BoBoiBoy (c) Monsta
I'm a Boy 2 (c) Vinie-chan
Warning : This story contains a bit shounen-ai. Don't like, don't read!
-Chapter 8-
"Eh?" Aku masih memandanginya tidak percaya. Mataku terbelalak mendengar nama yang dia sebutkan. "L-Landak Ungu?" BoBoiBoy mengangguk pelan. Senyumannya terlihat sangat pasrah, seperti telah kehilangan sesuatu–atau lebih tepatnya seseorang.
"Aku memanggilnya seperti itu karena dia memiliki rambut yang jabrik seperti landak. Terkadang sedih rasanya ketika mengingat nama itu. Aku tidak bisa bertemu dengannya lagi." Dia menundukkan kepalanya layaknya orang yang berduka.
Ku pandangi bocah yang duduk di sampingku ini. Mataku berkaca-kaca, mungkin karena ikut merasakan apa yang dia rasakan. BoBoiBoy mungkin tahu siapa yang dia cintai. Tapi karena daya ingatnya yang menurun semakin usianya bertambah, dia mudah lupa dalam sekejap. Hanya memori kecil yang tersimpan begitu dalam di kepalanya.
"Kau ... apa masih ingat namanya?" tanyaku lagi, memastikan siapa yang dia sebut 'Landak Ungu'. Jujur saja, aku ingat sebutan itu, entah tersimpan di memori kecilku. Sudah bertahun-tahun lamanya.
BoBoiBoy mengangguk. "Ya, aku ingat, dan aku tidak menyangka setelah perkiraanku selama ini, dia selalu ada bersamaku." Dia pun tersenyum dan menatapku.
Aku hanya cengo dipandangi seperti itu. "Maksudmu?"
"Kau tidak tahu?" Aku menggelengkan kepala. "Hahh ... Nanti pasti kau akan tahu sendiri. Camkan semua itu."
Lagi-lagi BoBoiBoy tampak anteng melihat lautan lepas. Aku tidak kuasa menahan raut wajah kesal karena dia tidak memberikan jawaban yang akurat kepadaku. Bagiku, semua ini memang sudah keterlaluan. Bocah bertopi reptil ini hobi banget memberi teka-teki yang susah! Yang baginya dia sendiri yang tahu. Memangnya dia itu bossku? Ketua kelas aja bukan.
Aku menghela nafas panjang. Susah berpikir bebas di waktu seperti ini. Mana tambahan teka-teki dari BoBoiBoy. Ku lirik jam tanganku. Sudah pukul 1 siang. Itu berarti aku belum makan siang sama sekali.
Makan siang ...
Rumah ...
Dapur ...
KAIZO!
Aku lupa kalau dia masih ada di rumahku! What da–?! Bagaimana aku bisa lupa? Wah, jangan-jangan dia bakal mengubah dapur menjadi medan perang, nih! Aku harus cepat-cepat pulang!
"B-BoBoiBoy! Aku teringat kalau Kaizo masih ada di rumahku! B-bagaimana kalau kita kembali saja?! Besok ke sini lagi (kalau sempat)!" seruku panik.
"Heee? Tapi kita baru saja duduk di sini ..."
"Bodo, ah! Yang penting sekarang adalah keselamatan dapur rumahku sebelum menjadi medan perang!"
"Eh?! Memangnya Kaizo hobinya apaan? Kok sampai jadi medan perang?"
"Bukan saatnya bertanya! Ayo!"
Dengan kecepatan penuh, aku berlari menuju kampung tempat kami tinggal. BoBoiBoy aku ajak ikut berlari agar dia tidak tertinggal sendirian di belakang. Kasihan kalau sendirian, nanti pasti ada preman yang tiba-tiba lewat, terus minta uangnya–atau mungkin tubuhnya. Tidak! Tidak! Tidak!
Sekarang aku harus fokus dengan keadaan dapur kesayanganku!
BRAK!
Pintu ku banting sekeras mungkin. Muncul refleksi Kaizo yang duduk di sofa sambil menonton TV dan memakan potato chips, mirip dengan tokoh L dalam film Death Note. Matanya penuh lingkar hitam, seperti tidak tidur selama seminggu penuh.
"Kenapa wajahmu kusut begitu, Pang?" tanya Kaizo santai.
Aku tidak menjawab. Buru-buru, aku berlari ke dapur rumah. Kaizo yang melihatku pun mengikutiku, namun dia berjalan dengan sedikit lambat.
Sudah ku duga ...
Dapur kotor tanpa adanya sesuatu yang bersih kinclong ...
Semuanya kotor dan penuh dengan minyak dan bumbu-bumbu makanan.
"APA INI?!" jeritku kebingungan.
"Ehehehe ... Tadi aku mencoba untuk membuat makanan ala Korea ... Samyang. Tahunya ternyata bisa seberantakan ini. Ini masih ada satu bungkus lagi. Mau?" jelas Kaizo sambil menyodorkan bungkus samyang yang belum dimasak.
"Tarik dulu kata-katamu! Yang penting aku harus segera membersihkan ini semua! Dasar pemalas tingkat Dewa Neptunus!" keluhku.
"Wei ... Sifat lamamu kembali lagi rupanya ..." Sebuah wajan melayang mengenai wajah Kaizo, membuatnya terpental entah ke mana. "Dasar kecil-kecil galak kayak emak-emak!"
Abaikan saja kata-kata Kaizo tadi! Dia memang tidak punya sopan santun! Dapur kesayanganku ... Hancur total karena ulah Abang pemalas satu itu. Hahh ...
"Yap! Selesai ..." Ku lap keringatku yang mengucur di setiap bagian dahiku. Bukan hal jarang bagiku untuk melihat dapur yang telah bersih seperti semula. Mungkin sifatku ini bisa menjadi kebiasaan yang baik untuk masa depanku kelak setelah menikah.
Dapur sudah bersih. Itu berarti bebanku mulai terangkat setengah. Setengahnya lagi adalah misi mengerjakan PR dari guru killer dan memikirkan maksud teka-teki dari BoBoiBoy.
Sumpah serapah ku ucapkan, aku benar-benar tidak ingat! Memoriku seakan-akan terpendam jauh ke dalam sumur otak yang dangkal hingga keluar menjadi feses. Jikalau mengingatnya kembali, hanya bayang-bayang yang keluar sebagai teka-teki tambahan. Apalah aku ini? Sejak kejadian bersilam-silam tahun yang lalu, aku sudah lupa dengan memori berhargaku yang satu itu.
"Ya, aku ingat, dan aku tidak menyangka setelah perkiraanku selama ini, dia selalu ada bersamaku."
Maksudnya apa, ya?
'Dia' itu siapa?
Dan kenapa kau tersenyum padaku setelah mengucapkan kalimat itu?
"Apakah itu ...?" Tanpa sadar, aku mulai bergumam. Ku gelengkan kepalaku dengan cepat demi menghapus isi pikiran itu. Bodoh sekali. Seharusnya aku sudah berada di kamar dan mengerjakan PR. Bukannya sibuk bergelayut dengan ingatan masa lalu yang hilang seperti sihir. Payah kau, Fang ... Aku akui itu.
Tanpa pikir panjang lagi, aku berjalan menuju kamar tanpa perlu mengecek Kaizo seperti yang biasa ku lakukan. Benakku berkata, Kaizo pasti sedang menonton Harry Potter untuk yang keempat kalinya. Film bersejarah itu sudah menjadi film favorit Papa dan Kaizo yang membuat Mama menggelengkan kepalanya berulang-ulang setiap kami berbelanja ke tempat penjualan DVD. Heran juga dengan hal-hal kesukaan kedua pria yang bekerja di bidang politik dan militer itu. Bukankah seharusnya mereka suka dengan film military action seperti "American Sniper", "Fury", dan "Warlords"? Selera orang berbeda-beda, Bung. Aku sendiri hobi menonton acara masak-masakan di TV. Lumayan untuk bekal bagi bocah laki-laki yang tinggal sendirian.
Pintu kamar terbuka dengan suara decitan yang nyaring. Aku langsung masuk ke dalam kamar, membuka buku science-ku, dan berkutik dengan pelajaran alam yang membosankan ini. Pensil berkali-kali berbunyi di atas kertas putih yang berisi soal-soal pelajaran. Lampu belajar setia menemaniku belajar, baik di sore hari maupun malam hari.
13 menit mengerjakan soal-soal science yang susah, akhirnya aku berhasil memecahkan rekor baru mengerjakan soal dengan 45 nomor yang tertera. Kacamata ku lepaskan dari tempatnya bertengger dan ku letakkan di tempatnya. Untuk sementara waktu, biarkan mataku beristirahat walau hanya sekejap mata. Aku sangat lelah.
Padahal masih musim penghujan, tapi kenapa udara sangat panas? AC sudah menyala dengan temperature 17°C, sayangnya itu tidak benar-benar mencukupi rasa puasku terhadap udara di Negeri Jiran ini. Tidak bisa diajak kompromi. Sekarang juga, aku masih memejamkan mataku yang mulai panas setelah melepaskan kacamata ber-minus 2,5 itu. Samar-samar, bayangan mimpi mulai terlihat di kepalaku, nampak seorang bocah laki-laki berambut kecokelatan berusia sekitar ... entah 5 atau 6 tahun, berlari menghampiriku seraya membawa dua buah donat.
Ah, apakah itu mimpi?
Mataku terus terpejam, lama ... hingga aku tidak dapat merasakan kehadiranku lagi di atas kursi beroda yang ku duduki kini.
"Landak Ungu! Landak Ungu!"
Aku melihat bocah itu berlari ke ... arahku?
"Ada apa, Orange?"
Kenapa aku berbicara sendiri? Padahal aku tidak sedang ingin bicara.
"Ini donat kesukaanmu! Susah nyarinya ...!" seru bocah yang berwajah mirip dengan BoBoiBoy itu. "Lain kali traktir balik, ya!"
"Oh, terima kasih. Aku janji, deh, bakal traktir kamu balik."
Bocah itu tersenyum senang dan melompat-lompat girang.
Apa ini? Kenapa tubuh, ekspresi, dan suaraku beraksi tanpa kemauanku? Aku tidak habis pikir. Ini pasti hanya kebetulan. Aku bahkan tidak bisa melihat refleksi tubuhku sendiri, seakan-akan tubuh ini menolak kehadiranku di dalamnya dan membiarkanku merasakan apa yang dilakukan oleh bocah yang tubuhnya ku masuki ini. Apakah ini nyata?
Tidak, tidak. Aku bocah kelas 5 Sekolah Rendah Pulau Rintis yang memiliki tubuh tinggi bak artis, bukannya tubuh cebol begini! Di depanku ada bocah yang mirip dengan BoBoiBoy, namun tidak memakai topi dinosaurusnya. Dia kelihatan sangat akrab dengan bocah yang ku tumpangi ini.
Dan, tunggu! Donat yang dia bawa adalah donat lobak merah kesukaanku! Bagaimana dia mendapatkannya? Yang jelas, di sini bukan Malaysia ataupun Pulau Rintis.
Lalu ini di mana?
Aku berperan menjadi siapa?
Kenapa tubuhku kecil seperti anak kelas 1 SD?
Ku mohon, siapapun jawablah pertanyaanku ini!
"Ah, Landak Ungu kapan mau jalan-jalan ke pantai? Aku bosan di sekitar perumahan terus ... Ingin jalan-jalan ke mana, kek," tanya bocah yang berdiri di depanku.
Aku menganggukkan kepalaku pelan (yang pasti tanpa kemauanku). "Bagaimana kalau sekarang? Mumpung hari ini hari Sabtu, besok kita ke taman hiburan. Kamu mau?" usulku, disahut dengan anggukan kepala dari bocah di depanku.
"Iya! Aku mau! Tapi syaratnya, jangan panggil aku Orange. Panggil namaku, dong ... Bo-Boi-Boy. Bukan Orange! Aku ini bukan jeruk ... Kau tahu?"
Eh? Tunggu. Dia menyebutkan namanya.
"Hihihi ... Kalau begitu, kau juga harus memanggilku dengan namaku. F-A-N-G. Bukan Landak Ungu. Lagipula aku ini bukan landak."
Hei, itu namaku.
"Aye! Aye! Captain! Dengan senang hati!"
Tubuhku dan bocah itu berjalan berdampingan. Tangan kami bertaut menambah kesan romantis dan imut yang apabila orang lain melihat akan berkata "Aww~" dengan mudahnya. Bocah itu mencium pipiku sekali dan tertawa-tawa kecil. Tubuhku pun membalas ciumannya dengan menciumnya di bibir. Kami sempat beradu mulut, lama sekali, dan dia pun melepaskan ciuman kami. Senyumannya mengembang, lalu mengajakku kembali berjalan menuju pantai.
Aku benar-benar tidak paham. Dia menciumku di pipi ... Aku menciumnya di bibir ... Apakah itu artinya, si "aku" pacaran dengan bocah yang berjalan bersamaku? Jika iya, tolong kembalikan ulang scene tadi, dan aku akan memaksakan kepalaku untuk tidak mendekati wajahnya yang imut itu walaupun sepertinya tidak akan ada hasil yang memuaskan karena jiwa dan tubuhku bertolak belakang.
Oke, jika ini memang mimpi, aku harus menampar pipiku sekali.
Satu ...
Dua ...
Tiga!
PLAK!
PLAK!
"Fuaaahhh ...!"
Aku terbangun dari tidur lelapku. Jam sudah menunjukkan pukul 06.02 sore yang menandakan aku sudah tidur selama 1 jam 12 menit. Sebegitu lamakah aku tertidur?
"Hhhh ... Mimpi yang sangat aneh ...," gumamku pelan.
Aku benar-benar tidak bisa berpikir. Setelah dibebani oleh masalah dilema yang dialami BoBoiBoy, sekarang aku harus disuguhi dengan mimpi! Mungkin mimpi itu adalah masa laluku. Aku masih ingat punya hubungan juga dengan seorang anak di Amerika. Ya! Aku ingat! Uhm ... Sepertinya aku yakin tadi itu BoBoiBoy. Dari cara dia menyebutkan namanya, aku benar-benar terkejut mendengarnya.
.
.
.
ITU BENAR-BENAR BOBOIBOY ...!
"Ah! Ah! Argh! Tenang, tenang, tenang! Semua akan baik-baik saja, walaupun tidak sebaik yang ku kira, tapi yakinlah semua akan baik-baik saja! Aku mungkin hanya salah dengar atau–!"
"... Tapi syaratnya, jangan panggil aku Orange. Panggil namaku, dong ... Bo-Boi-Boy. Bukan Orange! ..."
"Uh ... Itu memang dia ... Mungkin. Ah! Bagaimana ini?! Apa aku harus bunuh diri untuk meyakinkan diri kalau aku ini memang gila?! Tuhan! Berikan aku jawaban!"
Krieet ...
"Ah! Pang. Aku dengar dari luar, kamu kelihatan panik sekali." Begitu pintu kamarku terbuka, Kaizo masuk dan berdiri di depanku. "Ada apa ini? Apa kamu sedang–?"
"KAIZOOO ...!" seruku dan berhambur menuju ke pelukannya. Kaizo hanya memandangku aneh. "Tolong beritahu aku! Apakah BoBoiBoy dulu itu pacarku?! Tolong, Kaizo! Tolong jawab!"
Raut wajah yang dia keluarkan menggambarkan kalau dia mungkin sedikit terkejut. Aku tidak peduli! Yang penting aku harus tahu kebenarannya! Setelah hubunganku dengan BoBoiBoy sebulan lebih, dia baru memberi tahuku petunjuk keberadaannya di masa lalu?! Gila. Seharusnya sejak dia datang, aku sudah tahu kalau dia pacarku!
Tapi kami sudah putus, bukan?
Tidak, tidak, tidak! Ini belum kepastian! Jika Kaizo menjawab "iya", berarti aku sekarang benar-benar mantan pacar BoBoiBoy yang putus karena alasan konyol. Jika "tidak", berarti dulu BoBoiBoy bukanlah pacarku!
Tolonglah! Jawaaaabbbbb!
"Eh ... Kalau tidak salah iya. Dulu dia pacarmu sejak kamu masih kelas 1 SD."
.
.
"Hah?"
"Kau tidak dengar?" tanya Kaizo.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Dia pacarmu."
"Eh?"
"Dan kau naksir kembali pacar lamamu seakan-akan kau tidak ingat siapa dia."
"EH?!"
"Sejak awal aku sudah tahu. Dari catatan-catatanmu di bawah kasur juga, kau menjadikannya pacar kembali dan putus dengan alasan terkonyol sedunia, lalu–"
"Sudah, sudah! Jangan diteruskan!" Ku tutup mulut Kaizo dengan penuh emosi. Pipiku memerah begitu dia menceritakan mengenai catatan-catatan harianku yang ku simpan di bawah kasur. "Aku benar-benar tidak ingat. Mungkin penyakit BoBoiBoy menular ke aku." Ku lepaskan tanganku yang semula menutup mulut Kaizo, menampilkan wajahnya yang masih datar tak berekspresi.
Aku menghela nafas panjang. Mataku hanya fokus ke lain arah, tidak menatap Kaizo yang memandangiku tanpa henti. Sumpah, aku benar-benar kebingungan. Apakah aku tampak abnormal hari ini? Masa laluku berhenti sejak kelas 3 SD. Hanya potongan ingatan saja yang menyangkut di kepalaku. Aku memang pintar seperti kata BoBoiBoy, tapi jangankan menyelesaikan masalah hubungan kami, memecahkan misteri masa laluku dan BoBoiBoy saja aku tidak begitu pandai.
Heh? Tunggu! Bukankah seharusnya Kaizo tidak boleh tahu hubunganku dengan BoBoiBoy?! Bagaimana dia bisa tahu semuanya?! Sialan! Brengsek! Baj*ngan! F**k! Pasti karena catatan-catatanku yang dia bongkar! AAARRRGGGHHHH ...! BoBoiBoy akan menampar wajahku berkali-kali dan itu menyeramkan, Bung! Ditampar oleh mantan pacar? Sama saja seperti dipanah ribuan jarum dari langit lepas!
Hebat, Fang. Kau malah semakin memperburuk keadaan!
"Ehem!" Kaizo mendekat ke arahku. "Sekarang kau sudah ingat dengan hubunganmu. Kau sudah putus dengan BoBoiBoy dan kalian hanya sebatas teman. Aku sebenarnya sangat lega dengan keputusanmu itu."
"Eh? Maksud?" tanyaku sambil memiringkan kepala.
Iris ruby Kaizo menatapku dalam diam. Tampak sangat tajam dan tegas, cukup membuatku merinding setengah mati.
"Karena kau sudah putus, aku ingin membicarakan hal yang penting denganmu. Ini juga bersangkutan dengan masa depanmu."
.
.
"Eh? M-masa depanku?"
-BoBoiBoy's POV-
Hujan mulai mengguyur Pulau Rintis yang aman tenteram ini. Dari kaca jendela kamar, aku bisa melihat siluet kampung di Pulau Rintis yang kini aku tinggali, juga beberapa penduduk yang baru saja pulang dari kerja hendak mencari tempat berlindung. PR science masih tetap berada di atas meja belajarku dengan tanganku yang masih memegang pensil mekanik. Suara jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore berdenting sampai terdengar di seluruh ruangan. Di belakangku, tampak seorang bocah laki-laki berambut pirang tengah berbaring di tempat tidurku dan bermain game Nintendo DS.
Yup. Dugaan kalian benar. Setelah beberapa hari yang lalu dia pulang ke Inggris, dia justru kembali lagi ke sini dengan alasan ingin tinggal dengan Atok, dan untuk menemaniku agar tidak sendirian. Usia kami terpaut sama, jadi dia hanya perlu masuk di kelas sebelahku–atau mungkin sekolah lain yang lebih elite. Wajar ... anak pintar ...
Ochobot kembali lagi dan memilih untuk tinggal. Bukankah ini benar-benar nightmare? Bagaimana jika dia tahu aku masih mencintai Fang? Tentu dia akan marah dan melarangku berteman dengan Fang SAMA SEKALI.
Tinggal dengan seorang straight itu susah, ya. Tipikal anak pintar dan bersifat keibu-ibuan.
Haaahhh ... Lagi-lagi aku dikejutkan oleh kedatangannya yang tiba-tiba itu. Baiklah, jika kita putar ulang waktu ...
-FLASHBACK-
"BoBoiBoy!" Aku yang baru saja pulang dikejutkan oleh pelukan tiba-tiba dari seorang anak laki-laki berambut pirang. "I miss you so much!"
"Eh? O-Ochobot? Bukannya kamu harus kembali ke Inggris? Kenapa kembali lagi?" tanyaku linglung.
"Kau tidak tahu? Oh, Atok belum cerita, ya?" tanya Atok, semakin membuatku kebingungan setengah mati.
"Cerita? Cerita apa?"
Ochobot terkikik geli dan melepaskan pelukannya yang erat. "Aku kembali ke sini karena ingin menemanimu dan Atok. Daripada tinggal di Inggris, aku lebih baik tinggal di sini. Sekalian membantu Atok mengurus kedai juga. Kasihan kamu sendirian di sini," jelasnya singkat.
"J-jadi ..." Kini mataku terbelalak mendengar penjelasannya. "Kamu bersekolah di sini?"
"YA! BETUL!"
TEK! TEK! TEK! Seakan-akan ada kentongan berbunyi, aku terdiam tanpa komentar. Tubuhku membatu, membayangkan bagaimana reaksi Ochobot mendengar aku masih mencintai Fang.
SHIT.
-FLASHBAK END-
Nightmare! Ya, mimpi buruk terbesarku selama berada di sini adalah Ochobot! Dia sudah seperti CCTV di sini yang akan selalu mengawasiku kapanpun dan di manapun. Seandainya dia berada di kelas yang sama, senyumannya akan selalu tertuju hanya padaku seorang, seakan-akan aku ini bonekanya.
Lupakan masalah Ochobot. Sekarang aku harus berkutat pada sebuah buku setebal 5 cm di depanku ini. Pensil mekanikku bergerak lincah dari satu soal ke soal yang lain. Sudah setengah jam yang lalu aku mengerjakannya, tidak ada perubahan besar. Lembar demi lembar aku buka hanya untuk mencari jawaban yang tepat. Dengan caraku belajar seperti ini, kemungkinan besar aku kalah rekor "mengerjakan PR paling cepat" dari Fang. Bahuku mulai sakit berada di posisi yang sama selama setengah jam lebih.
"BoBoiBoy, boleh aku bertanya?" Suara Ochobot berhasil memecahkan keheningan.
"Boleh. Mau tanya apa?" Aku balik bertanya padanya.
"Hubunganmu dengan Fang saat ini apa? Ku dengar dari Atok, kalian sering berdebat banyak hal, bahkan sampai yang tidak penting. Tapi kamu selalu dekat dengannya seakan-akan kalian masih menempel," tanya Ochobot dengan penjelasan panjang lebar. "Bukannya kalian sudah putus?"
Aku terkekeh pelan dan menggaruk pipiku yang tidak gatal. "Hehehe ... Anu, kami sekarang memang hanya teman biasa, tapi aku dan Fang selalu banyak berdebat karena kepopuleran kami di sekolah meningkat."
"Oh, ya?" Ochobot berpindah posisi menjadi duduk bersila di atas tempat tidurku. "Populer karena apa?"
"Hmm ... Fang selalu dijuluki "Cool Type" di sekolah, sedangkan aku "Shota Type", seakan-akan wajah kami menggambarkan pribadi yang berbeda yang membuat para perempuan di sekolah menjerit-jerit kegirangan. Tidak jarang juga aku dan Fang selalu dipasang-pasangkan oleh beberapa perempuan fujoshi. Apa itu namanya? Ehm ... Ah, shounen-ai mungkin." Wajah Ochobot berubah memucat begitu aku menjelaskan alasan kenapa kami populer di sekolah.
"Eh ... Mungkin banyak fujoshi akut yang bukan hanya otaku di sana. Hati-hati, BoBoiBoy. Bisa saja setiap kamu bersama Fang, mereka akan diam-diam mengambil foto kalian dan menjualnya dengan harga tinggi sambil memakai spanduk bertulisan "FangBoy"."
"Hei ...! Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda! Perempuan jenis seperti itu adalah mimpi buruk terbesar untuk kaum laki-laki."
Bagiku mimpi buruk terbesarku adalah tinggal bersamamu, Ochobot, pikirku.
"Oh, ya! BoBoiBoy! Aku dapat kabar kalau kelasku bersebelahan dengan kelasmu, jadi jangan khawatir dengan keadaan kalian. Aku akan melindungimu dari Fang!"
.
.
Dunia seakan berhenti berputar. Pengumuman tiba-tiba dari Ochobot terngiang-ngiang di kepalaku, memberi efek samping yang cukup buruk. Suatu saat aku memang harus waspada.
Tapi kali ini kewaspadaanku benar-benar sangat ketat.
Ochobot mulai memasuki kehidupan keduaku di Pulau Rintis.
JAWABAN REVIEW CHAPTER 7 DAN AUTHOR'S NOTE
Floral Lavender - "Ah, betullah kau ni pembaca setia! Hehehe ... Panggilan 'Landak Ungu' karena rambutnya jabrik kayak landak dan suka memakai pakaian serba ungu. Btw, jangan nangis, dong ... Ini oleh-oleh dari hiatusnya : Chapter 8, khusus untuk memenuhi kuis di chapter sebelumnya. Dan lagi, terima kasih atas dukungannya. Oneshoot yang sengaja dibuat di Author's note ini hanya keisengan belaka. (BBB : "Aku yang jadi korban ..." *pundung, nangis* / Fang : "Cup, cup, Sayang ...") Wkwkwk ... Season 3 sedang proses pemikiran, nih. Doakan semoga season 2 ini lancar! Amiin ... ^^"
Kurohime - "Memangnya kalau ada Kaizo kenapa? :v Pfft ... Ada yang iri, nih ... Mereka dari kecil memang pacaran, tapi seiring waktu, ingatan mereka mulai memudar. Jawabannya ada di chapter ini. Terima kasih telah menunggu. :)"
HikariFuruya - "Amiiin ... ^^ (Kaizo : "TIDAAAKKKKHHHH ...!") Yep! Jawabanmu betul! Bonusnya, nih! *lempar Fang* Buat diajak bobo bareng, yah! (Fang : "Woi!") Bayangin sampai punya anak?! WOWIE! Kayaknya anaknya bakalan seimut emaknya (BBB), deh! Dan terima kasih atas pujiannya terhadap oneshoot kemarin. Fang agak modus, sih, demi mendapat perhatian BoBoiBoy. Wkwkwkwk ... :v"
WinterFrost98 - "Tuwiyuwiyuwiyu! Ada ambulans datang hendak menjemput Frost! Donorkan darah! Cuuuuurrrrr ... /PLAK/ Hehehe ... Terima kasih dan yang pasti tidak bakal lupa sama fic ini. Always remember walau kerjaan menumpuk di akhir semester. Tapi Frost juga harus rajin nulis fic. Kasihan atuh fic-nya terbengkalai, nanti lama-lama jadi bangkai ... Semangat juga untuk Frost! ^^"
Namewhiterose - "Terima kasih atas dukungannya! Semangka juga! Wkwkwkw ... :D"
Febiola558 - "Semangat untuk membuat komiknya, ya! Pingin lihat, deh! xD"
ShiningShino-tan - "Thanks, and I promise I'll continue it until season 3! Wish me luck! ^^"
Setelah 2 minggu berlalu, akhirnya tibalah masa yang ditunggu-tunggu. Fang ... Awas, rahasiamu benar-benar terbongkar, lho. Kalau BoBoiBoy tahu, kau pasti akan ditampar beribu-ribu kali seperti sumpah serapahmu barusan. Be careful or you will be his victim. (Fang : "NUUOOOOOOOHHHHHHH ...!")
Chapter 8 ini baru saja dibuat begitu pulang ke Tanah Air. SKS (sistem kebut semalam) author lakukan demi fic ini! Pokoknya deadline tanggal 25 Maret! Ini juga demi para pembaca yang menunggu fic ini dengan sabar sambil melaksanakan UTS. Ku harap kalian menemukan jawaban kuis di chapter sebelumnya! ^^
Ochobot datang lagi? Sengaja didatangkan untuk melengkapi fic ini. Tanpa Ochobot, suasana fic ini agak-agak suram, apalagi BoBoiBoy tidak suka dengan kehadiran Ochobot di kehidupannya. Sama saja seperti Fang yang tidak suka Kaizo berada di rumahnya selama seminggu. Dua tokoh yang sama-sama menderita, kasihan ...
Dan bocoran untuk season 3. Setelah bertapa selama 3 hari 3 malam (wesrek! Bertapa, rek ...!), hasilnya mulai muncul di otak. Season 3 akan menampilkan masa-masa SMP BoBoiBoy dan Fang, masa-masa cinta monyet. Ihik-ihik. Bukan hanya itu. Ditambah cinta segitiga dengan seseorang. Siapakah dia? Tunggu saja season 3-nya. :D
Terima kasih atas dukungan kalian untuk melanjutkan fic ini. Setelah perjuangan membabat tugas selama berminggu-minggu, fic ini bisa sampai chapter 8. Itupun tidak gampang dalam mencari ide untuk lanjutan chapter-nya. Untuk oneshoot dari Author's Note kemarin, banyak yang suka, ya? Ide ini iseng gara-gara kebanyakan nonton anime shounen-ai, mulai dari "Sekaiichi Hatsukoi" sampai "Love Stage". Yang pernah lihat pasti tahu. Wkwkwk ... Tapi ceritanya bukan plagiat, kok. Asli mikir sendiri. I swear!
Okelah. Tunggu kelanjutannya, ya! Sampai jumpa di chapter depan! Jangan lupa review, fav, dan follow! I'll see you later! Ciao!
