FINAL FANTASY VERSUS


010

NOCTIS


[WAKTU TIDAK DAPAT DITENTUKAN]

Hal pertama yang dapat dirasakan Noctis adalah rintik-rintik hujan yang membuat pakaian dan sekujur tubuhnya basah kuyup. Dia tidak mengerti mengapa kali ini dia tidak kebal air seperti saat dia menyelam di danau di dunia mimpi kedua. Setelah dia pikirkan, mimpi setiap malam bisa berubah-ubah. Kita sebagai manusia tidak bisa mengendalikan konten dari mimpi-mimpi tersebut. Manusia tidak bisa memprediksi mimpinya sendiri. Yah, mungkin itu bisa dijadikan alasan yang masuk akal untuk inkonsistensi ini.

Dunia mimpi keempat Noctis berlokasi di sebuah kota yang tidak dikenalinya. Kota itu minimalis, tapi cantik. Setiap sudut kota dimanfaatkan secara optimal. Banyak gang, jembatan dan terowongan, membuat kota bagaikan sebuah labirin yang membingungkan. Bangunan-bangunan berbentuk kubus dan berdesain serupa satu sama lainnya. Dari pengamatan Noctis, sepertinya bangunan-bangunan itu memiliki sekurang-kurangnya tiga lantai. Kebanyakan temboknya berwarna kuning, coklat, atau merah dengan atap limasan berwarna krem.

Fitur utama yang menjadikan kota itu unik adalah kanal-kanal yang memisahkan dan jembatan-jembatan yang menghubungkan setiap area. Gondola menjadi alat transportasi utama kota ini. Roda-roda air berdiameter besar berputar mengikuti arus kanal. Sepanjang Noctis berjalan, terdapat banyak kafe, toko fashion, toko perhiasan, taman, dan kedai kecil penjual cenderamata. Kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan kota itu bagi Noctis adalah romantis. Sungguh sebuah kota yang sempurna untuk berlibur bersama kekasih atau dikunjungi oleh para artis—entah itu penyair, pelukis, dan para pencinta seni lainnya.

Walaupun kota itu penuh sesak oleh bangunan, anehnya tidak ada satu orang pun lalu lalang di jalanan. Pintu rumah terkunci rapat. Lampu-lampu dipadamkan. Semua itu membuat Noctis merinding. Bukan karena tersiram hujan, tapi karena dia merasa seolah berada di kota hantu.

"Ada di mana penduduk kota ini?" Noctis bertanya kepada sang rubah ketika mereka berjalan di sebuah gang yang sempit. Lawan bicaranya hanya menguik. Tidak ada pesan yang muncul di smartphone. Noctis menghela napas. "Yah, kupikir setidaknya ada satu orang di kota sebesar ini yang bisa kutemui—"

Perkataannya mendadak terhenti ketika dia menemukan seorang wanita muda sedang berdiri memunggunginya di depan. Mereka berjarak kurang lebih sepuluh meter. Wanita itu bertubuh ramping dengan tingginya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, atau kurang, karena dia sepasang sepatu hak berwarna emas menutupi kakinya. Dia mengenakan gaun putih polos dan bersih tanpa lengan. Rambutnya pirang dan panjang terurai bebas setinggi punggungnya. Sayangnya Noctis tidak dapat melihat wajah wanita itu.

"Ikuti aku, Pangeran Noctis," seru wanita itu tanpa membalikkan badan. Sang Pangeran terkejut hingga nyaris melompat ketika mendengar suara yang disampaikan langsung ke dalam benak Noctis. Dia bertanya-tanya apakah wanita itu memiliki kekuatan telepati.

"Si-Siapa kamu?" tanya Noctis terbata-bata. "Bagaimana kamu bisa tahu namaku?"

Wanita itu berbelok ke kanan di pertigaan gang tanpa menjawab.

Kejar dia, Noct! Sepertinya dia punya petunjuk untuk menemukan kristal dan ring di kota ini!

Noctis mengangguk dan melangkah dengan cepat menelusuri gang hingga ke pertigaan, lalu berbelok ke kanan. Namun wanita itu telah menghilang. Dia berputar-putar di area itu sambil berseru,"Hei, tunjukkan dirimu!"

Tiba-tiba wanita itu melintas secepat bayangan di sisi kanan Noctis. "Ikuti aku, Pangeran Noctis," ulangnya. Noctis cepat-cepat berbalik, hendak menggapai lengan wanita itu. Tapi tangannya menembus tubuh wanita itu seolah dia tengah menangkap udara yang hampa. Wanita misterius itu memudar bagaikan hologram dan membuyar menjadi partikel-partikel cahaya.

"Apa-apaan itu?" Noctis bertanya-tanya keheranan. Dia menoleh ke bawah pada sang rubah. Barangkali hewan itu punya penjelasan. "Bagaimana menurutmu, makhluk kecil?"

Hmmm… Aku tidak tahu. Kusarankan kita cari dia bersama-sama.

"Apa boleh buat kalau begitu…," gumam Noctis, sedikit jengkel karena sang pemandu sama herannya dengan dia. Kalau pemandu saja sudah tidak bisa memberikan jawaban, bagaimana dia sendiri yang cuma mengikuti aba-aba dari sang rubah.

Noctis mengikuti tapakan batu marmer sampai tiba di area kota yang lebih luas. Ada air mancur berukuran kecil menempel di tembok kanan. Pohon-pohon pinus ditanam di dalam lantai setiap rentang lima meter. Terdapat tangga yang panjang menuju alun-alun kota. Dia mendaki anak tangga dengan satu tangan memegang susuran tangga, takut terpleset karena permukaan yang licin.

Di sana, dia menemukan wanita itu—lagi-lagi hanya menampakkan punggungnya— sedang berdiri di depan patung berbentuk perahu yang sedang tenggelam. Noctis berlari mendekati dia. Ketika jarak mereka tersisa beberapa langkah, wanita itu kembali terbuyarkan menjadi ribuan partikel cahaya kuning.

Noctis melihat smartphone yang disimpan dalam kantung celana pendeknya. Jawaban dari sang rubah cukup membuatnya puas: Aku mengerti sekarang. Kurasa dia tidak ingin kau menangkapnya. Dia ingin kau sekedar mengikutinya.

"Itu benar-benar aneh," komentar Noctis pendek.

Sang rubah mengenduskan moncongnya di lantai, berusaha melacak keberadaan wanita itu. Meskipun pada normalnya air menghilangkan segala bebauan, rubah itu bukan hewan biasa. Dia memiliki indera penciuman yang lebih tajam. Aha! Aku menemukan dia! Ke sini, Noct!

Noctis berlari mengikuti sang rubah. Mereka menyusuri terowongan gelap selama dua menit. Setelah keluar dari sana, hujan telah berhenti. Langit yang mendung berubah menjadi biru cerah hanya dalam selang lima detik. Semakin aneh saja alam mimpi ini. Terlebih dengan kehadiran wanita misterius itu, batin Noctis.

Mereka tiba di sebuah area berbentuk kotak dan sempit. Ada meja-meja bulat dan kursi kayu berjejer di pinggir sana. Di depan sana, wanita itu menampakkan dirinya lagi. Noctis berjalan perlahan sampai perempuan itu membuyarkan diri, meninggalkan sebuah gondola tanpa penumpang di hadapannya.

Ayo kita naik gondola ini, Noct!

Noctis dan sang rubah duduk di atas gondola. Gondola itu bergerak sendiri, menyusuri kanal yang berada beberapa kaki di atas permukaan kota. Panjang kanal itu mencapai satu setengah kilometer. Dengan estimasi satu menit untuk setiap satu meter, perjalanan akan memakan waktu lima belas menit. Untuk menghabiskan waktu, Noctis menikmati pemandangan kota yang indah. Dari ketinggian ini di bawah langit yang cerah, dia bisa melihat kota dengan lebih luas dan seksama. Kota itu walaupun minimalis, ternyata ukurannya luas, walaupun masih kalah dari Insomnia. Tapi dengan tata kota yang begitu terorganisir, dia sekali pun akan merasa betah menjadi penduduk asli kota romantis itu.

Mereka turun dari gondola ketika sudah sampai di penghujung kanal. Sekarang mereka berada di sebuah area yang tampak jauh lebih kuno dari area-area lain kota yang sudah mereka lalui. Noctis merasa seperti memasuki sebuah kuil sakral. Dia mendengar alunan nada merdu seolah dinyanyikan oleh seorang penyanyi opera. Mereka berjalan menelusuri jembatan yang terbuat dari batu marmer. Di ujung jembatan, terdapat tangga menjulang tinggi dengan dua tiang batu di kedua sisinya. Ada pola bulan sabit yang besar di ujung tangga. Wanita itu sedang menunggu di altar yang terletak di puncak tangga.

Noctis berlari menaiki tangga dan memperlambat langkahnya ketika sudah berada di puncak. Dia menyadari wanita itulah yang sedang bersenandung. Sudah saatnya bagi mereka untuk berhenti bermain petak umpet. Langkahnya diperlambat ketika dia mendekati wanita itu. Merasakan kehadiran Noctis, wanita itu berhenti bernyanyi.

Laut luas terhampar di depan mereka. Tidak ada satu pun ombak bergulung di sana. Lautan begitu tenang sampai hanya terdengar kicauan burung-burung camar yang terbang di langit.

"Di sinilah segalanya bagimu dan dia akan berubah," kata wanita itu. Suaranya sendu, Noctis bisa merakaan kesedihan mendalam tersirat dalam tiap patah kata. "Aku telah mengambil keputusan yang sulit demi kepentingan keluargaku. Tubuh dan jiwaku terkutuk."

Dahinya mengerut. "Aku tidak mengerti. Apa maksudmu dengan keputusan yang sulit? Kenapa kau menerima kutukan?" Pertanyaannya lebih terkesan seperti permohonan. Dia membutuhkan penjelasan. Tidak bisa dia membiarkan dirinya dihantui pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan.

"Inilah mikradku yang sesungguhnya," kata wanita itu, lirih. Lengan kanannya terangkat dan dia memunculkan sebuah trisula secara ajaib dari udara kosong. Trisula itu bermata dua, berganggang hitam di kedua ujung dan bergigi perak.

Tidak mungkin! Hanya ayah dan Royal Council yang bisa memanggil senjata seperti itu. Apa wanita ini punya hubungan dengan Kristal Agung? tanya Noctis dalam benaknya.

Wanita misterus itu mengetukkan trisula ke permukaan dengan keras. Selang beberapa detik, muncul cipratan besar di lautan diikuti dengan raungan yang menggema di langit siang itu. Seekor naga biru raksasa keluar dari dalam laut. Ada sayap-sayap terbentang di tubuh panjangnya. Naga itu tampak sangat marah seolah tindakan wanita itu telah mengganggu tidur panjangnya.

Gwah! Itu Leviathan, sang Hydraean. Tidak seperti Titan, Astral ini membenci manusia! Larilah, Noct, sebelum dia menelanmu!

Noctis ketakutan saat berhadapan dengan Astral yang terlihat buas itu. Dia ingin kabur, tapi kakinya terasa membeku, menyebabkan dia tak mampu bergerak dari pijakannya.

Laut yang tenang menjadi bergemuruh mengikuti amarah Leviathan. Laut meninggi dan terus meninggi sampai membentuk dinding air bagaikan tsunami, mengitari altar tempat mereka berada. Ombak bergulung begitu cepat, airnya berkucuran ke segala arah. Udara menjadi berat seolah ada badai yang mengamuk. Leviathan membentuk puluhan bola air, melayangkannya di udara dan menembakkannya pada Noctis dan wanita itu.

Dalam gerakan refleks, Noctis melindungi wajahnya dengan kedua lengan yang terangkat. Dia tahu itu tidak ada gunanya ketika peluru air menghampas tubuhnya, tapi dia tidak dapat mengendalikan respon natural untuk bertahan hidup.

Tanpa disangka Noctis, wanita itu menghalau seluruh peluru air sang naga dengan sihirnya. Dia menggerak-gerakkan trisula di tangannya dengan lihai. Ada gelombang energi putih transparan tampak saat peluru air bertabrakan dengan sihir wanita itu. Gaya bertarungnya cenderung defensif daripada ofensif. Dia tidak menyerang balik Leviathan, hanya memantulkan peluru air kembali kepada naga itu.

Leviathan mengerang kesakitan menerima senjata makan tuannya secara bertubi-tubi. Dia membuka mulutnya selebar mungkin. Dan dengan cepat, dia mencaplok mulutnya kepada wanita itu. Noctis menjerit histeris ketika melihat sang naga tampak menelan wanita itu bulat-bulat.

"Leviathan!" seru wanita itu dengan lantang.

Timbul cahaya kuning berintensitas tinggi memanjang ke langit dari dalam mulut sang Hydraean. Cahaya itu meledak, membuat Leviathan melepaskan cengkeraman mulut pada wanita itu, dan menyebabkan kepalanya terhempas ke lautan. Tubuh Leviathan menjadi transparan dan akhirnya membuncah menjadi gumpalan air, menyatu dengan lautan di bawahnya. Dinding tsunami mereda. Lautan telah kembali tenang. Setelahnya, muncul sebuah kristal kuning dari dalam laut. Seperti tiga kristal sebelumnya, kristal terbaru itu berputar-putar dan melesat kencang dan terserap ke dalam jantung Noctis.

"Pekerjaanku telah selesai," kata wanita itu diikuti dengan hembusan napas lega. Untuk pertama kalinya, dia membalikkan badan dan menunjukkan wajahnya kepada Noctis.

Kecantikan wanita itu membuatnya tertegun. Wajahnya tirus dan dagunya lancip. Sepasang matanya berwarna ungu. Wanita itu mengangkat trisulanya secara horisontal. "Sekarang kembalilah ke alam nyata. Banyak orang membutuhkan pertolonganmu, Pangeran Kecil." Katanya dengan intonasi lembut. Seketika timbul titik cahaya yang besar di bawah kaki Noctis.

Mengetahui bahwa dirinya akan berpisah dengan wanita itu, Noctis mendesak, "Kumohon setidaknya beri tahu aku namamu!"

"Kita akan bertemu ketika kau melihat 'cahaya' di langit malam. Di kala itu, aku akan mengenalkan diriku padamu." Wanita itu tersenyum tulus kepada Noctis. Dan bersamaan dengan itu, Noctis berpindah ke tempat yang berbeda.

Ketika Noctis membuka mata, sekarang dia berada di sebuah lorong panjang. Lorong itu dipenuhi warna putih dari dinding, lantai, dan langit-langit. Tidak ada pintu keluar di belakang punggungnya. Hanya ada satu jalan lurus melintang ke depan.

Wanita itu ternyata orang yang baik. Dia membantu membebaskan kristal keempat dari Leviathan untukmu.

"Aku tahu," Noctis merespon dengan lesu, "tapi aku bahkan tidak sempat berterima kasih padanya."

Dia berjanji akan bertemu denganmu. Percayalah, Noct! Sang rubah berjalan ke depan. Kepalanya terangkat saat dia melihat ring emas ada di ujung utara lorong itu. Noct! Di depan sana adalah tempat mimpimu berakhir: di satu tempat paling aman untukmu.

Noctis mendesah panjang. Dia lelah terkungkung dalam alam abnormal ini. Dia ingin secepatnya membebaskan diri dan bangun. Berlama-lama di sini bisa membuatnya menjadi kehilangan kewarasan. Dengan dorongan itu, dia berlari mendekati ring. Sebelum masuk ke dalam, dia berharap-harap cemas. Dia sudah melewati berbagai rintangan, mulai dari Titan, sekumpulan Imp dan Leviathan. Semoga alam mimpi terakhir lebih bersahabat terhadap dirinya. Tapi dunia mimpi multilevel ini mengingatkan dirinya akan King's Knight—video game RPG kesukaan Noctis. Mengikuti aturan baku sebuah video game, biasanya dunia terakhir selalu mempunyai tingkat kesulitan tertinggi. Apakah dia akan menghadapi bos terakhir? Hanya ada satu cara untuk mendapatkan jawabannya: dia melangkah masuk menuju dunia mimpi terakhir.

Mimpimu berakhir di satu tempat paling aman untukmu. Kalimat sang rubah bergema dalam otaknya selama proses teleportasi ke dunia mimpi final. Seharusnya Noctis bisa menduga di mana dia akan berakhir sekarang dari petunjuk sang rubah itu. Dia tiba di beranda Citadel di Insomnia yang merupakan rumah tempatnya tinggal.

Beranda Citadel itu berlantai putih dengan pola kotak-kotak. Ada karpet merah membentang di undakan tangga menuju pintu masuk Citadel. Dari beranda, dia bisa melihat langit cerah nan biru, menyinari gedung-gedung pencakar langit di kota itu.

Hmm… Ada sesuatu yang terasa tidak benar. Sang rubah berlari menuruni tangga dan berhenti di jalanan dalam komplek Citadel, tempat kendaraan berlalu setelah melewati gerbang masuk utama Citadel. Di sini adalah rumahmu, tapi apa benar ini adalah tempat paling aman untukmu?

"Eh, bukankah seharusnya begitu?" respon Noctis. Tempat teraman bagi semua orang adalah rumah mereka sendiri. Itu hal yang lumrah, tidak terkecuali bagi Noctis.

Mendadak muncul siluet hitam sesosok monster bertubuh kekar entah dari mana. Tubuh sang monster belum sepenuhnya memadat, tapi dia mengibaskan pedang jumbonya, mengenai sang rubah hingga terpental ke salah satu tembok.

"Tidak!" teriak Noctis. Apapun monster itu, dia sungguh tidak berperasaan untuk menyakiti makhluk seimut sang rubah. Selang tiga detik, sang monster menampakkan keseluruhan wujudnya. Noctis pernah melihat monster itu saat dia mengunjungi pos militer Galahd. Monster itu, lebih tepatnya daemon itu, adalah Iron Giant. Hanya dengan melihat daemon itu, Noctis merasa terintimidasi. Kakinya bergetar kencang. Jantungnya berdegup cepat. Apakah ini adalah rintangan terakhir yang harus dilaluinya? Jika benar, dia tidak punya cukup keberanian untuk menghadapi daemon sebesar itu.

Iron Giant melangkah mendekati Noctis. Tiap langkah menimbulkan suara debuman yang nyaring.

Bagaimana ini? Mati aku! teriak Noctis dalam hati.

Sang rubah bangkit dengan cepat dan berlari ke depan Noctis. Dia memasang kuda-kuda, satu kaki kirinya lebih maju dari tiga kaki lainnya, tubuhnya condong ke depan. Matanya memicing. Dia menguik berkali-kali. Butiran cahaya berwarna-warni muncul di bawah cakar kakinya. Jangan takut! Aku akan melindungimu melalui mimpimu yang terkelam!

Kalimat sang rubah seolah bergema dalam benaknya dan secara berangsur digantikan oleh suara ayahnya. "Jimat ini akan selalu melindungimu melalui mimpimu yang terkelam. Tapi ingatlah, Noct. Di dalam alam mimpimu, kau adalah raja."

Dia tidak tahu kapan tepatnya dia mendengar pesan ayahnya itu. Namun dia tidak memedulikan penempatan waktu itu. Ayahnya telah memberikan kekuatan tak terbatas yang mampu membangkitkan kepercayan dirinya. Senada dengan nasehat ayahnya, dia adalah raja di alam mimpi ini, bukan si daemon. "Aku tidak takut!" seru Noctis dengan lantang.

Noctis menutup mata, berusaha membayangkan sosok dirinya yang layak disebut sebagai pemuda-dewasa. Proses itu mirip bagaikan orang yang sedang menggambar di atas kertas. Awalnya sosok itu hanya berupa sketsa seorang laki-laki bertubuh tegap, tinggi dan ramping. Semakin dia berkonsentrasi, sosok itu semakin jelas. Wajah laki-laki itu berbentuk segitiga dengan sepasang mata berwarna biru dan rambut hitam runcing. Lalu dia membayangkan pakaian yang akan dikenakannya. Warna kesukaannya adalah hitam, jadi dia menggunakannya sebagai warna dasar. Kaos dan jaket akan membuatnya tampak tangguh dan sporty, sarung tangan di lengan kiri akan memudahkannya dalam menggenggam senjata, celana sebaiknya jangan terlalu panjang supaya dia lebih lihai dalam bergerak, dan sepatu bot akan membantunya berpijak lebih rapat di jenis medan apapun. Ya! Inilah sosok yang dia inginkan ketika dia beranjak dewasa!

Seketika Noctis bertransformasi dari seorang anak kecil menjadi seorang pemuda-dewasa sesuai yang dia bayangkan.

Gwah! Apa itu benar-benar kau, Noct? Kamu terlihat keren!

Dengan wujud ini, Noctis yakin dapat mengalahkan si daemon dengan mudah. Dia merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Noctis memunculkan sebilah pedang di tangan kanannya dan melempar lurus ke dada Iron Giant, melontarkan sebuah warp-strike. Bunyi kelontang berdengung ketika pedangnya bertubrukan dengan tubuh sang daemon yang setebal besi. Iron Giant tersentak ke belakang, lalu dia secepatnya menyabetkan pedang besarnya secara horisontal pada Noctis. Noctis mengelak dengan lincah, menggunakan keahlian warp-dodge-nya. Dia melempar lagi pedangnya ke arah sang daemon. Dengan sikut menyilang, dia mengerahkan serangan kombo: tebasan pedang sebanyak tujuh kali ke bagian tubuh atas daemon itu.

Iron Giant sempoyongan untuk sesaat, lalu meninju satu lengan besarnya ke lantai. Jalanan beraspal meretak hingga ke tempat Noctis berpijak. Sebelum kehilangan keseimbangan dan menjadi sasaran empuk si daemon, Noctis melempar pedangnya ke satu titik di ketinggian Citadel. Kini dia berada jauh di atas permukaan ketika Iron Giant menyerbu seperti badak ke posisi dia sebelumnya. Serbuan sang daemon merubuhkan dua tiang lampu hingga hancur berserakan di jalanan.

Noctis menukar pedangnya dengan sebilah greatsword yang panjang dan lebar dan kembali melayangkan warp-strike ke punggung Iron Giant. Sang daemon mengerang kesakitan, diangkatnya dadanya lebar-lebar sambil mengaum marah. Dia mengibaskan pedangnya lebih cepat. Kibasan pertama membuat asap berdebu bertiup kencang. Noctis mengelak ke belakang agar pandangannya tidak tertutupi debu tebal itu. Kibasan pedang kedua merubuhkan tiang lampu lainnya. Noctis melangkah dengan lebar, partikel-partikel biru beterbangan dari tubuhnya saat dia melakukan gerakan warp-dodge.

Merasa frustasi, Iron Giant tampak hendak melancarkan serangan pamungkasnya. Pedang di tangannya mengobarkan aura berwarna ungu. Noctis memperlambat langkahnya sambil mengendap-endap mendekati sang daemon. Iron Giant mengangkat pedang dengan kedua tangannya. Kemudian dia mengayunkan pedang itu secara vertikal kepada Noctis.

Selang sepersekian detik sebelum pedang itu mengenai Noctis, Noctis menahan serangan itu dengan greatsword di tangan kanannya. Tumbukan pedang si monster amat berat hingga membuat Noctis terjongkok. Kaki kirinya bersandar di lantai dan telapak tangan kirinya menopang beban tubuhnya.

Dalam gerakan cepat, Noctis melancarkan tangkisan balik sekuat tenaga. Iron Giant terhempas beberapa senti ke belakang, kaki kanannya menjadi goyah, dan dia terjatuh ke aspal dengan bokong mendarat duluan.

Sekarang saat yang tepat untuk menumbangkan daemon itu, Noct!

Noctis menghilangkan greatsword di tangannya dan memunculkan sihir Firaga—sihir api level tiga. Dengan tumpuan kaki kanannya, dia memutar badan dan menyemburkan sihir berkekuatan fantasis itu kepada sang daemon. Ledakan api berkekuatan dahsyat mengenai dada Iron Giant, membuat luka bakar serius di sana. Daemon itu terhuyung-huyung tanpa bersuara. Kehidupan tampak lenyap dari sepasang mata merahnya. Kemenangan telah diraih Noctis ketika kepala sang daemon terjerembab keras ke lantai. Tubuh Iron Giant telah terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali.

Yes! Noctis bersorak bangga dalam hatinya. Dia mengepalkan tinju kanannya dan mengangkatnya sejajar dengan pinggangnya.

Aku percaya padamu, Noct—kamu bisa melakukannya!

"Seharusnya ini sudah cukup," kata Noctis. Dia menghembuskan napas panjang. Kelegaan membanjiri sekujur tubuhnya.

Kristal kuning keluar dari bangkai Iron Giant. Benda itu melayang di udara dan melesat cepat ke dalam jantung Noctis. Tubuh Noctis bersinar menyilaukan dan mengubahnya kembali menjadi wujud anak-anak. Dia merasakan seluruh pecahan kekuatannya telah pulih dan bergabung menjadi kesatuan yang utuh. Tidak ada kegelapan daemon yang tersisa dalam jiwa dan raganya. Sudah tiba waktunya bagi dia untuk bangun kembali.

Kamu berhasil, Noct! Daemon akan terus menghadang perjalananmu untuk menjadi seorang Raja. Sekarang kamu tidak perlu takut lagi terhadap mereka!

Sang rubah berlari ke depan gerbang Citadel dan berhenti di dekat ring emas yang terakhir. Noctis mengikuti hewan itu, melangkah masuk ke dalam ring. Timbul jutaan partikel cahaya di sekitar Noctis. Partikel-partikel itu melaju dalam arus yang kencang menuju satu titik di tepi gerbang Citadel. Mereka berkumpul menjadi satu dan secara ajaib membentuk sebuah mobil hitam yang mewah. Noctis terpana ketika melihat mobil itu di hadapannya.

Hei, itu mobil ayahmu, bukan? Sekarang aku mengerti. Regalia adalah tempat paling aman untukmu! Sang rubah melompat riang ke depan pintu mobil. Dia terus menguik gembira. Kamu dapat selalu bersama ayahmu ketika kamu berkendara dalam Regalia.

Noctis melangkah menuju Regalia. Dia menarik kenop dan membuka pintu kiri depan mobil itu. Sang rubah duduk di samping mobil. Ekornya melingkari badannya yang mungil.

Semua orang menunggu kepulanganmu.

Noctis tersenyum lebar pada sang rubah. Dia berjongkok dan membuka tangannya lebar-lebar. Memahami bahasa tubuhnya, sang rubah melompat ke dalam pelukan Noctis. "Terima kasih, makhluk kecil," kata Noctis. Dia mengelus-elus bulu sang rubah dengan lembut. Kesedihan datang menyergap hati Noctis saat dia menyadari bahwa mereka akan segera berpisah. Dia telah menjalani petualangan seru dan mendebarkan bersama sang rubah. Dia berhutang nyawa pada sang rubah. Terlebih penting, dia telah menerima sang rubah sebagai sahabatnya. "Apa kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan?" tanyanya parau.

Sang rubah menjawab dengan suara nguiknya yang khas. Aku akan datang kepadamu di saat kamu membutuhkan pertolonganku.

Noctis mengangguk dan melepaskan sang rubah dari pelukannya. Dia memberikan tepukan hangat terakhir ke kepala sang rubah. Setelahnya, dia masuk ke dalam Regalia dan duduk di kursi depan.

Sebelum menutup pintu, tiba-tiba Noctis teringat satu hal yang sempat dilupakannya. "Tunggu. Siapa namamu?" tanyanya pada sang rubah. Dia jadi merasa agak bodoh karena tidak menanyakan hal sepenting ini dari awal mereka bertemu. Seluruh perhatiannya teralihkan oleh beragam keganjilan dan kerusuhan yang diciptakan alam mimpi.

Namaku Carbuncle!

"Sampai jumpa, Carbuncle."

Sang rubah kembali menguik. Kali ini lebih nyaring dari biasanya. Noctis tertawa geli sampai giginya terlihat. Dia menutup pintu mobil dengan perlahan. Bersamaan dengan itu, petualangannya di alam mimpi telah berakhir.


09.09.744 M.E. | 04.13 AM

Sentuhan yang menghangatkan menjalar ke dalam tubuhnya. Sensasi itu membuat kedua matanya membuka sedikit demi sedikit, mengembalikan dirinya ke alam fana. Dia melihat dua telapak tangan yang lebar terkatup rapat di telapak tangan kirinya. Sebuah cincin hitam melingkar di jari manis telapak tangan kiri yang hangat itu. Tatapannya lurus kepada seseorang di hadapannya. Itu adalah ayahnya. Wajah sang ayah tampak letih. Terlihat garis-garis keriput di bawah matanya yang lelah, kantung matanya menggelap—mengimplikasikan bahwa ayahnya kurang tidur. Namun, terpancar kelegaan dari wajah ayahnya yang kini tersenyum tulus kepadanya.

"Dad…", panggil Noctis. Suaranya masih terdengar lemas.

"Noct…", balas ayahnya dengan lembut. Ada jeda tiga detik sebelum dia melanjutkan perkataannya. "Dad tidak akan membiarkan siapapun melukaimu lagi."

Noctis berkedip sekali dan menoleh ke kiri. Ada sebuah arca kayu biru berbentuk seekor rubah diletakkan di dekat kepalanya yang berbaring di bantal yang empuk. Benda itu mengingatkan dia pada Carbuncle yang ditemuinya di alam mimpi.

Dia akhirnya menyadari bahwa ayahnya telah mengirimkan Carbuncle untuk memandu dia di alam mimpi terkelamnya. Ayahnya dan mendiang ibunya memiliki cara tersendiri untuk menyalurkan kasih sayang padanya. Carbuncle telah menjadi bukti nyata akan cinta ayahnya yang begitu besar pada dirinya.

Selama ini hubungan dia dengan ayahnya terasa renggang. Namun dimulai dari detik ini, tali kasih di antara mereka telah terpaut kembali. Bahkan lebih erat dari sebelumnya.