Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha, Internet, et cetera. No commercial profit taken.


Kamui Gakupo percaya diri dengan kemampuannya sebagai single parent. Pekerjaan rumah apa pun bisa ia kerjakan. Cuci baju? Asal mengerti cara kerja mesin cuci, mudah. Engsel pintunya rusak? Sediakan engsel baru dan obeng, masalah selesai. Kancing di seragam anaknya lepas? Pengertian menjahit dasar jadi penyelamat.

Kamui Gakupo percaya diri dengan kemampuannya sebagai single parent. Meskipun baru kali ini Ryuuto tumbang karena flu musim panas, Gakupo yakin bisa merawat anaknya itu dengan luar biasa baik.

Suatu subuh, begitu mendengar anaknya mengeluh sakit, Gakupo langsung menyeka keringat Ryuuto, memandikan Ryuuto, mengganti kompres, dan sigap mengukur suhu tubuh anaknya. Telaten sekali, saudara-saudara. Segala urusan rawat-merawat dia lakukan dengan cekatan. Semua berjalan lancar sampai akhirnya Ryuuto, dalam keadaan demam tiga puluh derajat Celcius, mengatakan kalimat ajaib.

"Ayah, aku mau makan."

Kamui Gakupo percaya diri dengan kemampuannya sebagai single parent. Pekerjaan rumah apa pun bisa ia kerjakan. Ya, apa pun.

Kecuali memasak.


Ayah Mendadak Drama

by chounojou (Id: 2221272)


Terakhir kali Gakupo memasak adalah dua hari lalu, memasak mie instan. Sebenarnya Gakupo bisa saja memasak mie instan lagi hari ini, tapi ada dua pertimbangan yang mencegahnya. Satu, Ryuuto ini sedang sakit, mana mungkin Gakupo memberinya mie instan? Dua, seorang dewa iblis telah memberi mandat bahwa mie instan hanya boleh dimakan dua minggu sekali. Mie instan dua hari yang lalu adalah jatah untuk dua minggu ini, dan Gakupo terlalu takut untuk melanggar peraturan yang sudah sang dewa iblis tetapkan.

Dengan mie instan (sudah pasti) keluar dari daftar kemungkinan, Gakupo memikirkan strategi lain. Ya, Gakupo masih memiliki pilihan lain, yaitu membeli dari toko. Masalahnya, toko mana yang buka pukul empat subuh begini? Yak, toko dicoret dari daftar.

Satu-satunya cara, Gakupo harus memasak.

Gakupo mencoba berpikir positif. Dia ingat kata-kata yang sering dia dengar di iklan, "Cari saja di Gugel!" Menuruti kata-kata itu, Gakupo membuka ponselnya, berniat mencari resep bubur. Yang dia lupa, ponselnya adalah ponsel jadul yang fungsinya hanya telepon, sms, dan jam alarm.

Kini Gakupo menyesali keputusannya untuk tidak mengikuti perkembangan zaman.

Gakupo tidak menyerah. Dia ingat di dekat kompleksnya ada pasar. Pasar yang sudah buka di jam-jam ini. Di pasar nanti, pasti banyak ibu-ibu. Mereka pasti mau menjawab kalau ditanya cara membuat bubur untuk anak sakit flu.

Maka dengan keyakinan yang menggebu itu berangkatlah Gakupo ke pasar.


Benar saja, Gakupo pulang dengan tangan penuh belanjaan dan sebuah catatan lengkap tentang cara memasak bubur. Dengan langkah yang agak cepat, Gakupo berjalan—nyaris berlari—ke apartemennya. Agak kesulitan mencari kunci karena tangannya penuh, Gakupo mendengar sayup suara dari dalam apartemennya. Bukan suara Ryuuto. Suara yang berat dan dalam ini….

… membuat Gakupo merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat.

"Rumah macam apa yang tidak punya beras di dapurnya?" adalah kata-kata yang menyambut Gakupo begitu dia membuka pintu.

Gakupo menatap sosok di depannya, lalu melirik jam di ruang depan.

"Kok?"

"Ryuuto menelepon ibu," jawab si 'sosok', menanggapi pertanyaan tidak jelas Gakupo.

"Dapat kunci dari?"

"Ibu."

Gakupo terdiam. Sosok di hadapannya kini, daripada seperti dewa iblis, terlihat lebih seperti malaikat. Tidak melebih-lebihkan, Gakupo bisa melihat sayap putih di punggung kakaknya itu. Melupakan statusnya sebagai ayah satu anak, Gakupo menerjang sang kakak, memeluknya sambil meneriakkan namanya keras.

"SACHIKOOOOOO AKU CINTA KAU!"

"Ayah, diamlah."

"Ah, Ryuuto, maaf." Terima kasih kepada Ryuuto yang kemudian mengingatkan Gakupo kembali akan statusnya.

"Dari mana saja kau?" Sachiko, sang kakak sekaligus dewa iblis yang Gakupo takuti, bertanya langsung. Duduknya tegap sekali, dan Gakupo selalu takut pada kakaknya yang tengah duduk tegap. Ralat, Gakupo selalu takut pada kakaknya.

"Pasar," jawab Gakupo, menyodorkan belanjaan yang sedari tadi dia bawa. Sachiko menatap belanjaan Gakupo, menilai apakah Gakupo berbelanja dengan waras. Takutnya Gakupo membeli bahan tidak penting, mengingat adiknya ini hanya mengunjungi pasar tiga kali seumur hidup. Empat kali dengan yang ini.

"Lumayan," kata Sachiko, lalu mengambil belanjaan itu dan berdiri. Gakupo hanya menatap kakaknya kagum. Dan takjub. Dan dia sadar bahwa kakaknya juga menatapnya. Dengan tatapan seram.

"E-eh? Kenapa?" tanya Gakupo. Sachiko masih menatapnya seram, berkata dengan nada rendah yang terdengar menyeramkan karena suara Sachiko yang dari sananya sudah berat.

"Kau ikut juga dan lihat bagaimana cara memasaknya."

Dan Gakupo menurut saja.

Dan Sachiko menyesalinya beberapa saat kemudian karena Gakupo dua kali hampir menjatuhkan tempat garam ke panci buburnya.


"Mau minum, Ryuuto?" Gakupo mengecek keadaan anaknya. Ryuuto membuka selimutnya, berusaha duduk. Dengan lemah dia mengangguk. Gakupo langsung duduk di samping Ryuuto dan menyerahkan air untuk Ryuuto.

"Pelan-pelan saja," kata Gakupo, membantu Ryuuto minum. Sempurna sekali. Ya, sempurna, bagi orang yang tidak tahu bahwa Gakupo menghancurkan tiga butir telur di dapur sebelum ini.

"Buburnya sudah jadi," Sachiko masuk ke kamar sambil membawa bubur yang beberapa kali hampir Gakupo hancurkan. Untungnya dewa iblis kita ini sakti, dia berkali-kali berhasil mencegah ulah adiknya. Sachiko butuh applause.

"Kau masih bangun jam segini?" tanya Gakupo, setelah melihat bahwa jam kini menunjukkan pukul setengah enam pagi.

"Aku dan ibu memang selalu sudah bangun pagi-pagi sekali. Kau lupa?" Sachiko menjawab dengan ringan tapi menusuk. "Kau sudah mulai pikun sekarang?"

"Ya, Ayah, aku saja ingat." Bum. Dari Ryuuto. "Ayah memang sudah pikun, Bibi." Dar. Lagi. Dari Ryuuto.

"Ah ... aku tidak kepikiran menelepon ibu tadi...," gumam Gakupo agak malu. Diusap-usapnya kepala Ryuuto, niatnya memuji karena Ryuuto pandai bisa kepikiran menelepon neneknya.

"Ayah pasti lupa juga, kan?"

"Hm? Lupa apa?"

"Minggu depan ada karya wisata. Aku harus bawa bekal empat sehat lima sempurna."

Gakupo tidak lupa. Gakupo tidak akan pernah lupa. Dia sudah memikirkan hal ini berkali-kali dari sejak pertama dia mendengarnya. Pikirnya dia hanya akan membeli makanan dari toko saja, tapi dia bingung harus apa. Dalam gerakan lambat, Gakupo melirik ke arah kakaknya. Untungnya sang kakak merangkap dewa iblis kita ini sakti. Dia langsung menyadari arti tatapan adiknya yang selalu bisa diandalkan kecuali untuk hal memasak.

"Baiklah, aku akan datang membuatkan bekal untuk minggu depan."

"SACHIKOOOOOOOO AKU CINTA KAAAAUUUUUU!"

"Ayah, berisik."

Kamui Gakupo percaya diri dengan kemampuannya sebagai single parent. Pekerjaan rumah serumit apa pun, perbaikan rumah seperti apa pun, Gakupo bisa mengatasinya. Hanya saja, Gakupo juga mengakui bahwa dia akan mendadak bego dalam urusan memasak.

Beruntung, ada dewa iblis yang selalu bisa Gakupo andalkan.

Memang benar, harta yang paling indah adalah keluarga.