Adore You

Chapter 10

Cast :

Oh Sehun

Kim Jongin

Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Lu Han, Kim Jongdae, Huang Zi Tao, Byun Baekhyun, Wu Yi Fan, Lee Taemin, Choi Minho and all 11-7 students

Warn : Boys Love, OOC, AU, Typo(s), Uke!Sehun

Hai ^^ ini chapter terakhir dan mungkin tidak sesuai dengan harapan pembaca ._.

Aku harap kalian masih berkenan untuk membaca tulisan ini

Happy Reading ^^

.

.

.


Jam weker di atas meja nakas sudah berdering enam kali dalam tiga puluh menit terakhir. Tapi tubuh jangkung yang berbaring nyaman di kasur masih enggan untuk sekedar membuka mata. Ia asyik bergelut dengan selimut merahnya sambil memeluk bantal guling. Nyenyak sekali pemuda ini tertidur. Rasanya tak tega jika membangunkan remaja ini untuk meninggalkan dunia mimpinya.

Maka dari itu, kedua orang tuanya membiarkan saja si anak bungsu bangun agak siang. Toh, sekarang di sekolahnya ada acara dan tak mengadakan kegiatan pembelajaran. Santai saja.

Lain orang tua, lain sahabatnya.

Baru saja si porselen itu berguling ke kiri sambil meracau dalam mimpi, pintu kamarnya menjeblak terbuka dan masuklah dua remaja laki-laki dengan tinggi berbeda. Mereka saling lirik lalu kompak berteriak di depan telinga sang pangeran tidur,

"BANGUN BAU!"

Zitao, yang paling terlihat bersemangat memukul-mukul bahu si sleeping beauty "Sehun-ah! Ayo bangun! Bangun! Sudah jam tujuh nih!"

Si pemilik kamar membuka mata enggan. Ia langsung bertatapan dengan dua pasang mata yang juga menatapnya berbinar.

"Pagi, Sehun baby." sapa Jongdae mesra lalu menarik lengan Sehun untuk bangun. Zitao dengan sigap menyibakkan selimut dan merapikan sprei. Hingga Sehun mau tak mau beranjak dari ranjangnya sambil menguap kesal.

"Ada apa sih? Tidak ada kelas kan? Hari ini pentas seni kalau kalian lupa."

Jongdae mengangguk "Tahu kok."

"Lalu? Kenapa kemari?" Tanya Sehun sambil menggaruk pipi kasar. Jerawatnya sedang gatal.

"Kami ada urusan penting denganmu, Hun."

"Penting?"

"Penting banget!" jawab Jongdae kelewat antusias.

"Sangat penting?"

"Pentiiiiing sangat!"

Sehun berjalan menuju meja komputernya lalu duduk di kursi dengan bingung "Oh.. Memangnya kalian bisa punya urusan penting? "

Wajah Jongdae menekuk seakan ingin menjitak Sehun " Ih! Tao-ya! Kau saja yang bicara dengannya! "

Si pemilik kamar nyengir lalu menghadap Tao, yang ditatap segera melirik Jongdae sekilas sebelum menjawab pendek "Kyungsoo."

Alis Sehun terangkat sebelah. Telinganya cukup asing sekarang mendengar nama salah satu sahabatnya yang sudah lama menjauh itu. Ekspresinya berubah kaku. "Kenapa dia?"

"Dia..-"

Pintu kamar Sehun terbuka lagi saat perkataan Tao baru terucap. Kemudian muncul tubuh kecil Kyungsoo yang berjalan ragu dengan wajah tertunduk. Sehun melongo. Takjub rasanya melihat orang yang lama menjauh lalu tiba-tiba datang ke kamarnya saat ia baru bangun tidur.

"Kau?" tanya Sehun dramatis sambil menunjuk Kyungsoo menggunakan kelingkingnya.

Si objek mendongak pelan lalu mengangguk dan melambai "Hai—"

Sehun mengernyit. "Mau apa kemari?" tanyanya jutek dan kasar.

Kyungsoo meneguk ludahnya pelan. Ia bingung mau bicara apa melihat wajah Sehun yang kelihatan bengis dan mengerikan. Berbeda sekali dengan Sehun yang beberapa waktu lalu bersembunyi di bawah meja setelah mencium pacarnya.

Hafalan kalimat minta maaf yang ada di otak Kyungsoo mendadak lenyap saat ia berhadapan langsung dengan Sehun. Pikirannya blank. Kosong.

"Aku…" Si mata besar menelan kembali kalimatnya. Ia menunduk gugup dan malu sekaligus. "Aku…"

"Apa ?"

"Err.. Aku.." Keringat dingin meluncur tanpa halangan di pelipis Kyungsoo. Ia yang setiap hari bertingkah superior tentu tidak terbiasa meminta maaf pada orang lain. Ego memang susah dikalahkan.

Sehun menghela nafas melihatnya. Ia sangat tahu Kyungsoo itu seperti apa. Maka ia berucap singkat "Sudahlah. Lupakan."

Seketika Kyungsoo mengangkat wajah "Ya?"

"Aku tahu kau mau bicara apa. Sudahlah. Tak usah pikirkan itu. Lupakan saja."

"Tapi-" Kyungsoo hendak memprotes saat Sehun menarik tubuh kecilnya untuk didekap oleh sahabatnya yang tinggi menjulang itu. "Aku bilang lupakan saja, bodoh." Bisik Sehun sambil mengoyang-goyangkan Kyungsoo dalam pelukannya. "Kita kan teman."

Mendengar nada dan suara Sehun yang seperti biasa membuat Kyungsoo perlahan tersenyum lebar. Ia benar-benar merindukan suara Sehun. Ia balas memeluk laki-laki itu erat. "Maafkan aku. Aku sungguh bodoh menjauhimu." Katanya lancar dan tanpa ragu.

"Ya, kau memang bodoh Kyung."

"Jangan meledekku, mentang-mentang Bandar contekan."

Sehun terkekeh. Ia juga tak bisa membohongi diri sendiri, kalau ia sangat membutuhkan dan merindukan kehadiran Kyungsoo setiap hari.

"Sori oke? Aku sangat menyesal. Aku rindu padamu. Bahkan aku terngiang-ngiang suaramu setiap hari." Ucap Kyungsoo jujur setelah pelukannya terlepas.

"Benarkah? Segitu rindunya kau padaku?" tanya Sehun seraya mengusak rambut Kyungsoo keras.

"Tentu saja!"

"Bodoh. Kalau rindu kenapa tidak menemuiku? Menelponku?"

"Takut direject."

Sehun tertawa kecil. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang sudah lama mengganjal untuk dibicarakan pada Kyungsoo , "Eh, Kyung. Minggu depan film Amanda Seyfried akan tayang di bioskop! Aku sudah lama ingin memberitahumu"

Kyungsoo menepuk jidatnya keras lalu berteriak histeris "Waaaa benar! Aku hampir lupa! Kuharap banyak adegan ia memakai bikini!"

"Tapi dia tidak se-hot Miranda walau pun pakai bikini"

"Oh yeah? Miranda saja yang dadanya kebesaran! Tumpah tuh!"

Sehun menjambak poni Kyungsoo kesal, lalu Kyungsoo balas mendorong Sehun menggunakan kakinya sehingga si jangkung terhempas ke lantai.

Tao dan Jongdae yang sedari tadi menonton dengan wajah melongo cuma saling lempar pandang lalu nyengir lemah.

"Akhirnya mereka kembali."

.

.

.

.

Sehun sudah rapi di depan rumahnya dengan setelan kasual favoritnya. Skinny jeans dan kaus merah gelap menempel apik di tubuh semampainya. Ia sedang menunggu kehadiran Jongin yang katanya akan menjemputnya untuk pergi ke acara klub seni di sekolah. Sehun sebenarnya masih kecewa karena harusnya ia dan Jongin bisa tampil hari ini dalam kontes. Tapi… Ya sudahlah. Memang takdir sudah mengatakan ia tak bisa unjuk kebolehan tahun ini.

Pemuda milky skin duduk dengan tidak tenang. Otak cerdasnya sedang berdesing memikirkan kedatangan Kyungsoo tadi pagi. Jujur saja, ia lumayan terkejut melihat si smurfy itu menampakkan diri setelah cukup lama menjauh dari kehidupannya.

Singkatnya, mereka sudah berbaikan dan Kyungsoo mau berbaik hati memberikan alasan mengapa ia melancarkan aksi perang dingin pada Sehun. Ya, satu alasan yang cukup membuat jantungnya hampir copot.

Kyungsoo menyukai Jongin.

Sehun shock sekali mendengarnya. Untunglah Kyungsoo menjelaskan kalau ia sudah berusaha (atau sedang) melupakan Jongin dan menganggapnya hanya teman. Well… Sehun tak yakin Kyungsoo bisa begitu saja melupakan perasaannya, mengingat si marga Kim itu sangat memesona dan tampan. Ia yang judes saja berhasil ditaklukkan sampai jinak. Meski begitu, Sehun menghargai Kyungsoo. Ia sungguh berterima kasih karena Kyungsoo mau jujur padanya.

Sehun mendesah. Ini benar-benar tak sesederhana pikirannya. Ia tak mungkin kan berkencan dengan Jongin di kelas bila ada Kyungsoo? Ia akan merasa tak enak hati dan canggung.

Ck… Mau tak mau ia harus mencarikan Kyungsoo gebetan baru secepat mungkin.

Tapi

Siapa?

Pikirannya yang sedang sibuk mengabsen calon yang tepat untuk Kyungsoo mendadak buyar, saat deru bising sepeda motor terdengar dari luar. Ia buru-buru keluar rumah, hampir berlari. Membuka gerbang dan mendapati empat motor dengan warna berbeda-beda terparkir amburadul di depannya.

"Hai princess! Siap berangkat bersama pangeran?" Sapa laki-laki yang baru melepas helmnya. Lalu berjalan mendekat pada Sehun. Walau masih agak tertatih karena kakinya belum pulih seratus persen.

Satu pukulan langsung mendarat di kepalanya "Panggil princess lagi atau hidungmu akan-"

"O-oke sorry.." potong Jongin, ia nyengir sambil memasang peace sign. Tanpa basa-basi ia menarik Sehun ke arah tiga motor lain yang para pengendaranya sudah membuka helm semua. "Ah! Ayo ku kenalkan pada saudaraku."

Jongin menghadapkan Sehun pada Kris yang membonceng Joonmyun di belakangnya "Ini Yifan hyung, tapi panggil saja Kris supaya gaul. Dan ini pacarnya, Joonmyun hyung atau kau bisa panggil dia juragan"

"Apa sih." gumam Kris dan Joonmyun bersamaan.

"Lalu ini…" Jongin menarik Sehun pada laki-laki yang duduk sendiri di motor hitamnya. "Hyung tertua, Luhan hyung. Cool, manly, ganteng, jago olahraga, atlet kampus …"

"Panggil saja dia jomblo!" Sembur Chanyeol memotong. Ia terkekeh bersama Baekhyun yang juga terkikik puas di belakangnya. Jahat.

Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak berniat membalas orang-orang yang suka menggoda statusnya. Apa salahnya sih menjadi single? Tidak merugikan siapa-siapa kan.

"Hai Sehun. Aku Luhan. Kita pernah bertemu dulu, di café." Sapanya tidak bergairah. Ia sepertinya diajak paksa oleh yang lain supaya ikut.

Sehun mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya "Aku Sehun, senang bertemu hyung semua." Katanya sambil tersenyum kecil. Hal yang sangat langka, karena Oh Sehun irit sekali untuk sekedar menarik bibirnya.

"Oh! Yifan benar. Dia memang cute." ucap Joonmyun keras seraya meremas punggung Yifan yang cuma nyengir pada Sehun.

"Tentu saja-" Jongin menoleh pada orang di sampingnya yang tampak malu atas pujian Joonmyun. "Sudah siap?"

"Oke."

"Kau tak keberatan kan kita ke sekolah memakai motor ini?" tanya Jongin lagi agak takut.

Kepala Sehun mengangguk-angguk "Tak masalah sama sekali." Ia malah senang. Toh, kalau ia dibonceng, ia kan bisa memeluk Jongin dari belakang hhwueweuwheuwhhwuheuwhe.

Jongin menyodorkan helm putih pada Sehun yang sudah naik duluan. Ia membiarkan saudaranya yang lain menjalankan motor lebih dulu sampai mereka tak kelihatan lagi. Hanya tinggal mereka berdua di sana. Kemudian ia berjalan mendekati Sehun dan melepas helm yang baru saja dipakai.

"Yah! Kenapa kau lepas!" protes si laki-laki putih pucat itu.

Jongin memberi seringai lalu mengecup sekilas bibir Sehun yang langsung bungkam.

"Sebelum berangkat, kissu dulu hahahaha."

"Ah cari-cari alasan!"

"Tapi mau lagi kan?" Alis Jongin naik turun.

Sehun tampak berpikir lalu mengangguk salah tingkah setelahnya.

Dan Jongin mencium Sehun lagi dengan durasi yang lebih panjang.

.

.

.

.

Suasana sekolah sangat meriah. Bangunan yang biasanya di malam hari selalu hening dan mencekam itu, sekarang telah disulap menjadi gedung terang berkerlap-kerlip. Panggung besar yang didirikan di lapangan outdoor sedang diisi oleh para anggota teater untuk tampil. Banyak penonton fokus menyaksikan akting mereka, Sampai kursi yang disediakan terisi penuh. Walau pun masih banyak lagi siswa-siswi yang lebih memilih untuk jajan di stand-stand para sponsor acara tahunan yang diselenggarakan klub seni ini.

"Wah, kita terlambat menonton teater. Sebentar lagi selesai." Gumam Sehun saat melihat gadis yang berperan sebagai Chunyang sedang berlutut di panggung. Ia tahu itu adalah scene klimaks, adegan Chunyang akan dihukum.

"Yang penting anak dance belum tampil. Masih lima belas menit lagi." Timpal Jongin "Aku ingin melihat Taemin."

Sehun mengangguk semangat "Semoga ia menang!"

Kemudian Chanyeol yang sedari tadi berdiri di belakang mereka berkata keras, karena suaranya kalah oleh kebisingan di sana "Aku dan Baekhyun pergi ke sana dulu. Sampai nanti." Katanya sambil menggandeng Baekhyun menuju gerombolan anak kelas dua belas yang berkerumun di sudut. Mungkin mereka akan bersenang-senang bersama, mengingat tahun ini adalah tahun terakhir mereka menikmati pentas seni dengan rekan seangkatannya. Masa SMA harus dikenang dengan baik kan?

"Kris, kita ke stand itu yuk? Sepertinya menarik!" Ajak Joonmyun yang berniat menghamburkan uangnya, lalu menyeret Kris ke deretan penjual makanan yang ramai.

Luhan melengos, menyadari kalau ia ditinggalkan sebatang kara bersama sejoli muda yang sibuk menguar aura mesra-mesraan di sebelahnya.

"Aish, sudah kukira akan begini." Kata Luhan kesal sambil melempari kerikil pada kepala Sehun dan Jongin.

Dua manusia itu menoleh bersamaan "Eh- hyung! Kami lupa ada hyung!"

"Sial." Luhan hanya cemberut karena merasa diasingkan oleh semua saudaranya di tengah keramaian. Ia menyesal datang kemari. Toh, Jongin juga tidak jadi tampil kan.

"Hyung, sori. Aku dan Sehun akan ke depan untuk melihat teman-teman kami. Hyung mau ikut?" tanya Jongin pada Luhan yang wajahnya semakin tertekuk. Tuh kan, ia benar-benar diasingkan. Semua meninggalkannya. Sendirian.

"Sana pergi! Aku bisa pergi sendiri!" ketusnya lalu berjalan ke arah berlawanan dan menghilang tertelan kerumunan.

Sehun dan Jongin terperangah melihat mood Luhan yang buruk. Sepertinya ia benar-benar marah karena merasa paling forever alone dan hanya menjadi obat nyamuk. "Ya sudahlah, dia kan sudah besar." Ujar Jongin acuh tak acuh lalu menarik Sehun lebih dekat ke arah panggung.

Pertunjukan teater sudah selesai dan saatnya klub dance menampilkan aksinya. Antusiasme penonoton tampak meningkat, sebab klub ini adalah yang paling populer di antara yang lainnya. Penonton berjubel memadati lapangan yang sudah penuh sedari tadi. Kerumunan semakin ramai, hampir tak ada satu senti pun tempat kosong. Jangankan untuk duduk, berdiri saja sudah susah.

"Aish, makin penuh saja" keluh Jongin sambil menarik lengan Sehun agar bisa berdiri dekat dengannya dan terhindar dari desakan brutal para murid.

Sehun mengernyitkan kening ketika tubuhnya terdorong kesana kemari oleh siswa-siswi yang over reaction atas kehadiran peserta pertama yang akan tampil.

"GYAAAAAAA TAEYOOONGGGG!"

Siswa tingkat satu itu melambaikan tangannya sekilas, lalu mulai menari saat musik mengalun. Taeyong, member klub yang lumayan terkenal karena ia tampan dan jago menari.

"Oh.. Si Taeyong yang jadi opening?" gumam Sehun pelan. Tapi Jongin mendengarnya di antara hiruk pikuk di sekitarnya. "Hah? Siapa?"

"Lee Taeyong. Kelas sepuluh. Kau kan ada di klub yang sama, masa tidak tahu?"

Yang lebih tua menggeleng mantap "Mana ku tahu. Selama di klub, aku hanya fokus padamu" jawabnya seraya nyengir melihat Sehun tampak mati gaya karena ucapannya. "Ciee malu…" godanya genit.

Sehun tak membalas Jongin walaupun ia ingin. Ia hanya pura-pura fokus pada Taeyong yang lincah bergerak di atas panggung, kemudian menoleh pada Jongin yang masih nyengir "Kau tahu, Taeyong dulu pernah suka padaku. Dia menyatakan cinta saat latihan di depan semua anggota."

"Apa?" Cengiran langsung hilang. "Bocah itu? " teriak si gelap keras. Tapi masih dikalahkan suara musik yang menggelegar.

"Ya, sebelum kau pindah ke sini. Aku hampir saja menerimanya."

Sehun menahan tawa melihat Jongin kelihatan gusar. Laki-laki itu baru tahu kalau Jongin mudah sekali dibuat kesal.

"Tapi kau tolak kan? hahaha." tawa Jongin puas. Merasa ia lebih beruntung dari si Lee Taeyong itu.

"Hmm.. Waktu itu aku tidak tertarik padanya. Tapi kalau dilihat-lihat, dia tampan ya? Aku agak menyesal menolaknya,"

Pegangan Jongin terlepas dari lengan Sehun. Ia menatap kesal padanya, kemudian mencubit pipi kekasihnya keras-keras. Menarik kulit halus itu sampai tertarik ke kiri dan kanan. "Jangan. Mencoba. Membuatku. Cemburu. Oh. Sehun!"

"Ampun, ampun!"

Jongin melepas cubitannya di pipi Sehun yang memerah lalu menggandeng Sehun lagi, lebih erat. "Aku seribu kali lebih tampan dari anak itu." katanya singkat, masih agak kesal. "Dan aku juga lebih keren dari Chanyeol hyung" tambahnya lagi sambil melirik Sehun.

"Ya, kau benar." Angguk Sehun dibarengi dengusan tawa.

Jongin menghela napas. Ia tahu Sehun hanya main-main mengatakan hal tadi. Tapi mendadak ada sesuatu yang ganjil merangsek masuk dalam pikirannya. Rasanya ada yang mengganjal kalau tidak ditanyakan langsung. "Se- Sehun?"

Merasa dipanggil, Sehun menoleh enggan dari tatapan tertariknya pada dancer di panggung "Ya?"

"Kalau Chanyeol hyung menyukaimu, apa kau juga mau jadi kekasihnya?"

Alis Sehun terangkat heran. Ia bertanya-tanya mengapa topik 'Chanyeol' ini selalu ada dalam kisah kasihnya. "Tidak." Ia menjawab cepat dan pendek.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mencintainya." Sehun tersenyum simpul lalu memandang Jongin malu.

Di sisinya, Jongin ikut tersenyum kecil kemudian mengusak rambut Sehun gemas "Kau memang jago membuatku meleleh, tahu tidak?"

Dengan dorongan hati dan otak yang sama-sama berpikiran pendek, Jongin mendekatkan kepalanya pada Sehun pelan-pelan. Berniat mencium kekasihnya di antara keramaian. Sehun tidak enak menolaknya, meski ia agak was-was dan malu jika para penonton di sekitarnya melihat. Tuan muda Kim ini memang tidak tahu tempat dan tidak tahu malu.

Sehun memejamkan matanya ketika deru nafas Jongin terasa membelai pipinya. Tinggal beberapa senti, tiba-tiba kepalanya ditarik menjauh oleh lengan besar yang sudah tidak asing lagi di kulitnya.

"Please. Jangan bertingkah seperti itu di sini. Banyak jomblo, kau tahu?" ujar Jongdae, yang baru datang dari himpitan kerumunan. Di sampingnya, ada Tao yang sedang meminum jus kalengan.

Jongin melengos menatap mereka lalu menonton lagi, sementara Sehun tertawa mendengar ucapan Jongdae yang penuh akan makna tersirat. Ia kemudian menyeringai dan mencolek bahu Tao.

"Tao-ya, bagaimana kalau kau jadian saja dengan Jongdae?"

.

.

.

.

Acara berlangsung dengan sangat sukses. Sang ketua, Kyungsoo, pastilah bangga karena kerja kerasnya berhasil dan mendatangkan banyak pujian. Ia tersenyum cerah saat acara selesai lalu duduk di backstage. Ia lumayan kelelahan dan butuh istirahat. Sekarang sudah pukul sebelas malam dan hampir seluruh penonton sudah pulang. Hanya ia dan beberapa panitia yang masih mondar-mandir di lapangan untuk membereskan beberapa peralatan dan dekorasi ringan. Mereka juga capek, dan memutuskan untuk membersihkan sisanya pada esok hari.

Kyungsoo menguap. Ia memang butuh tidur, tapi semangatnya masih sedikit tersisa karena para anggotanya pun masih tampak gembira akan kesuksesan event klub mereka.

"Congrats Kyungsoo, acaramu sukses dan ramai. Peserta kontesnya juga keren-keren." Puji Tao yang berlari menghampirinya seraya tersenyum cerah. Sangat cerah, sehingga Kyungsoo curiga senyuman sahabatnya itu bisa mengalahkan sinar matahari pagi. Tao menyodorkan satu kaleng minuman dingin yang langsung disambar Kyungsoo agresif. Kebetulan, ia sedang haus. Ia tak menyadari kalau Tao menyeringai sekilas di depannya.

"Thanks. Ngomong-ngomong kau sedang apa di sini? Ku kira sudah pulang." Kyungsoo menghabiskan minumannya dalam tiga kali tegukan dan melempar kalengnya sembarangan. Ia agak heran melihat Tao yang sering bolos kelas itu, bisa-bisanya betah di sekolah kalau ada acara begini.

"Aku menunggu Jongdae, dia sedang ke toilet."

"Oh, kalian pulang bersama? Mencurigakan." Desis si mata besar sambil mengernyit curiga.

Pemuda tinggi bertindik itu mencibir "Kau dan Sehun sama saja. Suka menjodohkanku dengan troll itu."

"Oh, apa Sehun datang? Dimana dia?" tanya Kyungsoo segera. Ia ingin sekali bertemu dan menyampaikan keprihatinannya karena Sehun gagal tampil. Ia tahu bagaimana kerja keras Sehun dan Jongin untuk acara ini sebelumnya.

Tao mengangkat bahu "Tadi sih ada, dia bersama si Jongin pacarnya. Eh..- Sori.." Si Panda menatap Kyungsoo dengan ekspresi bersalah. Ia lumayan takut mengungkit nama Jongin di depan Kyungsoo yang cuma tersenyum maklum. "Tak apa-apa" katanya singkat.

Tak lama kemudian ponsel Tao berdering keras, dan ia pamit untuk pulang karena Jongdae sudah menunggunya di gerbang.

"Kyung, kau mau bareng?"

"Tidak, aku tidak mau ganggu kalian." Jawabnya sambil terkekeh.

Tao mendelik. Tapi ia tidak memprotes dan berlalu pergi dengan cepat.

Kyungsoo menarik napas berat lalu memusatkan pandangan lelahnya pada dua orang panitia yang sedang mencabuti dekorasi di panggung. Sepertinya hanya mereka yang masih bertahan di lingkungan sekolah.

"Hey.." ia menepuk pelan seorang siswa berbadan gempal "Kalian pulang saja. Besok kita bersihkan semua, sekarang sudah terlalu larut." Dua siswa itu mengangguk setuju ucapan si ketua dan berpamitan lalu beranjak pulang. Kyungsoo sendiri merapikan ranselnya dulu kemudian beranjak ke luar dengan lemas. Ia sungguh lelah dan ingin segera tidur di kamarnya.

Dengan kekuatan tubuh yang minim, Kyungsoo menyusuri halaman sekolah pelan-pelan. Ia mulai mengantuk dan berjalan oleng ke arah kiri. Matanya berat, tubuhnya sudah protes untuk diistirahatkan. Kyungsoo hanya bisa bergumam sendiri, memberi sugesti agar ia bisa tetap terjaga. Tapi matanya berkhianat, dan terus menerus menutup.

Ia berjalan miring ke parkiran, tak melihat ada laki-laki berjaket hitam berdiri di sana menatapnya aneh.

"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya orang itu cemas melihat Kyungsoo melangkah seperti orang mabuk. Ia perlahan mendekat.

Kyungsoo bergumam samar "Ngantuk….. zzzzz…" Lalu ia terjatuh tepat di depan si orang asing yang gelagapan menangkapnya agar tidak tersungkur.

"Aigo ada anak mabuk di sekolah!" pekik laki-laki itu kaget. Ia yang ternyata Luhan, menatap anak sekolah yang ada di dekapannya itu khawatir, lalu memandang ke sekitar. Sepi. Sepertinya hanya ia yang masih tersisa di sini.

"Aish, masa aku tinggalkan dia di sini." Gumam Luhan bingung. Ia melirik lagi pemuda kecil yang tampak tidur pulas beralaskan pahanya kemudian menghela napas panjang. Cuaca sedang dingin dan beku. Ia masih punya rasa kemanusiaan yang besar, jadi mau tak mau ia harus mengantar anak itu ke rumahnya.

"Dia siapa pula." Gumam Luhan lagi. Ia menggeledah ransel Kyungsoo dan membuka dompetnya buru-buru. Mencari kartu pelajarnya.

"Do Kyungsoo. Kelas sebelas.. Hmm.. Alamatnya tidak jauh."

Setelah meneliti identitas si murid yang ia kira mabuk, Luhan membopong Kyungsoo dan segera menaiki motornya. Dengan susah payah ia melingkarkan lengan Kyungsoo supaya tidak jatuh saat kendaraannya melaju.

"Hai, Do Kyungsoo manis, kau harus membayar jasaku karena bersedia mengantarmu ke rumah." ujar Luhan nyengir melihat pantulan wajah tertidur Kyungsoo di kaca spionnya.

Beberapa detik berlalu, Luhan masih nyengir aneh. Ia menatap Kyungsoo penuh arti, lalu mulai menjalankan motornya dan menghilang dari kawasan sekolah. Meninggalkan empat pemuda yang sedari tadi memperhatikan aksinya di balik pohon rindang.

"Kita berhasil! Luhan hyung mengantarnya pulang!" pekik Sehun sambil tertawa keras. Jongin, Tao dan Jongdae mengangguk senang dan saling berbagi high five.

"Aku yakin Luhan hyung pasti tertarik pada Kyungsoo." Kata Jongin sambil berpikir. "Luhan hyung jarang sekali nyengir dan menatap orang seperti itu, soalnya."

"Tapi.." Sehun mendadak cemas mengingat cengiran seram Luhan tadi "Bagaimana kalau Kyungsoo diculik Luhan hyung? Lalu diperkosa?"

"Kau pikir saudaraku kriminal !"

"Bisa jadi kan.."

Tao menyilangkan tangan di dadanya bangga. "Ini semua karena ide brilianku. Ide obat tidur memang mujarab kan?"

"Kau benar Tao, obat tidurnya mantap sekali. Kau hebat." Puji Jongdae lembut pada Tao yang langsung berhenti tertawa dan berdehem keras. "Ya tentu saja! Ah, sudahlah, kita pulang saja. Mama pasti khawatir. " ujar Tao sebelum menarik Jongdae dan memaksanya untuk pergi. "Bye Sehun, Bye Jongin!" Dan mereka pun pergi ke halte beberapa blok di depan.

"Mereka pacaran?" tanya Jongin memecah keheningan yang mendadak muncul setelah dua orang itu pergi.

"Tidak. Tapi suka dijodoh-jodohkan olehku dan Kyungsoo."

Sehun dan Jongin yang masih berdiri di parkiran berdua. Motor Jongin disembunyikan di belakang air mancur sehingga Luhan berpikir kalau ia adalah orang terakhir yang ada di sana.

"Perfect. Rencana kita berjalan mulus." Kata Jongin antusias. Ia mengambil kembali motornya lalu menyeret Sehun untuk berdiri di dekatnya. "Hebat sekali ya? menjodohkan orang dengan cara tidak langsung."

"Ya. Agak beresiko sih… Tapi apa mereka akan saling kenal? Siapa tahu Kyungsoo malah tidak peduli siapa yang mengantarnya ke rumah." Sehun mulai uring-uringan mengingat Kyungsoo adalah orang yang agak cuek dan masa bodoh. Ia takut usaha mereka sia-sia untuk mengenalkan Luhan pada Kyungsoo dengan cara yang tidak biasa.

Jongin menggenggam jemari Sehun erat, membuat si milky merengut sedikit "Yakin deh, Luhan hyung pasti akan menemui Kyungsoo lagi soalnya sifatku dengannya mirip." Jongin menggaruk tengkuknya malu lalu berkata lagi "Kau tahu? Saat aku bertemu denganmu pertama kali, yang aku dipukul olehmu itu…"

Sehun tertawa kecil mengingat momen tempo dulunya "Yeah.. Memangnya kenapa?"

"Waktu itu aku melihatmu untuk pertama kali, dan aku sudah tertarik padamu. Yah… aku berusaha mati-matian mencari tahu keberadaanmu, sekolahmu, rumahmu. Aku selalu kepikiran tentangmu setiap saat."

"Lalu hubungannya dengan Luhan hyung?"

"Ish kau bodoh juga ya?" Jongin menjambak pelan poni Sehun yang berkibar karena angin "Luhan hyung itu sama saja denganku. Ia pasti akan mencari tahu tentang Kyungsoo. Sama sepertiku saat mencarimu dulu."

Pemuda porselen itu mengangguk mengerti lalu memeluk Jongin erat "Jadi kau mencariku?" tanyanya dengan perasaan senang asing yang menggelegak di lambungnya.

"Ya… dengan susah payah. Makanya saat tahu dari Chanyeol hyung kau sekolah di sini, aku langsung pindah. Hebat kan?" senyum Jongin lagi lalu membalas dekapan Sehun yang gemetar kedinginan. Terang saja, sekarang sudah tengah malam dan angin berhembus kencang. Tapi sejoli ini masih asyik mengumbar cinta-cintaan di parkiran sekolah yang gelap dan sepi.

Aish jinja… Tidak takut hantu apa.

"Kita pulang?" Pemuda tan itu melepas pelukannya.

Sehun cemberut "Aku masih ingin bersamamu." bisiknya pelan.

Seketika Jongin merasakan ribuan fireworks tengah meledak di ulu hatinya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, darahnya terpompa kencang. Adrenalinnya berpacu dan membuncah hingga ia sedikit gemetar. Ia tak bisa menahan letupan perasaan dan emosi yang meluap-luap. Laki-laki itu sangat tersentuh dan bahagia mendengar ucapan Sehun. Sungguh… Ia menyesal kenapa tidak merekam kalimat itu tadi.

Jongin juga mau sih. Semalaman bersama Sehun. Ia bisa mengajak kekasihnya itu jalan-jalan malam hari menggunakan motornya keliling Seoul. Nongkrong di sudut keramaian sambil memakan jajanan berdua saja. Duh… Romatisnya si Jongin.

"Tapi ayahmu akan menggorok leherku kalau tidak mengantarmu pulang. Sudah tengah malam." Dengan sangat menyesal Jongin menepis keinginannya. Ia tidak boleh egois. Orang tua Sehun pasti cemas karena anak itu jarang sekali berkeliaran malam-malam. Lagipula, masih banyak kesempatan kan untuk mengajak Sehun kencan.

Sehun masih cemberut. Tapi ia setuju dan segera menaiki motor Jongin dengan setengah hati.

"Ya sudah, ayo pulang." Ajaknya kesal. Bibirnya mengerucut lucu.

Jongin mengusap surai pirang Sehun pelan "Jangan marah, ya?"

"Tidak."

"Kita jalan-jalan besok, oke?"

"Terserah."

Tak bisa menahan diri lagi, Jongin dengan kecepatan tak terduga mengecup bibir kerucut Sehun singkat. Ia mengusap-usap rambut pirang Sehun gemas "I love you, Oh Sehun, ketua kelas galak yang paling menggemaskan. My cutie pie. My dearest puppy, My baby candy. "

Sehun hanya tertawa kecil dan memeluk Jongin di depannya "Love you too, Kim Jongin sok tampan. My sweetheart, my darling, my bae .."

"Euh… kok jijik sekali mendengarnya."

"Makanya jangan memanggilku cutie puppy candy!"

"Iya… Iya. Galak amat."

Kendaraan roda dua itu akhirnya melaju. Melawan dinginnya hembusan angin malam yang bahkan tak terasa, karena mereka diselimuti kehangatan perasaan yang sama. Membelah keheningan malam. Meninggalkan sekolah yang menjadi saksi bisu derasnya cinta mereka berdua.

Ah…

Cukup sampai di sini.

Jadi,

Selamat malam, Jongin dan Sehun.

.

.

FIN

.

.

.

ALO ALO ALO ALO. IM BACKKKKKKK

Seneng banget Ya Tuhan, akhirnya bisa menyelesaikan ff ini. Satu tahun lho, satu tahun hehe. Aku merasa bersalah deh, karena 10 chapter diselesaikan dalam satu tahun. Ini menyakitkan T.T

Aduh, maaf banget ya kalau endingnya tidak seperti yang diharapkan. Ide bersliweran dan aku memutuskan untuk mengambil jalan cerita yang seperti ini. Ya… gak terlalu complicated lah karena masih anak SMA gitu,.. heung (excuse part 42546766798). Sori untuk banyak kesalahan dan alur kecepetan atau kelambatan. Maaf kalau ada yang gak suka hansoo. Karena aku sayang banget sama kyungsoo, yaudah dijodohin aja sama Luhan ;;;; maaf kalau ada yang tidak sreg sama couplenya dan boring banget baca ini. Yah, akhirnya tamat juga kan. jadi yang benci ff ini, atau benci sama yg nulis ini, ga usah uring-uringan okeh?

OK special thanks to:

sehuniesm, HilmaExotics, mrblackJ, chiikamonica, Guest, Ohorat, guest2, kwondami,

Guest3, Shouraichi Rein, deerLu200490, Nagisa Kitagawa, Vipkris, AlexaKim,

luexohun, evilwu79, Yehetxoxo, kaihunxo, KaiKaiSehun, Caramelyeol,

swagharoo, wasastudent, ZIhun, Kim Bo Mi, izz. sweetcity, Keepbeef Chiken Chubu,

dila, Gevanear, Hyun Hiroshi, Guest4, YoungChanBiased, RanHwa19,

dia. luhane, Benivella, Nadine, Odult Maniac, xxx, Oh Zhiyulu Fujoshi, SehunBubbleTea1294,

nicerindi, Jonginlogin, oracle88, askasufa, thedolphinduck, DarKid Yehet, Imeelia, Sehunnoona dan Ayanesakura Chan :3333

Makasih sudah review di chapter sebelumnya. Kalian jjang! Apalah artinya ff ini kalau tak ada yang review dan kadang ngasih ide liar ;;;;;;

Thanks yang sudi centang favorite dan follow ff ini, tapi gak pernah mereview. Ayo dong, sekali aja kamu review untuk chapter terakhir. Pleaseeeeeee?

Silent reader too… ayo dong sayangsss, kalian boleh menumpahkan komentarnya di kolom review. Feedback itu lah yang paling aku hargai. Ya? ya? ya? ditunggu loh sama aku. Ga punya akun juga bisa review koo (maksa)

Aku agak tengsin sih wkwkwk kesannya sangat super maksa. But, why not? Ini last chap dan aku sangat mengharapkan komentar kalian walaupun mungkin ada yang bakalan pedes banget kayak seblak depan sekolah. Yah, aku bakal terima kok ;;;;;;;

Dan terakhir, makasih untuk yang setia membaca ff ini. Aku hafal banget yang tiap chapter selalu review. Makasih ya dear ,, berarti banget tau gak sih ;;; semoga kalian sehat selalu ya ;3

OKAAAAAY, tetaplah jadi kaihun shipper. Yah, aku sering dapet info kalau akhir-akhir ini katanya ff kaihun tipis banget TAT. Ayo lestarikan kaihun hehe.

Ps: Kurikulum 2013 apa kabar? Yang masih sekolah, AYO SEMANGATTTTT!

Pss: Ayo! Kita bisa berkomunikasi lewat line! Twitterku terlalu sampah sih hehe, jadi ayok add line aja. Yuuk! Bagi id di kotak review boleh tuh :D

PSss: Wow… Tlp luar biasa. Aku sampai kehabisan nafas liat Jongin lewat terus wekekek. ALO DADDYYY NOTICE ME !

PSSSS: Please anticipate my new ff :)

Thank you guys, love you smoochhh