Title : MISSING YOU

Author : Sulis Kim

M,cast: Kim Jaejoong

Jung Yunho

Hankyung

Kim Heechul

Rate : T~M

Genre : Scool, Family, Romance.

WARNING

GS for uke,jika tidak suka jangan di baca. Author cinta damai. NO bash. Ini cerita milik saya sendiri, jika ada kesamaan cerita atau lainya. Mungkin kebetunan. Karena cerita yang saya buat memang pasaran.

Menerima masukan yang membangun.

Happy reading...!

Yunho tergagap ketika ia menjawab." Kami bertemu dijalan... dan.. dan kebetulan aku melihat Jaejoong, dan kami belum makan malam...jadi aku mengajaknya kesini."

Sesuatu seakan mencubit perut Jaejoong mendengar jawaban Yunho. Bukan, bukan itu yang ingin ia dengar dari jawaban namja itu.

Ia menggeleng lemah, apa yang ia pikirkan sehingga ia berharap Yunho itu mengatakan jawaban lain. Bodoh, apa yang ia harapkan dari namja itu.

"Benarkah?" Siwon menyipitkan mata menyelidik. "Sejak kapan kalian akur, seingatku terakhir kali kalian terlihat bersama seperti Jerry.?"

" Kau menyamakan aku dengan kucing?"

Siwon meringis. "Itu hanya perumpamaan, Dude,"

"Dan, kenapa aku harus menjawab pertanyaan konyolmu itu." bentak Yunho kehilangan kendali diri. " Apakah aku harus melapor padamu jika aku ingin mengajak seseorang makan malam."

"Tidak." jawab Changmin dan Siwon serempak. Mereka tidak akan melemparkan diri sebagai umpan kemarahan Yunho. Meskipun saat ini Yunho sudah terlihat marah.

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan tentang kejadian makan malam yang Jaejoong alami. Yeoja itu menyentuh keningnya, memijit lembut pangkat hidungnya. Sisa waktu makan malam mereka di habiskan dengan keributan yang tidak bisa Jaejoong ungkapkan.

Oh, apa yang ia harapkan dan ingin ia dengar dari Yunho. Jelas jelas namja itu tidak menginginkan sesuatu darinya, bukan? Sungguh! Jauh di dalam hatinya, Jaejoong ingin mendengar jawaban lainya, dan apapun jawaban itu Jaejoong sendiri tidak tahu apa yang ingin ia dengar.

Terdengar suara Hankyung dari luar pintu. "Jongie apa kau sudah tidur, sayang?"

"Belum Oppa, masuklah."

Hankyung membuka pintu dengan pelan, dan menutup pintu di belakangnya. namja itu sudah berganti celana tidur namun masih memakai kaos biasa.

" Paman Doojin mengatakan kepadaku kau menghubunginya dan memintanya menjemputmu di rumah lamamu, apa hari ini kau sudah mengundurkan diri dari restoran tempatmu bekerja?" Hankyung duduk di samping Jaejoong di atas ranjang.

Jaejoong mengangguk lemah." Heem, aku tidak membutuhkan supir pribadi, aku bisa naik sepeda seandainya aku ingin keluar. Oppa tidak harus memperkerjakan seorang sopir untukku." Jaejoong beringsut kearah kakaknya dan merebahkan kepala di pundak Hankyung. Mencari kenyamanan lebih yang bisa menenangkan kegelisahan hati yang tiba tiba ia rasakan.

" Aku akan lebih tenang jika ada yang menjagamu, Paman Doojin baru berumur tiga puluh lima , dia bisa menjadi supir sekaligus body guart. Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi sore ini?"

Desahan nafas kasar Jaejoong terdengar cukup keras, namun ia menggeleng lemah. "Tidak ada, hanya aku selalu berharap bisa seperti ini dengan oppa."

Suasana hening , Hankyung mengangkat tangan dan memeluk pundak Jaejoong. "Sekarang, besok, lusa dan kapanpun kau membutuhkanku aku selalu ada untukmu." lirihnya, Hankyung mendaratkan ciuman di puncak kepala Jaejoong.

"Apa kau menyukai kamar ini, aku mendisainya sendiri untukmu."

Jaejoong menegakkan kepalanya. "Benarkah?"

"Hm... Dengan warna soft pink kesukaanmu dan juga semua aksesoris kucing berpita serta hewan raksasa dengan belalai, aneh dan menurutmu lucu." Hankyung memberenggut jijik mengingat hewan abu abu raksasa kesukaan adiknya itu.

Jaejoong tertawa. "Hello kitty dan gajah memang lucu," ia memeluk Hankyung. " Terimakasih, untuk kamar ini, semuanya. "

"Sebenarnya..." Hankyung terdiam, menjauhkan Jaejoong agar ia bisa menatap mata kucing bulat adiknya. " DI China aku juga menyiapkan kamar untukmu, masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah, hanya ranjangnya sepertinya hatus di ganti." ia tersenyum dan menambahkan. "Ku pikir kau tidak akam ranjang lamamu."

Ada kepedihan dimata Hankyung meskipun ia tersenyum dan Jaejoong melihat itu.

" Sejak kami kehilanganmu, Papa selalu mencarimu tanpa lelah, menyewa detective tapi kami tidak mendapat petunjuk apapun tentangmu. sampai nafas terakhirnya, Papa berharap bisa melihatmu untuk terakhir kalinya. Kami pindah ke Korea juga dengan alasan yang sama, ingin mencarimu tapi aku pindah kesini dan menetap disini sejak beberapa tahun lalu sampai aku cukup umur untuk menangani bisnis disini." Hankyung mengusap air mata di pipi Jaejoong.

"Kamar ini sudah ku buat sejak rumah ini di bangun dan kamar kita memang berhadapan, seperti kamar kita di China, kuharap kau menyukainya."

Jaejoong memeluk hankyung erat erat menyembunyikan wajahnya di dada bidang kakaknya, kehangatan yang selalu ia impikan, ia menghirup wangi tubuh kakaknya. "Oh, oppa aku mencarimu , selalu mencarimu, sejak aku tahu kau tinggal di Seoul aku berusaha masuk kedalam kehidupanmu hanya untuk bisa melihatmu," ucapnya di suaranya yang mulai berhetar, " hanya dengan melihatmu, melihat kau dari kejauhan berada di dalam mobil sudah cukup bagiku, aku pikir kau masih membenciku. Dan aku berusaha keras agar mendapatkan beasiswa di Shinki hanya agar bisa melihatmu setiap hari."

Hankyung merasakan sesuatu yang basah mengalir dari sudut matanya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran satu satunya saudaranya, betapa bodoh dirinya, mengabaikan sesuatu seperti kontak batin sejak pertama kali ia masuk ke sekolah Shinki. Kemungkinan saat itulah Jaejoong melihatnya dari manapun adiknya itu bersembunyi.

"Bodoh!" Tangan besar nan hangat Hankyung mengusap punggung kecil adiknya." mengapa kau tidak menyapa ku, aku tidak berani memasang iklan pencarian, kami takut penculik itu menyakitimu, kami takut membahayakanmu jika mereka tahu kau masih hidup , dan para detectiv mengatakan kau sudah meninggal aku sudah kehilangan harapan sejak dua belas tahun lalu. Pelabuhan itu ternakar hanis dan sangat sulit menemukanmu, ataupun mayat balita kecil di antara semua kapal di dermaga," ia menjauhkan Jaejoong dan mengusap wajahnya yang basah.

"Sampai aku melihatmu berdiri di hadapanku dengan wajah penuh tepung dan aku tak mengenalimu, namun ketika kau menatapku aku menganalimu, dan kau satu satunya adikku yang paling nakal." ia mencolek ujung hidung Jaejoong dengan jari telunjuknya.

Jaejoong kembali menangis histeris dam memeluk Hankyung. Oh betapa ia sangat bahagia saat ini bisa mememeluk kakaknya. Tidak sia sia selama ini ia mengikuti apapun kegiatan Hankyung sejak kakaknya itu pindah hidup di korea.

Jaejoong masih ingat, pertama kali ia melihat sang kakak keluar dari mobil menuju gerbang Shinki 2th lalu, ia berdiri di bawah pohon besar tidak jauh dari Hankyung. Perasaan itu, ia tidak akan lupa. Namja kecil bermata dambi itu telah tumbuh dewasa dan begitu tampan.

Setelah cukup lama hening dan isakan Jaejoong tinggal suara nafas lembut di pundak Hankyung. Namja itu berkata. "Katakan padaku apa yang terjadi malam ini, Siwon mengirimku email dan histeris kalau dia melihat Yunho membawa seorang yeoja makan malam di tempat kami biasa bersantai." Jaejoong memberontak ingin lepas namun Hankyung semakin memeluknya erat.

Ia yakin adiknya akan marah, mungkin juga malu. "Jadi, kalian..." Hankyung menunggu sengaja memberi jeda.

" Tidak, apapun yang ada di dalam pikiran kalian semua salah."Nafas hangat Jaejoong menerpa pundak Hankyung. "Seperti yang namja brengsek itu katakan, kami bertemu di jalan dan ..."

"Namja brengsek,,,,? Jung Yunho?" Alis Hankyung terangkat.

"Siapa lagi kalau bukan Jung sialan itu!" teriak Jaejoong, mendorong tubuh kakaknya menjauh, Hankyung masih memeluknya erat dan ia mengigit leher kakaknya sampai Hankyung melepaskan.

Teriakan Hankyung menggema di kamar luas itu, Darah mengalir dari bekas gigitan yang ia kira ringan. Memang darah itu tidak banyak, namun cukup membuat Jaejoong terkejut.

"Ya, Tuhan.!" Jaejoong histeris. "Oppa aku tidak sengaja." ia meraih tisue dan menyeka darah dari leher kakaknya.

Hankyung menahan tangan Jaejoong. "Aku harus mengambil obat untukmu atau kau akan ..."

"Jaejongie." Jaejoong terdiam ketika Hankyung menariknya kembali duduk di ranjang. "Ini hanya luka kecil, katakan kepadaku kenapa kau marah?"

"Aku,,,, marah? Yang benar saja."

Kedua mata hitam Jaejoong tidak menatap Hankyung, ia menatap apa saja asal tidak menatap wajah kakaknya.

"Ya, apa kau marah padaku?"

"Tidak, "bantahnya dan mengumpat ketika Hankyung menaikkan sebelah alisnya, ia menambahkan," Baiklah aku marah pada Yunho... Puas!"

"Kenapa?"

"Kenapa?"

"Kenapa, kau marah pada Yunho? Harus ada sebab untuk membuat seseorang marah, bukan?"

Jaejoong menunduk, ia juga bertanya seperti itu pada dirinya sendiri, tapi tidak menemukan jawabanya. "Karena dia pria menyebalkan yang pernah aku kenal, kau lihat dia begitu sombong. Oppa melihatnya sendiri, Sejak aku masuk ke sekolah Shinki."

"Maka dari itu aku mengusulkan agar aku mengumumkan pada pers kalau kau adikku yang hilang, kita tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini lebih lama lagi, kau tahu itu bukan? keluarga kita sejak dulu tidak jauh dari pers, dan jika sesuatu terjadi padamu ..."

"Tidak lagi, aku janji! "

Hankyung terdiam menatap lurus kedalam mata Jaejoong. Mata itu masih tetap sama, hitam kelam dan menyesatkan Hankyung dalam ketenangan .

" Aku bukan lagi Kim... Han Jaejoong yang berumur empat tahun, aku bisa bela diri," Jaejoong terdiam melihat wajah tenang kakaknya. "Oh, Oppa berhenti bersikap menyebalkan seperti itu, jangan menatapku dengan wajah dinginmu, aku bisa jaga diri aku janji."

Ketika Hankyung masih diam Jaejoong frustasi setengah mati. "Baiklah kau menang, jika sesuatu terjadi terhadapku kau bisa mengumumkan siapa aku sebenarnya ..."

"Untuk menunggu saat itu, semuanya sudah terlambat."

Oh, sialan! Jaejoong benci tatapan tajam kakaknya , ia tidak akan pernah menang melawanya.

"Baiklah, kita akan mengumumkan semuanya tapi setelah kau lulus, dan untuk saat itu masih setengah tahun lagi, dan ketika tidak ada yang menjagaku lagi, semua orang sudah mengenalku dan mereka tidak akan menyakitiku."

Hankyung tersenyum mendengar usul Jaejoong ,"Aku tidak akan menambah daftar alasan atau apapun yang lebih panjang, lagi pula beasiswa itu bisa diberikan kepada anak lain yang membutuhkan."

"Aku tidak pernah memikirkanya." Jaejoomg mendelik. "Benar kata oppa masih banyak anak lain yang membutuhkan beasiswa ini."

"Syukurlah jika kau tahu."

.

.

.

Yunho diam di tempat duduknya walau jam pelajaran telah usai. Biasanya ia akan ke kantin untuk makan siang atau ke lapangan bermain basket bersama teman temanya,akan tetapi ia tidak berminat melakukan itu hari ini.

Semalam ia kurang tidur memikirkan Jaejoong, sudah seminggu ia tidak berbicara pada gadis itu, tepatnya menghidari Jaejoong sebisa mungkin.

Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan jika berpapasan secara tidak langsung di suatu koridor maupun taman saat Jaejoong ada disana.

Entah mengapa ia menghindar, ia sendiri tidak memahami perasaanya yang mengganjal di hatinya untuk gadis itu. Ia merindukan Jaejoong tentu saja, akan tetapi sesuatu yang dilihatnya telah menghancurkan perasaan yang mulai tumbuh untuk gadis itu

Ya, perasaan sayang yang bertunas di hatinya pupus saat ia melihat Jaejoong masuk kedalam mobil laborgini hitam pada malam ia mengantar Jaejoong pulang ke rumahnya seminggu lalu.

Awalnya ia memaklumi sikap malu dan keras kepala gadis itu ketika mengatakan "Apa kau ingin membuat seluruh tetanggaku beranggapan aku yeoja gampangan, pulang tengah malam di antar namja dengan mobil Sport keluaran terbaru tahun ini?" sehingga ia menuruti keinginan gadis itu dengan menurunkan Jaejoong di pinggiran toko, berjarak seratus meter sebelum gang rumahnya.

Jaejoong masih harus berjalan dua blok dan satu belokan di gang kecil untuk sampai di rumah, ketika gadis itu turun dan Yunho diam diam menghawatirkanya. Bagaimanapun juga Jaejoong seorang gadis, dan di gang gang gelap siapapun tidak ada yang tahu ada apa disana, meskipun Jaejoong sudah terbiasa di lingkunganya sendiri bukan berarti itu tidak berbahaya. Tapi tidak dengan Yunho, ia menghawatirkan gadis itu.

Menuruti kata hati , Yunho mengikuti Jaejoong diam diam di belakang. Dan ketika gadis terus berjalan melewati gang rumahnya, Yunho mempercepat langkah, Tepat ditikungan berikutnya menuju jalan yang lebih besar, ia melihat Jaejoong berdiri di samping mobil laborgini hitam, seorang pria berjas rapi keluar dari mobil itu, pria itu cukup menarik, setidaknya tidak jelek. Pria itu berlari untuk membuka pintu sisi lain mobil untuk Jaejoong.

Ketika mobil melaju Yunho sudah berlari namun terlambat. Tidak,apa yang dilakukan gadis itu dengan pria itu, tidak mungkin jaejoong menjalin hubungan dengan pria yang dua kali lebih tua dari umurnya, bukan?

Yunho menutup mata berusaha menghilangkan bayangan Jaejoong yang tersenyum untuk laki laki itu. Ia menyapukan jarinya di rambut hitam kelamnya.

Oh, sial, selama ini ia salah menilai Jaejoong. Gadis yang dikiranya pendiam keras kepala dan menawan ...ya Jaejoong memang cantik sangat cantik, dan mulai menunjukkan setiap lekukan tubuhnya. Namun ia salah menilai tingkah lakunya. Mungkin saja gadis itu sudah lelah hidup kekurangan, itu sebabnya ia menjual diri.

Brak.

Yunho memukul meja dengan kepalan tangan. Ia tidak bisa membayangkan Jaejoong melempar diri ke ranjang pria hidung belang atau pria yang sudah beristri hanya demi beberapa lembar won. Ia tidak bisa membayangkan Jaejoong menelanjangi dirinya sendiri untuk pria itu, jika gadia itu membutuhkan uang mengapa Jaejoong tidak mengatakan hal itu kepadanya, paling tidak Yunho tidak akan meniduri gadis itu meskipun Yunho akan tergoda jika Jaejoong menawarkan... Mungkin hanya sebuah ciuman, ciuman panjang yang memabukkan dan ...

Sial! Apa yang ia pikirkan di saat genting seperti itu.

Yunho menunggu Jaejoong, terus menunggu, Jaejoong tidak kembali, gadis itu tidak kembali. Hatinya seakan di tikam belati ketika sampai fajar Jaejoong belum juga kembali. Yunho langsung melajukan mobilnya tanpa pikir panjang ke sekolahan ketika jam pelajaran sudah akan di mulai. Mengabaikan teman temanya yang memanggilnya ia terus berjalan dengan langkah lebar menuju kelas Jaejoong.

Ketika ia berdiri di depan kelas Jaejoong, Ia disana, gadis itu duduk di kursinya dan tertawa lepas ketika sahabatnya Junsu menggodanya.

Brak...

Seluruh murit yang berada di dalam kelas ekslusif menatap Yunho kaget. Meja kokoh yang terbuat dari kayu berkualitas itu terongok di lantai akibat tendanganya.

"Yunho." Heechul berdiri dari tempat duduknya.

"Waeyo, Yunho?" Hankyung yang berdiri di depan papan tulis bertanya.

"Dude, ada apa denganmu...?"

Yoochun mendekatinya. " seminggu ini kami tidak melihatmu selain di sekolah. Bahkan kau tidak di rumah maupun di klup... Yakh ...Yunho kau mau kemana?"

Yoochun berlari mengikuti namja itu keluar beserta tas punggung yang di sampirkan asal di lenganya. Yunho menabrak Siwon ketika mereka berpapasan di koridor.

Mata setajam musang Yunho menatap Siwon tajam, dan tanpa berkata apa apa dia masuk ke lift menuju ke lantai dasar.

"Mwo... apa yang terjadi dengan anak itu." Yoochun berhenti di samping Siwon di susul Changmin. Dan beberapa anak ekslusif menintip dari jendela kelas.

Siwon mengedikkan bahu."Tidak tahu, sejak seminggu yang lalu dia seperti itu, tepatnya ketika kita tidak sengaja menghancurkan kencanya dengan Jaejoong."

"Jangan katakan Yunho marah karena hal itu?" Yoochun menggeram. "Tidak mirip dirinya sama sekali."

"Tidak tidak..."Sahut Changmin. "Ada masalah lain yang tidak kita ketahui," ia menyipitkan mata menyelidik.

Siwon berdecak. " Kau Shim, berhutang sepuluh won dan kau belum mengembalikanya."

"Sejak kapan kau berubah pelit, Hyung. Hanya sepuluh ribu..."

" Sepuluh ribu entah yang keberapa, kalau kau lupa." Siwon memotong.

"Aku harus mencari tahu." Yoochun berkata lirih.

Changmin mendelik. "Jangan katakan kau juga menghitung uang jajanmu yang ku habiskan, aku hanya berbaik hati dengan membantu kalian menghabiskanya. Karena uang jajanku habis lebih cepat dari kalian. Dasar pelit." katanya sarkartis. "Ya Tuhan, kenapa aku memiliki teman teman kaya tapi pelit seperti kalian." ucapnya dengan nada teraniyaya.

Siwon dan Yoochun memutar bola mata. Dasar anak satu ini?

"Kau akan kehilangan uang jajanmu lebih dari setahun kalau kami menghitung jumlahnya." ucap Siwon.

" Kami akan melupakanya jika kau membantu kami mencari tahu apa yang terjadi dengan Yunho. "Yoochun melemparkan lenganya di bahu Changmin. "Kau terlalu cerdas untuk menolaknya, bukan?"

" Dasar bodoh, kalian tidak lihat Yunho Hyung sedang patah hati..."

"Patah hati." seru Yoochun Siwon serempak. Changmin mengangguk malas. Menggeleng gelengkan kepala heboh. "Apa kalian tidak lihat, Yunho Hyung selalu melamun dan menghindari kita dan terutama ..." Changmin menyuruh mereka mendekat seakan ia akan mengatakan sebuah rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapapun. " Kim Jaejoong."

"Gadis itu tidak menyukai Yunho."

"Tidak, Jaejoong tidak suka orang kaya."

"Bagaimana kau bisa tahu, bahwa Jaejoong tidak menyukai orang kaya ,?"

"Junsu yang mengatakanya,,,"ketika Mereka berdua menatap penasaran Yoochun menambahkan. " Sebenarnya ia mempunyai masa lalu yang tidak seorangpun tahu, itu alasanya , dan Junsu tidak mengatakan apapun lagi."

"Kita akan mencari tahu."

"Kau, nak. Bukan kami." Kata Siwon.

"Jangan lupa hutang hutangmu yang lain." sahut Yoochun. "Aku harus makan siang dengan Junsu atau dia akan marah jika aku tidak mencarinya."

"Aku ikut, aku butuh tenaga untuk menjalankan tugasku, dan ngomong ngomong bisakah kau meminjamkan aku...

"Tidak lagi." bentak Yoochun

"Aku belum mengatakanya bagaiamana kau tahu apa yang akan aku butuhkan." Changmin memprotes terua mengikuti Yoochun masuk ke lift, menuju kantin tentunya.

.

.

Jaejoong baru saja membuka lembaran halaman baru buku sastra ketika seseorang berdiri di hadapanya. Seragam kelas esklusif, ia tersenyum dan mendongak.

Yunho berdiri disama dengan tatapan tajam yang menakutkan. Senyum Jaejoong menghilang di ganti keryitan samar di keningnya. Dasi namja itu berantakan dengan kancing baju yang terbuka dan rambur acak acakan yang menambah ketampanan pria itu.

Jaejoong menggeleng samar, apa yang ia pikirkan. Genap seminggu sejak ia berbicara dengan Yunho, sejak saat itu Yunho seakan menjauhinya, tidak tahu mengapa.

Dan ia mengutuk dirinya sendiri, seharusnya ia bahagia ,bukan? Karena namja itu tidak mencari gara gara lagi denganya. Namun sungguh, ia merasa sedikit rindu,,, hanya sedikit tidak lebih.

"Aku pikir Hankyung oppa yang datang."

Yunho menaikan alisnya. Jadi selama ini Jaejoong mengincar Hankyung. Tangkapan yang bagus mengingat kelemahan Hankyung adalah gadis lemah, dan Jaejoong cukup hebat untuk memerankan permainan itu.

Yunho akui gadia itu memiliki otak cerdas dengan menggunakan kekuranganya dalam berpenampilan untuk mengelabuhi semua orang jika dirinya layak di kasihani dengan pakaian kumal...

Tunggu. Gadis itu tidak lagi memakai seragam kusut dan tas jeleknya. Jaejoong memakai seragam baru yang sangat pas di tubuhnya dan kenapa dada itu membesar dalam seminggu.

"Sial." Geram Yunho.

Jaejoong menggeryit heran. "Yunho Sunbae kalau kau tidak bisa tenang di perpustakaan, kau harus keluar."

"Persetan." suara Yunho bergitu keras sampai semua mata menatap ke arah mereka.

Sial! Yunho membayangkan tangan pria tua bangka itu meraba di bagian tubuh Jaejoong yang sensitif. Yunho menarik nafas dalam mencoba berpikir jernih. Seragam... Ya, seragam itu yang membuat dada Jaejoong membesar dalam seminggu, Yunho ingat selama ini Jaejoong menyembunyikan kemolekkan tubuhnya dengan seragam kebesaran yang sudah usang dan,,,, "Brengsek...untuk alasan apa kau mengubah penampilanmu."

Jaejoong mengerjap polos. Apa yang namja itu katakan?

Jaejoong berdiri, bunyi kursi bergeser ke belakan menggema di ruangan yang mendadak berubah sunyi setelah pria itu berkata dengan suaranya yang keras. "Yunho aku tidak punya waktu untuk meladeni namja sinting sepertimu, kalau kau tidak mau pergi," Jaejoong mengambil nafas untuk meredam kemarahan sekaligus rasa kagetnya. "Aku yang akan pergi."

Jaejoong mengitari meja dan berjalan melewati Yunho, langkahnya terhenti setelah mendengar bisikan Yunho. Tubuhnya menegang.

"Wanita jalang." Mata Yunho menatap langsung kedalam mata Jaejoong.

~TBC~

Untuk yang minta yosu moment maaf ini sudah and d wattpat gx bisa di ubah.

Dan maaf typo karena memang saya gx edit ulang.