Anyeong readers~
Maaf karena setelah hampir tiga bulan saya bru mncul kmbali dan mlnjutkan FF ini. Karena ada bbrapa hal : ujian, badmood, teater dan lburan, sya bru bsa mnyelesaikan klnjutan FF ini. Sebenarnya sudah hampir tiga minggu sya mulai nulis chapter ini tpi ga' slesai2. Mndadak sya khilangan ide krna klmaan ga' nulis. Jdi utk mngobati rasa rindu readers untuk FF ini, saya mmbuat FF ini lebiiiih pnjang sbagai diskon hingga 80% hehehehehe. Maaf jika ini dluar tgal yg sya sbutin kmrin, bru bsa d apdet hri ini krna sya lgi-lagi msuk rumah sakit. Kyaknya sya betah bnget makan makanan rumah sakit -_-
yaaaah...sdah biasa -_-
Oke, lngsung aj bca, ne? ^_^
.
.
.
.
.
.
Flashback
.
.
Tokyo-Japan
.
Author POV
Malam semakin gelap, suara jangkrik yang berderik kian terdengar. Tapi di sebuah ruangan serba putih, suara itu teredam oleh suara mesin kardiograf yang berbunyi statis. Seorang pria duduk diam memperhatikan kertas ditangannya dengan mata sayu dan putus asa.
"Siwon-san, istri anda sudah berada pada titik dimana kami tidak bisa melakukan pengobatan untuk leukimianya. Seperti yang kita tahu, dia hanya meminum vitamin penguat kandungan selama ini. Tanpa pencegahan untuk leukimia yang dia derita. Dan sekarang penyakit itu sudah stadium akhir. Setelah dua minggu pasca melahirkan, kita juga sudah berusaha untuk menstabilkan kondisinya tapi...respon tubuhnya tidak menunjukkan hasil yang baik."
Choi Siwon menghela napas panjang sebelum kemudian memandang kearah seorang wanita berparas cantik dengan kulit yang seputih salju terbaring lemah di ranjang pesakitan yang ada di depannya. Berbagai macam alat penopang hidup wanita itu gunakan. Selang oksigen setia terpasang di hidungnya. Perlahan tangan Siwon meraih tangan putih yang terasa dingin itu, menggenggamnya dalam balutan tangannya yang hangat. Matanya kemudian terpejam sejenak sebelum kemudian kembali terbuka, ingatannya akan perkataan dokter tadi masih terngiang di otaknya.
"Koma, kondisi kritis, defibrilasi sebanyak tiga kali dalam satu minggu terakhir adalah bukti bahwa tubuhnya sudah tidak menerima obat-obatan yang berusaha kita masukkan. Mungkin Kibum-san sudah tidak sanggup lagi. Mungkin istri anda sudah lelah..."
Tes! Tes!
Airmata jatuh di kedua kelopak matanya. Siwon tak sanggup menahan perasaan sedih dan sesak di dadanya yang membuncah. Sungguh, mendengar perkataan dokter tadi seolah membuat harapannya pupus. Bukan itu yang ingin dia dengar...bukan itu...
"Pikirkanlah ini baik-baik Siwon-san. Jika anda setuju kami akan melakukan prosedur pelepasan seluruh alat ditubuh istri anda..."
"Bummie-ah...apa kau benar-benar lelah...?" gumamnya pelan, suaranya terdengar sangat parau.
Tak ada jawaban, kecuali suara kardiograf. Siwon dengan seksama memperhatikan wajah istrinya itu. Memang, tidak seperti pasangan lain. Mereka menikah bukan karena cinta, tapi...Siwon menyayangi Kibum. Layaknya sahabat...
Sulit baginya untuk melepas Kibum seperti ini meskipun sejak awal Siwon amat sangat tahu resiko kehamilan istrinya itu. Dan keajaiban seolah datang ketika bayi mereka lahir sempurna dan tidak mendapat leukimia bawaan lahir. Bolehkah Siwon mendapat keajaiban sekali lagi...? Setidaknya Siwon ingin melihat Kibum sekali lagi memeluk lagi bayi mereka. Suho...bayi mungil itu butuh Ibunya...
Pria itu memejamkan matanya, menghalau rasa sakit dihatinya ketika jemari yang bergerak dalam genggamannya. Dengan cepat Siwon menyadarinya dan membuka mata. "K-kibumie..."
Kedua kelopak mata itu perlahan terbuka, memperlihatkan sepasang bola mata bening yang indah namun terlihat rapuh itu. Kibum berusaha memfokuskan matanya melihat kearah Siwon. Dan ketika itu ia tersenyum lemah dibalik masker oksigen yang digunakannya. Siwon ikut tersenyum meski air mata terus mengalir dari matanya. Tuhan menjawabnya! Dia benar-benar berterima kasih...
"A...a...apa aku...melewatkan...banyak hari...?" ucap Kibum pelan dan terbata-bata.
Siwon menggeleng, "Kau tidak melewatkan terlalu banyak, bummie. Kau hanya tertidur dari dua hari..."
Kibum tersenyum lega, "Kupikir...aku melewatkan banyak hal, Siwon..."
Siwon mengelus pelan wajah Kibum, merapikan sedikit rambut hitam yang panjang itu. "Aku akan memanggil dokter dulu, ne?" ujarnya kemudian hendak beranjak ketika Kibum memegang tangannya.
"Aku...merindukan Suho. Bolehkah...bawa dia kesini...?" pinta Kibum.
Siwon terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, "Aku akan meminta izin untuk membawanya kesini. Dia pasti juga merindukan Eommanya..."
Kibum tersenyum, "Dan daddynya..."
Pria itu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu dan menuju ruang bayi secepat mungkin. Memohon pada perawat yang berjaga untuk mengizinkannya membawa putra kecilnya meskipun hanya sebentar. Awalnya perawat itu tak mengizinkannya mengingat ini sudah bukan waktu menjenguk, tapi Siwon benar-benar memohon hingga perawat itu mengizinkannya.
"Semoga Suho-chan bisa membuat Kibum-san merasa lebih baik." kata perawat itu ketika memberikan bayi mungil dengan selimut tebal itu kepada Siwon. Dengan hati-hati Siwon menerima, senyum merekah diwajahnya melihat bayi mungil yang seperti malaikat itu dipelukannya.
"Arigato." ucap Siwon sebelum kemudian pergi. Dia sangat merasa sangat senang sekarang. "Suho-ah, kita akan segera bertemu Eomma..."
Siwon sudah hampir tiba di depan kamar rawat Kibum ketika melihat dokter dan perawat masuk dengan terburu-buru ke kamar rawat istrinya itu.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Siwon mendadak berdetak cepat. Dia sudah de ja vu melihat hal itu, dan ketika itu terjadi ia tahu bahwa hal buruk terjadi. Senyum diwajahnya langsung menghilang.
"K-kibumie..."
Siwon segera masuk ke kamar rawat itu, dan pemandangan itu sekali lagi ia lihat. Dokter berusaha keras melakukan CPR pada Kibum. Kedua mata yang seingat Siwon tadi terbuka kembali menutup. Sontak membuat Siwon terpaku diam. Diam...benar-benar diam...
"Huwaaaaa! Huwaaaa!"
Tangis bayi mungil―Suho menyadarkan Siwon. Dilihatnya Suho menangis keras dalam gendongannya. Bayi mungil itu seolah-olah merasakan perasaan sedih dan kalut yang sulit Siwon gambarkan sekarang. Tanpa bisa Siwon tahan air mata jatuh dari pipinya.
Mungkin ini sudah waktunya...
Dan Siwon membuat suatu keputusan yang besar. Ia melangkah maju menuju ranjang Kibum. Perawat yang melihatnya berusaha untuk menahannya. "Tolong jangan mendekat, tuan. Dokter sedang berusaha menyelamatkan istri anda!"
"Huwaaaaaa! Huwaaaa!"
Siwon tidak peduli, ia menepis tangan suster. dan menarik dokter yang sedang melakukan CPR untuk menjauh. Dokter itu baru saja akan marah ketika Siwon menaruh Suho disamping Kibum. Tangis bayi itu yang tadinya sangat kencang kini perlahan tidak terdengar lagi. Malaikat kecil itu perlahan nyaman berada disisi Ibunya.
Bunyi Kardiograf yang tadi berbunyi tidak beraturan perlahan-perlahan kembali teratur. Semua orang yang berada disana tak mampu bergerak melihat keajaiban itu. Mata wanita berkulit seputih salju itu memang tidak terbuka, tapi senyum perlahan terpatri diwajahnya.
Dengan sangat perlahan tangannya bergerak hendak memeluk Suho, Siwon segera membantu tangan itu menyentuh bayi mungil itu. Kibum tersenyum ketika jemarinya dapat merasakan pergerakan Suho.
Siwon yang melihat interaksi antara Ibu dan bayi itu tak mampu menahan isakannya. Didekatkannya wajahnya didekat telinga Kibum dan berbisik, "Gwenchana...hiks! Kau akan tetap jadi bagian dari kami. Aku akan tetap menyayangimu..."
Pria itu kemudian mengecup kening Kibum cukup lama sebelum kemudian mendengar suara nyaring yang terasa memekakkan telinga itu. Kibum benar-benar pergi sekarang...
.
.
.
.
Tittle : Fly To The Sky
Genre : Comedy Romance
Rating : T
Main Cast :
Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun
Choi Siwon as Choi Siwon
Other Cast :
Choi Minho as Choi Minho
Shim Changmin as Shim Changmin
Lee Donghae as Cho Donghae
Kim Jungmyeon as Choi Suho
Kim Heechul as Cho Heechul *Genderswitch
Park Jungsoo as Choi Jungsoo *Genderswitch
Tan Hangeng as Cho Hankyung
Lee Hyukjae as Lee Hyukjae
Kim Kibum as Choi Kibum *Genderswitch
.
.
.
Chapter 7B
Kau akan selalu jadi bagian hidupku...
.
.
.
Seoul-South Korea
.
Saengil chukkahamnida~
Saengil chukkahamnida~
Saranghaneun uri Suho~
Saengil chukkahamnida!
Lagu ulang tahun itu diakhiri dengan tiupan pada lilin ulang tahun yang Suho lakukan dibantu Siwon dan Jungsoo. Setelah berhasil meniup seluruh lilin di kue ulang tahun bergambar minion di depannya, Suho mendapat tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan yang hadir. Siwon tersenyum dan ikut bertepuk tangan. Acara ulang tahun Suho yang ke lima *(hitungan umur Korea) dilaksanakan di taman belakang rumah keluarga Choi. Pesta itu dihadiri oleh teman-teman sekolah Suho dan beberapa orang tua mereka. Dan jangan lupakan, ada keluarga Cho disana. Tapi pemuda berambut ikal yang biasanya sangat cerewet―Cho Kyuhyun tidak hadir. Lebih tepatnya tidak bisa hadir.
Cho Heechul tersenyum melihat Suho yang menyuapi Siwon potongan pertama dari kuenya, dan potongan kedua untuk Jungsoo. Wanita itu kemudian melirik Hankyung yang sibuk memotret Suho, kemudian Donghae dan Hyukjae yang membantu memberikan bingkisan untuk anak-anak. Dan Heechul menghela napas menyadari bahwa Kyuhyun tidak hadir disana. Padahal Heechul sudah matian-matian berusaha membujuk *(lebih tepatnya memaksa XD) Kyuhyun untuk hadir sekembalinya ia dari Paris. Tapi kenyataannya ketika dia berhasil membujuk Kyuhyun, ternyata pemuda itu harus mengalami pembatalan keberangkatan karena cuaca di Paris sedang tidak baik. Heechul ingin sekali mengomel dan marah-marah pada cuacana yang buruk. Tapi itu sama saja dengan marah pada Tuhan.
"Chullie Halmeoni!" Heechul tersadar dari lamunannya dan melihat kearah Suho yang memanggilnya. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri anak laki-laki itu.
"Ada apa baby su?" tanya Heechul, sedikit berjongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan Suho.
Suho tak menjawab, tapi ia malah tersenyum manis dan mengambil satu potongan kue dan menyuapinya untuk Heechul. Heechul pun menerimanya. "Gomawo Suho-ah." ucapnya kemudian mengecup pipi anak laki-laki itu.
"Chullie halmeoni, Kyu mommy eodiyo?" tanya Suho. Hehehe, dia sudah memanggil Kyuhyun dengan sebutan "mommy" pada Heechul. Dia sejak tadi memang sudah menunggu kehadiran Kyuhyun yang katanya kembali hari ini dari Paris.
Heechul tersenyum kecut mendengar pertanyaan Suho. "Suho-ah, Kyuhyun mommy belum pulang dari bekerja. Tapi besok dia pasti pulang." ujarnya pelan, takut membuat anak itu sedih.
Dan Suho memang sedih sekarang, matanya mulai berkaca-kaca dan isakan pelan mulai terdengar sebelum kemudian tangisnya pecah.
"Hiks!Hiks! Cuho mau Kyu mommy! Huwaaaa!" isakan Suho semakin besar membuat Heechul segera menggendongnya, menimangnya agar berhenti menangis.
"Baby su,uljima ne?" ucap Heechul beberapa kali sambil mengelus punggung anak laki-laki itu.
"Chullie, wae irae?" Hankyung pun yang mendengar tangis Suho akhirnya menghampiri. Dielusnya kepala Suho. "Suho-ah, wae uro?"
Suho tidak menjawab, tetap menangis dan menyembunyikan wajahnya dikeruk leher Heechul. Tak berselang berapa lama, Siwon datang menghampiri mereka. "Baby su..."
Masih terisak, Suho melihat Siwon dan merentangkan tangannya. "Hiks! Hiks! daddy...hiks!"
Siwon pun segera mengambil Suho dari gendongan Heechul. "Baby su, waegeurae? Uljima..."
Heechul menghela napas panjang, "Dia sedih karena Kyuhyun tidak datang."
Siwon mengangguk mengerti, dia sudah tahu akan begini. Suho sudah menunggu hari ulang tahunnya sejak lama dan ingin Kyuhyun ada dihari istimewanya itu. Tak peduli bagaimana ketusnya Kyuhyun padanya, Suho akan tetap berharap Kyuhyun datang. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa kalau cuaca sedang buruk di Paris.
"Aku akan membawa Suho ke kamarnya dulu." katanya.
Semuanya mengangguk dan sedikit sedih melihat Suho masih saja menangis.
"Aigoo, Suho benar-benar menyukai Kyuhyun..." ucap Hankyung.
Heechul mengangguk dan tersenyum senang, "Geurom,baby su tahu siapa calon Ibu yang terbaik untuknya..." jawabnya.
Hankyung melirik istrinya dan berkata, "Tak masalah jika Suho menyukai Kyuhyun. Tapi...kuharap kau tidak ikut-ikut memojokkan Kyuhyun untuk menikah dengan Siwon. Aku sudah dengar kalau Donghae sudah memintanya padamu Chullie..."
Mendengar perkataan Hankyung membuat Heechul kesal, "Aku tidak pernah mengiyakannya. Well,mungkin intensitasnya akan aku kurangi."
Dan Hankyung hanya bisa menggelengkan kepalanya. Selamanya istrinya tidak akan menyerah, dan Hankyung hanya bisa mengalah.
Author POV End
.
.
.
WK
.
.
Paris - France
.
Kyuhyun POV
"I'll take this one...and this one."
Jari telunjukku dengan senangnya menunjuk kearah botol-botol menawan yang tersusun rapi di depanku. Ya, aku sedang berada di toko Wine yang terkenal di Paris. Botol-botol wine yang luar biasa ini membuatku tidak tahan dan langsung membeli mereka. Pelayan toko pun mengangguk dan segera membungkus botol-botol yang sudah kupilih. Ah~ menyenangkannya bisa pergi shopping seperti ini. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku melakukannya, jadwal penerbanganku cukup padat dalam sebulan terakhir. Ini penerbangan keduaku ke Paris.
"Hujannya lumayan deras." gumamku kemudian, ketika melihat kearah luar toko. Saat ini hujan sedang turun sejak pagi tadi dan karena itulah jadwal penerbanganku dibatalkan. Cuaca disini sedang tidak baik, sangat berbahaya jika memaksakan tetap berangkat. Jika tidak ada masalah dengan cuaca lagi, aku akan berangkat sore nanti.
"This is your order, sir." kata seorang pelayan, memberikan dua buah kotak berisi "bayi-bayiku". Dengan segera aku menerimanya dan menuju meja kasir untuk membayar.
Pip! Pip!
Suara ponselku berbunyi. Segera kuambil ponselku dari saku celana dan melihat bahwa ada pesan yang masuk. Dari Eomma.
Ini foto acara ulang tahun Suho. Dia sangat senang sekali. Tapi langsung menangis ketika tahu kau tidak ada. Kau harus pulang membawa hadiah dan membujuknya Kyuhyun!
Itulah isi pesan Eomma dan kulihat foto yang dikirimkannya padaku. Foto Suho yang meniup lilin ulang tahunnya yang ke lima. Well, seperti biasa semua ornamen disana berwarna kuning. Sedikit banyak aku tahu kalau bocah itu suka minion dan warna kuning.
"Hmm, kau sudah tambah besar bocah." gumamku dengan seksama foto itu, disamping kiri dan kanan Suho tampak ada Siwon dan Jungsoo Eomma. Aku mengernyit bingung sebelum kemudian menarik kesimpulan, "Tampaknya dugaanku benar, mereka sudah bercerai." gumamku lagi.
Setelah membayar, aku pun segera keluar dari toko memakai payung dengan sebelah tangan yang menenteng dua 'bayiku'. Kakiku kemudian menyusuri jalanan pertokoan Faubourg Saint-Honore yang menjadi salah satu pusat perbelanjaan berkelas di Paris. Disini banyak sekali toko-toko dengan merek klasik yang terkenal, Versace, Yves Saint Laurent dan Collete.
Aku berjalan kearah pemberhentian bus yang terdekat. Sebaiknya aku segera kembali ke hotel, hujan deras dan angin dingin begini bisa-bisa membuatku sakit. Kupercepat langkahku menuju pemberhentian bus ketika melewati beberapa toko hingga tak sengaja melewati satu toko Langkahku terhenti disana. Kulihat kearah etalase toko itu, melihat objek yang kulihat.
"...Apa aku harus membelinya...?"
Kyuhyun POV End
.
.
.
WK
.
.
.
Seoul-South Korea
.
Author POV
"Kau belum tidur Siwon-ah?"
Siwon sedang berdiri di depan pigura besar yang ada di ruang keluarga kediaman Cho ketika suara Donghae menginstrupsinya. Ia menoleh dan tersenyum pada sahabatnya itu. Donghae tak sengaja tertidur disamping Suho setelah mengantar anak itu tidur dikamar tamu. Akan terjadi perang dunia jika Kyuhyun tahu Suho tidur di kamarnya tadi. Ya, anak itu lelah menangis dan merengek meminta tidur di kamar Kyuhyun tadi. Dia sangat kecewa karena Kyuhyun tidak bisa hadir di acara ulang tahunnya tadi. Butuh waktu seharian untuk membuat anak itu tidak bersedih lagi. Sejak dekat dengan Kyuhyun, dia menjadi lebih rewel.*(Virus evil mulai munculkah? kwkwkwkwk)
"Aku tidak bisa tidur karena seminggu lagi akan ada tes simulasi." ujar Siwon, membuat Donghae memukul pelan bahu pria itu.
"Sejak kapan Kapten Choi memikirkan tes simulasi, huh? Dasar!" kata Donghae.
Siwon terkekeh pelan, "Kau menang. Aku tidak bisa tidur bukan karena itu, ada hal lain di benakku." ujarnya terus terang. Matanya kini tertuju pada pigura besar yang dilihatnya tadi. Lebih tepatnya melihat pemuda berambut coklat brunette yang ada dalam foto itu.
Raut wajahnya agak berubah sekarang, terlihat sendu. Ia merindukan Kyuhyun, padahal baru dua hari dia tidak melihat pemuda itu. Siwon kemudian tersenyum tipis melihat kearah Kyuhyun yang berusia tujuh belas tahun dalam foto itu. "Donghae-ah, kau ingat hari dimana ia pergi sendirian naik pesawat tanpa memberitahu kalian?"
Donghae ikut melihat kearah pigura itu dan tersenyum, "Aku ingat. Dia pergi ke San Fransisco tiga hari sebelum acara kelulusanmu tanpa memberitahu kami. Kau tahu, dia hampir membuat Appa kena serangan jantung dan Eomma kena darah tinggi. Tapi tak ada satupun dari kami yang mampu memberitahumu saat itu karena kau sedang ujian, kami takut kau tidak konsentrasi."
Siwon tersenyum mendengarnya, "Dia pergi sendirian, menyiapkan acara spesial kelulusanku. Dia anak manis berumur enam belas tahun yang sangat nekat..."
"Ne, dia dapat gen itu dari Eomma. Kau tahu sendiri betapa 'liarnya' Eomma." jawab Donghae dengan senyum lebar diwajahnya. Ia kemudian memandang Siwon. "Kapan serangan 'bom' untuk Kyuhyun akan dilancarkan?"
Siwon menaikkan alisnya bingung, "A bom? What do you mean?"
Donghae tersenyum jahil, "Tampaknya kau belum memiliki planing untuk menarik Kyuhyun lebih cepat, ne?"
Siwon akhirnya mengerti maksud Donghae hanya tersenyum. "Aku...hanya ingin membuat Kyuhyun tidak merasa aku terlalu memaksa untuk kembali bersamanya. Aku hanya ingin perlahan-lahan mendekatinya...dan menjadi rivalnya adalah salah satu cara yang masih ampuh."
Ya, Siwon tahu ini tidak akan mudah. Lagipula ia sudah cukup senang dengan keadaan yang sekarang. Meski selalu beradu mulut dengan Kyuhyun, ada saat dimana ia melihat senyum yang sudah lama tidak ia lihat. Lima tahun dia merindukan itu...
"Arraseo, lakukan seperti yang kau inginkan. Aku mendukungmu." kata Donghae kemudian menepuk pelan bahu Siwon.
"Bagaimana denganmu? Sudah ada rencana melepas masa lajangmu?" tanya Siwon. Ya, hubungan Donghae dan Hyukjae sudah cukup lama. Mereka tampak serasi meski sebenarnya Donghae memang masih agak tertutup soal hubungannya dengan staff penerbangan Korean Airlines itu.
Donghae terkekeh pelan, "Aku dan Hyukie sepakat untuk tidak terburu-buru menikah. Kami akan menikah ketika kami siap. Kau tahu, bukan? Aku pernah hampir menikah dan putus beberapa hari setelah aku melamar kekasihku. Aku jadi lebih berhati-hati sejak itu." ujarnya kemudian menghela napas panjang, "Mungkin aku sedikit trauma..."
Mendengar perkataan Donghae, Siwon tersenyum maklum dan merangkul bahu sahabatnya. "Aku mendoakan yang terbaik untukmu, Hae-ah. Hajiman, jangan terlalu lama. Eomma dan Appa juga ingin mendapatkan cucu yang lucu darimu dan Hyukjae."
"Hahahaha ne."
Donghae ikut merangkul sahabatnya itu dan berkata, "Siwon-ah, kau mau taruhan denganku?"
"Taruhan apa?" tanya Siwon bingung.
Donghae terkekeh pelan, "Meski aku sudah meminta Eomma untuk berhenti 'terlalu' ikut campur tentang urusanmu dan Kyuhyun, tapi aku tahu dia pasti akan tetap ikut campur meski tidak secara langsung seperti kemarin.Appa tadi mengatakan begitu padaku."
"Memangnya apa yang kira-kira akan Eomma lakukan?" tanya Siwon lagi, membenarkan perkataan Donghae dalam hati.
"Hehehehe...Bersiaplah Siwon-ah. Aku akan mendoakan kalian selamat."
.
.
.
WK
.
.
.
Tok! Tok!
"Eomma...Jangan khawatir. Naneun gwenchana, aku makan dengan teratur. Dan aku sudah mengurangi kebiasaanku minum kopi. Aku akan baik-baik saja, Eomma. Tak apa jika kau tidak sering mengunjungiku, aku sangat mengerti. Eomma ada waktu malam ini? Baiklah, aku tunggu. Aku tutup dulu, annyeong."
Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap dengan kacamata yang membingkai mata besar dan memikatnya itu tampak duduk santai di kursi kerjanya sambil menelpon Ibu tirinya. Choi Minho hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan Ibu yang sangat menyayanginya itu dengan santai, menenangkan sang Ibu yang merasa bersalah karena tidak sering mengunjunginya. Dan telepon itu berakhir ketika terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Masuk." ucap Minho kemudian segera memakai jas putihnya ketika ia berpikir mungkin yang mengetuk pintu adalah pasien karena Asistennya―Jonghyun tidak pernah mengetuk pintu.
Cklek!
Begitu pintu terbuka dan betapa terkejutnya Minho. Ia melihat seorang pemuda berambut brunette yang berdiri di depan pintu dengan dua buah tas belanja dan satu travel bag ditangannya. Senyum mengembang diwajahnya ketika tahu benar siapa pemuda itu.
"Kau tidak bilang akan langsung kemari, Kyuhyun-ssi." kata Minho kemudian melepas jas putihnya dan menyampirkannya kembali di kursinya.
Kyuhyun tertawa mendengar perkataan Minho dan tanpa menunggu izin dari psikolog itu, ia langsung masuk dan duduk di sofa yang ada diruangan itu. "Hahahaha Kau tidak akan seterkejut itu jika aku mengatakan akan langsung kemari, Minho-ssi."
Sebulan berlalu sejak pertemuannya dengan Kyuhyun. Disela-sela pekerjaan, mereka sesekali bertemu atau battle game dan chatting. Keduanya semakin dekat dan merasa cocok untuk berteman. Well, bagi Minho itu awal yang menyenangkan. Mereka terkadang mirip untuk beberapa hal, itu yang membuat mereka mudah akrab.
Minho terkekeh pelan kemudian ikut bergabung dengan Kyuhyun di sofa. "Apa kau tidak lelah? Perjalanan dari Paris cukup lama."
"Aku akan lebih lelah jika harus pulang ke rumah. Kau tahu, Eomma akan merecokiku dengan pertanyaan aneh seperti 'Apa kau pergi ke penyihir untuk membuat cuaca buruk kemarin?' Uugh! My mom is really crazy!" keluh Kyuhyun. Ya, Minho tahu soal penerbangan Kyuhyun yang tertunda karena cuaca buruk kemarin.
"Jadi aku tempat pelarian?" tanya Minho.
Kyuhyun kali ini tersenyum jahil. "Ya. Ini satu-satunya tempat pelarianku sekarang karena Changmin sedang bekerja dan aku tidak bisa menganggunya." jawabnya kemudian memberikan salah satu tas belanja yang ia bawa untuk Minho. "Dan ini bayarannya karena mengizinkanku kesini."
Minho tertawa, "Hahahaha kau terlalu cepat menyimpulkan. Aku sedikit tersinggung karena tahu bahwa aku hanya tempat pelarian."
"Aku akan mentraktirmu makan siang, otte? Aku tahu kau tak akan bisa menolak. Ayo kita pergi." kata Kyuhyun kemudian segera berdiri dan menarik tangan Minho. "Ayolah~" ucapnya manja.
Dan Minho akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Aku yang pilih restorannya."
Kyuhyun bersorak riang layaknya anak-anak, Minho hanya tersenyum melihatnya. Dilihatnya tas belanjaan yang Kyuhyun berikan dan membukanya. Dan pemuda itu tak mampu menahan tawanya ketika melihat isinya. Kaset video game.
"Hahahaha! Apa ini hadiah dari seseorang yang pergi ke Paris? Ini seperti hadiah dari seseorang yang baru pergi ke Dongdaemun." ujar Minho disela-sela tawanya.
Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal kemudian meraih satu tas lagi pada Minho. "Ani! Aku salah memberikannya! Siapa juga yang mau memberikan kaset video game berhargaku! Ini terlalu bagus untuk ada di Dongdaemun!"
Setelah tawanya reda, Minho membuka tas belanjaan itu dan melihat isinya. Sebuah syal hitam yang hangat.
"Uri Minho harus memakai syal ini ya. Eomma membuatkannya khusus untuk Minho..."
Mendadak terlintas perkataan almarhum Ibunya, membuat Minho tersenyum simpul melihat hadiah itu. Ia kemudian memandang Kyuhyun yang kini juga memandangnya.
"Apa kau suka?" tanya Kyuhyun.
Minho mengangguk, "Kau memilih barang yang bagus. Akan kugunakan saat musim dingin nanti."
Kyuhyun tersenyum manis mendengar perkataan Minho, dan senyum manis itu membuat pemuda itu tertegun.
"Syukurlah kalau begitu~ . Kajja, aku sudah sangat lapar." kata Kyuhyun menarik tangan Minho lagi. Akhirnya Minho bangkit juga.
"Kau akan membawa travel bagmu juga?" tanya Minho.
Kyuhyun mengangguk, "Masukkan dibagasi mobilmu. Kau harus mengantarku sampai rumah karena sebelum kesini tadi, aku mengantar Juliet ke bengkel dan besok siang baru akan diantar."
"Apa aku juga jadi supirmu hari ini?" tanya Minho dengan nada bercanda. Dan pemuda itu secepatnya melesat keluar sebelum mendengar teriakan Kyuhyun.
"Yak! Kau harus membantuku membawa travel bag ini!"
Author POV End
.
.
.
WK
.
.
.
Kyuhyun POV
"Hah...perutku benar-benar terasa penuh sekarang..." ucapku ketika berhasil menghabiskan dua mangkuk jjajangmyun.
Minho-ssi terkekeh mendengar perkataanku. "Kupikir kau mau tambah lagi." ujarnya.
Huh, mana mungkin aku sanggup untuk makan lagi. Meskipun aku sangat menyukai Jjajangmyun, perutku tidak sanggup menampungnya. "Perutku bukan perut karet, Minho-ssi." ucapku kemudian mengambil gelas berisi air dan meminumnya hingga tandas.
"Kau tak menyangka aku akan mengajakmu kesini, bukan?" kata Minho-ssi.
Aku mengangguk cepat, "Memangnya dari mana Minho-ssi bisa tahu kalau aku suka Jjajangmyun?" tanyaku heran. Well, kami memang sudah beberapa kali pergi makan bersama. Tapi baru kali ini dia mengajakku makan Jjajangmyun. Biasanya dia mengajakku ke restoran atau kafe.
"Aku melihatmu memposting foto Jjajangmyun di SNS." jawab Minho-ssi dengan senyum. Ehmm, senyumannya berkekuatan 3000 volt membuat pipiku terasa panas. Blush! Dan aku tidak menyangka dia melihat SNS milikku.
Minho-ssi kemudian berkata, "Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Apa aku harus mengantarmu langsung ke rumah?"
Aku berpikir sejenak, nggg...sebenarnya aku masih lelah karena perjalanan dari Paris. Tapi aku tidak akan bisa tidur jika mendengar teriakan Ratu Iblis yang bangkit dari neraka. Uugh...itu bukan pilihan yang baik.
"Bagaimana kalau game center? Sudah lama aku tidak kesana." kataku.
Minho-ssi memandangku dengan wajah tidak enak, "Apa maksudmu kita bermain disana? Ngg...mianhae. Ada pasien yang ingin berkonsultasi sore ini. Jika bermain, aku pasti akan lupa waktu."
Aish! Harusnya kau bilang dari tadi! ucapku dalam hati. Hah...sekarang aku sudah malas. Lebih baik pulang saja.
"Kalau begitu, antar aku ke rumah saja." ujarku dan dengan sengaja memasang muka kesal.
Dan bukannya menyesal, Minho-ssi malah tertawa kecil. "Kenapa kau manis sekali? Aku jadi tidak bisa menolak."
Tangannya mengacak pelan rambutku, tersenyum dengan mata berbinar. "Kita ke game center, oke!"
Ia kemudian berdiri dari kursi dan menuju kasir. "Aku akan membayar, chakkaman..."
Blush!
Begitu ia pergi, dapat kurasakan pipiku kembali memanas. Apa-apaan ini!? Fishie-hyung dan Changmin sering melakukan itu, tapi aku tidak begini...
Apa ini...Aish! Jangan berpikir yang tidak-tidak Cho Kyuhyun!
Kyuhyun POV End
.
.
.
WK
.
.
.
Author POV
"Gomawo, Minho-ssi~. Hari ini sangat menyenangkan..."
Minho tak dapat menahan senyumnya ketika Kyuhyun mengucapkan terima kasih padanya. Sudah sore ketika pemuda itu mengantar Kyuhyun ke kediaman keluarga Cho. Beruntung pasien yang dijadwalkan konsultasi hari ini menelpon dan mengatakan tidak bisa hadir karena ada suatu hal penting, jadi keduanya bisa bermain di game center selama hampir lima jam.
"Cheomanneo, kau bisa menelponku jika butuh tempat pelarian lagi Kyuhyun-ssi." jawab Minho, membuat Kyuhyun terkekeh pelan. Kyuhyun mengacungkan jempolnya.
Setelah menurunkan travel bag Kyuhyun dari bagasi mobilnya, Minho pamit pulang. "Tak mau masuk dulu?" tawar Kyuhyun.
Minho tersenyum tipis, "Bolehkah?"
Kyuhyun mengangguk, "Akan lebih menyenangkan jika kau mau makan malam bersama. Tenang saja, Appa orang yang baik meski kau harus maklum pada Eommaku. Dan Donghae hyung orang yang ramah."
Minho tersenyum dan mencubit pelan pipi Kyuhyun, "Lain kali saja. Aku ada janji dengan Eomma, dia mau datang ke apartemenku." ujarnya sambil melirik jam tangannya. "Masuklah, kau harus membuat alasan kenapa pulang sangaaaat terlambat." lanjutnya sambil terkekeh pelan.
Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal, "Kau menyebalkan!"
"Datanglah lagi jika butuh tempat pelarian lagi~." kata Minho sebelum kemudian masuk ke mobilnya. "Annyeong."
Minho mulai menghidupkan mesin mobilnya, dibukanya jendela mobil dan berkata, "Cepatlah masuk."
Kyuhyun mengangguk dan melambaikan tangannya. "Ne, annyeong." jawabnya sebelum kemudian pergi masuk sambil membawa travel bag dan tas belanjaannya.
Minho terkekeh pelan melihat punggung Kyuhyun dan bergumam pelan, "Kau selalu membuatku terpesona..."
Ia baru saja hendak melajukan mobilnya ketika menyadari seseorang sedang menatapnya. Ia segera menoleh dan melihat seorang pria berdiri bersebrangan dengan mobilnya. Dan ia tahu benar siapa orang itu, Choi Siwon. Minho diam sejenak sebelum kemudian benar-benar melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
.
.
.
WK
.
.
.
"Ini benal-benal untuk Cuho!?"
Kyuhyun hanya menghela napas ketika melihat anak laki-laki dengan mata berbinar-binar melihat sebuah mantel berwarna kuning ditangannya.
"Tentu saja untukmu! Bagaimana mungkin aku memakainya untuk diriku sendiri. Bahkan tangannya saja tidak muat!?" omel Kyuhyun.
Suho berteriak senang, "YEAY! Ini kado paling Cuho cuka~. Gomawo Kyu Mommy!"
"Yak! Jangan panggil aku begitu!" Kyuhyun memasang wajah marah sekarang, tapi itu tak berselang berapa lama.
Pletak!
"Aaargh!"
Suara pukulan itu serentak dengan suara teriakan kesakitan yang Kyuhyun keluarkan. Heechul, si pemukul menatap kesal putranya. Dia sama sekali tak merasa bersalah karena memukul kepala Kyuhyun cukup keras.
"Jangan memasang wajah jahat di depan cucuku!"
Kyuhyun meringis dan mengelus pelan kepalanya yang sakit, memeriksa apakah ada benjol disana. "Aish...Ini karena Eomma mengajarinya yang tidak-tidak! Apa maksudnya dia memanggilku begitu?" keluhnya.
Diliriknya Siwon dan Donghae yang kini sedang memanggang daging di panggangan besar di taman. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang kediaman Cho dan memasak daging Barbeque bersama. Leeteuk sedang mengikuti acara amal yang diadakan di Busan, karena itu ia tidak ada dirumah. Karena Siwon hanya tinggal berdua bersama Suho, ia mengusulkan agar keduanya makan malam dirumah mereka. Dan Hankyung sedang dalam perjalanan pulang.
"Kau harus memakainya. Aku membelinya dengan harga mahal dari butik pakaian yang terkenal, arraseo?" kata Kyuhyun pada Suho yang membuat Heechul bersiap mengucapkan sumpah serapah.
Berbeda dengan Heechul, Suho malah mengangguk dengan senyum lebar diwajahnya. "Ne, Cuho akan pakai setiap hali~!" jawabnya semangat.
"Yak, tidak harus setiap hari. Kapan mantel ini dicuci jika kau pakai setiap hari?" kata Kyuhyun.
Suho tertawa manis, "Hahaha, Cuho lupa~ Habic, Cuho cangat cuka pembelian Kyu mommy!"
"Kau benar-benar cari mati denganku, ne!? Berhenti memanggilku begitu!"
Pletak!
"AAARGH!EOMMA!"
"JANGAN MENERIAKI CUCUKU!"
"Halmeoni...Mommy, jangan teliak-teliak. Telinga Cuho bica lucak!"
Perang kembali terjadi, dan kedua pria 'seme' yang tengah memanggang daging hanya menggeleng kepala melihat tingkah Ibu, anak dan cucu itu. Mereka hanya fokus memanggang.
"Samo-nim, Sajang-nim sudah tiba di depan." seorang maid datang dan memberitahukan bahwa Hankyung baru saja pulang. Heechul pun segera beranjak dan menatap Kyuhyun dengan tatapan 'Jangan ganggu cucuku selama aku pergi!'. Kyuhyun hanya melengos dan kemudian mengeluarkan PSPnya untuk bermain.
Grep!
Kyuhyun sedang asyik bermain saat tangan mungil itu memeluk lengan kanannya. Suho bersandar di lengan Kyuhyun sambil melihat pemuda itu bermain. Terganggu? Ya, pemuda itu merasa sangat terganggu.
"Hei bocah, jangan menempel denganku terus!" kata Kyuhyun.
"Nnngg~, waeyo?" tanya Suho, matanya mengerjap polos.
"Aish! Pokoknya aku tidak suka!" jawab Kyuhyun kemudian memencet tombol pause di PSPnya dan melepaskan tangan Suho dan bersiap untuk berlari menjauh. Tapi ternyata Suho cukup pintar. Ketika Kyuhyun berusaha melepaskan tangannya, ia melingkarkan kakinya dipinggang Kyuhyun dengan erat.
"YAK!" teriak Kyuhyun kesal.
"Chilleo~. Cuho cuka cama Kyu mommy~~" Sekarang tangannya kembali memeluk tubuh Kyuhyun.
"YAK! Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu!" ujarnya sambil berusaha untuk melepaskan Suho dari tubuhnya. Anak laki berusia lima tahun itu menempel padanya seperti anak koala yang bergantung di tubuh induknya. Dan akhirnya Kyuhyun menyerah, dibiarkannya Suho memeluk tubuhnya dan bermain PSP sambil merangkul leher anak itu.
Melihat pemandangan itu, Donghae langsung menyenggol bahu Siwon. "Lihat...dalam hitungan detik. Suho bisa membalikkan keadaan, Kyuhyun kalah telak." ujarnya sedikit berbisik. Senyum lebar terpatri diwajahnya.
Siwon yang sedang membalik daging segera menoleh dan terperangah sejenak melihat pemandangan manis itu. Ia kemudian tersenyum bangga, "Dia memang putraku."
Donghae terkekeh, "Kapan kau mendapat pelukan dengan kepala tepat di dada Kyu jika kau sama sekali tidak memberi 'sinyal' untuknya?" sindirnya, membuat mata Siwon langsung melotot menatap sahabatnya itu dan Donghae malah tertawa.
"Kau dulu bahkan tidak mengizinkanku mencium Kyuhyun di bibir." jawab Siwon.
"Kita baru sebelas tahun saat kau mencuri first kissnya Kyuhyun. Sekarang tentu beda, aku tak akan melarangnya." ujar Donghae sambil menaruh daging yang sudah masak di atas piring. "Jangan-jangan kau sudah mendapatkan 'itu' ketika Kyuhyun kabur dulu." lanjutnya.
Siwon menepuk bahu Kyuhyun, "Sedikit." jawabnya pelan namun senyum mesum sangat lebar diwajahnya. Donghae tertawa keras sekarang. Pria itu tertawa sambil memegang perutnya.
"Yak!"
Suara itu menginstrupsi candaan gila kedua 'seme' itu. Kyuhyun yang berada cukup jauh dari mereka kini menatap dengan tajam. Pemuda itu menghela napas panjang, menaruh PSPnya dan menunjuk Suho yang bersandar di dadanya.
"Kurasa dia sudah tidur. Singkirkan dia dariku." kata Kyuhyun pelan.
Siwon dan Donghae pun melihat kearah Suho yang benar saja tertidur lelap dengan posisi memeluk Kyuhyun. Donghae terkagum-kagum melihatnya. "Daebak, Suho benar-benar tidur. Kau uke yang hebat Kyu." ujarnya sambil menunjukkan dua jempolnya.
Kyuhyun mendelik kesal, "Singkirkan dia atau kupecahkan akuariummu." kata pemuda dengan julukan evil itu. Ancaman itu sukses membuat Donghae cemas.
Siwon yang melihat itu pun segera menghampiri Kyuhyun, dengan hati-hati tangannya melepas tangan mungil Suho. Anak itu sedikit bergerak tak nyaman sejenak, tapi kemudian kembali tenang. Kyuhyun menarik napas lega, melirik Siwon dan bergumam pelan. "Palli."
Dan Siwon benar-benar akan mengangkat Suho ketika Heechul dan Hankyung datang.
"Omo, Suho tidur! Kyeopta~"
Grep!
Mendengar suara Heechul yang setengah berteriak karena senang, reflek tangan mungil itu kembali memeluk Kyuhyun dengan erat. Dan tentu Kyuhyun sangat emosi sekarang. Ia sudah akan lega karena terbebas dari pelukan 'maut' Suho. Tapi dengan teriakan senang si Ratu Iblis, kebebasannya gagal.
Benar-benar akan terjadi perang, batin Siwon ketika melihat tatapan mematikan Kyuhyun. Dan Siwon segera menutup kedua telinga Suho dengan tangannya ketika teriakan penuh emosi Kyuhyun keluar, merelakan telinganya sendiri berdengung karena teriakan super itu. "DASAR RATU IBLIS!"
Dan tentu si Ratu Iblis—Heechul tidak terima atas perlakuan anaknya. "YAK! JIKA EOMMAMU IBLIS MAKA KAU JUGA BOCAH IBLIS!"
Sementara itu Donghae berdiri di depan pemanggang dengan tatapan prihatin. Prihatin terhadap nasib Siwon yang harus merasakan sakit di telinganya karena mendengar teriakan-teriakan kedua 'Iblis'.
Hankyung menghampiri Donghae, mengambil sumpit dan mengambil salah satu daging yang sudah matang dari atas pemanggang. "Hah...kita tidak akan mendapatkan sarapan, makan siang, ataupun makan malam yang tenang jika mereka berdua berteriak. Bersyukurlah karena rumah kita luas, Appa malu jika harus meminta maaf pada tetangga-tetangga kita karena mereka berdua." ujar Hankyung sebelum memakan daging yang diambilnya.
Donghae menghela napas panjang, "Dan lebih yang mengherankan lagi, Suho sama sekali tidak terganggu." gumamnya, melihat Suho yang tidur dengan tenang. Malaikat mungil itu sama sekali tidak terganggu dengan teriakan-teriakan Iblis yang bangkit dari neraka.
.
.
.
WK
.
.
.
Incheon-South Korea
Pagi yang cerah hari itu membuat bandara Incheon yang selalu padat jadi semakin padat. Biasanya Kyuhyun sangat bersemangat kini datang dengan wajah memberengut kesal. Matanya menatap kesal daftar pasangan untuk ujian simulasinya hari ini diponselnya. Dan ada nama 'Choi Siwon' disamping namanya.
"Aish! Jinja!" teriaknya kesal. Tak peduli dengan orang sekitarnya yang menatap heran. Well, jika dia ada di kantor Korean Airlines, mungkin tidak akan ada yang heran kenapa ia berteriak seperti itu. Tapi sekarang dia sedang ada di Kona Beans, salah satu kafe yang ada di bandara Incheon.
"Yak, Cho Kyuhyun. Ada apa?" tanya Changmin yang datang membawa nampan berisi segelas espresso, caramel machiato dan dua potong chesse cake. Pemuda itu langsung duduk berhadapan dengan Kyuhyun. Melihat raut wajah Kyuhyun yang benar-benar kesal, Changmin langsung bisa menebak, "Ah, kau dipasangkan dengan Kapten Choi? Sudah kuduga."
Kyuhyun mengambil caramel machiato pesannannya dan menyesapnya dengan wajah memberengut kesal. "Ratu Iblis itu tak pernah membiarkanku hidup tenang!"
"Jika tenang, bukan Ratu Iblis namanya." kata Changmin kemudian melahap Chesse cake. "Jangan terlalu diambil pusing, kau hanya perlu fokus dan menyelesaikan ujianmu dengan baik. Anggap kau sedang bermain simulasi di komputer Akh!"
Changmin baru menyelesaikan perkataannya ketika Kyuhyun memukul kepalanya dengan sendok cake.
"Semuanya tidak semudah yang kau katakan, Chwang." kata Kyuhyun dengan memperlihatkan smirknya.
Changmin mengelus pelan kepalanya yang terasa sakit, "Apanya yang susah? Dulu kau berhasil menerbangkan pesawat dengan musuh beratmu di akademi."
Kyuhyun mendengus kesal, "Ini beda masalahnya. Yang kuhadapi adalah musuh paling dan sangat kubenci!"
Changmin mengangguk kemudian meminum espresso miliknya. Tapi matanya memincing pada Kyuhyun ketika menyadari sesuatu, "Chakkaman. Jika kau membencinya harusnya kau tak perlu baik pada anaknya. Beritamu setelah kembali dari Jeju beberapa saat yang lalu menjadi trending topic. Bahkan kami para ATC sudah mengetahuinya." Kyuhyun melirik Changmin dan pura-pura tidak mengerti, "Apa mungkin...kau masih punya hati dengannya?" lanjutnya.
Kyuhyun tertawa, tampak tak senang dengan pertanyaan Changmin. "Aku pasti gila jika masih ingin dengannya. Yak, aku ini orang baik. Aku tidak tega meninggalkan seorang anak sendirian menunggu Ayahnya di dalam pesawat. Apa tindakanku salah?"
"Salah. Saat ini kau sedang bermusuhan dengannya! Tentu saja salah!" omel Changmin.
Kyuhyun menghela napas panjang, "Lupakan! Anggap saja pembicaraan ini tidak ada. Kau membuatku tambah pusing!"
Changmin menyuap potongan chesse cake ke dalam mulutnya. "Lihat saja. Kau pasti akan setuju denganku."
"Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Matanya langsung melotot ketika melihat siapa yang memanggilnya, Cho Donghae dan Choi Siwon. Kyuhyun langsung memasang wajah kesal.
"Apa hanya kafe ini yang ada di Bandara sampai kalian berdua muncul disini?" keluh Kyuhyun.
Donghae menaikkan sebelah alisnya, "Kyunie-ah, apa tidak bisa kau berhenti mengeluh setiap hari? Apa salah jika bertemu dengan hyungmu yang tampan ini."
Kyuhyun tertawa meremehkan, "Ya, kau sedikit lebih tampan dibandingkan Nemo."
Donghae tak menghiraukan Kyuhyun dan menatap Changmin, "Yak, Changmin-ah, apa kau masih suka dengan si mulut pedas ini?" Kenyataan bahwa Changmin menyukai Kyuhyun memang sudah terdengar oleh pria itu.
Changmin awalnya melirik Kyuhyun yang menatapnya 'Katakan Iya' sebelum tersenyum lebar. "Bukankah dia tambah manis dengan mulutnya yang begitu? Dia membuatku semakin menyukainya." katanya kemudian mengacak pelan rambut Kyuhyun.
Awalnya Kyuhyun akan marah karena tatanan rambutnya di acak-acak Changmin. Tapi karena saat ini ada Siwon, mau tak mau ia tersenyum manis. "Chwang yang paling mengerti aku~"
Siwon tersenyum mengejek, "Lebih baik aku pergi memesan, kalian pasangan Lovey dovey yang aneh."
Kyuhyun mendelik kesal, "Chwang~~, ayo kita pergi dari sini."
"Eoh? G-geurae." kata Changmin beranjak dari kursinya, begitu juga Kyuhyun.
"Fishie-hyung, anyeong!"
Kyuhyun mengandeng tangan Changmin dan hendak pergi ketika Siwon berkata, "Berapa banyak sebenarnya pemuda yang kau kencani, Cho? Bukankah di Jeju kemarin kau bukan pergi dengan pemuda ini?"
Mendengar perkataan Siwon sontak membuat Changmin terkejut, dan tentu juga Kyuhyun yang merasa sebagai tersangka.
"M-mwo!? Yak! Cho Kyuhyun!" teriak Changmin. Ekspresinya menunjukkan 'Teganya kau!' pada Kyuhyun.
Kyuhyun akhirnya hanya bisa tersenyum kikuk, "E-eh! C-Chwang..aku bisa jelaskan, oke?"
Changmin melepas tangan Kyuhyun, "Aku akan terus marah sampai kau katakan siapa pemuda itu!" ujarnya kemudian pergi.
"Yak! SHIM CHANGMIN!"
Changmin tidak berbalik sama sekali dan berjalan pergi. Kyuhyun menatap punggung Changmin dengan tidak percaya. Dan emosinya memuncak, jiwa iblisnya keluar ketika ia berbalik. Donghae menelan ludah melihat tatapan membunuh adiknya.
"Kurasa perang akan dimulai lagi." gumam Donghae.
Siwon melirik sahabatnya, "Bukankah ini lucu? Dia manis sekali..."
.
.
.
WK
.
.
.
"Berikutnya, Kapten Choi Siwon dan Co-pilot Cho Kyuhyun."
Kyuhyun mendengus pelan ketika mendengar namanya dipanggil. Semua pilot yang sedang menunggu giliran ujian berbisik-bisik memandang kearah Kyuhyun. Dan Kyuhyun terlalu malas untuk memikirkan hal itu, ia sedang tidak bersemangat dan pikirannsegera beranjak dari tempat duduknya di ruang tunggu itu dan menuju ruang simulasi. Di dalam mesin simulator sudah ada penguji dan Siwon. Pengujinya adalah Lee Sungmin, pilot yang pernah Kyuhyun goda dulu. Dan ia menghela napas panjang, lengkap sudah penderitaannya hari ini.
"Sudah siap?" tanya Sungmin pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk dan segera duduk, memasang sarung tangan, headset dan shitbelt.
Siwon melirik Kyuhyun sebelum kemudian berkata, "Semoga kita bekerjasama dengan baik."
"Ne." jawab Kyuhyun singkat. Sebenarnya ia malas menjawab, tapi demi profesionalitas ia mampu melakukannya.
"Check!" ujar Siwon.
Kyuhyun mulai mengecek dan menekan beberapa tombol. Pemuda itu menekan salah satu tombol yang ternyata adalah tombol APU (Auxiliary Power Unit) dan mematikan sistem mesin.
*(APU adalah perangkat pada pesawat untuk menyediakan energi atau untuk memberikan kekuatan pada saat memulai mesin utama)
"Yak, Cho Kyuhyun!" kata Siwon setengah berteriak.
Kyuhyun kaget dan segera melihat kearah tombol yang dipencetnya tadi dan mendesah pelan, akhirnya ia membungkuk sedikit dan berkata, "Jeoseonghamnida."
Siwon menghela napas panjang, "Fokus." ucapnya.
"Ne." jawab Kyuhyun dengan setengah hati, meski dalam hati mengakui bahwa ia memang sedang tidak fokus.
"Baiklah, kita mulai." Siwon mulai melakukan prosedur take off dan Kyuhyun memperhatikan ketinggian.
"One thousand, two thousand, three thousand, four thousand, five thousand, landing gear—"
KRIIIIIIING! K`RIIIIING!
Kyuhyun terkejut ketika mendengar suara dering itu adalah ponselnya. Mati aku! Aku lupa mematikan ponsel! batinnya.
"Cho Kyuhyun! Apa kau bodoh!?" ujar Siwon.
Kyuhyun segera merogoh kantung celananya, mengambil ponselnya. Tapi—brukk!
KRIIING! KRIIING!
"Yak! Apa kau gila!?" teriak Siwon.
Ponsel itu terlepas dari tangan Kyuhyun dan jatuh ke bawah kaki Siwon. Dan bersamaan dengan itu bunyi peringatan terdengar.
TEEEEEET! TEEEEEEET!
"WARNING! WARNING!"
Mereka tidak fokus karena bertengkar. Dan karena panik Kyuhyun tanpa sengaja menurunkan pedal rudder dan simulator pesawat turun hingga menyebabkan goncangan.
"Aaaakh!"
Siwon reflek melindungi kepala Kyuhyun yang hampir menabrak pedal, sebelah tangannya langsung menarik rudder. Tapi terlambat, pesawat diluar kendali. Ketika Siwon bersiap memegang pedal, goncangan kuat kembali terjadi dan pesawat jatuh.
"FAILED"
Tulisan itu yang terlihat dilayar simulator. Kyuhyun merasa jantungnya berdegup kencang dan napasnya terengah-engah. Kejadian barusan benar-benar mengejutkannya hingga dia tak sadar bahwa dirinya berada dilengan kekar Siwon. Pria itu napasnya juga terengah-engah. Beberapa detik mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan terintrupsi dengan suara Sungmin.
"Kalian gagal. Ikuti tes simulasi lima hari lagi." Sungmin segera melepas headset dan shitbeltnya dan menulis dikertas penilaiannya. "Jika gagal lagi, bersiaplah untuk melepaskan seragam kalian. Cepat keluar sekarang." Lanjutnya dengan nada dingin.
Siwon menghela napas panjang, segera digesernya kepala Kyuhyun yang masih tampak shock. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berkata, "Sikap profesionalmu benar-benar hilang, Cho."
Setelah mengatakan itu ia keluar dan pergi, meninggalkan Kyuhyun yang sedang mencerna semua yang terjadi. Dengan segera diambilnya ponsel miliknya yang terjatuh dan melihat ponsel yang kini sudah berhenti berdering itu, dilihatnya nama penelpon 'Choi Minho'. Kyuhyun menghela napas panjang dan kemudian berjalan keluar dengan emosi meluap-luap.
"Yak! Choi Siwon!" panggil Kyuhyun pada Siwon.
Pria itu menoleh dan memasang wajah datar, "Apa lagi yang kau inginkan, Cho?"
"Bagaimana bisa aku, Cho Kyuhyun. Lulusan SEKOLAH PENERBANGAN TERBAIK DI LONDON dan PERNAH BEKERJA DI BRITISH AIRWAYS, tidak lulus UJIAN TES SIMULASI!" kata Kyuhyun dengan penekanan di kata-katanya. Kedua tangannya terkepal erat melampiaskan emosinya yang menggebu-gebu.
"Cih, mau bagaimana lagi? Kau juga membuat Choi Siwon, lulusan TERBAIK DI SEKOLAH PENERBANGAN AMERIKA dan SEORANG KAPTEN juga tidak lulus." jawab Siwon tidak kalah keras.
"Kau yang membuatku tidak lulus Choi Brengs*k!" teriak Kyuhyun kemudian berjalan cepat mendekat ke Siwon. Jari telunjuknya menunjuk pria di depannya itu dengan tajam, "Apa kau ini manusia yang punya hati!? Kau yang membuatku tidak fokus!"
"Mworagu? Ah, kau tidak fokus karena kejadian di kafe tadi? Cho, kau benar-benar kekanakan. Apa kau tak sadar semua kesalahan tadi adalah mutlak kesalahanmu!? Apa tak kau bayangkan jika tadi itu nyata dan ada nyawa tiga ratus penumpang padamu!? Bahkan nyawamu sendiri hampir hilang tadi! Tindakan gilamu untuk mengambil ponsel tadi bisa mencelakakan dirimu jika aku tak menarikmu!" Ujar Siwon penuh emosi, terlihat dari napasnya yang menggebu-gebu. Sungguh dia merasa kesal dengan tindakan ceroboh Kyuhyun tadi, lebih tepatnya khawatir. Ia sangat khawatir hingga kemarahan yang keluar tanpa bisa terkendali.
Kyuhyun terperangah mendengar penjelasan panjang lebar Siwon yang penuh emosi. Tak ada yang mampu ia ucapkan. Ditatapnya pria di depannya itu dalam, matanya bergerak samar. Dan akhirnya ia berkata pelan, "Why...why you always make me feel like this? Kenapa setiap perkataan dan tindakanmu selalu diluar dugaan...?"
Kyuhyun tersenyum miris, "...Kita ini sebenarnya apa? Tidakkah kau sadar kalau sikapmu membingungkanku...? Terkadang kau baik padaku, tapi terkadang kau jahat dan menjahiliku..."
"Sebenarnya kau ini apa!?"
Mata Siwon melebar ketika melihat sepasang iris karamel itu berkaca-kaca. "K-Kyu..."
"Kau ingin aku bagaimana!? Kau ingin aku terlihat seperti penggoda suami orang!? Atau kau ingin membuatku terlihat seperti mantan kekasih yang menunggu seorang duda!? Heol! Aku bahkan tidak tahu kau ini duda atau bukan dan aku tidak peduli!" teriak Kyuhyun marah, tapi setetes air mata lolos dari matanya.
"Nappeun neom..." ucapnya sebelum kemudian pergi meninggalkan Siwon yang terpaku diam disana sendirian...
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
Maaf bagi readers yang minta part 7B dan 7C digabung. Bukannya ga' mau, tapi ternyata panjaaaaaaaaang bget. Hampir 12.000 kata, saya takut readers bosan. Jdi sya ptong jadi dua. Utk chapter dua mdah-mdahan scepatnya. Krna ternyata ada banyak typo yang harus sya prbaiki. Oh ya, satu lagi. Ketika sya bca d chapter2 sbelumnya, trnyata sya salah mnulis umurnya Suho. Jdi bru d prbaiki d chap ini. Maaf ne?
Oke! Sampai ketemu d chapter brikutnya~
