PET RESCUE
Story by – (Kenjiro Teo)
Romance, Crime, Yaoi Chaptered PG -15 Jaehyun, Taeyong, Yuta, Heechul, Hangeng, Ten, and Other Cast
Disclaimer : Kami hanya meminjam nama dari member NCT untuk keperluan ff. Semua yang terjadi hanya imajinasi author semata.
*
"Yuta.. aku tau kau sahabatku. Tapi ini bukan waktunya untuk bercanda" Jaehyun mengusap wajahnya dengan gusar
"Aku tidak bercanda! Memang aku tak bisa memastikan dengan betul Nakamoto Kotaro yang bersangkutan adalah pamanku atau bukan. Tapi aku juga tak akan tinggal diam seandainya dia memang pamanku" Yuta mendelik dengan tangan mengepal
"Sudah sudah. Masalah tak akan selesai jika kalian terus berdebat seperti ini" Nickhun melerai adu mulut antara Jaehyun dan Yuta. Ia melirik adiknya yang diam termenung seperti sedang memikirkan sesuatu
"Ten, kau kenapa? Kenapa memandangi gambar itu terus? Apa kau tidak bisa melacak dengan komputer-komputer ini?"
"Haaa!! Kau benar hyung! Aku baru ingat" Ten dengan lihai nya mengutak atik komputer itu dan layar monitor nya berubah. Menjadi biru dan banyak garis-garis titik koordinat
"Apa yang ingin kau lakukan?" Semuanya menatap ke arah Ten dan monitor bergantian
"Kalian mungkin tidak akan percaya dengan semua ini. Tapi yang jelas semua orang yang tinggal disini bisa dipantau dengan titik koordinasi di layar yang kalian lihat"
"Bagaimana bisa? Kita bukan robot"
"Bukan kau, idiot. Maksudku,semua yang bekerja padanya itu dipasang alat untuk bisa dilacak kapanpun dan dimana pun. Begitu juga aku..." Jemari Ten berhenti mengetik dan terdiam diatas keyboard
"Kau? Kau ini robot?" Yuta yang sedang mode yang terus saja bertanya tanpa henti. Baginya ini sangat membingungkan
"Ck! Lihat! Ini chip pendeteksi" Ten menyingkap bajunya hingga menunjukkan bagian punggung sampai pundaknya. Terlihat jelas sebuah benda kecil pipih tertanam di tengah-tengah punggung nya
"Astaga! Dia memasang itu di tubuhmu? Dan kau diam saja?" Nickhun sang kakak shock dengan apa yg dilihatnya. Ia tidak suka adiknya dijadikan robot dengan chip yang menempel di tubuhnya
"Dia memasang itu ditubuhmu untuk apa?" Jaehyun mencoba menyentuh chip itu perlahan
"Kan sudah kubilang semua yang tinggal disini dipasangi alat ini"
"Haaaaaa itu sebabnya kau tak pernah mau mengikuti mata pelajaran olahraga khususnya renang? Dan kau selalu membolos ke rumah sakit untuk bertemu Jaehyun kan?" Yuta menuding tepat di depan wajah Ten
"Ck kuhargai kecerdasan otakmu dalam menyimpulkan Arigatou Man. Bisakah kau singkirkan jari baumu dari wajahku?" Ten hanya menatap datar jari telunjuk Yuta yang masih menunjuk tepat di hadapannya
"Sudah sudah cepat kau lacak lokasi mereka" kali ini Taecyeon yang bertugas melerai Ten dan Yuta.
Taeyong menggeliat di kursi yang didudukinya. Kaki dan tangannya kram. Wajahnya masih pucat tapi ia masih sanggup bernafas. Dilihatnya dua orang dengan keadaan tak jauh beda dengan dirinya tengah terdiam dengan mata terpejam. Taeyong melihat Heechul dan Hangeng dengan kondisi yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Air mata Taeyong menetes membasahi pipi dan kain yang menyumpal mulutnya. Entah ia merasa sangat sakit melihat kedua orang tuanya diikat dengan kondisi seperti itu. Sedangkan dirinya sendiri sama saja. Taeyong tidak mau orang tuanya diikat seperti dirinya. Cukup ia saja yang menderita. Orang lain tak perlu merasakannya juga.
"Hey nak kenapa kau menangis? Astaga kau manis sekali jika sedang tak berdaya ya HAHAHAHAHAHAHAH" sebuah tangan mengusak rambut Taeyong yang lepek. Taeyong tak berani menatap pria bertubuh gempal dihadapannya ini. Terlalu takut jika nanti ia dipukuli lagi.
"hmmphh hmphh!" suara tertahan itu berasal dari mulut Heechul yang ditutupi lakban hitam. Ia memandang tajam Jaesang yang tengah memegangi Taeyong. Heechul tak rela jika tangan kotor itu menyentuh Taeyong nya yang berharga.
"Diam kau bitch!!! Aku sudah jauh beberapa langkah diatasmu. Dan aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan sejak dulu. Aku menang diatas segalanya. Kau tau, terkadang menjadi jahat lebih disegani. Daripada menjadi pandai. Otak licik lebih berguna. Untuk mendapatkan segalanya" Jaesang menatap tepat di kedua mata Heechul dengan tatapan menusuk.
Ten kembali mengetik sesuatu di keyboardnya dan dengan cepat ia bisa menemukan lokasi dari chip-chip yang lain. Ada beberapa titik biru di layar monitor yang berkedip. Menandakan jika tubuh yang dihinggapi chip itu masih hidup dan detak jantung nya masih terdeteksi dengan baik. Ten melihat detailnya satu per satu dengan teliti. Semuanya biru yang artinya itu hanya orang-orang biasa. Bukan tersangka utama yang mereka kejar saat ini. Karena Ten tau kalau si tersangka tak mungkin memasang chip itu di tubuhnya sendiri. Itu tidak akan masuk akal. Sama saja seperti mengumpan diri sendiri kedalam masalah besar.
"Aku menemukannya! Ini titik milik Namjoon hyung. Bodyguardku dulu yang sering menemaniku ke rumah sakit. Tapi sekarang si brengsek itu sudah menariknya dan menyuruhnya untuk terus bersamanya kemanapun dimanapun" Ten menunjuk profil detail dari salah satu titik biru itu
"Benarkah? Lalu dimana lokasinya saat ini? Apa jauh?"
"Tidak sejauh yang kukira. Mereka di Busan. Disini tertera alamatnya dengan lengkap. Siapkan kendaraan. Aku akan mencatatnya" Ten merobek kertas dan segera mencatat alamat itu dan yang lain keluar dari rumah menuju mobil mereka yang terparkir didepan rumah. Saat Ten hendak keluar, seseorang menghalanginya. Tubuhnya tinggi tegap dengan wajah tampan sempurna.
"Kau mau kemana dengan mereka?"
"Bukan urusanmu. Bekerjalah dengan baik dan berdoa supaya umurmu panjang" Ten bergerak ke kanan, tetapi pria itu terus menghalanginya. Ten bergerak ke kiri pun, pria itu tetap menghalanginya. Hingga membuat Ten kesal dan meneriakinya
"Sebenarnya apa masalahmu ha?! Kenapa kau menghalangiku?! Minggir!!"
"Apa kau ingin mempertaruhkan nyawamu padanya?" langkah Ten terhenti saat hendak menerobos tubuh pria dihadapannya
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah tinggal dan bekerja disini lebih lama dari yang kau kira. Simpanlah ini, dan gunakan dengan baik. Jangan sampai kau salah sasaran"
"Yak! Kim MinGyu!!"
Dan pria itu pergi meninggalkan Ten yang termenung memegang sebuah revolver di tangannya.
Jaehyun dan yang lainnya sampai di Busan dengan selamat. Pasalnya Jaehyun yang mengendarai mobil itu melajukan banteng besinya dengan kecepatan penuh. Tanpa tahu bahwa penumpang yang lain mual dan pucat selama perjalanan. Yang ada dikepalanya saat ini hanyalah Taeyong Taeyong dan Taeyong. Tak peduli pada dirinya sendiri. Itulah Jung Jaehyun.
"Kalau kau mau mati, mati saja sendiri!! Jangan bawa-bawa kami semua, bodoh!" Yuta berteriak sesaat setelah ia keluar dari mobil. Wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Perutnya seperti habis diacak-acak.
"Dimana lokasinya?" bagai tuli, Jaehyun yang diteriaki oleh Yuta tak menghiraukannya sama sekali. Ia malah fokus pada kertas catatan yang dipegang Ten.
"Seharusnya disekitar sini... 10m dari arah kiri"
"Biar kulihat" Taecyeon berjalan ke arah yang Ten tunjukan. Lalu ia kembali lagi sambil menggaruk belakang kepalanya seperti sedang kebingungan
"Apa kau yakin? Disana tidak ada rumah, toko, atau apapun itu. Hanya sebuah lorong kecil antara dua bangunan. Dan tidak ada siapapun disana"
"Benarkah? Tapi alamat yang kudapat memang benar disitu. Atau mungkin... Ini tempat yang tersembunyi?"
"Mungkin saja. Ayo kita masuk kesana" Jaehyun dan Yuta berjalan didepan dan diikuti oleh yang lainnya
Gang itu benar-benar sempit sepi gelap kotor dan lembab. Sebenarnya mereka tidak yakin akan lokasinya. Tapi tak ada salahnya mencoba. Mereka berjalan mengendap-endap dan berpegangan tangan. Tiba-tiba Jaehyun berhenti dan merapatkan tubuhnya di dinding dan diikuti oleh yang lain
"Ada apa?" Yuta berbisik
"Ada pintu di depan sana. Sepertinya ruangan yang mirip gudang bekas. Tapi ada beberapa orang yang menjaganya" Jaehyun melirik ke depan lagi. Dilihatnya pintu itu dan penjaga-penjaganya. Benar-benar sangat mencurigakan
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka, kalian masuklah kedalam" Taecyeon dengan mantap menyuruh mereka segera ikut bertindak sedangkan dirinya dan Nickhun akan mengalihkan perhatian para penjaga.
Taecyeon mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah yang berlawanan dengan pintu gudang itu. Membuat penjaga-penjaga itu menoleh dan segera mendekat ke sumber suara. Dan kesempatan bagus itu tak disia-siakan oleh Jaehyun Yuta dan Ten untuk menerobos masuk.
Ruangan itu memang tak terlalu gelap ataupun terang. Tapi cukup luas dan kosong. Tak ada barang-barang yang mencurigakan. Tetapi mata mereka terbelalak ketika mereka menatap apa yang ada dihadapannya. Taeyong Heechul dan Hangeng yang diikat dengan luka dimana-mana. Dan si brengsek itu pun berdiri disana dengan senyuman mengejek. Tangannya mengelus rambut Taeyong terus menerus membuat Jaehyun muak dan ingin mematahkan tulang si brengsek itu saat ini juga. Taeyong berbinar melihat kedatangan Jaehyun. Ia merindukan Jaehyun. Ia tau Jaehyun pasti akan menolongnya.
"Wohohoho lihat siapa yang datang mengunjungimu manis.." Jaesang mengusap pipi Taeyong dan empu nya meringis pelan. Perih rasanya karena luka gores dipipinya disentuh.
"Lepaskan Taeyongku. Dia bukan milikmu" Jaehyun menatap tajam kearah Jaesang dengan tangan mengepal kuat
"Hahahahahaha janganlah kau berkhayal nak. Dia ini milikku. Bahkan sebelum kau mendapatkannya. Susah payah aku mencarinya. Mana mungkin akan kulepaskan begitu saja"
"Kenapa kau ingin menjualnya? Dia bukan barang yang bisa kau perjual belikan. Begitu juga Ten"
"Kau tanya kenapa? Berapa lama kau hidup di dunia ini nak? Selama kau hidup tumbuh dan berkembang diatas bumi ini, uang lah yang berkuasa untuk mengaturmu. Uang itu luar biasa. Mampu mengubah kehidupan seseorang"
"Kau gila harta. Bahkan Ten pun ingin kau jual. Dimana hatimu hah?"
"Aku memang tak peduli pada orang lain. Untuk apa aku memikirkannya. Tak ada untungnya untukku"
"Kembalikan Taeyongku sekarang!!!!!!!!!!!!" teriakan Jaehyun menggema diseluruh sudut ruangan. Membuat semuanya tersentak kaget
"Maaf saja nak, tidak semudah itu" Jaesang menodongkan pistolnya kearah Taeyong. Tepatnya dipelipis sebelah kirinya.
"T-tae.. " Jaehyun terdiam
"Kau ingin hidupmu kembali normal tanpa masalah, atau kau ingin mendapatkannya kembali dengan hanya tubuhnya saja yang tersisa?"
"J-jangan... Jangan berani kau apa-apakan Taeyong"
"Baik. Aku tak akan melakukan apapun padanya. Tapi seseorang yang jauh disana tengah menunggunya"
"Dimana si pembeli brengsek itu berada?" Yuta maju beberapa langkah
"Kenapa? Kau ingin bernegosiasi dengannya? Maaf nak, dia itu orang sibuk. Tak bisa ditemui seenaknya"
"Katakan dimana pamanku berada!!!!!!" kali ini teriakan Yuta lah yang menggema.
Detik berikutnya suara tembakan yang saling bersahutan pun terdengar. Ten dengan revolver pemberian Ahjjussi bernama MinGyu dengan para bodyguard dan Jaesang yang awalnya mengarahkan pistolnya ke kepala Taeyong, mengubah posisi senjatanya. Kini diarahkan ke Jaehyun dan Yuta yang hendak menyerangnya bersamaan. Jaesang menembakkan pelurunya ke sembarang arah. Dan sialnya Jaehyun dan Yuta berada didepan Taeyong. Dan Jaesang dengan mantap menembakkan pelurunya lagi tepat kearah mereka. Jaehyun mendorong Yuta yang berusaha menghalanginya. Dan Jaehyun memeluk Taeyong dengan erat.
DORRRR
Jaehyun terus memeluk Taeyong yang bergetar ketakutan. Jaehyun tak berani membuka mata sampai seseorang menendang pantatnya
"Yak! Jung! Buka matamu!" Itu suara Yuta yang berhasil membuka mata Jaehyun. Dilihatnya Yuta yang terduduk dilantai dan hey.. Jaehyun tak merasakan sakit sama sekali. Seperti tak ada peluru yang menembus kulitnya. Jaehyun berbalik dan dilihatnya seseorang berdiri dibelakangnya dengan tangan memegang dada yang dipenuhi darah.
"N-namjoon hyung!!" Ten berteriak membuat semuanya tersadar kembali setelah keheningan yang cukup lama. Itu Namjoon. Yang mencoba menghalangi peluru itu tertancap ke Jaehyun ataupun Taeyong.
"Pergilah. Cepat" ia hanya sanggup mengatakan itu sebelum akhirnya menghembuskan nafas.
Dan detik berikutnya, Jaesang kembali menembakkan pelurunya ke arah Jaehyun dan Yuta. Sementara Ten menghadapi bodyguard yang lain. Namun, revolvelnya terlepas dan direbut. Ia tak punya senjata sekarang. Jaehyun maupun Yuta tidak memegang senjata apa-apa juga. Jaesang menarik Taeyong mundur dan membawanya keluar ruangan. Ia sempat menembakkan pistolnya ke arah Jaehyun. Tetapi untungnya peluru itu hanya menggores lengan atas Jaehyun saja. Heechul dan Hangeng masih dibiarkan terikat di dalam. Taeyong kembali diseret ke mobil hitam dan dibawa pergi entah kemana. Membuat Jaehyun memerah dipenuhi amarah dan meledak saat itu juga
"ANDWAEEEEEEEEEE!!!!!!! TAEYONG-AH!!!!!!"
To be continued
BIG THANKS for reviews..
Terus ikutin chap selanjutnya yah. Gak pasti sih update nya kapan. Tapi yang jelas ini bakal tetep dilanjut sampe end kok.
Dan saya juga udah bikin ide cerita buat ff selanjutnya. Makasih ya buat supportnya :v
