Disclaimer: Masashi Kishimoto

Enjoy!


Chapter 10

.

.

.

.

.

23:45 PM
24
th December 20XX

Malam natal.

Malam bahagia dan malam yang paling meriah di kota New York. Keluarga makan malam bersama, pasangan suami istri bermesraan, anak-anak tertidur lelap memimpikan Santa Claus.

Semua orang menikmati liburan mereka di malam natal, begitu pula dengan Dr. Gerdfield.

Jika ada pasien yang berani menghubunginya di malam natal, sang dokter akan langsung mematikan ponselnya. Namun, khusus untuk satu pasien ini, sang dokter rela meninggalkan keluarganya dan melesat menuju klinik.

Dari ratusan ibu hamil yang pernah ditanganinya, hanya wanita bernama Naruko Uzumaki yang bisa membuatnya keringat dingin dari atas kepala sampai ujung kaki. Kenapa? Karena Naruko Uzumaki berarti Sasuke Uchiha.

Terakhir kali dia melihat Naruko Uzumaki adalah ketika Kyousuke Uzumaki harus disuntik antivirus. Dan terakhir kali dia melihat Sasuke Uchiha adalah ketika Kyousuke Uzumaki terkena demam. Dia tidak pernah melihat sepasang orang tua itu datang bersamaan. Karena itu, ketika dia melihat Naruko Uzumaki dan Sasuke Uchiha yang menggondong bocah dua tahun yang mungil, Gerdfield tahu bahwa ada yang salah.

Naruko masih tidak bisa memaafkannya karena dia dengan mudah disuap oleh Sasuke Uchiha. Tapi apa boleh buat. Tidak semua dokter itu kaya dan dia punya tiga anak yang harus dia hidupi. Sasuke Uchiha tidak punya pendapat khusus terhadapnya, namun datang padanya karena berkat dialah Sasuke bisa tahu bahwa Kyousuke adalah anak kandungnya.

Dr. Gerdfield meneguk ludah, menatap suster yang sama pucat dengannya. Padahal sang suster sedang bermesraan dengan pacarnya, namun ketika tahu bahwa sang Uchiha akan datang, dia langsung masuk ke dalam taksi dan bertemu dengan Dr. Gerdfield. "Ada apa? Mr. Uchiha?" Gerdfield memecah kesunyian. Dia tidak tahan lagi. Sejak tadi Sasuke melotot ke arahnya dan Naruko sendiri mendelik dengan tajam.

"Bukankah sudah jelas?" Sasuke menggendong bocah mungil, namun tatapan membunuhnya tidak hilang sama sekali. "Apa lagi yang kalian tunggu?"

Sang suster, Catherine, langsung melompat. Dia cepat-cepat mengulurkan tangannya, hendak meraih Kyousuke dari tangan Sasuke.

"For God's sake," Sasuke mendelik, membuat Catherine menjerit kaget. "Bukan anakku, tapi Naruko."

Pasangan dokter dan suster itu langsung melongo, menatap Naruko dengan tatapan tidak percaya. Naruko semakin mendelik, namun kali ini mata birunya yang tajam itu tertuju pada Sasuke. "Aku tidak mau ke klinik ini lagi. Mereka komplotanmu," Naruko mendesis.

"Oh, please," Sasuke mendengus. "Nyaris setengah dari semua tempat di New York ini adalah komplotanku. Setengahnya lagi adalah milik Itachi."

Naruko langsung menjerit frustrasi, membuat Kyousuke yang tertidur di pelukan Sasuke langsung terbangun.

xxx

00:02 AM
25
th December 20XX

Butuh dua gelas susu hangat, sekotak biskuit dan Kyou untuk menenangkan Naruko. Wanita itu sekarang masih mendelik, namun tidak seperti tadi. Kyou ada di pangkuan Naruko, mengulurkan tangannya dan meminta biskuit. "Mama, i waan," dia memberitahu wanita itu. "Mauu."

"Sejak kapan kau tidak menstruasi?" Dokter di depannya bertanya.

"Dua bulan," Naruko menggeram. Namun, dia langsung tersenyum girang ketika dia memberikan biskuit pada putranya, membuat Dr. Gerdfield menghela napas.

"Sejak dua bulan ini dia makan seperti gajah," Sasuke menimpali, membuat Naruko mendelik lagi. "Dan baru muntah untuk pertama kalinya tadi malam."

"Seingatku," Catherine bergumam pelan. "Dua tahun lalu ketika kau hamil Kyousuke, kau tidak makan banyak. Malah, kau jarang makan. Kenapa kali ini kau makan banyak?"

Pertanyaan Catherine membuat Naruko mengerang, dia bersumpah kalau Sasuke langsung terlihat berseri-seri.

"Ms. Uzumaki, kami tidak bisa memeriksamu kalau kau terus menggendong anakmu," Gerdfield berujar pelan, tidak ingin menyinggung Naruko.

"Dia benar," Sasuke tiba-tiba meraup Kyou, membuat Naruko nyaris menjerit lagi. "Naruko," mata hitam lelaki itu menempel padanya. "Kau harus diperiksa. Demi Kyousuke juga."

Naruko menggigit bibirnya, menatap bocah dua tahun yang mengemut biskuit itu. Mata mereka berdua bertemu. "Aamam," Kyou tiba-tiba menyodorkan biskuitnya yang sudah tinggal setengah untuk Naruko, membuat wanita itu nyaris menyabet sang bocah dari lengan Sasuke. Naruko menarik napas dalam-dalam. Kenapa dia tiba-tiba takut seperti ini? Lagipula, belum tentu dia hamil bukan? Dia mengikuti sang suster ke ruangan ganti, mengenakan jubah rumah sakit. Sambil memejamkan mata erat-erat, dia berbaring di kasur dan merentangkan kakinya.

"Aku tidak tahu seperti apa hasilnya," Naruko memberitahu sang dokter yang menutup tirai di sekitar mereka. "Tapi jangan bilang padaku sampai aku siap."

Sang dokter menganggukkan kepalanya dan mulai memeriksa. Setelah beberapa menit menatap layar xray yang tertuju di depannya, dia menulis catatan. "Sudah selesai," dia memberitahu Naruko. Naruko beranjak, mengangguk. Dia keluar, menatap Sasuke dan Kyousuke yang menatapnya dengan ekspresi sama. Naruko menggigit bibirnya.

Apakah dia hamil?

Dia tidak tahu.

Matanya tertuju pada Kyou yang semakin lama mirip seperti Sasuke.

Hamil akan anak Sasuke lagi? Dia tidak tahu bagaimana nanti.

Dalam hitungan hari, dia yakin kalau klan Uchiha tahu bahwa Sasuke punya penerus. Apakah mereka akan merebut Kyou darinya? Naruko menggigit bibirnya. Dia tidak mau itu.

"Bagaimana hasilnya?" Sasuke menghamipirinya, menggendong Kyou.

"Aku belum tahu," Naruko berbisik pelan. "Aku sengaja bilang pada dokter untuk tidak bilang padaku sampai aku siap."

"Aku tidak tahu apa yang kau cemaskan," Sasuke menyipitkan matanya.

"Kau tidak tahu?" Naruko menengadah, mendelik. "Banyak, Sasuke. Banyak. Klan Uchiha… Naruto-niichan… selain itu kau sendiri…"

"Sudah kubilang," Sasuke memotongnya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kalian," mata Sasuke menajam. "Selain itu, masih ada Itachi. Kau kira dia akan membiarkan kumpulan orang tua bangka itu merebut Kyousuke?"

Mendengar namanya disebut, Kyou langsung menoleh, menatap Sasuke dengan mata birunya yang bulat. Jari-jarinya yang montok itu langsung menyondorkan biskuitnya, menawarkan biskuit itu untuk Sasuke, mengira kalau Sasuke meminta biskuitnya.

"Kau cemas akan Naruto? Dobe itu hanya harus menerima kenyataan kalau Kyousuke adalah putraku," Sasuke melanjutkan, langsung melahap dan menelan biskuit yang disondorkan Kyou. "Dan aku sendiri sudah bersumpah kalau aku tidak akan meninggalkanmu, selama kau..." Sasuke terhenti. Mata hitamnya menatap Naruko dengan tajam. "Selama kau masih menginginkanku."

Naruko tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya. Tenggorokannya tercekat. Pelahan-lahan, dia meraih tangan kiri Sasuke. "Kau benar… apa yang kupikirkan…" Naruko tersenyum. Tangan kanannya mencengkram perutnya yang sedikit menonjol. Naruko tertawa lemah. Ternyata isi perut ini bukan lemak. Dia awalnya mengira kalau dia semakin gemuk. Ternyata… Senyuman Naruko melebar. "Meski kau tidak ada di sisiku… aku akan melindungi anak ini," mata birunya menatap Sasuke dengan tajam. "Bahkan dari klanmu."

Sasuke berkedip, menatap Naruko dalam-dalam. Dia teringat dulu ketika masih hamil akan Kyousuke, Naruko punya tatapan yang sama. Dulu, ketika Naruko hamil, dia tidak ada di sisi Naruko. Bahkan, dulu ketika Naruko hamil Kyousuke, Naruko melihatnya sebagai 'musuh', sebagai seseorang yang akan melukai anaknya. Lelaki itu terdiam, pelukannya terhadap Kyousuke menguat. Dia tidak ingin itu terjadi lagi. "Kali ini…" bibirnya berbisik. "Aku akan ada di sisimu."

Naruko menggigit bibirnya, dia menahan air matanya. Sasuke menatapnya dengan tajam dan hangat. Di belakang mereka, sang suster menahan jeritan girang, membuat Sasuke memutar bola matanya.

"Jadi? Apakah kau siap untuk tahu apa hasilnya?"

Naruko tersenyum, memutar tubuhnya dan menatap Dr. Gerdfield yang memegang foto xray. "Aku hamil bukan?" dia bertanya pada dokter itu. Sang dokter mengangguk, membuat Naruko menahan napasnya. Tangannya mengusap buntalan dia perutnya.

"Bagus sekali!" Suster di belakang mereka berseru girang. "Di hari natal ini kalian diberi kabar gembira! A baby!"

Sebelum Naruko sempat berterima kasih, sang dokter melanjutkan. "Not a baby," dia menatap foto di depannya. "But two babies. Di dalam perutmu sekarang ada dua jantung mungil yang berdetak."

Naruko melongo, Sasuke mematung.

"Sudah dua bulan," dokter itu melanjutkan, tersenyum lebar. "Merry Christmas to the five of you!"

xxx

04:45 AM
25
th December 20XX

Sai Takano terbangun dari tidurnya ketika mendengar deringan lagu dari ponselnya. Dia mengangkat panggilan itu dan menjawab dengan suara serak. "Terlalu pagi untuk mengucapkan selamat natal bukan?"

"Tidak, karena sebentar lagi aku akan terbang ke Tokyo."

Sai langsung terduduk dan mengusap matanya sesaat, "Jadi pesta natalnya dibatalkan? Naruko?" Samar-samar Sai bisa mendengar suara mesin pesawat. "Kejam sekali, padahal aku sudah menyiapkan hadiah untukmu."

"Haha, aku juga."

"Ada alasan khusus kenapa kau kembali ke Jepang secara mendadak?"

"Kau tahulah, sejak berhubungan dengan Uchiha, tidak ada hal yang tidak menda…" suara Naruko terputus dan Sai bisa mendengar seruan kesal Naruko.

"Halo?" Sai menaikkan sebelah alis. "Naruko?"

"Kami akan menetap di Tokyo dalam waktu lama," suara Sasuke Uchiha membuat Sai terpaku sesaat. "Rumah kami berdua akan kosong."

"Begitu?" Sai menyunggingkan senyuman palsunya. "Untuk apa kalian kembali ke Jepang?"

"Itachi menikah," Sasuke menjawab santai. "Dan sebagai info saja. Naruko…"

"Tidak! Tidak! Aku mau bilang Sai dari mulutku sendiri!" jeritan Naruko membuat Sai mengernyitkan keningnya sesaat. Naruko menjerit? Sudah lama dia tidak mendengar wanita itu menjerit seperti itu. Sejak… Sai menghela napas. Dia sadar dengan apa yang terjadi.

"Naruko, kau hamil lagi? Karena si bastard Uchiha itu tentunya," Sai bersumpah kalau dia mendengar tawa mengejek Sasuke.

"Naruko hamil lagi," Sasuke mengiyakan. "Kembar."

Sai menahan diri untuk tidak membenturkan kepalanya di tembok. "Kau terdengar bahagia sekali, Mr. Uchiha."

"Kali ini namaku lah yang akan tercantum di surat lahir mereka," Sasuke terdengar menantang dan posesif. "Bukan kau."

"Silahkan," Sai tersenyum. "Aku sendiri tidak yakin aku bisa menghadapi dua bocah seperti Kyousuke. Hanya orang berdarah bastard Uchiha sendiri yang bisa menghadapi mereka."

"Hn," Sasuke yang terdengar bangga itu membuat Sai nyaris memutar bola matanya.

"Aku tahu kenapa kau mau membawa Naruko ke Jepang. Kau mau membuatnya dianggap oleh keluargamu sehingga kau bisa secara resmi menjadi ayah Kyousuke bukan?"

Sasuke tidak menjawab.

"Aku tidak tahu apakah Naruko tahu akan ini, tapi terkadang pikiranmu terlalu mudah untuk ditebak, Mr. Uchiha," Sai menyunggingkan senyuman mengejek. "Naruko tidak akan pernah mengira kalau kau sengaja membawanya ke Jepang supaya keluargamu akan mengakuinya. Bukankah hal itu sama saja dengan melamarnya? Dia tidak pernah sekali pun bermimpi menikah denganmu, kau tahu."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

"Ya, ya," Sai menguap. "Hati-hati saja. Aku cukup yakin keluargamu sama gilanya denganmu. Kalau Naruko sampai terluka, kau tahu apa akibatnya," dia tersenyum. "Congratulations, by the way. Mind if I take part in naming your twins?"

"Over my dead body," Sasuke langsung mematikan panggilan, membuat Sai meringis.

Kembar ya? Lelaki itu tertawa sesaat. Mood swingnya dikali dua. Dia tidak tahu apakah si Uchiha itu bisa tahan dengan mood swing Naruko.

xxx

08:46 AM
25
th December 20XX

Kyousuke sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Sekarang bocah itu duduk dengan tenang di pangkuan Sasuke, mata birunya terpaku pada awan putih dari jendela pesawat jetnya. "Ugee," jari mungilnya menempel di jendela, dia menoleh, menatap ayahnya dengan mata biru bundar. "'tu apa?"

"Awan," Sasuke memberitahu anak itu.

"Waan," Kyousuke menimpali. Matanya kembali tertuju pada awan. "Maama," Kyousuke tiba-tiba menoleh ke kursi di sebelahnya, menatap wanita berambut pirang panjang yang terbaring di kursi, mengenakan penutup mata. "Mama, waaan," Kyousuke meletakkan tangannya yang mungil di lengan Naruko, namun Sasuke meraup putranya.

"Mama tidur," Sasuke berujar santai, mengusap rambut raven anaknya. Rambut Kyousuke sekarang menjadi semakin jabrik, membuat Sasuke menahan senyuman. Sebentar lagi Kyousuke resmi berumur dua tahun.

"Mama 'iddu," Kyousuke berujar, mengopi ayahnya.

Sasuke mengangguk. Kyousuke sekarang sudah semakin cerdas. Dia bisa menyebut kalimat, meski masih berupa dua kata. "Smart boy," dia menuduk dan memejamkan matanya, mengecup pelan kening Kyousuke. Bocah itu langsung melontarkan cengiran lebar, menunjukkan gigi-giginya yang mungil. Sasuke tersenyum, mengusap rambut Kyousuke. Dia meraih roti di depannya, menyodorkan roti itu untuk Kyousuke. "What is this?" dia bertanya.

"Bwead," Kyousuke menjawab tanpa ragu, tangan mungilnya meraih roti itu. Sasuke mengangguk, memangku Kyousuke yang melahap rotinya. Kyousuke mengerti Bahasa Jepang begitu juga Bahasa Inggris. Mata onyx Sasuke sesekali terpaku pada jendela, sesekali terpaku pada layar laptopnya, membuat laporan kerja. Sepanjang kegiatan itu, Kyousuke memperhatikan Sasuke, menatap graph di depan laptopnya.

Sasuke tersenyum, melihat putranya. Dia terdiam ketika membayangkan dua bocah mungil yang mirip dengan Kyousuke. Ucapan Sai terngiang-ngiang di kepalanya.

Untuk apa dia membawa Naruko ke Jepang? Dia memang ingin kembali untuk menghadiri pernikahan Itachi. Tapi dia tidak berencana untuk membawa Naruko dan Kyousuke. Bukankah sejak dulu dia sudah berusaha untuk menyembunyikan Kyousuke dari klan Uchiha? Namun kenapa…

Apakah dia ingin memperkenalkan Naruko pada klannya? Dia tahu bahwa itu tidak mungkin. Hubungan mereka tidak akan diterima karena Naruko tidak berdarah Uchiha. Selain itu, Naruko adalah 'ibu haram' Kyousuke. Jika klan tahu akan keberadaan mereka berdua, mereka hanya akan mengambil Kyousuke dan mengusir Naruko.

Sasuke menggertakkan giginya. Keluarganya memang terkutuk.

Uchiha memiliki kaitan darah yang sangat kuat. Sepupu saling dinikahkan. Selain itu, sudah ciri khas Uchiha untuk hanya 'peduli' pada darah sendiri. Sasuke tidak tahan berada di dekat wanita lain yang bukan dari keluarganya. Namun, meski pun dia tahan berada bersama wanita-wanita Uchiha, bukan berarti dia menyukai mereka. Dia membenci beberapa, tapi dia tahan berada di dekat mereka. Karena itu, Sasuke tidak pernah membayangkan dirinya menikah dengan orang lain yang tidak berdarah Uchiha.

Tapi… Naruko…

Sasuke menoleh, menatap wanita yang tertidur lelap itu. Kedua tangan Naruko menempel di perutnya, seakan-akan dia sedang melindungi bayi-bayinya.

Sasuke selalu berpikir kalau menikah dengan Naruko bukanlah pilihan. Bukan Naruko seorang. Sasuke tidak bisa membayangkan dirinya yang menikah dengan wanita mana pun kecuali dengan wanita yang dijodohkan oleh para tetua. Tapi… hanya Naruko yang bisa membuatnya…

"Ahh, mamam."

Sasuke terbangun dari lamunannya, dia berkedip sesaat, menatap Kyousuke yang memanjat turun dari pangkuannya dan menghampiri Naruko. Bocah tersebut meletakkan satu tangannya di lutut Naruko. "Mama, mama, mamaam," dia menempelkan roti di bibir ibunya. Di detik berikutnya, Naruko langsung terbangun, mata birunya terbuka lebar. Naruko langsung melahap roti tersebut.

Sasuke terpaku, menatap Naruko yang langsung beranjak dari kursinya, menyabet semua roti di depan meja, mengunyah dengan suara yang berisik.

"Apa?" Naruko menelan rotinya, menatap Sasuke dengan tatapan tersinggung. "Aku lapar."

"Kau baru makan sejam yang lalu," dia memberitahu wanita itu.

"Terus? Aku makan untuk anak-anakmu. Diam kau, Uchiha."

Sasuke hanya bisa berkedip.

Dulu dia menyembunyikan Naruko dari klan Uchiha karena dia mengira kalau klan terkutuknya itu akan menghancurkan Naruko.

Tapi…

Sasuke menahan senyuman mengejek, menatap Naruko yang masih melotot. Pada saat itu Sasuke sadar akan sesuatu.

Naruko Uzumaki tidak akan kalah pada siapa pun.

xxx

07:23 AM
26
th December 20XX

Naruto Uzumaki sedang menggendong Kushina Uzumaki, putrinya yang berambut pirang. Bayi enam bulan itu mencegkram rambutnya dengan erat membuat Naruto merintih sesaat. Bel yang tiba-tiba berdering membuat Naruto menghela napas. Dia mendelik. Pasti orang-orang Uchiha lagi.

"Naruto, buka pintunya!" Suara Sakura dari kamar terdengar.

Sejak berita bahwa Itachi akan menikah menyebar di Tokyo, banyak pegawai Uchiha yang tiba-tiba mencarinya, bertanya tentang Naruko. Naruto tahu untuk apa. Pasti mereka ingin mencari tahu tentang Kyousuke, putra Itachi. Naruto menggeram pelan. Dia mendapat pesan dari Itachi sepuluh hari yang lalu. Dia bilang padanya supaya dia tidak menyebut apa pun tentang Naruko mau pun Kyousuke.

Naruto hargai itu. Setidaknya Itachi peduli dengan Naruko. Naruto tidak bisa membayangkan Itachi mengajak Naruko untuk menikah ke dalam keluarga Uchiha. Lelaki itu membuka pintu, melongo ketika melihat sahabat-tapi-rivalnya berdiri di depan rumahnya, mengenakan mantel hitam. "Sasuke?!" Naruto menjerit.

"Hn," Sasuke langsung masuk ke dalam rumah, membuat Naruto semakin melongo. Mata hitam Sasuke melirik sesaat, menatap bayi pirang yang belepotan makanan dan liur. Sasuke mendengus sesaat, tersenyum mengejek. "Inikah bayi lucu yang selalu kau banggakan itu?"

"Oi," Naruto melotot. "Kushina-chan lucu tahu."

Sasuke memasang ekspresi jijik. "Itu lucu? Kyousuke jauh lebih menggemaskan."

Kali ini, Naruto balas menatap Sasuke dengan tatapan jijik. "Kyousuke? Bocah yang mendelik terus itu? Maaf saja, bukannya mau menghina keponakanku sendiri. Tapi memang kenyataan. Tuyul saja lebih lucu darinya."

Sasuke langsung mendelik dan Naruto balas melotot.

"Kau mau apa ke sini?" Akhirnya Naruto bertanya setelah lima menit saling melotot. Kushina, bayinya sekarang sudah menggeliat, menjerit-jerit. "Datang ke pernikahan Itachi tentunya."

"Hn," Sasuke berjalan duduk dengan santai di meja makan Naruto. "Itu asalanku datang ke Tokyo. Aku punya alasan lain datang ke rumahmu."

"Apa?" Naruto menepuk punggung Kushina dan duduk di seberang Sasuke.

"Kau mungkin mau meletakkan bayimu itu ke satu tempat dulu karena yang akan kubicarakan ini tidak akan membuatmu senang."

Naruto berkedip. Dia hendak membantah, tapi Sasuke terlihat… serius. "Kalau begitu… aku akan menyuruh suster kami untuk mengurus Kushina-chan," Naruto beranjak, masuk ke dalam salah satu ruangan. Dia keluar bersama Sakura. Sakura Uzumaki menatap Sasuke dengan tatapan cemas, seakan-akan tahu apa yang ada di pikirang sang Uchiha.

"Sasuke-kun?" Sakura duduk di sebelah Naruto, menghadapi Naruto. "Kau datang ke Jepang bersama siapa?"

"Naruko dan Kyousuke," Sasuke menjawab santai.

"Mereka ada di sini?" mata Naruto terbelalak. "Kenapa Naruko tidak datang bersamamu?"

"Karena mereka lelah. Perjalanan ke sini tidak dekat, dobe," Sasuke mendengus. "Mereka sedang tidur di hotel. Itachi menemani mereka."

Naruto balas mendengus. "Itachi? Menemani mereka? Kenapa lelaki itu sok baik sekarang? Apakah dia merasa bertanggung jawab setelah menghamili Naruko dan sekarang dia akan menikah dengan wanita lain bukan? Aku tidak mengerti kenapa Naruko sama sekali tidak merasa sakit hati terhadap Itachi yang akan menikah…"

"Tentu saja dia tidak sakit hati," Sasuke mengetuk meja dengan tidak sabar. "Karena Naruko tidak ada hubungan dengan Itachi."

Naruto mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"

"Itachi bukan ayah Kyousuke," Sasuke menatap Naruto dengan tajam. "Akulah ayahnya."

Naruto terpaku. Dia berkedip. Sekali. Dua kali. "Hah?"

Sasuke memutar bola matanya. "Usuratonkachi. Alasan kenapa Naruko tidak mau bilang padamu kenapa aku yang menghamilinya adalah karena kau menganggapku sebagai sahabatmu sampai sekarang," Sasuke tertawa sinis, membuat mata biru Naruto terbelalak. "Apakah kau mengerti? Akulah ayah dari Kyousuke Uzumaki. Akulah yang menghamili adikmu," mata hitam Sasuke menajam, seakan-akan menantang Naruto.

"Bohong," Naruto tertawa. "Kau tidak mungkin berbuat seperti itu. Kau tidak sejahat itu Sasuke, menghamili adikku tanpa bilang padaku," tawa Naruto mengeras. "Kau hanya mau menutupi kejahatan kakakmu!" Naruto menoleh, menatap Sakura. "Benar kan? Sakura-chan? Sasuke tidak seperti ini!"

Sakura tidak menjawab. Tatapan bersalah di mata hijau Sakura membuat wajah Naruto memucat.

"Bahkan Sakura saja tahu bahwa Kyousuke putraku," Sasuke mendengus. "Wajah kami mirip. Kau mau sebuta apa, dobe?" Sasuke tertawa mengejek, membuat Naruto mengepalkan tangannya.

"Jadi selama ini… kau menipuku? Kau… menghamili adikku?!" Naruto langsung beranjak, membuat kursi terjatuh. Dia langsung mencengkram kerah matel Sasuke. "Di matamu, adikku itu apa hah?!"

Senyuman mengejek Sasuke melebar. "Someone to fuck."

Di detik itu juga, tinjuan Naruto mendarat di wajah Sasuke.

xxx

08:05
26
th December 20XX

Butuh jeritan Sakura sekaligus tangisan dua bayi sekaligus untuk menghentikan Naruto dan Sasuke yang sekarang sudah bergulat di atas tatami, saling membenturkan tinjuan.

"Kalian berdua! Selesaikan urusan kalian di luar!" Sakura meraung, mendorong keluar Sasuke, mengabaikan hidung lelaki yang mengucurkan darah itu. "Dan kau, Naruto!" Jeritan Sakura mengeras. "Sasuke-kun benar! Kau harus buka matamu itu! Tidakkah kau bisa lihat kalau Naruko mencintai Sasuke-kun dan Sasuke-kun sendiri sangat perhatian pada adikmu!"

Naruto melongo ketika melihat Sakura yang menendangnya keluar begitu saja. Dia mendelik, menatap Sasuke yang menekan hidungnya, menahan aliran darah. "Bawa aku ke Naruko sekarang."

"Tidak," Sasuke menjawab langsung, membuat Naruto menggeram. "Apa yang akan kau lakukan kalau kau melihatnya lagi?" Sasuke balas mendelik. "Kau akan menjerit ke arahnya, membuatnya dan putraku menangis."

Naruto mengepalkan tangannya. Dia hendak membantah, hendak membentak Sasuke lagi. Namun, mata Sasuke yang mendelik itu membuatnya terpaku. Apa dia tidak salah lihat? Sasuke terlihat… protektif terhadap Naruko. Sasuke tidak mau dia membentak Naruko lagi.

"Sasuke…" Naruto berbisik pelan, mengabaikan darah yang mengucur dari bibirnya yang terkoyak. "Jawab jujur. Apa… apa adikku di matamu?"

"Pertama-tama, aku tidak melihatnya sebagai adikmu. Dia terlalu jenius untuk menjadi adikmu."

Naruto menggertakkan gigi, mencoba untuk mengabaikan sindiran Sasuke. "Baiklah. Apa Naruko di depan matamu?"

Sasuke terdiam sesaat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Naruto melihat Sasuke yang terdiam, berpikir keras. "Dia ibu dari anakku," Sasuke membuka mulutnya. "Dia spesial."

"Itu saja?" Naruto menaikkan sebelah alis. "Siapa pun bisa menjadi ibu dari anakmu."

"Tidak," Sasuke menjawab cepat. "Hanya dia saja." Sasuke terdiam lagi. "Aku... tidak bisa membayangkan wanita lain yang menjadi ibu dari Kyousuke."

Naruto ternganga. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang ada di depannya. Sasuke Uchiha… menganggap seseorang spesial? "Astaga," Naruto tertawa lemah. "Sejak kecil kau selalu mengejar Itachi! Kau tidak pernah tertarik pada wanita mana pun! Kau hanya mendekatiku! Aku sempat mengira kau homo tahu tidak!"

Sasuke terpaku sesaat.

"Tapi…" Naruto tersenyum. "Ternyata kau menganggap seorang wanita spesial. Dan wanita itu adikku sendiri."

"Sudah kubilang," Sasuke mendengus. "Aku tidak melihatnya sebagai adikmu."

"Aku tahu," cengiran Naruto melebar. Dia menghela napas. "Sekarang aku tahu kenapa kau selalu datang ke rumah Naruko dan sebaliknya… jadi kaulah ayah dari keponakanku… dan kau adalah paman dari anak-anakku?!" Naruto menatap Sasuke dengan tatapan ngeri. "Jangan sampai virus Uchihamu itu menular ke anak-anakku."

Sasuke memutar bola matanya. "Harusnya aku yang bilang begitu. Aku tidak mau virus dobe-mu itu menular ke anak-anakku."

"Anak-anak?" Naruto tertawa. "Bicara apa kau. Kyousuke saja kan?"

"Tidak," jawaban Sasuke langsung membuat senyum Naruto lenyap sepenuhnya. "Naruko hamil," Sasuke menjawab dengan bangga. "Kembar."

Dan di detik berikutnya, tinju Naruto kembali membentur hidung Sasuke.

xxx

13:05 PM
26
th December 20XX

Naruko langsung terbangun ketika dia mencium bau makanan. Wanita itu beranjak, sempat bingung di mana dia. Ketika mereka sampai di Narita Airport, dia langsung tertidur di taksi. Dia menatap kamar yang terlihat seperti suite room ini. Mata birunya terpaku pada Itachi yang memangku Kyou, menyuapi bocah itu. "Mana Sasuke?" dia langsung bertanya.

"Ke tempat kakakmu."

Jawaban singkat Itachi membuat Naruko mendelik. "Untuk apa?"

"Oh, entahlah?" Itachi mengabaikan Naruko, memberikan sesendok nasi lagi pada Kyou.

"Aku mau ke sana juga."

"Tidak. Sasuke bilang padaku supaya kau tidak…" Ucapan Itachi terputus ketika Naruko melompat ke arahnya, dengan gesit mengemasi bentou di depannya dan meraup Kyou.

"Kalau kau tidak mau mengantarku, aku akan naik taksi," Naruko menggeram.

Itachi Uchiha berkedip. "Ternyata Sasuke benar. Kau memang hamil kembar."

"Kau seharusnya bersyukur aku tidak menjerit di detik ini juga," senyuman lebar Naruko langsung membuat Itachi beranjak, menyabet mantelnya dan kunci mobil.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Naruto dan Sakura. Itachi terlihat tegang, berdiri di depannya seakan-akan hendak melindunginya dari badai di depan. Mungkin Sasuke bilang pada Itachi apa yang dilakukan Naruto padanya ketika kakaknya itu tahu bahwa dia hamil di luar nikah.

Naruko meneguk ludah sesaat. Sasuke ke rumah Naruto dengan satu alasan. Apakah Sasuke akan mengaku kalau dia ayah dari Kyou? Sampai detik itu juga, Naruko tidak bisa membayangkan hal itu untuk terjadi.

Pintu yang terbuka membuat Naruko meneguk ludah.

"Ah! Naruko!" Sakura menyambutnya dengan girang, langsung menyelamatinya karena dia hamil. Naruko langsung berkeringat dingin. Ternyata benar. Sasuke sudah membuka mulut. Naruko bisa membayangkan Naruto yang mengamuk lagi. Namun, ketika dia bertemu mata dengan kakaknya, Naruto langsung menyeringai, memeluknya dengan erat. Naruko hanya bisa melongo.

Kenapa Naruto tidak terlihat marah atau kesal?

"Kau hamil lagi? Pantas saja! Perutmu terlihat sedikit buncit!" Naruto tertawa girang. "Dan lihatlah! Kau membawa Kyousuke juga! Keponakanku yang luc…" ucapan Naruto terputus ketika dia bertemu dengan mata biru bundar yang melotot. "Dasar bocah tidak lucu. Aku tidak bisa membayangkan dalam enam bulan lagi akan muncul dua bocah yang sama sepertinya."

"Awww! Kyou-kun benar-benar mirip Sasuke-kun!" Sakura menjerit girang, mencubit pipi Kyou, membuat bocah itu semakin mendelik.

"Nii-chan, mana Sasuke?" Naruko bertanya cemas. Dia menurunkan Kyou dan bocah itu berdiri di sisinya, menggandeng jarinya dengan erat. Mata biru Kyousuke menatap Naruto dan Sakura dengan siaga.

"Dia ada di kamar bermain," Sakura menahan jeritan gemas. "Bersama-sama Chiyo dan Kushina."

Naruko langsung berjalan ke arah pintu yang bertulisan 'babies'. Dia membuka pintu, langsung melongo ketika melihat dua bocah enam bulan yang merangkak, menggigit ujung celana Sasuke. Seperti wajah Naruto, di sekitar wajah Sasuke ada memar. Naruko bahkan bisa melihat bekas darah di dekat hidungnya. Tapi, apa yang menangkap mata Naruko adalah lingkaran panda di sekitar mata lelaki itu yang membuat Sasuke terlihat sangat sekarat. "Sasuke?" Naruko hanya bisa terpaku. "Sedang apa kau?"

Sasuke mendelik sesaat. "Sedang apa kau di sini?" dia balas bertanya.

"Ugee!" Kyou tiba-tiba menjerit, langsung melepaskan jari Naruko dan berlari ke ayahnya. Dan tentu saja, Sasuke langsung membuka lengannya, meraup Kyou dan mengecup kening bocah itu dengan ekspresi penuh syukur, seakan-akan baru saja melihat malaikat setelah berhadapan dengan dua tuyul ganas.

"Naruto sudah tahu semuanya. Sasuke mengaku kalau dia ayah Kyou-kun," Sakura berbisik di sebelah Naruko. "Dan sekarang Naruto sedang 'menghukum' Sasuke, menyuruhnya mengawasi bocah-bocah bandel itu. Kalau tidak, dia tidak mau mengakui hubungan kalian berdua."

Naruko tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa melihat Sasuke yang mendelik ke arah putri-putri Naruto. "Please," mata hitam Sasuke menatapnya, terlihat depresi. "Kalau kembaran di perutmu jadi seperti mereka…"

Naruko langsung tertawa lepas. Wanita itu berjalan ke arah Sasuke, mengusap wajah lelaki itu yang memar. Matanya terasa pedih ketika melihat semua memar itu. Dia bisa membayangkan Naruto yang mengamuk, yang menghantam Sasuke. Tapi Sasuke… "Jangan khawatir," Naruko berjinjit, menempelkan bibirnya di pipi Sasuke. "Aku yakin kalau dua kembar ini akan menjadi seperti Kyou-chan."

"Bagus," Sasuke mendengus.

"Meski pun kembaran kita akan menjadi seperti Kushina dan Chiyo," Naruko meringis ketika melihat wajah Sasuke yang memucat. "Aku yakin kau akan tetap menganggap mereka sebagai bayi-bayi terlucu sedunia."

Sasuke kembali mendengus. "Ayo kita pergi, aku tidak ada urusan di rumah ini lagi."

Naruko tertawa. "Tidak secepat itu! Aku mau bermain dengan keponakan-keponakanku!" Naruko langsung menunduk, meraup dua bocah mungil yang sekarang menarik rambut pirangnya yang panjang, membuat Sasuke mendengus jijik. "Ayo, Sasuke! Kau harus gendong mereka juga, latihan untuk menyambut anak kembar."

"Tidak," Sasuke langsung menolak.

Di luar kamar itu, Naruto hanya bisa terpaku, menyaksikan Naruko yang tertawa, mengusap wajah Sasuke dan Sasuke yang mendengus, mengerutkan kening namun membiarkan Naruko menyentuhnya. "Mimpi buruk apa…" Naruto mengerang. "Adikku jatuh cinta pada si teme itu."

"Benar," Itachi yang tiba-tiba berdiri di sebelah Naruto membuat lelaki berambut pirang itu melompat kaget. "Aku menanyakan hal yang sama."

"Maksudmu?" Naruto mendelik. "Kau tidak puas kalau Sasuke menganggap Naruko spesial?"

"Bukan itu," Itachi mendengus. "Aku tidak menyangka kalau adikku itu bisa bertekuk lutut di depan orang lain," senyuman Itachi mengembang. "Dia sampai menghadapimu dan mengaku semuanya. Tapi… apa yang akan terjadi berikutnya tidak akan mudah."

"Maksudmu?" Naruto bertanya lagi.

"Dia akan menghadapi ayah kami sebentar lagi," senyuman Itachi menghilang. "Untuk meminta ijin supaya dia bisa melegalkan hubungannya dengan Kyousuke."

"Maksudmu?!" Naruto semakin bingung.

"Maksudnya," Itachi memutar bola matanya, menatap Naruto dengan tidak sabar. "Sasuke mau memperkenalkan Naruko pada keluarga kami. Kau dengar? Intinya Naruko akan menjadi bagian dari keluarga Uchiha. Mereka akan menikah."


TBC

AN: aku nulis fic ini dengan mata setengah buka. Ngantuk banget! Maaf ya reader, sejak magang ini aku jadi susah buat update. Pulang kerja langsung tepar ngorok... haha

moga2 reader suka dengan chapter ini :)

Niatnya sih 2 chapter lagi tamat :)

sampai jumpa di chapter berikutnya!