk melontarkan beberapa kalimat tapi urung ia lakukan karena dengan cepat Chanyeol kembali menciumnya bahkan berani melumatnya.
Yang Chanyeol lakukan saat ini karena ada satu hal. Ia tidak ingin mendengar jawaban apapun dari Baekhyun, meskipun itu adalah jawaban yang ia inginkan sekalipun. Chanyeol tak mau mendengarnya.
Biarlah Chanyeol terbangun dari mimpi indah ini di keesokan paginya.
[Epilog]
Suara kicauan burung di pagi hari adalah melodi alam terbaik yang Tuhan ciptakan. Sinar matahari pagi yang baik untuk kesehatan Tulang dan banyak sekali ciptaan Tuhan yang sangat bermanfaat untuk semua makhluk-Nya.
Kelopak mata itu perlahan mulai bergerak ketika otaknya seolah memberi alarm untuk bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak. Namun, hawa yang sangat sejuk dan juga empuknya ranjang membuatnya seperti enggan untuk membuka mata.
Tubuhnya berguling ke samping lahan kosong di ranjangnya. Oh Tuhan, sudah berapa lama ia tidak menikmati kasur empuk kesayangannya ini?
Ini seperti nyata.
Tunggu, Apa? sepertinya nyata?!
Secepat kilat matanya terbuka lebar dan langsung bangkit duduk untuk menatap sekeliling ruangan yang nampak tak asing ini.
F*ck!!
Ini benar nyata'kan?!
Bukan hanya sekedar mimpi?!
Tubuhnya segera melompat dari tempat tidur dan melesat keluar kamarnya. Yang ia lakukan saat ini adalah menuruni tangga dengan sangat cepat lalu menuju ke dapur.
Ia melihat seseorang yang sedang duduk di atas kursi meja makan, membaca koran dan sesekali menyesap cangkir yang berisi kopi.
Matanya bergulir ke arah seorang wanita paruh baya yang memunggunginya sedang memasak dan juga ada pria tinggi yang lengkap mengenakan seragam sekolah berada di samping wanita itu, membantunya memasakan dan sesekali membicarakan sesuatu.
"Oh? Baekhyun kenapa kau belum bersiap?"
Suara husky itu mengalihkan seluruh orang yang berada di dapur termasuk Baekhyun yang masih terdiam.
"Bersiaplah, Tuan muda. Sarapan hampir siap."
Benar. Disini ada Paman Kyuhyun, Bibi Park dan juga Park Chanyeol. Dan juga ketika ia melihat sebuah cermin yang memantulkan wajahnya tidak dapat ia sembunyikan lagi rona bahagianya saat ini.
Kembali. Semuanya telah kembali!
Terima kasih, Tuhan.
Tapi Tunggu. Bagaimana semua ini bisa kembali?
.
.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
.
.
-Gak deng TBC!!
A/N
Hai kawan. masih inget aku?
INI SUMPAH GILA BAT DAH GUA NELANTARIN FF INI HAMPIR SETAHUN! WOY LU NGAPAIN AJA DAH SETAHUN?
calm gaes. gua kehabisan ide wkwk aslinya sih gua sibuk. Gua kerja dan juga les sigani eopseoyo tapi sebenernya setiap mau lanjut nih cerita ada aja halangannya dan akhirnya hilang semua idenya, ini aja ngebut ngerjainnya abis pulang les karena tiba2 dapet pencerahaan gitu dan juga setelah gua kerja nulis ff bukan lagi prioritas beda waktu pas masih nganggur huhu . thanks buat kalian yang masih setia baca ff ini T.T reviews, favs, follows, siders, Thankyou so much.
dibaca aja chapter sebelumnya pasti kalian udh pada lupa dah haha.
Ditunggu pendapat kalian tentang Chapter ini atau pun untuk next Chapternya kalian mau gimana ? kalau kalian saran bisa masukan di kolom review yaaa~
dan oh ya, ini asli untuk ff OD stuck nulisnya jika ada yg berkenan untuk membantu silahkan saja.
Sekali lagi TERIMA KASIH!! sampai jumpa lagi ~
Jakarta, 27 September 2017. 23:40
