Title : Master Mean – chapter 10 (Sakura)
Cast : Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Sabaku Gaara, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata, Tsunade, Tenten, Choji, Ino
Genre : romance, friendship, hurt/comfort
Rate : T
Disclaimer, this is work of fiction, the characters are not mine, they belong to the rightfully author Masashi Kishimoto.
-Sakura-
"Aku merasa bersalah berbicara seperti itu kepada Gaara-san, aku tidak bermaksud menyakitinya seperti itu. Kenapa pikiranku akhir-akhir ini selalu kacau? Aku selalu menimpakan kesalahan pada orang lain tanpa berpikir apakah dia salah." Kataku dengan nada bergetar, air mataku menetes ke tanganku yang terkepal.
"Itu bukan salahmu, dia memang tidak sopan menerobos masuk rumah orang lain seperti itu. Dia juga tidak berhak menanyakan sesuatu yang bukan urusannya." Sasuke membalas sambil mendengus kesal, Aku mengerutkan kening mendengar pernyataannya, sepertinya aku melewatkan sesuatu yang penting dari pernyataan Sasuke barusan.
"Memang apa yang dia tanyakan hingga kau mengatakan kalau dia tidak berhak menanyakannya?" kataku dengan nada menantang. Aku diam melihat reaksi Sasuke yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan diam. Setelah beberapa lama tak mendapat jawaban, aku mendesah frustasi dan berjalan menuju pantry.
"Apa kau tidak lapar?" kataku sambil mengambil pisau dan mulai mencincang bawang kemudian membuat saus untuk steak. Sasuke berjalan mendekat kemudian mengambil daging dan kami memasak dalam diam, tidak berbicara sepatah katapun selama memasak. Saat semua masakan sudah selesai, kami pun tetap makan dalam diam. Tiba-tiba aku baru sadar situasi hari ini dan terbatuk-batuk kerena tersedak, hari ini aku hampir berciuman dengan Sasuke. Oh my God!
"Sasuke, apa ini hanya aku atau memang kau sudah berubah?" kataku sambil menatapnya. Sasuke tidak menjawab pertanyaanku, hanya menatap piring dan menggenggam pisau steak di tangannya dengan erat. Aku menghela nafas kemudian mengulurkan tanganku dan dengan refleks menangkupkan tanganku ke kedua pipinya, kemudian mengarahkan pandangannya kepadaku.
"Tolong jawab aku, apa memang apa yang kupikirkan saat ini benar? Ataukah ini hanya perasaanku saja?" kataku dengan senyum sedih. Aku merasa akhir-akhir ini pikiranku dikacaukan dengan sikap dan perkataan Sasuke yang membingungkan, aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan jika dia sedang terdiam seorang diri. Sasuke sangat tertutup dan tidak akan pernah bergantung kepada orang lain, dan entah kenapa lama kelamaan aku tertarik dengan sikapnya itu.
"Memangnya apa yang kau pikirkan sekarang?" kata Sasuke dengan suara sangat pelan dan serak, seperti menahan perasaannya yang mungkin akan terlihat lemah dimatanya. Aku meneteskan air mata sedikit demi sedikit, dan mengedipkan mataku beberapa kali hingga tetesan itu menjadi sungai yang tak terbendung.
"A..a..aku.. aku tidak mengerti. Awalnya aku sangat benci kepadamu karena sikap dingin dan egois mu itu. Namun lama kelamaan aku semakin penasaran karena sepertinya semua yang kau tunjukkan hanya sebagian kecil dirimu saja, kau tidak bersikap seperti itu kepada Naruto. Oleh karena itu rasa penasaranku semakin bertambah hingga aku jatuh terlalu dalam, dan aku,, a.. aku.. hiks.." kataku dengan sesenggukan, tidak sanggup meneruskan kata-kataku karena ini terasa sangat emosional. Aku menggumamkan sisa perkataanku dengan pelan dan yakin bahwa Sasuke tidak mendengarku, "Aku, entah sejak kapan tertarik dan jatuh cinta padamu." Kemudian mengusap air mata yang menetes dengan kedua tanganku, merasa aneh dengan perasaan emosional seperti ini, seperti tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.
"Maaf aku sudah bicara yang tidak-tidak, jangan pikirkan perkataanku tadi." Aku berdiri kemudian beranjak dari sofa dan menuju kamarku. Aku merasakan Sasuke menahan tanganku dan membalikkan badanku ke arahnya kemudian menarik tubuhku hingga membentur tubuh Sasuke. Kemudian aku melihat Sasuke mengusap air mataku yang masih mengalir dan membisikkan kata-kata menenangkan padaku, aku menangis tersedu-sedu di pelukannya namun tak berapa lama aku merasakan tangisku berhenti, dan tersisa air mata yang hampir mengering.
"Sakura, itu bukan hayalanmu. Aku memang berubah." Kata Sasuke singkat, aku menatapnya mengisyaratkan meminta penjelasan lebih. Sasuke memejamkan matanya kemudian memijat pelipisnya, sepertinya sangat tidak ingin menjawab pertanyaanku, kemudian dia mendesah keras.
"Sasuke." Aku memanggilnya dengan suara pelan, aku mengerti dengan kesulitan yang dia hadapi. Aku mundur selangkah dan melepaskan diri dari pelukannya, kemudian tersenyum kecil. Senyum sedih dan mengerti namun pasrah, mengerti jika dia mungkin merasa terbebani denganku atau malah aku yang egois berpikir bahwa dia mungkin saja memiliki perasaan yang sama denganku.
"Sakura, ak-" belum selesai Sasuke menyelesaikan perkataanku, aku berlari ke arah taman belakang rumah. Aku mendengar Sasuke berlari mengejarku kemudian menarik tanganku dari belakang hingga kami terjatuh berguling-guling diatas rumput hijau. Kami berbaring di rumput dengan aku yang berada di atas Sasuke, nafas kami sama-sama terengah karena berlari.
"Sakura, dengarkan aku." Kata Sasuke dengan menangkup kedua pipiku dan mengarahkan pandanganku tepat ke matanya. Aku hanya diam menunggu apa yang akan Sasuke katakan selanjutnya. Aku mendesah pelan, kemudian memejamkan mataku. Akhirnya tak berapa lama aku mendengar Sasuke menggeram frustasi dan mengerang keras, kemudian Sasuke mendorong kepalaku ke arahnya hingga bibir kami bertemu. Aku terbelalak kaget dan tidak merespon ciuman Sasuke, apa ini nyata? Apa aku tidak bermimpi? Benarkah Sasuke yang kaku dan dingin ini menciumku? Bukannya dia dulu membenciku? Tak berapa lama aku merespon ciumannya sambil menutup mataku, kemudian melepaskan diri dari dekapannya.
"Would you be mine?" katanya pelan di telingaku, aku menarik nafas keras karena kaget dengan pernyataan Sasuke yang tidak terduga dan aku segera menegakkan tubuhku hingga terduduk dan menatap ke arahnya. Aku speechless, tidak bisa mengatakan apapun kepada Sasuke, kepalaku berputar karena masih bingung mencerna apa yang terjadi padaku. Aku mendesah keras kemudian berdiri, mengulurkan tanganku padanya.
"Ayo kita ke dalam, baju kita basah dan kotor terkena rumput yang basah." Kataku mencoba mengeluarkan suara dengan nada tenang, padahal di dalam kepalaku rasanya seperti mau meledak karena overload dengan apa yang terjadi. Aku berjalan kaku seperti robot menuju dalam rumah dan segera mengambil pakaian ganti untuk Sasuke lagi, kemudian berlari menuju kamar Haru dan berganti pakaian disana. Aku bersandar pada pintu dan menekuk kedua kakiku di depan dada kemudian meletakkan kepalaku diatas tanganku yang menumpu pada kakiku.
"Sakura? Apa kau tidak apa? Kau sudah lama berada di dalam sana. Sakura!" Aku mendengar suara Sasuke memanggilku sambil mengetuk pintu kamar dengan brutal. Aku berdiri dan membuka pintu kamar Haru, melihat Sasuke memandangku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dia menarik tanganku dan berjalan menuju ke sofa ruang keluarga, kemudian memberikanku selimut dan air hangat.
"Sepertinya kau demam karena masuk angin, badanmu panas." Katanya setelah menyentuh dahiku dan membandingkannya dengan suhu di dahinya. "Aku tidak apa." Jawabku dengan suara serak, tenggorokanku terasa kering dan aku merasa seperti ingin muntah. Sasuke melilitkan selimut di tubuhku kemudian duduk disebelahku dan memeluk tubuhku hingga terasa hangat. Aku mendesah pelan, merasa sangat nyaman dengan keadaan ini, seandainya setiap hari aku bisa merasakan kehangatan seperti ini.
"Sasuke, terimakasih untuk semua yang sudah kau lakukan padaku. Maaf jika aku membuatmu kecewa. Aku merasa tidak pantas untuk bersanding denganmu, a-" semakin lama kesadaranku semakin menipis dan rasanya aku ingin tertidur. Aku mendengar Sasuke mengatakan sesuatu tapi pikiranku tidak menangkap apa yang dia katakan, akhirnya tak lama aku sudah tertidur lelap.
"Sasuke?" aku mencari keberadaan Sasuke, saat terbangun tiba-tiba saja aku teringat dengan kejadian kemarin. Aku merasa seperti orang jahat karena tidak segera menjawab pertanyaannya dan malah tertidur. Lalu aku tersadar, aku terbangun di kamarku padahal jelas-jelas kemarin aku tertidur di sofa. Mungkin Sasuke yang memindahkan ku? Ternyata dia merupakan pria yang baik, dan semakin lama aku merasa seperti orang yang tidak tahu terimakasih terhadapnya.
"Kau sudah bangun, Sakura-san?" teriak Sasuke dari arah dapur. Aku terhenti secara tiba-tiba dari langkahku hingga hampir terjatuh karena kaget dengan panggilannya. Sakura-san? Keningku berkerut memikirkan semua skenario yang terjadi, kenapa tiba-tiba dia merubah nama panggilanku? Bergegas ke arah dapur, aku terpeleset air yang menggenang di lantai pintu dapur.
"Aww…" teriakku kesakitan, aku meringis dan mengelus elus pantatku yang jatuh dengan kerasnya diatas lantai, kemudian mencoba berdiri dengan bertumpu pada tembok.
"Sakura-san, kau tidak apa?" terlihat Sasuke yang mengenakan apron berdiri di hadapanku dengan tatapan khawatir, dia mengulurkan tangannya dan menuntunku menuju kursi di pantry kemudian melanjutkan entah apa yang dia kerjakan di dapur.
"Kau sedang apa pagi-pagi begini?" kataku sambil menumpukan kepalaku di atas meja dan memandang Sasuke yang sepertinya sibuk memasak sesuatu. Sasuke berbalik kemudian meletakkan mangkuk yang berisi bubur yang panas, aku hanya bisa menatap bubur di hadapanku dengan pandangan bingung.
"Kenapa kau memasak bubur untukku? Memangnya tidak ada bahan lagi untuk membuat masakan yang lain?" kataku sambil menggerutu, aku paling benci dengan makanan lunak yang sepertinya tidak mempunyai rasa.
"Sudahlah makan saja, tidak usah terlalu banyak tanya." Katanya ketus, tiba-tiba aku meraasa sedih karena sikapnya yang sepertinya kembali seperti saat pertama kali kita bertemu, ketus dan dingin. Aku mengangkat sendokku kemudian memakan bubur dihadapanku dengan mata tertutup, namun saat bubur itu berhasil ku telan, hebatnya aku tidak merasa seperti ingin muntah. Sasuke memandangku yang memakan bubur dengan perlahan, karena seenak apapun rasanya tetap saja aku tidak suka makanan dengan tekstur seperti ini.
Aku mendengar Sasuke menghela nafas pelan kemudian duduk di sofa sambil menonton tv, aku mengikutinya kemudian duduk di sampingnya dan menatapnya lama. Aku tidak mengerti dengan pikiran Sasuke, pria seperti dia sangat susah ditebak jalan pikirannya.
"Kenapa kau memandangku seperti itu Sakura-san?" katanya tanpa melihat ke arahku, matanya tetap terfokus pada televisi. Aku beranjak dan berlutut di hadapannya sambil tanganku menelusuri garis rahang dan pipinya. Menghela nafas, aku mulai mengatakan apa yang ada di kepalaku sejak tadi.
"Sepertinya aku belum menyelesaikan pernyataanku kemarin, Sasuke." Sasuke segera tertarik dan mengarahkan perhatiannya ke arahku. Aku menurunkan tanganku dari pipinya dan mulai memainkan jariku karena gugup.
"Aku merasa sangat egois karena tidak menjawab pertanyaanmu kemarin secara gamblang. Maaf jika aku mengecewakanmu, sangat merepotkan dan tidak berguna sama sekali. Aku merasa tidak pantas bersanding denganmu, ak-"
"Hentikan Sakura-san, aku sudah mendengar semua yang kau katakan kemarin. Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi, aku mengerti." Katanya menatapku dengan pandangan yang membuat jantungku berhenti berdetak, sangat menyayat hati.
"Benarkah Sasuke? Apa kau benar-benar mengerti perkataanku?" kataku kepadanya dengan nada menantang, dia tidak memberikanku kesempatan untuk menyelesaikan pernyataanku. Sasuke membuka mulutnya kemudian mengatupkannya lagi hingga membentuk garis lurus, aku merasa sangat frustasi dengan sikapnya yang tidak bisa ditebak.
"Kau tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan perkataanku Sasuke. Aku tahu, mungkin memang tidak pantas untukmu. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi orang yang pantas dan bisa kau banggakan, aku akan bekerja keras untuk mewujudkannya. Jadi hingga saat itu terjadi, apa kau mau menerimaku apa adanya?" Sasuke memandangku tidak percaya kemudian tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, aku mengerutkan keningku karena mendengar tawa Sasuke. Apa dia serius? Dia tertawa saat aku mengatakan apa perasaanku sekarang? Apa dia pikir perasaanku merupakan sesuatu yang lucu? Apa dia hanya mempermainkanku dan tidak serius dengan perkataannya kemarin?
Aku merasa kesal dan marah dengan sikapnya yang keterlaluan itu, aku memandangnya dengan tatapan benci kemudian beranjak pergi dari sana. Air mataku menetes tak terbendung lagi, aku menangis terisak sambil berlari menuju kamarku dan menutup pintunya kemudian menguncinya. Terdengar suara teriakan Sasuke dari luar, dia memanggilku kemudian mengetuk pintu kamarku. Aku tidak memperdulikannya dan masih menangis, namun tangisku teredam bantal karena aku menenggelamkan mukaku ke atas bantal hingga tangisku tak menimbulkan suara.
"Sakura, aku tahu kau di dalam sana. Please, open the door. I will explain everything to you." Aku tak menjawabnya dan terus menangis dengan terisak, tidak menyangka akan merasa selemah ini karena perasaanmu dipermainkan oleh orang lain.
"Sakura! I will broke your door down if you are not open it now!" katanya dengan nada frustasi, aku menatap ke arah pintu dalam diam, menantangnya untuk mendobrak pintu kamarku.
"Brak-brak" terdengar suara pintu yang ditendang kemudian tak lama aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku. Sasuke berlutut di hadapanku, matanya memandang lurus mataku yang sejajar dengannya karena aku sedang berbaring menatap ke arah jendela luar. Dia menatapku dengan tatapan sedih kemudian ikut berbaring di sebelahku namun matanya menatap langit-langit kamarku.
"Kau tahu, pertama kali aku melihatmu, aku merasa kau hanyalah gadis arogan yang sombong dan hanya memanfaatkan kebaikan Naruto. Namun lama kelamaan aku semakin merasa penasaran dengan sikapmu yang berbeda jika berhadapan denganku, aku-pun berpikir, apakah gadis ini hanya berpura-pura dihadapan Naruto?" kemudian Sasuke menoleh kearahku dan merubah posisi tubuhnya menjadi menghadapku, dia menatap mataku lama kemudian melanjutkan perkataannya.
"Namun aku melihatmu berinteraksi dengan orang lain, dan aku berpikir mungkin aku yang menyebabkanmu bersikap seperti itu padaku. Hingga aku merasa sangat penasaran dan ingin mengenalmu lebih jauh, hingga aku pun jatuh cinta padamu dan mengatakan perasaanku karena sudah tidak sanggup menahan perasaanku lagi." Katanya dengan nada lelah, sepertinya semua ini terasa sangat berat untuknya.
"Saat kau tidak menjawab pertanyaanku, aku meyakinkan diriku bahwa kau butuh waktu. Hingga tadi malam kau mengatakan hal itu, dan aku menyimpulkan bahwa kau memang tidak ingin bersama denganku hingga berkata seperti itu. Tidak alasan yang menjadikanmu gadis yang tidak menarik, Sakura. Di mataku kau adalah gadis paling unik dan misterius, hingga aku terus merasa penasaran denganmu. Aku tadi tertawa karena kesimpulanku tentang penolakanmu ternyata salah, padahal tadi malam aku tidak bisa tidur karena mengira kau tidak ingin bersamaku." Katanya sambil meringis, mungkin memikirkan kelakuan bodohnya tadi malam.
"Baka!" kataku keras sambil memukul dadanya, kemudian menangis di pelukannya. Aku mengerti dengan jalan pikiran Sasuke, semua ini salahku karena tidak menyatakan apa yang sebenarnya aku pikirkan kepadanya.
"Sakura!" tiba- tiba aku mendengar suara Naruto yang memanggil namaku, tak berapa lama dia tiba di depan pintu kamarku dan terbelalak melihat kondisi kamarku yang amat berantakan. Pintu yang lepas dari engselnya, buku dan selimut yang berserakan. Kemudian saat dia melihat posisiku yang berada di pelukan Sasuke, Naruto meringis kemudian mendecakkan lidahnya.
"Ckck.. Kalian boleh saja bermesraan setelah bertengkar dan berbaikan, tapi tolong bereskan kamarmu, Sakura. Kulihat kamarmu mengalahkan rongsokan kapal titanic yang tenggelam dilautan es." Katanya sambil nyengir lebar. Aku hanya mengulurkan lidah padanya kemudian melemparkan bantal yang ada di dekatku ke arahnya, merasa kesal karena dia mengganggu momen berhargaku.
"Eww.. lihat bentuk bantalmu ini? Penuh ingus dan air mata, menjijikkan." Naruto melemparkan bantalku kembali, dan lemparannya mengenai kepala Sasuke. Sasuke mengumpat pelan kemudian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kami yang seperti anak kecil.
"Apa yang kau lakukan disini Naruto?" kataku penasaran, tidak biasanya dia datang tanpa mengabariku sebelumnya. Naruto menggelengkan kepalanya kemudian beranjak menjauh dari kamarku. "Kau bereskan dulu itu semua, baru kujelaskan." Suaranya terdengar menjauh, kemudian Sasuke beranjak dari sisiku dan mengacak-acak rambutku pelan.
"Kau bereskan dulu ini semua kemudian segera mandi, aku tidak mau ingusmu melebar kemana-mana." Katanya sambil meringis kecil dan beranjak keluar kamar, "Aku akan menunggumu di ruang tamu bersama Naruto." Aku hanya mengangguk dan beranjak membereskan kamarku.
Tak berapa lama kamarku bersih seperti sedia kala namun hanya pintuku yang belum bisa diperbaiki, aku bergegas ke arah ruang tamu dan melihat Naruto makan pizza. Aku duduk di sebelahnya dan mengulurkan tanganku untuk mengambil sepotong pizza. Tapi tangan Sasuke tiba-tiba menepis tanganku, dia memandangku dengan tatapan tajam. Aku cemberut dan mengerucutkan bibirku, Sasuke yang melihatku menggelengkan kepalanya kemudian menyodorkan sesuatu ke arahku. Aku melirik makanan itu tak tertarik, tapi begitu tahu apa isinya, mataku berbinar dan aku segera melahapnya.
"Pelan-pelan saja makannya, tidak ada yang mengambil tiramisu-nya darimu." Kata Naruto dengan nada mengejek, aku kembali menjulurkan lidahku padanya dan kembali melahap tiramisu buatan chef terkenal dengan senang hati.
"So, apa yang tadi kulihat di kamarmu memang benar terjadi kan, Sakura?" aku menoleh ke arahnya dengan cepat karena terkejut dengan pernyataannya, tapi kemudian aku merasa tidak mengerti dengan maksud pertanyaannya.
"Apa?" kataku dengan mulut penuh tiramisu, yang kemudian beberapa tetes berhamburan ke arah Naruto. Dia menatapku tajam kemudian mengambil tisu dan me-lap sisa "muntahanku" yang menodai setelan kemejanya.
"Jadi kapan aku punya keponakan?" katanya datar sambil menatapku menyeringai. Aku menghentikan kunyahan tiramisu-ku dan terbatuk karena kaget. Sasuke segera mengambil handuk di kamar mandi dan menyerahkannya kepada Naruto karena sekarang bajunya penuh dengan tiramisu yang sudah keluar dari mulutku, eww…
Sasuke menyodorkan segelas air putih padaku, yang segera kuteguk sampai habis karena batuk ku yang tak kunjung reda. Kemudian tiba-tiba suasana terasa hening karena Naruto menunggu jawabanku dalam diam, aku terdiam karena tidak mengerti harus berkata apa. Tiba-tiba Sasuke yang kembali dari dapur, menatap Naruto tajam kemudian memukul belakang kepalanya.
"Aww.." terdengar teriakan kesakitan Naruto kemudian sumpah serapah pun terdengar. Sasuke menunggu Naruto diam dengan sikap tidak sabar, sepertinya dia merasa sangat kesal dengan Naruto.
"Kenapa kau memukulku, Sasuke? Ku kira kalian bertengkar, karena aku mendeteksi nada panik saat Sasuke meneleponku tadi, dia bilang kau tidak mau keluar dari kamar, Sakura. Tapi saat aku datang, kalian berpelukan seperti itu di atas tempat tidur, jadi kukira…." Naruto tidak menyelesaikan perkataannya karena dia merasakan tatapan tajam Sasuke yang mungkin bisa membunuhnya saat itu juga.
"Oke oke aku diam, kalian bisa menjelaskannya padaku kapanpun kalian mau." Katanya dengan nada jengkel kemudian beranjak menuju pintu. Tiba-tiba dia berhenti kemudian menoleh ke arahku dan Sasuke, memandang kami dengan tatapan bingung.
"Apa yang kalian tunggu? Ayo cepat kita harus bergegas." Kata Naruto dengan nada tidak sabaran. Aku menaikkan alisku, bertanya-tanya apa maksud pertanyaannya.
"Oh my god." Katanya sambil menepuk dahinya dengan telapak tangannya. "Jangan bilang kalian melupakan hal ini hanya karena kalian bertengkar! Kita akan menghadiri acara pembukaan restoran baru Sasuke. Kau kan pemiliknya, masa kau juga lupa, Sasuke?" aku menatap ke arah Sasuke bingung, dia tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku. Sasuke menghela nafas pendek kemudian menarik tanganku dan berjalan menuju mobilnya.
"Sasuke, tunggu! Aku harus mengganti bajuku!" Sasuke berhenti sejenak kemudian memandangku dari atas kebawah. Aku mengenakan blouse bewarna merah lengan pendek dengan celana kain yang membentuk kakiku dengan indah, dengan sepasang sepatu stiletto bewarna merah menyala. Dia hanya mengangguk sekilas kemudian mengambil tas tanganku yang tergeletak di ruang tamu, sepertinya dia tidak peduli dengan caraku berpakaian.
"Kita terlambat 10 menit." Kata Naruto menggerutu, dia merasa kalah setelah berdebat siapa yang harus menyetir kali ini, dan dia yang terpilih karena tidak mungkin aku duduk sendirian atau berdua dengannya saja setelah pengakuanku kepada Sasuke.
Tak berapa lama kami tiba di kawasan pusat perbelanjaan dan kaget melihat restoran yang desain dengan elegan namun tidak terkesan terlalu formal. Namun betapa kagetnya saat aku melihat ke arah nama restoran yang tertulis dengan huruf besar-besar dan rapi.
"Sakura 4 Season"
The end..
Kalian pasti kaget kan melihat kalimat di atas? Jangan percaya ya, karena sekarang keadaan mentalku lagi kacau jadi aku membayangkan gimana rasanya nulis kalimat itu.. hehehe oke buat yang lama nunggu maaf ya author lagi sibuk sama praktek dan laporannya sampe2 ga sempat buat melanjutkan cerita ini, gomenasai. SO bagaimana cerita chapter 10 ini? Ngga kerasa udah 10 chapter aja kekeke ditunggu review kalian kawan.. Sumpah tiap chapter dari cerita ini rasanya pendek banget, padahal kalau ditaruh d udah 7 lembar ajee~~
Terimakasih banyak buat yang mau meluangkan waktunya membaca sloppy story saya dan mau menunggu update annya yg pastinya bakalan kerasa lama banget. Anyways,, tolong tongkrongin caritas saya sampai akhir ya :D
matta-ne minna,,
sloppy writer.
nikechaaan : kayanya belum review deh chapter kemarin, coba diliat review ceritanya :D thanks ya nikee 3 hmm,, mungkin kurang 4 chapter lagi #ngarep kekeke xD
: ahh garaa aku lupa #upss nggak kok, tunggu aja ntar dia bakalan keluar kekeke
: thanks ^.~
