'Mencintai itu sederhana. Jika kau tidak bisa membuat dirinya tertawa bahagia maka jangan buat dirinya menangis pedih karena dirimu.'

.

.

.

Forever?

Cast :

Oh Sehun as Girl

Kim Jongin/Kai

Kris Wu

Xi Luhan

Do Kyungsoo as girl

Etc.

Pair : KaiHun, KrisHun, HanHun.

Words : 3.506

Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.

.

Don't Like

.

Don't Read

.

.

Enjoy

.


Matahari sudah tenggelam dari beberapa jam yang lalu sehingga kegelapan menggantikan cerahnya awan. Angin berhembus lumayan kencang, membuat pohon-pohon yang ada di danau itu bergoyang sedikit.

Tetapi anak-anak remaja yang usianya belasan tahun itu tidak patah semangat. Mereka terus mengerjakan apa yang sedang mereka kerjakan. Walaupun mereka sedikit kedinginan karena angin yang menerpa tubuh mereka yang tidak memakai pakaian tebal, mereka tetap semangat. Yeah, demi teman.

"Chanyeol hyung, aku rasa lilin-lilin itu lebih bagus di letakkan di sebelah sana. Ya! Taemin! Jangan memakan cokelatku terus, nanti habis!" Jongin mendongak untuk melihat Jongdae yang sedang berada di atas sebuah pohon, "Ya! Jongdae, lampu yang kau pasang itu miring sedikit. Cepat perbaiki."

"YA! bolehkah aku melemparkan lampu ini ke kepalamu sekali saja?" Jongdae mendengus kesal masih dengan sebelah tangannya yang sedang memegang untaian lampu-lampu kecil untuk dipasang di pohon yang sedang ia naiki. Sudah untung ia mau membantu Jongin untuk memuluskan rencananya.

Jongin malah tertawa. Moodnya sedang dalam level yang sangat baik hari ini.

Malam ini ia berencana untuk menyatakan perasaannya kepada Sehun.

Awalnya ia sangat bingung bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya kepada sahabatnya itu. ia bukan lelaki yang romantis, tetapi ia berusaha untuk menjadi romantis agar Sehun terkesan dan tak akan melupakan malam ini. Mencari di internet, berkonsultasi kepada Chanyeol dan juga teman-teman Jongin pun sudah dilakukannya. Tetapi itu semua tidak membantu.

Bahkan ia sangat ingat saran Jongdae yang sangat konyol,

"...Bagaimana kalau aku mendorong Sehun ke danau dan kau datang menyelamatkannya. Ugh! Pasti Sehun akan menganggapmu pahlawan."

Dan perkataan Jongdae itu hanya dibalas oleh Jongin dengan menjitakkan tangannya dengan sangat keras ke dahi licin Jongdae.

Jongin yang belum menyerah pun mencari lagi di internet bahkan youtube. Berkat kesabaran dan kegigihannya pun Jongin akhirnya bisa mendapat pencerahan.

Jongin menelusuri segala arah danau itu dengan matanya bersama sebuah senyuman semangat yang tercetak dibibir tebalnya.

Ia bisa membayangkan Sehun yang datang dengan memakai dress pemberiannya. Gadis itu akan kebingungan saat menyadari bahwa tempat ini gelap gulita. Tetapi sebelum Sehun semakin kebingungan Jongin akan memerintahkan Chanyeol atau Jongdae atau Hoseok atau Taemin untuk menekan tombol agar lampu menyala. Dan Sehun pasti akan terperangah saat lampu-lampu kecil yang ternyata ada di sekelilingnya itu menyala dengan sangat indah. Belum lagi lilin yang sudah disusun rapi sehingga membentuk hati dan juga sekotak cokelat –yang separuhnya sudah dimakan Taemin- yang akan Jongin berikan ke gadis itu. dan Jongin menjamin bahwa Sehun akan terpesona kepada dirinya yang saat ini sedang memakai tuxedo berwarna putih dengan dasi kupu-kupu yang berwarna sama dengan dress yang dipakai Sehun.

Sungguh, Jongin tidak sabar untuk menanti kedatangan Sehun. Ia melirik arlojinya, masih satu jam lagi. Ya, ia harus menunggu satu jam lagi.

"Oi, Jongin! Semuanya sudah selesai." Hoseok yang sudah selesai menyusun lilin-lilin berwarna biru itu sedikit berteriak untuk memberi tahu Jongin.

Jongin mengangguk ke arah mereka semua, "Kalian bisa kembali ke posisi."

Taemin bertolak pinggang, "Aigoo! Apakah kita sedang bekerja rodi sekarang? Orang yang sedang jatuh cinta memang menyebalkan!"

Jongdae berdecak, "Kau juga harus membantuku untuk membuat Xiumin terkesan!"

"Kau harus membayarku mahal setelah ini, tuan Kim." Ucap Hoseok sarkastik.

Jongin hanya tertawa jenaka mendengar ucapan dari teman-temannya sambil menggerakan tangannya untuk memberi isyarat bahwa mereka harus pergi. Saat Taemin, Jongdae dan Hoseok melangkahkan kakinya untuk pergi, Chanyeol malah mendekati Jongin dengan langkah santai lalu menepuk bahu Jongin beberapa kali,

"Adikku sudah dewasa." Chanyeol dan Jongin terkekeh, "Semoga rencanamu berjalan mulus."

.

.

Baekhyun mempoleskan pipi Sehun dengan sedikit blush on kemudian tangannya bergerak lagi untuk mengambil sebuah lipgloss dan mewarnai bibir Sehun dengan benda itu. Ia merapihkan sedikit rambut Sehun yang sudah ditata sedemikian bagusnya oleh Baekhyun sendiri.

"Cha! Sudah selesai. Ayo buka matamu."

Sehun membuka kelopak matanya yang sedari tadi tertutup dengan perlahan. Dan ia pun terperangah dan sedikit tidak percaya saat melihat cermin yang terdapat pantulan dirinya dengan Baekhyun yang saat ini sedang menumpukan dagunya di bahu Sehun sambil tersenyum.

Sehun menyentuh pipinya sendiri dengan sangat hati-hati masih dengan matanya yang menatap cermin dengan kagum.

"Ini... benar-benar aku?"

"Bukan." Baekhyun memegang dagu Sehun dengan ibu jarinya sambil melihat ke arah cermin, "Ini adalah putri salju yang berasal dari negeri dongeng."

"Jangan menggodaku!" Sehun mengerucutkan bibirnya sementara Baekhyun hanya tertawa senang.

"Tuan Kim-mu itu pasti akan sangaaaat terpesona." Ucap Baekhyun disela tawanya.

"Unni!"

Sehun memasang wajah pura-pura kesal walaupun sebuah senyuman tidak bisa ia tahan dari bibirnya. Sebenarnya Sehun tidak bisa berdandan maka dari itu ia meminta Baekhyun untuk mendandaninya. Ternyata tangan Baekhyun sangat ajaib, bisa merubah dirinya yang notabene nya adala gadis biasa menjadi... err sedikit lebih menarik menurutnya.

"Putri salju sudah harus menemui pangerannya sekarang." Baekhyun tertawa lagi.

Sehun memutar bola matanya dengan malas, "Berlebihan."

Baekhyun merapihkan alat make up yang sedikit berantakan diatas meja rias itu, "Pangeranmu tidak menjemputmu?"

"Unni!" Sehun mengerucutkan bibirnya lagi saat Baekhyun masih memanggil Jongin dengan kata 'pangeran'. Ia pun menggeleng pelan, "Jongin tidak mengatakan bahwa ia akan menjemputku."

"Aigo! Dasar pangeran hitam!" Baekhyun menggelengkan kepalanya sok dramatis, "Baiklah, ibu peri yang akan mengantarmu. Tunggu sebentar, ya? Ibu peri akan mengambil kunci mobil dulu."

Setelah itu Baekhyun meninggalkan Sehun sendirian. Sehun mendengus geli, umur Baekhyun sudah hampir memasuki kepala dua tetapi mengapa ia masih saja menyukai dunia dongeng seperti anak kecil berumur lima tahun.

Sehun berdiri dari kursi yang berada didepan meja rias yang ada di kamarnya. Ia tidak mau membuat Jongin menunggu lama. Jujur saja, saat ini hatinya berdebar kencang. Ia sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan Jongin nanti.

Apakah Jongin akan menyatakan cinta kepadanya?

Sehun menggeleng sambil tersenyum geli. Astaga, mengapa ia menjadi percaya diri sekali?

Ia keluar kamarnya dengan kedua tangannya yang berada dipipi, berusaha untuk menghilangkan rona merah yang muncul secara alami dari pipinya.

Sehun menuruni anak tangga satu persatu dengan satu tangannya yang memegang pegangan tangga sambil tak bisa menahan senyumnya.

Namun saat kakinya memijak pada anak tangga yang ke delapan, rasa sakit di kepalanya muncul.

Ekspresi bahagianya kini tergantikan dengan ekspresi kesakitan yang amat sangat. Ia memegang kepalanya bahkan menjambak rambutnya sendiri dengan sebelah tangannya, tidak perduli jika tatanan rambutnya berantakan. Rasa sakit ini harus hilang. Ia tidak mau mengecewakan Jongin.

Sehun harus kuat!

Dengan sangat pelan ia melangkahkan kakinya lagi untuk menuruni anak tangga. Ia ingin memanggil nama Baekhyun tetapi entah mengapa yang keluar dari mulutnya hanya rintihan kesakitan.

Cairan kental berwarna merah mulai keluar dari hidungnya. Tetapi Sehun tak perduli. Ia harus menahannya, ia tidak mau membuat Jongin kecewa.

Tetapi rasa sakit di kepalanya tak mau menghilang. Ia tidak bisa bertahan, kesadaran Sehun menghilang.

Sehun jatuh dan tubuhnya menggelinding turun ke dasar tangga sehingga menghasilkan bunyi yang keras.

Baekhyun yang sedang mencari kunci mobil pun mengerenyit bingung dan segera berlari menuju ke lantai utama.

Ia tercengang saat melihat tubuh tak berdaya dari adik tersayangnya yang saat ini tergeletak di dekat tangga.

"Sehun!"

Ia berlari kemudian membawa kepala Sehun ke pangkuannya.

Kulit mulus Sehun kini ternodai oleh luka lecet sementara dress yang dipakainya terkena darah Sehun sendiri. Baekhyun yang tidak tega mulai menangis, ia menepuk pipi Sehun berharap agar adiknya itu tersadar.

"Sehun! ba-bangun sayang.. hiks, Sehunna.." ia terus mengguncangkan bahu Sehun.

Tetapi Sehun tidak membuka matanya.

Dengan tangan gemetar, Baekhyun mengambil handphonenya yang berada di saku celananya dan mengetikan sesuatu,

"Halo, a-ambulance?"

.

.

Jongin menatap kosong ke tengah danau.

Entah mengapa ia mendapat perasaan tidak enak.

"Jongin," Chanyeol menepuk bahu Jongin membuat lelaki itu menoleh, "Ia tidak akan datang."

Jongin menghela nafas, sekarang sudah tengah malam. Tetapi bolehkah ia tetap menunggu Sehun?

"Kau pulanglah duluan, Hyung." Jongin mengalihkan matanya ke tengah danau, "Aku akan menunggunya."

Chanyeol terdiam beberapa saat lalu menepuk bahu Jongin, "Aku akan meminta yang lain untuk pulang." Ia berlalu meninggalkan Jongin.

Sebenarnya Jongin sudah putus asa.

Ia kecewa...lagi.

.

.

"Jong...in"

"hiks.. Jangan banyak bicara Hunna." Baekhyun terus menggenggam tangan Sehun dengan erat.

Ambulance itu melaju dengan kencang, menembus jalan raya yang cukup ramai. Sirine ambulance itu berbunyi keras membuat para pengendara meminggirkan kendaraannya untuk memberi jalan kepada ambulance itu.

"Jong...in.." Ucapan Sehun berbisik lemah.

Baekhyun bisa mendengar bisikan Sehun walaupun mulut dan hidung adik tirinya itu tertutup oleh alat bantu nafas. Air matanya tidak bisa berhenti melihat keadaan adiknya itu, "Jongin.. hiks.. Jongin pasti sudah pulang hunna.."

Sehun terlihat semakin lemah dan itu membuat Baekhyun panik.

"Sehun.. bertahanlah, sayang. Sebenatr lagi kita sampai di rumah sakit."

Namun Sehun menutup matanya perlahan. Tangannya yang berada di genggaman Baekhyun pun melemas. Tautan mereka terlepas dan tangan Sehun terkulai seiring dengan matanya yang tertutup.

.

.

Air mata itu menetes begitu saja dari pipi Jongin tanpa permisi. Lelaki itu berwajah datar, namun tak ada yang tahu betapa hancur hatinya saat ini.

Semua usahanya sia-sia.

Sehun tidak akan datang.

Ia sudah mencoba untuk menghubungi ponsel Sehun ataupun Baekhyun tetapi panggilannya tak kunjung dijawab.

Lelaki itu menangis dalam diam. Matanya menatap kosong air yang ada di danau itu.

Lagi, sebuah tepukan terasa di bahunya. Jongin tidak menoleh karena ia sudah tahu bahwa Chanyeol lah yang menepuk bahunya. Lalu terpukan itu berubah menjadi usapan kecil. Ia tahu bahwa Chanyeol sedang berusaha untuk menenangkannya.

Air mata itu terus saja mengalir, namun Jongin tersenyum miring seakan menertawakan betapa menyedihkan dirinya saat ini.

Hatinya seakan hancur menjadi serpihan.

Jongin kecewa... lagi.

.

.

.

Kris menaikkan kedua kakinya ke atas meja sementara punggungnya menyender kepada kursi. Tangannya memegang sebuah stetoskop dan meminkan benda itu.

Seseorang yang memakai jas putih saat ini sedang duduk dihadapannya hanya saja terhalang meja. Orang itu berdecak, "Hey anak kecil! Apa kau mau menginap di ruanganku, huh?"

Kris tetap pada posisi santainya, "Siapa yang kau sebut anak kecil? Apakah kau tidak sadar kalau badanku lebih tinggi darimu, ya?" Ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya.

Orang yang ada dihadapan Kris memutar mata dengan malas, "Terserahlah. Astaga... Konsentrasiku benar-benar sudah buyar karenamu."

Kris menatap orang yang ada dihadapannya, "YA! memangnya aku melakukan apa?" Ia memajukan badannya dan menurunkan kakinya, "Memangnya apa yang sedang kau lakukan? Setahuku kau baru pindah tiga hari yang lalu. Tetapi mengapa kau sangat sibuk sekarang?"

Orang itu membuang nafas sambil mencopot kacamata yang sedari tadi dipakainya, "Entahlah... salah satu seniorku ada yang mengambil cuti mendadak sehingga aku yang harus mengambil alih pekerjaannya yang terbengkalai. Huh, menyebalkan."

Kris hanya memutar kedua bolamatanya dengan malas karena melihat sepupu yang lebih tua lima tahun darinya itu mengeluh. Sungguh, ia heran mengapa sepupunya itu bisa menjadi dokter.

Namanya Henry Wu. Ia adalah seorang dokter. Setahun yang lalu ia bertugas di Busan tetapi sekarang ia di pindah tugaskan menjadi di rumah sakit yang ada di Seoul. Kris dan Henry memang dekat namun walaupun begitu mereka jarang bertemu. Yeah, Kris tinggal di Seoul sementara Henry di Busan, itu jauh sekali.

'Toktoktok'

Tiba-tiba terdengar suara dari pintu ruangan yang diketuk. Henry merapihkan jas berwarna putih yang dipakainya sebelum menyuruh siapapun yang mengetuk pintu untuk masuk ke ruangan.

Ternyata seorang perawat yang mengetuk pintu ruangan itu.

Perawat perempuan yang masih muda itu masuk dan melirik Kris dengan penuh kekaguman. Kris hanya tersenyum agar terlihat sopan dan perawat itu terlihat sedang menahan nafasnya karena melihat senyuman Kris.

Sungguh, Kris sangat tidak suka bila ada orang yang menatapnya seperti itu. menatap Kris hanya karena kagum akan ketampanan yang dimilikinya.

Henry berdehem keras dan emmbuat perawat itu tersadar dari acara 'mari mengagumi wajah tampan lelaki pirang berwajah malaikat ini'.

"M-maf dok, saya ingin memberitahukan bahwa kita kedatangan pasien yang perlu ditangani secepatnya."

Henry berdiri, "Baiklah. Sekarang dimana pasien itu?"

"Ia di emergency room. Saya permisi."

Lagi-lagi perawat itu melirik Kris sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Kris mendecih tak suka, "Resiko orang tampan."

Henry mendengus. "YA! daripada tidak ada kerjaan lebih baik kau ikut aku saja."

"Apa itu ada gunanya?" Kris memasang tatapan mencemooh dan langsung mendapat jitakan dari Henry.

"Tentu saja ada! Kau kan calon dokter, maka dari itu kau harus melihatku menangani pasien agar bisa menjadi pelajaran untukmu."

Henry pun menarik Kris keluar ruangan dengan paksa.

.

.

Kris menggerutu.

Untuk apa Henry mengajaknya tetapi pada akhirnya Kris tidak boleh masuk ke ruangan dan harus menunggu di luar?

Dasar anak ajaib! Lihat saja setelah keluar nanti Kris akan langsung menjambak hidung Henry.

Ia mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dekat ruangan itu dan ia baru sadar ternyata dari jarak dua kursi dari tempatnya duduk ada seorang gadis yang sedang duduk juga sambil menangis sesegukan. Perempuan itu bermata sipit, bajunya terdapat bercak darah yang entah milik siapa, gadis itu memegang handphone dengan gemetaran.

Kris merasa tidak asing dengan gadis itu. seingatnya ia pernah melihat gadis itu, tetapi dimana?

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka membuat Kris menoleh ke arah pintu itu. keluarlah beberapa perawat dan juga Henry yang sedang mendorong sebuah ranjang dorong. Sepertinya pasien itu akan dipindahkan ke ruang rawat inap.

Awalnya Kris bersikap biasa saja, namun saat para perawat dengan ranjang dorong itu melintas dihadapannya, Kris membulatkan matanya saat tahu siapa pasien yang ada di atas ranjang itu.

Dia Oh Sehun.

Tubuh Sehun dipasangi oleh beberapa kabel yang Kris sendiri malas untuk mengetahui apa namanya, hidung dan mulutnya terdapat alat bantu nafas, di pelipisnya terdapat plester dan tangannya terdapat infus.

Gadis yang ada di sebelahnya pun berdiri mengikuti para perawat. Sementara Kris masih berada dalam keadaan terkejutnya.

Sehun...

Itu Sehun...

Mengapa gadis itu bisa ada di sini dalam keadaan seperti tadi?

Sebenarnya apa yang terjadi?

.

.

.

Kris menghampiri gadis bermata sipit yang sedang duduk di kursi yang ada di depan ruangan rawat inap. Di tangan Kris terdapat dua buah kopi kalengan yang dibelinya beberapa saat yang lalu.

Gadis itu terlihat sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada lututnya sendiri. Entah apa yang dilakukannya. Menangis? Mungkin saja.

Bahkan saat Kris duduk di kursi yang berada di sampingnya, gadis itu tidak menyadarinya.

Kris berdehem pelan membuat gadis itu menrunkan tangannya yang menutupi wajahnya. Saat gadis itu menoleh ke arah Kris, ia bisa melihat air mata dan bekasnya yang berada di pipi gadis itu.

"Mau kopi?" Kris menyodorkan sekaleng kopi kalengan ke arah gadis itu.

Gadis itu menatap kaleng kopi dan wajah Kris bergantian. Ia terlihat ragu. Yeah, mungkin ia mengira Kris adal;ah orang jahat.

"Aku Kris."

"eumm... maaf, apa kau mengenalku?" Gadis itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Kris.

Kris tersenyum, "Tidak. Tetapi aku mengenal orang yang ada di dalam sana." Kris menunjuk sebuah pintu ruangan rawat yang terletak disamping gadis itu.

"Kau mengenal adikku?" tanya gadi itu.

"Jadi kau kakaknya Sehun?" Kris baru ingat sekarang. Ia pernah melihat foto gadis ini di wallpaper ponselnya Sehun. ah! Pantas saja tidak asing.

Gadis itu tersenyum tipis, "Aku Baekhyun. Senang bertemu denganmu."

"Yeah, aku juga." Kris membuka penutup dari kopi kalengan itu lalu meminum isinya. Baekhyun juga melakukan hal yang sama. "Boleh aku bertanya?"

Baekhyun mengangguk setelah meminum kopi kalengannya.

"Apa yang terjadi?"

Gadis sipit itu menoleh dengan cepat ke arah Kris, ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Kris "Se-sehun... eum, dia terjatuh drai tangga."

Kris berfikir bahwa Baekhyun tidak mengatakan hal yang benar kepadanya. mungkin Baekhyun fikir bahwa Kris tidak tahu apa-apa tentang Sehun. Kris berpendapat bahwa tidak mungkin Sehun hanya terjatuh dari tangga.

Tetapi Kris hanya mengangguk.

"Istirahatlah." Kris menoleh ke arah Baekhyun, "Ini sudah larut dan kau terlihat lelah."

"Aku tidak bisa pulang. Aku akan menemani Sehun di dalam." Baekhyun berdiri sambil tersenyum ke arah Kris, "Terima kasih untuk kopinya."

"Sama-sama."

Kris ikut berdiri. Saat Baekhyun berbalik untuk memasuki ruang rawat Sehun, Kris memanggil Baekhyun membuat gadis itu menoleh lagi ke arahnya.

"Di dalam hanya ada satu selimut." Kris membuka jaket yang dipakainya lalu menyampirkannya ke bahu Baekhyun, "Pakai saja jaketku. Kau bisa mengembalikannya lain waktu. Oh, atau kau mau aku ambilkan selimut lain?"

Bakehyun terdiam sambil menatap ujung jaket Kris yang berada ditubuhnya lalu mendongakkan kepalanya menatap Kris dan tersenyum manis lagi, "Tidak usah, ini sudah sangat cukup. Aku... sangat berterima kasih."

Kris mengangguk singkat.

"Ka-kalau begitu, a-aku akan masuk dulu."

Kris hanya menatap punggung sempit Baekhyun yang sudah menghilang di balik pintu.

Entah sadar atau tidak, ia tersenyum tipis.

.

.

.

Siang harinya Kris mendatangi ruang rawat Sehun setelah pulang sekolah. Ia membawa seikat bunga untuk menggantikan bunga yang berada di kamar rawat Sehun yang pasti sudah layu.

Ia membuka pintu itu perlahan dan mendapati Sehun yang sedang duduk di atas ranjang sambil menekuk lututnya dan menatap ke arah jendela yang terletak di samping gadis itu.

Rupanya Sehun sudah sadar.

Gadis itu menoleh ketika menyadari kehadiran orang lain selain dirinya yang berada di ruangan itu. Sehun terlihat kaget melihat Kris.

Kris masuk dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang Sehun lalu melemparkan senyumnya, "Hai..."

Sehun masih memasang ekspresi terkejutnya. Ia menunjuk Kris, "Kau... bagaimana kau bisa-"

"Berada di sini?" Kris memotong ucapan Sehun. "Aku adalah pemadam kebakaran untukmu. Setiap ada sesuatu yang buruk terjadi padamu maka aku bisa mendengar lonceng yang berbunyi dari dalam hatimu."

"Hahaha," Sehun tertawa garing. "Itu lucu sekali." ucapnya sarkastik.

Kris terkekeh, "Bagaimana keadaanmu?"

"Sudah lebih baik." Sehun tertegun sebentar lalu menatap Kris dengan serius, "Sunbae, bagaimana... keadaan Jongin?"

"Jongin? Dia... dia terlihat kacau di sekolah. Entahlah, aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya."

Kris mengerenyit saat Sehun menundukkan wajahnya sambil menggigit bibirnya sendiri.

"Apa Jongin sudah tahu keadaanmu?"

"Tidak." Sehun mendongak menatap Kris dengan ekspresi panik. "Kumohon, Jangan beritahu apapun kepadanya. Ku mohon..."

Kris menghela nafas, "Apa kau tidak kasihan padanya? Ia terlihat sangat kacau dan mungkin penyebabnya karena kau tidak masuk sekolah tadi."

"Itu lebih baik daripada aku melihatnya menangis di depanku."

Kris menatap Sehun dengan tatapan putus asa. Sehun sangat mencintai Jongin dan berarti cinta Kris bertepuk sebelah tangan. Hatinya merasa sakit saat mengetahuinya. Mengapa... mengapa saat ia menemukan orang yang tulus kepadanya orang itu malah tidak bisa membalas perasaannya?"

"Bisakah... bisakah kau memberiku sedikit harapan, Sehun?"

Sehun tertawa, "Apa baru saja kau meminta harapan kepada orang yang tidak mempunyai harapan sepertiku, sunbae? Bagaimana bisa aku memberimu harapan sementara harapanku untuk hidup saja sudah tidak ada."

"YA! jangan berbicara seperti itu. kata siapa kau sudah tidak punya harapan, huh?"

"Kata para dokter."

"Sehun, dokter buka Tuhan. Berdoa lah semoga ada keajaiban."

"Keajaiban hanya berada di dalam dongeng, sunbae."

Kris terdiam.

"Harapanku hanya ingin melihat 'nya' tersenyum untukku, dan itu sudah terlaksana. Jika memang Tuhan menginginkanku, aku..." Sehun menggigit bibirnya sebentar, "Aku siap."

Kris terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Sehun memang siap, tetapi dirinya lah yang tidak siap. Ia belum siap untuk kehilangan Sehun. ia sungguh belum siap.

"Kau tahu sunbae..." Sehun melihat keluar jendela dengan tatapan menerawang, "Terkadang Tuhan menciptakan seseorang untuk kita cintai, tetapi tidak untuk kita miliki... ya, mungkin aku dan Jongin seperti itu adanya."

Kemudian Sehun mengalihkan pandangannya kepada Kris yang sedang menoleh ke samping. Entah apa yang sedang dilihatnya. Sesungguhnya ia tahu bahwa Kris menyukainya hanya saja Sehun tidak mau memberi Kris harapan, karena itu sama saja menyakiti Kris lebih dalam. Dan Sehun tidak mau.

"Sunbae... Kuharap kau menemukan orang yang terbaik untukmu. Bukan seperti aku yang jauh dari harapanmu."

Kris tidak membalas perkataan Sehun. Ia hanya terdiam dan menatap Sehun dengan tatapan tak terbaca. Sampai kemudian ia berkata dengan lirih.

"Bolehkah... bolehkah aku memelukmu?"

Sehun tersenyum lalu merentangkan tangannya seakan berisyarat bahwa Kris boleh memeluknya.

Dan tanpa menunggu lagi, Kris memeluk Sehun dengan erat. Berkali-kali ia menciumi pucuk kepala Sehun sambil memejamkan matanya. Ia memeluk Sehun dengan erat seakan takut kehilangan.

Ya, ia tidak mau kehilangan Sehun.

Sungguh...

.

.

.

Jongin terdiam di teras rumahnya.

Ia melirik ponselnya seakan berharap bahwa Sehun menghubunginya.

Ia sudah mencoba berkali-kali untuk menghubungi Sehun atau Baekhyun tetapi hasilnya nihil. Panggilannya selalu tidak di jawab.

Sejak malam itu Sehun seakan menghilang. Entahlah, Jongin tidak tahu apa yang telah terjadi kepada gadis itu.

Wali kelasnya bilang bahwa Sehun sedang pergi ke rumah sanak saudaranya yang berada di luar kota. Tetapi entah mengapa Jongin tidak percaya. Saat ia bertanya ke Xiumin yang notabenenya adalah teman sebangku Sehun, gadis itu hanya akan menggeleng pertanda ia tidak tahu apa-apa.

Jongin mengusap wajahnya dengan frustasi.

Ia memang kecewa kepada Sehun yang tidak datang ke danau waktu itu tetapi di sisi lain ia juga mengkhawatirkan Sehun. ia merasa hatinya tidak bisa tenang bila belum mengetahui keadaan Sehun.

Ia menengadah menatap langit sore yang berwarna jingga.

Sungguh ini sangat menyiksanya.

Ia pun berhenti mendongak dan tatapannya jatuh kepada motor ducati berwaran merah milik Chanyeol yang sedang terparkir tidak jauh darinya.

Tiba-tiba sebuah ide melintas dibenaknya.

.

.

.

To Be Continue

.


Author's note


Parah! Udah dua bulan lebih saya ga update ff ini. Sebagai mahasiswa yang mempunyai banyak tugas, waktu luang saya semakin sedikit. Tapi karena UTS udah lewat maka saya usahin supaya update minimal satu ff setiap minggunya. Tapi ga janji sih... /ditabok/

Dua chapter lagi ff ini akan tamat. Dan mungkin untuk endingnya akan sangat berbeda dengan pemikiran kalian. Sad or happy ending? Liat aja nanti ^^

Terima kasih untuk semua review yang masuk. Jangan jadi silent reader yaa, review dari kalian itu satu-satunya semangat buat saya.