Pintu menuju The Pit tertutup dan aku sendiri. Aku belum pernah melewati terowongan ini sejak hari Upacara Pemilihan. Aku ingat saat melewatinya, langkahku terseok-seok sambil berusaha mencari cahaya. Sekarang, aku melewatinya dengan langkah tenang. Aku tak membutuhkan cahaya lagi.

Sudah empat hari berlalu sejak aku bicara dengan Chungha-noona. Sejak itu, Erudite telah menerbitkan dua artikel tentang Abnegation. Artikel yang pertama, menuduh Abnegation menahan kemewahan seperti mobil dan buah-buahan segar dari faksi lainnya untuk memaksakan kepercayaan mereka tentang sikap tak mementingkan diri sendiri pada semua orang. Saat membacanya, aku teringat kakak perempuan Jun, Seolhyun, yang menuduh ibu telah menimbun barang-barang.

Artikel kedua, membahas tentang gagalnya sistem pemilihan pegawai pemerintahan berdasarkan asal Faksi. Mereka mempertanyakan mengapa hanya mereka yang menganggap dirinya tak memiliki rasa pamrihlah yang seharusnya berada di pemerintah. Mereka mengajukan kembalinya sistem politik pemilihan demokrasi seperti masa lalu. Terasa sangat masuk akal dan membuatku menduga ini sebentuk revolusi yang dibungkus cadar rasionalitas.

Aku tiba di ujung terowongan. Ada jaring yang merentang di bawah lubang yang menganga, persis seperti terakhir kali aku lihat. Aku memanjat tangga ke panggung kayu di bawah jaring dan meraih pegangan tempat jaring dan meraih pegangan jaring itu diikatkan. Aku takkan bisa mengangkat tubuhku sendiri saat aku pertama kali sampai di sini, tapi sekarang aku melakukannya tanpa pikir panjang. Lalu, aku berguling ke bagian tengah jaring.

Di atasku ada gedung kosong yang menjulang di tepi lubang. Juga, ada langit yang membentang. Warna biru kelam dan tanpa bintang. Tidak ada bulan yang bersinar.

Artikel tadi menggangguku, tapi aku memiliki teman-teman yang menghiburku, dan itulah yang penting. Saat artikel yang pertama dirilis, Yuju menggoda salah seorang koki di dapur Dauntless dan koki itu mengizinkan kami membanting-banting adonan kue. Setelah artikel kedua, Yuri dan Soojung mengajariku bermain kartu dan kami bermain selama dua jam di ruang makan.

Tapi malam ini, aku ingin sendirian. Lebih dari itu, aku ingin merenung kenapa aku datang kemari dan kenapa aku begitu yakin untuk berada di sini sampai-sampai aku rela lompat dari gedung, bahkan sebelum aku tahu apa artinya menjadi seorang Dauntless. Jemariku bergantian mencengkeram sela-sela jaring di bawahku.

Aku ingin seperti Dauntless yang kulihat di sekolah. Aku ingin bisa bersuara lantang, pemberani, dan bebas seperti mereka. Tapi, mereka belum menjadi anggota. Mereka cuma berlagak seperti seorang Dauntless. Dan, begitu juga diriku saat aku melompati atap itu. Aku tidak tahu rasa takut itu seperti apa.

Selama empat hari ini, aku menghadapi empat ketakutan disimulasi. Yang pertama, aku diikat di tiang dan Minhyuk menyalakan api di sekeliling kakiku. Yang kedua, aku sekali lagi tenggelam. Kali ini di tengah laut dengan ombak yang bergelora di sekelilingku. Yang ketiga, aku melihat keluargaku mati pelan-pelan. Dan, yang keempat, aku ditodong pistol, lalu dipaksa menembak keluargaku sendiri. Sekarang, aku baru tahu apa itu rasa takut.

Angin bertiup kencang di bibir lubang dan menghempas tubuhku. Aku menutup mata. Di benakku, aku membayangkan berdiri di pinggir atap lagi. Aku melepaskan kancing baju Abnegationku yang berwarna abu-abu, menunjukkan lenganku. Menunjukkan lebih banyak bagian tubuhku yang pernah dilihat orang sebelumnya. Aku meremas kaus itu menjadi bola dan melemparkannya ke dada Minhyuk.

Aku membuka mata lagi. Tidak, aku salah. Aku melompat dari atap bukan karena aku ingin seperti Dauntless. Aku melompat karena aku memang seperti mereka dan aku ingin menunjukkan diriku pada mereka. Aku ingin bagian diriku itu diakui karena Abnegation memaksaku untuk menyembunyikannya.

Aku mengulurkan tangan ke atas dan meraih jaring lagi. Kuulurkan kakiku sejauh munkin. Aku menaiki jaring itu setinggi yang kubisa. Langit malam terlihat kosong dan sunyi. Dan, untuk pertama kalinya selama empat hari ini, pikiranku juga ikut kosong dan sunyi.

—oOo—

Aku memegangi kepala dan menarik napas dalam-dalam. Hari ini simulasinya sama seperti kemarin. Seseorang menodongku dengan senjata dan menyuruhku menembak keluargaku. Saat aku mengangkat kepala, aku melihat V mengamatiku.

"Aku tahu simulasinya bukan sungguhan," kataku.

"Kau tak perlu menjelaskannya padaku," jawabnya. "Kau mencintai keluargamu. Kau tidak mau menembak mereka. Itu bukan alasan yang paling tidak masuk akal di dunia."

"Di simulasilah, satu-satunya kesempatan aku bisa bertemu mereka," kataku. Walaupun ia bilang aku tak perlu menjelaskannya, aku merasa harus menjelaskannya kenapa ketakutan ini begitu sulit kuhadapi. Aku meremas tanganku dan membukanya. Kulit di balik kukuku masih berdarah—belakangan ini aku menggigitinya saat tertidur. Tiap pagi aku terbangun dengan tangan berdarah. "Aku kangen mereka. Apa kau tak pernah ... merindukan keluargamu?"

V menunduk, "Tidak," akhirnya ia menjawab. "Aku tidak merindukan mereka. Tapi, itu memang tidak wajar."

Itu memang tidak wajar. Saking anehnya itu mengalihkan pikiranku akan gambaran menodongkan sejata ke dada Namjoon-hyung. Keluarga seperti apa yang ia miliki sampai ia tak lagi memedulikan mereka?

Aku berhenti di depan pintu dan menatap ke arahnya.

Apa kau seperti aku? Tanyaku padanya dalam hati. Apa kau seorang Divergent?

Bahkan, hanya memikirkan kata itu rasanya berbahaya. Matanya menatap mataku erat dan saat detik berlalu, tatapannya melunak. Aku bisa mendengarkan detak jantungku sendiri. Aku melihatnya terlalu lama, tapi kemudian, V juga melihatku. Aku merasa seakan kami berdua mencoba mengatakan sesuatu yang tidak boleh didengar orang, tapi aku bisa membayangkannya. Terlalu lama—bahkan sekarang lebih lama lagi, degup jantungku terasa makin keras. Matanya yang tenang seperti menelanku hidup-hidup.

Aku membuka pintu dan bergegas menyusuri lorong.

Tidak seharusnya aku begitu mudah terganggu olehnya. Seharusnya aku tak bisa memikirkan hal lain selain inisiasi. Simulasi ini seharusnya lebih menggangguku. Seharusnya memecah belah pikiranku seperti yang dialami oleh peserta inisiasi lainnya. Minwoo sampai tidak tidur—ia cuma meringkuk sambil menatap dinding. Junhong menjerit tiap malam kerena bermimpi buruk dan menangis lirih di balik bantalnya. Mimpi-mimpi burukku dan jariku yang habis kugigiti, tak lebih buruk dari apa yang dia alami.

Teriakan Junhong selalu membangunkanku. Saat aku terjaga, aku menatap ranjang di atasku dan bertanya-tanya apa yang salah denganku. Aku masih saja merasa kuat saat yang lainnya mulai merasa rapuh. Apakah dengan menjadi seorang Divergent membuatku kuat, atau ada yang lain?

Saat aku kembali ke asrama, aku berharap menemukan hal yang sama seperti kemarin: beberapa peserta inisiasi yang berbaring di ranjang atau melamun. Namun, mereka malah bergerombol di ujung ruangan. Yongguk berada di paling depan sambil menghadap papan tulis, jadi aku tak bisa melihat apa yang tertulis di sana. Aku pun berdiri di samping Jun.

"Apa yang terjadi?" bisikku. Kuharap itu bukan artikel lagi, karena aku tidak yakin apa aku bisa menghadapi satu permusuhan lagi.

"Ranking tahap dua," ujarnya.

"Kupikir tidak ada eliminasi setelah tahap dua," desisku.

"Memang tidak ada. Itu cuma laporan perkembangan, semacam itulah."

Aku mengangguk.

Papan itu membuatku gelisah. Rasanya seperti ada yang berenang-renang di dalam perutku. Yongguk mengangkat papan dan mengaitkannya pada sebuah paku. Saat ia minggir, ruangan mendadak sunyi dan aku menjulurkan leher untuk melihat apa isinya.

Namaku di posisi pertama.

Semuanya melihat ke arahku. Aku membaca daftarnya sampai ke bawah. Yuju dan Jun berturut-turut urutan ketujuh dan kesembilan. Minhyuk urutan kedua, tapi saat kulihat keterangan waktu yang tertulis di samping namanya, aku baru sadar kalau jarak di antara kami jelas-jelas sangat jauh.

Rata-rata waktu simulasi Minhyuk adalah delapan menit. Waktuku dua menit empat puluh lima detik.

"Bagus, Jungkook," ujar Jun pelan.

Aku mengangguk sambil menatap papan. Seharusnya aku senang mendapat ranking pertama, tapi aku tahu apa artinya. Jika sebelumnya Minhyuk dan teman-temannya membenciku, sekarang, mereka akan makin memusuhiku. Sekarang, akulah pengganti Hyunseung. Mungkin berikutnya mataku yang diincar. Atau malah lebih buruk.

Aku mencari-cari nama Junhong dan menemukannya di tempat paling bawah. Kerumunan para peserta inisiasi mulai menyebar, menyisakan aku, Minhyuk, Jun dan Junhong berdiri bersama-sama. Aku ingin menghibur Junhong. Aku ingin memberitahunya kalau satu-satunya alasan aku melakukannya dengan baik karena ada sesuatu yang berbeda dengan otakku.

Minhyuk pelan-pelan membalikkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya tegang. Bahkan, tatapan orang yang sedang melotot pun masih kalah menyeramkan dengan tatapannya padaku—tatapan penuh kebencian. Ia berjalan menuju ranjangnya, tapi di detik terakhir, ia membalikkan tubuhnya dengan cepat dan mendorongku ke dinding. Masing-masing tangannya memegangi bahuku.

"Aku tidak akan dikalahkan oleh orang Kaku seperti kau," desisnya. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sampai-sampai aku bisa mencium bau mulutnya yang apak. "Bagaimana kau bisa melakukannya, huh? Bagaimana kau bisa?"

Ia sedikit menarikku, lalu mendorongku kembali ke dinding. Aku menggertakkan gigi agar tidak berteriak walaupun rasa sakitnya menjalar di tulang belakangku. Jun menarik kerah baju Minhyuk dan menyeretnya menjauhiku.

"Jangan ganggu ia," ujarnya. "Cuma pengecut yang mengganggu lelaki lugu."

"Lelaki lugu?" ejek Minhyuk sambil menepis tangan Jun. "Kau ini buta, atau bodoh? Ia akan menyingkirkan kalian keluar dari peringkat itu dan juga keluar dari Dauntless, dan kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Itu semua karena ia tahu bagaimana caranya memanipulasi orang, sedangkan kau sendiri tidak tahu caranya. Jadi, nanti kalau kau sadar ia akan menghancurkan kita semua, beri tahu aku."

Minhyuk begegas keluar dari asrama. Exy dan Minwoo mengikutinya sambil memasang ekspresi jijik di wajah mereka masing-masing.

"Trims," kataku mengangguk ke arah Jun.

"Apa ia benar?" tanya Jun pelan. "Apa kau mencoba memanipulasi kami?"

"Bagaimana cara melakukannya?" aku berteriak padanya. "Aku hanya melakukan yang terbaik, seperti yang lainnya."

"Aku tidak tahu." Ia agak sedikit mengangkat bahu. "Dengan berpura-pura lemah, jadi kami mengasihanimu? Kemudian, berpura-pura kuat untuk menghancurkan kami?"

"Menghancurkanmu?" ulangku. "Aku teman-mu. Aku takkan melakukannya."

Ia tak berkata apa-apa. Aku tahu Jun tidak memercayaiku—tidak terlalu.

"Jangan bodoh, Jun," ujar Yuju sambil melompat turun dari tempat tidurnya. Ia melihatku tanpa rasa simpati lalu menambahkan, "Ia tidak berpura-pura."

Yuju lalu membalikkan tubuh dan pergi tanpa menutup pintu. Jun mengikutinya. Aku sendirian di ruang itu bersama Junhong. Urutan pertama dan terakhir.

Junhong tidak pernah terlihat kecil sebelumnya, tapi begitulah ia sekarang. Bahunya meringkuk turun dan tubuhnya melorot seperti kertas kusut. Ia duduk di tepi tempat tidur.

"Kau tidak apa-apa?"

"Ya," ujarnya.

Wajahnya memerah. Aku memalingkan muka. Menanyakan keadaannya itu tadi cuma basa-basi. Siapa pun bisa melihat kalau Junhong tidak baik-baik saja.

"Ini kan belum selesai," kataku. "Kau bisa menaikkan ranking-mu kalau kau..."

Kata-kataku terputus saat ia mendongak menatapku. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya jika aku harus menyelesaikan kalimatku. Tak ada strategi untuk tahap dua. Latihannya meresap jauh ke dalam lubuk hati kami dan menguji apa pun keberanian yang kami miliki.

"Tuh kan?" katanya. "Tidak semudah itu."

"Aku tahu, memang tidak mudah."

"Kau tak mungkin tahu," ujarnya menggeleng. Dagunya gemetar. "Bagimu ini mudah. Semua ini mudah."

"Itu tidak benar."

"Yeah, memang benar." Ia memejamkan mata. "Kau tidak membantuku dengan berpura-pura bersikap semuanya tidak mudah. Aku tidak—aku tidak yakin kau bisa membantuku."

Rasanya seperti berjalan di bawah derasnya hujan dan seluruh pakaianku basah. Rasanya berat, canggung, dan tidak berguna. Aku tidak tahu apakah dia menganggap memang tak ada yang bisa membantunya atau khusus ditujukan padaku yang tidak bisa membantunya. Tapi, kedua makna perkataannya itu tetap membuatku tidak enak. Aku ingin membantunya. Tapi, aku tak memiliki kekuatan untuk melakukannya.

"Aku...," aku membuka mulut bermaksud meminta maaf, tapi untuk apa? Karena aku lebih Dauntless dari dirinya? Karena tak tahu apa yang harus dikatakan?

"Aku cuma..." Air mata yang menggenang di pelupuk mata Junhong akhirnya tumpah juga membasahi pipi. "...ingin sendiri."

Aku mengangguk dan membalikkan tubuh. Meninggalkannya sendiri bukan ide yang bagus, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Pintu pun tertutup dan aku terus melangkah.

Aku melewati air minum pancur dan menyusuri terowongan yang kelihatannya tak berujung saat pertama kali aku tiba di sini, tapi sekarang aku hampir tak memedulikannya. Ini bukan pertama kalinya aku mengecewakan keluargaku setelah aku tiba di sini, tapi untuk beberapa alasan, rasanya memang seperti itu. Tiap kali aku membuat mereka kecewa, aku tahu apa yang harus aku lakukan, tapi memilih untuk tidak melakukannya. Kali ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku sudah kehilangan kemampuan mengetahui apa yang orang lain butuhkan? Apakah ada bagian diriku yang menghilang?

Aku terus melangkah.

—oOo—

Entah bagaimana aku tiba di aula yang kududuki di hari saat Hyunseung pergi. Aku tidak ingin sendiri, tapi sepertinya aku tidak memiliki banyak pilihan. Kupejamkan mata dan kupusatkan perhatian pada dinginnya batu yang kududuki dan lembapnya udara bawah tanah.

"Jungkook!" seseorang memanggilku dari ujung lorong. Yuri berlari kecil menghampiriku. Di belakangnya ada Sooyeon dan Soojung. Sooyeon sedang membawa muffin.

"Sudah kuduga aku akan menemukanmu di sini." Ia membungkuk di dekat kakiku. "Kudengar kau dapat ranking pertama."

"Jadi, kau mau memberiku selamat?" aku tersenyum sinis. "Ya, trims."

"Harus ada yang bilang," ujarnya. "Dan, aku yakin teman-temanmu tidak terlalu memberi selamat karena peringkat mereka tidak begitu tinggi. Jadi, nggak usah manyun dan ikut kami. Aku mau menembak muffin di kepala Soojung."

Ide itu begitu konyol sampai aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Aku bangkit dan mengikuti Yuri ke ujung aula di mana Soojung dan Sooyeon sedang menunggu. Sooyeon menyipitkan matanya ke arahku, tapi Soojung tersenyum lebar.

"Kenapa kau tidak pergi keluar dan merayakannya?" tanya Soojung. "Secara teknis, kau pasti masuk sepuluh besar kalau kau mempertahankan posisimu."

"Ia itu terlalu Dauntless untuk disaingi anak pindahan lainnya," ujar Yuri.

"Dan terlalu Abnegation untuk merayakannya," sindir Sooyeon.

Aku mengabaikannya. "Kenapa kau menembak muffin di kepala Soojung?"

"Ia bertaruh bahwa, aku tidak akan bisa membidik benda kecil dengan baik dari jarak tiga puluh meter," Yuri menjelaskan. "Aku berani taruhan ia tak punya cukup nyali berdiri membawa targetnya saat aku mencoba. Taruhan yang lumayan seru sih!"

Ruang latihan tempatku belajar menembak tidaklah jauh. Kami tiba di sana kurang dari satu menit dan Yuri menyalakan sakelarnya. Kelihatannya ruangan itu masih sama seperti terakhir kali aku di sana. Ada papan target di salah satu ujung ruangannya. Ada meja yang dipenuhi pistol di ujung lainnya.

"Mereka membiarkan benda-benda ini tergeletak begitu saja?" tanyaku.

"Yeah, tapi tidak ada isinya." Yuri menarik kausnya. Ada pistol terselip di balik ikat pinggang celananya, tepat di bawah sebuah tato. Aku melihat tato itu sambil menebak gambar apa itu, tapi ia keburu menurunkan kausnya lagi. "Oke," ujarnya. "Ayo berdiri di depan target."

Soojung pun berjalan dengan langkah lebar-lebar.

"Kau tidak sungguh-sungguh akan menembaknya, kan?" tanyaku pada Yuri.

"Ini bukan pistol asli," ujar Sooyeon pelan. "Di dalamnya ada peluru plastik. Paling, wajahnya akan terasa sakit, mungkin sedikit memar. Menurutmu kami bodoh, apa?"

Soojung berdiri di salah satu target dan meletakkan muffin di kepalanya. Yuri menutup sebelah mata saat ia mulai membidik.

"Tunggu!" teriak Soojung. Ia mencuil sedikit muffin itu dan langsung melemparkannya ke dalam mulut. "Mm-kay!" teriaknya. Kata-katanya terdengar tidak jelas. Ia mengacungkan ibu jari ke arah Yuri.

"Sepertinya ranking kalian bagus," ujarku pada Sooyeon.

Ia mengangguk. "Yuri kedua. Aku pertama. Soojung keempat."

"Kau pertama hanya karena sedikit lebih bagus," ujar Yuri sambil membidik. Ia menekan pelatuknya. Muffin di kepala Soojung terjatuh. Gadis itu bahkan tidak mengedipkan mata.

"Kami berdua menang!" teriak Soojung.

"Kau kangen faksi lamamu?" tanya Sooyeon padaku.

"Kadang-kadang," kataku. "Faksi lamaku lebih tenang. Tidak melelahkan seperti di sini."

Soojung mengambil muffin dari lantai dan menggigitnya. Yuri berteriak, "Jorok!"

"Inisiasi seharusnya menunjukkan siapa kita yang sesungguhnya. Itu sih kata Yongguk," ujar Sooyeon. Ia mengerutkan alis.

"V bilang itu semua untuk membuat kita siap."

"Yah, mereka tidak saling setuju."

Aku mengangguk. V pernah bilang visi Yongguk untuk Dauntless bukanlah visi yang seharusnya, tapi kuharap V bisa memberitahuku dengan jelas apa pendapatnya tentang visi sesungguhnya. Aku seringkali sekilas membayangkannya—Dauntless bersorak saat aku lompat dari gedung, tangan-tangan yang terjalin untuk menangkapku setelah aku meluncur di kabel gantung—tapi itu tidak cukup. Apa ia pernah membaca manifesto Dauntless? Apa itu yang ia percayai—tindakan pemberani?

Pintu ruang latihan terbuka. Nayoung, Jaewoon, dan V memasuki ruangan tepat saat Yuri melepaskan satu tembakan ke target lainnya. Peluru plastiknya terpental tepat di bagian tengah target dan bergulir di lantai.

"Kurasa aku mendengar sesuatu di sini," ujar V.

"Rupanya adikku yang bodoh," ujar Jaewoon. "Kalian tidak boleh ada di sini setelah jam latihan selesai. Hati-hati atau V akan melaporkan kalian pada Yongguk dan kalian akan kelihatan keren kalau dibotakin."

Yuri merengut dan meletakkan pistol. Soojung menyeberangi ruangan sambil menggigit muffin-nya. V memberi jalan untuk membiarkan kami pergi.

"Kau tidak akan lapor Yongguk, kan?" ujar Sooyeon sambil menatap V curiga.

"Tidak akan," ujarnya. Saat aku lewat di depannya, ia menyentuh punggungku dan mendorongku keluar. Telapak tangannya menekan tulang bahuku. Aku langsung merinding. Semoga ia tidak menyadarinya.

Yang lainnya berkalan menyusuri lorong. Jaewoon dan Yuri sibuk saling dorong. Soojung membagi muffin-nya dengan Nayoung. Sooyeon berjalan paling depan. Aku pun mengikuti mereka.

"Tunggu," ujar V. Aku membalikkan tubuh dan bertanya-tanya sisi V yang mana yang sekarang akan kulihat—yang suka mengejekku atau yang memanjat Kincir Bianglala bersamaku. Ia sedikit tersenyum, tapi senyumnya tak begitu lebar, seperti senyum yang tegang dan cemas.

"Kau pantas berada di sini, kau tahu itu, kan?" ujarnya. "Kau pantas bersama kami. Ini akan segera selesai, jadi bertahanlah, oke?"

Ia menggaruk bagian belakang telinganya dan melengos seakan malu dengan perkataannya sendiri.

Aku menatapnya. Rasanya jantungku berlompatan ke sana kemari, bahkan sampai ke ibu jariku. Rasanya aku baru saja melakukan sesuatu yang berani, tapi aku bisa saja pergi begitu saja. Aku tak tahu pilihan mana yang lebih pintar atau lebih baik. Aku tak yakin apa aku peduli.

Aku mengulurkan tangan menyentuh tangannya. Jari-jari kami saling bersentuhan. Aku jadi tak bisa bernapas.

Aku mendongak menatapnya dan ia menunduk menatapku. Kami saling menatap cukup lama. Kemudian, aku menarik tanganku dan berlari mengejar Yuri, Sooyeon, dan Soojung. Mungkin sekarang ia akan menganggapku bodoh atau aneh. Mungkin memang layak seperti itu.

—oOo—

Aku kembali ke asrama sebelum yang lainnya kembali. Saat yang lainnya mulai berduyun-duyun datang, aku langsung naik ke tempat tidur dan berpura-pura tidur. Aku tak membutuhkan mereka, apalagi jika mereka bersikap seperti itu saat aku melakukan semuanya dengan baik. Kalau aku berhasil melewati inisiasi, aku akan resmi menjadi Dauntless dan aku tak perlu melihat mereka lagi.

Aku tak membutuhkan mereka—tapi apakah aku menginginkan mereka? Setiap tato yang kubuat bersama mereka adalah tanda persahabatan dari mereka. Dan, tiap kali aku tertawa di ruangan yang gelap ini, juga karena mereka. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Tapi, rasanya aku sudah kehilangan mereka.

Setelah setengah jam digelisahkan oleh begitu banyak hal berkelebat di pikiranku, aku telentang dan membuka mata. Asrama sekarang sudah gelap—semuanya sudah tidur. Mungkin mereka capek marah-marah padaku. Aku berpikir sambil tersenyum kecut. Sepertinya datang dari faksi yang paling dibenci tidak cukup, dan sekarang aku juga mengalahkan mereka.

Aku turun dari tempat tidur untuk mengambil air. Aku tidak haus, tapi aku harus melakukan sesuatu. Suara langkah kakiku yang telanjang menggema di lorong. Tanganku meraba-raba dinding untuk membantuku tetap berjalan lurus. Sebuah bohlam menyala kebiruan di atas air minum pancur.

Aku menyibakkan rambut ke salah satu sisi dan membungkuk. Saat air itu menyentuh bibirku, aku mendengar suara di ujung lorong. Aku berjingkat-jingkat mendekat sambil bersembunyi di kegelapan.

"Sejauh ini tak ada tanda-tandanya." Suara Yongguk. Tanda-tanda apa?

"Ya, kau belum terlalu sering melihatnya," jawab seseorang. Suara perempuan. Suaranya dingin dan tak asing. Tak asing, tapi seperti dari dalam mimpi, bukan sosok yang nyata. "Latihan bertarung takkan menunjukkan apa pun. Tapi, simulasi akan menunjukkan siapa saja para pemberontak Divergent, itu kalau memang ada, jadi kita harus memeriksa catatan beberapa kali untuk memastikannya."

Kata "Divergent" membuatku merinding. Aku membungkuk. Punggungku menempel di bebatuan untuk melihat siapa pemilik suara yang tidak asing itu.

"Jangan lupa kenapa aku meminta Jaehyung menunjukmu," ujar pemilik suara itu. "Prioritas pertamamu adalah menemukan mereka. Selalu."

"Aku tidak akan lupa."

Aku bergeser beberapa inci ke depan sambil masih berharap aku masih cukup tersembunyi. Siapa pun pemilik suara itu, ialah yang berkuasa. Ia yang bertanggung jawab atas posisi Yongguk sebagai pemimpin. Ia yang menginginkanku mati. Aku menjulurkan kepala ke depan dan mencoba melihat mereka sebelum mereka menghilang di tikungan.

Lalu, seseorang menarikku dari belakang.

Aku hampir berteriak, tapi sebuah tangan membekap mulutku. Wanginya aroma sabun dan tangan itu cukup besar untuk menutupi setengah wajahku. Aku meronta, tapi lengan yang memegangiku terlalu kuat dan aku menggigit salah satu jarinya.

"Ow!" teriak sebuah suara yang parau.

"Diam dan tutup mulutnya." Suara yang ini lebih tinggi dari suara pria kebanyakan dan lebih jelas. Minhyuk.

Sehelai kain hitam menutupi mataku dan ada sepasang tangan lagi yang mengikat kain itu di belakang kepalaku. Aku mencoba bernapas. Setidaknya ada dua tangan memegangi lenganku dan menarikku ke depan. Ada satu lagi di punggungku dan ikut mendorongku. Satu lagi menutupi mulutku agar aku tidak berteriak. Tiga orang. Dadaku terasa sakit. Aku tidak bisa melawan tiga orang sendirian.

"Aku jadi penasaran bagaimana kedengarannya kalau si Kaku ini minta ampun," ujar Minhyuk tertawa kecil. "Ayo cepat."

Aku mencoba fokus pada tangan di mulutku. Pasti ada sesuatu yang khas yang membuatnya mudah dikenali. Identidasnya adalah masalah yang bisa kuselesaikan. Aku harus menyelesaikan setidaknya satu masalah sekarang atau aku akan panik.

Tangan ini berkeringat dan lembut. Aku menggertakkan gigi dan bernapas melalui hidung. Wangi sabun ini tidak asing. Wangi lengrass dan sage. Wangi yang sama yang ada di tempat tidur Junhong. Perutku langsung bergolak.

Aku mendengar suara debur air di bebatuan. Kami ada di dekat tebing—kami pasti ada di atasnya jika ditilik dari suara gemuruh air. Aku mengatupkan bibir agar tak menjerit. Kalau kami ada di atas tebing, aku tahu apa yang akan mereka lakukan padaku.

"Angkat dia, ayo!"

Aku meronta. Kulit mereka yang kasar menggores kulitku, tapi aku tahu itu tak ada gunanya. Aku pun menjerit, padahal pasti tak ada yang bisa mendengarku di sini.

Aku akan bertahan sampai besok. Pasti.

Tangan-tangan mereka mendorongku ke atas dan membenturkan tulang. Dari lebar dan lengkungnya, benda itu adalah susuran besi. Susuran besi yang membatasi tebing. Aku tersengal-sengal dan udara dingin berembus di bagian belakang leherku. Tangan-tangan itu kemudian memaksaku membungkuk melewati susuran. Kakiku tak lagi menjejak lantai dan merekalah satu-satunya yang menahanku jatuh ke sungai.

Ada tangan meraba dadaku. "Kau yakin kau enam belas tahun, Kaku? Sepertinya kau tidak lebih dari anak umur dua belas tahun."

Kedua pemuda lainnya tertawa.

Ada rasa pahit yang menjalari tenggorokanku.

"Tunggu, sepertinya aku menemukan sesuatu!" tangan itu meremas tubuhku. Aku menggigit lidahku agar tak menjerit. Tawa mereka makin keras.

Tangan Junhong lepas dari mulutku. "Hentikan," bentaknya. Aku mengenali suaranya yang rendah dan khas.

Saat Junhong melepaskanku, aku meronta lagi dan jatuh ke lantai. Kali ini aku menggigit lengan pertama yang kutemukan sekuat mungkin. Aku mendengar teriakan dan gigitanku makin kuat, sampai aku bisa merasakan ada darah yang mengalir. Sesuatu yang keras menghantam wajahku. Panas menjalar di kepalaku. Rasanya pasti sakit kalau adrenalin di dalam tubuhku tidak sedang mengalir deras.

Anak itu menarik lengannya dariku dan melemparkanku ke lantai. Siku lenganku membentur batu dan aku mengangkat tangan ke kepala untuk melepaskan penutup mata. Sebuah tendangan bersarang di samping tubuhku dan mendesak udara keluar dari paru-paruku. Aku terkesiap dan batuk-batuk, mencakarkan tangan ke belakang kepalaku. Seseorang menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke sebuah benda yang keras. Aku menjerit kesakitan dan langsung merasa pusing.

Aku terhuyung-huyung dan meraba ke samping kepalaku untuk mencari simpul ikatan yang menutupi mata. Kutarik kain penutup itu ke atas, lalu mengedipkan mata. Pemandangan di hadapanku terlihat kabur. Aku melihat seseorang berlari ke arah kami dan seseorang lagi berlari menjauh—seseorang bertubuh besar, Junhong. Aku berpegangan di susuran dan berusaha berdiri tegak.

Minhyuk melingkarkan tangannya di leherku dan mengangkatku. Jempolnya menusuk bagian bawah daguku. Rambutnya yang biasanya berkilau dan halus, sekarang kusut dan menempel di dahi. Wajah pucatnya berkerut dan giginya menggertak. Ia mengangkatku melewati batas tebing dan mataku mulai berkunang-kunang. Ia tak berkata apa-apa. Aku mencoba menendanganya, tapi kakiku terlalu pendek. Paru-paruku sesak tak mendapat udara.

Lalu, kudengar teriakan dan Minhyuk melepaskanku.

Aku mengulurkan tangan saat terjatuh. Aku terkesiap saat ketiakku membentur susuran. Langsung kukaitkan siku di susuran dan mengerang. Hawa dingin menghempas pergelangan kaki. Dunia terasa seperti berputar dan seseorang berada di lantai The Pit—Minwoo—menjerit kesakitan. Aku dengar suara hantaman. Tendangan. Teriakan.

Aku berkedip beberapa kali dan sekuat mungkin memusatkan pikiran pada satu-satunya wajah yang bisa kulihat. Wajah yang dipenuhi kemarahan. Matanya berwarna biru tua.

"V," ujarku parau.

Aku menutup mata dan tangan nya merangkulku, tepat di bawah bahu. Ia menarikku naik ke atas melewati susuran. Aku bersandar di dadanya. V memelukku, menggendongku. Salah satu lengannya mengangkat bagian bawah lututku. Kubenamkan wajahku ke bahunya. Kesunyian yang merayapi kami berdua.

—oOo—

Aku membuka mata dan yang pertama kulihat adalah tulisan "Takutlah Hanya Kepada Tuhan" terlukis di dinding putih polos. Aku mendengar suara air mengalir lagi, tapi kali ini berasal dari keran, bukannya tebing. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku bisa melihat sekelilingku dengan jelas. Garis yang membentuk daun pintu, meja, dan langit-langit.

Rasa sakit terus mengedut dari kepala, pipi, dan tulang rusukku. Aku tak boleh bergerak karena hanya akan makin membuatku sakit. Selimut kain perca biru membungkus tubuh di bawah kepalaku. Aku bekernyit saat menggerakkan kepala agar bisa melihat dari mana asal suara air itu.

V berdiri di kamar mandi dengan tangan terendam di wastafel. Darah dari buku-buku jarinya membuat air di wastafel berubah menjadi merah muda. Ujung bibirnya sedikit sobek, tapi selebihnya ia kelihatan baik-baik saja. Espresinya tenang saat ia memeriksa luka sobeknya, lalu mematikan keran dan mengeringkan tangan dengan handuk.

Aku hanya samar-samar mengingat bagaimana aku bisa berada di sini. Dan, itu pun hanya berupa gambaran tunggal. Tinta hitam yang melingkar di salah satu lehernya, sudut sebuah tato, dan ayunan lembut yang kusimpulkan kalau V sedang menggendongku.

V mematikan lampu kamar mandi dan mengambil sekantong es dari kulkas di sudut ruangan. Saat ia melangkah mendekatiku, aku pikir aku akan menutup mata dan berpura-pura tidur. Tapi, mata kami terlanjur saling menatap. Terlambat.

"Tanganmu," ujarku parau.

"Tanganku bukan urusanmu," jawabnya. Ia berlutut di atas kasur dan membungkuk ke arahku untuk meletakkan kantong kompres itu di bawah kepalaku. Sebelum ia menarik tangannya, aku mengulurkan tangan untuk menyentuh sudut bibirnya yang terluka. Tapi, aku berhenti saat aku sadar apa yang akan kulakukan. Tanganku gemetar.

Apa ruginya? Tanyaku dalam hati. Aku sedikir menyentuh bibirnya dengan ujung jari.

"Jungkook," ujarnya tanpa melepaskan sentuhanku di bibirnya, "aku baik-baik saja."

"Kenapa kau ada di sana?" tanyaku sambil menurunkan tangan.

"Aku baru kembali dari ruang kendali. Kudengar ada teriakan."

"Lalu, apa yang kau lakukan pada mereka?"

"Aku mengirim Minwoo ke rumah sakit setengah jam lalu," ujarnya. "Minhyuk dan Junhong kabur. Minwoo mengaku kalau mereka cuma mencoba menakutimu. Setidaknya, kurasa itu yang coba ia katakan."

"Ia babak belur?"

"Ia akan baik-baik saja," jawabnya. Ia menambahkan dengan nada pahit, "Tapi dalam keadaan seperti apa, aku tak bisa bilang."

Salah rasanya mendoakan orang lain terluka hanya karena mereka lebih dulu menyakitiku. Tapi, rasa kemenangan yang tak terkira menjalariku saat memikirkan Minwoo ada di rumah sakit. Aku mencengkeram lengan V.

"Bagus," kataku. Suaraku terdengar kaku dan galak. Rasa marah mulai memuncak seakan menggantikan darahku dengan cairan pahit, memenuhiku, menggerogotiku. Aku ingin membanting sesuatu, atau memukul sesuatu, tapi aku tak berani bergerak, jadi aku hanya bisa menangis.

V membungkuk di samping tempat tidur dan menatapku. Tak ada simpati di matanya. Aku bersyukur, karena aku tak menginginkan simpatinya. V menarik tangannya, dan yang membuatku terkejut, V meletakkan tangannya di wajahku. Ibu jarinya menelusuri tulang pipiku. Jemarinya bergerak perlahan.

"Aku bisa melaporkan ini," katanya.

"Jangan," jawabku. "Aku tak mau mereka berpikir aku takut."

Ia mengangguk, membelai tulang pipiku beberapa kali. "Aku sudah tahu kau akan bilang begitu."

"Menurutmu buruk tidak kalau aku duduk?"

"Akan kubantu."

V memegangi bahuku dengan satu tangan dan memegangi kepalaku dengan tangan yang lainnya saat aku mendorong tubuhku bangkit. Rasa nyeri menjalari tubuhku seketika, tapi kucoba mengabaikannya sambil mengerang tertahan.

Ia menyodorkan kantong kompres. "Kau boleh teriak," ujarnya. "Cuma ada aku di sini."

Aku menggigit bibir bawahku. Air mata menetes di wajahku, tapi kami berdua tak mengungkitnya atau bahkan menyadarinya.

"Kusarankan mulai sekarang kau mengandalkan teman-teman pindahanmu untuk melindungimu," ujarnya.

"Tadinya kupikir begitu," kataku. Aku masih merasakan tangan Junhong di mulutku dan isakanku membuat tubuhku tersentak. Aku meletakkan tangan di dahi dan menggosok-gosoknya perlahan. "Tapi Junhong..."

"Ia mau kau tetap menjadi lelaki lugu dan polos yang pendiam dari Abnegation," ujar V lembut. "Ia menyakitimu karena kekuatanmu membuatnya merasa lemah. Tak ada alasan lain."

Aku mengangguk dan mencoba memercayainya.

"Yang lainnya takkan iri seperti itu kalau kau menunjukkan sedikit sisi rapuh. Bahkan, jika itu bohongan."

Menurutmu aku harus berpura-pura rapuh?" tanyaku sambil mengangkat alis.

"Ya, menurutku begitu." V mengambil kantong kompres itu. Jemarinya menyentuh jari-jariku dan meletakkan kompres itu di kepalaku dengan tangannya sendiri. Aku menurunkan tanganku. Aku terlalu ingin mengistirahatkan lenganku sampai tak merasa keberatan sedikit pun. V berdiri. Aku menatap keliman kausnya.

Terkadang, aku melihatnya seperti orang biasa, dan terkadang aku merasakan keberadaannya di dalam ulu hatiku, seperti rasa sakit yang mendalam.

"Pasti besok kau ingin datang sarapan dan menunjukkan pada mereka yang menyerangmu kalau mereka tak memengaruhimu," tambahnya, "tapi, kau harus menunjukkan memar di pipimu dan tetap menundukkan kepala."

Ide itu membuatku mual.

"Kurasa aku bisa melakukannya," jawabku enteng. Aku menatapnya.

"Harus."

"Kurasa kau tidak mengerti." Amarah menggelegak di wajahku. "Mereka menyentuhku."

Sekujur tubuh V menegang saat mendengar kata-kataku. Ia menggenggam kantong kompres lebih kuat. "Menyentuhmu," ulangnya. Matanya yang berwarna coklat hazel tua mendadak telihat dingin.

"Bukan... seperti yang kau pikirkan." Aku berdeham. Aku tak tahu saat aku mengatakannya akan terasa secanggung ini untuk dibicarakan. "Tapi... hampir."

Aku mengalihkan pandang.

V diam dan bergeming begitu lama sampai pada akhirnya aku harus mengatakan sesuatu.

"Ada apa?"

"Aku tak mau mengatakan ini," ujarnya, "tapi, seperti aku harus mengatakannya. Untuk sementara ini, lebih baik kau aman daripada benar. Mengerti?"

Alis kecokelatannya melengkung turun. Perutku terasa nyeri. Sebagian karena aku tahu ia benar, tapi aku tak mau mengakuinya. Sebagian lagi karena aku ingin sesuatu yang aku sendiri tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Aku ingin memperkecil jarak di antara kami sampai benar-banar hilang.

Aku mengangguk.

"Tapi tolong, saat kau lihat ada kesempatan..." V menyentuh pipiku. Tangannya dingin dan kuat. Ia menaikkan daguku ke atas sehingga aku menatap tepat ke arah wajahnya. Matanya bersinar. Sepasang mata itu terlihat buas. "Hancurkan mereka."

Aku tertawa sedikit gemetar. "Kau sedikit menakutkan, V."

"Tolong," ujarnya, "jangan panggil aku seperti itu."

"Terus aku harus memanggilmu apa?"

"Jangan panggil apa-apa." Ia melepaskan tangannya. "Jangan dulu."

—oOo—

Malam itu aku tak kembali ke asrama. Tidur satu ruangan dengan mereka yang baru menyerangku supaya terlihat berani itu sama saja bodoh. V tidur di lantai dan aku tidur di ranjangnya, menghirup wangi sarung bantalnya. Wanginya aroma deterjen dan wangi jantan yang khas, kuat, dan manis.

Ritme napasnya melambat dan aku bangun untuk melihat apakah ia sudah tertidur. V tidur telungkup dengan satu tangan menutupi kepalanya. Matanya terpejam. Bibirnya sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya, ia terlihat sesuai dengan usianya. Dan, aku bertanya-tanya siapa ia sebenarnya. Siapa ia ketika belum menjadi seorang Dauntless, sebelum menjadi instruktur, sebelum menjadi V, sebelum menjadi apa pun?

Siapa pun ia, aku menyukainya. Sekarang, bagiku lebih mudah mengakuinya, di dalam kegelapan seperti ini, setelah apa yang terjadi. Ia memang bukan sosok yang manis, lembut, dan baik. Tapi, ia pintar dan pemberani, walaupun ia baru saja menyelamatkanku, ia memperlakukanku seakan aku ini masih kuat. Cuma itu yang perlu kutahu.

Aku menatap otot di punggungnya yang naik turun sampai akhirnya jatuh tertidur.

Aku bangun dengan rasa sakit dan nyeri di tubuhku. Aku mengernyit saat bangkit untuk duduk, sambil memegangi tulang rusukku, dan berjalan menuju kaca kecil yang tergantung di dinding. Aku sedikit terlalu pendek untuk melihat bayanganku, tapi jika berjinjit, aku bisa melihat wajahku. Seperti yang kuduga, ada memar kebiruan di pipiku. Aku tak suka dengan kenyataan masuk ke ruang makan seperti ini, tapi instruksi V terus terngiang. Aku harus memperbaiki pertemananku. Aku butuh perlindungan dengan cara kelihatan lemah.

Kuperbaiki rambut undercutku, merapikan helaian poniku yang telah memanjang dan hampir menutupi alis. Pintu terbuka dan V melangkah masuk. Ia membawa handuk dan rambutnya berkilau basah oleh air mandi. Ada ketegangan menggeliat di perutku dan aku sedikit melihat tubuhnya saat ia mengangkat tangannya untuk mengeringkan rambut. Aku memaksakan diri untuk melihat wajahnya.

"Hai," sapaku. Suaraku terdengar kaku. Kuharap sebaliknya.

Ia menyentuh pipiku yang memar dengan ujung jarinya. "Tidak buruk," ujarnya. "Bagaimana kepalamu?"

"Baik," ujarku. Aku bohong—kepalaku berdenyut-denyut. Kusentuh benjol di kepalaku dan rasa nyeri langsung menusuk kulit kepalaku. Bisa jadi lebih buruk. Aku bisa saja berakhir mengapung di sungai.

Setiap otot di tubuhku menegang saat tangannya menyentuh samping tubuhku, tepat di mana aku ditendang. Ia melakukannya dengan santai, tapi aku tak bisa bergerak.

"Dan di samping sini?" tanyanya dengan suara rendah.

"Sakit kalau aku menarik napas."

Ia tersenyum. "Tak banyak yang bisa kau lakukan."

"Minhyuk mungkin akan mengadakan pesta kalau aku mati."

"Ya," ujarnya, "aku baru mau datang kalau ada kue."

Aku tertawa, lalu mengernyit. Tangan V menyentuh rusukku untuk meredakan sakitnya. Ia perlahan menggerakkan tangannya. Ujung jemarinya membelai sisi tubuhku. Saat jemarinya terangkat, ada rasa sakit di dadaku. Begitu saat ini berakhir, aku harus mengingat apa yang terjadi semalam. Dan, aku ingin berada di sini bersamanya.

V mengangguk ringan dan melangkah keluar mendahuluiku.

"Aku akan masuk duluan," ujarnya saat kami berdiri di luar ruang makan. "Sampai ketemu lagi, Jungkook."

Ia masuk dan aku sendiri. Kemarin V menyarankan agar aku berpura-pura lemah, tapi ia salah. Aku memang lemah. Aku bersandar di dinding dan menyentuh dahi. Sulit untuk menarik napas panjang, jadi aku menarik napas pendek-pendek. Aku tak boleh membiarkan ini terjadi. Mereka menyerangku untuk membuatku merasa lemah. Aku bisa berpura-pura mereka berhasil melakukannya agar aku aman, tapi aku tak bisa membiarkan ini terjadi.

Aku berdiri tegak lagi dan memasuki ruang makan tanpa berpikir apa-apa lagi. Setelah beberapa langkah, aku ingat aku harus terlihat gemetaran, jadi aku memperlambat langkahku dan merapat ke dinding sambil menunduk. Yuri yang duduk di meja dekat Jun dan Yuju, melambaikan tangan padaku. Lalu, menurunkannya lagi.

Aku duduk di samping Jun.

Junhong tak ada di sana—dia tak ada di mana-mana.

Yuri bergeser ke tempat duduk di sampingku. Ia meninggalkan muffin-nya yang baru separuh tergigit dan air yang tinggal setengah gelas di meja sebelah. Sejenak, mereka bertiga hanya memandangiku.

"Apa yang terjadi?" tanya Jun sambil menurunkan volume suaranya.

Aku melirik ke arah meja di belakang meja kami. Minhyuk duduk di sana sambil memakan sepotong roti bakar dan berbisik pada Exy. Tanganku mengepal kuat di pinggir meja. Aku ingin melukainya. Tapi bukan sekarang.

Minwoo tidak ada. Itu artinya ia masih ada di rumah sakit. Ada rasa puas yang jahat menjalariku saat memikirkan hal itu.

"Minhyuk, Minwoo,..." ujarku pelan, sambil menahan pinggangku saat mengulurkan tangan ke tengah meja untuk mengambil sepotong roti bakar. Rasanya sakit saat tanganku terulur, jadi aku benar-benar mengernyit dan membungkuk. "Dan..." aku menelan ludah. "Dan Junhong."

"Ya Tuhan," ujar Yuju terbelalak.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yuri.

Mata Minhyuk menatapku dari seberang ruang makan dan aku harus memaksakan diri untuk membuang muka. Rasanya memang pahit saat bersikap seakan ia menakutiku, tapi aku harus melakukannya. V benar. Aku harus melakukakan apa pun agar aku tak diserang lagi.

"Tidak juga," kataku. Mataku terasa panas dan itu bukan pura-pura. Aku mengangkat bahu. Aku percaya akan peringatan Chungha-noona sekarang. Minhyuk, Minwoo, dan Junhong hampir melemparku ke tebing karena iri—Para pemimpin Dauntless melakukan pembunuhan pun jadi tak terasa aneh.

Aku merasa tak nyaman. Rasanya seperti mengenakan topeng orang lain. Kalau aku tidak hati-hati, aku bisa mati. Aku bahkan tak bisa memercayai pemimpin faksiku sendiri. Keluarga baruku.

"Tapi, kamu kan cuma..." Yuri merengut. "Tidak adil. Tiga lawan satu?"

"Yeah, dan Minhyuk kan memang tak pernah adil. Itulah kenapa ia membekap Hyunseung saat tidur dan menusuk matanya," dengus Yuju sambil menggeleng. "Tapi, Junhong? Kau yakin, Jungkook?"

Aku menatap piringku. Akulah Hyunseung yang selanjutnya. Tapi, aku tak seperti dirinya. Aku takkan pergi.

"Yeah," ujarku. "Aku yakin."

"Pasti putus asa," ujar Jun. "Ia bertingkah... aku tak tahu. Seperti orang yang berbeda. Sejak tahap dua dimulai."

Lalu, Minwoo memasuki ruang makan. Aku menjatuhkan rotiku dan aku ternganga.

Menyebut Minwoo mengalami "memar" itu sama saja meremehkan. Wajahnya bengkak dan babak belur. Bibirnya sobek dan ada goresan luka di alisnya. Ia berjalan menuju mejanya sambil menunduk, bahkan tak melihatku sama sekali. Aku melirik ke seberang ruangan ke arah V. Ia memasang senyum puas yang kuharap bisa kumiliki.

"Kau yang melakukannya?" desis Jun.

Aku menggeleng. "Bukan. Seseorang—aku tak pernah melihatnya—menemukanku tepat sebelum..." aku menelan ludah. Mengatakannya keras-keras akan membuatnya kelihatan jauh lebih buruk, membuatnya sungguhan. "...aku dilempar dari tebing."

"Mereka mau membunuh-mu?" tanya Yuju dengan suara rendah.

"Mungkin. Mereka mungkin merencanakan menggantungku di sana cuma untuk menakutiku." Aku mengangkat bahu. "Sepertinya berhasil."

Yuju menatapku sedih. Jun menatap meja mereka geram.

"Kita harus melakukan sesuatu," ujar Yuri dengan suara rendah.

"Apa, memukuli mereka?" Yuju menyeringai. "Sepertinya sudah ada yang melakukannya."

"Bukan. Itu kan rasa sakit yang bisa hilang," jawab Yuri. "Kita harus mendepak mereka dari ranking. Itu akan menghancurkan masa depan mereka. Selamanya."

V bangkit dan berdiri di tengah ruangan. Percakapan langsung berhenti.

"Anak Pindahan. Kita akan melakukan sesuatu yang berbeda hari ini," ujarnya. "Ikuti aku."

Kami pun berdiri dan dahi Yuri berkerut. "Hati-hati," ucapnya padaku.

"Jangan khawatir," ujar Jun. "Kami akan melindunginya."

—oOo—

V membawa kami keluar dari ruang makan dan menyusuri jalur yang mengelilingi The Pit. Jun ada di sebelah kiriku dan Yuju di sebelah kananku.

"Aku tak pernah benar-benar bilang minta maaf," ujar Yuju perlahan. "Karena mengambil bendera yang sudah kau dapatkan. Aku tak tahu ada apa denganku."

Aku tak yakin apakah memaafkannya itu tindakan pintar atau tidak—termasuk memaafkan mereka berdua setelah apa yang mereka katakan padaku saat ranking diumumkan kemarin. Tapi, ibu pasti bilang orang memiliki kelemahan dan aku harus bersikap baik pada mereka. Dan, V juga bilang agar aku mengandalkan teman-temanku.

Aku tak tahu siapa yang lebih kuandalkan karena aku tak yakin siapa teman sejatiku. Yuri dan Soojung yang ada di sampingku saat aku kelihatan kuat atau Yuju dan Jun yang selalu melindungiku saat aku kelihatan lemah?

Saat mata Yuju yang lebar menatapku, aku mengangguk. "Lupakan saja yang itu."

Aku masih ingin marah, tapi aku harus membiarkan rasa marah itu menguap.

Kami naik lebih tinggi dari yang sebelumnya, sampai wajah Jun memucat tiap kali ia melihat ke bawah. Biasanya, aku suka ketinggian, jadi aku memegangi lengan Jun seakan aku butuh dukungannya—tapi sebenarnya, akulah yang meminjamkan lenganku untuknya. Ia tersenyum penuh syukur padaku.

V berbalik dan berjalan mundur beberapa langkah—mundur di jalur sempit tanpa ada pegangan. Seberapa baik ia mengenal tempat ini?

Ia melirik ke arah Minwoo yang berjalan susah payah di belakang barisan, lalu berkata, "Jangan ketinggalan, Minwoo!"

Itu lelucon yang jahat, tapi sulit bagiku untuk menahan senyum. Sampai mata V melihat lenganku menggamit lengan Jun dan humor seperti luntur dari mata V. Ekspresinya membuatku merinding. Apa ia... cemburu?

Kami makin lama makin mendekat ke langit-langit kaca, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat matahari. V menaiki tangga besi yang menuju lubang bukaan di atap. Tangganya berderak saat kuinjak dan aku menunduk, ke arah The Pit dan tebing di bawah sana.

Kami berjalan melewati kaca yang kini menjadi lantai dan bukan atap, menuju ruang silindris berdinding kaca. Sekeliling bangunan sudah setengah hancur dan kelihatannya ditinggalkan. Mungkin itulah kenapa aku tak pernah mengetahui markas Dauntless sebelumnya. Wilayah Abnegation pun jauh sekali dari sini.

Para Dauntless berkumpul di ruang kaca itu dan berbicara berkelompok. Di sisi ruangan ada dua Dauntless bertarung menggunakan kayu. Mereka tertawa saat salah satunya meleset dan hanya memukul angin belaka. Di atasku, ada dua tali terbentang melewati ruangan, salah satunya lebih tinggi beberapa meter dari yang lainnya. Mungkin ada hubungannya dengan aksi maut yang biasa dilakukan oleh anggota Dauntless.

V membawa kami memasuki sebuah pintu. Di balik pintu itu, ada tempat luas yang lembap dengan dinding bergrafiti dan pipa-pipa terbuka. Ruangan itu diterangi serangkaian tabung pijar model lama dengan pembungkus plastik—lampu-lampu kuno.

"Ini," ujar V. Matanya terlihat terang di tengah cahaya temaram seperti ini, "adalah jenis simulasi yang berbeda yang dikenal sebagai ruang ketakutan. Memang sengaja tidak dinyalakan, jadi selanjutnya tak akan seperti ini lagi saat kalian masuk lagi."

Di belakangnya, kata "Dauntless" dibentuk menggunakan cat semprot dalam tulisan artistik berwarna merah di dinding beton.

"Selama simulasi, kami telah menyimpan data tentang ketakutan terburuk kalian. Di ruang ketakutan ini, data itu diakses dan disajikan dalam serangkaian rintangan visual. Beberapa rintangan merupakan ketakutan yang pernah kalian hadapi dalam simulasi. Beberapa munkin ketakutan baru. Bedanya, di ruang ketakutan ini, kalian sekarang lebih waspada dan tahu kalau ini cuma simulasi. Jadi, kalian harus menggunakan akal untuk melewatinya."

Artinya, semuanya akan seperti Divergent di ruang ketakutan ini. Aku tak tahu apakah ini membuatku lega karena aku takkan bisa terdeteksi, atau menjadi masalah karena aku takkan memiliki kelebihan apa pun di sini.

V melanjutkan, "Jumlah ketakutan yang kalian hadapi di ruang ini nanti bervariasi tergantung seberapa banyak jumlah ketakutan kalian."

Berapa macam ketakutan yang kumiliki? Aku membayangkan menghadapi burung-burung gagak itu lagi, dan aku langsung merinding walaupun udara terasa hangat.

"Aku sudah bilang sebelumnya kalau tahap ketiga inisiasi akan terfokus pada persiapan mental," ujarnya. Aku ingat ia pernah bilang begitu. Di hari pertama. Tepat sebelum ia menodongkan pistol ke kepala Minhyuk. Andai saja waktu itu ia benar-benar menarik pelatuknya.

"Itu karena tahap ketiga mengharuskan kalian mengendalikan baik emosi dan tubuh kalian—mengombinasikan kemampuan fisik yang kalian pelajari di tahap satu dengan penguasaan mental yang kalian pelajari di tahap dua. Agar kalian bisa naik satu tingkat." Salah satu lampu pendar di atas kepala V tak lagi menatap kerumunan peserta inisiasi dan terpusat menatapku.

"Minggu depan kalian akan memasuki dan mengatasi ruang ketakutan kalian secepat mungkin di depan beberapa orang pemimpin Dauntless. Itu akan menjadi tes final kalian yang akan menentukan ranking kalian di tahap tiga. Seperti tahap dua yang dinilai lebih sulit dari tahap satu, tahap tiga memiliki bobot penilaian yang paling besar dari semuanya. Mengerti?"

Kami semua mengangguk. Termasuk Minwoo yang kelihatannya kesakitan sekali.

Kalau berhasil di tes final nanti, aku akan memiliki kesempatan bagus masuk ke dalam sepuluh besar dan berpeluang besar menjadi anggota. Menjadi seorang Dauntless. Membayangkannya membuatku hampir sakit kepala karena rasa lega.

"Kalian bisa melewati setiap rintangan dengan salah satu dari dua cara. Entah itu kalian bisa tetap tenang sehingga saat simulasi nanti detak jantung kalian normal dan wajar. Atau, kalian menemukan cara untuk mengatasi ketakutan kalian, yang akan mendorong simulasinya bergerak. Salah satu cara menghadapi rasa takut tenggelam adalah dengan berenang lebih dalam, misalnya begitu." V mengangkat bahu. "Jadi, kusarankan kalian menggunakan waktu minggu depan untuk memikirkan ketakutan kalian dan mengembangkan strategi untuk menghadapinya."

"Itu kedengarannya tidak adil," ujar Minhyuk. "Bagaimana jika satu orang cuma memiliki tujuh rasa takut, sedangkan yang lainnya punya dua puluh? Itu kan bukan salah mereka."

V menatapnya beberapa detik, lalu tertawa. "Apa kau benar-benar ingin berbicara apa yang adil denganku?"

Kerumunan peserta inisiasi memberi jalan saat V melangkah mendekati Minhyuk dengan tangan terlipat dan berujar dalam suara mematikan, "Aku mengerti kenapa kau khawatir, Minhyuk. Kejadian semalam benar-benar membuktikan kalau kau memang pengecut yang menyedihkan."

Minhyuk balik menatapnya tanpa ekspresi.

"Jadi, sekarang kita semua tahu," ujar V pelan, "kalau kau takut pada seorang lelaki lugu kurus dari Abnegation." Senyum tersungging di bibirnya.

Jun merangkulku. Bahu Yuju berguncang menahan tawa. Dan, ada bagian di dalam diriku yang ikut tersenyum juga.

—oOo—

Saat kami kembali ke asrama siang itu, Junhong ada di sana.

Jun berdiri di belakangku dan memegangi bahuku—memegangiku dengan ringan, seakan mengingatkanku kalau ia di sana. Yuju bergeser mendekatiku.

Mata Junhong digelayuti kantung hitam dan wajahnya bengkak karena banyak menangis. Ada rasa nyeri menusuk-nusuk perutku saat kulihat ia. Aku bergeming. Aroma lemongrass dan sage, yang tadinya aroma yang menyenangkan, berubah menjadi aroma kecut menusuk hidungku.

"Jungkook," ujar Junhong memecah keheningan. "Boleh aku bicara denganmu?"

"Kau bercanda?" Jun meremas bahuku. "Kau tak boleh mendekatinya lagi, selamanya."

"Aku tak akan menyakitimu. Aku tak pernah berniat ..." Junhong menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku cuma mau bilang aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal aku tidak ... aku tidak tahu apa yang salah denganku, aku ... tolong maafkan aku, kumohon ..."

Ia mengulurkan tangan seakan mau menyentuh bahu atau tanganku. Wajahnya sembap penuh air mata.

Di lubuk hatiku, ada sosok yang pemaaf dan memberi ampun. Ada bagian diriku yang berupa seorang lelaki yang mencoba mengerti apa yang sedang orang lain alami, yang menerima kenyataan bahwa orang bisa berbuat jahat, dan rasa putus asa telah membawa mereka memasuki ruang terkelam yang belum pernah mereka bayangkan. Aku bersumpah bagian diri itu masih ada. Dan, bagian di itu akan ikut terluka saat melihat pemuda penuh penyesalan yang sekarang berdiri di hadapanku.

Tapi, jika aku mendapati sosok seperti itu, aku takkan mengenalinya.

"Jauhi aku," kataku pelan. Tubuhku terasa kaku dan dingin. Aku bukannya marah. Bukan juga terluka. Aku tak merasakan apa-apa. Dengan suara rendah aku berkata, "Jangan pernah dekati aku lagi."

Kami saling menatap. Matanya hitam dan kosong. Aku tak merasakan apa-apa.

"Kalau kau nekat, aku bersumpah akan membunuhmu," ujarku. "Dasar pengecut."

Dan pada akhirnya langkah kakiku tegas, meninggalkan sosoknya yang kini sudah terjatuh kian dalam.

—T B C—

Potong disini dulu. Ehe.

Untuk beberapa orang mungkin tahu kenapa saya jarang apdet di ffn? Hamdalah ini ngga akan kesuspen lagi. Ehe. Untuk typo dan jika masih menemukan nama karakter yang sama... maafkan, malas reediting. Ehe.

Ciyeee, baper ya sama perkembangan hubungan taekook? Yang ngikutin novel/film pasti tahu dong perkembangan hubungan fourtris kedepannya setelah chap ini? Ada yang spesial loh dari petra yang ngga ada di novel nya nanti. Ehe.

Sampai jumpa chap berikutnya.

.

Btw, adakah dari kalian yang berdomisili di Samarinda?