BAKHYUN
(ChanBaek)
Di sepanjang jalan Chanyeol benar-benar tidak menyentuh Baekhyun. Dan Baekhyun memakluminya, hingga akhirnya Chanyeol menggenggam tangan lagi setelah mereka sampai di depan rumah. Mereka bergandengan masuk ke dalam rumah dan saat pintu ditutup, mereka menyatu lagi. Chanyeol nyaris saja membuka pakaian Baekhyun, tapi hati nuraninya bergerak untuk bertanya.
"Kau mengizinkanku..."
"Ya!"
Jawaban yang membahagiakan. Jawaban yang luar biasa di telinga Chanyeol.
Chapter 10
"Ya!"
Jawaban yang membahagiakan. Jawaban yang luar biasa di telinga Chanyeol karena sudah bercampur dengan desahan penuh harapan. Baekhyun juga menginginkannya. Chanyeol melepas pakaian Baekhyun satu persatu tanpa melepas ciumannya. Celana, kemeja, jaket, kaus kaki berserakan di lantai dan saat mereka sudah tiba di kamar, Chanyeol sudah tak berpakaian lagi. Ia menghempaskan tubuh Baekhyun di atas ranjang dan merangkak di atasnya. Dalam sekejap Chanyeol melepaskan bra yang Baekhyun kenakan dan membenamkan wajahnya di dada wanita itu. Ia melakukan segala yang terbaik yang dia bisa hingga Baekhyun meminta ampun. Tentu saja Chanyeol tidak akan mau mendengar kata ampun, ia menutup mulut Baekhyun dengan mulutnya dalam waktu yang panjang. Jika bukan karena nafas yang sesak karena menahan hasrat , Chanyeol yakin ia tidak akan pernah melepaskannya. "Sentuh aku Baekhyun" bisiknya.
Baekhyun juga berusaha untuk menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Ia berusaha merangkak dan membalik keadaan. Sekarang Chanyeol yang berbaring di ranjang dan Baekhyun duduk di pinggangnya. Chanyeol tidak menahan desahannya ketika Baekhyun mengeluarkan keahliannya. Wanita itu meraba dadanya, memelintir putingnya, mulut Baekhyun mencium bibir lalu berpindah ke leher untuk menghisap sebagaian besar wilayahnya. Chanyeol benar-benar tidak bisa menahan diri untuk ikut mendesah saat Baekhyun menduduki bukti gairahnya yang mengeras. Baekhyun merengkuh wilayah itu dengan tangannya, menggenggamnya dengan erat dan memaksa Chanyeol untuk segera menyatu dengan dirinya.
Sebuah desahan berat bermula, tapi kemudian Baekhyun meringis karena ternyata hal itu tidak semudah yang biasa di lakukannya. Chanyeol membuatnya merasakan lagi bagaimana bercinta dengan rasa sakit seperti yang pertama kali di alaminya. Setelah ia berhasil, Baekhyun menyeka air matanya yang merembes dan mulai mencari kenikmatan baru. Mereka benar-benar bercinta dan merasakan klimaks-klimaks yang paling hebat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
…
Baekhyun terbangun dan memandangi kamar yang gelap, pasti sudah malam. Seberkas sinar dari luar rumah menerangi sebagian ranjang, sinar itu juga menyoroti wajah Chanyeol yang kelihatannya sangat lelah. Chanyeol terlalu memaksakan diri, juga memaksa Baekhyun tentu saja. Ia ingin memandang jam, ingin mengetahui jam berapa sekarang. Tapi tidak ada satu jam pun yang bisa dilihat dalam ruangan gelap. Chanyeol juga sudah melepaskan jam tangannya saat mereka masih di danau tadi.
Baekhyun menghela napas. Akhirnya pertahanannya runtuh juga. Ada sisi lain dari diri Chanyeol yang dilihatnya, sisi lain yang membuat Baekhyun merasa bukan masalah untuk menikmati Chanyeol sekali saja. Bukan ini maksud ciumannya di danau tadi. Baekhyun hanya ingin memberikan ciuman yang sama seperti saat mereka bercumbu pertama kali di halaman rumah. Tapi tidak ada satu hal pun yang bisa Baekhyun baca. Hari ini dia benar-benar tidak sedang memegang kendali, tapi Chanyeol-lah yang memegang kendali atas dirinya. Chanyeol bergerak halus, mungkin ia terbangun. Baekhyun segera menutup matanya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya sampai Sean mencium keningnya dan berujar pelan.
"Bangunlah,"
Bisikan Chanyeol membuat Baekhyun membuka matanya secara perlahan.
"Kemarilah, berbaring di sini!"
Dalam keremangan lampu, Baekhyun bisa melihat kalau Chanyeol sedang menepuk dadanya. Baekhyun beringsut mendekati Chanyeol dan merebahkan kepala di dadanya. Napas Chanyeol sangat teratur membuat Baekhyun seperti dihipnotis. Ia memejamkan matanya merasakan detak jantung Chanyeol yang berirama.
"Kau menangis lagi kali ini!"
Baekhyun nyaris saja tertidur saat mendengar ucapan itu, ia kembali membuka matanya lagi dan menangkupkan kedua tangannya di dada Chanyeol. Aku hanya kesakitan. Sudah lama aku tidak merasakan sakit seperti saat bercinta denganmu."
Chanyeol tersenyum. Ia tau apa yang Baekhyun maksudkan. Chanyeol masih bisa mengingat ringisan Baekhyun saat pertama kali Chanyeol memaksa memasukinya. "Aku merasakan hal yang luar biasa malam ini. Aku belum pernah terkapar seperti ini setelah bercinta dengan wanita!"
"Mereka harus menjadi pelacur dulu selama bertahun-tahun untuk belajar bertahan seperti itu!"
Chanyeol tertawa. Sebenarnya ia sangat tidak suka jika Baekhyun mengungkit-ungkit tentang pelacuran atau sejenisnya. Chanyeol akan semakin membenci dirinya sendiri karena tidak menemukan Baekhyun lebih dulu. Chanyeol membelai kepala Baekhyun dengan sangat perlahan, rambut Baekhyun yang panjang dan halus. Chanyeol masih tidak bisa memungkiri kalau Baekhyun sangat sempurna. Wanita paling sempurna yang pernah di temui dalam hidupnya. "Baekhyun..."
"Ya?"
"Ini perayaan ulang tahun terbesar dalam hidupku."
"Tentu saja. Kau memaksaku untuk menerima perlakuanmu berkali-kali."
"Ya, dan ini sama sekali diluar rencana. Aku tidak mengamankan interaksi kita kali ini. Berjanjilah Baek, jika kau hamil karena ini beritahu aku!"
"Memangnya kenapa? Kau akan bertanggung jawab?"
"Kau pikir aku akan melakukan itu?"
Baekhyun terdiam sejenak. "Aku rasa tidak!"
"Aku akan mencarikanmu dokter terbaik untuk menggugurkannya."
Lagi-lagi hening. Chanyeol menanti jawaban Baekhyun, gadis itu diam terlalu lama. Chanyeol hampir saja menyerah jika saja Baekhyun tidak memanggil namanya.
"Chanyeol, bolehkah aku melahirkan anakmu?"
Chanyeol mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Aku ingin seorang anak. Aku sudah lelah hidup sendirian. Jika aku hamil, bolehkah aku melahirkannya. Aku berjanji akan membawanya pergi jauh dan aku tidak akan mengatakan kepadanya siapa ayahnya. Aku bisa hidup tanpa ayah, anakku pasti juga bisa!"
Chanyeol memejamkan matanya, mendadak satu degupan jantungnya terasa sangat kencang. Mungkin Baekhyun mendengarnya tapi gadis itu berusaha untuk tidak perduli. Chanyeol tidak tau mengapa kata-kata Baekhyun barusan membuat hatinya menjadi sedih. Mungkin ia laki-laki paling cengeng sedunia saat merasakan air matanya mengalir halus. Chanyeol segera menghapus air matanya dan mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya.
"Kau ingin melahirkan anakku?"
"Ya, aku tetap akan pergi pada waktunya. Tapi boleh aku melahirkan anakmu jika aku hamil karena ini? Aku akan bekerja yang baik-baik untuk membesarkannya. Aku akan berusaha sekeras mungkin, aku berjanji anakmu tidak akan kelaparan. Aku hanya butuh teman, dan seperti ibuku yang menganggap kalau anak adalah teman yang paling setia. Anakmu juga tidak akan pernah meninggalkan ibunya sebatang kara sampai aku meninggal dunia."
"Kata-katamu terdengar sangat sedih!"
Baekhyun mengangkat wajahnya dan memandang Chanyeol. Matanya basah, tapi tidak ada satupun dari butiran air matanya menyentuh dada Chanyeol. Baekhyun selalu menyeka air matanya sebelum mengalir terlalu jauh. Chanyeol memandangnya lama. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan air matanya lagi.
"Kenapa dengan wajahmu?"
Baekhyun memaksakan sebuah senyum. "Aku menginginkannya. Sangat menginginkannya. Aku harap khayalan itu menjadi kenyataan."
"Mimpi itu akan jadi kenyataan."
"Jadi kau mengizinkanku melahirkannya kalau aku sampai hamil? Aku berjanji akan merawatnya dengan baik, aku akan membawanya pergi jauh dan aku tidak akan membuatnya mengingat-ingat ayahnya lagi. Dia tidak akan mengganggumu, aku berjanji!"
Baekhyun terlihat sangat senang, tapi ada rasa nyeri menelisip ke dada Chanyeol. Ia mengangkat tubuhnya sedikit agar bisa mencium bibir Baekhyun meskipun hanya sebentar. "Kenapa kau sangat menginginkannya?"
"Aku sudah bosan kesepian, aku sudah mengatakannya, kan? Semenjak ibu angkatku meninggal, satu persatu orang yang ku sayangi pergi. Ada yang datang, tapi segera di rampas oleh takdir."
"Karena itu kau tidak pernah suka menaruh harapan kepada laki-laki? Kau tidak berharap aku menemani anak itu?"
Baekhyun menggeleng. "Aku cukup tau diri. Aku tidak akan memaksa, tidak... aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk itu!"
"Kau sedang mengatakan kalau kau takut bermimpi untuk kesekian kalinya. Tapi kau berani bermimpi memiliki seorang anak!"
"Ya, aku tidak tau darimana keberanian yang satu itu datang! Meskipun hanya untuk malam ini, obrolan kita tentang mimpi kita ini akan ku simpan baik-baik dalam hatiku. Karenamu aku bermimpi."
"Aku sudah katakan padamu tadi, mimpi itu akan jadi kenyataan. Kau tidak menyimak ucapanku? Aku terharu. Sungguh! Ada seorang wanita yang berharap bisa melahirkan anakku meskipun dia tau sangat tidak mungkin untuk tidak bersamaku. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak menuntut banyak. Mengapa kau selalu pasrah dengan keadaan. Saat melihatmu berbicara, kau cukup cerewet dan tidak ada seorangpun yang menduga kalau kau sesedih ini. Sekarang bangunlah, kita akan bersiap-siap!"
Chanyeol meninggalkan ranjang dan juga meninggalkan Baekhyun. Ia keluar dari kamar mencari celananya dan kembali setelah memakainya lalu menyalakan lampu. Baekhyun melihat Chanyeol mencari pakaiannya di dalam tas yang mereka bawa. Mereka akan pergi sekarang?
"Kita akan kemana?"
"Calgary!"
"Pulang? Seharusnya kita baru pulang besok, kan?"
Chanyeol merogoh jam di saku celananya dan memperhatikan baik-baik. Masih jam delapan malam. Ia kembali menoleh kepada Baekhyun lalu mengeringkan kepalanya. "Bersiap-siaplah, Sayang. Ganti pakaikanmu sekarang!"
Baekhyun tidak kuasa untuk menolak. Ia juga mulai beranjak dari ranjang dan kembali menutupi tubuhnya dengan pakaian yang bersih. Sesekali Baekhyun menatap Chanyeol yang menelpon seseorang. Ia menunggu dengan sangat gusar dan akhirnya berseru menyebut nama Kris begitu teleponnya diangkat. Baekhyun mendengar Chanyeol dan Kris berdebat tentang hal yang membuat keningnya berkerut. Laki-laki ini terlihat sangat memaksa dan Kris mungkin bermalas-malasan untuk melakukan perintahnya. Tapi Baekhyun tidak tau harus melakukan apa saat mendengar ucapan terakhir Chanyeol yang sangat menentukkan perasaannya. Ia hanya sanggup memandangi Chanyeol lama.
"Pokoknya siapkan sekarang juga. Begitu sampai di Calgary aku akan segera menikah! Ingat Kris, malam ini juga dan aku tidak suka dengan penundaan!" Chanyeol kemudian menatap Baekhyun yang termenung memandangnya. Ia mengembangkan tangannya lalu mengangkat bahu. "Memangnya kenapa? Ada yang aneh? Aku tidak mungkin membiarkan anakku lahir tanpa ayah! Dan satu lagi, kau harus memberitahu kepada anak itu kalau aku ayahnya. Kau juga tidak boleh membawanya pergi terlalu jauh. Setelah anak itu lahir, aku akan mencarikanmu tempat tinggal di Ottawa agar anak itu bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan aku bisa mengunjunginya ketika aku merindukannya. Dan..." Chanyeol memberikan penekanan khusus pada kata 'dan' yang diucapkan. "Jangan beri nama anak itu dengan nama Park! Aku sudah bilang, kan? Aku tidak menyukai nama Park!"
"Tapi anak itu belum jelas keberadaannya. Kau harus memastikan aku hamil atau tidak, baru kita bisa menikah."
"Kita sudah menjadi suami istri sebelum menikah, lalu apa salahnya kalau tiga bulan ke depan kita benar-benar menikah? Dan aku sudah berjanji padamu, kan? Aku akan mewujudkan impianmu. Aku akan menghamilimu, sayang! Jadi bersiap-siaplah. Kris akan segera menyuruh orang menjemput kita. Aku harus memastikan bahwa surat-surat itu bisa selesai besok pagi, agar anakku punya hak secara hukum atas darah yang mengalir di dalam tubuhnya!"
Baekhyun merasakan kaki-kakinya melemah, ia terkulai dan Chanyeol langsung menyambutnya. Sesaat kemudian Baekhyun memeluknya dan berterima kasih. Chanyeol bukan hanya membuatnya berani bermimpi, tapi juga berusaha mewujudkan mimpinya. Chanyeol bahkan menjanjikan hak-hak yang seharusnya di dapat seorang anak dari ayahnya jika mereka bercerai nanti. Ya, meskipun mereka menikah hanya untuk anak itu, Baekhyun patut bahagia karena pada akhirnya dia akan menikah dalam artian yang sebenarnya. Pada akhirnya ia memiliki suami. Ia sempat putus asa saat calon suami terakhirnya meninggal dunia setahun silam. Tapi sekarang harapannya bangkit lagi.
Sebuah mobil sederhana menjemput mereka sesuai dengan janji Chanyeol. Satu jam kemudian, Baekhyun berjalan di Altar dengan gandengan Kris yang mengantarnya sampai kepada Chanyeol yang menunggu di sana. Ia mengenakan pakaian biasa, tapi Kris menyiapkan sebuah cadar jala putih yang dijepit pada sebuah tiara cantik yang saat ini menghiasi kepalanya. Saat memakaikannya, Kris mengatakan kalau anak perempuan seringkali bertanya tentang pakaian pengantin ibunya. Jika suatu saat anak mereka perempuan, Baekhyun bisa menunjukkan tiara itu kepada putrinya. Baekhyun sangat bahagia, kebahagian terbesar yang terjadi dalam hidupnya. Terlebih saat Chanyeol menyematkan cincin pernikahan di jarinya dan laki-laki itu menciumnya dengan sangat lama, Chanyeol sama sekali tidak mau berhenti meskipun deheman beberapa orang yang hadir menggema.
…
Haruskah ia percaya kalau semua ini bukan mimpi? Tidak ada pilihan lain bagi Baekhyun selain percaya. Semalam setelah menikah, Chanyeol membawanya pulang ke rumah keluarga Park dan untuk pertama kalinya mereka tidur seranjang di dalam kamar Chanyeol yang untuk sementara ini akan menjadi kamar mereka. Baekhyun merasakan pelukan Chanyeol sangat ketat, Chanyeol mungkin bangun lebih dulu darinya. Baekhyun bergerak membuat punggungnya dan dada Chanyeol bergesekan, kepalanya berusaha menoleh kebelakang demi memandang wajah pria yang saat ini menjadi suaminya, pria yang berjanji akan mewujudkan impiannya untuk memiliki anak.
Sebuah kecupan mendarat di pipinya. Baekhyun menghela napas pelan, ternyata pendapatnya benar kalau Chanyeol sudah bangun lebih dulu. "Sejak kapan kau bangun, Chan?"
"Suamiku!" Chanyeol meralat.
Baekhyun tersenyum geli. "Ya, baiklah. Suamiku!"
"Aku sudah bangun sekitar empat atau lima jam yang lalu!" Sejenak Chanyeol diam menanti Baekhyun bisa mencerna kata-katanya. Tapi kelihatannya Baekhyun masih belum mengerti. "Aku tidak bisa tidur, sayang! Aku memikirkan mimpimu yang pada akhirnya membuatku bermimpi juga."
"Tentang anak itu?"
"Ya, aku membayangkan saat aku menimangnya. Lalu mendaftarkannya ke sekolah, membawakan mainan saat aku berkunjung di rumah kalian di Ottawa. Anakku nanti laki-laki atau perempuan? Dia pasti sangat cantik bila perempuan dan sangat tampan kalau anak itu laki-laki. Aku akan memberikannya pendidikan yang bagus. Kau juga harus berjanji untuk memberikan anakku makanan yang bergizi..."
"Ya, tentu saja. Aku akan mempertaruhkan apapun demi itu!"
"Aku tidak pernah berpikir untuk punya anak sebelum ini, Baekhyun. Di rumah ini tidak pernah ada anak-anak, semua keluarga Park yang datang meninggalkan anak-anak mereka dengan pengasuh. Jadi aku tidak pernah belajar menjadi seorang ayah."
"Aku tidak akan membiarkan anakku diasuh orang lain." Baekhyun berdesis. "Aku akan merawatnya sendiri dengan sepenuh hati. Sudahlah, berhenti berkhayal sampai di sini. Aku takut kalau mimpi itu tidak jadi kenyataan."
"Kalau begitu, setelah sarapan kita ke rumah sakit, ya?"
"Untuk apa?"
"Memeriksa!"
"Memeriksakan kehamilanku? Kita baru memulainya tadi malam, setidaknya perlu waktu satu minggu untuk memastikannya."
"Memeriksa kondisimu. Kau harus bisa menjaga diri, makan makanan yang paling bergizi, olah raga dan..." Chanyeol memikirkan apa yang akan diucapkan selanjutnya. "Nanti kita tanya kepada dokter saja!"
Baekhyun menghela napas. "Tentu saja, aku akan melakukan apapun demi anak itu!"
"Bagaimana dengan namanya..."
"Hentikan, Chan!"
"Suamiku!" Chanyeol terdengar kesal.
"Iya, suamiku. Berhentilah berencana terlalu banyak, aku tidak ingin semua ini pada akhirnya hanya menjadi harapan belaka."
"Baiklah, aku diam." Chanyeol kemudian menutup mulutnya.
Tiba-tiba perasaan kikuk timbul. Baekhyun masih percaya kalau ia sudah menikah. Chanyeol juga sama, Chanyeol pikir Baekhyun hanya akan menjadi mainannya saja sampai ia merasa puas dan bosan. Tapi sekarang ia malah ingin menjadikan Baekhyun sebagai ibu dari anak-anaknya? Chanyeol menghela napas. Apapun keputusan yang diambilnya saat ini, semua itu berdasarkan hati dan perasaannya. Chanyeol mencintai Baekhyun dan ia harus mengakui itu meskipun Chanyeol tidak tau berapa lama cinta itu akan bertahan. Akankah sesingkat wanita-wanita lain yang juga dicintai Chanyeol sebelumnya?
.
Seseorang mengetuk pintu dengan ritme yang sangat halus. Baekhyun nyaris saja beranjak untuk membukanya, sayangnya Chanyeol semakin mempererat pelukannya. Ia bahkan menyilangkan kakinya dan bertindak seolah-olah Baekhyun adalah guling hidup. Chanyeol membuat Baekhyun merinding dengan menghisap bagian terlembut dari telinganya lalu memasukkan lidahnya kesana. Baekhyun bergidik dalam. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh laki-laki manapun yang pernah menidurinya. Pintu terus diketuk dan Chanyeol berhenti sejenak saat mendengar suara Mrs. Park , bibinya di luar pintu. Chanyeol menghela napas dan hembusannya tepat mengenai bagian belakang telinga Baekhyun sehingga membuat tubuh Baekhyun bergetar.
"Masuklah!" Chanyeol mengucapkan itu dan ia kembali menjilati telinga Baekhyun. Baekhyun berusaha menolak, terlebih saat menyadari kalau bibi Park sudah berdiri di sisi ranjang mereka dengan tangan bertumpu di pinggang.
"Kenapa kalian sangat suka bermesraan setiap pagi?" desisnya. "Kalian mau sarapan atau tidak?"
"Ya, kami akan segera ke sana." Baekhyun menjawab, karena tampaknya Chanyeol tidak akan menjawab.
Darice menggeleng sekali lagi. "Kenyangkan dulu suamimu, Baekhyun. Dia selalu terlihat seperti orang lapar saat bersamamu!"
"Aku harus selalu lapar untuk cucumu, Bi!" Chanyeol akhirnya ikut bicara.
Wajah bibi Park menjadi cerah. "Benarkah? Kalau begitu Baekhyun sedang mengandung?"
"Tidak. Tapi akan! Karena itu biarkan kami mengusahakannya. Hari ini aku akan membawa Baekhyun ke dokter dan ku harap bibi mau membantu Baekhyun untuk gaya hidup sehat yang harus dijalaninya. Sudah saatnya aku menjadi ayah!"
"Lalu bagaimana bisa akhirnya kau berpikir seperti itu?"
Chanyeol berhenti menggerayangi tubuh Baekhyun lalu duduk menatap bibinya. "Semalam, Baekhyun bilang dia sangat ingin melahirkan anakku!"
"Ternyata bulan madu kalian kemarin membawa perkembangan yang baik!"
"Sangat!" Chanyeol mengangguk-angguk untuk meyakinkan betapa ia setuju dengan ucapan bibinya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan membicarakan mengenai masalah ini dengan Huang dan Luhan."
"Bisakah tidak melibatkan Luhan?"
bibi Park memandang wajah Chanyeol heran. "Kenapa?"
"Luhan akan sangat cemburu karena dia belum mempunyai anak. Lebih baik jangan libatkan dia. Kau pasti tau persis bagaimana ia akan merespon semua ini."
bibi Park mengangguk. "Ya, aku akan merahasiakannya dari Luhan. Aku akan menemui Huang dulu! Dan..." bibi Park beralih kepada Baekhyun. "Hentikan kebiasaanmu bercelana, sayang. Demi anakmu yang akan segera kita dapatkan!" bibi Park kemudian melambaikan tangan dan menutup pintu kembali.
Chanyeol kembali memeluk Baekhyun dan memulai aksinya lagi. Tapi Baekhyun menolak dan menjauhkan diri. "Sebaiknya kita sarapan, suamiku! Setelah itu kita segera berangkat. Sepulang dari dokter nanti aku mau mampir ke supermarket. Boleh, kan? Aku akan membeli bahan-bahan untuk membuat biskuit. Demi anak kita, aku ingin menjadi ibu yang bisa masak apa saja!"
"Ya, tentu saja istriku. Kau juga harus membeli berbagai macam pakaian selain celana pendekmu itu. Kita harus mempersiapkannya sesempurna mungkin. Dan satu lagi, aku akan meminta Kris menjagamu dengan perhatian ekstra. Dia tidak boleh meninggalkanmu dan mengikutiku ke kantor sampai kau aman dari Luhan!"
…
Kris benar-benar menjalakan tugasnya dengan baik. Laki-laki itu bahkan memeriksa tangga terlebih dahulu sebelum Baekhyun menginjaknya. Terlalu manis untuk mimpi yang menjadi kenyataan, mimpi Baekhyun untuk menjadi seorang putri. Chanyeol terlalu menunjukkan betapa ia sangat menyayangi Baekhyun sampai-sampai Baekhyun sendiri kebingungan memikirkan saat-saat dimana mereka akan berpisah kelak. Tapi Baekhyun memang tidak pernah membiarkan dirinya berharap untuk itu, ia hanya boleh berharap untuk mendapatkan anak. Itu saja sudah cukup.
Semuanya sangat mendukung seolah-olah keseriusan Chanyeol untuk segera memiliki anak menular kepada seluruh isi rumah. Mrs. Huang selalu berusaha untuk menyesuaikan masakannya dengan menu sarat gizi yang diatur oleh dokter. Ia juga tidak membiarkan ada satu benda kotorpun masuk ke kamar Baekhyun dan Chanyeol. Wanita itu juga seringkali memarahi pelayan-pelayan muda saat melihat sebutir debu. Mrs. Park juga lebih sering mengeluarkan waktu untuk menemaninya. Wanita itu menemaninya berolahraga, menemaninya berkebun, bahkan menemaninya menonton acara di televisi. Baekhyun tidak bisa memungkiri kalau dirinya merasa sangat istimewa.
Setiap kali Chanyeol pulang, Baekhyun selalu menceritakan kebaikan-kebaikan orang-orang di rumah ini. Dan setiap kali mendengar itu, Chanyeol akan tersenyum senang. Kebahagiaan yang sesempurna itu, tentu saja harus disimpan baik-baik dalam ingatannya karena selama ini Baekhyun hanya bisa berangan-angan saja.
Bukan hanya Baekhyun, Chanyeol juga sangat konsisten menjaga kesehatannya. Ia ingin memilki kualitas sperma yang baik agar bisa membuahi Baekhyun dengan cepat. Usaha-usaha diantara mereka juga tak terbantahkan membuat Baekhyun merasa akan semakin sedih bila berpisah nanti. Tapi tidak ada pilihan lain selain menikmati.
Luhan sejauh ini tidak menggangu lagi. Karena Kris, laki-laki itu tidak segan-segan menjauhkan Luhan dari Baekhyun atau membawa Baekhyun pergi saat Luhan berusaha mendekat. Tapi kali ini Baekhyun tidak dapat menghindar lagi saat Luhan menarik Baekhyun ke dalam kamar wanita itu. Baekhyun tidak mungkin berteriak sebelum Luhan benar-benar bertindak untuk menyakitinya.
"Apa yang akan kau lakukan padaku kali ini?" Baekhyun bersikap lebih waspada. Seharusnya Luhan sadar bahwa kata-kata Baekhyun menyiratkan ketidaksukaan.
"Kau takut padaku?"
"Aku hanya takut hilang kendali dan menyakitimu!"
Luhan tertawa. "Ya, tentu saja. Wanita jalang sepertimu bisa melakukan apa saja. Asal kau tau, aku mengetahui kau siapa sebenarnya. Bae Juhyun!"
Baekhyun terkejut. Tapi kenapa ia heran? Bukankah Chanyeol pernah mengatakan kalau Luhan sedang menyelidiki siapa Baekhyun sebenarnya dan mencari celah agar menjauhkannya dari Chanyeol. Baekhyun mencoba menenangkan diri dan tersenyum. "Bae Juhyun? Siapa?"
"Kau tidak harus menyangkal lagi, aku punya segala buktinya. Coba kau bayangkan, bagaimana bila aku memberitahukan siapa kau sebenarnya pada mertuaku. Dia akan membuangmu!"
"Lalu bagaimana nasibmu jika aku memberitahu perselingkuhanmu dengan Chanyeol? Apakah dia akan tetap mempertahankanmu di rumah ini? Ku rasa dia akan lebih mempertahankan Chanyeol dibandingkan dirimu. Berhentilah bersikap seperti ini, Lu! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Chanyeol apapun yang kau lakukan."
"Meskipun aku menghabisimu?"
Baekhyun tersenyum sinis. "Ya, meskipun kau menghabisiku, Chanyeol tidak akan beralih kepadamu!"
"Kau bertindak seolah-olah Chanyeol sangat mencintaimu. Dia akan segera membuangmu, jadi jangan dulu bersenang hati dengan sikapnya yang hanya sementara!"
"Lalu? Aku tidak meragukan itu. Aku tau kalau suatu saat nanti akan berpisah dengannya. Jadi kau tidak perlu khawatir karena aku memang tidak punya satu alasan pun untuk dipertahankan." Baekhyun mengangkat bahu seolah-olah semua yang terjadi sama sekali bukan masalah dan bukan salahnya. Langkah kakinya terasa sangat ringan begitu keluar dari kamar Luhan menuju kamarnya. Sayangnya, Baekhyun tidak bisa menyembunyikan kekesalannya jika dia hanya seorang diri. Jika kamar itu miliknya sendiri, Baekhyun pasti lebih memilih untuk menghancurkan semua barang yang ada dan melemparkannya keluar jendela.
Baekhyun berbaring di ranjang dan membenamkan wajahnya dalam-dalam. Sesaat kemudian ia mulai terisak. Mengapa harus ada pengganggu di tengah-tengah kebahagiannya yang Baekhyun tau hanya bersifat sementara. Dia memang tidak punya alasan untuk dipertahankan. Chanyeol memang tidak pernah mengatakan kalau laki-laki itu ingin mempertahankannya. Dan Baekhyun juga tidak pernah berharap. Dia juga tidak mungkin mau hidup bersama dengan Chanyeol bila masih ada Luhan yang akan siap membunuhnya sewaktu-waktu.
"Baek, mengapa pintunya dikunci?"
Baekhyun segera duduk dan menatap pintu. Chanyeol sudah pulang, ia memang selalu pulang lebih cepat belakangan ini. Sebisa mungkin Baekhyun menghapus jejak air matanya lalu membukakan pintu untuk Chanyeol. Laki-laki itu tidak langsung masuk malah menatapnya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
Baekhyun menggeleng. "Tidak ada!"
"Kris bilang dia kehilangan jejakmu, makanya aku pulang. Kau tidak sedang menghindari Kris, kan? Aku rasa tidak. Katakan apa yang Luhan lakukan kepadamu?!"
"Mengapa kau langsung menduga Luhan yang melakukannya?" Baekhyun menggeram sambil membantu Chanyeol membuka pakaian kerjanya dan meninggalkan kemeja serta celananya untuk Chanyeol tanggalkan sendiri. Baekhyun mengambil pakaian di dalam lemari lalu memberikannya kepada Chanyeol. Laki-laki itu mengambilnya dan langsung beranjak ke kamar mandi.
Setelah mengganti pakaiannya, Chanyeol segera duduk di sebelah Baekhyun di atas sofa. Ia masih penasaran dan akan terus meyakinkan Baekhyun untuk bercerita. "Ayolah, kau tidak perlu merahasiakan apapun. Selama ini kau juga tidak pernah merahasiakan apapun dariku, kan? Luhan melakukan apa?"
"Dia hanya mengatakan kalau dia tau siapa aku sebenarnya!" Baekhyun menyerah, Chanyeol memang harus diberitahu, dia pun tidak bermaksud menyimpannya sendirian. "Dia mengancam akan memberitahu bibi Park tentang Bae Juhyun!"
"Aku tidak heran dengan itu. Seperti yang pernah ku katakan, dia sedang menyelidiki segala hal tentangmu."
"Aku juga berpikir seperti itu."
"Lalu apa yang kau katakan kepadanya? Kau tidak mungkin menyerah begitu saja, kan?"
"Aku mengatakan kalau aku akan membeberkan perselingkuhanmu dengannya kalau sampai dia mengatakan hal seperti itu pada bibi Park."
"Kau akan mengatakannya? Bibiku akan mengusirku karena itu!"
"Tidak akan. Aku tidak akan menjelek-jelekan namamu. Aku hanya ingin membuat Luhan takut. Aku sangat ingin menarik rambutnya dan mencakar wajahnya saat ia mengatakan itu tadi."
"Jadi itulah yang kau pelajari selama ini di Denmark, sepertinya Luhan salah memilih musuh." Chanyeol tertawa sejenak. "Lalu mengapa kau menangis?"
"Kapan?"
"Kau menangis tadi, aku sudah berdiri di depan pintu dan mendengarkan isakanmu. Jadi?"
Baekhyun menghela napas. "Tentu saja karena aku kesal. Mengapa kau memilih untuk berselingkuh dengan Luhan? Karena kecerobohanmu itu rumah tanggaku yang seperti madu harus diganggu oleh rasa pahit. Meskipun sedikit aku tetap tidak suka ada gangguan!"
"Ya, aku juga menyesalinya. Lalu bagaimana dengan sekarang?"
Baekhyun mengangkat alisnya. "Apanya?"
"Kau sudah siap? Kita akan mencobanya lagi!"
"Kita harus makan malam dulu. Tidak bisakah kau menahannya? Setiap kali kau melakukannya, aku akan terkapar berjam-jam."
"Aku tidak suka dengan penundaan, Baekhyun. Kau pikir enak, menahan itu sama saja membunuhku!"
Baekhyun menghela napasnya. "Kau meminta hal itu sekarang untuk memberiku anak atau melampiaskan hasrat..."
Chanyeol menciumnya sesaat untuk mengatakan kalau lebih baik Baekhyun diam. Tindakan itu memang benar-benar berhasil untuk membuat Baekhyun tidak bersuara untuk beberapa lama. Chanyeol menatap matanya dalam-dalam, tentu saja hal itu tak pelak membuat Baekhyun bergetar. Chanyeol mencium keningnya lalu kelopak mata dan bibirnya sekali lagi. Ia menghela napas lega saat melepaskan ciumannya.
" Baekhyun, apakah bercinta denganku sesakit itu? Kau selalu menangis saat bercinta denganku!"
Baekhyun mengangguk. "Aku mulai terbiasa."
"Aku tidak akan memaksamu, sebenarnya kau yang pertama yang ku paksa seperti itu. Wanita-wanita sebelumnya selalu menyerah pada klimaks-klimaks awal."
"Berarti pemaksaanmu itu hanya berlaku kepadaku?" Baekhyun memutar bola matanya. "Lalu mereka melarikan diri?"
"Tidak, mereka datang lagi untuk mencicil." Chanyeol lalu tertawa. "Mereka selalu bilang kalau rasa sakit itu hanya akan bertahan pada bulan-bulan pertama, setidaknya hal itu membuat mereka ingat kepadaku!"
"Apakah Luhan juga menangis waktu bercinta denganmu?"
Chanyeol diam sebentar mengingat-ingat. "Dia terlalu angkuh untuk menangis. Dia tidak pernah menangis sekalipun!"
"Sekalipun? Maksudmu? Kau sering melakukannya dengan Luhan?"
"Jika tidak, wanita itu tidak mungkin mengejarku sampai seperti ini. Aku memang selalu tampak seksi, kan?"
"Hentikan, aku sudah lama tidak mendengarmu mengatakan hal seperti itu!" Baekhyun benar, ia sudah lama tidak mendengar Chanyeol memuji dirinya, atau menawarkan ranjang dan dirinya. Baekhyun tertawa sejenak. Selang beberapa detik, Chanyeol sudah membekap mulutnya dan membawa Baekhyun ke ranjang.
"Jadi, kau akan melakukannya? Tidak, maksudku kita akan melakukannya?"
Baekhyun terdiam sejenak lalu mengangguk.
Chanyeol mendesah senang. "Aku berjanji kau akan hamil kali ini!"
"Kau selalu mengatakan itu setiap kali kita bercinta!"
"Ya, karena aku berpikir positif kalau aku bisa membuahimu saat itu!"
"Dan kau kecewa setelah sebulan pernikahan kita, aku tidak mengandung juga?"
Chanyeol tertawa mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja tidak. Kalau bukan karena anak yang masih belum kita dapatkan itu, aku tidak akan bercinta denganmu sesering yang kita lakukan selama ini. Aku pastikan kalau kau hanya memperbolehkan aku menyentuhmu dua kali dalam seminggu. Dan aku akan sangat kecewa lalu mencari perempuan lain!"
"Ah, ya! Tentu saja kau boleh melakukan itu sesukamu!"
"Tentu saja tidak ada yang bisa melarangku untuk itu. Jadi diamlah, Baekhyun. Kau sedang tidak mengalihkan tindakan yang seharusnya ku lakukan sejak tadi dengan membicarakan hal itu, kan? Kau tidak akan ku biarkan berkata apapun lagi mulai detik ini!"
Baekhyun menghela napas, mencari kesiapan di dalam dirinya. Setiap kali melakukan hal ini, Baekhyun selalu merasa gugup seolah-olah semua yang dilakukannya dengan Chanyeol adalah untuk pertama kalinya. Chanyeol membuka pakaian Baekhyun, ia memandanginya dengan kagum. Saat ini Baekhyun adalah hartanya yang paling berharga.
"Kau tidak akan memulainya?" Baekhyun bertanya sengit.
Chanyeol mendekat dan duduk di hadapannya. Ia membelai pipi Baekhyun lembut. "Aku ingin, tapi kali ini aku ingin lebih perlahan. Aku tidak akan menciumimu karena ciumanmu hanya membuatku menggebu-gebu."
"Kau akan menyiksanya jika melakukannya secara perlahan!"
"Jadi kau tidak pernah melakukannya secara perlahan?"
"Dengan siapa? Dengan pelangganku di Denmark? Mereka akan menghabiskan banyak uang jika melakukannya dengan perlaha. Aku dibayar perjam, kau tau!"
"Harusnya aku tau!"
Chanyeol memulainya, melakukannya dengan gerakan yang benar-benar perlahan, dia tidak terburu-buru seperti biasanya. Baekhyun mencoba memenuhi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya. Bila Chanyeol ingin melakukannya dengan perlahan, maka dia tidak tau harus melakukan apa. Dia tidak bisa bertindak seagresif biasanya. Setiap sentuhannya membuat Baekhyun berada di puncak keinginannya untuk bercinta. Chanyeol menyiksanya dengan hasrat dan Baekhyun harus berusaha menahannya. Ia tidak ingin merusak rencana dan kesenangan Chanyeol akan tubuhnya. Baekhyun mendesah, ia tidak bisa menahannya lebih lama.
"Chanhh cepatlah, aku sangat tersiksa!"
Chanyeol nyaris memberikan Baekhyun satu klimaks dengan jari-jarinya, tapi ternyata Chanyeol memilih menjauhkan dirinya dari Baekhyun dan membatalkan niat untuk menyentuhnya. Baekhyun sudah mengharapkannya, melihat Chanyeol menjauh Baekhyun benar-benar kecewa.
"Apa yang salah?!"
"Kau terlalu menggoda, Baek. Aku takut malam ini tidak akan cukup untuk kita bercinta, mungkin aku akan memaksamu untuk melayaniku sampai pagi, mungkin juga sampai siang datang lagi. Aku menolak untuk menyentuhmu sekarang!"
"Tapi aku sudah sangat berharap!" Baekhyun merasakan kekecewaannya berlipat-lipat. Chanyeol tidak ingin melakukan hal yang dimintanya? Dia sudah membuat Baekhyun tidak bisa memisahkan diri darinya malam ini. Kecengengannya timbul lagi. Air matanya merembes memandang Chanyeol dengan perasaan tak menentu.
Tentu saja hal itu membuat Chanyeol terkejut. Chanyeol kembali ke dekatnya dan memeluk Baekhyun erat-erat. Chanyeol menghapus air mata Baekhyun dengan lembut. "Kau menangis lagi?"
"Kau menyakitiku"
"Aku?"
"Kau menolakku, Chan. Aku merasa ditolak!"
"Aku tidak menolak, sayang! Aku hanya menundanya. Kau benar kita harus makan malam dulu. Aku butuh banyak tenaga untuk itu. Seperti yang ku bilang tadi, kau terlalu menggoda dan ku rasa malam ini tidak akan cukup untuk mengecapmu!" Chanyeol mencium pipi Baekhyun lalu memandangnya dengan senyum. "Sekarang akuilah, kau menginginkanku! Selama ini kau selalu bertindak seolah-olah sedang melayani keinginanku. Sekarang kau yang menginginkanku, kan?"
Baekhyun memukul dada Chanyeol kesal. Beberapa saat kemudian ia mendengus lalu berujar, "Kita sama-sama menginginkannya, kan?"
TBC…
Uwahh banyak banget reviewnya untuk chap kemarin..
Pasti pada nungguin chanbaek basah2an ya,, wkwkwk
Terimakasih ya atas reviewnya bener bener buat aku semangat buat ngelanjutin remake an ini..
Di tunggu terus kelanjutannya oke..
Terimakasih atas review chap kemarin : Selene3112, bee, Guest, ChanBaekstan, Oh Grace, XiaoRey61, bellasung21, nnsoynnlooin, Nayeolpcy27, firechanlightbaek, , seogogirl, istiqomahpark01, baekchu, kim ryeosa wardhani , vinashiners , rekmooi, neli amelia,
