Dalam hati, Namjoon terus mengumpat. Ia membenarkan ucapan Jungkook, Tax harus bekerja sama dan ia tahu semua anggota masih berkeliaran di area sekolah. Diliriknya Hoseok yang tengah kejar-kejaran dengan beberapa orang, wajahnya terlalu memalukan dan Namjoon hampir tertawa jika ia tak ingat kalau mereka sedang dalam situasi kacau. "Seokkie!"
"Panggilan itu tidak keren, idiot!" Hoseok menjerit, masih lari-lari. "Ada apa?" Akhirnya ia mendekati Namjoon, sempat mendorong seseorang yang hampir menyikut wajah si monster. Dua orang ini akhirnya ngobrol sambil pukul-pukulan.
"Apa kau tahu anak-anak berkumpul dimana? Awas!" Namjoon menarik Hoseok menjauh, hampir saja punggungnya dihantam balok. Gila, Cheoju tidak main-main, mereka bisa membunuh orang dengan properti seperti itu. Hoseok segera tahu kalau Tax adalah 'anak-anak' yang dimaksud Namjoon. "Yang kutahu, Yoongi masih di mejanya. Pasti dia sudah bangun sekarang," Ya, seharusnya orang itu sudah bangun mengingat kelas-kelas Haeyu yang tak lagi memberi ketenangan.
"Panggil!"
"Kau gila? Aku repot disini!" Hoseok memukul kepala Namjoon sebelum menendang orang didepannya. Tanpa sadar, di halaman, para Cheoju hanya tinggal beberapa termasuk yang sudah terluka sementara sisanya sudah ada didalam gedung. Sekarang, harusnya Hoseok tak sedang repot. "Oke, baik," Sementara ia berlari ke gedung olahraga untuk 'memanggil' Yoongi, Namjoon mengejar orang-orang kedalam, menendangi siapa saja yang menaiki tangga, bahkan ia mulai ikut menggunakan kursi sebagai senjata. Lumayan, sekali ayun, ia bisa menumbangkan dua sampai tiga orang; langsung pingsan.
"YOONGI-AHHH! YOONGI-AHHH!"
Yoongi memutar bola mata, melengos jengah pada pengeras suara yang memanggil namanya dan ia yakin Hoseok sengaja melakukan ituㅡjeritan cempreng yang dibuat-buat. Ia tak perlu bertanya apa yang diinginkan Hoseok, situasi seperti ini sering terjadi jika kau bersahabat dengan preman; artinya, Yoongi harus memberi bantuan. Ia merogoh saku dan mengambil ponsel, mulai menghubungi seseorang. Tepat dibelakang bahunya Jimin terjebak dalam situasi tegang antara Yoongi dengan Taehyung. Dua orang itu terus membicarakan hal yang Jimin tak mengerti maksudnya sama sekali. "Sekarang jam..." Yoongi menjenguk jam tangan. "Ini masih pagi." Kembali bicara dengan ponsel.
"Taehyung, kenapa kau melakukan ini?" Jimin sempat maju tapi Yoongi menahannya, terus saja bertelepon-ria dengan entah siapa.
"Aku bukan Taehyung." Taehyung tertawa, memegangi dahi dengan lemas.
"Kau Taehyung dan kau adalah Baby B!"
"Kutunggu." Yoongi menekan pengakhir panggilan lalu menatap Jimin. "Kenapa kau teriak-teriak? Tidak lihat aku sedang apa?"
"Matamu buta? Itu Taehyung! Bagaimana bisa aku diam?" Jimin terus saja berusaha maju seolah ingin memukul Baby B, dia sangat lupa kalau Baby B bisa membunuhnya dalam sekejap. "Selama ini dia pura-pura bodoh agar tak ada yang mencurigainya!"
"Bisa diam atau perlu kupaksa diam?" Yoongi bertanya. Suaranya tak berekspresi dan Jimin benar-benar bungkam. "Pergilah ke atap." Tanpa protes, Jimin segera berlari kearah tangga. Beruntung, gedung dua sangat sepi dan hanya ada Yoongi bersama Baby B yang masih berdiri diantara loker. Orang-orang mungkin bersembunyi atau sudah sampai dirumah dengan selamat, siapa yang tahu.
Baby B mendudukkan diri didekat salah satu loker sementara Yoongi ikut duduk diseberangnya, mereka sama-sama diam untuk beberapa saat sampai B tertawa. "Permainan begini seru 'kan?"
"Aku menyuruh Jimin untuk diam itu bukan berarti aku mengizinkanmu mengoceh."
"Ayolah,"
"Berisik. Kau mengganggu tidurku."
Baby B mendengung, mengapit lengan diantara lututnya yang terlipat didada. Persis anak kecil, ditambah dengan wajah lugunya, makin tak nampak kalau ia sudah bukan anak SD. "Maaf, maaf, bagaimana kabar ayahmu?"
Tunggu.
Baby B mengenal ayah Yoongi?
Dan, Yoongi mengenal Baby B?

Jimin berdiri diatap, memegang tralis besi lalu menjerit sendirian. Ia terus mengaum 'aaaaaaaaargh' atau 'argh' atau berdecak. Itu karena ia kesal, ia masih tak menyangka kalau Baby B itu Taehyung. "Aku benci Taehyunggg!" Taehyung, yang memang tengah bersembunyi diatap, kaget mendengar jeritan Jimin. Ia mengintip dari balik tandon dan melihat Jimin disana, didekat pintu masuk, melepas kacamata dan terus menyebut 'Taehyung'.
"Jiminnie!"
Jimin menoleh kebelakang, kearah pintu, tapi tak ada siapapun. "Dia mengikutiku?"
"Aku disini, hei, Jiminnie,"
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau begini, Taehyung? Keluar kau!"
"Aku disini! Apa yang kau bicarakan?" Taehyung melambai, Jimin memandanginya dengan kaget. "Bagaimana kau bisa disitu?"
"Kookie menyuruhku sembunyi disini, ayo sembunyi juga!"
"Kau kira aku bodoh? Kau pasti berencana untuk menggunakanku sebagai umpan!"
"Aku tak mengerti, bisakah kita duduk dan bicara pelan-pelan?"
"Bohooonggg!" Jimin geram, tapi yang ia lakukan cuma melompat-lompat ditempat dengan wajah gemas. "Kau jahat, Taehyung, jahat sekali astagaaa kenapa begini?"
"Jiminnie, aku binguuungg! Cepat kemariii!"
"Tidaaakkk!" Suara Jimin melengking.
"Cepaaatt!"
"Akui saja, Kim Taehyung!"
"Baik, aku mengaku kalau aku yang menggambar gajah di buku tulismu!"
"Bukan itu, tapi- hei, kenapa kau menggambar gajah dibukuku?!"
"Itu gajah milik Kookie!"
"Apa?! Kau menggambar gajah orang dalam buku pelajaranku?!"
"Min Yoongi-sialan, dimana kau? Captain akan datang membawa lebih banyak masa!" Suara Hoseok kembali terdengar dari seluruh speaker di Haeyu. Jimin melonjak kaget, ia segera menghampiri Taehyung dan ikut sembunyi. Taehyung juga kaget, keadaan dibawah persis seperti ditengah peperangan; suara kaca atau debaman keras bahkan bisa terdengar sampai ke atap. "Apa disini sudah sangat tidak aman?" Tanya Taehyung, wajah itu seperti menahan tangis. Jimin dibuat kebingungan karenanya, ekspresi Taehyung jelas bukan sesuatu yang dibuat-buat, anak itu memang ketakutan. Tapi Jimin juga berani bersumpah kalau Baby B adalah Taehyung.
"Kim Taehyung," Jimin menarik nafas, tegang sampai bisa jantungan. "Sejak kapan kau disini?"
"Entah, aku tak tahu..."
"Jujurlah, kenapa kau melakukan semua ini?"
"... Kau membuatku takut, Jiminnie,"
"Berhenti pura-pura dan akuilah kalau kau memang Baby B! Jujur!"
Taehyung diam. Melotot. Gemetar. Kookie bilang aku aman, ia kembali bersugesti. Aku aman disini, aku aman. Kepalanya memberi gelengan lemah, matanya memaku seperti orang buta. "Aku Taehyung," Katanya. Jimin jadi panik, ia takut terjadi sesuatu jika orang didepannya memang Baby B. Tapi, Jimin melihat wajah itu dengan jelas, orang yang mengaku Baby B itu memiliki wajah persis Taehyung bahkan mengenakan seragam Haeyu. Kalaupun Taehyung kembar, tidak mungkin Jimin tak tahu karena mereka seangkatan dan satu seragam. Kemudian sesuatu terbersit dalam kepala Jimin, ia teringat pada beberapa buku misteri yang sering ia baca. "Ya Tuhan," Ia berbisik. "Apa Taehyung berkepribadian ganda?"

"Halo, hyung," Entah apa yang terjadi di Haeyu hingga banyak sekali tokoh yang ingin menampakkan diri. Salah satunya adalah orang ini, yang dengan santai berlari ke toilet setelah ikut berkelahi melawan pasukan dari Cheoju. Meski terengah, orang ini nampak bersenang-senang, bercermin sambil bicara ditelepon. Oh, ayolah, bahkan penggunaan ponsel sangat sering disorot seperti ini. "Yup, aku memang sedang senang. Nah, ada hal yang harus kuberitahu,"
"Bicaralah-ups, koinku jatuh."
Ia tertawa, "Ini kerusuhan pertama tahun ini. Aku belum memastikan keadaan 'dia', tapi selama mantan Bae-BB ada disini, kurasa 'dia' akan baik-baik saja."
"Bae-BB? Itu... Oh, level lima milik B? Anak itu masih bersama 'dia'?"
"Yeah." Ia membasuh wajah di wastafel.
"Awasi kemunculan blok eksekutif, oke?-ups, antingku lepas." Setelah itu panggilan diputus, ia kembali memasukkan ponsel kedalam saku kemeja yang memapangkan bordiran warna biru tua.
Kim Han Bin
"Oh, yeah, kuharap Bobby juga menikmati acara ini." Ia berdendang dan kembali pada keramaian.

Hoseok masih belum kembali dari gedung olahraga, tapi Namjoon mendengar suaranya dari speaker pengumuman dan ia harap Hoseok bisa membantu bersama Yoongi. Disini, di gedung satu, Namjoon masih pukul sana sini, tendang sana sini, bersama Yixing dan Chanyeol. Mereka nampak kewalahan, beruntung siswa-siswa Haeyu ikut tawuran jadi ada tenaga tambahan. Namjoon sempat membahas pada dua anak buahnya perihal Baby B diantara Haeyu-Cheoju dan mereka mengangguk paham, mulai berpencar setelah mendapat komando untuk mengintai, mengawasi keadaan mencurigakan berindikasi kemungkinan sosok Baby B. Ya, bukankah Yixing sudah tahu wajah si nomor satu?

Yang dilakukan Yoongi saat ini: merokok. Baby B masih bersamanya; merokok. Mereka sempat ngobrol sebelum kembali diam, terlibat negosiasi yang digagas Yoongi. Tapi sepertinya negosiasi itu tak berhasil, jadi Baby B masih diam ditempat, tidak pergi kemana-mana. "Aku akan terus mengacau." B meniup asap rokoknya lalu tersenyum. Itu bukan senyum yang indah dipandang dan demi apapun Yoongi sangat ingin meninjunya jika saja tak ingat tentang betapa harmonis hubungan Seo-bang dengan Yang-eun (harap baca bagian tiga/chapter 4). Oh, ya, mengenai status keluarga Min; merekalah orang-orang dibalik Fraksi Yang-eun. Tentu saja hanya B yang tahu, ayah B adalah pimpinan Kesatuan Ho-nam. Soal Yoongi yang selalu terlihat penasaran jika mendengar nama Baby B itu bukan karena ia berusaha nampak 'alami', tapi karena memantau gerak-gerik B adalah sebuah keharusan. Yoongi amat mengenal B, ia tahu keluarga Fraksi Seo-bang dan ia tak bisa pura-pura tuli saat salah satu keturunan dalam Kesatuan Fraksi keluarganya tengah dibicarakan. Berita baiknya, Yoongi tak memihak siapapun; B, Cheoju, atau Haeyu.
"Silahkan saja. Tapi jauhi temanku."
"Monster Nam? Kkk, so sweet."
Yoongi tak menjawab.
"Salah? Hoseok?" B menebak lagi.
Yoongi tertawa bising.
"Masih salah?"
"Adikmu."
"Adikku?"
KRRSSKKK SSKK NGINGGGㅡ"OPPA-YA, AKU BERITAHU SAJA YA, DASAR TENGIK SIALAN, PERGI DARI SINI ATAU KUTENDANG KAU!" Setelah memperdengarkan rapping ala film horor, terdengar jeritan seorang wanita. Ini benar-benar horor. Betapa pintar Yoongi karena telah menyumbat telinga dengan musik. B mengerjap bingung. "Suara adikku,"
Yoongi bisa mendengar gumaman itu, ia lalu mengambil ponsel dan menggoyangkannya didepan wajah. "Aku menghubungi bantuan yang tepat 'kan?" Lalu tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana bisa ia lupa kalau B mengidap sibling-complex? B menarik nafas, "Baik, kau menang kali ini. Aku pulang, tapi Cheoju pasti kembali." Benar, bagaimanapun juga, ini adalah masalah Bangs, bukan Baby B. Dan Yoongi sudah tahu soal itu tanpa harus diingatkan; Tax memang perlu mengadakan pertemuan.

Hoseok, di ruang pengumuman, membelalak bingung. Entah hanya perasaan atau memang gadis berseragam sekolah puteri didepannya memiliki wajah persis Taehyung? Gadis yang tiba-tiba mendobrak masuk dan merebut mikrofon dari tangan Hoseok itu benar-benar mirip Taehyung seolah membayangkan anak idiot itu memakai wig rambut panjang. "Ini Taehyung?" Ia bertanya.
"Aku bukan Taehyung," Gadis itu meletakkan mikrofon ke meja, lalu menguncir rambut cokelatnya yang tebal mengilap. "Kamu siapa?"
"... Hoseok." Orang ini masih speechless.
"Oke, Hoseok, aku sudah membantumu hari ini. Terimakasihnya kapan-kapan saja, ya. Bye bye!" Lalu gadis itu pergi menghilang tanpa memperkenalkan diri. Hoseok tahu, itu jelas bukan Taehyung karena bersuara asli perempuan, bahkan punya dada besar dan memakai rok. Lagipula, itu seragam Sekolah Menengah Ilsun, sekolah elit khusus puteri. Kalaupun memang Taehyung, seragam siapa yang ia curi? Dan, jika itu benar Taehyung, Hoseok segera menyimpulkan bahwa Jeon Jungkook memiliki sahabat yang mengidap transvetic* (*sejenis kelainan seks; kink).

"Park Jimin! Kim Taehyung!"
Yoongi menyibak poninya yang tertiup angin. Diatap, angin berhembus agak kencang. Ia masih berdiri ditempatnya ketika Jimin muncul sambil menyeret-nyeret Taehyung yang wajahnya basah kuyup, banjir air mata dan ingus karena Jimin terus membentaknya. Yoongi tertegun, agak heran juga melihat anak SMA terisak-isak seperti bocah. "Ada apa ini? Kau membuatnya menangis?"
"Aku memarahinya!" Jimin mendengus dan itu makin membingungkan bagi Yoongi. Alisnya bertaut ke pangkal hidung, menatap Jimin. "Kenapa kau memarahinya?"
"Karena dia tak mau mengaku kalau dialah Baby B, hyung! Kau juga lihat 'kan?"
Yeah, aku melihatnya dan kau memarahi orang yang salah, Jimin. "Orang itu bukan Taehyung." Ia menggeleng, lalu meraih tangan Taehyung dan menggandengnya. Jimin melihat itu, entah kenapa ia merasa tak suka. "Lagipula kalau itu Taehyung, kau tak diizinkan untuk asal marah-marah. Kecuali kau mau cepat mati."
"Tapi," Jimin melirik Taehyung yang menggosok mata sambil sesenggukan, meraung kalau ia ingin pulang dan sembunyi dalam lemari di kamar. "Aku hanya ingin memintanya untuk menghentikan serangan ke Haeyu."
"Yeah, itu yang dilakukan semua orang disini saat ini, tapi sayangnya itu bukan Taehyung. Kau harus berpikir sebelum bertindak, Park Jimin." Yoongi menepuk pipi Taehyung pelan. "Sudah tak ada apa-apa, kau bersamaku sekarang. Berhenti menangis." Dan perlakuan itu benar-benar membuat Jimin kesal. Ia tak mengerti kenapa Yoongi mengkritiknya sementara Taehyung diberi perhatian yang baik. Ia tak mengerti kenapa aksinya untuk mengungkap Baby B malah tak disukai oleh Yoongi. Mendadak ia jadi tak mengerti banyak hal, termasuk penyebab kenapa dadanya sesak melihat Yoongi membujuk Taehyung dengan merendahkan suara sementara ketika bersama Jimin, orang itu bicara seperlunya. Kalau ucapan para senior mengenai Yoongi itu benar, kenapa ia bersikap seperti ini? Dan memikirkan hal-hal sepele itu membuat Jimin menangis.
"Hei, kau kenapa?" Yoongi kaget, tiba-tiba Jimin menunduk dan terisak. "Park Jimin, kenapa kau ikut menangis?"
"Sudah kubilang jangan ganggu temanku," Taehyung memukul lengan Yoongi, masih sambil menangis. Mendengar pembelaan ini membuat Jimin menyesal telah marah-marah pada Taehyung. Akhirnya, Jimin menangis makin jadi. Taehyung kaget, menangis lagi. Lalu Yoongi?
Lihat, dia hampir melompat dari atap.

Sementara yang lain memiliki kesibukan, sedang apakah Kim Seokjin?

Selfie diantara orang-orang yang sedang tawuran. Biar hits.

Ceritanya, Pangeran Haeyu ikut berkelahi. Padahal?

Situasi mulai terkendali. Ketidakmunculan Minsoo mungkin jadi penyebab kenapa siswa Cheoju mengakhiri serangan mereka. Tak ada yang tahu apa rencana Minsoo tapi yang pasti Haeyu harus menyusun strategi. Ini tidak main-main ketika harus melawan preman nomor tiga berkekuatan penuhㅡayahnya pemilik Haeyu dan kawannya punya solidaritas tinggiㅡsambil mengantisipasi adanya gerilya dari preman nomor satu. Meski Haeyu memiliki si nomor dua dan si nomor empat, keduanya tak dilengkapi performa yang cukup; mereka memimpin sejumlah orang hebat tanpa modal pasukan 'perang' dan mereka menempati urutan sekian berdasarkan kemampuan masing-masing, bukan kemampuan kelompok seperti B atau Captain. Mungkin Haeyu mengasuh Min Yoongi yang notabene anak pimpinan Fraksi Yang-eun, tapi Yoongi jelas takkan mau turun tangan. Ia bukan preman dan ia memang enggan untuk terjun dalam dunia merepotkan yang bisa menyita seluruh waktu tidurnya. Lagipula semua akan jadi sia-sia, ia menyembunyikan latar belakang keluarganya dari siapapun termasuk sahabat dekatnya, lalu tiba-tiba unjuk gigi? Oh, tak mungkin, Yoongi merasa dia terlalu waras untuk melakukan semua itu dan memilih untuk pura-pura tak tahu seperti biasanya.
Menggandeng Taehyung ditangan kiri dan Jimin ditangan kanan, Yoongi menyusuri koridor gedung satu. Masih lumayan banyak orang disana, mengemas kelas yang berantakan atau sekadar ngobrol bergosip soal perkelahian tadi. Yoongi perlu mengantar dua 'adik'-nya ke klinik Haeyu yang saat ini tak berpenghuni karena guru penjaganya kabur. Beruntung karena ruang ini tak dijamah oleh Cheoju, jadi masih rapi seperti tak terjadi apa-apa. "Aku akan mengumpulkan Tax disini, kalian istirahat saja." Yoongi mengambil botol alkohol pembersih, berdiri didepan kaca wastafel dan mengusapkan cairan itu pada lukanya. Ketika satu siswa Cheoju menghantamkan kursi ke pintu, patahan kayunya terhempas dan melukai lengan Yoongi yang kala itu masih tidur. Jelas saja dia terbangun. "Kalian tidak luka 'kan?"
"Tidak," Taehyung menggeleng, menyedot ingus lalu mencolek lengan Jimin yang juga menggeleng. "Kami baik-baik saja." Yoongi angkat alis, mengembalikan botol kedalam lemari dan menepuk permukaan celananya yang tak ia sadari nampak berdebu. Tanpa pamit, ia segera pergi meninggalkan Jimin dan Taehyung disana. Jimin berbalik, naik ke salah satu kasur dan merebah. Kepalanya pening karena sudah lama tidak menangis. Taehyung juga, ia merebah di kasur yang lain dan terdiam menatap langit-langit. "Setelah melihat Yoongi-hyung tadi, aku jadi tenang. Dia seperti pahlawan, ya."
"... Tidak juga." Jimin menyahut. Entah, ia hanya tak mau mengakui kalau pernyataan Taehyung adalah sebuah kebenaran padahal Jimin begitu lega ketika Yoongi muncul, orang itu mengubah atmosfir menjadi aman, seperti Yoongi takkan membiarkan apapun melukai adik-adiknya dan memang itu kenyataannya.
"Jiminnie,"
Jimin mendengung, "Yeah,"
"Kau menyukai Kookie?"
"Hah?" Ia melompat, terduduk dan menepuk paha Taehyung disebelahnya. "Tidak, dia 'kan pacarmu! Dasar aneh."
"Habisnya, Jiminnie bilang untuk beli susu,"
"Memang dia yang minta." Padahal Taehyung sudah tahu kalau Jimin berbohong, tapi Jimin tak mau mengaku. Ia kembali merebah dan menggumam-gumam, membuat Taehyung tertawa. "Kookie tidak minum susu. Kalau memang suka, tidak apa-apa."
Jimin diam, berbalik memunggungi Taehyung dan membekap wajah dengan bantal. Kenapa sekarang ia merasa jahat pada Taehyung? Apa cuma gara-gara ucapan 'jangan ganggu temanku'? "Aku tidak tahu." Jawabnya.
"Aku bisa membantumu kalau kau sangat menyukai Kookie. Aku tahu banyak hal dan aku bisa membuat kalian pacaran. Mau?"
"Zzz, yang benar saja."
"Aku serius. Lagipula, aku bukan pacarnya."
Lalu hening.
Sunyi senyap.
Mereka berpelukan, berciuman, bahkan selalu tidur bersama tapi dia bilang Kookie bukan pacarnya? Yang benar saja!

TAX!
Bersambung