BLACK
EXO Fanfiction
Warning: BL
Pairing: HunKai, Sehun X Kai (Kim Jongin)
Cast: Lay, Suho, Kris, Xiumin, Chen, others
Rating: T-M
Halo semua ini chapter sepuluh selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan, happy reading all….
Previous
"Kalau Sehun yang sakit, siapa yang merawatmu? Kau kan tinggal sendirian?"
"Aku punya banyak teman, terkadang Lay hyung datang tapi lebih sering Xiumin hyung yang datang."
"Kalau begitu jangan sakit lagi, sakit itu tidak menyenangkan."
"Baiklah, aku tidak akan sakit lagi." Balas Sehun diiringi oleh sebuah senyuman. "Aku antar kau ke kamar."
"Tidak, aku bisa sendiri, listriknya belum menyala aku tidak mau kau terbentur atau tersandung sesuatu karena gelap. Aku sudah hapal semua ruangan dan barang-barang yang ada di rumahmu, aku terbiasa dengan kegelapan." Jongin mengucapkan kalimat terakhirnya dengan perlahan.
"Selamat tidur Jongin," bisik Sehun, ia mengamati wajah Jongin kembali kemudian mengecup kening Jongin lembut. "Tidurlah yang nyenyak."
"Kau juga Sehun, tidurlah yang nyenyak."
Sehun memperhatikan Jongin yang berdiri, menggunakan tongkatnya sebagai penunjuk arah, kemudian berjalan pergi menjauhinya. Bersamaan dengan suara pintu kamar yang tertutup, listrik kembali menyala, Sehun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang terasa sedikit nyeri karena cahaya terang yang tiba-tiba. Sekarang, ia bisa melihat semuanya dengan jelas kembali. Berbeda dengan Jongin yang masih terkurung di dalam kegelapan entah sampai kapan.
BAB SEPULUH
"Sehun, ada tamu untukmu."
"Tamu?" Xiumin hanya mengendikan bahu kemudian berlalu. Sehun mengerutkan dahi dan sedikit terkejut mendengar ada orang yang menjadi tamunya hari ini.
"Halo Sehun, bagaimana kabarmu?"
"Oh, hai Irene, aku baik-baik saja, duduklah."
"Terimakasih banyak."
"Apa aku perlu keluar?" Chen bertanya pada Sehun, rasanya tidak enak mengganggu sang bos meski mereka juga bersahabat.
"Tidak Hyung, pembicaraan kita belum selesai tadi, aku yakin Irene hanya sebentar di sini." Irene menampilkan senyum terbaiknya menanggapi kalimat Sehun. "Baiklah, katakan ada apa?"
"Ah, aku hanya mampir untuk menemui teman lama dan mengajakmu makan siang bersama bagaimana?" Irene bertanya dengan suara ramah, dia juga menyibak rambut cokelatnya untuk menggoda Sehun.
"Soal makan siang bersama, aku minta maaf tidak bisa, aku ada janji."
"Sayang sekali, bagaimana jika lain kali?" Irene melempar tatapan penuh harap.
"Aku belum tahu jadwalku seperti apa."
"Baiklah, begini saja aku tinggalkan kartu namaku dan kau bisa menghubungiku jika kau ada waktu." Sehun menerima kartu nama Irene yang berwarna merah muda. "Jangan lupa Sehun."
"Ya." Sehun menjawab singkat, tak tertarik dengan topik pembicaraan dengan Irene.
Irene berdiri dengan anggun, mini dressnya yang berwarna putih gading melekat indah di tubuhnya. Ia berjalan mendekati Sehun mengulurkan tangannya, Sehun berdiri dari duduknya menyambut uluran tangan Irene, keduanya berjabat tangan, Irene memeluk Sehun tiba-tiba, Sehun hanya diam, namun saat Irene mencoba untuk mencium pipinya, Sehun melangkah mundur.
"Ah, maaf kau tidak nyaman dengan itu!" pekik Irene dengan suara manis yang menurut Sehun memuakkan, namun Sehun tentu tak mengatakannya. "Sampai jumpa Sehun." Irene melambaikan tangannya dan melangkah dengan anggun meninggalkan ruangan Sehun.
Irene merasa percaya diri dengan kecantikannya, lirikan banyak ia dapatkan dari semua orang. Sehun adalah salah satu orang yang menyukainya dulu, dan sekarang ia akan mendapatkan Sehun beserta sejuta pesonanya yang akan membuat semua orang merasa iri.
"Sepertinya dia sangat menyukaimu." Ucap Chen sambil duduk kembali di hadapan Sehun untuk membicarakan bisnis dengannya yang tadi sempat tertunda.
"Ah benarkah Hyung?"
"Kau ini tidak peka, jelas sekali gadis itu tergila-gila padamu."
"Hmmm, begitu, aku pernah menyukainya dulu, sekarang tidak lagi." Ucap Sehun sementara tangan kanannya meremas kartu nama Irene dan melemparnya ke keranjang sampah.
"Wow, kau membuang kartu nama gadis cantik." Goda Chen.
"Kalau Hyung mau ambil saja." Balas Sehun santai.
"Sialan kau!" pekik Chen, Sehun hanya tertawa pelan menanggapi kekesalan Chen. "Akhir-akhir ini kau sering tertawa, ada hal baik yang terjadi?"
"Begitulah."
"Benarkah kau tak ingin menghubungi Irene? Jelas-jelas dia menawarkan dirinya padamu." Godaan Chen hanya ditanggapi oleh tatapan dingin Sehun. "Ah, baiklah, baiklah, kau tak suka kita membahas Irene, sebaiknya dilanjutkan saja pembicaraan tentang bisnis kita."
"Aku lebih suka topik tentang pekerjaan."
"Sebelum itu, bisakah kau mengenalkan orang yang telah membuatmu bahagia pada ketiga sahabat karibmu?"
Sehun terlihat berpikir dan juga ragu. "Aku akan membicarakannya dulu, setelah ada kabar akan aku beritahukan."
"Aku tunggu kabar baik darimu Sehun!" Chen memekik bahagia. Sehun hanya tertawa menanggapi sifat ceria dan kekanakan dari Chen.
Dua jam kemudian urusan Sehun dengan Chen tentang rencana perluasan Aleksander tanpa menambah lantai selesai. "Jadi keputusannya kau setuju, dan aku akan mengurus diadakannya rapat secepat mungkin?"
"Hmmm." Sehun hanya menggumam.
"Kau sedang tidak fokus atau lelah?"
"Dua-duanya Hyung."
"Aku juga butuh istirahat, aku ingin makan siang kita bahas nanti malam bagaimana?"
"Besok saja, Hyung jangan lembur lagi." Chen hanya terkekeh. "Aku serius Hyung."
"Baiklah, baiklah, Tuan Oh yang terhormat."
"Itu panggilan menjijikan," desis Sehun, Chen tertawa keras, tawa Chen memang seperti itu dan Sehun tak keberatan untuk mendengarnya. Chen melangkah pergi pintu ruangan kantor Sehun tertutup meninggalkan Sehun seorang diri. Ia langsung memeriksa ponselnya yang selama dua jam penuh tak tersentuh. "Jongin," Sehun membaca notifikasi panggilan tak terjawab, cepat-cepat ia menguhubungi Jongin.
"Sehun!" suara Jongin membuat Sehun merasa cemas.
"Ada apa?"
"Aku menghubungi karena aku tidak bisa makan siang bersama, Siwon hyung ingin bertemu denganku dan ibuku untuk pembaharuan kontrak."
"Ah, baiklah aku mengerti."
"Maafkan aku Sehun."
"Hei, jangan meminta maaf kau tau kan aku tak suka jika kau meminta maaf pada sesuatu yang bukan kesalahanmu." Sehun menjelaskan panjang lebar, membuat Jongin di sebarang sana tertawa, sungguh Sehun sangat menyukai suara tawa itu.
"Aku harus pergi, setelah selesai aku akan menghubungimu."
"Biasanya aku yang berjanji seperti itu," canda Sehun.
"Akan aku ceritakan semuanya padamu."
"Apa kita tidak bisa langsung bertemu saja, aku merindukanmu." Terdengar jeda di seberang sana. "Apa kau akan langsung pulang?" Jongin tak langsung menjawab, jeda yang tercipta terlalu lama membuat Sehun mulai cemas. "Jong…," belum sempat Sehun menuntaskan kalimatnya akhirnya Jongin menjawab.
"Sehun kau masih di sana?"
"Iya, ada masalah?"
"Aku hanya bertanya pada ibuku kapan kira-kira semuanya beres, Ibu bilang cukup lama mungkin sampai malam jadi kupikir kita tak bisa bertemu hari ini."
Kecewa, tentu saja Sehun kecewa dia ingin sekali bertemu dengan Jongin tapi Sehun tak akan menampakan kekecewaannya. "Baiklah, kita bertemu kapan-kapan, hubungi aku jika sudah selesai."
"Tentu, sampai nanti Sehun."
"Sampai nanti Jongin." Jongin memutus sambungan telepon, Sehun mengamati layar ponselnya selama beberapa detik lebih lama. "Aku harus makan siang sendirian." Keluhnya.
.
.
.
Sehun memilih salah satu restoran yang ada di mallnya, mengabaikan semua pandangan yang ditujukan padanya. Siapa yang tidak tertarik dengan pesona Sehun, Sehun tak terlalu terkenal sebagai pengusaha muda sukses ia memang enggan untuk diwawancarai atau muncul di majalah bisnis, semua mata tertuju padanya karena mereka pasti mengira Sehun adalah selebritis atau model terkenal luar negeri yang sedang berlibur, salahkan wajahnya yang sedikit kebaratan.
Chen, Kris, dan Xiumin memilih kantin kantor pusat karena mereka ingin membicarakan sesuatu tentang taman, Kris ingin membangun taman di rumahnya dan Sehun tentu tak tertarik dengan topik tanaman-tanaman. Jadi, disinilah semua berakhir, di restoran Jepang seorang diri setelah rencana makan siang dengan Jongin gagal, dan ketiga sahabatnya memutuskan untuk membahas topik yang sama sekali tak ia pahami.
"Sehun! Sehun!" suara pekikan itu mengganggu Sehun yang sedang menikmati menu makan siangnya. Irene dan entah siapa dua perempuan lain yang bersamanya. Ketiga gadis cantik tapi berisik itu merangsek mendekati Sehun. "Kau sendirian? Tadi kau bilang ada janji makan siang?" Irene menatap Sehun dengan manja, dan, ah jangan lupakan suara rajukannya itu. Gadis-gadis berisik itu menenteng tas belanjaan dengan merk terkenal, sangat tidak penting, menurut Sehun.
"Ya, aku memang ada janji makan siang."
Irene mendudukan dirinya di samping kanan Sehun dengan seenaknya, dua orang yang bersamanya juga melakukan hal sama. "Dimana teman atau klienmu itu?" Sehun memilih bungkam dan memakan ayam teriyakinya. "Kami akan memesan makanan, tak apa kan jika kami duduk bersamamu Sehun?"
Sehun mengedarkan pandangannya ke meja lain, restoran memang sedang penuh, benar-benar sial, pikir sehun. "Hmm." Sehun hanya menggumam. Sekuat tenaga Sehun menahan amarahnya untuk tak membentak Irene dan mempermalukan gadis itu di depan khalayak umum, bagaimana tidak, Irene merebut sumpit Sehun dan dengan seenaknya mengambil ayam teriyaki Sehun kemudian memakannya dan mengembalikan sumpit itu kepada Sehun, seolah mereka kekasih, kekasih?! Berteman saja tidak pernah. Ingin sekali Sehun berteriak seperti itu.
"Kenalkan pada kami Irene. Siapa pria tampan ini."
"Ah maaf, aku lupa, Sehun kenalkan dua temanku, Tory dan Naeun."
"Aku Tory." Gadis berambut panjang dengan warna merah terang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Sehun menyambut uluran tangan itu hanya singkat saja.
"Naeun." Kali ini giliran gadis berambut sebahu dengan warna hitam alami. Sehun menerima uluran tangan Naeun.
"Kalian sangat akrab." Pekik Tory dengan kedua mata berbinar-binar.
"Tentu, Sehun menyukaiku." Jawaban Irene membuat Sehun mulai berpikir apa gadis itu tak memiliki urat malu sama sekali.
"Maaf saya permisi dulu." Sehun berucap sopan dengan nada datar sambil berdiri dari kursinya. Ia melangkah pergi tak peduli dengan panggilan manja Irene.
"Benarkah dia menyukaimu?" Tory melempar tatapan sangsi.
"Sepertinya dia ingin kau pergi." Sambung Naeun.
"Tidak! Dia sangat menyukaiku aku yakin Sehun hanya merasa malu." Balas Irene penuh percaya diri.
"Gadis-gadis berisik," Sehun menggerutu sambil memeriksa arloji yang melingkari tangan kanannya. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum dirinya kembali ke kantor. Pandangan Sehun tertuju pada sebuah toko buku merasa tertarik ia putuskan untuk masuk ke sana dan memeriksa mungkin ada buku baru yang menarik, sedikit hiburan setelah acara makan siangnya hancur total.
Sehun mengambil tas kain dari gantungan dan mulai berjalan memeriksa setiap sudut toko. "KAI," gumam Sehun, ia tersenyum dan saat itu ia putuskan untuk membeli semua novel yang Jongin tulis dengan nama samara Kai. Total ada delapan novel dengan judul berbeda yang bisa Sehun temukan di toko buku, ia bergegas pergi ke kasir untuk membayar semua novel yang ia beli.
"Selamat siang Tuan," sang penjaga kasir menyambut ramah.
"Selamat siang." Balas Sehun sambil memperhatikan bagaimana kasir itu memindai kode buku.
"Anda penggemar KAI?"
"Ya." Sehun sebenarnya ingin bersikap ramah pada siapa saja, tapi ia tak bisa melakukannya, padahal dia sudah risih dengan anggapan bahwa dirinya sangat angkuh. Ditambah wajah datarnya benar-benar perpaduan sempurna dari sebuah keangkuhan.
"Sudah banyak permintaan penggemar kepada penerbit untuk menunjukan siapa KAI dan meminta tanda tangan tapi sampai hari ini KAI masih seperti misteri, ah maaf Tuan, saya berbicara tidak-tidak." Sehun hanya tersenyum miring sambil menyerahkan kartunya untuk membayar semua novel yang ia beli. "Terimakasih atas kunjungannya Tuan." Sehun tak menjawab dan melangkah pergi.
Sesampainya di kantor, Sehun kembali berkutat pada pekerjaannya sesekali saat lelah ia baca selembar dua lembar novel karya Jongin. Sambil membayangkan Jongin duduk di hadapannya dan membacakan langsung cerita yang ia tulis, terdengar sangat konyol, Sehun merasa seperti seorang fans yang suka berfantasi tentang idolanya.
Pukul delapan malam, Sehun bersiap untuk pulang. Belum ada telepon dari Jongin, ia mulai merasa cemas. "Lima menit lagi," putus Sehun sembari mendudukan dirinya kembali ke atas kursi kerjanya, mengamati lampu-lampu gemerlap di MyeongDong. Jika dalam lima menit Jongin tidak menelepon dia yang akan menghubunginya.
Ponsel bergetar, dengan antusias Sehun memeriksa ponselnya berharap itu panggilan dari Jongin. Harapannya terkabul. "Jongin!"
Jongin tertawa. "Kau menunggu telponku?"
"Ya, aku menunggunya."
"Maaf, aku baru sampai rumah, maaf aku tak langsung menghubungimu setelah semuanya selesai."
"Tak apa, jadi bagaimana? Ada hal menarik yang terjadi?"
"Mereka ingin aku muncul ke publik tapi aku menolaknya, aku tidak mau, jika mereka tetap memaksa aku akan pindah ke penerbit lain."
Sehun terdiam mencerna setiap kata yang Jongin ucapkan. "Hmmm, kau benar-benar membenci keramaian?"
"Aku tidak nyaman."
"Baiklah, kalau begitu jangan melakukan hal yang tidak kau sukai, aku akan mendukung setiap keputusanmu." Sehun menjawab dengan nada ceria.
"Terimakasih banyak Sehun, dan ada satu hal lagi orangtuaku akan pergi ke Jeju untuk peringatan ulangtahun pernikahan, Suho dan Lay hyung belum kembali dari bulan madu, aku di rumah sendirian selama dua hari dan—Ayah dan Ibu ingin kau menemaniku."
Jongin terdengar jelas sangat ragu mengucapkan kalimat itu, membuat Sehun berusaha keras untuk tidak tertawa ia yakin wajah canggung Jongin sangat menggemaskan sekarang. "Baiklah, aku akan menemanimu, kenapa kau terdengar canggung? Aku pasti menemanimu."
"Te—terimakasih." Kali ini Jongin membalas dengan nada gugup.
Sehun tertawa keras, ia tak bisa menahannya lagi Jongin benar-benar lucu dan menggemaskan, bahkan hanya sekedar mendengar suaranya saja. Kemudian hal penting terbersit di benak Sehun. "Jongin, aku memiliki tiga sahabat dekat dan mereka ingin sekali bertemu denganmu, aku tidak akan memaksa jika kau tidak setuju."
"Sahabatmu?" Jongin bertanya dengan sangat hati-hati. "Ingin bertemu denganku?"
"Ya, mereka ingin bertemu denganmu tapi aku tidak memaksamu untuk melakukannya."
"Kurasa jika itu sahabatmu tak apa, tapi katakan semuanya tentang aku pada mereka, kekuranganku…"
"Jongin kau sempurna! Percayalah padaku!" Sungguh, Sehun tak suka jika Jongin mulai meremehkan dirinya sendiri seperti sekarang.
"Maaf." Jongin membalas pelan, Sehun merasa bersalah sudah meninggikan suaranya seperti tadi.
"Maaf aku membentakmu."
"Hmmm."
"Sudah malam tidurlah."
"Masih pukul depalan Sehun." Rengek Jongin.
"Aku tidak mau kau sakit lagi, besok sore aku kerumahmu kan?"
"Ya."
"Baiklah, kita bahas masalah pertemuan dengan sahabat-sahabatku di rumahmu besok."
"Tentu."
"Sudah ya, selamat malam Jongin."
"Hmmm, selamat malam Sehun."
Perasaan Sehun sangat lega, jadi dia bisa pulang dengan perasaan ringan sekarang dan jangan lupakan letupan-letupan kebahagiaan yang kini memenuhi rongga dadanya.
.
.
.
"Sehun!" panggilan itu membuat Sehun bingung, apalagi suara wanita yang jelas-jelas bukan ibunya. Selain itu ibunya tidak mungkin berkunjung mengingat hubungan mereka yang cukup buruk. "Halo Sehun."
"Apa yang kau lakukan malam-malam di depan rumahku Irene?"
"Aku merindukanmu."
"Apa?!" tentu saja Sehun terheran-heran mendengar kalimat Irene.
"Aku menyukaimu, maaf saat itu aku mengacuhkanmu Sehun kurasa sekarang kita bisa menjadi pasangan kekasih."
"Hei, dulu aku hanya menyukaimu, aku tidak pernah menyatakan cinta padamu dan kurasa rasa sukaku hanya suka saja tidak lebih." Sehun mencoba menjelaskan kepada gadis yang terlihat cukup agresif sekarang. "Sudah malam sebaiknya kau pulang jangan berkeliaran di jalanan, apalagi di depan rumah laki-laki yang tak memiliki hubungan darah denganmu, jangan sampai kau dicap gadis murahan oleh masyarakat."
"Sehun…," tentu saja Irene mengabaikan semua kalimat yang Sehun ucapkan, ia justru memeluk lengan kanan Sehun erat.
"Maaf Irene, aku sudah memiliki orang lain jadi sebaiknya kau mencari orang lain yang lebih baik dariku." Sehun menolak dengan ucapan lembut serta perlahan melepaskan pelukan Irene dari lengannya.
"Tidak! Aku menginginkanmu."
Sehun tak menanggapi ia berjalan menuju pagar rumahnya, membuka kunci pagar kemudian masuk kembali ke dalam mobil dan menyetir mobilnya memasuki halaman rumah. Irene semakin menjengkelkan gadis itu kini masuk ke halaman rumah Sehun. "Irene pulanglah sebelum aku bersikap kasar padamu." Peringat Sehun.
"Tak apa, aku justru suka jika Sehun bersikap kasar padaku." Irene menatap Sehun menggoda. Sehun berjalan mendekati Irene memegang lengan kanan gadis itu kemudian menariknya keluar dari halaman rumahnya. "Sehun!" pekik Irene marah, saat Sehun mendorongnya ke jalanan dan menutup serta mengunci pagar rumahnya. "Kau tidak boleh menolakku Sehun!"
Pekikan itu Sehun abaikan, setelah memasukan mobilnya ke garasi, Sehun bergegas masuk ke dalam rumah dan mematikan seluruh lampu penerangan di dalam rumahnya. "Awas kau Sehun!" geram Irene sebelum berjalan menghentak menuju mobilnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Sehun berharap waktu berjalan lebih cepat agar dirinya bisa bertemu dengan Jongin secepat mungkin. Benar, dia sangat merindukan Jongin rasa rindu yang terdengar konyol. Dan saat jam kerja berakhir yang untungnya tak ada rapat Sehun hampir berteriak dan melompat kegirangan sama seperti tingkah para anak-anak sekolah. Sehun berlari menyambar jasnya, dan berlari keluar ruangan.
"Sehun." Suara Chen menghentikan kedua langkah kaki jenjang Sehun, ia memandang Chen malas. "Aku sudah tau siapa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini, Kris yang memberitahuku, namanya Jongin kan?" Chen mengatakan nama Jongin dengan berbisik. Sehun masih terdiam, ia tak menyangka sahabat-sahabatnya mengetahui Jongin bukan dari mulutnya. "Aku, Xiumin, dan Kris ingin bertemu dengannya tentu jika Jongin bersedia, dan aku juga sudah tahu jika Jongin istimewa."
"Apa Kris hyung juga yang mengatakannya?"
"Hmm."
"Aku akan berbicara dengan Jongin sepertinya dia setuju, kalian ingin bertemu dimana?"
"Terserah kalian saja, dimana kau dan Jongin merasa nyaman."
Sehun diam memikirkan tempat yang cocok untuk mempertemukan Jongin dengan ketiga sahabatnya. "Aku akan memesan restoran, nanti aku hubungi aku pulang dulu."
"Kenapa bersemangat sekali Oh Sehun? Biasanya kau malas pulang." Komentar Chen hanya dibalas cengiran Sehun.
Sehun juga tak ingat kapan dia pulang kerja dengan perasaan bahagia seperti sekarang. Jongin mengubah segalanya, membuat hal-hal sederhana menjadi menyenangkan, menunjukan kebahagiaan pada sesuatu yang sepele dan sederhana.
Tiga puluh menit kemudian karena jalanan cukup padat Sehun baru sampai di depan kediaman keluarga Kim. Sehun keluar dari mobil dan berjalan mendekati pagar rumah Jongin, pagar rumah Jongin menggunakan kode. Maka ia putuskan untuk menghubungi Jongin.
"Halo Jongin, aku sudah di depan rumahmu."
"Hai Sehun, masuklah kodenya 0 tujuh kali."
"Apa?! Kode apa itu?"
"Aku juga tidak tahu, Ibu yang memutuskan memakai kode itu alasannya karena semua orang di rumah ini pelupa."
Sehun terkekeh pelan. "Baiklah, baiklah, 0 tujuh kali tunggu sebentar." Sehun menekan angka nol sambil menggumam menghitungnya, sementara dirinya masih tersambung dengan Jongin. "Berhasil!" pekik Sehun, bisa ia dengar tawa Jongin di seberang sana. "Aku masuk dulu ya."
"Ya."
Sehun bergegas kembali ke mobil, menyalakan mesin mobil dan memasuki halaman rumah Jongin, ia turun dan berlari ke pagar kemudian menutupnya dan pagar terkunci otomatis. Sehun membiarkan mobilnya di luar garasi tak masalah karena halaman rumah Jongin diteduhi oleh pepohonan yang cukup rindang ia yakin garasi kecil Jongin juga sudah penuh dengan dua mobil milik keluarga Kim.
"Ah!" Sehun terkejut ketika mendapati pintu depan tak terkunci. "Jongin!" Sehun berteriak panik, takut jika terjadi sesuatu dengan Jongin.
"Aku di sini Sehun!" Sehun mengikuti arah suara Jongin setelah melepas sepatunya. Jongin duduk di atas lantai dengan Monggu di dekat tubuhnya, mereka terlihat sedang bermalasan, televisi menyala menampilkan siaran tentang kehidupan laut dalam.
"Kau tak mengunci pintu?"
"Aku ingin memesan makanan tadi, tapi tidak jadi."
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Sehun mengerutkan dahi, jelas sekali jika Jongin menghindari pertanyaannya. Jongin merasakan jika Sehun duduk di sampingnya kemudian mengusap rambutnya dengan lembut.
"Kau bohong." Ucap Sehun tegas.
"Pesankan makanan untukku aku lapar." pinta Jongin kemudian tersenyum lebar.
"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku yang tadi."
"Pertanyaan yang mana? Tidak ada apa-apa." Balas Jongin bersikeras.
"Kim Jongin." Peringat Sehun.
"Baiklah, kenapa kau menyebalkan sekali hari ini," cibir Jongin. "Karena pengantarnya tidak sabar menungguku membuka pintu mereka tidak mau mengantar ke sini jika aku yang memesan. Dan satu lagi, aku tidak bisa tanda tangan." Jongin menunggu reaksi Sehun namun laki-laki di sampingnya itu hanya terdiam. "Sehun, aku sudah mengatakan semuanya, pesankan makanan, aku mau makan ayam."
"Baiklah, aku pesankan." Sehun membalas dengan pelan, ia tak menyangka jika memesan makanan adalah hal sulit bagi Jongin, dan sekarang Sehun mulai sedikit mengerti kenapa Jongin sedikit tak nyaman berada di keramaian, bertemu dengan orang-orang asing yang tak dikenal dan tak dekat dengannya, karena kenyataannya orang-orang di sekitarnyalah yang menolak kehadirannya. "Apapun asal ayam kan?"
"Hmm." Jongin menggumam sementara kedua tangannya bermain-main dengan bulu Monggu.
"Sudah, setengah jam lagi, kau sabar kan?"
"Ya." Jongin masih bermain dengan Monggu namun dia terlihat menyimak siaran televisi. Sehun tersenyum melihat hal itu, padahal menurutnya tak ada yang menarik mengenai pembahasan cumi-cumi raksasa.
"Sehun."
"Ya?"
"Kau pernah melihat cumi-cumi?"
"Iya."
"Apa mereka mengerikan?"
"Yang aku temui tidak mengerikan, sudah digoreng, kalau yang ditayangkan sekarang mengerikan karena ukurannya sangat besar bahkan melebihi manusia dewasa."
"Wow, hebat sekali, hewan apa yang pernah kau lihat secara langsung?"
"Aku? Hmmm…, apa ya, aku ke kebun binatang saat usiaku tujuh tahun jadi aku tak terlalu ingat sekarang, mungkin Gajah, menurutku Gajah hewan yang paling menakjubkan saat itu."
Jongin tersenyum manis. "Aku ingin…, ah sudahlah, semoga makanannya cepat sampai." Sehun menoleh ke arah Jongin kemudian menarik tangan kanan Jongin perlahan, memeluk tubuh Jongin dengan erat. "Sehun…," bisik Jongin.
"Aku merindukanmu." Bisik Sehun membalas Jongin. Jongin tersenyum dalam pelukan Sehun.
Suara nyaring bel pagar rumah Jongin membuat Sehun harus melepaskan pelukannya dari orang yang sangat ia rindukan. "Sebentar, 0 tujuh kali kan?" Jongin mengangguk. Sehun mengecup kening Jongin singkat sebelum bangkit dan berlari pergi.
"Monggu apa kau tidur?" Monggu menggeram pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Jongin. "Aku ingin….,"
"Ayo makan!" Suara Sehun memaksa Jongin menghentikan kalimatnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan tersenyum. "Kau mau makan dimana?"
"Cepat sekali apa kau berlari?"
"Ya. Kau mau makan dimana?" ulang Sehun.
"Di sini saja, aku malas berjalan."
"Kenapa kau jadi pemalas Kim Jongin?" cibir Sehun, Jongin hanya tertawa saja membalas cibiran yang didapatkannya. "Cuci tanganmu, makan di meja makan saja, televisinya dari meja makan masih terdengar."
"Baiklah…," gerutu Jongin sambil bangkit dari duduknya, Sehun hanya tersenyum dan membawa makanan ke meja makan. Sehun menyiapkan piring dan gelas untuk Jongin, rencananya ia mau mandi dulu karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket sekarang. Jongin menarik kursi namun Sehun menghentikannya.
"Jongin cuci tangamu." Jongin mencebik sambil melangkahkan kakinya enggan menuruti perintah Sehun. Dan Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya, baru kali ini ia melihat tingkah kekanakan Jongin.
"Sudah selesai?"
"Hmm."
"Duduklah." Jongin menurut ia duduki kursi yang tadi sudah ia tarik namun perintah Sehun untuk mencuci tangan menghentikannya untuk duduk. "Jongin, keringkan dulu tanganmu." Jongin tersenyum polos tanpa dosa sambil menarik beberapa lembar tisu untuk mengeringkan tangannya.
"Makanlah, aku mau mandi dulu."
"Kau bisa memakai kamar mandi di kamarku."
"Ya." Balas Sehun kemudian berjalan pergi meninggalkan Jongin di meja makan, Sehun meraih ransel berisi barang-barang yang akan ia gunakan selama menginap di rumah Jongin.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Jongin menarik kedua tangannya dari atas meja, selera makannya tiba-tiba menghilang dan sesuatu yang selama beberapa hari ini mengganggunya, kembali.
.
.
.
"Kau belum makan? Apa menungguku?" Setelah mandi Sehun langsung kembali ke meja makan, namun Jongin masih duduk di sana dengan makanan yang belum tersentuh.
"Ya, aku menunggumu." Jawaban Jongin membuat Sehun tersenyum, ia bergegas duduk dan meraih piring yang tadi sudah ia siapkan sebelumnya. "Aku sudah di sini jadi makanlah, tadi kau bilang sudah lapar."
"Sehun…,"
"Makanlah Jongin."
"Bisakah kau matikan televisinya?"
"Hmmm," gumam Sehun dengan mulut mengunyah daging ayam ia menggunakan tangan kirinya meraih remot dan mematikan televisi. "Sudah, sekarang makanlah, kau membuatku harus mencuci tangan lagi Jongin."
"Aku ingin berbicara denganmu." Kalimat Jongin membuat Sehun menghentikan maksudnya untuk berdiri dari kursi dan mencuci tangan. Wajah Jongin terlihat serius.
"Ada apa Jongin?"
"Aku sudah memikirkan ini beberapa hari belakangan, dan kurasa—sebaiknya kita akhiri saja semua ini. Kau terlalu sempurna untukku Sehun, dan aku tidak pantas untukmu, kau tahu bahkan pengantar makanan saja menolakku," Jongin tersenyum sedih. "Aku hanya akan menjadi bebanmu jadi sebelum semuanya terlambat dan rasa sakit yang ditimbulkan semakin besar sebaiknya kita akhiri saja." Keheningan tercipta, Jongin masih mendengar suara mulut Sehun mengunyah makanannya. "Sehun…,"
"Apa kau sudah selesai? Makanlah Jongin, hari ini kau cerewet sekali." Potong Sehun.
"Sehun aku serius."
"Aku juga serius, makanlah, kau tampak lebih kurus sekarang, jangan membebani pikiranmu dengan hal yang tidak-tidak, apapun yang kau ucapkan aku tidak akan pergi, kau bukan beban, pikiranmu saja yang berkata seperti itu dan aku tidak suka mendengarnya."
"Aku serius Sehun, kita akhiri saja semua ini."
"Kenapa? Apa kau takut aku akan pergi seperti Minho dan Taemin? Apa kau takut aku akan mengkhinatimu? Aku bukan orang seperti itu, aku bukan Minho dan Taemin."
"Minho dan Taemin juga mengatakan hal yang sama, tapi mereka pergi, aku tidak ingin ini terlalu jauh hentikan sekarang juga. Semua ini tak akan berakhir dengan baik." Jongin berdiri dari kursinya dan berniat pergi namun kakinya tersandung membuatnya terjatuh ke lantai dengan cukup keras.
"Jongin!" Sehun memekik kaget berdiri dari kursinya dan berniat menolong Jongin.
"Jangan menyentuhku!" pekik Jongin. "Pergilah, aku tidak ingin bertemu lagi denganmu Sehun, pergilah sekarang juga!"
"Siapa yang memintaku untuk datang dan menemani? Apa yang terjadi Jongin? Tadi kau baik-baik saja kenapa sekarang seperti ini?" Sehun menatap wajah Jongin bingung. Jongin tak menjawab ia masih duduk di atas lantai dengan wajah menunduk.
"Pergilah, ini tak akan berhasil, terimakasih kau sudah membuatku bahagia, tapi kita hentikan saja sekarang." Bisik Jongin dengan suara bergetar.
Sehun berlutut di hadapan Jongin, mengangkat dagu Jongin menatap kedua bola mata Jongin yang tak fokus itu dengan sendu. "Katakan dengan jelas jika kau tak menginginkan aku Jongin, aku akan pergi dan kita tak akan bertemu lagi."
"Aku…," Jongin tak melanjutkan kalimatnya, ia tak sanggup mengatakannya, sementara air mata terus mengalir keluar dari kedua bola matanya. "Aku mencintaimu," bisik Jongin sungguh ia ingin melepas Sehun tapi mengucapkan perpisahan kepada Sehun tak semudah yang ia bayangkan, bersamaan dengan ucapannya ia rasakan pelukan erat Sehun di tubuhnya, Jongin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sehun, meremas kuat kaos bagian belakang yang Sehun kenakan. "Aku mencintaimu Oh Sehun," bisik Jongin di sela isak tangisnya.
"Mulai sekarang hilangkan semua ketakutanmu Jongin, aku tidak akan pergi, aku janji," bisik Sehun. "Aku tidak akan pergi seperti Minho dan Taemin, atau orang lain yang pernah menyakitimu."
Sehun melepaskan pelukannya mengamati wajah Jongin lekat-lekat, mendekatkan wajahnya dengan Jongin, mengakhiri jarak yang tercipta di antara mereka. Jongin tak pernah berciuman sebelumnya, namun ia merasa nyaman saat Sehun melakukannya, tak ada ketergesaan dalam ciuman itu. Sehun merasakan dadanya penuh sesak dengan semua cinta yang ia rasakan untuk Jongin. Air mata Sehun tanpa sadar mengalir keluar.
Tidak ada yang terlihat, meski dirinya membuka atau memejamkan mata, namun saat Sehun memperdalam ciuman mereka, Jongin memejamkan kedua matanya merasapi semua cinta Sehun dan merasa sangat bodoh telah meragukan ketulusan Sehun.
Sehun mengakhiri ciuman mereka, menatap lekat-lekat wajah Jongin, membersihkan sisa air mata di sana, kemudian mengecup pelan dahi Jongin. "Sudah cukup jangan membahas hal ini lagi, mengerti?" Jongin hanya mengangguk pelan. "Ada yang sakit?"
"Tidak."
"Kau pasti lapar, ayo makan, kau belum menyentuh makananmu tadi."
"Hmmm." Gumam Jongin, Sehun memegang kedua lengan Jongin, membantunya berdiri dan menuntunnya kembali ke kursi.
TBC
Terimakasih atas kesediaan waktu para pembaca sekalian hehehe yang sudah bersedia membaca cerita aneh saya, terimakasih untuk jonginisa, hunkai shipper, nandaXLSK9094, Wiwitdyas1, sayakanoicinoe, hunkai182, ariska, alv, youngimongi, cute, Guest, HK, kikirizky, Kayobimikirou, Guest, Kim atun, Miss Wuhan, sejin kimkai, VampireDPS, KaiNieris, Vioolyt, ucinaze, laxyoyrds, troalle, geash, Kim Jonghee, artiosh, vipbigbang74, ohkim9488, jjong86, Park Jitta, Ovieee, utsukushii02, .39, Fyuhana, milkylove0000170000, , atas review kalian sampai jumpa di chapter selanjutnya dadadadadahhhhh (lambai-lambai lebai…)
