Chapter 9
You and Aegya are mine!
All Cast © Tuhan dan Eomma Appanya
You and Aegya are mine! © FujoAoi
Rate : M-Preg
.
.
.
.
Di sinilah Xi Luhan sekarang berada, namja manis berkulit putih itu harus meninggalkan keluarganya demi kebahagian seseorang yang ia impikan untuk kembali bersamanya, ia harus tinggal di Jeju. Oh Sehun, namja dingin yang menantikan Luhan kembali ke pelukannya dan pelukan hangat anaknya, Oh Se Han. HunHan. M-Preg, typo kebanyakan. DLDR. Love EXO, Love HunHan!
.
.
.
.
Di sebuah rumah kecil di Seoul, tinggallah tiga orang yang saling mencintai satu sama lain. Sebuah keluarga kecil nan bahagia.
"Eomma!" suara cempreng khas anak kecil memecah keheningan di rumah sederhana dan asri itu. "Se Han-ah!"
Anak yang bernama Se Han itu belari menuju Eommanya dan memeluk Eommanya. Walaupun gendernya seorang namja, ia tidak minder ketika di panggil Eomma, karena dialah yang melahirkan manusia yang berada dalam pelukannya.
"Eomma, bogoshippoyo. Selama sekolah, Se Han selalu merindukan Eomma. Tadi juga, seonsangnim bercerita tentang Eommanya, aku semakin ingin bertemu denganmu,"
Luhan, namja yang di panggil Eomma itu tersenyum. "Jinjjayo?"
Krek…
"Se Han-ah! Kau meninggalkan appa?!" seorang namja kulit pucat datang sambil tergopoh-gopoh membawa tas kerjanya.
"Yeobo!" panggil Luhan.
Luhan membawa Sehun masuk. Se Han tertawa-tawa melihat appanya yang kelelahan mengejarnya di sepanjang perjalanan mendaki menuju rumah mereka.
Luhan mencium singkat bibir Sehun. "Selamat datang, yeobo! Ayo, aku sudah menyiapkan makan siang. Ayo Se Han! Makan!"
Sehun kemudian mengejar Se Han. Mereka berlari berkeliling sekitar rumah. Luhan ikut berlari bersama mereka. Akhirnya Luhan, Sehun dan Se Han yang kelelahan naik ke atas bangku besar di halaman yang telah mereka hias dengan cap tangan bercat warna-warni, hasil karya mereka.
"Lelah juga… Hh… Hh… Appa sih! Ngejar Se Han duluan!"
Sehun kemudian tersenyum dan memeluk anaknya dengan sayang. "Yeobo! Jadi kau lebih menyayangi Se Han daripada diriku?"
Sehun kemudian memeluk Luhan juga. Luhan memeluk pinggang suaminya. Mereka menengadah menatap langit yang mendung.
"Aku berharap, di kehidupan nyata kita yang dulu, kita bisa bersama seperti ini…" ujar Se Han dengan raut kesedihan.
"Benarkah? Eomma juga," ucap Luhan.
"Aku juga," kata Sehun tak mau kalah.
Mereka memejamkan mata bersamaan. Mereka diam. Tak bersuara, kecuali suara hati kecil mereka.
.
.
.
PIPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP
Semua orang menangis. Dirundung kesedihan dan perasaan bersalah yang amat besar.
"Luhan hyung! Luhan hyung! Huaaaaaa… Jebal! Dorawa! Jebal!"
Teriakan Tao semakin kencang mengalun di sebuah kamar rumah sakit. Beberapa alat medis mulai dilepaskan.
PIIIIIPPPPPP PIP PIP PIP PIP
"De-Denyut jantung pa-pasien… Cepat periksa!" perintah dokter pada semua perawat yang ada. Kris kemudian turut andil dalam memeriksa Luhan.
Luhan tak lama membuka matanya secara perlahan. Ia menatap kosong langit-langit kamarnya.
"Tuan Xi, apa kau bisa mendengarkanku?"
Diam. Hanya itu.
"Gerakkan tanganmu jika kau mendengarkanku!" perintah uisa.
Luhan melakukannya. Itu terjadi sangat singkat. "Apa kau ingin berbicara padaku? Gerakkan tanganmu sekali jika iya, dua kali jika tidak,"
Luhan menggerakkan tangannya dua kali. Semua orang menangis terharu dengan keadaan Luhan.
Brak…
"T-Tuan… Oh Sehun… Su-sudah tiada…" kata seorang pengawal dari keluarga Oh yang datang dengan berlari-lari.
"Oh Se Han juga… Dia meninggal beberapa saat yang lalu. Ta-Tapi, denyutnya kembali satu menit lalu. Sekarang dia sudah ditangani," ujar seorang perawat yang datang memberikan kabar juga.
Luhan yang mendengar kabar Sehun kemudian menangis. Ia takut, jika Sehun benar-benar meninggalkannya dan Se Han. Padahal, mereka baru saja merangkai impian bersama di alam kematian mereka yang sesaat.
Kring...
"Yeo-Yeoboseyo… Oh… MWO?! JINJJA?! A-AH… Ba-Baiklah!"
"Tu-Tuan Sehun sudah sadar kembali. Ia dalam perjalanan untuk di periksa kemari,"
Luhan akhirnya berhenti menangis. Ia tersenyum cerah mendengar kabar itu.
.
.
.
Seorang namja manis paruh baya datang sambil membawa keranjang buah di tangannya. Ia berada di koridor rumah sakit. Ia menuju sebuah ruang VVIP.
"Ahahaha… Appa! Jangan! Geli!" tawa renyah dengan suara cempreng khas anak-anak terdengar dari dalam. Namja manis itu tersenyum senang.
Ia menatap gagang pintu di depannya. Ia takut, ia menyentuh gagang itu sebentar. Tangannya bergetar. Badannya seolah mengecil dan menjadi rapuh.
Sebuah tangan hangat dan besar menggenggam tangannya yang kecil dan putih. "Tenang saja. Sudah hampir seminggu kejadian itu berlalu. Mereka pasti sudah memaafkan kita."
Dengan bantuan tangan kokoh dan kuat itu, seorang Sungmin mampu membuka pintu kamar rumah sakit itu. Semua orang di dalam kamar itu terdiam. Mereka sedang bercengkrama di atas kasur king size.
"Eo-Eomma datang, Sehun, Luhan. Halmeoni datang, Se Han,"
Air mata tak terbendung lagi di mata indah milik Oh Sungmin. Ia membalikkan badannya. Ia malu atas semua kelakuannya pada anak, menantu, serta cucunya. Ia merasa tak pantas berada satu ruangan dengan orang-orang yang telah ia sakiti hatinya.
Grep…
"Eomma mau kemana?" tanya Luhan dengan lembut.
Luhan membalikkan badan Sungmin. Sungmin dapat melihat bekas luka yang belum sempurna sembuh di pelipis dan wajah Luhan. Dan Sungmin dapat melihat secara jelas luka hati yang ia torehkan pada hati bersih menantunya.
Sungmin memeluk Luhan erat. Ia menangis di pundak Luhan.
"Mianhae… Mianhae… Luhan-ah… Se Han-ah… Mian…"
Se Han kemudian berjalan ke arah Sungmin, dia memeluk kaki Sungmin. "Gwaenchana Halmeoni. Halmeoni sudah ku maafkan kok…"
Hanya Sehun yang masih terdiam. Ia menatap Sungmin tajam. Ia bangkit dari tempat tidur dan pergi dari kamar rawatnya dengan Luhan dan Se Han.
Cklek…
Blam…
Sungmin menangis semakin deras. Kesalahannya yang tak dapat di maafkan. Berdampak pada anak semata wayangnya, Oh Sehun.
.
.
.
Sehun bertemu dengan Kyuhyun yang bersandar di dinding dekat lift.
"Sehun-ah…" panggil Kyuhyun pada anaknya. Sehun lewat tanpa melihat Kyuhyun sedikit pun. Ia menganggap Kyuhyun sebagai sebuah vas.
"Sehun-ah…" Kyuhyun mencoba mendekati Sehun. Sehun menghempaskan tangan Kyuhyun. "Aku tidak ingin tangan ini menyentuh aku lagi. Termasuk tangan istrimu yang berani-beraninya menyentuh anak dan istriku,"
Kyuhyun menggeram mendengar perkataan Sehun yang termasuk sangat kurang ajar. Bahkan seperti tidak di ajarkan sopan santun oleh dirinya dan Sungmin. "Sial!"
.
.
.
Luhan mengupaskan apel untuk Se Han yang sedang duduk menyandar pada Luhan. Apel itu dibawakan oleh Sungmin. Sungmin sendiri masih terdiam, ia belum berani untuk berbicara banyak.
Luhan memberikan Sungmin beberapa potong apel yang telah ia potong. Luhan juga belum berani untuk berbicara banyak dengan Sungmin.
"Ah…/Ah…" Luhan dan Sungmin tiba-tiba ingin berbicara bersamaan.
"Silahkan eomma," Luhan mempersilahkan Sungmin untuk berbicara.
Sungmin meneguk liurnya keras. Ia tiba-tiba merasakan bahwa tenggorokannya kering. "Be-Begini…"
Luhan menunggu perkataan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Sungmin. Se Han yang melihatnya hanya berpura-pura tidak tau.
"E-Eomma ingin meminta maaf. Padamu, Sehun dan Se Han. Eomma benar-benar menyesal…" suara Sungmin mulai semakin rendah. Lagi-lagi air mata mengalir ke sudut matanya.
"Eomma tau… Kau, Sehun, dan Se Han akan sulit memaafkanku. Ini keegoisanku… Maafkan aku Luhan…"
Luhan kemudian mulai angkat bicara. Ia tersenyum tulus. Hatinya sedikit lega ketika bersiap untuk bicara. "Na do…"
"Aku merasa aku yang salah. Aku yang tidak bisa mengontrol Sehun hingga sejauh ini. Aku juga bersalah tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk Eomma. Menantu yang dapat diandalkan, melakukan segala tugas yang di berikan mertua," Luhan menahan emosinya agar ia tidak turut menangis.
"Ani… Itu bukan salahmu," putus Sungmin. "Ini kesalahanku. Aku memberikanmu pilihan berat. Apa lagi aku menggunakan kata-kata kasar untuk Se Han. Aku salah selama ini…"
Sungmin langsung bersimpuh pada Luhan. "Maafkan eomma Luhan…"
Luhan kemudian membantu Sungmin untuk duduk kembali dengannya. "Biarlah ini semua berlalu Eomma…"
"Biarkan itu mencair seperti salju musim dingin. Menghilang."
.
.
.
Sehun kembali ke kamar inapnya, Se Han dan Luhan. Sehun tidak menyapa Se Han maupun Luhan. "Yeobo…" panggil Luhan.
Sehun terdiam. Ia menatap Luhan. "Wae?"
Luhan mendekati suaminya yang menjadi dingin. "Duduklah, aku ingin berbicara padamu,"
Sehun kemudian duduk di sofa bersama Luhan. Luhan menarik nafasnya dalam. Ia tau ini tidak akan mudah. Ia tau betapa sensitif dan keras kepalanya seorang Oh Sehun jika sudah menyangkut dirinya, Se Han dan hubungan mereka dengan orang tua Sehun.
"Eomma tadi kemari… Eomma ingin meminta maaf pada kita…"
"Lalu? Apa urusannya denganku?" tanya Sehun dengan sinis. "Sehun-ah…"
"Aku tidak mau memaafkannya,"
"SEHUN!" Kemarahan Luhan memuncak melihat tingkah Sehun yang seperti anak-anak itu.
Sehun bangkit dari duduknya, ia segera mencuci kaki dan wajahnya. Ia kemudian ikut tidur bersama Se Han. Se Han sudah terlelap tidur sedari tadi.
Tidak… Sehun tidak tidur. Ia masih memikirkan perkataan istri cantiknya tadi. Mungkinkah ia dapat memaafkan namja yang telah melahirkannya dan menyakiti hatinya dan keluarganya?
Luhan kemudian mengikuti Sehun. Ia tidur di samping Se Han. Hatinya bergelut, otaknya berpikir keras. Bagaimana cara menyatukan ibu dan anak ini?
'Aku harus bisa! Bagaimanapun caranya!' batin Luhan sambil bertekad. Ia kemudian tertidur.
.
.
.
Paginya, Luhan terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya perlahan. Sehari lagi ia harus keluar dari rumah sakit. Ia harus segera menyusun rencana penyatuan ibu dan anak yang ia sebut sebagai 'Pemersatu keluarga'.
"Eungh… Eungh… Eomma… Eomma…" Se Han meracau ketika ia mulai membuka matanya. Ia meregangkan tubuhnya perlahan.
Luhan kemudian menggendong Se Han. Ia mencuci wajahnya dan wajah Se Han. "Annyeong, Pahlawan Eomma," Se Han mengerjapkan matanya perlahan. "Annyeong…"
Luhan kemudian memberikan sikat gigi dan pasta gigi pada Se Han. "Eomma ingin mengajakmu ke taman. Ayo, sikat gigimu,"
Se Han tanpa ragu menyikat giginya dengan bersih. Begitu pula dengan Luhan. Ia menurunkan badan Se Han.
"Eomma… Kapan aku bisa punya adik? Bukannya Eomma dan Appa sudah merencanakannya?"
UHUK!
Luhan tersedak busa pasta giginya sendiri. "Eomma! Gwaenchana?" Luhan menganggukkan kepalanya dan segera berkumur kumur dengan air wastafel.
"Ne… Ne… Se Han-ah… Eomma hanya kaget… Hanya itu…"
Luhan berpikir ulang untuk memiliki anak lagi dari manusia mesum bernama Oh Sehun.
CTING!
Otak Luhan bekerja cepat untuk urusan memiliki anak lagi bukan?
.
.
.
Sehun terbangun. Ia mendengar suara dentingan tangkai sikat gigi dengan gelas di kamar mandi.
"Eomma… Kapan aku bisa punya adik? Bukannya Eomma dan Appa sudah merencanakannya?"
Sehun yang masih ngantuk akhirnya terbangun mendengar pertanyaan yang telontar dari mulut anaknya. Sehun menyeringai. Ia sudah lama tidak menyentuh tubuh istrinya yang amat putih, cantik…
SEKSI DAN MENGGODA.
Oh Luhan, terimalah serangan dari tuan Oh Sehun sebentar lagi.
.
.
.
Se Han dan Luhan memasang jaket mereka. Kemudian mereka memakai sendal mereka dan segera pergi dari kamar inap mereka, meninggalkan Sehun.
"Chakkamannayo!"
Luhan kemudian menoleh, melihat Sehun yang sudah siap dengan jaketnya juga. Luhan tidak memberikan tanggapan apa-apa melihat Sehun yang sudah siap dengan senyum yang berseri.
"Ayo, Se Han!" ajak Luhan.
Se Han dan Luhan kemudian pergi meninggalkan Sehun di belakang mereka. Sehun melihat perubahan sikap Luhan yang tiba-tiba. 'Tidak biasanya' pikir Sehun.
Luhan yang semula diam kemudian mulai bercerita pada Se Han. "Se Han-ah…"
"Ne, Eomma,"
Luhan menyunggingkan senyum di bibirnya. Ia mengenang semua masa kehamilannya. "Se Han tau… Eomma pernah hampir mencelakaimu ketika eomma mengandungmu…"
Se Han mangut-mangut mendengar pernyataan Luhan.
"Untung banyak orang yang menolong Eomma… Umin Ahjumma… Kyungsoo Ahjumma… dan…
Appamu…"
Luhan tersenyum senang mengingat Sehun yang memperhatikan dirinya dan Se Han saat itu. Ia juga ingat, bagaimana khawatirnya Sehun saat itu. Walaupun mereka melakukan hubungan satu malam, tapi, berkat adanya Se Han saat itu di dalam dirinya, ia bisa selamat dengan bantuan Sehun.
"Jadi, kau tidak boleh nakal dengan eomma, appa, dan semua ahjumma dan ahjusshi? Arrachi?"
"Arraseo!" kata Se Han.
"Dan…" kata Luhan. "Kalau eomma bersalah sama Se Han, Se Han tidak boleh tidak memaafkan eomma jika eomma minta maaf. Karena, Se Han akan membenci eomma karena itu." kata Luhan.
Luhan kemudian membalikkan tubuhnya. Ia melihat Sehun yang mengikutinya dari belakang. "Kau dengar itu? Jangan sampai memendam amarah! Aku tidak suka!" kata Luhan.
Se Han tertawa mendengar appanya dimarahi oleh eommanya. Se Han mencibir ke appanya. "YA! OH SE HAN!" kata Sehun. Ia kemudian mengejar Luhan dan Se Han.
Sehun menggendong Se Han dan memanggulnya seperti membawa beras. "Anak tidak sopan!" kata Sehun. Ia kemudian menggendong Se Han dengan satu tangannya.
Sehun memegang tangan Luhan, tapi Luhan menepisnya. "Aku tidak ingin bersentuhan dengan orang yang suka memendam dendam dengan bumonimnya!" kata Luhan. Luhan kemudian mengambil Se Han dari gendongan Sehun. Tapi, Sehun tidak memberikan Se Han kepada Luhan.
"Baiklah! Baiklah! Aku akan melakukannya. Kau aturkan saja jadwalku dengan mereka. Aku akan datang." Kata Sehun. Sehun kemudian menurunkan Se Han dari gendongannya. Ia kemudian mencoba untuk berbisik kepada Luhan.
"Tapi… Ada syaratnya!" kata Sehun dengan nada centil.
. . .
BRUKKKK!
"Ah… Appo!" kata Luhan.
Sehun melepas cardigan dan baju kausnya. Ia menyeringai mesum. Ia kemudian menghimpir tubuh Luhan. Ia mencium Luhan bertubi-tubi. Ia juga mencium dan menjelajahi wajah Luhan. Ia memegang bahu Luhan. Ia mencium bibir Luhan dengan ganas.
Ia menatap wajah manis Luhan. Ia tersenyum, sedangkan Luhan tersipu malu. Sehun menarik baju Luhan hingga robek tak berbentuk. Luhan menutupi dadanya dari pandangan Sehun. Sehun kemudian menarik celana Luhan turun. Beruntung Luhan tidak memakai celana dalamnya. Sehun kemudian mencium leher Luhan. Ia berusaha membuat tanda di leher Luhan sebanyak-banyaknya.
"Ah… Ah… Uh…" desah Luhan, ketika ia mendapat sensasi aneh dalam dirinya.
"Luhan-ah… Aku merindukanmu… Sudah berapa lama dua bagian bawah kita tidak bertemu, eoh?" tanya Sehun dengan bahasa yang sangat-err…
"Se-Sehunh… A-Aku… menyesal… memberikanmu ka-kata i-iya saat ituhh… Uh…"
Flashback
"Syaratnya, kita harus menghabiskan sebuah malam panas di sebuah hotel!" bisik Sehun.
"MWO?! MICHINGO ANIYA?!" teriak Luhan. Sehun terkekeh. "Terserah. Jika tidak, aku tidak akan melakukan apapun."
Luhan akhirnya menghela nafas panjang. Ia harus melakukan ini!
"Baiklah!" kata Luhan.
Setelah pulang dari rumah sakit, Luhan dipaksa Sehun untuk menitipkan Se Han kepada Kyungsoo dan Kai.
Luhan sebenarnya sudah merencanakan bahwa ia akan berpura-pura sakit saat tiba di rumah Kyungsoo. Tapi, Sehun ternyata sudah memiliki seperangkat tas berisi obat.
Luhan terpaksa pergi dengan Sehun.
End Of Flashback
Luhan akhirnya menyerah dibawah kungkungan Sehun. "Geurae! Pakai saja tubuh ini sesukamu! Aku sudah tidak peduli!" kata Luhan.
"Kau akan menyesalinya, Luhan…" kata Sehun dengan seringai mengerikannya.
"KYAAAAAAAAAAA…"
. . .
Several weeks later
Luhan masuk ke dalam salah satu restaurant mewah di Korea di saat makan malam. Se Han sudah ia titipkan di rumah Kyungsoo. Ia datang sendiri dan menuju meja resepsionis. "Meja keluarga Oh." Kata Luhan.
Resepsionis itu kemudian mencari nama keluarga Oh. Ia kemudian tersenyum setelah menemukan nama keluarga Oh. "Nyonya Oh Luhan? Benar?" tanya resepsionis itu. Luhan akhirnya tersenyum kikuk. 'Dia benar-benar menganggapku yeoja?!' batin Luhan.
"Silahkan Nyonya!" resepsionis itu kemudian mengantar Luhan ke meja yang telah ia pesan.
Luhan kemudian duduk menunggu kedatangan mertuanya dan Sehun. Ia memesan anggur kualitas terbaik di restaurant itu. Tetapi, ia meminta agar anggur itu tidak dibuka. Karena ia sudah menghindari untuk meminum anggur.
Luhan kemudian melihat sekitarnya sambil menunggu. Ia benar-benar kesal pada Sehun hari ini. Sehun benar-benar mengirimkan hal yang sangat-sangat merubah penampilan Luhan hari ini. Sehun mengirimkan wig berwarna senada dengan rambut Luhan, gaun hitam turtle neck tanpa lengan, dan coat berwarna putih dengan pita hitam di pinggangnya. Luhan juga dikirimi flat shoes berwarna putih mutiara.
Luhan awalnya menolak untuk menggunakan itu semua. Tapi, Sehun memaksa Luhan untuk memakainya malam ini. Luhan akhirnya menuruti perintah suami-nya itu. Ia tampak sangat cantik malam ini.
Luhan melihat mertuanya sedang mencari Luhan. Luhan kemudian melambai kepada mertuanya. Tetapi mereka tidak melihat Luhan. Luhan akhirnya memanggil seorang pelayan untuk membawa mertuanya ke meja yang sudah dia duduki.
Setelah melihat mertuanya mengarah ke meja yang sudah ia duduki, Luhan kemudian berdiri. Sungmin kemudian terkejut. "Lu-Luhan-ah? I-Ini benar Lu-Luhan?" tanya Sungmin.
Luhan kemudian tersenyum. Ia membungkukkan badannya. "Silahkan eommonim, abeonim!" ajak Luhan. Ucapan Luhan terkesan sangat formal.
Luhan menarikkan kursi untuk Sungmin. Setelah Sungmin duduk, Luhan akhirnya melihat Sehun yang baru saja masuk. Luhan kemudian melambaikan tangan pada Sehun. Sehun melihat istri cantiknya sedang memanggilnya agar ke sana. Sehun kemudian dengan langkah tegapnya datang ke sana.
Luhan tersenyum manis pada Sehun. Sehun kemudian tertawa, ia sangat senang melihat istrinya yang semakin cantik itu. Tak lama, Luhan melihat kepala Se Han menyembul dari pintu restaurant. Luhan cukup kaget. "O-Omo! Se-Se Han-nie…"
Luhan menuju pintu dengan setengah berlari. Sehun yang melihat istrinya berlari itu kemudian menoleh ke belakang. Ia baru sadar, bahwa ada si buah hatinya dengan Luhan. Sehun kemudian berjalan ke sana. Luhan menggendong Se Han. Se Han datang menggunakan jas yang pas dengan tubuhnya.
"Kenapa Se Han ada di sini?" tanya Luhan.
"Se Han tadi kabur dari rumah Kyungsoo ahjumma. Soalnya Se Han tidak ingin mengganggu Kyungsoo ahjumma dan Kai Ahjusshi membuat anak lagi. Se Han mengambil uang yang ada di dalam tas. Kemudian Se Han mencari taksi agar bisa sampai ke sini. "
Wajah Luhan memerah mendengar kata-kata yang blak-blakan itu terdenger dari mulut anak kecil seperti Se Han. Tapi, seperti berjiwa manusia dewasa.
Sehun kemudian datang sambil mengelus kepala Se Han. "Hai jagoan!" sapa Sehun.
"Appa!" kata Se Han. Ia kemudian meminta digendong oleh Sehun. Kaki Se Han yang bergerak-gerak, sempat menendang perut Luhan. Luhan merasa sakit, ia meringis. Sehun khawatir dengan raut wajah Luhan yang seperti itu.
"Lu-Lu? G-Gwaenchana?" tanya Sehun khawatir. Ia kemudian menurunkan Se Han.
Luhan menggeleng, ia tersenyum pada Sehun. "A-Ani. Nan gwaenchana!" kata Luhan. Sehun kemudian mengelus perut Luhan. Akhirnya Luhan merasa sakit pada perutnya sudah mulai mereda.
Luhan kemudian menggenggam tangan Se Han dan membawa Se Han duduk di meja mereka. Luhan meminta pelayan untuk membawakan kursi lagi untuk Se Han. Luhan kemudian menyuruh pelayan itu juga untuk membuka anggur untuk Sehun dan mertuanya.
Setelah anggur selesai di tuang, mereka kemudian membuka menu dan mencari makanan yang sesuai dengan selera masing-masing. Luhan memesan pasta. Setelah semua selesai memesan, Luhan kemudian membuka pembicaraan.
"Hm… Baiklah. Malam ini, adalah malam bersejarah bagi keluarga kecil kita. Kita akan menyatukan kembali ikatan kita yang merenggang." Kata Luhan.
"Sehun-ah…" kata Sungmin sambil memegang tangan Sehun. Air matanya perlahan keluar. "Mianhae… Eomma salah… Mian…" kata Sungmin.
"Sudahlah… Jangan menangis lagi Sungmin-nie…" bujuk Kyuhyun.
"Eomma sudah pernah menjelaskan alasannya padamu kan Sehun-ah?" kata Sungmin. "Karena, diluar sana banyak yang memiliki seribu wajah ketika berhadapan dengan namja. Mereka menipu. Mereka menyakiti namja seperti kita. Aku tidak ingin, cucuku dan kau akan sakit hati karena seorang yeoja yang mungkin membuat kalian kesepian karena meninggalkan kalian atau hanya mengambil harta keluarga kita." kata Sungmin lagi.
Sehun terdiam beberapa saat. Ia kemudian menggenggam erat tangan eommanya. "Ne. Arraseo. Sebenarnya, eomma ingin yang terbaik untukku. Aku mengerti."
"Maukah kau memaafkanku Sehun-ah?"
"Tentu…"
. . .
END
. . .
Luhan dan Sehun berjalan menuju parkiran. Se Han tertidur ketika ada adegan melodrama antara ibu dan anak di restaurant tadi. Se Han digendong oleh Sehun. Sehun memandangi tubuh molek dan cantik istrinya itu. Sehun kemudian merasa bahwa istrinya agak sedikit gemuk.
"Luhan-ah…"
"Ne? Wae?" tanya Luhan.
"Kau sedikit gemuk, aniya?" tanya Sehun balik. Luhan kemudian mendengus dan tertawa. "Ne. Kau benar!" kata Luhan.
"Aku juga merasa begitu. Entah kenapa, 'dia' semakin sering memintaku makan. Aku padahal sudah menahan-nahannya." Kata Luhan.
Sehun kemudian mengangguk. "Aku juga. Akhir-akhir ini aku semakin sering meminta makanan asam. Yogurth jeruk, strawberry, dan lainnya. Entah kenapa." Keluh Sehun.
"Tidak mungkin aku—Seolma!" kata Sehun dengan mata membulat. "Ka-Kau, ha-hamil cha-chagi-giya?"
Luhan mengangguk. Sehun kemudian segera berlari menuju mobilnya tanpa mengajak Luhan. Ia meletakkan Se Han di dalam mobil. Tak lama, ia menjemput Luhan. Ia menggendong Luhan dengan bridal style.
"O-Omo! Kyaaaa…" Luhan merasa angin malam menggelitiki paha mulusnya.
Sehun membawa Luhan ke dalam mobil. Ia kemudian membawa mobil menuju rumahnya dengan Luhan yang sekarang. Luhan melihat Sehun sangat serius. Padahal dia tadi bertanya sseperti orang kesetanan.
Setelah sampai di rumah. Sehun segera membawa Se Han menuju kamar tidurnya. Sehun kemudian menyusul Luhan. Ternyata Luhan sedang mengganti bajunya dan sudah melepas wignya. Rambut Luhan memang sedikit lebih panjang atas saran Sehun.
Sehun memeluk tubuh Luhan posesif. "Gomapta, Luhan-ah… Bagaimana keadaannya? Apa dia merasa hangat?" tanya Sehun.
Luhan mengendik tidak tau. Ia tersenyum pada Sehun. "Aku juga. Gomapta. Sudah hadir di hidupku. Menjadikannya hadir dalam diriku."
Sehun mengelus rambut halus Luhan. Ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Luhan. Bibir dua insan yang merajut cinta hingga akhir itu menenggelamkan mereka dalam lautan kebahagiaan.
. . .
COMPLETELY END
. . .
Kau, hadir dalam diriku
Mencairkan bongkahan es di dalam hatiku
Kau yang terlihat tuli dan bisu
Benar-benar seperti mawar dari hutan lebat
Tiba-tiba kau berubah menjadi bunga melati
Dengan sejuta pesona tersimpan rapi di dalamnya
Tiba ketika semuanya tersapu badai
Kau tetap menemukan diriku yang berbentuk setitik debu
Kau yang memberikan semua yang tak kuminta
Kau…
Adalah…
Milikku…
. . .
.
You And Aegya Are…
MINE!
.
. . .
Lee Na Eun – FujoAoi
1 Jan 2015
…
Buah ahahahahaha…
Akhirnya saya comeback dengan chapter terakhir FF ini._.
Maaf kalo telat-banget-banget-banget-banget. Saya terlanjur kehilangan feel HunHan sejak mami Luhan out dari EXO._.
Semoga semua EXO-L makin tabah #aminnnn.
Bagaimana? Kurang memuaskan bukan?
Sebagai pelepas dahaga, saya akan membuat satu chapter sequel. Bagaimana? Anda-anda sekalian sejutu? *eh? Setuju?*
Makasih ya… Buat yang udah baca FF ini dari chapter 1. Yang hatinya udah saya goncang dengan sekuat tenaga, tapi akhirnya gak memuaskan.
Untuk yang fav, follow, review, saya benar-benar terima kasih *bow 90 drajat*
Nggak ada yang ngemangatin saja selain kalian semua!
Wait for last chap!
Lee Na Eun – FujoAoi
