Regret
.
Author : soororo
.
Cast :
Kim Minseok
Kim Jongdae
.
Rate :T
.
Genre : Hurt/Comfort, Drama
.
hai hai hai!
adakan yang nungguin ff ini? luama banget, ya updatenya?
terlalu banyak hal yang terjadi akhir akhir ini. jadi luelet banget updatenya.
mulai dari laptop rusak, gak ada koneksi internet, sampe ide yang tiba tiba menghilang begitu saja dari otak kosongku ini.
jadi, yaa.. jangan kaget kalo nanti chap ini bakalan aneh banget.
buat yang review, makasih banyak. makasi makasi. kalian menghiburku dengan review review kalian.
makasi makasi
kalian juga yang ngingetin aku kalo ff ini udah lama banget gak di update.
.
soororo present
regret
Minseok menghampiri luhan. "Ada apa, lu? Kau ada masalah dengan sehun?"Tanya minseok sambil duduk di sampng luhan yang tengekurap sambil terisak. "Luu..."Minseok merengek.
"Sehun brengsek! Sehun sialan! Albino!"Umpat luhan. Minseok terkekeh melihatnya. Lucu sekali sahabatnya ini saat sedang marah.
"Hei, ada apa? Sehun lupa menemanimu pergi ke wook-jhumma? Kenapa tidak minta aku temani saja? Hah?"Tanya minseok.
"aku inginnya di temani sehun. Hari ini kami akan mencoba bajunya."jawab luhan. Minseok menghela nafas.
"tadi sehun sudah datang?"tanya minseok.
"belum. Dia lupa kalau hari ini kami ada janji."jawab luhan. Minseok mengusap kepala luhan. Ia tahu betul bagaimana hubungan luhan dan sehun selama ini. sehun yang kelewat sibuk. Luhan juga, namun dia memiliki waktu luang lebih banyak dari pada sehun. Dan luhan selalu berharap pada waktu luangnya itulah ia dan sehun bisa bertemu untuk sekedar berbincang melepas rindu. Mereka jarang bertemu. Bahkan dalam satu bulan, bisa di hitung jari. Minseok tidak terkejut kalau hal ini terjadi. Apalagi sehun sudah bekerja.
.
"dae?"sehun mengrenyitkan alisnya saat ia melihat jongdae berada di ruang tamu rumah luhan.
"hai."sapa jongdae. "mau menemui luhan? Sepertinya rusa betina mu marah. Tadi ia menyebut sehun dan brengsek dalam satu kalimat."sehun tersenyum. ia duduk di samping jongdae. "kau tidak masuk?"tanya jongdae.
"nanti saja. Biar dia puas menangis dulu."sehun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"kalian kenapa, sih?"tanya jongdae.
"hari ini kami ada janji. Tapi, aku datang sedikit terlambat. Dan dia marah marah. Masalah biasa."jawab sehun santai. Jongdae menoyor sehun.
"selalu saja seperti itu. apa yang kau lakukan sampai terlambat?"tanya jongdae. Ia tahu, sehun bukan orang yang terlambat karena lupa atau bangun kesiangan.
"aku membeli ini."sehun mengeluarkan sebuah kotak.
"apa ini?"
"buka saja."jongdae membuka kotaknya. Sebuah cincin. Cincin emas putih dengan hiasan permata di sekelilingnya. Jongdae tidak tahu ini batu apa. Yang pasti ini permata.
"ini batu apa?"tanya jongdae.
"berlian."mata jongdae ingin copot. Sehun memang bukan orang yang mudah di tebak.
"bukankah kau pegawai baru, hun? Gajimu berapa sampai bisa membeli cincin seperti ini?"tanya jongdae sambil memperhatikan cincin yang ada di tangannya. Minseok pasti minta kalau dia melihat cincin ini. Wanita hamil itu meminta apapun yang dia lihat.
Sehun tertawa kecil. "ini rahasia. Jaga baik baik."jongdae mengalihkan pandangannya pada sehun, lalu mengangguk. "perusahaan tempatku bekerja adalah milik appaku."Ucap sehun meraya mengembalikan cincin itu pada kotaknya.
"eh? Benarkah?"sehun mengangguk.
"aku menggantikan posisi appaku sebagai ceo."jawab sehun.
"Benarkah?"Suara jongdae melengking. Telinga sehun mendenging.
Sehun mengangguk.
Plak
"Kenapa memukulku?"Sehun mengusap kepalanya yang jongdae pukul.
"Kenapa tidak bilang dari dulu? Aku kan bisa meminjam modal darimu."Ucap jongdae. Sehun terkekeh.
"Tanpa meminjam modal dariku saja, kau sudah sukses, dae."Sehun menepuk pundak jongdae. "Ya sudah, nanti kalau butuh modal untuk buka cabang, hubungi aku."
"Tidak perlu. Aku sudah ada."Jawab jongdae. Sehun tertawa. "Tahu begini dulu aku tidak perlu keliling seoul untuk mencari pinjaman, hun."
"Hei, aku dan suho menemanimu saat itu."
"Iya, dan aku sungguh menyesal. Ternyata kedua temanku yang menemaniku saat itu adalah orang yang bisa memberiku modal dengan mudah."Tawa sehun makin keras. Sungguh, jongdae selalu terlihat seperti anak anak di mata sehun.
Sehun memang tidak pernah memperlihatkan kondisi ekonomi keluarganya sejak dulu. Setahu jongdae, sehun kuliah dengan beasiswa dan dia tinggal di sebuah flat kecil di dekat kampus. Baru baru ini ia membeli mobil yang katanya msih kredit, dan sekarang jongdae yakin sehun berbohong.
"hei albino, kenapa masih di sini? cepat temui luhan!"minseok menggetok kepala sehun dengan kotak bakpaunya. Sehun mengusap kepalanya sambil berjalan ke arah luhan. "cincinnya bagus sekali."minseok sempat melihat isi kotak yang sehun bawa. Ia memandang jongdae dengan tatapan memelas. "dae, aku ingin cincin seperti itu juga."rengek minseok. Jongdae mengangguk sambil mengelus kepala minseok. Untung saja kedainya sudah cukup maju. Yah, mungkin penghasilannya hampir sama dengan sehun saat ini. belum lagi uang tabungannya. Jadi ia tidak perlu cemas.
.
Sehun masuk ke kamar luhan. Anak itu masih menangis. Sehun mendengus kesal. Kenapa minseok tidak menenangkan luhan sampai selesai menangis, sih? Sehun menghampiri luhan yang pundaknya bergetar. Ia duduk di samping luhan.
"jangan sentuh tempat tidurku! Albino jelek!"sehun terkekeh mendengar seruan luhan.
"hei, aku calon suamimu. Sebentar lagi kita akan berbagi tempat tidur."sehun mengecup kepala luhan. Luhan tidak bergeming. "aku minta maaf. Aku tahu, aku salah sudah membuatmu menunggu selama itu. tapi tadi aku menunggumu untuk mencarikanmu ini."sehun mendekatkan kotak cincinnya pada luhan. Luhan melirik dengan ekor matanya. Seketika matanya melebar melihat apa yang sehun bawa. Cincin itu…
"sama seperti yang kau tunjukkan waktu itu, kan?"sehun tersenyum. luhan mengangguk. Cincin itu. dulu, waktu sehun dan luhan pertama kali berkenalan.
Flashback on
Sehun memegang erat dua cup bubble tea yang bagian luarnya mulai berair karena es nya mencair menandakan lamanya ia memegangnya. Matanya terus menangkap satu objek yang sejak beberapa menit yang lalu terus ia perhatikan. Seorang yeoja yang menyita perhatiannya sejak masa orientasi. Terhitung sudah 3 bulan sehun memperhatikan yeoja itu dari kejauhan. Seorang yeoja bermata rusa dengan bibir dan hidung yang mungil. Dan, oh jangan lupakan senyumnya yang menawan.
"kau mau berdiri di sini memperhatikan luhan seperti orang bodoh begitu?"tanya jongdae, salah satu sahabat sehun. Sehun menatap tajam jongdae. Sebenarnya ia ingin sekali mendekati luhan, mengajaknya berbicara, bahkan kalau bisa, jalan jalan dengan luhan. Tapi, apa daya, berpapasan dengan luhan saja, lulut sehun sudah melemas.
"temui dia, atau aku yang akan menembaknya."ancam suho, sahabat sehun yang lain. Sehun seketika berdiri, lalu melangkahkan kakinya mendekati luhan. Jongdae dan suho terkikik melihat teman mereka itu gemetaran saat berdiri 2 meter di depan luhan.
Luhan yang merasa ada yang mendekati pun mendongakkan kepalanya. Matanya melebar saat melihat siapa yang ada di depannya. Oh sehun. Namja yang diam diam luhan sukai. Seorang namja yang selalu terlihat dingin dengan wajah tanpa ekspresinya. Dan luhan yang secara beruntung pernah melihat senyum sehunpun jatuh cinta pada senyum hangat itu.
"h-hai."sapa sehun canggung.
"h-hai juga."balas luhan tidak kalah canggung.
"bubble tea?"tawar sehun. Luhan mengangguk. Ia menerima satu gelas bubble tea yang ada di tangan sehun. Rasa taro. Favoritnya. "taro, kesukaanmu, kan?"tanya sehun. Luhan menatap sehun terkejut. Dia tahu?
"ne."jawab luhan. Sejenak mereka terdiam.
"kau sedang membaca apa?"tanya sehun.
"aah, ini… eh?"luhan membelalakkan matanya saat melihat buku buku tebalnya berganti dengan sebuah majalah, atau katalog? Entah, luhan tidak tahu namanya. Ia melihat sekelilingnya, terlihat dua sahabatnya, yixing, yang kerempeng, dan minseok, yang super montok, berlari dengan buku buku tebalnya. Dasar mereka ini!
"kau membaca majalah?"tanya sehun. Luhan mengangguk kaku. "majalah apa?"tanya sehun.
"aah.. ini…"luhan mulai berbicara panjang lebar mengenai majalah yang ada di depannya. Kebiasaannya saat gugup. Berbicara asal tanpa ia sadari. "lihat! Cincinnya bagus sekali, ya? Aah, aku selalu bermimpi calon suamiku nanti membelikanku ini. Lihat lihat. Bagus, kan? "cerocos luhan tanpa henti. Sehun tersenyum melihatnya. "ah, pasti romantis sekali, kalau dia membelikanku ini, lalu memakaikan cincin ini di jariku lalu-"
"jadilah pacarku, nanti, saat kita akan menikah, akan aku belikan cincin seperti itu."ucap sehun. Sesaat kemudian, ia tersadar. Ya tuhan! Apa yang baru saja ia katakan?
Tubuh luhan membeku. Sehun… barusan dia bilang apa?
"Eh?"
"A-hahaha.."Sehun tertawa garing sambil mengusap tengkuknya.
"Tampan."Luhan terpesona pada wajah sehun yang terlihat makin tampan pada saat tertawa.
"Benarkah? Jadilah yeojachinguku. Tidak akan rugi. Aku ini tampan."Celetuk sehun.
Blush
Sungguh, oh sehun, kau harus menjaga omonganmu.
"Benar juga, ya? Kau tampan. Baiklah. Aku mau."Jawab luhan. Sehun menegang. Luhan bilang apa?
Luhan tau ini bodoh. Tapi sudah kepalang basah. Kenapa tidak di teruskan? Toh seburuk apapun sehun nanti, mereka hanya pacaran. Tidak menikah. Iya kan?
Flashback off
Luhan tersenyum saat melihat cincin yang melingkar di jarinya. Ia menggunakan dua cincin di jari manisnya. Satu cincin saat sehun melamarnya, satunya lagi, cincin barunya. Ia tersenyum mengingat betapa terkejutnya dia saat mendengar sehun memintanya menjadi yeojachingunya. Dan luhan dengan canggungnya menjawab iya saat itu juga. Sungguh, luhan tidak pernah menyesal memiliki namjachingu seperti sehun.
"Kau bilang hari ini kita ke ryeowook ajhumma, kan?"Tanya sehun. Luhan menganggukkan kepalanya. Sehun membuka agendanya. Ia mengrenyitkan alisnya. "Lihat."Sehun menyodorkan agendanya. Mata luhan melebar.
"Eh? Benarkah? Aku pikir hari ini."Sehun terkekeh mendengar ucapan luhan.
"Kau terlalu bersemangat, lu."Sehun mengecup pucuk kepala luhan.
.
"Junhong, ayo tidur."Minseok menggendong junhong yang masih setia menonton tv dengan kai, yesung dan jongdae.
"Cilo! Junhong mau nonton bola dengan appa dan boji."Junhong merengek di gendongan minseok. Minseok yang kewalahan pun menurunkan junhong dari gendongannya. Junhong segera berlari menuju pangkuan jongdae.
"Sudahlah min. Biarkan saja."Jongdae menahan minseok yang tampak akan marah marah karena ulah junhong.
"Ya sudah."Jawab minseok seraya masuk ke kamarnya.
"Kai, kamarmu sudah kau bereskan?"Tanya yesung. Kai mengrenyitkan alisnya.
"Untuk apa?"Tanya kai sambil duduk di samping eommanya.
"Kau lupa, besok kan jonghyun mulai tinggal di sini."Ryeowook mengusap sayang kepala putra semata wayangnya.
"Eh?"Seru jongdae, kai, minseok dan junhong bersamaan.
"Kalian tidak tahu?"Tanya yesung. Jongdae, kai, minseok dan junhong menggeleng. Yesung dan ryeowook menggelengkan kepalanya heran.
"Memang kapan appa bilang?"Tanya kai.
"Tadi waktu makan siang."Jawab yesung.
"Aah, pantas tidak ada yang dengar."Ryeowook menatap tajam ke empat orang tadi.
Flashback on
Makan siang hari ini adalah salah satu makan siang yang paling menyenangkan di kediaman keluarga kim. Karena hari ini, nyonya kim, memasak ayam goreng untuk keluarganya. Ia memasak cukup banyak. Mengingat suami, dan anak anaknya merupakan penyuka ayam.
Deting suara peraduan piring dan sendok masih terus terdengar sampai yesung memecah keheningan.
"Jadi-"
"Umma, junhong mau makan ayamnya."Rengek junhong pada minseok yang sedang memakan ayam gorengnya.
"Tidak. Umma sudah memakannya. Kau ambil yang ada di piring saji."Tolak minseok. Junhong menatap memelas ke salah satu piring saji yang sudah kosong.
"Cudah habic umma."
"Minta ke appamu."
"Appa mau-"
"Eh? Mana bisa? Aku hanya mengambil satu."Sungut jongdae tidak terima. "Kai, kau ambil banyak. Kau yang mengalah."
"Enak saja. Kau appanya."Sahut kai tidak terima.
"Kalian mengalahlah sal-"ryeowook mencoba melerai.
"Ini, kau makan."Minseok mengambil salah satu ayam yang ada di piring kai lalu meletakkannya di piring junhong. Junhong tersenyum senang melihatnya, namun, saat akan mengambilnya dari piringnya, kai segera merebutnya kembali.
"Mulai besok jonghyun-"
"Eh? Mana bisa begitu? Noona saja."Kai tidak memperdulikan mata junhong yang berkaca kaca, lalu mengambil salah satu ayam yang ada di piring minseok.
"Eh? Aku masih lapar! Tega sekali kau ini, noonamu masih ngidam."Elak minseok seraya mengambil ayam yang ada di piring juhong. "Dae, berikan punyamu."
"Eomma... Hiks hiks.."Junhong mulai terisak.
"Jadi, besok jonghyu-"-yesung
"Yatuhan, min, aku hanya ambil satu. Kau mau aku makan dengan nasi putih saja?"-jongdae
"Eomma~"-junhong
"Kau tega melihat anakmu menangis?"-minseok
"Sekamar dengan-"-yesung
"Kau memang tega."-minseok
"Aku pikir hyung sudah berubah."-kai
"Bu-"jongdae
"Kalian tenanglah, ayamnya di belakang masih ada."-ryeowook
"Eomma, junhong lapal."-junhong
"Lihat, dasar bebek mesum. Kau tega melihat anakmu kelaparan?"Junhong makin keras menangis.
"Kau sendiri?"
"Jadi, be-"
"Ya sudah, aku ambilkan ayamnya."
"Eomma..."
"-sok jonghyun ting-"
"Dasar bebek jelek!"
"-gal di si-"
"Hei, diamkan anakmu itu! Kau malah mencaciku dan mendiamkan anakmu yang sedang menangis, ibu macam apa, kau."
"-ni."
"Ini ayamnya sayang. Sudah jangan menangis."Ryeowook memberikan satu ayam goreng pada junhong. "Ya! Kim jongin! Jangan ambil lagi! Ini untuk junhong! Kau juga kim minseok!"
"Kalian-"
"Eomma, aku masih pingin lagi.."Rengek kai.
"Halmoni, ini cemua untuk junhong, kan?"Ryeowook mengangguk sambil mengelus kepala junhong.
"Eh? Jangan! Eomma juga mau."
"Diamlah sebentar"
"Cileo! Ini cemua untuk junhong!"
Twich
Perempatan muncul di dahi yesung.
"DIAM!"Bentak yesung. Seketika kai, jongdae, minseok dan ryeowook membatu.
Junhong menatap orang orang di sekelilingnya.
"Aboji kenapa malah? Mau ayam juga? Cilo! Cemuanya untuk junhong!"
Twich
Twich
"Bukan begitu, sayang, abojimu marah karena kita ribut di meja makan."Ryeowook mengelus kepala junhong sayang.
"Kita? Bukannya yang libut hanya eomma dan appa?"
"Enak saja, eommamu yang ribut!"
"Eh? Kenapa aku? Kau juga ribut! Dasar bebek!"
Dan perdebatan tak penting kembali terjadi sampai jonghyun menelfon jongdae untuk kembali ke kedai.
Flashback off
"Kenapa eomma menatap kami begitu? Eomma juga ikut ribut."Kai tidak terima.
"Kalian yang mulai."
"Ena-"
"Jangan mulai lagi."Potong yesung. "Kai, bereskan kamarmu. Mulai besok, junhong, kai dan jonghyun satu kamar. Sepulang sekolah, kau bisa ikut jonghyun membantu di kedai, atau jonghyun yang ikut kau membantu di cafe."
Kai mengangguk patuh.
.
"dae…"minseok keluar dari kamarnya. Tampak yesung, kai dan jongdae sedang menonton pertandingan bola.
"apa?"tanya jongdae tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Junhong mana?"Tanya minseok.
"Sudah tidur."Jawab jongdae. Minseok mendengus. Dasar anak itu. Tadi merengek minta nonton bola, sekarang malah sudah tidur.
"aku ingin sushi."rengek minseok. Jongdae segera mengalihkan pandangannya dari tv.
"sushi?"tanya jongdae. Minseok mengangguk. Jongdae mengeluarkan ponselnya.
"kau beli sendiri."sela minseok. Jongdae menatap minseok horror. Ia tahu sushi yang minseok ingin makan adalah sushi favoritnya. Di sebelah kampusnya dulu. Dan sungguh, tempatnya sangat jauh. Rumah jongwoon berada di bagian barat kota. Dan kampus mereka berada di bagian utara kota.
"tapi…"
"sudah. Berangkat sana."yesung mendorong jongdae. Jongdae tidak menjawab. Ia terlalu lelah berdebat sejak siang tadi. Ia segera masuk kamar lalu keluar dengan mantel tebalnya. Ia benar benar tidak pernah membantah perkataan yesung barang satu kali saja. yesung bisa saja membatalkan pernikahan mereka kalau ia tidak berkenan dengan perilaku jongdae.
.
Jongdae baru saja membelokkan mobilnya ke gang rumah yesung saat minseok menelfonnya ia ingin makan deokbokki rasa jeruk. Jongdae ingin menubrukkan mobilnya ke tiang listrik saat itu. minseok benar benar sudah membuat inovasi tersendiri dalam rasa rasa ddeokbokki. Kemarin ia minta kue beras dengan saus anggur, lalu, beberapa hari yang lalu, dengan saus strawberry, lalu, dengan saus kacang. Dan macam macam saus lainnya yang akhirnya sausnya jongdae ganti dengan selai buah.
"ini."jongdae menyerahkan bungkusan makanan pada minseok. Minseok tersenyum lebar melihatnya.
"dae, temani minseok makan."yesung mematikan tvnya. Pertandingannya sudah selesai. Jongdae hanya mengangguk lemah sambil melihat kai dan yesung yang masuk ke kamar masing masing.
Beberapa saat kemudian, kai keluar dari kamarnya.
"noona…"panggil kai.
"adha apha?"tanya minseok yang mulutnya sedang penuh dengan sushi.
"aku tidur dengan noona, ne?"pinta kai.
"eh? Mana bisa? Minseok sudah tidur denganku!"sergah jongdae.
"memangnya kamarmu kenapa?"tanya minseok.
"junhong ngompol. Aku tidak bisa tidur kalau tempat tidurnya basah."adu kai. Minseok mengangguk.
"ya sudah. Kau tidur dengan noona saja. Dae, kau tidur dengan junhong."ucap minseok. Jongdae menatap minseok horror. "tidak ada tapi tapian."sela minseok sambil kembali melahap sushinya. Kai nyengir mendapati jongdae menatapnya tajam.
.
Sudah beberapa minggu ini jongdae dan minseok tinggal di rumah yesung. Dan beberapa minggu ini juga jongdae merasakan nerakanya. Sungguh, keluarga minseok bukan keluarga jahat seperti keluarganya dulu. Tapi, bagaimana tingkah minseok yang sedang ngidam itu benar benar membuatnya tersiksa. Rumah yesung memang berada di pinggir kota. Suasananya nyaman. Tapi tidak bagi jongdae. Rumah yesung jauh dari mana mana. Dari rumah sakit, dari pusat kota, dari rumah orang tuanya, dari rumah luhan, dari apartementnya, dari kedainya benar benar jauh. Sekitar 1 jam baru sampai. Yang dekat, hanya satu tempat, sekolah kai. Memangnya apa yang jongdae mau lakukan pada sekolah kai? Lokasi rumah seperti itu benar benar memperburuk keadaanya saat memenuhi permintaan minseok yang sedang ngidam.
"Ini."Jongdae menyerahkan kotak berisi pesanan minseok. Es krim semua rasa, dan bakpau tanpa isi. Mudah, tapi merepotkan. Jongdae harus ke rumah jaejoong lagi tadi. Untung saja kedai jongdae memiliki variasi rasa yang cukup lengkap*sumpah, soororo pingin banget pergi ke sana
Minseok menatap wajah jongdae yang tampak lesu. Ia tahu, jongdae pasti kelelahan. Dan, sungguh, apapun yang minseok minta, bukan karena ia ingin mengusili jongdae. "Dae, kau tidak apa apa?"Tanya minseok pada jongdae yang sedang mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi, meregangkan tubuhnya yang sangat pegal.
"Tidak apa apa. Kau makan saja es krim dan bakpaunya. Nanti es krimnya keburu leleh."Ucap jongdae. Minseok mengangguk lalu berjalan ke dapur.
"Appa!"Junhong melompat ke gendongan jongdae. Entah jongdae yang terlalu lelah, atau junhong yang semakin berat, tapi jongdae benar benar tidak kuat menggendong anak berusia 4 tahun ini. "Appa kenapa?"Tanya junhong. Jongdae menggeleng. "Junhong tambah belat, ya?"Tanya junhong lagi. Jongdae terkekeh. "Kata kai hyung, junhong cepelti balon."Junhong menunjukkan perutnya yang tambun. Yah, memang suatu keuntungan bagi junhong, selama ummanya ngidam, junhong juga ikut makan.
"Sudah, tidak apa apa. Kau panggilkan kai hyung, ne?"Ucap jongdae. Junhong mengangguk lalu berlari ke kamar kai. Tidak lama kemudian, junhong keluar dari kamar kai dengan wajah kuyu. Sepertinya anak ini tidur tadi.
"Ada apa?"Tanya kai. Suaranya serak.
"Kau bisa memijitku?"Tanya jongdae. Mata kai mendadak melebar. Jongdae minta apa?
"Kalau hyung menyuruhku memijat menggunakan kaki, aku bisa."Jawab kai.
"Kau injak?"Tanya jongdae.
"Pelan pelan. Biasanya appa yang minta. Aku tidak berat, kok hyung."Kai nyengir. Jongdae mengangguk. Ia menyamankan posisinya telungkup di karpet, lalu kai mulai memijatnya.
"Khahi, jhongdwae mhanha?"Tanya minseok yang berjalan dari dapur. Di tangan kanannya ada bakpau. Di tangan kirinya ada semangkuk es krim. Di mulutnya ada bakpau. Kai terkekeh melihat kebiasaan noonanya ini.
"Ini."
"Mhanha?"Minseok mengrenyitkan dahinya.
"Di bawahku."Jawab kai. Minseok menurukan pandangannya. Ia tersedak.
"Uhuk!"Kai segera berlari ke dapur mengambil air minum.
"Ini."Kai membantu minseok meminum air putihnya.
"Kenapa kau menginjak jongdae!"Minseok menggetok kepala kai dengan mangkok.
"Jongdae hyung yang memintanya."Jawab kai sambil mengusap kepalanya. Minseok menatap jongdae. Dia tertidur. Wajahnya terlihat lelah sekali.
"Dia tidur?"Tanya minseok.
"Entahlah, mati mungkin."Jawab kai sekenanya. Minseok mendelik. "I-iya. Dia tidur."
"Dia kelelahan, min."Sahut yesung. Minseok mendundukkan kepalanya. "jangan terlalu memforsirnya. Ngidammu juga jangan seperti itu. Kurangi sedikit. Kasihan ajhummamu harus merubah gaun pengantinmu lagi."minseok mengangguk. "tapi, kalau kau butuh apa apa, ada yang bisa membantu jongdae mencarikan makanan untukmu." Kai mendelik saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruang tengah tempat ia berada sekarang.
"kim jonghyun? Kau jadi tinggal di sini?"
"appa menyuruhku tinggal di sini. Hehe."jonghyun senyum 10 jari. "kata appa, kasihan dae-hyung tidak ada yang menemani."
"bukannya di sini banyak orang?"tanya kai.
"kasihan jongdae, dia menjaga toko, lalu minseok menelfonnya memesan makanan. Ia harus bolak balik toko-rumah. Kan jauh. Kau juga tidak mau membantu."sahut yesung. "main, tidur, makan, menggoda junhong saja bisanya."lanjutnya. kai mencibir. "jadi, jonghyun di sini bertugas untuk membantu jongdae mencarikan makanan untuk minseok. Arrachi?"jonghyun mengangguk.
Kai memandang jonghyun curiga. Pasti ada yang anak ini rencanakan.
.
Minseok sedang merapikan kamar tidur kai dan jonghyun saat seruan memekikkan telinga menghampirinya.
"Kami pulang!"Telinga minseok hampir tuli.
"Ya tuhan, kalian membawa pasukan dari mana?"Minseok berkacak pinggang saat melihat siapa yang kai dan jonghyun bawa.
"Hai eonni."Sapa kyungsoo, baekhyun, tao dan taemin.
"Halo noona."Sapa chanyeol, daehyun dan minho.
"Dia siapa?"Tanya minseok sambil menunjuk daehyun.
"Daehyun."Jawab kai. Minseok membentuk huruf 'o' dengan bibirnya. Jadi, makhluk bereyeliner ini, yang sempat merebut baekhyun? Rugi baekhyun kalau meninggalkan chanyeol untuk daehyun.
"Hei, kalian mau es krim?"Tawar jonghyun.
"Ada?"Tanya minho.
"Ada. Tapi milik xiu-noona."Jawab jonghyun.
"Tidak apa apa?"Tanya chanyeol. Minseok mengangguk. Itu es krim yang jongdae bawakan karena pesananannya dan minseok hanya memakannya satu sendok. "Ya sudah, bawakan."
Jonghyun dan kai berjalan dari arah dapur dengan membawa nampan berisi banyak kotak.
"Kalian mengosongkan lemari es?"Tanya minseok. Jonghyun dan kai mengangguk.
Minseok memperhatikan ke 9 anak sma itu memakan es krimnya, bahkan mereka melupakan tujuan awal mereka datang ke rumah minseok. Mengerjakan pr.
"Bacon, lihat, ini es krim kesukaanmu."Kyungsoo menyodorkan es krim stroberi ke arah baekhyun. Baekhyun menerimanya dengan senang hati.
Minseok terdiam. Bacon... Minseok ingin...
Minseok segera meraih ponselnya, lalu mendial nomor jongdae.
.
"Appa."Junhong menyerahkan ponsel appanya yang tadi ia gunakan untuk bermain game.
"Hm?"Jongdae melirik ponselnya.
Sexy-baozi calling. Sungguh, kim jongdae...
Jongdae menelan ludahnya kasar saat melihat siapa yang menelfonnya. Semoga kali ini tidak sulit.
"Yeoboseyo, ada apa min?"Tanya jongdae.
"Aku ingin es krim rasa bacon."Rengek minseok.
Jegler
Ya tuhan, kenapa ada petir di siang bolong?
"R-rasa apa?"
"Bacon..."Rengek minseok.
Jongdae menjambak rambutnya frustasi. Dapat inspirasi dari mana, calon istrinya yang super sexy ini? Es krim rasa bacon? Mana ada!
"Bacon, ya?"
"Hm hm."Jawab minseok
"Tapi min, mana ada.. Apa tidak ingin di ganti saja?"Tanya jongdae.
"Tidak!"Jongdae mengurut pelipisnya.
"Arra. Aku buatkan."
Pip
Jongdae menatap ponselnya dengan tatapan miris.
"Appa, umma ingin makan apa?"Tanya junhong.
"Es krim."Jawab jongdae.
"Laca apa?"Tanya junhong lagi.
"Aku tidak tahu."Jongdae merosot. Ia terduduk di lantai. Sungguh, ia stress. Dan semakin stress saat mendapati pesan singkat dari baozi sexy nya.
From: sexy-baozi
To: pervert-duck
Chagiya, aku ingin es krim rasa bacon. Kau bawakan pulang, ne? Kalau kau tidak membawanya pulang, jangan harap aku membukakanmu pintu kamar. Aku menyayangimu. ^^
Jongdae ingin menenggelamkan kepalanya ke adonan es krim.
.
"Noona ingin makan apa?"Tanya minho saat sayup sayup ia mendengar pembicaraan minseok dengan seseorang di telefon yang ia yakini adalah jongdae.
"Es krim rasa bacon."Jawab minseok ceria. Yang lain tersedak. Sungguh, ibu hamil uang kreatif.
.
Jongdae mengerutkan alisnya. Es krimnya sudah hampir jadi. Ia bersyukur memiliki banyak kenalan yang dapat selalu membantunya di saat minseok sedang rewel seperti ini. Seperti salah satu temannya, changmin yang saat ini sedang berada di jepang. Changmin rela pergi ke tengah kota di hari yang dingin ini demi meminta resep es krim rasa seafood pada salah satu penjual. Yah, jongdae rasa, resepnya akan 11-12. Dan setelah beberapa trial-error. Akhirnya jongdae berhasil. Hei, jangan terkejut. Lihat saja ada berapa macam rasa es krim yang selalu tersaji di kedainya. Itu semua racikan jongdae! *sumpah, soororo pingin #drooling
"Junhong, ayo pulang."Jongdae menenteng kotak berisi es krim bacon buatannya. Jongdae melirik junhong. Ia tertidur di samping lemari penyimpanan es krim sambil memeluk boneka keto-matotonya. Jongdae menghela nafas. Ia menggendong junhong lalu membawanya keluar kedai. Ia harus berterimakasih dan memberi uang lebih pada yongguk, salah satu pegawainya yang selalu setia menemaninya saat jongdae pulang larut karena pesanan minseok.
"Terimakasih."Ucap jongdae saat yongguk menyerahkan kunci kedainya. Yongguk tersenyum lalu membungkukkan badannya. Jongdae tersenyum.
.
Minseok sedang mencuci piring saat jongdae sampai di rumah. Jongdae membawa junhong ke kamarnya, lalu menidurkannya di sana. Ia tersenyum saat mendapati minseok yang sedang merapikan ruang keluarga. Menata majalah yang ada di meja. Minseok mengenakan dress pendek, selutut yang jongdae belikan beberapa waktu yang lalu, dan sungguh, jongdae menyukai posisi minseok saat ini. Menungging karena meja ruang keluarga yang pendek.
"Min."Panggil jongdae dengan suara rendah. Minseok merinding. Ia tahu apa maksud panggilan jongdae itu.
"Apa?"Jawab minseok sekenanya.
"Aku.. Merindukanmu, min."Jongdae memeluk pinggul minseok dari belakang. Minseok tersentak.
"Dae, jangan.."Minseok semakin merinding saat tangan jongdae mulai menelusup ke dalam roknya. Sungguh kim jongdae!
"Pahamu mulus, ya min."Bisik jongdae. Minseok menyesal ia memilih memakai dress selutut tadi.
"Dae..."Minseok mencoba menjauhkan tangan jongdae. Tapi tangan jongdae tidak bergeming. Minseok mendengus. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berbalik menatap jongdae. "Lepas!"Minseok menghentakkan tangan jongdae. Tapi jongdae tidak bergeming. Minseok mendengus kesal.
"Min-"
"Dae, min. Tidurlah, sudah malam."interupsi yesung tiba tiba. Jongdae mengangguk patuh. Minseok terkikik melihatnya. "kau juga. Ini sudah malam. Cepat tidur."yesung mengusap rambut minseok.
"ajusshi.."panggil minseok.
"ada apa?"
"setelah aku melahirkan nanti, aku tidak tetap tinggal di sini, kan?"tanya minseok takut takut.
"tentu saja. Ajusshi hanya menuruti permintaan ajhummamu saja."
"maksud ajusshi?"
"dia yang meminta agar kau tinggal di sini sampai bayinya lahir."
"bayinya?"minseok menaikkan satu alisnya.
"e-eh.. maksudnya... bayimu.. iya, bayimu."yesung tersenyum kikuk. Minseok memandang curiga pamannya. "su-sudah malam. Tidurlah."minseok mengangguk. Tapi ia masih memasang wajah curiga pada pamannya sampai ia masuk ke dalam kamarnya.
Tbc
aneh, ya?
yaah, aku tau, chap di atas gak banget. sebenernya mau kasih lebih panjang. tapi, apa daya, otak tak sampai. sama halnya dengan naik rating. otak yadongku lagi gak bisa di pake. jadi, yaah, gini gini aja.
dasar, udah update lama, eh, dateng dateng bawa chap aneh kayak gini.
oh iya, buat deer diarynya, masih dalam tahap pengerjaan. agak lama, aku gak punya laptop soalnya. ini aja pake punya ayah.
terus..
aku jadi kepikiran buat ff tentang kehidupan orang orang di ff ini sama change. yaah, konfliknya ringan ringan aja. kalo aku punya ide, aku update. masing masing oneshoot aja, tapi settingnya tetep. mau, gak?
mungkin buat yang awal awal, aku pingin bikin jongno, terus banghim. gitu gitu aja. kalo gak gitu tentang kenakalannya si junhong. gak berat berat, lah. otakku gak nyampek.
