Night Melody
Opus 10: See You…
Disclaimer:
Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP
Apa cinta itu ditentukan oleh jarak dan waktu?
Apa kau akan berhenti mencintaiku kalau aku jauh dari mu?
Apa kau akan melupakanku kalau aku jauh dari mu?
Tapi satu hal yang pasti;
Aku tidak akan pernah melupakan perasaan ini
Dan aku tak akan pernah melupakan mu…
Sejauh apapun jarak diantara kita, selama apapun kita berpisah…
Kamu, yang terus kucintai, tak akan hilang dari ingatan.
"Aku akan pindah ke rumah sakit di Jerman."
Syaoran bengong sesaat. Jerman? Apa dia bilang? Batinnya. Tak mendengar jawaban dari Syaoran, Sakura menenangkan diri, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Ng, begini.. ayahku kan sedang dinas ke luar negeri, sembari mencari pengobatan alternatif untukku. Dan dia menemukan seorang dokter ahli di Jerman yang bisa menyembuhkan ku. Kesempatan untuk sembuh total… sebenarnya 50-50. Tapi itu angka yang cukup besar untuk keadaan ku sekarang. Ayah dan Kakak mendukung ku untuk kesana, dan menjalani pengobatan. Aku juga… mau cepat-cepat sembuh…" kata-kata Sakura mulai terhambat lagi. Suaranya terdengar bergetar.
"Bukannya aku memang ingin berpisah dari Syaoran dan yang lain. Tapi… Aku… Aku mau… sembuh. Dan berjalan bersama-sama Syaoran, Fay-san, Kurogane-san, Moko-chan dan Tomoyo-chan. Bersama semuanya. Di bawah sinar matahari yang hangat, bukan di bawah atap rumah sakit." Sambungnya.
Syaoran terlihat agak muram, tapi dia menghela napas pendek, lalu menggenggam tangan Sakura. Sakura tersentak. Dia menoleh ke Syaoran dengan wajah hampir menangis. Ditatapnya senyuman lembut Syaoran. Air mata Sakura pun akhirnya mengalir tanpa sadar.
"Tenanglah. Aku senang mendengar berita itu. Sakura bisa sembuh. Itu saja cukup. Aku senang. Berjuanglah di Jerman nanti. Kita… ke festival bersama setelah kau kembali dari sana ya." Ujar Syaoran lembut. Dia menarik perlahan Sakura ke pelukannya. Sakura mengangguk, sambil terus terisak di pelukan Syaoran.
Tidak apa-apa.
Asal Sakura bisa sembuh, tidak apa-apa.
Aku tak ingin lagi melihat senyum Sakura yang dipaksakan, atau air mata kepedihannya.
Aku ingin melihat Sakura yang tersenyum ceria.
Aku ingin bersama Sakura yang ceria, dan sehat.
Meski harus berjauhan untuk waktu lama, tidak apa-apa.
Aku yakin, kami pasti bertemu lagi.
Sampai saat itu tiba, aku tak akan melupakan Sakura.
Begitulah batin Syaoran. Dia mendekap Sakura erat-erat. Sebenarnya agak berat untuk Syaoran melepas Sakura ke tempat yang jauh, tapi dia meyakinkan diri dan membiarkannya pergi.
Sakura akhirnya selesai menangis. Dia mengapus air matanya, lalu mengulurkan jari kelingkingnya. "Syaoran, ayo kita berjanji." Katanya.
"Janji apa?" tanya Syaoran.
Sakura menunduk sedikit, tapi lalu mengangkat wajahnya dengan pandangan lurus. "Berjanjilah… sejauh apapun jarak antara kita, selama apapun kita terpisah, kita akan bertemu lagi." jawab Sakura.
Syaoran tersenyum, lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sakura. "Ya, pasti. Aku tak akan melupakan Sakura. Dan akan terus menunggu kepulangan Sakura." Syaoran menyanggupi dengan mantap. Sakura tersenyum senang, lalu mengangguk.
Ya, pasti…
Semua akan baik-baik saja.
Keesokan harinya…
xXxXxXxXxXx
"Jerman ya…" gumam Tomoyo. Sakura mengangguk pelan. Fay dan Mokona bertukar pandang, sementara Kurogane tetap tak banyak bicara seperti biasa. Dan Syaoran terus membisu.
"Sebentar saja 'kan?" tanya Mokona. Dia melompat ke pangkuan Sakura. "Sakura ke Jerman sebentar saja 'kan?" tanyanya lagi.
Sakura bingung harus menjawab apa. Lalu dia tersenyum lemah. "Aku tidak tahu. Kata Kakak, mungkin proses pengobatannya butuh beberapa tahun." Jawab Sakura.
"Beberapa tahun ya…" Tomoyo terlihat agak muram. Tiba-tiba seulas senyum manis tersungging di wajahnya. "Tidak apa. Selama apapun Sakura-chan pergi, aku akan selalu menunggu kepulangan Sakura-chan. Lagipula semua ini juga demi kesembuhan Sakura-chan, 'kan?" katanya. Sakura tersenyum.
"Lagipula, Jerman nggak begitu jauh (sepertinya). Naik pesawat beberapa jam 'nguuuung' juga sampai! Ya 'kan?" sambung Tomoyo lagi. "Tulis surat ya Sakura-chan, nanti aku pasti akan datang menjenguk. Meski tak bisa sering-sering." Tomoyo tersenyum tipis. Dia berusaha ceria agar tak membuat Sakura sedih. Padahal sebenarnya, cukup berat bagi Tomoyo ditinggal Sakura.
"Maaf, tidak bisa." Jawab Sakura tiba-tiba.
"EH?"
"Aku akan memberi kabar tiap bulan ke Jepang, tapi aku tidak akan memberitahu letak rumah sakit baruku. Kalian tidak boleh datang menjenguk." Lanjut Sakura. Kepalanya masih tertunduk.
"EEH? Memangnya kenapa?" tanya Mokona.
"Ini semua demi pengobatan ku. Maaf. Aku minta maaf. Tapi aku tak ingin kalian menemuiku sampai aku benar-benar sembuh!" Sakura mengangkat wajahnya. Air mata mengalir dari sepasang mata hijaunya yang cantik.
"Peluang keberhasilan operasi itu kecil. Tak ada jaminan bahwa aku akan sembuh dan pulih 100%. Tapi… aku ingin sembuh. Setelah sembuh, aku akan pulang kesini. Ke tempat kalian. Dan kita akan berjalan bersama-sama. Sampai saat itu tiba, aku ingin mencoba… untuk berusaha sendiri." Ucap Sakura lirih.
"Sakura-chan…." Fay, Kurogane, Mokona, dan Syaoran kehilangan kata-kata. Syaoran sendiri baru mendengar soal ini sekarang.
"Aku mengerti." Sahut Tomoyo tiba-tiba. Semua menoleh ke arahnya. Tomoyo tersenyum manis seperti biasanya.
"Kalau itu mau Sakura-chan, tidak apa-apa. Tidak bertemu berapa tahun pun tak masalah, asalkan Sakura-chan masih hidup. Sampai kapan pun, akan kutunggu kepulangan Sakura-chan yang sudah sehat." Ujarnya tulus. Sakura makin terisak di pelukan Tomoyo.
Sakura menjelaskan bahwa ia akan memberi kabar ke Jepang lewat Touya, kakaknya. Touya dan Yukito memang akan ikut Sakura ke Jerman nanti, tapi hanya sebentar. Untuk operasi, terapi dan pengobatan lainnya, Sakura akan ditemani Ayahnya, lalu Touya dan Yukito kembali ke Jepang. Entah surat, video atau apapun itu yang akan dikirim Sakura ke Touya, akan Touya berikan ke mereka.
"Bagaimana kalau kami yang ingin mengirim surat padamu, Sakura-chan?" tanya Fai.
"Berikan saja pada Yukito-san, nanti akan dikirimkan padaku." Jawab Sakura.
"Bikin repot saja sih." Desah Kurogane. "Ma-maaf.." Sakura menunduk menyesal. Kurogane melirik, lalu menghela napas pendek. "Kalau sudah bikin repot begini, nanti kau harus pulang dalam keadaan selamat dan sehat lho!" katanya.
Sakura mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, wajahnya tersipu. Lalu dia tersenyum lebar dan berkata, "Baik!" dengan semangat.
"Aih Kuro-sama baik banget sih~" goda Mokona. "Sisinya yang seperti itulah yang membuat dia menggemaskan ya!" sambar Fay. Langsung disambut geraman dari Kurogane.
Suasana di rumah sakit kota, di kamar rawat 108 hari itu ramai. Sakura terus-terusan tertawa dan bersenang-senang. Mereka membuat video kenang-kenangan andai nanti rindu. Mereka tahu, waktu kebersamaan mereka tinggal sebentar. Karena itu, tiap detiknya jadi sangat berharga.
Hari terus berjalan. Saat-saat keberangkatan Sakura ke Jerman semakin dekat. Setiap hari Sakura lalui dengan senyum. Dia tak mau terlihat sedih. Dia memang tak ingin bersedih.
xXxXxXxXxXx
Sore hari, sehari sebelum keberangkatan…
"Yak, selesai!" Suster Kusanagi menutup tas ransel kecil bersayap yang manis. Dia sedang membantu Sakura mengepaki barangnya.
"Terima kasih Kusanagi-san, anda selalu membantuku. Maaf, aku jadi anak yang merepotkan selama ini." Sakura menunduk dalam-dalam pada Suster Kusanagi.
"E-eh? Sakura? Tak usah seformal itu lah!" sahut Kusanagi gugup.
"Tapi itu memang benar. Selama ini Suster Kusanagi memperhatikanku, membantuku dan merawatku. Aku sudah tidak punya ibu, dan juga tak punya kakak perempuan. Bagiku, Suster Kusanagi seperti Ibu dan Kakak." Sambung Sakura, sambil tersenyum manis. Suster Kusanagi jadi salah tingkah.
Kusanagi mendesah pelan, lalu tersenyum. "Kalau Sakura merasa berutang budi padaku, berjanjilah Sakura akan berjuang di Jerman. Pulanglah… dengan selamat." Katanya lembut. Sakura mengangguk mengerti.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Ternyata yang datang adalah Syaoran. Suster Kusanagi langsung meninggalkan mereka berdua.
"Syaoran? Ada apa kesini?" tanya Sakura.
"Video yang waktu itu kita rekam sudah jadi, ini kubawakan untuk Sakura. Aku juga sudah memberikan kopiannya ke yang lain." Jawab Syaoran, sembari menyerahkan sebuah CD dalam cover warna merah muda lembut.
Sakura menerimanya dengan senyum ceria. "Wah sudah jadi! Terima kasih, Syaoran!" ujarnya. Syaoran tersenyum melihat senyum Sakura, seperti biasanya.
"Sudah selesai mengepaki barang?" tanya Syaoran, sambil melihat sekeliling. Kamar Sakura yang tadinya lebih penuh dari kamar rawat pasien biasa, kini jadi kosong melompong.
"Ya, aku baru saja selesai mengepaki tadi. Ah tentu saja, CD ini tidak boleh ketinggalan. Fufu." Sakura menciumi CD yang tadi diberi Syaoran.
Tiba-tiba tangan Sakura ditarik, lalu Sakura didekap erat oleh Syaoran. Meski kaget, Sakura tidak bereaksi banyak. Dia membalas pelukan Syaoran yang kuat dan hangat itu.
Sunyi. Keduanya saling membisu, tapi sebenarnya perasaan mereka sudah tersampaikan satu sama lain. Tanpa kata-kata apapun yang meluncur keluar dari mulut keduanya.
xXxXxXxXxXx
Akhirnya, hari keberangkatan Sakura tiba. Sakura tidak lagi memakai piyama rumah sakitnya. Sekarang dia memakai dress one piece warna merah muda selutut, dan cardigan rajutan warna putih yang manis. Di bagian dada cardigan-nya, disematkan bros buatan Fay dan Mokona. Sakura juga memakai topi putih buatan Tomoyo.
Hari itu, Sakura terus tersenyum. Dia kelihatan tegar dan ceria. Wajahnya memang sedikit pucat, rambutnya terus rontok dan dia sering batuk darah, tapi sorot matanya yang tajam dan tegas menggambarkan semangatnya.
Syaoran, Tomoyo, Fay, Kurogane dan Mokona mengantar kepergian Sakura di bandara. Mereka tak banyak bicara, hanya basa-basi sekilas, karena tak tahu apa yang harus dibicarakan… dan bisa dibicarakan.
Setelah mengobrol cukup lama, Fay tersenyum. Menghela napas pendek, lalu mengelus kepala Sakura.
"Maaf ya Sakura-chan, kami tak bisa berbuat banyak untukmu." Katanya.
"Apanya! Kalian sudah menemaniku… menjagaku, merawatku dan terus menghiburku saat aku kesepian…" Sakura mencibir. Fay terkekeh.
"Yah, hanya itu yang bisa kami lakukan untuk Sakura-chan." Kata Fay lagi.
"Mulai sekarang, kami tak bisa menemani, menjaga, merawat ataupun menghiburmu lagi dari dekat. Karena itulah, jangan sampai kau 'jatuh'. Kembalilah… dengan selamat dan sehat." Ujar Kurogane. Seulas senyum tersungging di wajahnya.
Sakura terpana sesaat, lalu mengangguk.
"Sakuraaaaaa…" Mokona memeluk Sakura sambil menahan tangis. "Sakura.. baik-baik ya di Jerman nanti. Mokona ingin sekali bermain bersama Sakura. Cepatlah pulang ya." Katanya. Sakura tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala Mokona.
"Terima kasih atas segalanya." Sakura tersenyum, lalu membungkuk dalam-dalam pada orang-orang di hadapannya. Orang-orang yang dikasihinya. Orang-orang yang terus mendukungnya. Mereka adalah sahabat-sahabat yang dia anggap sebagai keluarga.
"Aku… akan berjuang! Tunggu aku pulang. Ya?" kata Sakura, setelah mengangkat kembali wajahnya. Mereka semua tersenyum. Mereka tidak menjawab, hanya tersenyum. Tapi Sakura mengerti apa artinya.
Tomoyo mendekat dan memeluk Sakura erat. Lalu Fay dan Mokona menarik Kurogane dan Syaoran untuk berpelukan bersama. Awalnya terlihat aneh dan lucu, mereka tertawa bersama. Tapi kemudian, pelukan itu semakin erat dan erat.
Akhirnya…
Pelukan itu pun dilepas. Melepas genggaman tangan satu sama lain terasa begitu berat dan lambat. Tapi, kecuali Mokona, tidak ada satupun yang menangis. Setitik air mata pun tidak. Karena mereka yakin, akan bertemu lagi.
"Aku berangkat."
Sakura, kami semua mendukungmu. Berjuanglah. Pulanglah dengan selamat dan sehat. Kami semua menunggumu.
To be continued…
A/N:
baa~ halo halo~ authoryangseringtelatupdate muncul lagi :9 *bah
ano neee, maaf ya kalau ceritanya jadi ngebosenin, dan kesannya manjang2in. ga ada niat begitu, serius. tadinya mau kutamatin di chappie 10 ini, tapi takutnya jadi kepanjangan nanti. akhirnya aku gantung disini. gpp ya? ya? yaaaaaaaaaaaaa? *dzigh
sekali lagi, maaf kalau chappie ini tidak memuaskan m(_ _)m
thanks for reading, and I'm waiting for your review! eh chotto.. reader-tachi (?) mau ending kayak gmn? happy ending? sad ending? gantung-ending (?)? uhfu~ silakan berpendapat di review ya xP
Love,
authoryangmerasakurangmampu, AkaHime13
