Minna~ Kali ini baru si Ghaida!

Gomen kalau cerita yg ini kurang menarik, atau ada yg gk suka sama pembagian kelasnya. Aku bagi berdasarkan mood aja kok, kalau menurutku si A cocok di kelas B ya kelas B, atau kelas C, D, atau A sekalipun.

Oke, langsung aja, let's start!


JKT48 LOVE BOOK

Ghaida Farisya


"Hey, pita merah, lempar bolanya ke ring cepat!"

"Kuncir poni, dribble yg bener donk!"

Huh, aku lelah dengan para anak baru itu. Ya, anak kelas X yg baru masuk ekskul basket.

Oh ya, aku Ghaida Farisya, siswi kelas B SMA48. Aku adalah inti basket disekolahku, sekaligus kapten tim basket putri sih. Makanya, akulah yg bertanggung jawab atas para junior junior ini. Mereka menyebalkan dan suka ngeyel. Kadang sok tau dan gk mau diajar. Maunya apa sih.

Inilah hobiku. Bermain basket. Karena hobiku ini aku jarang berteman dengan perempuan, karena perempuan-perempuan disekolahku jarang ada yg sporty kayak aku. Jadi aku hanya bisa berteman dengan para anak laki-laki. Tapi, aku masih normal loh, jangan salah sangka.

"Hey Ghaida, gimana, sukses latihannya?" sapa salah seorang temanku saat aku selesai latihan.

"Buruk. Junior junior itu menyebalkan dan tidak berguna" balasku cuek.

"Ayolah, kalau kalian lulus mereka sangat dibutuhkan loh" kata seorang temanku lagi.

"Mikirin lulus, masih lama! 1 setengah tahun lagi kok" kataku santai.

"Hey, jangan lupakan ujian semester 1 minggu lagi" kata temanku yg ketiga.

"Iya iya, tenang saja. Gini gini aku selalu masuk 10 besar di kelasku" balasku.

Oh iya, aku belum perkenalkan temanku. Yang satu namanya Reza, yg dua Tono, yang tiga Calvin. Tadi sudah kubilang kan, temanku laki-laki semua?

"Ya udh. Pulang bareng yuk! Rame-rame kan seru" kata Reza.

Kami berempat pun pulang bersama.

Esoknya, terlihat banyak anak kelas X yg membicarakanku. Mau mereka apa, sih? Bisanya hanya bergosip. Untung saja angkatanku tidak se'cewek' mereka, ya netral netral ajalah.

"Kenapa, Ghai? Pasti para junior itu menyebalkan ya?" tanya Nabilah saat aku masuk kelas.

"Iya, tau tuh, biarin aja deh" kataku sambil menaruh tasku di bangku.

"Iya! Aku gk yakin apakah penerus OSIS nanti meyakinkan untuk disuruh-suruh" kata Kinal.

"Ya semoga kak Jojo bisa milih ketos selanjutnya yg berkualitas dan kerjanya bagus kayak OSIS yg sekarang" kata Beby.

"Kalian ngomongin apa? Pasti junior junior itu ya" kata Stella.

"Mereka emang menyebalkan. Kasihan Melody sampai dijambak rambutnya sama adik kelas yg menyukai kakak kelas namun kakak kelasnya malah nge fans sama Melody. Salahin aja org yg mereka taksir! Ngeselin" kata Frieska.

"Udhlah, gk usah dipikirin mereka mah" kataku, lalu semua kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Istirahat, Tono menghampiriku dengan tergesa-gesa.

"GHAIDA! Reza, Calvin, mereka..."

"Mereka kenapa?!" tanyaku.

"Mereka bertengkar!"

"Kok bisa?"

"Ikut aku!"

Lalu Tono membawaku ke halaman belakang sekolah.

"Ternyata selama ini kamu suka juga sama Ghaida? Pengkhianat!" seperti suaranya Reza...

"Hak aku donk! Mau suka sama siapa juga terserah!" itu suara Calvin!

"Tapi kamu itu temen aku! Harusnya kamu dukung aku sama Ghaida! Bukan malah mau ngerebut Ghaida!"

"STOP!" teriakku. Mereka semua diam, termasuk Tono yg kepanikan.

"Ternyata selama ini kalian berdua gk tulus temenan sama aku! Lebih baik aku bertemen sama cewek aja, mereka akan lebih tulus dari kalian!" kataku kecewa, lalu pergi meninggalkan mereka.

Meski aku sedih, aku gak akan nangis. Jadi aku hanya bisa murung di taman sekolah. Tono pun datang.

"Ghaida, jangan sedih kali... Kamu kan perempuan hebat, hal seperti itu kecil, kan?"

"Ini masalah persahabatan. Bukan masalah biasa." jawabku.

"Hmm, kalau kata kamu, sebaiknya aku milih siapa?" tanyaku lagi.

"Sebaiknya kamu memilih Calvin aja! Soalnya..."

"Soalnya apa?" tanyaku.

"Ah! Bukan apa-apa! Terserah kamu sih. Mau milih Reza juga gak apa-apa gak ngaruh buatku. Yg penting semua sahabatku senang..."

Aku mulai mendekatkan diri pada Beby, Nabilah dan Stella. Frieska dan Kinal punya temen di luar kelas B, dan aku kurang deket sama mereka, jadi kuputuskan untuk berteman sama Beby Nabilah Stella.

"Ghaida, tumben kamu sekarang lebih sering ngumpul sama perempuan? Biasanya kamu ngumpul sama temen cowok yg jago basket" kata Beby heran.

"Bener juga tuh. Apa kamu bertengkar sama mereka?" tanya Nabilah penasaran.

"Ah tidak, hanya mengikuti kodrat hahaha" jawabku meski berbohong.

Tiba-tiba ada keributan. Kayaknya ada seseorang pingsan deh. Kulihat dan ternyata...

"Loh? Calvin? Kamu kenapa?" tanyaku heran. Ia mimisan dan pingsan!

"Ghaida, biar Calvin aku yg bawa" kata Tono yg untung saja sedang di kantin.

Kami pun membawa Calvin ke UKS. Aku langsung tarik Tono keluar dan menginterogasinya.

"Ada apa dengan Calvin?" tanyaku.

"Ah tidak. Mungkin dia sedang kecapean" balas Tono. Tapi ketahuan sekali ia sedang berbohong, karena Tono orangnya lugu.

"Jangan bohong." kataku. Biasanya dia takut kalau aku ngomong begitu.

"Ba-baiklah. Sebenarnya, Calvin kena penyakit aneh yg belum bisa disembuhkan. Katanya sih, sel darahnya rusak. Aku juga gak ngerti, karena aku gk suka pelajaran Biologi... Tapi katanya, Calvin hanya bisa hidup 1 minggu lagi..."

Aku terpuruk. Biar begitu, Calvin teman baikku. Apa yg harus kulakukan?

"Makanya Ghaida. Kudukung kamu sama dia agar ia bahagia, menikmati sisa-sisa hidupnya..."

Tidak. Tidak mungkin. Hal ini tidak mungkin terjadi...

"Calvin..."

Esoknya, aku menyapa Calvin dengan riang.

"Hai! Udh baikan?" tanyaku yg sebenarnya aku tau ia tidak baik-baik saja.

"Sudah, hanya kecapean" bohong, seperti Tono.

"Calvin, kita bersahabat lagi kayak dulu ya" kataku.

"Loh? Bukannya kamu marah?" tanyanya heran.

"Tidak tidak. Itu emosi sesaat. Dan mungkin aku memilih kamu dibanding Reza, hehehe..."

Sekilas ia senyum, namun berikutnya ia tampak khawatir.

"Eh, kenapa tidak memilih Reza?"

"Karena Reza orangnya agak kasar..." bohongku. Ya, bohong dibalas bohong.

Kami pun sering bersama. Belajar bersama, bermain bersama. Ternyata ia tulus. Namun, meski aku menyukainya, itu hanya sedikit karena ia berhasil mewarnai hariku. Aku sering konsultasi ke Tono mengenai keadaan dia.

Ah, tak terasa besok sudah ujian semester. Aku belajar keras, karena dia bilang dia ingin nilaiku bagus agar aku masih bisa masuk 10 besar.

Esoknya, aku melihat ia tak masuk. Ada apa ya? Ah, mungkin ia sedang konsultasi di dokter. Tapi, itu artinya keadaannya cukup bahaya kan? Pulang aku akan langsung menjenguknya. Akan kutanya Tono dimana dia.

Soal ujian jadi sangat mudah! Semuanya bisa kukerjakan dengan baik.

Pulangnya, aku menanyakan Tono. Entah kenapa ia sudah bersama Reza.

"Ghaida, Calvin bilang ia ingin dijenguk kita bertiga" kata Tono.

"Baiklah..." kataku.

Sampai di rumah sakit, kami langsung ke kamar Calvin.

"Ghaida, aku menunggumu lama sekali..." kata Calvin.

"Terimakasih kalian bertiga sudah mau datang. Kalian semua sahabat baikku dan tak akan kulupakan di dunia sana" katanya.

"Calvin, jangan bicara begitu..." kataku.

"Aku berkata jujur. Kali ini aku jujur. Kau tau, Tono tak akan bisa berbohong padaku. Jadi aku membohongimu dan kamu juga membohongiku Ghaida..."

"Maafkan aku Calvin..."

"Ada apa ini? Selama ini hanya aku yg tak tahu?" tanya Reza.

"Reza, Tono, Ghaida, waktuku tidak panjang lagi..." kata Calvin.

"Calvin, kau pasti bisa!" kata Tono.

"Tidak... Barusan aku menjalani operasi, dan operasinya gagal. Jadi, umurku kira-kira 10 menit lagi" katanya tersenyum.

"APA?!" teriak kami bertiga.

"Tidak mungkin..." kata Reza.

"Ghaida, sampai kapanpun aku mencintaimu dengan tulus..." kata Calvin.

"Tono, kau sahabat terbaikku. Terimakasih sudah mendampingiku selama ini..."

"Reza, kau juga sahabatku. Aku percaya padamu. Jadi, kutitipkan Ghaida padamu... Ghaida, inilah pendamping barumu sekarang..."

"Tidak Calvin, tidak..." jawabku. Tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca.

"Calvin, aku tak bisa kalau begini caranya..." kata Reza. Aku yakin ia juga tak mampu kalau begini keadaannya.

"Aku tak bisa menjaga Ghaida lebih lama lagi... Tono, mereka berdua kutitipkan padamu. Jaga mereka dan jangan sampai hubungan mereka berakhir gara-gara aku..." kata Calvin.

"Tidak Calvin, kau tidak boleh begini..." kata Tono.

"Ah, tersisa 1 menit lagi..." kata Calvin.

"Tidak!" kataku tidak setuju.

"5, 4, 3, 2, 1... Aku mencintaimu Ghaida"

Tertutuplah mata lelaki yang telah mencintaiku dengan tulus. Air mata ini langsung turun bagaikan hujan yang terjadi di luar. Sepertinya langit pun bersedih dengan kematian Calvin. Aku akan tetap mencintaimu juga, Calvin.

Jiwa ini seperti kosong. Raga ini tak berdaya. Hanya tetesan demi tetesan air yang dapat kutumpahkan. Calvin, kenapa kau pergi secepat ini?

"Ghaida, kamu yang sabar..." kata Tono yang sepertinya ikut menangis.

Esoknya setelah pulang sekolah, kuganti bajuku dengan baju hitam yang mewakili perasaanku sekarang. Bersama Tono dan Reza kususuri jalanan yang membawaku ke tempat peristirahatan yang terakhir bagi banyak orang. Menyusuri setiap batu nisan yang ada, dan akhirnya sampai pada batu nisan yang terukir nama orang yang kami sayangi. Tanpa sadar, nama itupun ikut terukir di hati kami bertiga.

"Calvin, sesuai permintaanmu, kujaga Ghaida sampai ke tempat ini..." kata Reza.

Calvin... Sedang apa? Apakah di dalam sana dingin? Bodohnya aku membatin seperti ini. Tapi, kamu dengar kan Calvin?

"Semoga kamu tenang. Kami bertiga akan selalu bersama, mengenang dirimu yang telah menjadi kenangan indah dalam hidup kami..." kata Tono.

"Calvin, aku akan tetap mencintaimu... Sampai kita bertemu lagi di alam sana..." kataku.

Hari itu jadi peristiwa panjang dalam hidupku. Peristiwa perpisahan terburuk dan terindah yang pernah terjadi...

THE END


Yeay selesai~ Maaf ya kalau kurang menyentuh, kurang bisa merangkai kata-kata sih...

Oh iya, udh baca fic ku yg senbatsu JKT48 fanfiction? AYO CEPET VOTE! Karena kujamin pasti seru dan gak pehape deh... Dukung terus oshimu!

Next nya Haruka Nakagawa, center lagu KFC versi JKT48! Yg oshinya Haruka ayo merapat...

Review ya! Semakin banyak review semakin aku semangat! Jaa~