Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

#_#

.

.

"Kau juga istimewa bagiku, Sasukeku." Perlahan Sasuke menangkup sebelah pipi Sakura dan mendekatkan wajah mereka. Sasuke bisa merasakan hangat nafas gadis itu di bibirnya. Dia memejamkan matanya saat bibirnya menyentuh bibir Sakura dalam bentuk kecupan kecil. Sensasi menggelenyar menghasilkan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sasuke menyukai ini.

Pria raven itu lebih memajukan wajahnya agar bisa mengecup lagi bibir manis gadisnya yang memundurkan kepalanya. Jelas dia tahu Sakura sedang tegang, tapi nafsu sialannya menghambat otaknya untuk berpikir. Dan Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk tidak melakukannya lagi. Bibir mereka kembali bertemu dan memberikan sengatan mengejutkan yang memabukan bagi Sasuke. Baru Sasuke membuka mulutnya berniat melakukan ciuman yang lebih intens...

"Aaa..." byur. Jeritan Sakura di iringi suara terjebur memecah suasana hikmat. Karna terus memundurkan tubuhnya Sakura kehilangan keseimbangan dan tercebur ke laut.

"Sakura!" Dengan panik Sasuke langsung menceburkan diri ke laut dan meraih tubuh Sakura yang kelabakan.

Nafas Sakura terengah-engah, tangannya melilit kuat di leher Sasuke. Sangat jelas raut ketakutan terpampang di wajah manisnya. Sebelah tangan Sasuke mengusap wajahnya kesal sementara sebelah tangannya lagi melingkar dipinggang Sakura. Tentu saja dia kesal karna membuat Sakura sampai tercebur, ini sangat bahaya untuk keselamatan gadisnya yang tak bisa berenang.

"Maaf Sakura... aku..." Wajah Sasuke memanas. Sungguh memalukan jika mengakui dia tak bisa menahan nafsu. Yang lebih buruk, bisa saja Sakura jadi menganggapnya orang mesum. Sialan. Sasuke mengumpat dalam hati.

"Sasuke-kun..." Sasuke menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya dan menatap gadisnya. Matanya membeliak, degup jantungnya meningkat drastis, pori-pori tubuhnya meremang dan bahkan terkadang dia nyaris tak bisa merasakan aliran darahnya. Sebabnya? Sakura mengecup bibirnya. Demi tuhan, kondisi ini... sangat mengundang nafsu. Basah dan seksi. Sasuke nyaris gila memikirkan harus mengikuti insting binatangnya atau menahan diri. Tapi sulit mengabaikan tubuh dan bibir Sakura yang menempel padanya. Di tambah gerakan ragu-ragu Sakura membuka mulutnya. Terserah. Sasuke akan mati jika mengabaikan ini. Pria raven itu membuka mulutnya mencicipi setiap rasa yang dimiliki mulut gadisnya. Sebelah tangannya memegang tengkuk Sakura memperdalam ciuman mereka, sementara sebelah tangannya semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Sakura.

"Nggghhh..." Sasuke merasa semakin gila mendengar erangan Sakura. Tapi dia segera menyudahi ciuman mereka saat Sakura memukul-mukul kecil dadanya. Lagi-lagi Sasuke mengerang kesal karna membuat Sakura kehabisan nafas. Kontrol dirinya sangat buruk.

"Maaf Sakura, sungguh." Sebelah tangan Sasuke mengusap wajahnya dengan kesal. Lagi. Bagus. Sekarang dia benar-benar khawatir tentang apa yang dipikirkan Sakura. Tentu saja dia berharap tak akan ada yang berubah diantara mereka. Akan sangat buruk jika Sakura berpikiran negatif padanya karna nafsu sialannya.

"Sasuke-kun, bisakah kita keluar dari air? Ini... dingin." Sasuke tersentak dengan pernyataan Sakura. Benar. Kesalahan berikutnya, dia membuat Sakura basah. Padahal jelas-jelas gadis itu bilang tak menyukai basah. Sialan. Pasti akan sangat aneh jika Sasuke bilang dia menyukai kondisi Sakura saat ini. Basah dan seksi. Oh sialan. Sasuke benar-benar harus menghilangkan pikiran mesumnya sebelum Sakura berlari menjauh. "Sasuke-kun?" Ulang gadis itu melihat Sasuke masih diam.

"Uh oh ya. Maaf." Sasuke membawa Sakura keluar dari air.

"Terima kasih. Ku pikir aku akan mati tenggelam tadi. " Sasuke hanya meringis merasa bersalah mendengar penuturan Sakura saat mereka berjalan kembali ke tempat yang lainnya berada. Bagaimana tidak. Di kondisi Sakura takut tenggelam, pikirannya justru melantur tak jelas.

Dan karma dari pikiran mesumnya sepertinya langsung terjadi. Sasuke menerima pelototan garang dari tiga orang sepupu Sakura. Sangat menyeramkan. Dan yang pasti Sasuke sama sekali tak punya keinginan membantah apapun omelan Temari meski kata-kata gadis macho itu sangat mengiris kalbu. O ow Sasuke menjadi sangat sensitif. Lupakan. Perasaan senang Sasuke begitu membuncah hingga omelan Temari tak bisa menggores sedikitpun. Sakura memang menakjubkan.

"Apa yang ku lewatkan?" Sasuke kabur dari omelan Temari ke tempat teman-temannya. Dan apa yang terjadi pada wajah kusut Naruto?

"Dia tak bisa menjadi hot couple lagi. Si indigo memiliki cerberus disampingnya." Celetuk Sai menahan tawa. Rasakan. Sasuke tak bisa tak senang melihat Naruto seperti kena karma. Siapa suruh setiap hari membuat iri yang lainnya.

"Ah aku harus memberi penghargaan pada si cerberus itu karna sudah berhasil membuat pria kuning ini terkena karma." Ucap Sasuke.

"Apa situasimu lebih baik dariku?" Sinis Naruto.

"Hn. Seribu kali. Harusnya kau abadikan momenku tadi." Tentu saja Sasuke sangat percaya diri dengan ucapannya ini. Walau sebenarnya tak masalah dengan mengabadikan, karna sudah cukup mengabadikan momennya dengan Sakura dipikirannya. Itu mungkin tak akan terlupakan seumur hidupnya. Sasuke tak bisa menahan senyumnya agar tak mengembang. Rasa senangnya sulit disembunyikan.

"Apa kau memperkosanya?" Sasuke nyaris tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Shikamaru. Bahkan pria nanas itu menyeringai sambil mengacak rambutnya saat mengucapkan kata paling sadis itu.

"Kau mau mati?" Desis Sasuke.

"Aku sangat ingin melakukannya pada Temari. Kau tidak?" Kepala Sasuke berdenyut mendengar ucapan Shikamaru dan tawa Sai. Sasuke benar-benar meragukan kewarasannya karna berteman dengan mereka. Tapi mulut sialannya tak bisa terbuka untuk membantah, justru wajahnya memanas karna otaknya memikirkan apa yang diucapkan Shikamaru secara otomatis. Benar-benar sialan.

"Aku yakin dia sangat ingin melakukannya. Dan aku juga yakin kalian berdua akan mati muda saat benar-benar melakukannya." Ucap Sai terkekeh geli. "Kau... akan dimutilasi oleh tiga orang sepupu Sakura." Sai menunjuk Sasuke. "Dan kau... aku meragukan kau sanggup mengalahkan keperkasaan Temari." Sai mengakhiri ucapannya dengan tawa keras diikuti Naruto. Bagus. Sejak kapan pria kuning itu melupakan masalahnya.

"Awww! Hei ini penganiayaan." protes Sai saat mendapatkan dua jitakan dari Sasuke dan Shikamaru. Sasuke pikir Sai memang harus mendapatkannya. Akhir-akhir ini pria eboni itu mulutnya beracun.

Menjelang sore mereka semua pulang. Dan Sasuke masih harus uring-uringan karna Sakura lagi-lagi tak satu mobil dengannya. Dia merasa nyaris gila karna tak bisa melihat Sakura, dia sangat khawatir dengan keadaan Sakura di mobil lain dengan banyak pria lain. Sasuke benar-benar ingin menjadi satu-satunya pria di dunia ini agar tak perlu cemas melihat Sakura bersama pria lainnya. Apa dia aneh jika berpikir seperti ini? Terserah. Sasuke hanya ingin berdiri di tempat yang bisa selalu melihat dan memastikan gadisnya aman, dan itu sulit.

Sasuke menuruni tangga menuju dapur. Jus tomat merupakan asupan gizi terbaik baginya saat lelah. Sasuke meneguk jus sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia melirik beberapa maid yang berdiri dibelakangnya dengan wajah merona. Ini sudah biasa terjadi, tapi Sasuke tetap tak bisa merasa biasa dengan ini. Pemilik onix itu mendengus mengejek dirinya, para maid itu hanya menjalankan tugasnya. Tak seharusnya sasuke terlalu mempermasalahkan hal ini.

"Kau bersenang-senang Sasuke?" Sasuke melirik Itachi yang melambaikan tangannya menyuruh para maid pergi.

"Hn." Sasuke meletakkan botol kosong di meja seraya mengrenyit mendengar ucapan Itachi. Sejak kapan kakaknya ini peduli dia bersenang-senang atau tidak?

"Itu bagus. Tapi bukankah seharusnya kita tak saling mengganggu?" Itachi menarik kursi dan duduk di hadapan Sasuke. Suasana ini terasa aneh dan tidak nyaman untuk Sasuke. Interaksi mereka tak pernah seperti ini. Terlalu banyak dan berbahaya.

"Aku tak pernah berniat seperti itu. Mungkin hanya tak sengaja." Sasuke tahu ini akan buruk. Benar-benar buruk. Dan mungkin akan menjadi pertengkaran pertamanya dengan Itachi. Maksudnya benar-benar bertengkar. Mereka tak pernah melakukannya selama ini, tepatnya apapun urusan mereka tak pernah bersinggungan selama ini.

"Kau harus tahu kapan saatnya berhenti otouto. Ini tak akan bagus." Benar. Tapi bagaimana Sasuke bisa berhenti jika ini menyangkut Sakuranya.

"Apa ada sesuatu yang terjadi? Aku belum mendengar apapun yang mungkin bisa membuatmu gusar." Sasuke mengrenyit lagi saat mendengar kekehan Itachi. Membuatnya tak nyaman.

"Kau keras kepala. Ini benar-benar buruk. Aku yakin kita tahu apa yang kita bicarakan. Dan ku harap kau berhenti sebelum semuanya menjadi lebih buruk." Itachi bangkit dan melangkah meninggalkan Sasuke.

"Jika kita benar-benar tahu apa yang kita bicarakan... itu bukan kau 'kan? Aku sama sekali tak berharap itu kau." Sasuke menegang melihat Itachi menoleh padanya.

"Kau harus mencari tahu sendiri. Tapi itu akan sangat menggangguku, dan mungkin aku tak bisa diam ketika merasa terganggu. Apa tak masalah bagimu bertengkar denganku demi dia?" Sasuke terdiam. Dan masih diam hingga Itachi tak lagi terlihat.

Benarkah ini tak apa? Sakuranya penting. Tapi Itachinya juga penting. Kenapa kakaknya itu tak menyangkal saja? Kenapa harus membiarkannya berprasangka buruk? Hubungan mereka tidak bisa dibilang baik. Meski begitu Sasuke tak pernah ingin berselisih berlebihan dengan kakaknya. Dia hanya satu-satunya saudaranya. Apa yang harus dilakukannya? Sasuke mengacak rambutnya kesal dan melangkah menuju kamarnya. Dia kelelahan dan butuh tidur.

Sasuke mendengus kesal saat Menma tak muncul pagi ini. Ini keluar dari kebiasaan supir sekaligus bodyguard serba gunanya itu. Keadaan ini membuat pikiran buruknya semakin menjadi-jadi. Tak ada satu hal pun yang masuk ke otaknya sejak jam pelajaran pertama hingga jam istirahat. Pikiran Sasuke benar-benar kacau. Dia mengkhawatirkan Menma jika saja Itachi melakukan sesuatu. Sasuke menghela nafas, harusnya dia percaya jika Menma bukan orang yang mudah dijatuhkan. Itu akan sangat percuma saat melihat reputasi dan gajinya.

"Ada yang salah Sasuke-kun?" Sasuke menoleh ke arah gadisnya. Saat ini mereka sedang memakan bekal di atap. Bagus. Sekarang dia membuat Sakura tidak nyaman dan bertanya-tanya. Berhentilah bersikap layaknya gadis PMS Sasuke.

"Bukan apa-apa." Jawab Sasuke sembari memasukkan telur gulung ke mulutnya. Enak.

"Benarkah? Tapi sejak awal kau terlihat kacau. Meski tak menyelesaikan apapun, berbagi terkadang bisa terasa lebih baik Sasuke-kun." Oh god. Sasuke sangat mencintai gadis ini. Tapi tidak. Dia tak pernah berniat membuat Sakura khawatir lebih dari ini. Lagipula segalanya masih abu-abu.

"Aku tahu. Tapi sungguh, semua baik-baik saja." Sasuke mengulurkan tangannya menyentuh wajah Sakura. Ini menakjubkan.

"Habiskan makananmu Sasuke-kun. Butuh perjuangan aku membuatnya." Ucap gadisnya sembari tersenyum manis. Sasuke terkekeh melahap apa yang Sakura buat dengan perjuangan untuknya. Ugh, kenapa pikirannya tadi bisa kalut, padahal jelas dia sedang berada disituasi dan bersama orang yang paling membahagiakan di dunia. Sakuranya.

Sakura membereskan kotak bekalnya. Sasuke bersandar ke pembatas dan memandang langit. Cuaca berawan dan sedikit berangin. Ini sangat nyaman. Sasuke sedikit tersentak saat gadisnya beringsut duduk diantara kedua kakinya dan menyandar di dadanya. Wangi yang menguar dari rambut Sakura langsung merasuk ke indera penciumannya, membuatnya benar-benar rileks. Tapi... posisi ini sedikit membuatnya memanas. Ini sama sekali tak membuat rileks jantungnya. Tuhan, sejak kapan Sakura jadi seberani ini?

"Sakura..." Bisik Sasuke dengan suara yang sedikit bergetar. Ayolah, dia pria dengan hormon yang berlebihan. Tidak mudah berdiam diposisi ini tanpa menahan apapun.

"Apa tidak boleh begini?" Uhh harusnya gadis ini tahu jika dia sedang mengumpankan dirinya ke dalam bahaya. Dia bertanya dengan wajah minta diserang, Sasuke benar-benar merasa dalam bahaya. Sasuke menutup wajahnya yang memanas dengan sebelah telapak tangannya. Dia akan lepas kendali jika terus menatap Sakura.

"Tentu boleh... tidak... ugh... apapun tak masalah Sakura." Aku hanya harus bertahan. Lanjut Sasuke dalam hati sembari menarik nafas panjang menenangkan dirinya.

"Aku hanya merasa ini nyaman, tapi sepertinya tidak begitu buatmu Sasuke-kun." Sakura menyandarkan pipinya di dada Sasuke. Ya tuhan, haruskah Sasuke bilang jika dia mengharapkan lebih dari ini? Tapi itu hanya akan membuatnya terlihat seperti bajingan mesum.

"Kau tahu itu tak benar 'kan Sakura." Ucap Sasuke. Tangannya melingkar manis di tubuh gadisnya. Sakura hanya menyahutinya dengan gumaman. Mereka bertahan dalam posisi itu hingga jam istirahat berakhir.

"Aku tak mengerti kenapa orang mengatakan ini sulit? Ini terlalu mudah." Ha? Sasuke harusnya memaklumi apapun yang keluar dari mulut si jenius sombong di sebelahnya ini. Tapi itu benar-benar kacau. Logaritma menjadi pelajaran tersulit dalam matematika (versi author), dan ya, hanya si nanas ini yang mengatakan hal itu terlalu mudah.

"Sembilan puluh sembilan persen orang di dunia ini akan membunuhmu jika mendengar ucapanmu."

"Kalau begitu jangan sampai mereka dengar." Pria nanas itu menyelesaikan jawaban soal lebih cepat daripada sensei di depan sana. Ini bagus buat Sasuke, tinggal salin saja. Kenapa? menjadi nomor dua bukan berarti tak boleh mencontek kan. Anggap saja Sasuke sedang mengistirahatkan otaknya. "Dan para pemilik nilai dibawahmu akan menangis saat melihatmu mencontek."

"Kalau begitu jangan sampai mereka tahu." Acuh Sasuke. "Siapa yang akan kau pilih antara saudara dan pacarmu?" Entah kenapa Sasuke tiba-tiba merasa serius ingin menanyakan hal ini pada Shikamaru.

"Apa ini masalah masa lalu Sakura?"

"Hn."

"Kau yakin dengan kesimpulanmu?" Sasuke menghentikan kegiatannya menulis dan menyandarkan punggungnya. Dia tak tahu.

"Tak tahu. Menma sama sekali tak muncul pagi ini. Dan tadi malam aku berada di kondisi terburuk dengan Itachi."

"Kau pikir Itachi yang melakukannya?" Sasuke menghela nafas dan melanjutkan acara menulisnya.

"Aku tak yakin. Hanya saja otakku tak bisa berhenti berpikiran buruk."

"Aku tak tahu kau harus bagaimana. Aku tak pernah berada di kondisi harus memilih. Segalanya selalu berjalan seperti yang ku mau..." Sasuke melirik sadis Shikamaru. Ucapan pria nanas itu terdengar menjengkelkan. "... maksudku kecuali Temari. Ah tapi jika aku serius sebenarnya mudah saja membuatnya berada disampingku, apapun caranya. Tapi kau tahu aku..."

"Apa aku harus menyobek mulutmu agar ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginanmu?" Cibir Sasuke.

"Ah ha ha..." Shikamaru tertawa garing. "Menurutku kau hanya harus menunggu. Atau mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Di saat kau ragu-ragu, mungkin saja hal yang tak kau inginkan terjadi." Sasuke mengalihkan perhatiannya pada papan tulis. Shikamaru mengatakannya dengan serius, berarti itu perkataan yang benar versi pria nanas itu. Jadi, sekarang apa yang akan Sasuke lakukan?

Pria raven itu tersenyum melihat Sakura mengayun-ayunkan tangan mereka yang bergandengan. Ini terasa biasa sekaligus baru. Sensasi menyenangkan saat bersentuhan dengan Sakura selalu terasa menakjubkan. Sasuke suka ini.

"Dah Sasuke-kun." Sakura mengangkat tangannya dengan ceria.

"Dah Sakura." Sasuke ikut mengangkat tangannya sebagai salam perpisahan untuk hari ini. Tapi pria itu masih menatap gadisnya.

"Apa?" Tanya Sakura saat merasa ditatap terlalu intens oleh Sasuke.

"Tidak ada. Hanya saja... Kau terlihat sangat manis." Ucapan Sasuke membuat wajah Sakura perlahan memerah. Gadis itu mengulum senyum malu-malunya. Dan tanpa Sasuke duga Sakura berjinjit memberi kecupan di pipinya sebelum berlari masuk ke rumah. Sasuke memegang pipinya, perlahan senyumnya mengembang.

"Kau selalu mengejutkan dan manis, Sakuraku." Bisik Sasuke sebelum beranjak.

Senyum pria raven itu luntur saat melihat mobilnya. Dia mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam mobil. Ada kelegaan tersendiri baginya saat melihat Menma lagi. Ya ya Sasuke akui dia mengkhawatirkan supirnya ini. Sulit mencari pengganti dengan kualitas sama atau lebih. Oh sudahlah.

"Apa alasanmu tidak muncul pagi ini?"

"Maaf tuan. Terjadi sedikit kesalahan, saya hanya berusaha menghindari bentrokan dengan pengawal tuan Itachi."

"Ada hal serius? Dan ku pikir Itachi saat ini sedang di luar negri."

"Ya. Ini tuan." Menma menyodorkan map laporannya pada Sasuke sebelum menjalankan mobil.

Sasuke membaca detil laporan Menma sebelum melayangkan pandangannya keluar jendela. Situasinya semakin buruk sesuai dengan prediksinya, meski masih belum pasti. Jelas bahwa Itachi pernah memiliki hubungan spesial dengan Tayuya. Tapi hubungan itu berakhir, padahal jelas cukup lama Itachi berusaha mendekati sulung haruno itu. Ada sesuatu yang terjadi. Tapi ini membuat Sasuke setidaknya tahu arti ucapan kakaknya itu tentang kesamaan selera. Dan sebagian nasib mereka mungkin.

Sasuke mendesah. Ini bukan berarti dia bisa menuduh kakaknya sebagai penyebab trauma Sakura, tapi terlalu mendekati. Sasuke berharap dia bisa bergantung pada pendapatnya tentang Itachi bahwa kakaknya itu terlalu logis dan sempurna untuk melakukan kejahatan serius. Lagi-lagi Sasuke mendesah menyadari hal itu bagai pisau bermata dua. Ini benar-benar tidak bagus.

Keraguan Sasuke membengkak saat membaca aktifitas Itachi diwaktu yang sama dengan hilangnya kakak beradik Haruno. Itachi membatasi aktifitasnya hingga lima puluh persen dari biasanya. Ada sesuatu yang lain yang dilakukan pria itu. Dan ini tidak baik bagi otak Sasuke yang penuh kecurigaan. Sasuke tidak suka berburuk sangka pada kakaknya, tapi ini terlalu kebetulan.

"Sasuke-kun, kau sudah pulang?" Sasuke tersenyum kecil menanggapi pelukan dari ibunya. Padahal sikap ibunya selalu sehangat ini, tapi kenapa keluarganya tak begitu harmonis? "Kosongkan jadwalmu malam ini sayang, kita akan makan malam keluarga diluar."

"Apa tradisinya dimulai?" Sasuke tersenyum tipis melihat raut bingung ibunya. "Perjodohan kaa-san. Ku rasa itu satu-satunya alasan kita sekeluarga bisa makan malam di luar."

"Ha ha kau benar sayang. Maaf mengecewakanmu." Mikoto mengusap kepala putra bungsunya. "Meski tak suka, bertingkah baiklah." Ucap Mikoto dengan nada serius.

"Jangan khawatir kaa-san. Setidaknya saat ini bukan tentangku." Sasuke mencium pipi ibunya dan melangkah menuju kamarnya.

Setelah melempar tasnya ke meja belajar, pemilik onix itu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia merasa terlalu lelah, otaknya. Sasuke butuh berhenti berpikir sejenak. Dia meraih remot dan memutar lemari. Tubuhnya sedikit rileks dan semakin terbenam ke kasur saat matanya menangkap potret gadisnya. Bahkan meski hanya foto, Sakura selalu memiliki pesona yang menjeratnya. Senyum tipis terukir di bibir pria tampan itu hingga tak sadar dirinya terlelap.

Sasuke mendesah lelah, dia tak tahu berapa lama tertidur. Suara berisik dari bawah membuatnya tak bisa lagi melanjutkan tidurnya. Sasuke memaksakan matanya agar terbuka dan melirik ke arah jam. Sudah waktunya bersiap, tidak akan bagus jika dia terlambat.

Beberapa menit Sasuke habiskan untuk mandi. Dia sama sekali tak perlu berpikir untuk memakai pakaian apa. Gengsi keluarganya sudah membuatnya bisa memastikan pakaian apa yang dia butuhkan untuk makan malam ini. Sasuke menghentikan tangannya yang berniat memilih salah satu pakaian ketika mendengar suara pintu kamarnya terbanting. Dengan malas dia keluar dari walk in kloset untuk melihat pelakunya.

"Sasuke-kun..." Suara parau serta wajah sembab Mikoto menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya.

"Kaa-san...?" Sasuke kebingungan melihat ibunya langsung memeluknya dan sesenggukkan. Tidak. Ini histeris. "Kaa-san apa yang terjadi?" Ucap Sasuke lembut sekaligus menuntut.

"Itachi... hiks... demi tuhan... hiks... katakan ini hanyalah kebohongan... mereka berbohong..." Sasuke mengusap punggung ibunya berharap wanita itu lebih tenang dan bisa bercerita lebih baik. Tapi meski tidak begitu, ketakutan Sasuke menjalar ke seluruh pori-pori tubuhnya. Dia sama sekali tak berharap firasat buruknya melihat ibunya histeris adalah nyata.

"Tenanglah kaa-san, katakan padaku apa yang terjadi pada itachi?"

"Sasuke... Itachi masih hidupkan?... hiks... dia baik-baik sajakan... dia... Itachiku... Itachi..." Sasuke memeluk erat tubuh ibunya yang lunglai. Pingsan. Pria raven itu mematung ditempatnya, tanpa dia sadari tubuhnya bergetar menyadari arti setiap kata dari ibunya. Wajahnya memucat.

"Bohong. Jangan bilang pikiran sintingku saat ini yang terjadi." Ucap Sasuke dengan suara bergetar.

.

.

TBC...

.

.

Keyikarus

25 November 2017