Hora! Hora! Minna-san! Ogenki desuka…hehe
Akhirnya udah chap 10! Ga kerasa..maaf ya miya slalu tlat apdet ^^"a
Arigatou buat readers yang udah mau+masih baca ff ini TvT
Note : tulisan yang tebal adalah cerita dari chap yang sebelumnya
Langsung aja deh baca chap 10 ini. Enjoy it!
PLEASE REVIEW + comment, okkkkk????
Love you ALL!
Disclaimer : Tite Kubo
Chapter 10 : Training
- M I Y A - C H A N -
--
Pada waktu melawan hollow saat tengah sekolah, Rukia bertemu seorang anak laki-laki yang sudah menjadi roh. Namun saat akan mengkonsoh roh anak tersebut..
"Sebelum aku pergi, aku ingin bertemu dulu dengan keluargaku" ucap anak laki-laki itu. "Kumohon, kakak Shinigami" tambahnya.
Rukia lalu menemani roh anak laki-laki yang bernama Hiroto itu untuk menemui keluarganya, tetapi tetangga Hiro bilang bahwa keluarga Hiro pindah ke Amerika.
"Sudah terlambat neesan. Aku tidak akan pernah lagi bertemu keluargaku" kata Hiro menghapus air matanya.
Pada saat Rukia akan mengkonsoh Hiro dimana ia dimakamkan, datang lah keluarga Hiro untuk mengunjungi makam Hiro sebelum pindah ke Amerika.
"Disaat terakhirnya, Hiro mengatakan bahwa dia sangat menyayangi kalian, karna itu ia harap kalian selalu hidup bahagia" kata Rukia dengan suara keras. Hiro terkejut dengan ucapan Rukia.
"Rukia-neesan…" keluarga Matsuyama tersenyum terharu.
"Kami janji akan hidup bahagia, dan pasti kami akan kesini mengunjungi, Hiroto" kata Shida seakan ia sedang bicara pada Hiroto.
"Okaasan…" Hiro tersenyum. Lalu keluarga Matsuyama pun pergi dengan mobilnya. Setelah itu Rukia mengkonsoh Hiro.
"Arigatou Rukia-neesan, arigatou okaasan, otoosan, oneechan. Minna… Sayounara" sedikit demi sedikit tubuh Hiro menghilang. Sesaat sebelum menghilang Hiro tersenyum bahagia. Setelah itu ia terbang menjadi kupu-kupu hitam menuju Soul Society.
"Sayounara, Hiroto"
--
"Darimana saja kau?" Rukia melihat pada orang yang menegurnya.
"Ichigo"
"Jangan membuatku mengulang pertanyaanku" kata Ichigo yang bersandar pada pintu kamarnya. Saat itu Rukia tengah membuka pintu kamar Yuzu dan Karin.
"Aku membunuh hollow dan meng-konsoh roh" jawab Rukia. Ichigo terdiam dan berjalan menuju Rukia.
"Tapi kan tidak perlu sampai larut malam seperti ini" sekarang Ichigo berdiri tepat di depan Rukia. Rukia tertawa kecil.
"Sebelum kau hilang ingatan pun aku selalu pulang lebih larut dari ini, Ichigo" kata Rukia.
"Aku tahu. Tapi aku tetap khawatir padamu"
"Ichigo.. hm. Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir" Rukia tersenyum.
"Yah, aku percaya padamu. Pipimu kenapa?" Tanya Ichigo sambil melihat pipi Rukia yang terluka karna melawan hollow saat pulang.
"Oh ini. Tidak apa-apa, aku hanya tergores sedikit saat melawan hollow tadi"
"Harus diobati, kalau tidak nanti bisa infeksi"
"Tidak usah, Ichigo. Biar nanti aku cuci dengan air"
"Sekarang saja, mumpung aku belum tidur ayo aku bantu mengobati lukamu"
"Baiklah" Rukia kalah dengan itu. Mereka menuju ruang tamu untuk mengobati luka goresan itu. Ichigo membawakan air hangat, sapu tangan, dan plester.
"Kau ini seharusnya lebih berhati-hati." Ucap Ichigo sambil mengobati pipi Rukia yang tergores. Wajah mereka berdekatan. Wajah Rukia jadi sedikit merah.
"Aku memang kurang hati-hati"
"Jangan-jangan kau memang selalu ceroboh?haha" kata Ichigo kali ini dengan sedikit tawa.
"Enak saja. Baru kali ini kok aku ceroboh" elak Rukia.
"Benarkah?" Tanya Ichigo lagi dengan tawanya lagi.
"Tentu saja. Aku tidak bohong" Ichigo hanya tersenyum. Rukia yang melihat Ichigo tersenyum, terdiam.
"Ichigo yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Ia lebih bisa tersenyum sekarang. Syukurlah.." katanya dalam hati. Rukia segera menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ichigo harus segera kembali seperti dulu. Ingatannya harus kembali. Harus!"
"Oi Rukia!" panggil Ichigo.
"Iya? A, ada apa?" lamunan Rukia buyar.
"Kau melamun ya?"
"Tidak, aku hanya berpikir saja"
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ichigo penasaran.
"Bukan apa-apa kok."
"Apa sih? Ceritakan padaku. Kau merahasiakan sesuatu dariku ya?"
"Tidak. Tidak apa-apa"
"Aku tahu. Biar aku tebak" Rukia kebingungan melihat Ichigo.
"Kau sedang memikirkan orang yang kau sukai kan?" Tanya Ichigo curiga dan menyimpan tangan kanannya di dagu seperti detektif. Rukia rolling eyes.
"Kau ini bicara apa. Tidak ada yang kusukai. Sudahlah" Rukia berjalan menuju pintu keluar ruang tamu.
"Rukia" Rukia menghentikan langkahnya.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Rukia yang sekarang melihat Ichigo.
"Kau tidak punya orang yang kau sukai?" Tanya Ichigo tiba-tiba. Rukia terdiam.
"A, aku.. kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Jangan bercanda. Sudahlah. Aku mau tidur, trima kasih ya kau sudah mengobatiku" ujar Rukia. Namun Ichigo segera menarik lengan Rukia untuk berhadapan dengannya. Rukia terkejut.
"Kalau begitu kau harus ceritakan dulu apa yang kau rahasiakan. Aku penasaran" suasana menjadi hening di ruang tamu itu. Jam menunjukan pukul 22.15.
"Baiklah, lepaskan dulu tangan ku" Ichigo melepaskan genggamannya.
"Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar ingatanmu cepat kembali sepenuhnya. Itu saja. Kau puas?"
"Hanya begitu saja?" Tanya Ichigo menaikan kedua alisnya. Rukia mengangguk.
"Nah kau sudah senangkan aku menceritakan apa yang aku pikirkan? Sekarang biarkan aku untuk istirahat" kata Rukia membuka pintu ruang tamu.
'Tunggu, Rukia"
"Ouu Ichigo, ayolah. Aku ingin tidur"
"Tapi kau belum makan malam kan?"
"Besok saja. Aku tidak terlalu lapar. Sudah ya, oyasumi" Rukia lalu keluar dari ruang tamu meninggalkan Ichigo. Ichigo mengikuti Rukia.
"Tapi Rukia kau harus makan biarpun hanya lapar sedikit. Nanti kau bisa sakit"
"Tidak akan Ichigo. Aku tidak apa-apa"
"Tapi Rukia.."
--
"Ohayou Kurosaki-kun, Kuchiki-san!" sapa Inoue pada Ichigo dan Rukia yang baru memasuki kelas pagi itu.
"Ohayou, Inoue" balas Ichigo.
"Ohayou Inoue-san" balas Rukia tersenyum.
"Ah, Kuchiki-san!" Inoue mengikuti Rukia menuju bangkunya. Rukia langsung menoleh pada Inoue.
"Apa kau tidak apa-apa kemarin?" kata Inoue. "Maksudku kau kan kemarin melawan hollow tapi Kurosaki-kun bilang kau belum pulang tadi malam" tambahnya.
"Aa, aku memang pulang agak malam. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja Inoue"
"Tapi luka di pipimu…" ujar Inoue khawatir.
"Oh, ini… tidak apa-apa. Hanya tergores sedikit saja" jawab Rukia lagi. Inoue menghela nafas.
"Yokatta" ujar Inoue sambil tersenyum.
"Inoue, maaf ya kalau tadi malam aku mengganggumu"
"Tidak kok! Sungguh! Kurosaki-kun tidak menggangguku. Aku juga cemas pada Kuchiki-san karna belum pulang sejak melawan hollow kemarin siang. Hehehe.."
"Memang kemarin apa yang dilakukan Ichigo?" Tanya Rukia.
"Kemarin Kurosaki-kun pergi ke apartmenku dan menanyakan kalau aku tahu dimana Kuchiki-san" jawab Inoue.
"Benar. Ini gara-gara kau yang pulang malam dan tidak mengabari ku kau dimana. Makanya aku mencarimu kemana-mana" kata Ichigo.
"Maafkan aku. Tapi itu memang pekerjaanku sebagai Shinigami. Aku kan sudah bilang padamu kalau aku biasa pulang lebih larut dari kemarin malam, maka dari itu-"
"Kau harus berjanji padaku jika kau akan pulang telat kau harus memeberi tahu aku alas an dan tempat kau berada. Supaya aku tidak susah-susah mencarimu lagi." Kata Ichigo.
"Tapi—"
"Ohayou gozaimasu, minna-san! Ayo kita mulai pelajaran hari ini" tiba-tiba Ochi-sensei masuk kelas. Kata-kata Rukia terpotong. Rukia menatap Ichigo sesaat, lalu menyimak pelajaran Ochi-sensei.
--
Istirahat makan siang di atap Karakura High
Suasana makan siang Ichigo, Rukia, Inoue, Ishida dan Chad serta Tatsuki diselimuti keheningan. Semua nya terdiam dan makan siang tanpa banyak bicara.
"Ano…" Inoue mulai. Yang lain langsung menatap Inoue serempak.
"Eh.. tidak..umm, maksudku…" kata Inoue lagi.
"Kau mau bicara apa Inoue?" Tanya Rukia.
"Ti, tidak Kuchiki-san. Tidak ada apa-apa. Hahaha" ujar Inoue sambil tertawa kaku. Rukia heran, namun ia kembali memakan sandwich nya.
"O, ya Kuchiki-san. Kemarin malam kau kemana?" Tanya Tatsuki. Rukia mengalihkan perhatiannya lagi pada Tatsuki.
"Seperti biasa aku membasmi hollow. Kenapa?"
"Tidak, kemarin aku melihat Ichigo dari apartment Orihime. Lalu aku Tanya Orihime, katanya kau belum kembali saat melawan hollow kemarin siang" jelas Tatsuki. Rukia langsung menoleh pada Ichigo.
"Apa?" Tanya Ichigo yang berhenti memakan bekalnya.
"Ichigo, aku kan sudah bilang kau tidak perlu mencemaskanku."
"Bagaimana bisa begitu, kau tinggal di rumahku dan kau belum pulang sampai larut malam. Tentu saja aku cemas padamu"
"Iya, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak-"
"Rukia. Aku tahu kau shinigami, kau kuat. Tapi tetap saja aku mencemaskanmu kalau kau tidak memberiku kabar dimana kau dan sedang apa"
"Baiklah, aku berterima kasih karna kau mencemaskanku. Tapi memang sudah tugasku membasmi hollow. Sebelumnya pun aku biasa pulang lebih larut dari itu."
"Iya tapi itu kan waktu aku berpatroli bersamamu sebelum aku kehilangan ingatanku. Sekarang aku hilang ingatan jadi aku tidak tahu apa yang pernah kau atau aku lakukan sebelumnya" jelas Ichigo panjang. Ishida membetulkan kacamatnya, Chad hanya diam terpaku. Inoue dan Tatsuki menelan ludah.
"Sudahlah, terserah kau saja" kata Rukia menyerah dan menghela napas. Ichigo kembali memakan bekalnya.
"Ehm! Ngomong-ngomong, Kuchiki-san. Apa yang akan pasukan Gotei 13 lakukan dengan Ichimaru dan pasukan espadanya? Apakah sudah ada berita?" Tanya Ishida.
"Mereka akan mengirimkan sebuah tim untuk dikirim ke Hueco Mundo. Tapi aku belum tahu kapan pastinya mereka berangkat dan siapa saja yang akan dipilih dalam tim itu" jawab Rukia.
"Kalau begitu bagaimana jika pasukan Gotei 13 dan pasukan Ichimaru berperang di Hueco Mundo?" kali ini Chad yang bertanya.
"Be, benar juga… kita tidak bisa kan bertarung di Karakura lagi. Kita tidak bisa mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah" kata Inoue khawatir.
"Yah, kau benar Inoue. Kita tidak boleh mengorbankan orang yang tidak bersalah. Mungkin Hueco Mundo adalah tempat terbaik dimana kita memulai perang yang selanjutnya" jelas Rukia.
"Kalau begitu aku juga harus lebih giat berlatih agar ingatanku cepat kembali" Ichigo dengan wajah serius yang lain mengangguk.
"Kalau ada yang bisa aku lakukan aku pasti akan membantu kalian semua" kata Tatsuki.
"Tatsuki-chan…"
"Arigatou, Arisawa" ujar Rukia.
"Kalau begitu kita selesaikan makan siang kita. Karna sebentar lagi bel masuk akan berbunyi" mereka lalu kembali memakan bekalnya masing-masing.
"Dou shita no, Rukia?" Tanya Ichigo pada Rukia yang terlihat sibuk dengan jus buahnya.
"Tidak, aku hanya agak kesulitan untuk meminum ini" kata Rukia masih mengotak atik jus buah nya. Tiba-tiba Ichigo mengambil jus buah itu dari Rukia.
"Oi! Ichigo!"
"Ini. Minumlah." Ujar Ichigo sambil memberikan jus buah yang sudah dipasangi sedotan.
"Arigatou" kata Rukia.
"Masa membuka jus buah saja tidak bisa" Ichigo menghela napas.
"Bukan begitu! Aku hanya lupa cara membukanya. Itu kan sudah lama sekali saat kau mengajarkanku cara membuka jus ini dengan sedotan"
"Aku mengajarimu?" Ichigo heran. Yang lain menoleh pada Ichigo dan Rukia. "Kapan?"
"Benar juga. Kau pasti tidak ingat. Sudahlah tidak apa-apa" jawab Rukia lagi. Ichigo melihat jus buah yang diminum Rukia itu dengan seksama.
"Jus buah itu…." Ichigo terdiam sejenak mencoba mengingat sesuatu. "Aaarrg…" Ichigo mengerang kesakitan. Yang lain terkejut.
"Kurosaki-kun!" seru Inoue.
"Ichigo!" seru yang lain bersamaan.
"Ichigo, kau kenapa?" Tanya Rukia khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Hanya mencoba mengingat-ingat sedikit masa lalu ku"
"Kalau memang kau belum ingat, jangan terlalu kau paksakan, Kurosaki…"
"Aku tidak apa-apa Ishida. Kalian tidak usah khawatir" Ichigo mencoba menenangkan dan tersenyum sambil tetap memegangi kepalanya yang sakit. Bel berbunyi…
"Ayo kita segera masuk ke kelas" ajak Chad. Semua lalu berdiri.
"Ichigo"
"Aku tidak apa-apa Rukia. Aku bisa berdiri sendiri. Terima kasih" cela Ichigo pada Rukia yang tadinya mau membantu Ichigo berdiri. Rukia mengangguk.
--
"Kuchiki-Taichou, Zaraki-Taichou, Soi Fong-Taichou, Kyouraku-Taichou, dan Unohana-Taichou! Misi kali ini aku serahkan pada kalian. Laporkan semua yang terjadi di Hueco Mundo, apakah itu jelas?" jelas Sou-Taichou dalam ruangan yang biasa digunakan untuk rapat pasukan Gotei 13.
"Kami mengerti, Sou-Taichou" jawab mereka ber-5.
"Bagus. Besok juga kalian harus berangkat kesana"
"Hai"
"Tapi sampai kapan mereka di Hueco Mundo, Sou-Taichou?" Tanya Toushiro.
"Sampai kita bisa mengetahui apa yang direncanakan Ichimaru Gin dan pasukan nya. Kali ini kita harus lebih mempersiapkan serangan yang dilakukan Ichimaru dan pasukannya" jawab Sou-Taichou.
"Kalau begitu, apakah ada kemungkinan kita akan berperang di Hueco Mundo?" sekarang kapten Mayuri yang bertanya.
"Ada kemungkinan begitu. Maka dari itu kita harus bersiap mulai dari sekarang"
"Lalu bagaimana dengan Kurosaki Ichigo? Ingatannya belum kembali bukan?" Tanya Ukitake-Taichou.
"Masalah itu… kita tidak boleh terlalu menggantungkan masalah perang ini terus menerus padanya."
"Tapi bukankah Kurosaki-san juga yang sudah membunuh Sousuke Aizen? Tidak menutup kemungkinan balas dendam yang kedua nanti pasukan Ichimaru mencoba membunuh Kurosaki-kun lagi. Apalagi… dia juga belum bisa mengingat masa lalu nya"
"Ukitake-Taichou, kita hanya bisa menunggu waktunya tiba. Hanya waktu yang akan menentukannya. Kita juga tidak bisa hanya menunggu Kurosaki Ichigo mengingat kemba masa lalu nya. Aku yakin di Karakura pun ia dan teman-temannya pasti akan berusaha untuk mengingat masa lalu Kurosaki." Semua terdiam,
"Karna itu kita tidak boleh menyerah dan harus tetap waspada untuk menghadapi Ichimaru Gin dan pasukan espada nya" jelas Sou-Tichou.
"Sekian Pertemuan hari ini"
--
"Kau siap Kurosaki-san?" Tanya Urahara.
"Aku siap" jawab Ichigo sambil menelan ludah.
"Tessai-san, tolong nyalakan alatnya"
"Wakarimashita" Tessai menjalankan apa yang dikatakan Urahara. "Sudah kunyalakan alatnya, pak Urahara" Urahara mengangguk.
"Urahara-san, apa kau yakin dengan cara ini Ichigo bisa mengingat masa lalu nya?"
"Aku juga tidak begitu yakin, Kuchiki-san. Tapi kita bisa mencobanya, alat ini memang sedikit memaksa Kurosaki-san untuk mengingat masa lalu nya." Ujar Urahara.
"Tapi itu kan bisa menyakiti Ichigo."
"Aku juga tidak akan memakaikan alat ini pada Kurosaki-san. Tapi sejak awal ia memaksa untuk mencoba alat ini agar ingatan masa lalu nya terbuka" Rukia terdiam.
"Aaargh…" Ichigo mulai mengerang.
"Ichigo!"
"Efek nya mulai terasa. Bila Kurosaki-san mulai kesakitan, bisa jadi karna ingatan sedikit demi sedikit mulai terbuka."
"Tapi kalau begini caranya…"
"Kita lihat saja sebentar lagi."
*Dalam pikiran Ichigo…
"Aaarghh…sakit..kepalaku.." Ichigo melihat sesuatu yang muncul dalam pikirannya.
"Rukia…Shinigami…Hollow…Gotei 13…Aizen Sousuke..Aaaarrggghhh…."
"Aku yakin kau akan mengingat semua masa lalumu, Ichigo"
"Su, suara itu lagi…si, siapa kau?" suara itu hanya tertawa.
"Hichigo.. apa kau hollow yang berada dalam tubuhku?" Tanya Ichigo lagi.
"Kau benar. Aku Hichigo, hollow yang berada dalam dirimu. Hihihihi" jawab Hichigo sambil tertawa.
"Ichigo…" muncul suara yang lain.
"Ada suara lain… siapa? Siapa kau?!"
"Ini aku… aku adalah Zanpakutou mu" jawab suara itu.
*
"Aaaaargg!!"
"Ichigo!!!" seru Rukia. "Urahara-san!!"
"Tessai-san! Tolong matikan alatnya!"
"Hai!" Tessai lalu mematikan alat tersebut. Setelah itu alat yang dipasang di kepala Ichigo pun dilepas. Ichigo terkulai lemah.
"Ichigo! Ichigo! Sadarlah!" seru Rukia.
"Tessai-san, bantu aku membawa Kurosaki-san ke kamar" kata Urahara. Mereka membawa Ichigo ke kamar selagi Ichigo tidak sadarkan diri.
--
"Apa rencana kita selanjutnya, Ichimaru-sama?"
"Hmm… entahlah. Aku juga belum tahu rencana kita selanjutnya"
"Ma, maksud Tuan…?"
"Aku sedang memikirkan rencana yang akan kita pakai untuk menghadapi pasukan Gotei 13 dan Kurosaki Ichigo"
--
Sore itu…
"Onii-chan.. bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukan kakak…"
Toktoktok
"Siapa?"
"Ini aku, Orihime. Tatsuki"
"Tatsuki-chan? Tunggu sebentar!" inoue membuka pintunya.
"Aduh.. diluar hujan deras. Padahal aku bawa payung tapi masih saja kebasahan"
"Ayo masuk. Biar aku ambil handuk dan membuatkan teh hangat untukmu" kata Inoue tersenyum.
"Arigatou, Orihime" Inoue lalu pergi mengambil handuk dan kembali ke ruang tengah dengan membawa secangkir teh hangat.
"Silahkan diminum" Tatsuki meminum secangkir teh hangat yang disuguhkan Inoue.
"Maaf merepotkanmu, Orihime"
"Kau tidak merepotkan, Tatsuki-chan" Inoue menggeleng.
"Oh ya, tadi kau sedang apa? Apa aku mengganggumu?" Tanya Tatsuki.
"Tatsuki-chan tidak menggangguku. Tadi aku sedang mendoakan kakak"
"Oh begitu ya" Inoue hanya mengangguk. Tiba-tiba suasana menjadi hening.
"Orihime" panggil Tatsuki tiba-tiba. Inoue menoleh pada Tatsuki.
"Hai, Tatsuki-chan?"
"Apakah jika perang selanjutnya yang terjadi antara dewa kematian dan arrancar terulang lagi, kau akan ikut kembali berperang bersama mereka?" Tanya Tatsuki. Inoue terdiam menatap Tatsuki.
"Tentu saja. Aku akan ikut membantu shinigami untuk melawan pasukan arrancar lagi. Walaupun aku mungkin hanya bisa mengobati luka-luka mereka" terdiam lagi.
"Aku… akan membantu mereka semampuku. Sekuat tenagaku. Aku tidak ingin hanya dilindungi saja dan diam seakan aku tidak berguna. Aku juga ingin membantu dan melindungi orang-orang yang aku sayangi dan tidak bersalah. Maka dari itu aku ingin membantu Kurosaki-kun!"
"Membantu pasukan shinigami. Aku tidak ingin menjadi tidak berguna. Aku ingin mandiri… seperti… Kuchiki-san"
"Orihime.. kau…"
"Kuchiki-san adalah perempuan yang mandiri. Ia kuat dan bisa melindungi orang-orang yang disekitarnya. Sedangkan aku..meskipun sendirian pun rasanya sulit untuk kuat seperti Kuchiki-san." Tatsuki terpaku melihat sahabat baiknya.
"Aku yakin Kurosaki-kun juga menyukai Kuchiki-san"
"Orihime, kau—"
"Terlihat dari mata mereka. Ikatan mereka kuat. Mereka juga peduli satu sama lain." Air mata Inoue mulai jatuh perlahan dipipinya.
"Iya. Ikatan mereka memang kuat. Tapi mungkin saja Ichigo memang menyukai Kuchiki-san hanya saja perasaan itu ditujukan sebagai teman, kan?"
"Aku juga tidak tahu perasaan Kurosaki-kun yang sebenarnya, tapi aku hanya tahu bahwa rasa yang dimiliki Kurosaki-kun sangat kuat pada Kuchiki-san. Buktinya kemarin Kurosaki-kun pergi mencari Kuchiki-san yang belum pulang sampai susah payah."
"Orihime…" Tatsuki memeluk Inoue yang menangis.
"Aku ini orang yang tidak baik ya, Tatsuki-chan. Bisa-bisa nya aku memiliki rasa cemburu ini untuk yang kedua kalinya. Bahkan disaat Kurosaki-kun sedang hilang ingatan pun aku tidak bisa membantunya mengingat masa lalu nya"
"Sudahlah, Orihime. Kau tidak salah. Aku tahu kau sangat menyukai Ichigo. Aku tahu kau mencintainya… jadi kau tidak salah" Inoue semakin menangis dipelukan Tatsuki.
--
"Hujan nya deras sekali" kata Rukia melihat keluar jendela.
"Kalau begitu kalian disini saja sampai hujannya berhenti. Sementara itu aku akan keluar sebentar untuk membantu Tessai-san membereskan alat-alat yang tadi" kata Urahara. Rukia mengangguk. Sejak berlatih menggunakan alat tadi siang, Ichigo masih belum sadar dari pingsannya.
"Ichigo…" tiba-tiba mata Ichigo mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Rukia… aku dimana?" tanyanya sambil mulai bangun.
"Kau tidak apa-apa? Jika kepala mu masih sakit kau tidak usah memaksakan diri untuk bangun"
"Aku tidak apa-apa. Kepalaku sudah tidak sakit lagi"
"Syukurlah" Rukia tersenyum.
"Jam berapa sekarang? Bagaimana latihanku tadi? Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Sekarang pukul 18.15. tadi saat kau memakai alat Urahara-san, kau mengerang kesakitan dan pingsan" jelas Rukia.
"Begitu ya. Aku ingat sekarang. Tadi aku sedikit mengingat masa laluku"
"Kalau alat itu membuat kepalamu sakit, kau tidak usah memaksakan dirimu memakai alat itu Ichigo"
"Tidak, alat itu sangat berguna. Buktinya sekarang aku bisa sedikit demi sedikit mengingat masa lalu ku. Jadi aku akan terus mencoba mengingat masa lalu ku dengan bantuan alat itu"
"Tapi Ichigo!"
"Jangan khawatir, Rukia. Semakin cepat aku mengingat masa lalu ku, semakin aku bisa mengalahkan Ichimaru dan pasukannya. Dengan begitu aku bisa melindungi semuanya" kata Ichigo dengan wajah serius
"Baiklah"
"Kurosaki-san! Kau sudah sadar? Syukurlah kalau begitu."
"Urahara-san. Maafkan aku karna aku begitu saja pingsan tadi."
"Kau ini bicara apa, Kurosaki-san? Justru aku yang harusnya minta maaf padamu karna alatnya kupasang dengan tingkat yang cukup tinggi dari biasanya."
"Tidak apa-apa. Tapi karna itu aku jadi ingat sedikit masa laluku"
"Sou desuka… syukurlah kalau begitu. Lalu apa yang sudah kau ingat?" Tanya Urahara.
"Aku mengingat saat Urahara-san melatihku pada saat aku akan menolong Rukia ke soul society. Lalu mencoba lebih mengingat yang lain, ada suara yang kudengar."
"Suara?" kata Rukia dan Urahara bersamaan.
"Suara apa Ichigo?" Tanya Rukia.
"Entahlah. Suara seseorang… yang pertama kudengar adalah suara hollowku, Hichigo. Dan yang kedua, adalah suara orang lain yang rasanya pernah aku tahu tapi aku masih belum ingat."
"Apakah suara orang yang tidak kau kenal itu mengatakan sesuatu?" sekarang Urahara yang bertanya. Ichigo mengangguk.
"Ya, suara itu bilang bahwa dia adalah zanpakutou ku" Urahara menutup setengah wajahnya dengan kipas yang ia pegang.
"Zangetsu?" kata Rukia.
"Zan..getsu? apa itu nama zanpakutou ku?" Tanya Ichigo.
"Ya.. zangetsu adalah nama zanpakutou mu" jawab Rukia.
"Itu bagus kalau kau sudah mendengar suaranya, Kurosaki-san"
"Ya, tapi wujud dari zanpakutou ku itu tidak terlihat jelas. Hanya berupa samar-samar"
"Tidak apa-apa. Kau semakin dekat dengan ingatanmu pada zanpakutou mu. Dengan mengingat caramu memakai kekuatan shinigami mu, aku yakin kau akan segera mengingat masa lalu mu, Kurosaki-san"
"Aa. Karna itu aku ingin kau memakaikan alat itu lagi besok, Urahara-san"
"Tidak" rukia dan Ichigo terkejut dengan jawaban Urahara. "Kau tidak bisa memakai alat itu lagi"
"Apa maksudmu, Urahara-san?" Urahara terdiam.
"Bukankah kau tadi yang bilang kalau aku semakin dekat untuk mengingat masa laluku dengan cara memakai kekuatanku? Lalu kenapa sekarang kau malah tidak mengijinkanku untuk memakai alat itu?" Tanya Ichigo lagi.
"Memang benar kau bisa mengingat masa lalu mu dengan cara kau juga bisa ingat caranya menggunakan kekuatanmu. Karna itu mulai besok kau akan ku latih kembali langsung dengan kekuatanku. Bukan dengan menggunakan alat"
"Maksudmu kau akan melatih Ichigo seperti kau melatih nya dulu sebelum Ichigo mempunyai kekuatan shinigaminya?"
"Itu benar, Kuchiki-san. Bagaimana Kurosaki-san? Kau setuju?" ichigo mulai tersenyum.
"Ya. Aku setuju, Urahara-san!"
--
"Gomen ne… Tatsuki-chan. Aku malah menangis tadi"
"Daijoubu, Orihime. Aku senang kau mau menceritakannya padaku. Kau lebih lega kan sekarang?"
"Un! Aku sudah lebih lega dari sebelumnya, Tatsuki-chan!"
"Kalau kau punya masalah lagi, aku pasti akan mendengarkan ceritamu lagi. Kau jangan sungkan ya"
"Arigatou, Tatsuki-chan. Maaf ya kalau kau merasa bosan mendengarkan ceritaku"
"Tidak. Karna itulah gunanya seorang teman. Kalau begitu aku pulang dulu ya" Inoue mengangguk.
"Hati-hati, Tatsuki-chan" Inoue melambai-lambaikan tangan. Tatsuki melambaikan tangan juga. Setelah itu Inoue masuk ke dalam apartmen nya.
--
"Kasihan Orihime. Dia sudah lama menyimpan perasaannya pada Ichigo. Tapi nampaknya sampai sekarang Ichigo belum menyadari perasaan Inoue itu. Mungkin memang benar bahwa Ichigo menyimpan perasaan yang kuat pada Kuchiki-san" gumam Tatsuki dalam hati. Ia lalu menghela napas. Tiba-tiba dia melihat seseorang.
"Itu kan…"
--
"Kalian yakin mau pulang sekarang? Hujannya belum sepenuhnya reda"
"Tenang saja Urahara-san. Ini hanya gerimis saja." Kata Ichigo.
"Kalau begitu maua aku pinjamkan paying?" Urahara menawarkan.
"Baiklah"
"Ini dia payungnya. Berhati-hatilah."
"Arigatou Urahara-san" ucap Rukia.
"Dou itashimashite. Sampai jumpa besok, Kurosaki-san, Kuchiki-san" katanya lagi sambil melambaikan kipasnya. Diperjalananan pulang..
"Ne, Rukia. Sebelum ingatanku hilang, bagaimana sifatku di matamu?" Tanya Ichigo tiba-tiba. Rukia langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" Tanya Rukia yang masih saja tidak berjalan. Ichigo juga menghentikan langkahnya dan melihat pada Rukia.
"Aku hanya ingin tahu saja" kata Ichigo lagi. "Yuzu pernah bilang bahwa sifatku yang sekarang berbeda dengan sifatku yang sebelum ingatan ku hilang. Aku hanya penasaran saja"
Rukia lalu melanjutkan langkahnya dan mendekati Ichigo yang semenjak Rukia berhenti ia juga berhenti berjalan.
"Sifatmu yah…" Rukia menatap Ichigo sambil tersenyum sedikit.
"Ke,kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Ichigo.
"Tidak. Haha" Rukia berjalan kembali.
"O, oi! Rukia! Jangan hanya 'haha'! kau belum menjawab pertanyaanku tadi…" Ichigo menyusul Rukia yang kembali berjalan.
"Baiklah. Sifatmu sebelum hilang ingatan adalah…"
"Hn? Kenapa kau diam? Ayo teruskan"
"Kau yakin aku boleh jujur tentang bagaimana sifat mu dulu?"
"Tentu saja. Aku kan yang bertanya padamu" kata Ichigo mengerutkan alisnya. Rukia hanya tertawa.
"Baiklah, baiklah. Sebelum kau hilang ingatan, sifatmu tidak sabaran. Selalu tidak peduli dengan maslah orang lain. Cukup pendiam, tapi kadang cerewet juga"
"Benarkah itu?" Ichigo menaikan sebelah alisnya.
"Kau tidak percaya? Selain itu kau ini terlalu mudah khawatir. Dan rasa khawatir itu berlebihan. Selalu ingin lebih kuat dan melindungi orang lain, kau juga pantang menyerah" Rukia tersenyum. Ichigo terdiam.
"Begitu ya" kata Ichigo sambil tersenyum juga.
"Oh ya, aku lupa. Dulu juga kau selalu memasang wajah menakutkan. Dengan mengerutkan alismu, seperti ini" kata Rukia sambil menirukan wajah Ichigo.
"Masa aku seperti itu? Kau pasti bohong" Rukia tertawa.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi itulah dirimu. Kurosaki Ichigo, shinigami cadangan dan seorang vaizard" ucap Rukia lagi. Tiba-tiba Rukia menhentikan langkahnya lagi. Ichigo ikut menghentikan langkahnya lagi di depan Rukia.
"Tapi… aku senang kita bisa bertemu, Ichigo" Ichigo agak terkejut dengan kata-kata Rukia.
"Aku juga bersyukur bertemu denganmu. Karna kau telah merubah takdirku, Rukia" Ichigo lalu mendekati Rukia. Tiba-tiba Ichigo memeluk Rukia. Rukia terkejut dengan apa yang dilakukan Ichigo.
"Ichigo, apa yang kau—"
"Arigatou, Rukia" setelah beberapa lama mereka berdua berpelukan dengan tersenyum bersama ditengah hujan tanpa payung. Setelah beberapa saat kemudian mereka melepas pelukannya. Dan masih saling tersenyum.
"Lebih baik kita cepat pulang. Aku yakin Yuzu, Karin dan oyaji khawatir dengan kita" Rukia mengangguk. Pada saat Ichigo memungut payung yang tadi dijatuhkannya (saat berpelukan dengan Rukia) seseorang memanggil.
"Ichigo! Kuchiki-san!" Ichigo dan Rukia menoleh pada orang yang memanggil mereka.
"Tatsuki!?" seru Ichigo.
"Kalian sedang apa disini?' Tanya Tatsuki.
"Kami baru saja dari rumah Urahara-san. Kau sendiri sedang apa disini?" Ichigo balik Tanya.
"Aku baru saja dari apartment Orihime. Kalian mau pulang?" Ichigo dan Rukia mengangguk. Mereka lalu berjalan bersama.
"Bagaimana latihanmu bersama Urahara-san, Ichigo?"
"Ya, aku sudah mulai mencoba lebih keras mengingat masa lalu ku. Jadi sejauh ini sudah mulai ada peningkatan dari ingatanku" jawab Ichigo. Tatsuki hanya mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu." Mereka terdiam lagi.
"Oh ya. Kenapa kalian basah seperti itu? Bukankah kalian memakai payung?" Tanya Tatsuki lagi.
"Etto.. ano…" Ichigo dan Rukia bingung menjawab. Tidak mungkin mereka bilang bahwa mereka kehujanan karna berpelukan. Tatsuki melihat mereka berdua dengan heran.
"Apa aku memotong pembicaraan kalian atau sesuatu yang penting sebelum aku datang?"
"Ti, tidak! Kau tidak memotong apapun. Kami hanya… itu…"
"Payung yang kami pakai kan hanya satu, dan pada saat ada angin payung yang dipegang Ichigo terbawa angin. Makanya kami jadi kehujanan gara-gara payungnya terbang. Benar kan Ichigo?" kata Rukia agak gugup.
"Iya, Ru, Rukia benar. Begitu lah…" tambah Ichigo.
"Sou ka na. baiklah, sudah sampai dirumah. Aku masuk duluan ya kedalam, sampai jumpa besok di sekolah" kata Tatsuki yang masuk ke rumahnya.
"Sampai jumpa besok, Arisawa-san"
"Ya, Tatsuki" mereka lalu masuk ke rumah Ichigo.
--
"Aku penasaran dimana Onii-chan dan Rukia-chan pergi"
"Sudahlah, Yuzu. Jangan khawatir, mereka kan sudah dewasa. Mereka pasti akan pulang sebentar lagi."
"Tapi, Karin-chan! Diluar kan hujan, dan bagaimana kalau mereka belum makan malam?"
"Rukia-chan dan Ichigo belum pulang!! Masaki! Apa yang harus kulakukan??" seru Isshin menangis tak karuan sambil memeluk poster raksasa Masaki.
"Tadaima" seru Ichigo dan Rukia.
"Mereka pulang!" seru Yuzu gembira dan berlari menuju pintu masuk rumah.
"Syukurlah mereka pulang, Masaki!"
"Baka oyaji" gumam Karin yang masih membaca komiknya.
"Onii-chan! Rukia-chan! Syukurlah kalian sudah pulang. Kami khawatir pada kalian"
"Ya, Yuzu. Maaf ya kami terlambat pulang" kata Ichigo.
"Ichigo! Rukia-chan! Anak-anakku! Yokatta! Ayah tercinta mu ini rindu pada kalian!" seru Isshin mencoba memeluk Ichigo dan Rukia, namun Ichigo segera menghindar.
"Rukia-chan! Kau selamat, nak…. Ayah senang!" Rukia hanya tersenyum kaku dipeluk oleh Isshin.
"A, ano… Kurosaki-san.." kata Rukia.
"Hei, apa yang kau lakukan, oyaji? Cepat lepaskan Rukia!" seru Ichigo. Isshin langsung melepaskan pelukannya dan menatap anak laki-lakinya itu.
"Ichigo?!" seru Isshin.
"Rukia, kau tidak apa-apa?" Tanya Ichigo.
"Tidak apa-apa, hanya se, sesak sedikit…" jawab Rukia masih tersenyum kaku.
"Oyaji, kau jangan memeluk Rukia seperti itu. Kau lihat, napasnya jadi sesak, kan?" Isshin masih menatap Ichigo. Dan membulatkan matanya.
"Kau ini mendengarkan tidak? Aku sedang bicara denganmu, oyaji!" Ichigo mulai tidak sabar. Isshin langsung menangis menuju poster istri tercintanya.
"Masaki!! Anak laki-laki kita satu-satunya sudah dewasa….aku berhasil mendidiknya! Aku berhasil!" seru Isshin bergumam pada poster. Ichigo, Rukia, Yuzu, dan Karin hanya bisa menatap orang tua itu dengan wajah sweatdrop.
"Kau ini bicara apa.." gumam Ichigo.
"Tentu saja aku menyetujui hubungan kalian berdua! Rukia-chan, aku percaya kau bisa menjaga Ichigo! Aku serahkan padamu!" seru Isshin sambil memegangi tangan Ichigo dan Rukia.
"Kau ini bicara apa daritadi, hah?" Tanya Ichigo melepaskan genggaman Isshin.
"Aku tahu kalian akhirnya menyadari perasaan masing-masing. Buktinya tadi Ichigo cemburu karna aku memeluk Rukia-chan. Benar kan Ichigo?" kata Isshin menyikut-nyikut Ichigo. Ichigo terkejut dan mukanya mulai memerah.
"Ka, kau ini bicara apa? Sudahlah! Aku mau istirahat!" keluh Ichigo yang mulai berjalan menuju kamarnya.
"Onii-chan! Bagaimana makan malamnya?" Tanya Yuzu.
"Aku malas makan malam."
"Ini gara-gara otoosan.." kata Yuzu. Isshin malah menangis. Tiba-tiba handphone Rukia berbunyi. Ichigo sudah membuka pintu kamarnya, langsung menutupnya lagi.
"Hollow?!" kata Rukia.
"Rukia!" seru Ichigo yang sudah turun kembali dari tangga. Rukia mengangguk.
"Biar aku saja yang tangani hollow itu. Kalian beristirahatlah" kata Isshin yang langsung berubah menjadi serius.
"Apakah kau yakin, Kurosaki-san? Hollow nya ada sekitar 3 sampai 4!" kata Rukia lagi.
"Tidak masalah. Serahkan saja padaku." Isshin langsung berubah menjadi shinigami. "Ayah pergi dulu" dengan shunpo Ishhin menghilang. Hening.
"Otoosan… apa tidak apa-apa?" Tanya Yuzu.
"Oyaji pasti bisa mengalahkan monster itu, Yuzu. Ini sudah malam, ayo kita tidur besok kita harus sekolah kan" ajak Karin yang segera menuju kamarnya. Yuzu mengangguk.
"Kalau begitu aku juga mau tidur. Oyasumi, minna" kata Ichigo.
"Rukia-chan, kau mau makan malam?" Tanya Yuzu.
"Tidak usah, aku tidak terlalu lapar" jawabnya.
"Kau yakin?" Tanya Yuzu lagi. Rukia mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita tidur."
"Kau duluan saja. Aku mau mengeringkan diri dulu, nanti aku menyusul"
"Baiklah" dengan itu Yuzu masuk ke kamarnya. Sementara Rukia pergi ke kamar mandi untuk mengeringkan dirinya sendiri.
Setelah mengeringkan diri, Rukia duduk di sofa ruang tengah dengan santai. Diluar ia mendengar sesuatu.
"Hujan lagi ya" gumam Rukia melihat ke luar jendela.
"Rukia? Kau belum tidur?" Rukia melihat Ichigo.
"Ichigo. Belum, kau sendiri bukannya sudah tidur?" Tanya Rukia. Ichigo duduk disebelah Rukia.
"Yah, aku memang sudah tidur. Tapi bangun lagi karna suara yang menggangguku"
"Suara? Jangan-jangan.. hichigo dan zanpakutou mu?"
"Bukan.. tapi suara perutku. Aku lapar" kata Ichigo. Suara perutnya terdengar lagi, pipi Ichigo memerah. Rukia tersenyum.
"Kalau kau lapar, kenapa kau tidak makan saja?"
"Aku tidak bisa memasak" kata Ichigo. "Apa sebelum aku hilang ingatan, aku bisa memasak?"
"Entahlah. Aku tidak pernah melihatmu memasak. Mungkin kau tidak bisa" jawab Rukia.
"Sou ka" mereka berdua terdiam. "Kau sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Ichigo lagi.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa? Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu." Kata Rukia sambil menundukan kepala.
"Jangan terlalu banyak pikiran. Kau juga butuh istirahat."
"Aa, aku tahu" suasana menjadi hening lagi. Yang terdengar hanyalah bunyi hujan dari luar yang jatuh dengan deras.
"Rukia, kau bisa memasak?" Rukia menaikan kepalanya menatap Ichigo. Ichigo juga menatap Rukia. Rukia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita masak bersama?" ajak Ichigo.
"Tapi kau kan juga tidak bisa memasak?"
"Kita masak saja masakan yang mudah dimasak. Kalau tidak salah Yuzu punya buku memasak yang ditaruh dilaci dapur. Kau juga belum makan kan?" Rukia masih terdiam. Ichigo berdiri dari duduknya.
"Ayo kita memasak bersama" ajak Ichigo menawarkan tangannya pada Rukia. Rukia menerima tangan Ichigo. Rukia mengangguk dan mereka pergi ke dapur bersama untuk memasak.
"Untuk memasak kare, potong wortel untuk menjadi bumbu kare..lalu.." kata Ichigo membaca buku petunjuk masak.
"Biar aku saja yang memotong wortelnya" usul Rukia.
"Kau bisa melakukannya?" Tanya Ichigo menaikan kedua alisnya.
"Jangan meremehkan aku! Walaupun tidak terlalu bisa memasak, aku bisa kalau hanya memotong sayuran" kata Rukia cemberut.
"Benarkah itu?" Tanya Ichigo jail.
"Sungguh! Waktu itu aku pernah diajari Yuzu membuat sandwich, dan hasilnya sandwich buatanku sendiri rasanya enak. Kau sendiri kan yang bilang waktu itu?" gumam Rukia yang mulai memotong wortel.
"Tapi saat aku menawarkanmu sebelum kau hilang ingatan, kau tidak mau memakan sandwich buatanku itu" kata Rukia masih memotong wortel sementara Ichigo menyiapkan bumbu lain. Ichigo tersenyum.
"Tapi aku jujur, bahwa sandwich buatanmu waktu itu rasanya enak" kata Ichigo. Rukia melihat Ichigo.
"Ah!" seru Rukia. Ichigo terkejut mendengar seruan Rukia.
"Dou shita no, Rukia?!" Tanya Ichigo.
"Jariku…" Rukia memegangi jari telunjuk di tangan kanannya. Ichigo langsung menuju Rukia.
"Jarimu berdarah.."
"Tidak apa-apa, hanya terluka sedikit. Nanti juga—"
"Baka! Itu karna kau ceroboh! Aku akan mengambilkan obat sebentar"
"Tapi Ichigo.."
"Sudahlah. Kau diam dulu. Aku sedang mencari obatnya" seru Ichigo yang mengambil kotak obat untuk mengobati luka Rukia di ruang tamu. Rukia menghela napas. Tidak lama Ichigo kembali dengan membawa plester, kapas dan obat merah.
"Sini aku obati" Rukia mengulurkan jarinya yang terluka.
"Ini juga salahku kau terluka. Seharusnya aku tidak mengajak bicara saat kau memotong sayuran ini" kata Ichigo. Rukia menatap Ichigo.
"Sumannai, Rukia" tambah Ichigo.
"Daijoubu, Ichigo" Rukia merasa kesakitan lagi.
"Sakit ya? Tenang saja. Nanti juga lukanya sembuh kalau dibalut dengan plester. Sudah selesai"
"Arigatou, Ichigo" Ichigo tersenyum sedikit.
"Sudahlah, biar aku saja yang membuat makanannya. Kau diam saja disana" kata Ichigo sambil menunjuk meja makan.
"Tapi kau kan tidak bisa memasak. Aku akan membantumu, lukaku sudah tidak apa-apa"
"Baiklah kau boleh membantuku. Tapi kau tidak boleh memotong wortel lagi. Siapkan saja piring di meja makan"
"Aku mengerti" jawab Rukia.
40 menit setelah itu…
"Ha… kenyangnya. Meskipun tidak seenak makanan Yuzu tapi lumayan juga" kata Ichigo.
"Yah.. kau benar." Rukia melihat Ichigo dan tersenyum.
"Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" Tanya Ichigo bingung. Rukia tertawa kecil lalu berdiri. Ichigo masih bingung.
"Kau ini kenapa tertawa-" Ichigo terdiam.
"Dimulutmu ada bumbu kare" kata Rukia sambil mengelap mulut Ichigo dengan tissue. Rukia duduk kembali.
"Kau seperti anak kecil saja" ucap Rukia. Ichigo tersenyum sedikit. Keheningan menyelimuti mereka lagi. Namun keheningan itu terasa nyaman dan damai. Tiba-tiba Ichigo berdiri dan berjalan menuju jendela. Mata Rukia mengikuti Ichigo.
"Hujan…" gumam Ichigo.
"Ada apa Ichigo?" Tanya Rukia. Setelah terdiam Ichigo bicara.
"Entahlah. Aku hanya merasa ada sesuatu dengan hujan" Rukia berdiri disebelah Ichigo melihat hujan.
"Sepertinya ada suatu peristiwa penting saat hujan. Saat melihat hujan aku merasakan sesuatu" terdiam lagi.
"Rukia, apa ada sesuatu yang terjadi pada saat hujan sebelum ingatanku hilang?" Rukia mengangguk.
"Apa itu?" Tanya Ichigo.
"Kau pernah bercerita padaku tentang ibumu sebelum ingatanmu hilang"
"Okaasan?" Rukia mengangguk lagi. "Apa ibuku meninggal pada saat hujan?"
"Ya, ibumu memang meninggal pada saat hujan. Makanya kau pernah bilang kalau kau benci pada hujan"
"Sou ka. Pantas saja, aku merasakan sesuatu setiap hujan" Ichigo lalu berbalik dan pergi menuju ruang tamu.
"Ichigo, kau mau kemana?"
"Ke ruang tamu. Kita bicara di ruang tamu. Kau mau ikut?" Rukia mengikuti Ichigo ke ruang tamu.
"Apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Rukia yang sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Ichigo. Ichigo terlihat sedang berpikir.
"Kau mau menceritakan masa laluku?"
"Masa lalumu?"
"Iya, semua yang kau tahu tentang aku. Dimulai saat kita pertama kali bertemu. Kau belum mengantuk kan?" Rukia menggeleng.
"Baiklah aku akan menceritakan semuanya. Kau siap?" Tanya Rukia.
"Aku siap"
"Semuanya berawal dari…." Rukia menceritakan masa lalu Ichigo yang ia ketahui, dimulai dari awal mereka bertemu sampai perang antara pasukan Gotei 13 dan pasukan arrancar Aizen. Walaupun Ichigo masih kebingungan dan hanya ingat sebagian apa yang dibicarakan Rukia selama hampir 1 jam.
"Jadi begitu aku hanya ingat separuh dari ceritamu, aku mengerti semua ceritamu"
"Ya, syukurlah."
"Aizen sangat bernafsu menjadi raja. Bahkan hollow dan arrancar pun ia jadikan pasukannya." Kata Ichigo.
"Dan Ichimaru Gin memanfaatkan ingatanmu yang hilang agar dia bisa membalakan dendamnya padamu. Agar dia bisa melenyapkanmu dari dunia ini"
"Aku tidak akn membiarkan itu terjadi. Apalagi sampai mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah."
"Ya, aku tahu kau akan bilang begitu. Kau yang sekarang dan yang dulu sama sekali tidak berubah." Ichigo serius. Rukia menguap. Ichigo melihat Rukia yang menguap.
"Kau mengantuk ya?"
"Lumayan"
"Kalau begitu tidurlah. Ini sudah malam" Ichigo melihat jam yang menujukan pukul 01.45.
"Tidak, aku belum benar-benar mengantuk. Lalu apa lagi yang ingin kau tahu tentang masa lalumu?" Tanya Rukia. Ichigo berpikir lagi.
"Entahlah aku tidak tahu. Mungkin hanya itu saja dulu yang ingin aku tahu"
"Begitu ya…" mereka terdiam lagi.
"Oh ya, Rukia! Aku lupa. Kemarin aku membelikan mu sesuatu. Coba tebak apa… boneka Chappy!" kata Ichigo. Namun tidak terdengar suara apapun. Tiba-tiba ada sesuatu di bahu Ichigo.
"Rukia? Kau dengar tidak? Ruki-" Ichigo terkejut, ternyata Rukia sudah tertidur di bahunya dengan nyenyak. Ichigo tersenyum.
"Sudah kuduga dia mengantuk. Pasti kau lelah" gumam Ichigo. Perlahan Ichigo mulai memindahkan tangannya kebelakang Rukia. Ichigo mendekap Rukia.
"Oyasumi, Rukia" kata Ichigo tersenyum lalu menutup mata. Mereka tidur di sofa dengan posisi duduk seperti itu sampai pagi.
Bersambung ke chapter 11
Haduh… belum tamat juga =='a
Udah tau endingnya tapi masih belum pas mulu ceritanya ama ending. Maaf ya kalau ngbosenin .. .
Miya juga lagi berusaha namatin nih fanfic, mana yg NT (New Teacher) jg blum …
Makasih ya, yang udah mau baca dan rev fanfic miya, Arigatou!! TvT
Smoga kalian tidak bosan+suka+tidak kecewa+sehat+panjang umur+pinter & blablablabla…amiin..
Bagi yang ga tau 'Sumannai' artinya
See ya
Komen + review, please!!
ARIGATOU!!!
- M I Y A - C H A N -
