"Kau tahu, aku tak akan melepaskanmu begitu saja, Kakashi!" Seringai bengis terpampang di wajah Sasori.
"Tch!"
Naruto © Masashi Kishimoto
Kupu-Kupu Tak Berkepak © aya-na rifa'i
Sakura memandang langsung ke arah mata Sasuke yang kini menatapnya penuh dengan kepastian. Ia bimbang. Sebagian hatinya masih mengharapkan cinta Kakashi—suami yang lebih memilih pria kekasihnya ketimbang dirinya—tapi hati kecilnya begitu mendambakan sosok Sasuke sebagai kepala keluarga yang mungkin akan dibangunnya jika ia menerima lamaran pria dengan mata sekelam malam itu.
Sasuke yang memahami kegalauan Sakura pun tersenyum tipis. "Kau tak perlu menjawabnya sekarang jika hatimu belum siap."
Sakura menyentuh tulang pipi Sasuke dengan tatapan sendu. "Terima kasih... Sasuke-kun."
"Hn," kata Sasuke. Ia menarik tubuh Sakura dengan lembut ke dalam dekapannya.
.
.
Hatake Kakashi memandang dengan pilu foto pernikahannya dengan Sakura yang masih menghiasi dinding ruang tengah rumahnya. Kedua matanya menyiratkan perasaan rindu pada istrinya yang kini telah pergi meninggalkannya setelah insiden di kamar mereka. Sudah dua hari Sakura tak pulang ke rumah. Chiyo yang melihat pandangan Kakashi merasa iba pada pria yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri. Wanita berusia 60 tahun itu mendekati Kakashi, menepuk bahunya dengan penuh kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
"Kejarlah dia, Kakashi," nasehat Chiyo.
Kakashi memandang sendu kedua mata Chiyo yang kini menatapnya lembut. "Aku tidak bisa." Ia kembali menatap foto pernikahannya dengan Sakura. "Biarlah dia yang kembali jika memang pernikahan ini masih diinginkannya."
Chiyo menghela napasnya dengan berat. Ia paham jika ini kehidupan pribadi Kakashi, ia hanya tak ingin pria yang baginya adalah anaknya itu salah dalam menapaki bahtera rumah tangganya. "Sepenuhnya ku percayakan semuanya padamu, Kakashi. Tapi pertimbangkanlah, seorang wanita tidak akan kembali pada seorang pria yang tidak memintanya untuk kembali."
Kakashi hanya diam. Apa Sakura ingin kembali jika ia memintanya? Pertanyaan itu menggelitik nuraninya.
Seorang pelayan wanita di kediaman Kakashi datang menghampiri Chiyo dengan tergopoh-gopoh, ia membisikkan sesuatu yang membuat Chiyo sedikit terkejut. Dengan lembut Chiyo mempersilahkan pelayan itu kembali ke tempatnya. Ia segera menyampaikan pesan itu pada Kakashi.
"Kakashi, aku khawatir kabar yang akan ku beritahu ini adalah kabar sangat buruk untukmu," kata Chiyo.
"Ada apa? Katakanlah Chiyo-baasan!"
Chiyo tidak langsung mengatakan berita itu, alih-alih memberitahu Kakashi, ia malah menyalakan televisi. Ia mengganti chanel televisi dengan chanel yang tadi sempat diberitahukan oleh pelayan wanita. Berita itu adalah berita dari Konoha News, siaran infotaiment di station TV Channel 1. Berita yang menampilkan foto Kakashi sedang berciuman dengan seorang pria berambut merah.
'Seperti yang kita tahu, Direktur Utama Hatake Corp., Hatake Kakashi telah menikahi seorang gadis dari keluarga Haruno. Namun sepertinya kehidupan rumah tangga mereka tidak cukup harmonis. Terbukti dengan beredarnya foto-foto mesra Hatake Kakashi dengan seorang pria berambut merah yang belakangan diketahui bernama Akasuna Sasori. Hatake Sakura, istri dari Hatake Kakashi sendiri dikabarkan kabur dari kediaman Hatake karena mengetahui bahwa suaminya berselingkuh dengan pria. Sampai berita ini turun, baik Hatake Kakashi maupun Hatake Sakura sendiri masih belum bisa dimintai keterangan mengenai kebenaran dari berita ini.'
Kakashi langsung mematikan siaran televisi tersebut. Ia memijat-mijat pelan pelipisnya. Chiyo yang memahami kegalauan Kakashi langsung menghampiri pria itu, mendekapnya dengan pelukan khas seorang ibu. "Tuhan pasti akan selalu memberkatimu, Nak."
.
.
Suasana di koridor utama Konoha Hospital cukup ramai mengingat jam besuk yang sudah dimulai sejak pukul satu siang. Sakura dan Sasuke berjalan menuju kamar tempat di mana ibu Sakura dirawat. Sasuke membukakan pintu bagi Sakura ketika mereka tiba di depan kamar itu. Sesosok pria yang sedang berada di dalam ruangan itu menjadi sebuah kejutan bagi Sakura dan Sasuke.
Pria itu Hatake Kakashi.
Kakashi yang menyadari kedatangan Sasuke dan Sakura segera berpamitan pada ibu Sakura yang sedang terbaring di kasur rumah sakit. "Kalau begitu, aku pulang dulu, Bu."
"Hati-hati, Nak."
"Baik." Kakashi tersenyum tulus pada ibu Sakura sebelum meninggalkan kamar itu. Ia sempat melirik Sakura melalui sudut matanya. Sakura merindukan mata itu. Mata berlainan warna yang dulu selalu dikaguminya dalam diam. Kakashi memberi anggukan kecil kepada Sasuke—mencoba mengabaikan kehadiran Sakura—sebelum benar-benar keluar dari kamar.
Sakura menahan napasnya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ibunya. Ia duduk di tepi kasur, menggenggam erat tangan ibunya. "Bagaimana kabar Ibu?"
Misaki—ibu Sakura—tersenyum menenangkan sembari balas menggenggam erat tangan Sakura. "Baik seperti yang kau lihat, Saku."
Sakura mengangguk pelan. Kedua mata hijaunya kini beralih pada Sasuke yang masih berdiri di tepi tempat tidur. Misaki, meski ia tak pernah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Sakura dengan Kakashi, sebagai seorang Ibu, ia tahu ada sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga Sakura. Terlebih berita yang tadi pagi dilihatnya di televisi. Dan kini, Sakura mengunjunginya berdua dengan Sasuke—yang diketahuinya sebagai sahabat Sakura, meski ia yakin ada hubungan lebih antara putri tunggalnya dengan pria berambut hitam pekat itu—bukan dengan Kakashi yang statusnya adalah suaminya sendiri.
Misaki memanggil Sakura lembut. "Sakura."
"Ya, Bu?"
"Aku tidak tahu pasti apa masalahmu dengan Kakashi. Hanya saja, aku ingin kau lebih bijaksana dalam menghadapi masalah. Bagaimana pun juga, Kakashi adalah suamimu, Sakura. Suami yang perlu kau jaga kehormatan dan martabatnya." Misaki kini beralih memandang Sasuke. "Sasuke, aku harap kau memahami posisi Sakura saat ini."
Sasuke hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Ia tahu, apa pun alasannya, posisi dirinya saat ini adalah salah. Sakura masih berstatus istri Kakashi. Sakura yang gelisah dan merasa tak enak pada Sasuke, memandang pria itu lekat. Sebuah senyum tulus terlukis di sudut bibir Sasuke, berusaha menenangkan Sakura.
Dan ketika cinta mulai memilih, jalan mana kah yang akan dipilihnya?
.
.
Keheningan melanda Sasuke dan Sakura. Di balik kemudinya, Sasuke hanya diam. Sejujurnya ia begitu enggan melepas Sakura, meski ia tahu ia sama sekali tidak berhak menjadikan Sakura miliknya di saat wanita itu masih menjadi istri pria lain. Namun ia tahu, ia harus melakukan hal ini.
"Sakura," panggil Sasuke, ia melirik Sakura sejenak sebelum kembali berkonsentrasi pada kemudinya.
"Tidak, Sasuke—"
"—kau harus Sakura," imbuh Sasuke. Ia tahu Sakura pasti akan menolak usulnya karena merasa sungkan padanya. Tapi ia tahu, hati kecil Sakura masih menginginkan Kakashi sebagai suaminya—meski hatinya sendiri berat untuk menerimanya.
Sasuke menepikan mobilnya yang kini telah sampai di depan kediaman Kakashi.
Sakura menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia tak ingin menyakiti hati Sasuke lebih dari apa yang selama ini ia lakukan. Sasuke paham kegelisahan hati Sakura saat ini. Diulurkannya tangannya mengelus pelan puncak kepala Sakura.
"Aku mengerti Sakura," Sasuke perlahan membuka telapak tangan Sakura yang menutupi wajahnya sendiri. Digenggamnya dengan erat jemari kecil tangan wanita yang dicintainya itu. Kedua mata Sakura tampak berkaca-kaca—seperti menahan tangis yang ingin dikeluarkannya. Sasuke mengusap pipi Sakura dengan kedua tangannya. "Masuklah..."
Sakura terisak, sebelum akhirnya menangis sambil balas menggengam erat tangan Sasuke. "Maaf—maafkan aku, Sasuke-kun."
"Sssttt..." Sasuke menggelengkan kepalanya dengan pelan, menatap langsung ke arah mata Sakura. Ia usap butir-butir air mata yang kini telah jatuh di pipi Sakura dengan jemarinya. "Kau tidak salah, Saku. Aku mengerti."
Sakura diam. Sejujurnya, ia memang masih mencintai Kakashi. Namun segala kebaikan dan sikap lembut Sasuke selama ini telah mampu membekas di hati terdalamnya. Ia mencintai kedua pria itu. Kegemingan melanda keduanya sebelum Sasuke memakaikan jaket hitamnya pada tubuh Sakura yang terbalut kaus lengan pendek.
"Pakai dan masuklah. Dia pasti sudah merindukanmu," kata Sasuke lirih. Namun segera digantinya nada suaranya dengan intonasi yang meyakinkan, ia tak ingin jika Sakura kembali galau karena dirinya. "Percayalah, aku tidak apa-apa."
Sakura menatap dalam kedua mata hitam Sasuke sebelum mengangguk dan mengecup lembut bibir Sasuke. "Maaf," katanya seraya turun dari mobil Sasuke.
'Aku mencintaimu, Sasuke-kun.'
"Aku merelakanmu bahagia dengannya, Sakura." bisik Sasuke pelan. Ia mengempaskan tubuhnya bersandar di jok mobilnya. Ia memandang sosok Sakura yang semakin menjauh dari penglihatannya. Ada segumpal perasaan sesak memenuhi rongga dadanya. Inikah rasanya kehilangan cinta?
.
.
Chiyo sangat terkejut ketika dirinya membuka pintu utama kediaman Hatake. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa tamu yang kini ada di hadapannya adalah Sakura. "Astaga! Sakura?" Tanpa ragu Chiyo langsung memeluk erat Sakura.
Sakura tersenyum tulus menanggapi sambutan Chiyo yang begitu hangat. Ia balas memeluk erat Chiyo. "Aku merindukanmu, Chiyo-baasan."
Chiyo melepaskan pelukannya, menatap langsung ke arah mata Sakura. "Aku juga," katanya dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Masuklah Sakura, Kakashi pasti akan sangat senang melihatmu kembali ke sini," katanya sambil merangkul Sakura, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Perkataan Chiyo membuat Sakura terdiam sejenak.
"Ada apa?"
"Aaa... Tidak, aku tidak apa-apa," elak Sakura sambil tersenyum tipis.
Chiyo sepertinya memahami kegelisahan Sakura. "Tenanglah, Kakashi dan Sasori sudah tidak ada hubungan apa-apa. Kau tahu, sebenarnya setelah kau pergi, Kakashi dan Sasori bertengkar hebat."
"Eh?" Sakura menghentikan langkahnya.
"Kakashi marah besar ketika tahu Sasori hampir memperkosamu. Ia bahkan meninju wajah Sasori. Kau tahu, ia begitu mengkhawatirkanmu." Chiyo memandang Sakura dengan penuh perhatian. "Kakashi tidak bermaksud untuk mengusirmu. Ia hanya kalut atas apa yang terjadi di antara kau dan Sasori," tambahnya.
Sakura mematung di tempat. Kini jelaslah sudah kesalah pahaman antara ia dan Kakashi. Namun hatinya sudah mantap. Ia kembali ke rumah ini bukan untuk kembali pada Kakashi.
Seolah mengerti pikiran Sakura saat ini dipenuhi dengan sosok Kakashi, sosok itu muncul begitu saja di hadapan mereka.
"—kau sedang berbicara dengan siapa, Chiyo-baasan?"
Kedua mata Kakashi tampak terkejut ketika mendapati Sakura sedang berdiri di samping Chiyo—tepat satu meter di depannya. Dengan canggung ia tersenyum tipis pada Sakura. "Bagaimana kabarmu?"
Chiyo yang nampaknya mengerti akan posisinya saat ini, melepaskan rangkulannya pada Sakura. Memberi senyum penenang pada Sakura sebelum pamit meninggalkan Sakura dengan Kakashi. Ketika melewati Kakashi, ia memberikan senyum tulusnya untuk pria yang telah dianggapnya anaknya sendiri itu.
"Baik. Aku baik," jawab Sakura.
"Aku—"
"—aku akan membersihkan namamu di depan para wartawan sore ini," potong Sakura. "Aku akan menjelaskan bahwa masalah rumah tangga kita bukanlah karena hubunganmu dengan Sasori."
Kakashi berjalan mendekati Sakura. Ditatapnya dalam-dalam kedua mata Sakura yang bagaikan kolam yang memancarkan pendar kehijauan. Kalau bisa, ia ingin selamanya tenggelam dalam kolam hijau milik Sakura itu. Selamanya.
Perlahan ia dekap tubuh wanita itu, wanitanya. Yang kini begitu dicintainya. Kakashi merasakan tubuh Sakura bergetar dalam pelukannya. Ia mendekap Sakura lebih erat sebelum akhirnya melepaskan dekapannya dan memandang langsung ke arah bola mata Sakura. Sakura mengadahkan kepalanya, membalas tatapan Kakashi padanya.
"Maaf, maafkan aku, Sakura," katanya.
Sakura menggangguk kecil sebelum menyandarkan kepalanya ke dada bidang Kakashi. Pria berambut keperakan itu kembali mendekap erat Sakura, Sakuranya.
.
.
Sasuke Uchiha menyesap kopinya dengan pelan, menghirup aroma yang baginya menenangkan. Setidaknya dapat sedikit merilekskan pikirannya yang kini dipenuhi dengan sosok wanita yang telah membuatnya melambung dan jatuh di saat bersamaan karena cinta. Pria berambut sekelam malam itu mengambil remote televisi miliknya, ia memilih menonton televisi di kamarnya. Ia menaruh cangkir kopinya di meja kecil di samping ranjangnya. Ia duduk di tepi ranjangnya, menyalakan televisi, dan matanya langsung menatap lekat pada berita di chanel 1 yang menayangkan sosok wanita yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
"Terima kasih kepada teman-teman wartawan sekalian yang bersedia hadir dalam konferensi pers yang kami adakan. Saya, Hatake Sakura ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi berkaitan dengan kasus suaminya. Sesungguhnya suami saya adalah pria yang sangat baik dan sangat mencintai saya." Sakura menatap Kakashi yang duduk di sampingnya. "Foto-foto yang beredar itu adalah tidak benar sebagaimana mestinya."
Kakashi kini mengambil alih pembicaraan, "dan untuk masalah rumah tangga kami, biar kami sendiri yang mengatasinya. Terima kasih."
Sasuke mematikan televisinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia memejamkan kedua matanya. Sekali lagi, rongga dadanya terasa sesak melihat wanitanya kini telah kembali pada suaminya.
.
.
Setelah melakukan konferensi pers di aula Hatake Corp., mereka langsung pergi menuju ruang pribadi Kakashi. Kakashi menatap Sakura dengan intens. Wanita berambut merah jambu pucat itu kini tengah duduk di sofa. Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan intens Kakashi. Ia tak ingin hatinya kembali goyah jika memandang kedua mutiara berlainan warna dalam kedua mata Kakashi.
"Sakura—"
"—maafkan aku, Kakashi," potong Sakura. Ia menundukkan kepalanya. "Kau sudah tahu, jika aku datang bukan untuk kembali membina rumah tangga kita."
Kakashi memandang surat gugatan cerai Sakura di meja di hadapannya dengan pandangan nanar. "Apa aku benar-benar telah kehilangan tempat di hatimu?"
Sakura menegakkan kepalanya, menatap langsung ke arah mata Kakashi. "Maaf Kakashi. Aku tidak bisa."
Kakashi menyentuh tangan Sakura, menggenggam erat jemari-jemari kecil Sakura. "Apa tidak ada lagi kesempatan untukku, untuk kita?"
"Aku hanya seorang wanita biasa Kakashi. Dulu, ketika aku pernah berharap jika kau akan dengan sepenuh hatimu mencintaku, tapi aku sadar, aku tidak akan mendapatkan itu semua. Kini di saat ada seseorang yang mencintaiku dengan tulus, apa yang harus ku lakukan, Kashi?" tanya Sakura lirih. Kedua matanya nampak berkaca-kaca.
Kakashi terdiam. Ia tahu, dirinya telah terlambat menyadari cintanya pada wanita itu. Direngkuhnya tubuh Sakura dalam dekapannya. "Aku mengerti."
'Maaf atas rasa yang terlambat.'
To be continue...
Gomennnn... lambat banget ya apdetnya?T.T Mengertilah saya juga punya kehidupan lain.# Thanks a lot buat semuanya yg udah sudi mampir baca n ripiu di fic lebai ini.*pundung ripiu ya?XD
Aya^^26032011
