Disclaimer: PS Company, Under Records, Braveman Records, CLJ Records

Fandom [s]: the GazettE

Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'

Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv

Enjoy!


Previously on "Smile, Aoi-kun!"

"Titip Sakura ya..."

"Keh,tidak kau suruh pun aku akan menjaganya. Sebaiknya kau pikirkan cara untuk pergi dari New York. Tuan putri sudah lelah menunggu."

"Kalau aku bisa Kai. Doakan aku."

"hn~"


==x==

Dua hari berlalu sejak kejadian tabrak lari itu. Kai memberi tahu Sakura bahwa hari pernikahan Aoi sudah ditetapkan. Aoi akan menikah dengan Kallen hari Sabtu minggu depan di New York. Aoi membocorkan ia akan menikah di gereja yang cukup mewah di pinggir kota.

Kai menyusun segala rencana karena Aoi menyatakan bahwa ia sudah tidak bisa keluar dari New York selangkah pun. Ayahnya cukup berkuasa di sana untuk menyeret Aoi kembali ke 'kandang'. Kai mengatakan semua rencananya pada anak-anak OSIS. Semua anak OSIS.

"Kau yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Uruha khawatir.

"Yeah. Aku 100% yakin. So? How about you guys? Are you in?" Jawab Kai mantab.

"Yah karena pada dasarnya aku adalah pengikut Aoi, I am in." ujar Reita disusul anggukan Ruki.

"Sakura-Aoi adalah OTP ku *lol* so I am in." ucap Uruha.

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Kai pada anak-anak Arisu.

"Kau perlu bertanya Kai? Kami tentu saja ikut." Ucap Tora.

==x==

Hari pernikahan Aoi semakin dekat. Sakura makin depresi. Ia tidak yakin ia dapat mengambil kembali Aoi. Ia memeluk bantal nanas favorite-nya *kenapa nanas? Author pun juga tak tahu =3=*. Sakura sekarang seperti panda, bergulung-gulung di atas kasurnya dengan kantung mata hitam. Sesekali ia menggumam tidak jelas *seperti inilah bila author depresi*lol*. Sakura terdiam sementara matanya melirik kalender.

'empat hari lagi' batinnya.

'YOSH! Aku tidak boleh terpuruk! Aku harus bekerja dan berbuat sesuatu! Kuharap aku bisa menyelesaikan semua ini dengan mulus.' Ucapnya dalam hati.

Ia bangkit dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi. Sekarang sudah pukul lima. Sudah saatnya ia bekerja. Sakura sudah banyak bercerita kepada Rame soal dirinya dan masalah Aoi. Sementara Rame hanya mampu melindungi Sakura ketika ia berada di dalam lingkungan toko.

==Rame's Store-

Pengunjung hari ini semakin banyak. Tidak heran jika Sakura harus pulang malam setiap harinya. Dan setiap harinya juga ia selalu dijemput Kai karena alasan 'keamanan'. Kallen masih ada di Jepang dan hal ini membuat Aoi dan Kai cukup khawatir. Peran anak Alice Nine dan the GazettE sangat dibutuhkan ketika Aoi tidak ada.

"Sakura, istirahatlah dulu. Kau sudah bekerja sejak siang." Saran Rame.

"Tidak Rame-san. Aku masih harus bekerja. Masih banyak pengunjung 'kan?" Tolak Sakura halus. Shun menepuk pela bahu Sakura.

"Kau terlalu memforsir diri Sakura. Jangan lupakan Aoi. Ia tidak mau melihatmu sakit bukan?" kata Shun. Sakura tampak berpikir.

"Baiklah, aku akan istirahat." Ucap Sakura akhirnya.

"Hei, nanti kau dijemput kakakmu kan?" tanya Rame.

"Entahlah, biasanya begitu. Kai-nii sedang sibuk bekerja juga. Katanya ia pulang pukul sepuluh."

"Baiklah. Istirahatlah dulu."

"Iya. Aku mau membuang sampah. Mana sampahnya?" tanya Sakura.

"Di belakang pintu." Jawab Rame sambil menunjuk sebuah pintu.

Sakura mengangguk dan berjalan menuju pintu itu. Ia mengangkat buntalan plastik besar yang cukup berat. Tapi tentu bukan masalah baginya karena bagaimanapun juga ia sangat handal dalam Aikido. Sakura meneteng buntalan itu dengan satu tangan dan membuka pintu. Jarak tempat pembuangan tidak jauh dari pintu belakang. Ia melempar buntalan itu kedalam kotak sampah berwarna navy green. Ketika ia berbalik, tiba-tiba seorang pemuda besar menghalanginya.

"Maaf, aku mau lewat." Ucap Sakura sopan. Bukannya menyingkir pemuda itu malah menyeringai. Sakura tahu ada yang tidak beres.

"Apa maumu?" tanya Sakura dingin.

"Kau." Jawab pemuda itu. dengan gerakan tiba-tiba ia mencengkram tangan Sakura membuat gadis itu memekik tertahan.

'Sial! Orang ini kuat sekali, padahal tubuhnya kurus!'

"Lepaskan!" jerit Sakura.

"Tidak akan, manis~" balas pemuda itu. Ia memanggil beberapa orang yang ternyata adalah temannya.

Sakura mulai takut tetapi tidak panik. Ia harus bisa mengatas situasi ini, begitulah pikirnya. Gadis itu memberikan pemberontakan yang cukup berarti. Dengan kekuatan penuh ia menggigit tangan yang mencengkramnya.

"SIAL!"

'PLAK!'

Pemuda itu menampar Sakura hingga gadis itu mundur beberapa senti. Meski ia cukup kesakitan ia tidak boleh terlihat lemah sekarang. Pintu berada di belakang ketiga teman pemuda itu. sementara dua orang lain menghalangi jalan keluar menuju jalan raya.

'tidak ada jalan lain selain menerobos dan melawan.' Batin Sakura.

Sakura berlari menerobos pemuda di depannya. Beruntung tubuhnya cukup kecil untuk meloloskan diri. Ia terus berlari sampai akhirnya menendang tubuh kedua pemuda yang menghalangi jalanya.

'Yeah!~' Sakura berteriak penuh kemenangan dalam hati.

Tetapi belum sempat ia keluar ke jalan raya, pemuda yang tadi ia tendang telah siap dengan pecahan botol minuman keras. Terlambat bagi Sakura untuk menghindar sepenuhnya ia hanya bisa mengurangi damage dengan berpaling ke kiri. Tetapi tetap saja pecahan botol itu mengenai dan menyobek kulit lengannya, membuat bajunya sedikit sobek.

"Kh!"

"Hahaha kena kau!" seru pemuda itu saat melihat Sakura yang berlumuran darah terduduk lemas.

Tepat saat para penyerang itu berlari menyergapnya, sesosok laki-laki cantik menariknya mundur sementara sesosok pria lain berambut emas menendang wajah mereka.

"Jangan macam-macam denganya." Ucap orang itu dengan nada dingin.

"Ayo masuk." Ucap Rame yang tadi menarik Sakura mundur.

Shun terllihat datang menolong Jui. Jui menghabisi penyerang itu dalam beberapa pukulan. Sementara Shun dengan gemulai menunjukkan 'tarian maut'nya. Ia menyerang semua pemuda itu hingga mereka memohon ampun dan kabur.

"W, wow." Komentar Sakura tercengang dengan apa yang ia lihat barusan.

"Jui sabuk hitam karate. Dan Shun mahir dalam capoera. Aku sengaja memilih karyawan kuat." jelas Rame.

Setelah Jui dan Shun membereskan segala masalah, mereka kembali ke dalam toko. Rame menutup toko karena ini memang sudah waktunya tutup. Ia segera menghampiri Sakura yang tengah diobati oleh Shun.

"K, kau baik-baik saja?" tanya Rame. Sakura mengangguk.

"Aku sudah menghubungi Kai, ia sedang dalam perjalanan kemari." Lapor Jui sambil menutup flip handphone-nya.

"terima kasih." Ucap Sakura sambil tersenyum tulus. Shun mengangguk dan ikut tersenyum sambil tetap melekatkan perban pada luka Sakura.

"Maaf..." Bisik Rame.

"U, untuk apa Rame-san?"

"Karena tidak bisa melindungimu.." jawab Rame. Sakura menggeleng pelan.

"Jangan bilang seperti itu! Kalian sudah menyelamatkanku! Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Akulah yang seharusnya berterima kasih pada kalian. Kalau kalian tidak ada, entah apa yang akan mereka lakukan padaku." Balas Sakura tulus. Rame tersenyum lega mendengarnya. Ia menepuk pelan kepala Sakura.

"Jangan disembunyikan. Aku tahu kau pasti ketakutan." Bisik Rame, ia memeluk gadis itu seerat mungkin.

'tes'

Sakura tidak dapat menyembunyikan lagi kenyataan bahwa ia sangat ketakutan. Gadis itu membalas pelukan Rame dan menangis lirih. Sakura tidak pernah menangis selama ini. Ia pernah berjanji pada kakaknya, Lily untuk tidak menangis. Kai datang menjemput Sakura tidak lama kemudian. Ia membawa gadis itu ke rumah sakit milik kenalannya agar Sakura mendapat perawatan lebih lanjut.

==Hospital==

"Dokter-nya lebay! Masa perlu dijahit!" Omel Sakura.

"Aku ngga lebay. Lukamu besar. Bahaya kalau terbuka." Balas si dokter tidak terima.

"Ahaha,benar kata 'tuan dokter'! Kau bisa anemia gara-gara lukamu sering terbuka." Balas Kai santai. Padahal ia tahu kalau Sakura paling takut dengan segala jarum yang ada di rumah sakit.

"AH! Sebentar ya Sakura, aku mau menelpon temanku dulu. Urusan pribadi." Pamit Kai. Ia menitipkan Sakura pada dokter kenalannya.

"Jadi, aku baru tahu kalau Kai punya adik." Komentar dokter itu.

"Aku juga baru diberitahu kalau Kai adalah kakakku." Balas Sakura jujur.

"Yeah, aku sudah dengar dari Kai."

"Kalian berteman dekat?" tanya Sakura.

"Yup. Kai sudah kuanggap adikku sendiri. Kami berkenalan saat dia masih SD kelas lima. Dan kurasa aku sudah mau lulus SMA." Jawab dokter itu sambil mengingat.

"Wow, sebagai dokter usiamu cukup muda."

"Ya. Aku skip saat kuliah."

"Hebat."

"Terima kasih. Aku Sujk. Kau?"

"Sakura."

Sakura asyik berbincang dengan Sujk. Sujk menceritakan kehidupannya. Kehidupannya bersama Waccha, kucing hitam favorit-nya, dan kehidupannya bersama kekasih yang sudah empat tahun menjalin hubungan dengannya Juri. Sementara Kai di luar ruangan tampak berbicara dengan seseorang di telepon.

"Aku merasa gagal melindunginya." Ucap Kai lirih.

"Jangan begitu, aku berterima kasih kau masih mau mengurus Sakura. Aku berhutang budi pada Jui-san." Balas seseorang di seberang sana.

"Yup. Jadi, aku akan melibatkan anak OSIS dalam rencanaku. Kau tahu? Aku butuh banyak orang."

"Apa mereka mau?"

"Ya, mereka menyetujuinya demi kau dan Sakura. Mereka benar-benar sahabat yang baik Aoi."

"Yeah.. I know it. Bagaimana Sakura? Apa bisa ditanyai soal si penyerang?"

"Ya. Rame menjelaskan ada sekitar enam-tujuh orang yang menyerang Sakura. Beruntung gadis itu mahir Aikido. Tidak ada motif jelasnya. Dan terlalu kebetulan bila dibilang 'penyerangan biasa'. Kau tahu? Tidak mungkin seorang pria menyerang Sakura untuk melecehkannya sambil membawa lima-enam orang. Aku yakin mereka sudah merencanakan ini."

"Aku tahu. Damn! Hari terhancur dalam hidupku terus mendekat, aku tidak tahu harus bagaimana!"

"Tenanglah Aoi, kau hanya perlu duduk manis dan menunggu kami menculikmu. Kufufu~"

"Tidak lucu Kai. Ayahku akan membunuhmu."

"Oho~ Tidak bisa. Jangan lupakan Ayahku. Beliau juga orang penting."

"Fuh, terserahlah. Terima kasih sudah membantuku Kai. Sungguh aku sangat berhutang padamu." Ucap Aoi."

"Kalau kau merasa berhutang padaku, tebus dengan membahagiakan Sakura." Balas Kai.

"Okay. Bye Kai."

"Bye Ao."

==x==

Sementara itu, di sebuah rumah bergaya eropa kuno, duduklah di ruang tamu perempuan cantik blasteran Indonesia-New York.

"Kalian gagal LAGI?" tanya wanita itu penuh penekanan. Beberapa pria dihadapannya tampak sangat ketakutan dan bersujud mohon ampun.

"M, maafkan kami Kallen-sama."

"MAAF? Aku tidak terima maaf. Aku harus kembali ke New York besok! Si tua Bangka itu mulai memaksaku. Aku tidak mau tahu pokoknya kalian harus bisa membuatnya tidak bisa keluar rumah!" gertak Kallen kesal. Ia meremas foto Sakura yang diambil secara candid.

'Aku serius dengan ucapanku waktu itu, Sakura Adeleine!'

==TBC==